Entah sudah berapa kali Kai menenggak alenya. Dia tak pernah mabuk sebelumnya, apalagi mendatangi sebuah bar kumuh di pinggiran Arendelle. Dia adalah orang yang teguh dan berprinsip. Tapi kini, alkohol hanyalah satu-satunya pelarian yang bisa dilakukan Kai. Berharap cairan tersebut mampu menghapuskan semua beban hidupnya.
Baru satu hari, sudah terasa begini menyesakan. Kai tak tahu apakah dia bisa bertahan bertemu Ratu besok? Atau hari setelahnya, dan setelahnya. Kesal, Kai kembali mereguk minumannya. Dia tak menghitung berapa gelas yang sudah ia habiskan. Dia tak peduli.
Sesosok pria tiba-tiba mendatangi meja Kai, menampik gelas di tangannya hingga jatuh di lantai. Kai, setengah mabuk, berdiri dan merenggut kerah pria itu. Bermaksud memberikan orang asing itu kepalan tinjunya.
"..Kai! Apa yang kau lakukan di sini?"
Kai terkesiap. Di hadapannya berdiri Adrias, yang melihatnya dengan pandangan kecewa. Tersadar akan perbuatannya, Kai melepaskan cengkramannya. Dia menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi, dengan tatapan nanar.
"Ya Tuhan, Kai! Aku mencarimu ke mana-mana... Kau pikir kau siapa? Berada di tempat seperti ini, mabuk-mabukan. Lihat dirimu! Berantakan!" Adrias menghardik pria lusuh di hadapannya itu.
"... aku tak sanggup lagi, Adrias. Kau tak akan mengerti.. "Kai menundukan kepalanya. Suaranya hampir tak terdengar.
Tak tahan lagi, Adrias mencengkram bahu Kai. Memaksa pria itu berdiri dari kursinya, dan membantunya keluar dari bar. Membawanya kembali ke rumah pribadi Adrias. Tak mungkin Kai kembali ke istana, dalam keadaan tak layak seperti sekarang.
"Kau bermalam di sini. kau boleh kembali ke istana, setelah keadaanmu sudah beres. Aku tadi sudah meminta Gerda untuk menggantikan tugasmu. Aku bilang kau mendadak sakit." Kata Adrias dengan datar.
Adrias memaksa Kai beristirahat di pembaringannya. Saat ini rumah tersebut sepi. Hanya ada mereka berdua. Adrias tidak berkeluarga, namun Kai sudah beristri; Gerda. Adrias terpaksa membohongi Gerda, ketimbang mengatakan 'suamimu mungkin saja mabuk-mabukan di bar..'
"Astaga! Apa yang kau pikirkan, Kai?! Kau sudah gila? Mendatangi bar, lalu mabuk-mabuk seperti perompak? Kau orang yang terpelajar dan santun, Kai! Sikapmu tak pantas.."
Di rumahnya sendiri, Adrias merasa lebih leluasa berbicara. Dia sangat tak nyaman saat menegur Kai di bar. Dia merasa seisi tempat itu memperhatikan mereka. Dia sangat takut orang-orang itu menguping, atau menduga sesuatu hal yang membahayakan.
"Kau pikir aku bisa tahan? Aku berada dekat dengan iblis wanita itu, hampir seharian! Semua tindakannya, membuatku gila, Adrias! Aku selalu teringat bagaimana dia menjamahi seluruh tubuh adiknya sendiri!"seru Kai frustasi.
Adrias memejamkan matanya rapat-rapat. Dia sadar, Kai sangat terpuruk dengan kejadian ini. Setelah Raja dan Ratu wafat, Kai merawat Elsa dan Anna seperti putrinya sendiri. Dia tidak hanya pelayan setia keluarga bangsawan Arendelle, namun dia juga mentor, dan pelindung mereka. Kai sangat menyayangi keduanya, dan bersumpah untuk menjaga agar keduanya tetap aman.
Tentu saja kejadian kemarin, membuat hati Kai hancur berkeping-keping.
"Namun kau tak bisa terus begini, Kai... Kau bersikap, seakan-akan tidak ada jalan keluar lagi.." nada suara Adrias mulai melunak. Dia duduk di dekat rekannya itu, sambil memegang pelan bahunya.
"Tidak ada jalan keluar lain.."desah Kai dengan suara berat. "Satu-satunya yang kupikirkan adalah menghukum keduanya, atas dosa besar mereka.. Itulah yang setimpal, dan akan membuat Raja dan Ratu memaafkan keteledoranku.."
"Siapa yang bilang ini kesalahanmu?" Adrias mengumbar senyum kering. "Kau guru terbaik mereka. Kau mempersiapkan Ratu Elsa dengan amat sempurna. Begitu juga dengan Putri Anna. kau didik mereka dengan amat baik. Mereka menjadi Ratu dan Putri yang disegani, sekaligus disayangi orang-orang. Kau pikir.. itu bukan karena dirimu?"
Kai menggeleng lemah. "... aku gagal. Aku harus mengungkap kebenaran besok. Hanya itulah satu-satunya hal benar yang bisa kuperbuat."
Sontak Adrias berdiri dengan marah.
"Kau lakukan itu, dan kita hancur...! Semuanya akan hancur! Arendelle akan hancur! Kau tidak membuatnya makin baik. Malah menghancurkan semuanya!" suara Adrias kembali meninggi. Matanya berkilat-kilat, dipenuhi amarah.
"Kesedihanmu menutupi akal sehatmu, Kai! Sadar dan bangunlah!" Adrias menarik baju Kai, melihat pria malang itu dengan tatapan tajam. "Jika kau melaporkan mereka berdua, siapa yang akan meneruskan tahta Arendelle?"
Kali ini ucapan Adrias berhasil menyadarkan Kai.
"A...aku.. aku... Aku tidak bermaksud seperti itu.." Kai tak mampu berkata-kata. Dia mengutuki emosi sesaat, yang memburamkan semua nalarnya.
"Jika Ratu dan Putri tak ada, siapa yang meneruskan monarki? Belum lagi para pemimpin haus kekuasaan, pasti akan datang dan mencoba menaklukan kerajaan ini! Keributan akan terjadi di mana-mana! Perang! Pemberontakan! Pembunuhan!"
"Lalu bagaimana jika rakyat berpikir monarki itu sia-sia? Kotor, dan hanyalah gambaran keliru akan pemerintahan yang sempurna dan sah? Mereka akan menggalang kekuatan, menggulingkan pemerintahan! Kemudian mendirikan pemerintahan mereka sendiri, dalam revolusi berdarah! Apa itu yang kau inginkan?"
Tubuh Kai bergetar hebat. Dia terduduk di pembaringan, dengan mulut terbuka. Terkejut. Hampir saja dia menyebabkan bencana lebih dahsyat. Hanya karena dia terlena dalam dukanya, dia membahayakan nasib ratusan orang lainnya. Tidak. Ribuan orang lainnya.
Kedua pria itu terdiam untuk beberapa saat. Mencoba meredam amukan badai di hati mereka.
Keheningan ini terasa begitu lama dan menyiksa. Hingga akhirnya Adrias mengeluarkan suara paraunya.
"Aku... punya... rencana..." dia berhenti sejenak, menghirup napas dalam-dalam. "Namun, aku sangat membutuhkan bantuanmu. Ini adalah satu-satunya cara menyelamatkan Arendelle, tanpa meletupkan kehancuran yang lebih besar."
Kai tertarik. Dia melihat Adrias dengan pandangan penuh harap. Inilah yang sangat dia tunggu-tunggu, setelah mimpi buruk mengerikan yang menderanya.
"Aku akan mencari pengganti Ratu. Bangsawan yang masih memiliki hubungan darah dengan Arendelle. Saat dia sudah kutemukan, maka Ratu dan Putri akan menemui hukuman mereka. Sementara Arendelle telah memiliki monarki baru. Pemerintahan tetap berlangsung, namun hukuman kedua wanita itu tetap berjalan.."
"Adrias... bagaimana. Bagaimana caranya kau menemukan pemimpin ini? Bagaimana kau bisa yakin dialah penerus yang sesuai?" Kai agak keheranan dengan rencana tersebut. Dirinya merasa cemas, dengan bangsawan-bangsawan lainnya, yang mungkin saja berniat kotor.
"Aku memiliki beberapa kandidat. Salah satunya adalah salah satu sepupu Raja; Pangeran Damian dari Holden. Dia memiliki kriteria yang kuat, dan pemimpin luar biasa. Dia orang yang berpikiran luas, dia juga amat bijak. Dia adalah gambaran pemimpin baru Arendelle.."
Inilah yang dinantikan Kai. Titik terang akan semua keruwetan masalah ini. Pangeran Damian dari Holden adalah pemimpin yang amat baik. Kai mengenalnya. Pria ini adalah bangsawan sejati. Sikapnya sempurna sebagai pemimpin baru, dan bukanlah barbar yang haus kekuasaan.
"Aku kenal Pangeran Damian ini. Kapan kita bisa berbicara dengannya?" Kai merasa optimis untuk pertama kalinya, sejak masalah ini terjadi.
Di saat inilah, Adrias terlihat ragu. Ada beberapa masalah yang masih mengganjal.
"Kai... kau tahu.. ah, ini bukan urusan sepele. Maksudku.. kita akan menjatuhkan pemimpin yang sah. Saat ini, Ratu Elsa masihlah pemegang tahta Arendelle. Kita harus bersiap untuk semua kemungkinan terburuk. Kita tak bisa meminta Ratu mundur begitu saja dari jabatannya..."
"Tapi, dosa inses bisa dijadikan alasan untuk menjatuhkannya.."tukas Kai. Namun Adrias tetap menggelengkan kepalanya.
"Itulah masalah lain yang masih mengganjal itu. Perbuatan mereka berdua jelas mencoreng Arendelle. Apa yang akan dikatakan kerajaan lain, jika mereka tahu skandal ini? Berbahaya! Teralu beresiko.. Ini akan menyebabkan renggangnya, atau mungkin retaknya hubungan diplomasi dengan kerajaan lain."
Kai menggertakan giginya. Urusan ini menjadi lebih rumit dari pikirannya semula.
"Kalau begitu, apa solusimu?"
"Aku akan mencoba mendekati Pangeran Damian dengan sangat perlahan. Mencoba menjelaskan situasi kita di sini, menjelaskan situasi Arendelle, dan apa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Tapi.. itu butuh waktu..Maksudku, uhh... masalah ini bukanlah masalah sepele."
"Lalu.. apa yang bisa kubantu, Tuanku?"
"Kau bisa menggunakan posisimu sebagai kepala pelayan. Kau dapat memantau gosip antar pelayan, terutama yang melibatkan Ratu dan Putri. Gunakan posisimu, untuk menekan para pelayan itu. Mereka tak boleh menghembuskan kabar itu jauh lagi.."
"Selain itu, bersikaplah dengan normal. Layani Ratu dan Putri seperti biasanya. Mereka tak boleh tahu, kalau kita sudah tahu. Mereka harus menganggap, tak ada hal yang salah. Mereka tak boleh curiga, ataupun menduga-duga sesuatu.."
Kai melihat Adrias dengan wajah bingung. Dia tak begitu paham tujuan perannya.
"Tak boleh ada gosip yang tergelincir keluar istana. Apalagi terdengar rakyat, ataupun bangsawan lainnya. Selain itu, tak boleh ada lebih banyak lagi pejabat Arendelle yang mengendus-endus soal ini. Hanya ada beberapa orang saja yang boleh mengetahuinya, orang-orang yang sudah kupilih dengan baik. Atau rahasia Ratu terbongkar, sebelum aku berhasil membujuk Pangeran Damian.. dan rencana kita berantakan..."
"Ratu Elsa juga tak boleh mencurigai rencana kita. Dia masih sangat berbahaya, Kai. Aku tak ingin dia membekukan Arendelle untuk kedua kalinya.."
Adrias menghentikan kalimatnya. Melihat dengan tajam ke arah Kai.
"...rahasia ini milik kita berdua, Kai. Kau bersumpah untuk itu?"
Dengan mantap dan penuh kesungguhan, Kai mengangguk. Wajahnya dipenuhi tekat yang keras. Dia menyampingkan semua ego dan perasaannya. Ada hal lain yang lebih diutamakan sekarang.
"Aku, Kai, bersumpah menjaga rahasia ini.."
