Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
New Romantics
Put your lips close to mine. As long as they don't touch
Out of focus out of eye. Till the gravity is too much
.Taylor Swift-treacherous.
.
.
4
.
.
Sakura pov.
Aku mengerang ketika merasakan silau nya matahari pagi yang mengganggu tidur ku. Sesaat, aku panik. Dimana aku?
Kasur ini bukan milik ku, ruangan ini juga bukan milik ku dan aroma ini... bukan milik ku. Ini milik.. Sasuke.
Wajah ku pun memanas ketika mengingat serentetan kejadian kemarin malam.
Aku menelepon nya mengeluh tak bisa tidur saat jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
Lalu, tanpa di duga, dia menghampiri ku ke kamar dan menggendong tubuh ku ke dalam kamar nya.
Fikiran kotor sudah membayangi ku saat dia menidurkan ku di kasur nya ini. Namun, dia malah keluar dari kamarnya dan kembali lagi dengan segelas susu hangat.
Dia memberikan susu hangat itu dengan wajah yang kuyakini merona. Karena penerangan minim, aku tak bisa memastikan nya lebih detail.
Jika saja malam itu aku tak sakit mungkin aku sudah menggoda nya habis-habisan.
Tapi, kali ini berbeda. Sasuke sedang memerankan tugasnya sebagai 'dokter yang baik hati', dia memeluk ku dan mengelus punggung ku sepanjang malam, dia selalu memperhatikan suhu tubuh ku setiap 30 menit sekali, aku juga merasakan dia terus menciumi rambut ku-saat dia fikir aku telah tertidur-tapi nyatanya, aku tak bisa tertidur karena jantung ku yang berpacu 2 kali lipat saat bersama nya.
Aku pun mengusap wajah ku kasar, berusaha menghilangkan rona di wajah ku. Aku teringat kata-kata nya kemarin siang, saat dia bilang bahwa dia juga tertarik padaku. Apa maksud nya itu semua? Aku benar-benar tidak mengerti.
Apakah Sasuke membalas perasaan ku?
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan seorang pria yang tak lain adalah Sasuke. Dia nampak tak memperhatikan ku yang telah bangun. Aku meneguk ludah ku saat melihat nya tanpa pakaian-hanya berbalut selembar handuk di bagian bawah nya- air menetes dari rambut nya yang belum sepenuh nya kering.
Dan dada nya- Oh my fucking God.
His abs! I can't help myself.
Aku terbiasa melihat dada pria yang indah di berbagai majalah fashion. Tapi, secara langsung-apalagi ini milik Sasuke-belum pernah aku melihat nya.
Apakah semua pria dewasa seperti itu? Anak lelaki di sekolah ku tak ada yang memiliki tubuh seperti itu-aku tak mengintip- aku melihat nya saat pelajaran olahraga berenang berlangsung, kami memakai pakaian renang dan yang kulihat adalah sebagian besar dari mereka memiliki dada datar yang pucat.
Sangat tidak menarik.
"Apakah kau sudah puas melihat nya?" suara Sasuke menegurku dan mataku langsung bergulir ke arah matanya yang sedang menatap ku intens.
Dia menyeringai ke arah ku sambil menggosokan rambut nya ke handuk yang ada di leher nya.
"Ya, kau seksi" Tanpa sadar, mulut bodoh ku mengucapkan kata itu dan seketika, tawa Sasuke meledak bersamaan merona nya wajah ku.
"Kau terlalu jujur, Sakura" Dia masih tertawa sambil memegangi perut nya. Aku memalingkan wajah ku malu.
"Baiklah, baiklah. Apa aku salah bila memuji mu?" Aku menggerutu sambil menutup wajah ku dengan selimut nya. Sasuke terdengar menghampiri ku dan mengetuk kepala ku dengan lembut "Tak masalah. Aku ingin berpakaian, sebaiknya kau jangan mengintip." Sasuke menuju lemari nya dan aku pun menurun kan selimut dari wajah ku.
"Tapi.. aku juga tak keberatan bila kau mau melihat nya" Sasuke tersenyum miring sambil mengeluarkan setelah kemeja nya. Aku mengerucutkan bibir ku dan menutup wajahku dengan erat. Walaupun aku ingin sekali melihat nya telanjang.
"Sarapan ada di meja, kalau kau ingin makan, hangatkan dulu. Aku akan kembali saat makan siang, oke?" Sasuke sudah memakai pakaian kerja nya, aku memperhatikan dia yang masih sibuk berlalu-lalang mencari barang-barang nya yang tertinggal-aku masih di dalam kamar Sasuke.
Aku mengangguk dan mengerenyitkan dahi ku saat melihat dasi nya yang masih berantakan.
"Paman?" Tanpa fikir panjang, aku membuat gerakan isyarat untuk mendekat. Dia mendekat dan mendudukan dirinya di pinggir kasur.
Aku menarik lengan nya untuk lebih mendekat dan bisa kulihat raut keterkejutan di matanya. Tangan ku segera merapihkan dasi nya yang berantakan. Dia tak berkomentar apa pun. Dan itu membuat ku semakin gugup, aku merasakan tatapan nya membakar ku saat itu juga.
Aku mengelus dada nya saat pekerjaan ku selesai. Aku tersenyum puas, setidak nya Sasuke sudah terlihat lebih baik sekarang.
"Selesai" Aku menunjukan cengiran ku dan dia membalas dengan usapan lembut di rambut ku. "Terimakasih" Nada bicaranya tulus dan membuat hatiku berdesir.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan kembali nanti siang" Sasuke bangkit dan memasukan laptop nya ke dalam tas. Aku memutar bola mataku dengan bosan "kau sudah mengatakan nya tadi, paman"
Sasuke tertawa. "Hanya mengingatkan."
Dan dia pun sudah benar-benar pergi. Aku pun sendirian di apartement nya. Aku melirik smartphone ku, dan sudah ada puluhan panggilan telpon dari Ino dan teman-teman kelas ku yang lain. Kuduga, kabar kejadian kemarin sudah tersebar luas. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku masuk sekolah nanti? Hukuman apa yang diberikan kepada Ameyuri dan Mei? Dan, apakah si bodoh Kimimaro telah wafat? Um-oke mungkin terlalu berlebihan, tapi aku sudah sangat kesal dengan nya.
Aku memutuskan untuk mandi dan berendam air hangat di kamar mandi milik Sasuke.
Sabun nya, astaga. Aku bisa mabuk bila terus-terusan mencium sabun yang menguarkan aroma Sasuke.
Dengan tertatih, aku berjalan menuju kamar ku dan mengambil sepotong pakaian. Aku melihat pakaian yang kugunakan hari ini, Baju kemeja kebesaran dan celana pendek yang membuat ku nampak tak mengenakan celana saat ini. Benar-benar pendek.
Aku pun mengerutkan kening ku. Selama ini, aku selalu memakai pakaian terbuka di depan Sasuke. Tapi, kenapa dia nampak biasa saja? Apa mungkin dia tak tertarik padaku?
Aku meremas baju depan ku dengan keras. Mengapa rasanya... Sakit?
Aku menatap diriku di depan cermin besar di dalam kamar Sasuke. Tubuh ku memang tak sebagus Ino, tapi aku mempunyai bokong yang berisi. Payudara ku adalah hal yang membuat ku minder hingga sekarang.
Perlahan, ku buka kancing kemeja ku-masih menatap cermin-kulit ku langsung menyambut dingin nya AC kamar Sasuke. Aku menurunkan kemeja ku hingga lebam di punggung ku terlihat, aku menggeram rendah. Pasti di butuhkan waktu yang lama untuk menghilangkan luka nya.
Aku pun merona saat mengingat bagaimana Sasuke mengecup punggung ku yang luka dengan penuh kasih sayang. Aku menggigit bibir dengan sensual, astaga. Membayangkan nya saja sudah membuat ku ingin sekali meraba diriku sendiri.
Aku ingin bibir Sasuke ada di tubuh ku lagi. Aku ingin merasakan nya. Aku... aku menyukai nya.
Ceklek.
Aku berbalik spontan saat mendengar suara kamar Sasuke terbuka. Sasuke menatap ku dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Oh ya, aku lupa. Kancing kemeja ku masih terbuka dan menampakan payudara ku yang tertutupi bra berwarna merah terang.
Aku menatap nya juga-dengan malu-"Umm, ada sesuatu yang tertinggal" Sasuke melangkah canggung ke arah nakas di samping tempat tidur dan mengambil Smartphone nya yang ketinggalan.
Aku segera mengancingkan kemeja ku dengan asal.
Sasuke tak menatap ku lagi. Membuat hatiku berdenyut nyeri. Aku memberanikan diri untuk memanggilnya. "Paman?" Sasuke menoleh. Aku melangkah mendekat ke arah nya. Bisa kulihat, mata Sasuke menggelap saat melihat kancing kemeja ku yang belum tertutup sempurna.
"Apakah kau baru saja mandi?" Sasuke memulai pembicaraan setelah aku berada di depan nya. Aku menganggukan kepala ku. Sasuke tersenyum "Wangi mu sama seperti ku" lalu tertawa renyah, aku pun ikut tertawa untuk menutupi rasa gugup ku.
"Kau pasti belum sarapan kan? Makanan nya masih berada dia atas meja, kau-"
"Paman" Aku memotong pembicaraan nya dan Sasuke langsung menatap ku dengan alis yang berkerut.
Aku menggigit bibir bawah ku sebelum memulai pembicaraan "Um.., ada yang ingin ku tanyakan padamu" Sasuke menaikan kedua alisnya. "Menanyakan apa? Anything for you, Saki" Aku menatap nya kaget mendengar dia memanggil ku dengan panggilan kesayangan Momma untuk ku.
"Aku..umm, apakah ini hal wajar?" Aku menarik nafas ku lagi, Sasuke terlihat tidak sabaran-terlihat dengan alis nya yang menuntun ku untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Apakah ini wajar, jika aku ingin sekali kau mencium ku?" Aku menundukan kepala ku. Malu. Tak berani menatapnya. Tak ada jawaban dari Sasuke, dan aku pun mengulum bibir ku untuk menahan tangis. Gila. Aku telah memalukan diriku sendiri di depan nya. Aku tak yakin bisa terus berada di rumah ini jika dia menolak ku. Aku bisa malu tak berujung.
"Sakura?" Suara berat Sasuke akhirnya terdengar. Tapi aku masih belum mau mendongkakan kepalaku. "Sakura?" Dia akhirnya mengangkat daguku hingga mata kami saling bertatapan.
"Sejak kapan kau mempunyai keinginan seperti itu?" Aura Sasuke menggelap dan kurasakan darah di wajah ku telah hilang. Aku merasa lemas. "Aku-bukan begtu hanya saja, bila kau tak suka-"
"Sakura.." Sasuke memotong pembicaraan abstrak ku dan mengulangi pertanyaan nya tadi.
"Sejak kapan kau mempunyai keinginan seperti itu?" suaranya lebih lembut sekarang. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan teratur "Sejak kemarin kau menghujani tubuh ku dengan ciumanmu" Aku melirik ke bawah, berusaha untuk tak menatap manik kelam nya itu.
"Astaga" Sasuke melepas dagu ku dan mengacak rambut nya. Aku menahan nafas ku. Apakah dia marah dengan pengakuan ku?
"Paman, maafkan aku, aku-"
"Mengapa kau meminta maaf?" Sasuke menyipitkan matanya ke arah ku.
"Paman terlihat...marah" Aku menjelaskan nya dengan mengigit bibirku kencang. Sasuke menghembuskan nafasnya kasar. "Aku hanya... bingung" Sasuke menunduk. Membuat ku mengerenyitkan dahi ku.
"Karena aku mempunyai keinginan yang sama dengan mu, bahkan 1 minggu setelah kedatangan mu kesini"
Aku membelalakan mataku terkejut. Sasuke...dia.. menginginkan ku juga?
"Apa maksud mu-hhmpphh" Aku mengerang saat tiba-tiba Sasuke membungkam bibirku dengan bibirnya. Sasuke menarik leher ku dengan tergesa dan mengusapkan ibu jari nya ke pipiku yang tidak lebam dengan lembut. Membuat ku relax dan menikmati ciuman nya yang kini telah memaksa untuk mengeksplorasi mulut ku.
Lidah nya menjilati bibir ku, aku membuka mulut ku dengan perlahan dan dia langsung masuk dan dengan brutal nya memperdalam ciuman kami.
Aku merasa.. hidup. Aku merasa energi ku terisi dengan maksimal. Aku membalas ciuman nya dengan tak kalah bersemangat nya. Dia merapatkan ku ke tembok dan dengan perlahan dia membuat semacam pembatas antara punggungku yang lebam dan tembok dengan telapak tangan nya, agar punggungku tak nyeri terhimpit olehnya. Aku mengerang saat dia menggigit bibir bawah ku, aku merasakan dia menyeringai di sela-sela ciuman nya.
Tangan ku bergerak luwes ke arah belakang lehernya dan menarik-narik belakang rambut nya dengan penuh gairah. Sasuke melepas ciuman kami dan memberi jarak beberapa centi agar bisa melihat wajah ku.
"Kau harus menghentikan ini, Sakura. Aku tak bisa menahan nya lagi" Dia menggeram di setiap katanya. Aku melongok mendengar penuturan Sasuke, dia menginginkan ku. Ya, dia mengingkan ku sebagai seorang wanita. Tergambar jelas di matanya yang menatap ku dengan penuh gairah.
Aku menggeleng lemah, jari tangan ku masih berada di rambut belakang nya "Aku.. aku tak bisa"
Sasuke mengecup bibirku lagi "Aku tak ingin kau kesakitan" Sasuke berbicara dengan nada khawatir yang penuh sayang. Aku merengut mengingat punggung ku yang masih terasa sakit dan juga kaki ku yang belum sepenuhnya sembuh.
"Tapi aku ingin kau" Aku berusaha untuk membujuknya. Dia terkekeh renyah "Aku tak mengira hormon remaja mu sangat menggila" Aku menepuk dadanya kesal. "Kita bisa lanjutkan ini nanti, sekarang, aku punya antrian panjang orang-orang yang sakit di depan ruangan praktek ku" Sasuke mengelus pipiku lembut, aku menikmati semua sentuhan nya.
"Jadi, apa artinya ini semua?" aku bertanya sambil memejamkan mataku. Sasuke tersenyum miring dan mengecup bibirku lagi "Kau mau kita berkencan?" Sasuke menatap ku dengan jenaka.
Aku mengangguk meng-iyakan. "Apakah tak masalah? Maksudku, usia kita terpaut jauh. Apakah wajar bila kita saling mencintai?" pertanyaan Sasuke membuat ku mengerutkan dahi.
"Apa maksudmu? Cinta tak mengenal batasan usia. Dan aku tak peduli ini wajar atau tidak, aku tetap mencintai mu" Aku menyembunyikan wajah ku di dadanya dan dia mendengus geli.
"Aku tak percaya, akhirnya aku bisa merasakan perasaan ini" Sasuke mengusap rambutku dengan lembut. "Apakah sebelumnya belum?" Aku bertanya penasaran. Sasuke menggeleng sambil tertawa "Selama ini, aku hanya jatuh cinta pada buku-buku ilmiah"
Aku ikut tertawa dan mengusap rahang tegas nya dengan lembut "Apakah mulai sekarang aku boleh memanggil mu Sasuke?"
Sasuke tersenyum dan mengangguk "Ya, panggil aku Sasuke" dan dia pun membawa ku ke dekapan nya.
"Astaga, Karin pasti akan membunuhku" Sasuke mengerang dan aku terkekeh di dadanya.
BIG love for :
, OnadVia, REI, Hasemeleh Hasemeleh, Yoshimura Arai, , alexachung, echaNM, Khoerun904, Nurulita as Lita-san, Jamurlumutan462, daisaki20, citradewipratiewy, Yehe, QRen, Kendall Haruno, zehakazama.
Terimakasih atas Review kalian yang membuatku sangat bahagia
Semoga chapter selanjutnya gak membuat kalian kecewa dan maaff kalo gak bisa balesin satu persatu review nya. But, I love you~
See you next chapter!
.
.
.KendallSwiftie.
.
.
