Masih bersama Hajime Isayama disini. Dengan karyanya, 'Shingeki No Kyojin'


Rivaille keluar dari kamar Yeager muda, menuruni tangga hendak menuju halaman belakang. Ketika ia melewati ruang keluarga, ia mendapati seseorang tengah duduk membelakanginya, menatap televisi yang menampilkan gambar abstrak garis hitam-putih dengan suara tinggi yang cukup mengganggu. Rivaille melihat pakaiannya dan mengetahui siapa sosok itu.

"Oi, kenapa kau disini?" Rivaille bersuara.

Tak ada jawaban.

"Oi bocah, aku bertanya padamu. Bagaimana kau bisa melepaskan diri?"

Masih tak ada jawaban.

Rivaille tak sabaran. Ia menghampiri sosok itu. Ia menggenggam sebuah pisau di tangannya.

'Mungkin pesta kita akan segera berakhir, bocah'

Rivaille berjalan mendekati Eren, sosok itu, dan hendak menyerang lehernya. Masih dengan tatapan dinginnya, Rivaille memandang punggung Eren. Dilihatnya anak itu tak bergeming sedikitpun. Dan Rivaille-pun menyerang leher Eren

XXXX

"AAAAAGGGGHHHHHH!"

Rivaille menjerit. Ia tumbang dilantai. Pisau yang ia pegang telah terjatuh jauh darinya. Ia menatap pemuda dihadapannya.

Ya, Eren. Saat Rivaille hendak menyerangnya, Eren segera memutar tubuhnya dan balik menerjang Rivaille. Ia menendang tangan Rivaille yang memegang pisau lalu menancapkan berkali-kali gunting yang telah ia pegang sebelumnya pada pundak kiri Rivaille, membuatnya jatuh terjerembab di lantai.

"APA YANG KAU LAKUKAN, BOCAH?!"

Rivaille berteriak. Tak disangka korbannya justru menyerangnya.

"Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan padaku, orangtuaku, Armin, dan Mikasa."

Eren menjawab. Tatapannya tajam menusuk Rivaille yang berusaha menutupi pendarahan pada pundaknya.

"Aku ingin sekali membunuhmu. Tapi kau tau kan? Kesenangan tidak boleh dilewatkan begitu saja?"

Eren tersenyum lebar. Pemikiran rasionalnya kini telah hilang. Siksaan Rivaille memberikan pengaruh besar terhadap psikologis Eren, membuatnya tampak brutal. Bahkan lebih brutal dibanding Rivaille sendiri.

Eren mencabut gunting yang tertanam kuat pada pundak Rivaille, membuatnya menjerit hebat. Mendengar teriakan itu, Eren semakin bersemangat. Bersemangat untuk menyiksa senpainya lagi dan lagi.

Eren menarik kaki Rivaille, menyeretnya menuju gudang lalu dilemparkannya begitu saja ditengah ruangan. Dengan cahaya yang remang-remang, tampak bekas darah Rivaille selama ia diseret. Eren mengambil beberapa perkakas lalu diletakan pada sebuah meja kayu panjang di sisi kanannya.

"Apa yang akan kau lakukan, bocah?" Rivaille bertanya sambil menahan sakit pada pundaknya.

"Apa kau akan menyiksaku?" lanjutnya.

"Aku akan membawamu ke Neraka, dengan perlahan..."

XXXX

Eren kembali pada aktivitasnya. Ia menarik tangan kanan Rivaille lalu memutarnya kebelakang punggungnya sendiri dan memelintirnya.

"AAAAAGGGHHHHHH!"

Rivaille menjerit. Darah yang masih bercucuran dari kening Eren melumuri tangannya yang kini telah patah. Melapisi kulit itu dengan warna merah sempurna.

"Hosh.. Hosh.. Bocah sialan! Uughhh.."

Rivaille mengumpat dengan nafasnya yang tak beraturan.

"Oh, apakah itu sakit? Tapi menurutku, apa yang dirasakan saudara dan orangtuaku itu jauh lebih sakit."

Eren melempar senyum mautnya, sukses membuat Rivaille bergidik ngeri.

'Uughh.. Rasanya sebentar lagi aku akan mati..'

XXXX

POV. EREN

Apa ini? Sensasi apa ini? Mengapa ini sungguh nikmat? Aahh.. Apa ini yang dirasakan Rivaille senpai sewaktu menyiksa kami? Benar-benar nikmat! Kenapa rasa ini tak mau hilang? Kenapa rasa ini terus meminta lebih? Sial! Aku tak bisa menahannya!

"Senpai, bisakah kau mengerang untukku lagi?"

Ia menatapku dengan kedua matanya yang tidak terbuka dengan sempurna. Bagiku, itu tatapan terindah yang pernah kulihat! Tatapan yang menyiratkan rasa sakit dan penderitaan. Tatapan yang sangat menawan!

Dia masih tidak menjawab. Tidak mau mengerang seperti yang kuminta. Aku tidak tahan lagi. Kutendang wajahnya dengan kasar lalu kumasukan kakiku pada mulutnya. Tak sedikitpun terlintas kata jijik dalam benakku. Yang aku inginkan hanya jeritnya yang indah!

"Aku merasa kasihan padamu, senpai. Tapi yang paling kukasihani adalah mulutmu. Kusarankan agar kau melakukan apa yang kupinta selagi kau masih bisa berbicara."

Aku melepaskan kakiku dari mulutnya. Namun masih seperti tadi, dia tak mau melakukannya. Aku dibuat tidak sabar.

"Apa kau mau aku membantumu berfikir? Tulangmu masih banyak yang utuh."

"Kau... gila!" dia menjawabku.

"...mungkin..."

Dan seperti perkataanku tadi, aku membantunya. Aku mengambil palu disisi kananku dan kuhempas pada lututnya. Membuatnya mengerang dengan sangat hebat! Sungguh, erangannya kali ini benar-benar luar biasa! Membuatku semakin gila! Kulakukan hal yang sama pada lututnya yang lain dan dia menjerit lagi! Oh Kamii-sama, perasaan apa ini?!

Hatiku buta. Sekarang, disini, bukanlah diriku yang dulu. Semua ini melenyapkan tujuan asalku. Semua yang kulakukan ini bukan semata-mata untuk membalaskan dendam saudara dan orangtuaku. Semua ini kulakukan karena aku...

MENYUKAINYA!

XXXX

Merah... Indah sekali... Mengalir keluar mengitari tubuh mungil itu. Sensasi ini sungguh luar biasa! Membuatku menginginkan lebih! Aah.. Perdengarkan padaku jerit indahmu lagi! Tunjukan padaku rasa sakit itu! Tunjukan padaku lebih! Lebih! LEBIH!

"Senpai, untuk yang terakhir, perdengarkan jeritmu itu sekali lagi."

Hening.

"Ooh.. Kau tak mau, senpai?"

Entah apa yang mendorongku untuk melakukan itu. Aku mengambil pisau lalu menyayat tubuhnya sedikit. Menggores perutnya melintang. Memang hanya sayatan, namun ia mengerang dengan ganasnya!

Pikiranku kacau. Kutusukan pisau itu lebih dalam lagi. Membuat sayatan itu sedikit menganga, cukup menunjukan bagian dalam dari isinya. Darah mengalir keluar dengan derasnya, membasahi kemejanya yang sudah terlebih dahulu berubah warna.

Sungguh, aku tidak bisa menggambarkannya. Ekspresinya sungguh fantastis! Kurasa ini sudah cukup. Cukup membuatku puas!

XXXX

Kulihat Rivaille senpai dengan segala karya yang kuhasilkan. Lebam dimana-mana, perut yang menganga, lutut dan lengan yang patah, kening dan mulut yang berdarah, kuku-kuku yang terlepas dari tempatnya, matanya yang tak terbuka sempurna, dan pundak yang penuh dengan tusukan gunting. Aaahhh.. Karyaku nyaris sempurna! Tinggal sentuhan akhir.

Kuambil pisau yang sudah dipenuhi darah itu. Kumasukkan benda tajam itu pada mulutnya lalu kusobek melintang, ke kanan dan kiri. Ya, kutarik pisau itu hingga menciptakan luka panjang dari telinga kiri hingga telinga kanan. Menunjukan seluruh isi mulutnya. Tentu saja, senyumannya akan lebih lebar.

Beberapa jam kemudian, Rivaille senpai menghembuskan nafas terakhirnya karena kehilangan begitu banyak darah...

XXXX

Sekarang pukul 4 pagi dan aku telah menyelesaikan hasil karyaku. Sungguh, bahkan aku tak menyangka memiliki jiwa seni setinggi ini. Kuseret dan kupajang karyaku itu disamping tangga. Kududukan di sebuah kursi kayu penuh noda merah dengan berbagai bunga disekelilingnya. Ya, hiasan baru rumahku itu memang manis. Membuat suasana terasa lebih hidup bagiku.

Kusenderkan tubuhku pada sofa empuk di depan televisi dan memejamkan mata. Tidak lama. Aku harus bergegas merapikan rumah dan diriku sendiri yang sudah sangat kotor.

Pukul 6 pagi aku berangkat ke sekolah. Dan pukul 4 sore aku kembali kerumah. Semuanya berjalan normal. Namun Rivaille senpai sama sekali tak terlihat. Kau tau kan ada dimana dia?

XXXX

Tok tok tok.. Tok tok tok...

"Ya, tunggu sebentar!"

Aku berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Tampak disana sesosok 'manusia kuda' berdiri dengan senyum anehnya. Kau tau kan siapa dia?

"Jean! Ada apa kau datang kemari? Masuklah.." aku mempersilahkan Jean masuk lalu menutup pintu.

"Hoohh.. Sepertinya rumahmu sepi. Kemana orangtuamu?"

"Mereka sedang keluar kota. Jadi.. ada apa, Jean?"

"Ah, tidak. Aku hanya mengantarkan ini. Bukumu terselip di buku milikku dan terbawa pulang. Ini.." Jean menyodorkan buku tulis bersampul cokelat milikku.

"Ah, terimakasih Jean! Maaf merepotkanmu. Tunggulah sebentar, aku akan membuatkanmu minum."

Aku pergi ke dapur, membuat sirup jeruk kesukaan Jean. Aku melihat Jean memandang ke sekeliling rumah, namun tatapannya berhenti tepat di samping tangga.

Oh tidak! Aku lupa pajangan itu ada disana! Aku melihat Jean terbelalak hebat. Aku tau apa yang dia lihat. Kuselipkan sebuah pisau dibalik celanaku dan kututup dengan kaos yang kupakai. Kuharap pisau itu tidak kugunakan untuk menyakiti Jean.

"Jadi Jean, kau melihat apa?"

Aku berjalan mendekati Jean dengan nampan berisi sirup jeruk diatasnya. Jean yang melihatku melompat dari sofa dan berlari kearah pintu. Ia berusaha membukanya namun sayang, pintu itu telah aku kunci. Aku meletakan nampan diatas meja dan berjalan menuju Jean.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA RIVAILLE SENPAI?!"

Dia berteriak. Aku mendekatkan diriku dengannya, merasakan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Aku mengambil pisau yang kusembunyikan tadi dan menempelkannya pada leher Jean.

"Asal kau tak memberitahukan hal ini kepada orang luar, kau kubiarkan hidup."

Itu adalah salah satu kalimat tersulit yang pernah kuucapkan. Jean adalah sahabatku dan aku tak mau menyakitinya. Jean gemetar. Ketakutan sangat terlihat di wajahnya.

"Baiklah, Eren. Kau sahabatku dan aku mempercayaimu."

Aku terkejut. Jean mau menyembunyikan kejahatanku! Aku menjauhkan pisauku dari lehernya.

"Aku mempercayaimu dan kau mempercayaiku. Kita saling mempercayai."

XXXX

POV. NORMAL

"Uughhh.. Hentikan.. Kumohon hentikan.. AAAAGGGGHHHHHH!"

Jerit sekarat seorang pemuda berakhir dengan kesunyian yang mencekam. Dibawah sinar bulan, di distrik Maria, seorang pria tengah membersihkan wajahnya dari cairan merah pekat yang membasahi nyaris seluruh tubuhnya.

"Jean, tolong bantu aku."

"Baiklah, Eren."

TAMAT


Terimakasih untuk semua yang udah baca fanfic gaje ini. Mohon maaf kalau efek gore-nya kurang greget. Terus terang aja, saya nggak ngerti sama apa yang saya tulis! :v

Saya author baru disini, mohon RRnya :) tapi plis jangan ngebom flame, saya jenis author yang gampang down *ironis*

Arigatou minna-saaaann :D