"Papa muda!"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru pastinya
Warn : banyak yang OOC, Ada Typo gak tahu berapa, Fugaku makin OOC, Sasuke juga sama..
Ket : Naruto berumur 4 tahun, biasanya suka ada anak yang seumur segitu yang masih cadel.. dan maf untuk kesalahan di chap 1 yah.. hhehehe
Delta Dwina Alpha Fujoshi, Fatetakamura, Futari-chan, chy karin, e, Fi Suki Saki, Risuga Otome-kun, YuriceSF, Kazugami Saichi Hakuraichi, Monkey D eimi, Acce Sam Luffy, ONKEY, Yanz Namiyukimi-chan, KyouyaxCloud, Bee Yukinawa, Mellya aigaara, Micon, Vii no Kitsune, Haneuma-chu, nine tailed fox Naruto, Ukk-chan, Youngsu0307, Hatake Hanahungry, momon the fujoshi, Kanon1010, Urusai, Ariza, ttixz lone cone bebe, Namikaze Trisha, Icha22madhen, Rahmah demiaw, Dewikitagawa, Uchizuki no renmay, Clud 17, Tanpa Nama, Nanao Yumi, Sasunaru4ever, Vipris.
Terimakasih semuanya.. apresiasi kalian sangat berarti buatku.. buat kaian semua chap 3 kemarin sadis yah? kata aku mah kurang sadis lho.. mungkin nanti akan lebih sadis lagi.. ga apa kan yah? #maksa
untuk Saichi makasih yah kritikannya.. aku jadi tau letak kesalahanku.. n untuk umur yang masih 4 tahun memang di dunia nyata jarang terjadi tapi ni imajinasi liar ku.. hhehehe.. aku udah nanya ama my husband ktanya ada cuman jarang terjadi.. tapi makasih yah untuk mengingatkan.. mungkin makin kesana bakal lebih ga masuk akal penyiksaanya.. jadi harap maklum yah cz otakku slalu membayangkan seperti itu..
Minna ini chap 4 udah berhasil aku buat.. mungkin ni banyak kurangnya.. maf yahh.. mohon review-nya... .
Flashback
"Kami pulang, Sasu-chan." sebuah suara nyaring menggema di rumah megah milik Keluarga Uchiha. Seorang wanita cantik nan anggun masuk bersama pria dewasa berwajah tegas. Mereka adalah Raja dan Ratu di bangunan mewah tersebut. Yang wanita bernama Uchiha Mikoto dan yang pria bernama Uchiha Fugaku.
Tampak mereka seperti baru pulang dari liburannya. Karena terlihat dari raut wajahnya yang segar. Saat memasuki ruang tamu, mata hitam milik Mikoto melihat sesosok anak kecil berambut pirang sedang menertawakan wajah pemuda yang penuh dengan coretan.
"Hahahaha.. Wajahnya Sasu-nii lucu.." matanya nampak sipit karena tertawa terlalu lebar. Sedangkan yang ditertawakan hanya tertidur pulas tidak terganggu sama sekali dengan suara keras.
"Hahahaha.. Eng.. Kalian siapa?" tawa anak yang bernama Naruto itu berhenti tatkala mata birunya melihat kedatangan dua orang dewasa yang menurutnya asing.
"Kami orangtuanya Sasuke, orang yang sedang tertidur itu." Mikoto menjawab dengan lembut. Sedangkan Fugaku hanya menatap Naruto dengan pandangan sedikit tajam dan itu sukses membuat si pirang ketakutan.
Mikoto menyikut tulang rusuk Fugaku, "Hentikan tatapanmu itu, Fuga-kun."
Setelah hilang ketakutannya tangan mungil milik Naruto menepuk keras pipi kanan Sasuke yang kini banyak coretan merah karena spidol.
"Sasu-nii bangun sekalang." sudah beberapa kali si anak pemilik mata biru tersebut menepuk pipi pucat Sasuke namun tetap tak bangun juga. Hingga akhirnya ia menarik rambut raven si Uchiha bungsu dengan sangat keras. Dan itu membuahkan hasil yang sangat bagus. Pemuda tampan itu akhirnya terbangun juga dari alam mimpi.
"Ada apa lagi, heh? Tak bisakah kamu membiarkanku tidur setelah menjagamu semalaman karena demam tinggi." Sasuke membentak Naruto karena membangunkannya secara tiba-tiba dan tidak berprikemanusiaan.
"Ukh maaf kalena Nalu, Niichan jadi tidak tidur semalaman." mata biru Naruto mulai berkaca-kaca.
"Uchiha Sasuke, jangan bersikap kasar terhadap anak kecil." suara tegas terdengar dari arah pintu.
"T-tousan.. K-kaasan.. Kalian sudah pulang?" suara si raven berubah menjadi terbata-bata.
"Hn." jawaban singkat Fugaku terdengar ditelinga Sasuke.
"Cup.. Cup.. Anak manis, jangan menangis lagi yah."
Tiba-tiba saja Mikoto sudah menggendong Naruto yang tadi hendak menangis. Dan akibat perlakuan lembut tersebut membuat si pirang kembali tenang. "Bisa jelaskan semua ini, Sasu-chan?"
Brrrrr
Bulu kuduk Sasuke berdiri mendengar suara ibunya yang lembut namun bermakna mematikan. "I-iyah, Kaasan. Aku bisa jelaskan semuanya."
"Baiklah kalau begitu. Sebelum kamu menjelaskan lebih baik bersihkan dulu wajahmu itu." Mikoto berkata sambil tetap mengusap punggung kecilnya Naruto.
Mendengar perkataan ibunya, ia segera melihat kearah lemari kaca. Tampak bayangan wajahnya dikaca penuh dengan coretan. Kelopak matanya berwarna merah dan hitam, bibir tipis nan pucat kini menjadi berwarna ungu. Ini akan menjadi pelajaran bagi dirinya supaya tidak membiarkan alat tulis berserakan saat ia tertidur dan terdapat anak kecil disampingnya. Dengan tergesa ia melangkah menuju kamar mandi. Sungguh konyol wajahnya sekarang. Dan ini diakibatkan oleh adik angkatnya yang baru berumur 4 tahun.
Ruang Keluarga
Seorang pemuda tampan berkulit putih mulus memasuki ruangan yang sudah terdapat kedua orangtuanya dan seorang anak kecil berambut pirang yang kini duduk dipangkuan seorang pria berwajah tegas. Kedua pasang mata onyx tersebut menatap anak bungsunya yang berdiri dihadapan mereka.
"Duduklah, Sasuke." seorang wanita berwajah cantik menyuruh pemuda itu supaya duduk di kursi yang kosong.
"Coba jelaskan semuanya." sang kepala keluarga, Uchiha Fugaku bersuara. Tangan kekarnya terlihat seperti mendekap sang mentari kecil supaya tidak terjatuh ke depan.
"Baiklah, Tousan. Awalnya..." Sasuke menceritakan semuanya dari awal. Saat ia pergi ke Supermarket dan menemukan Naruto dikeranjangnya hingga kepulangan kedua orangtuanya secara mendadak. Fugaku dan Mikoto mendengarkan cerita dengan seksama. Sedangkan yang berada digendongan Kepala keluarga Uchiha hanya menghisap ibujarinya yang mungil.
"Jadi begitu, karena dia tidak diketahui keluarganya Ibu akan mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga kita. Bolehkan, suamiku?" mata onyx Mikoto menatap suaminya yang kini sedang melepaskan ibujari Naruto yang dihisapnya sendiri.
"Ah.. Iyah, aku setuju." Fugaku sedikit salah tingkah karena terlalu fokus melepaskan jari-jari mungil Naruto yang dihisap sendiri oleh pemiliknya.
"Nah Naru-chan, apakah kamu mau tinggal disini?" wanita cantik tersebut bertanya dengan suara lembutnya.
Mata saphire milik Naruto beralih menatap wanita disamping pria yang menggendongnya. Kegiatan memperebutkan jarinya yang terus-terusan dilepas paksa Fugaku dari mulutnya terhenti. Dengan polosnya ia menatap semua orang yang berada diruangan mewah tersebut, membuat Mikoto gemas ingin mencubit pipi kenyalnya.
"Bolehkah, Bibi? Boehkah Nalu tinggal disini?" matanya membulat menambah kesan lucu dimata wanita cantik itu.
"Tentu saja, Naru. Bibi akan sangat senang sekali jika anak lucu sepertimu tinggal disini."
"Yeayyyy.. Nalu tinggal disini." Naruto berteriak sambil melompat tiba-tiba. Karena terjadi dalam waktu singkat membuat Fugaku merespon telat dan akhirnya si pirang sudah hilang dari dekapannya.
"Selama kamu disini jangan menggangguku." Sasuke pergi setelah berkata seperti itu. Si pirang hanya menjulurkan lidahnya kemudian tertawa kembali sambil mencium satu persatu pipi kedua orangtua angkatnya.
End of Flashback
Sebuah ruangan bercat warna putih dan berbau obat yang menyengat terdapat seorang pasien kecil tengah tertidur. Kelopak matanya menutup iris mata si pemilik. Sebuah selang oksigen menancap di kedua lubang hidungnya. Cairan berwarna bening dan merah menggantung di sisi kiri serta selang berjarum yang menjadi akses masuk ke tubuh sang pasien menancap dilengan kecil tersebut.
"Naru sayang, ayo sadar Nak. Ibu khawatir padamu." seorang wanita tampak duduk dengan tangan putih mengelus kepala pirang si pasien.
'Kaasan.. Nalu pengen es klim yang besal.'
Sekelebat ia ingat keinginan sang anak memakan es krim berukuran besar. Suara tawanya, mata polosnya, cengiran lebarnya serta tingkahnya yang membuat gelak tawa dan umpatan -khusus Sasuke- teringat di memori otak wanita anggun yang bernama Uchiha Mikoto. Namun semua itu sirna saat melihat keadaan bahwa sang mentari mungilnya kini sedang terbaring lemah. Derai airmata kembali mengalir dimata onyx-nya saat kenyataan menyakitkan itu benar-benar terjadi.
"Sudahlah Mikoto, dia pasti akan segera sadar. Naruto itu anak yang kuat." Fugaku mencoba menenangkan istrinya yang dirundung kesedihan.
Cklek!
"Tousan, aku mendapatkan informasi dari orang suruhan kita." seorang pemuda yang memiliki fisik sama seperti Sasuke masuk keruangan dimana terdapat pasangan suami istri Uchiha dan anak angkat mereka.
"Katakan, Itachi." suara Fugaku berubah menjadi berat saat mendengar berita yang dibawa oleh anak sulungnya.
"Orang yang telah melukai Naruto sudah kita temukan. Mereka berada didaerah Oto dan sepertinya mereka sedang melakukan transaksi gelap." Itachi menjelaskan dengan mimik serius.
Fugaku mengatupkan rahangnya. Tampak matanya menyiratkan kemarahan yang sangat besar teradap orang yang telah melukai adik kecilnya tersebut.
"Kalau begitu tangkap mereka semua, jangan sampai ada yang lolos. Kamu mengertikan, Itachi?"
"Iya, Tousan." Itachi berjalan mendekati ranjang Naruto. Tangannya mengelus lembut kepala pirang si kecil sambil berkata, "Naru tenang saja, orang yang telah melukai Naru akan Niichan tangkap semuanya."
Mata onyx milik Itachi menatap ayahnya yang kini sedang mendekap ibu kandungnya, "Besok aku akan berangkat kesana dan menangkap semuanya." pemuda tampan dan memiliki rambut hitam panjang tersebut keluar meninggalkan ruangan adik kecilnya dirawat.
"Mikoto, aku akan kembali ke kantor. Tidak apa kalau kamu sendiri disini menjaga Naruto?" Mikoto menggangguk tanpa mengalihkan pandangannya terhadap si pirang.
Fugaku menghela napa melihat kondisi istrinya seperti ini. Dengan lembut ia mengecup puncak kepala Mikoto dan kening Naruto. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Rumah Sakit, namun karena ada rapat penting mengharuskan ia pergi ke kantor.
Malam hari
Sebuah mobil berwarna hitam melintas dijalanan sepi. Dengan kecepatan tinggi mobil mewah tersebut menembus keheningan di malam itu. keheningan di malam itu. Sang pengemudi alias Uchiha Sasuke mencengkram kuat-kuat stir mobilnya.
'Orang yang telah melukai Naruto berada di daerah Oto. Sepertinya mereka sedang melakukan transaksi gelap.'
Otaknya kembali teringat percakapan antara ayah dan kakaknya saat di Rumah Sakit. Saat itu sebelum ketahuan menguping pembicaraan ia langsung meninggalkan ruang rawat adik angkatnya.
"Aku akan membayar semua penderitaan dan luka yang telah kalian buat kepada Naruto, Orochimaru. Dasar brengsek!" tangan putih itu memukul alat kendali mobil mewahnya.
Daerah pinggiran Kota Oto
"Kabuto, bisakah kamu membelikanku sebotol minuman penghangat." seorang pria berwajah mirip seperti ular sedang duduk santai disebuah kursi berwarna hitam legam.
Orang yang dipanggil Kabuto menyahut dengan sopan, "Baik, Orochimaru-sama."
Setelah itu pria berambut biru keabuan pergi meninggalkan tuannya yang kini melihat kearah luar jendela. Sebenarnya ia merasakan firasat buruk hingga menyuruh tangan kanannya itu pergi meninggalkan tempat dimana mereka menetap sesudah melakukan transaksi gelap.
'Semoga firasatku ini salah.'
Ternyata semuanya hancur saat mata emasnya bak seperti ular melihat sebuah mobil hitam terparkir frontal di halaman.
"Sepertinya ada tamu istimewa yang datang. Khukhukhu." Orochimaru tertawa melihat siapa yang datang ke kediamannya.
Brak!
Dengak kasar pintu berkayu mahoni itu terbuka lebar menampilkan sesosok pemuda tampan bermata onyx. Mata tersebut berkilat tajam saat melihat orang didepannya sedang menatap dirinya santai.
"Selamat datang dikediamanku, Uchiha Sasuke. Sssshhh.." desisan bak ular terdengar dari mulut orang bernama Orochimaru. "Kamu senang dengan hadiah yang aku berikan beberapa waktu lalu?"
Tangan Sasuke terkepal mendengar penuturan lelaki iblis ini. Ingin sekali ia potong kepala pria dihadapannya. "Brengsek kau, Orochimaru. Apa yang sudah kau lakukan terhadap Naruto."
"Ooh, jadi anak manis itu bernama Naruto. Khekhekhe, aku hanya memberinya pelajaran sedikit. Bagus sekali ekspresi yang diberikan olehnya."
Buak!
Tiba-tiba pipi pucat Orochimaru mendapat pukulan telak sehingga bibirnya mengeluarkan darah dan tersungkur tak jauh dari tempat ia berdiri. Tangannya mengusap sudut bibir yang sobek akibat hantaman si bungsu Uchiha.
"Pukulanmu tetap kuat seperti dulu yah. Namun kamu tetap tidak bisa mengalahkanku."
Jleb!
Sebuah belati menancap didada pria yang menjadi buronan semua polisi. Darah mengucur deras dari luka yang baru saja dibuat oleh Sasuke. Dengan sadis si raven menarik belati tersebut kebawah sehinggal luka itu pun melebar dan merobek kulit. Cairan pekat berwarna merah itu semakin deras mengucur dan melumuri tangan Sasuke.
"Huh, tetap saja kamu mati. Itu semua bayaran atas perlakuanmu terhadap Naruto."
Sasuke tak merasa kasihan melihat orang sekarat didepannya. Seringaian iblis terpampang diwajah tampannya memberi kesan menyeramkan bagi yang melihatnya. Sebelum pergi meninggalkan pria yang kini sedang meregang nyawa, ia terlebih dahulu menendang keras selangkangan Orochimaru. Membuat sang pria ular itu mati seketika.
"Selamat tinggal, Orochimaru." seusai mengucapakan salam terakhir Sasuke pergi meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa jam kemudian
Kabuto sudah kembali dari supermarket. Saat berada didepan ruangan dimana tuannya berada ia mencium bau amis menyeruak dari dalam. Dengan tergesa pria berkacamata itu membuka pintu.
Matanya terbelalak lebar melihat pemandangan didepan matanya. Sesosok pria berlumuran darah terbaring dilantai yang dingin. Dadanya masih mengeluarkan darah, matanya melebar seperti merasakan sakit merasakan sakit yang luar biasa. Dengan tangan gemetar ia mencabut belati yang masih bersarang ditubuh pria yang menjadi majikannya.
"O-orochimaru-sama, siapa yang sudah melakukan ini terhadap anda?" Kabuto bertanya terlebih kepada dirinya sendiri.
Kilat kemarahan terlihat dari kedua mata yang terhalang oleh sebuah lensa. Sepertinya ia tahu siapa yang berani berbuat seperti ini terhadap tuannya itu.
Brak!
Tangannya memukul lantai marmer yang terasa dingin. Tak dihiraukan darah mengalir akibat tindakannya tersebut. "Aku akan membalaskan dendammu, Orochimaru-sama."
Rumah Sakit Konoha
Pagi hari yang cerah namun tidak secerah hati dari sebuah keluarga tersohor di Konoha. Mereka masih diliputi hawa mendung karena mentari kecilnya tak kunjung sadar. Sudah hari ke lima anak mungil itu tidak menampakkan cerahnya bola mata dibalik kelopak tan-nya yang memiliki warna bak langit disiang hari.
"Ini sudah hari kelima, tapi kenapa Naru-chan belum sadar juga." seorang wanita bertanya kepada siapa saja yang mendengarnya.
"Tenanglah, Mikoto. Dokter sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengobatinya, sekarang tinggal keinginan Naruto-lah untuk bangun." suara berat milik Fugaku terdengar untuk menenangkan sang istri.
Suara handphone terdengar di ruangan yang hanya berisi dua orang dewasa dan satu anak kecil. Ternyata suara tersebut berasal dari handphone milik Fugaku.
"Halo."
'Tousan, entah ini berita buruk atau baik.' suara lelaki terdengar dari seberang telpon.
"Hn, jelaskan Itachi." wajah Fugaku berubah menjadi lebih serius setelah mendapat telpon dari anak sulungnya yang berada di daerah Oto.
'Ada yang sudah mendahului kita memburu kawanan itu. Walaupun tempat ini bersih, tapi masih ada sedikit bercak darah yang mungkin lupa dibersihkan. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang terbunuh. Karena disini tidak ada petunjuk sama sekali.'
"Cari tahu, Itachi. Sampaikan laporanmu nanti siang saat kamu sudah kembali."
'Baik Tousan.'
Sambungan lokal pun terputus. Fugaku menyimpan kembali gadgetnya disaku celana. Mata onyx miliknya menatap anak yang sudah ia anggap anak kandung. Miris melihat Naruto dalam keadaan seperti itu. Ia rindu dengan celotehan dan suara khas si kecil.
"Dari Itachi, Fugaku?" Mikoto membuka suara setelah diliputi suasana hening.
"Hn. Siang nanti dia baru pulang. Dan Sasuke dimana? Dari kemarin tidak terlihat." pria berperangai tegas baru sadar bahwa ia tidak melihat anak bungsunya. "Sasuke pergi sekolah, mungkin nanti siang baru kesini." Mikoto mengelus lembut punggung tangan si pirang yang tidak tertancap jarum infus. Hanya sebuah detektor yang mencapit jarinya dan menyambung kesebuah monitor pembaca detak jantung.
Bibir tipis Naruto terlihat pucat, kulit ditubuhnya pun agak kusam karena tidak pernah tersinari matahari. Entah berapa labu darah yang sudah masuk ke tubuh kecil itu, namun tetap saja tidak menjadikannya terlihat segar. Dokter Shizune telah melakukan pemeriksaan berkali-kali dan hasilnya pun tetap sama. Naruto belum terbangun juga.
Ingin sekali wanita cantik nan anggun itu menggantikan tempat anak angkatnya disana. Tak kuasa ia menahan air mata saat mengingat kondisi Naruto waktu dulu dengan sekarang. Sangat jauh berbeda.
Konoha Internasional High School
"Sasuke-kun, nanti siang bisa kita bicara sebentar?" seorang gadis berambut pink mengajak bicara cowok tampan di KIHS.
"Tidak, ada urusan." jawaban ketuslah yang diterima oleh Haruno Sakura, mantan pacar dari Uchiha Sasuke.
"Sebentar saja, tidak bisakah kau luangkan waktu sedikit untukku?" Sakura tetap ngotot ingin berbicara dengan si raven usai sekolah nanti.
"Tidak akan pernah bisa."
"Pasti gara-gara si sial Naruto itu kan? Aku dengar dia sudah lima hari koma. Kenapa tidak mati saja sih."
Brak!
Sasuke menggebrak meja didepannya. Membuat semua orang yang di kelas memperhatikan mantan pasangan tersohor KIHS.
"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi tentang Naruto. Atau aku akan membuatmu menyesal, Haruno. Dan kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi." setelah mengatakan hal yang menyakitkan bagi gadis cantik itu, Sasuke meninggalkan kelas.
"Omonganmu keterlaluan, Haruno. Naruto sudah dia anggap adiknya bahkan mungkin anaknya." seorang pemuda berambut coklat panjang berkomentar mengenai perkataan Sakura.
"Kamu sendiri lihat kan, mata Sasuke menjadi lembut saat bersama Naruto. Matanya menyiratkan kasih sayang seperti ayah kepada anak yang sangat berharga baginya." kali ini pemuda bermata jade yang berkomentar, Gaara.
"Tapi Sasuke tidak pernah menyukai anak kecil." si pink tetap bersikeras menyangkal kenyataan yang ada.
"Mungkin dimatamu seperti itu, tapi buatku tidak. Sasuke sudah mengambil keputusan baik untuk meninggalkanmu." perkataan Gaara semakin dingin.
"Kh.." Sakura meninggalkan kelas sama halnya seperti yang dilakukan Sasuke.
"Cantik-cantik mulutnya berbisa. Dia sungguh keterlaluan." Kiba berkata sambil melihat Kiba berkata sambil melihat kepergian si pinky.
Rumah Sakit Konoha
Sasuke berjalan di koridor Rumah Sakit menuju ruang rawat adiknya. Sepanjang perjalanan banyak suster wanita yang melirik genit minta perhatian si pemuda tampan. Namun tak dihiraukan lirikan yang menurut mereka lirikan maut.
Kamar 1010
Si raven sudah berada didepan kamar Naruto. Beberapa hari yang lalu si pirang sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat yang pastinya VVIP.
Cklek!
Saat masuk objek pertama yang dilihat mata onyx-nya yaitu si mentari kecil, Naruto. Keadaannya masih sama. Iris saphire itu masih belum terlihat dari kelopak mata berwarna coklat. Kemudian matanya melihat seorang wanita berambut hitam panjang yang pasti ia adalah ibunya sedang tertidur disamping ranjang Naruto.
"Naru.. Segeralah sadar. Aku mohon." lirih Sasuke.
Doa Sasuke kali ini ternyata dikabulkan oleh Sang Pencipta. Jari-jarinya sedikit bergerak.
"N-naru.. Kamu sudah sadar?" dengan terburu-buru Sasuke mendekati tempat tidur Naruto. Hingga membuat ibunya terbangun.
"Ssst.. S-sasu-nii.. Nnn-nalu takut.." erangan keluar dari mulut mungilnya. Hanya sebuah erangan. Matanya tetap saja tertutup, belum terbuka sama sekali.
"Kaasan akan memanggil Dokter Shizune, kamu temani Naruto." Mikoto keluar ruangan untuk memanggil dokter.
"Naru tenanglah. Aku ada disini untuk menjagamu." Sasuke terus merafalkan kalimat penenangnya hinggan seorang wanita berambut hitam pendek dan berpakaian putih masuk bersama ibunya.
Alat stetoskop menempel dipermukaan kulit dada Naruto. Dengan teliti Shizune mengecek tiap inchi kondisi kesehatan pasiennya.
"Semuanya baik-baik saja. Ini peningkatan, hanya menunggu waktu sampai ia membuka matanya. Sampai ia sadar saya tidak akan melepaskan semua alat medis ini, karena ini yang menunjang kehidupannya sekarang. Ia masih terlalu sulit untuk bernapas secara normal." Dokter berambut hitam pendek itu menjelaskan secara rinci agar semuanya jelas.
"Lalu kapan anakku bisa sadar, Dok?"
"Maaf Nyonya Mikoto, saya tidak dapat memastikan hal itu. Mungkin ini pengaruh dari kejadian yang baru saja ia alami, sehingga ia menjadi ketakutan untuk membuka mata.
Ini hanya masalah kejiwaannya saja, luka lebam diseluruh tubuhnya sudah berangsur menghilang. Yang paling penting dia sudah melewati masa kritis. Kalau begitu saya permisi, jika ada apa-apa bisa segera memanggil saya." sebelum pergi Shizune sedikit membungkuk.
"Naru-chan.. sadarlah Kaasan angat merindukanmu."
"Tenanglah Kaasan, Naruto pasti segera sadar dan sehat kembali." Sasuke merengkuh ibunya dan sedikit mengusap lengannya.
Cklek!
Pintu terbuka menampilkan sosok dua orang pria dewasa. Mereka adalah Uchiha Fugaku dan Uchiha Itachi. Keduannya nampak serius, entah apa yang terjadi.
"Apa terjadi sesuatu dengan Naruto, Sasuke?" tanya kakaknya, Itachi.
"Dia hanya mengigau, kata dokter Shizune dia sudah melewati masa kritisnya." anak bungsu keluarga Uchiha menjawab pertanyaan sang kakak.
"Benarkah itu, Mikoto?" Fugaku tidak dapat menyembunyikan rasa leganya.
"Iya, suamiku. Naru-chan tadi mengigau. Lalu bagaimana dengan penjahat itu?" wanita yang menjadi istri Fugaku bertanya perihal orang yang telah melukai matahari kecilnya.
"Sepertinya salah satu dari mereka ada yang terbunuh, namun belum diketahui siapa yang terbunuh dan pembunuhnya."
"Kaasan lebih baik sekarang beristirahat, biar aku dan Sasuke yang menjaganya disini." Itachi meminta ibunya supaya pulang dan beristirahat. Karena dari awal wanita cantik itulah yang setia menemani si pirang.
"Tidak, Kaasan mau disini. Kaasan tidak mau berpisah lagi dengan Naru." namun Mikoto menolak untuk pulang. Membuat yang lainnya sedikit khawatir dengan kesehatan sang ibu.
"Kaasan tidak mau membuat Naruto khawatie kan saat ia sadar nanti? Lebih baik Kaasan istirahat, besok Kaasan kembali lagi kesini." dengan sabar Itachi membujuk Mikoto supaya pulang ke rumah.
"Baiklah Kaasan akan pulang, kalian jaga Naruto baik-baik. Karena Kaasan khawatir jika penjahat itu akan melukainya lagi."
"Kaasan tenang saja, kami akan menjaganya."
"Tousan akan membawanya pulang, kalian hati-hati dan tetap siaga." Fugaku mewanti-wanti kedua anaknya supaya tidak menurunkan kewaspadaannya.
"Baik Tousan." jawab kakak beradik Uchiha itu.
Kemudian pasangan dari keluarga terkenal Uchiha pergi meninggalkan Rumah Sakit. Kini tinggalah Itachi dan Sasuke yang bertugas menjaga adik mereka.
Malam pun menjelang, suasana di sekitar Rumah Sakit tampak sepi. Hawa dingin terasa menusuk ke tulang membuat siapapun enggan untuk keluar dari pemanas apalagi keluar rumah. Namun tidak bagi seseorang yang kini sedang berjalan melewati pos penjaga secara diam-diam. Wajar saja karena jam besuk sudah berakhir tadi sore.
Gelagat orang tersebut sangat mencurigakan. Terlihat dari pakaiannya yang serba hitam dan memakai kupluk sehingga tidak terlihat warna apa helaian rambut dibalik kain yang menutupi sebagian kepalanya.
Ruang Rawat 1010
"Sasuke lebih baik kamu tidur sekarang, biar aku yang menjaganya." Itachi menyuruh adiknya supaya tidur terlebih dahulu.
"Nanti saja, aku ingin mandi terlebih dahulu." Sasuke langsung masuk kekamar mandi yang memang sudah tersedia disana.
"Anak itu.. Dasar... Eng... Hoammmm... Kenapa jadi ngantuk tiba-tiba begini?"
Bluk!
Kepala Itachi langsung menghantam sisi ranjang yang ditempati Naruto. Matanya sudah tidak bisa menahan berat akibat kantuk yang luar biasa. Tak lama kemudian masuklah seseorang dari balik pintu. Tubuhnya ditutupi oleh pakaian hitam, jaket yang ia pakai memliki keras yang tinggi sehingga menutupi mulut dan hidungnya. Kupluk Jaket pun menutup mata orang tersebut.
'Heh, ternyata gas tidur ini berguna juga.' batin orang asing tersebut.
Orang itu berjalan mendekati ranjang pasien. Tangan kanannya merogoh sesuatu di saku jaket hitam yang ia pakai. Saat berhasil menemukannya, ia keluarkan benda tersebut. Ternyata yang ia ambil adalah sebuah stiletto perak.
'Sepertinya selang-selang ini yang membantumu supaya tetap bertahan hidup yah. Bagaimana jika ini kupotong?'
Tangan kiri yang telah dipakaikan sarung tangan menyentuh selang infus milik Naruto. Kemudian berpindah ke selang oksigen yang menancap dikedua lubang hidung Naruto.
Sreettt!
Stiletto perak itu memutuskan kedua selang infus sehingga cairan itu tidak dapat masuk ke tubuh Naruto. Sentuhan terakhir ia lepas selang oksigen yang menancap dilubang hidung si pirang dan menyingkirkannya. Karena masih belum bisa bernapas dengan normal, dada Naruto bergerak turun-naik secara cepat menandakan bahwa ia kesulitan bernapas.
Orang itu tidak merasa kasihan melihat anak kecil dihadapannya sedang kesakitan seperti itu. Belum puas juga, tangan tersebut melayang menampar pipi Naruto sangat keras hingga darah pun keluar dari mulut.
'Matilah dengan tenang.'
Saat akan menghujam stiletto kearah dada mungil itu, terdengar suara pintu terbuka. Belum sempat ujung pisau perak menembus kulit sang anak, ia segera melarikan diri sebelum tertangkap oleh sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"HEI APA YANG KAU LAKUKAN!" Sasuke berteriak saat mata hitamnya melihat perbuatan jahat itu.
Handuk yang mengeringkan rambutnya yang basah ia buang jauh-jauh. Segera saja ia mendekati ranjang adiknya yang kini sedang kesakitan dan kesulitan bernapas.
"N-naru, kamu tidak apa-apa. Hei Itachi apa yang sedang kau lakukan" Sasuke menggoyangkan tubuh kakaknya yang sedang tertidur. Bukannya terbangun, malah tubuh jangkung tersebut jatuh kebawah.
'Mungkin dia hanya pingsan.' pikir Sasuke. Kemudian mata hitamnya kembali melihat sosok adik yang berada dalam rengkuhannya. Wajahnya terlihat memucat karena kesulitan bernapas dan tidak adanya cairan yang masuk ke tubuhnya. Darah pun masih merembes keluar dari mulut kecilnya.
"Naru bertahanlah, aku mohon bertahanlah. SIAPA SAJA TOLONG PANGGILKAN DOKTER." teriakan Sasuke sangat keras menandakan bahwa ia panik dan takut luar biasa. Airmata mengalir dari kedua mata onyx-nya.
ceritanya ga ada yang diubah. hanya ganti rate dan menghilangkan scene yang tidak seharusnya. hehehe.. semoga ga mengecewakan. :)
