Gaara terdiam sejenak. Ia memilih untuk mengamati ekspresi Hinata yang terlihat menahan sakit-namun masih memaksakan senyumannya. Dan Gaara tidak suka itu, karena bagaimanapun yang membuat Hinata kesakitan seperti ini adalah dirinya.
"K-kumohon..."
Pemuda itu masih tak bergeming. Ia terlihat bimbang. "Tapi kau kesakitan."
"Masukkan, Gaara-hh!" Peluh keringat terlihat membanjiri dahi si gadis bersurai indigo tersebut, dan nafasnya masih tersengal akibat tindakan nekatnya barusan. "Aku tidak apa-apa."
Sementara itu, meski di bawah cahaya temaram yang menerangi mobil ini, jade Gaara dapat melihat setitik air yang menggenang di sudut mata Hinata. Dan hati Gaara semakin bimbang.
Padahal baru satu jari, apakah rasanya sampai sesakit itu?
Kerongkongan pemuda itu tercekat. "H-Hinata aku—"
Sang mantan mulai terkekeh dengan pelan melihat Gaara yang ketakutan seperti ini, matanya yang sayu menatap iris hijau milik Gaara sungguh-sungguh. "Baiklah, coba gerakkan. Kalau aku kesakitan, kita bisa berhenti."
Kening Gaara mengernyit. Ia sedikit tidak suka dengan kalimat Hinata barusan. Yah, meski memang belum terlambat bagi mereka untuk berhenti sekarang-tapi berani sumpah, siapa yang tidak akan kesal coba jika kegiatan kalian berhenti di tengah jalan dan nanggung seperti ini?
"Tapi kalau kau kesakitan bagaimana?" Tanyanya khawatir. Menepis rasa keberatannya barusan.
"Aku hanya perlu sedikit waktu untuk menyesuaikan diri." Jawab Hinata sambil menggenggam tangan Gaara lembut. "Jadi ku mohon, bergeraklah... masukkan lagi jarimu dalam tubuhku."
Seketika itu juga, jantung Gaara kembali berdesir ketika mendengar permintaan Hinata yang menantang. Iris emeraldnya tampak terkejut untuk beberapa saat. Namun sedetik kemudian, ia bisa menguasai dirinya kembali dan mulai menggerakkan jari telunjuknya dengan perlahan di lubang kenikmatan milik Hinata.
Tatapan matanya mengawasi setiap perubahan ekspresi gadis tersebut, dan merekamnya dengan baik-baik di dalam otaknya. Ia tidak mau, melukai gadis yang ia cintai untuk yang kedua kalinya.
Merasakan jari telunjuk Gaara yang mulai bergerak, Hinata menengadah sambil memejamkan mata, kemudian menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan. Dadanya kembali kembang-kempis seirama dengan gerakan tangan Gaara yang mulai bergerak dalam tempo sedang.
"Ohh..." Tapi, satu desahan berhasil lolos dari bibir tipis Hinata saat tangan si pemuda bermarga Rai tersebut kembali meremas dada kanannya. Memainkan ujung payudaranya hingga menjadi keras, lalu menarik-nariknya dengan gemas. "Hngh!"
"Yakin tidak apa-apa?" Tanya Gaara memastikan, nafasnya menjadi berat. Dan Hinata menjawabnya dengan anggukan kepala seraya kembali memejamkan matanya dan menengadah. Gadis bergaun merah tersebut bisa merasakan miliknya yang berkedut-kedut dalam kocokan jemari Gaara.
"Nghh... lebih cepat, Gaara." Pintanya meminta lebih. "Kumohon, aku suka kau yang bebas."
Nafas si pemuda bertato 'Ai' kembali memburu, bahkan Hinata bisa merasakan gerakan Gaara yang mulai sedikit kasar terhadap kewanitaannya. "Y-ya, begit-uhh!"
"L-lepaskan Gaara, j-jangan memperdulikanku." Ujar Hinata sungguh-sungguh di sela desahanya. Dan Hinata bisa melihat, iris hijau tersebut kembali berubah liar secara perlahan akibat kata-katanya barusan.
Pemuda itu kemudian membungkuk cepat, lalu mengulum dada kanan Hinata dengan lahap. Melumatnya ganas, dan berakhir dengan menghisap putingnya kuat seperti sedotan macet. Hinata terbelalak.
O-ohh! Sensasi ini terlalu nikmat! "G-Gaara... iya, begituhhh!"
Dan bersamaan dengan geraman rendah sang pemuda berambut merah, Hinata memekik keras akibat jari kedua Gaara yang menghentak masuk kedalam vaginanya tanpa aba-aba.
Oh, ini pasti akan menyenangkan!
.
.
.
Stuck In The Moment (c) Hikari No Aoi
Disclaimer: Naruto Milik Masashi Kishimoto
Pair: Gaara x Hinata
Rate: M (Chap ini lemon abis!)
Genre: Romance/ Hurt
Warn: DLDR! Mainstream, menu utama*?*, ALUR LAMBAT banyak kekurangan (TYPO, EYD salah, dan lainnya)
Jadi yang tidak suka Gaara x Hinata silahkan tekan Tombol back! :D
Ini Fict GH pertamaku, requestan L-nee :3 jadi jika masih amatir dan banyak kekurangan mohon dimaklumi T_T #maaf kalau Ganjen, nee#
.
Stuck In The Moment
.
Hinata terkulai lemas, ia baru saja orgasme dengan tiga jari Gaara yang mengaduk-aduk lubang miliknya. Gerakannya yang kasar, dan mulai tidak sabaran membuat gadis bermanik amethyst itu kuwalahan hingga tak bisa menahan diri lagi untuk tidak 'keluar'.
Aww, Gaara saat ini benar-benar sangat... jantan.
Namun sepertinya, Hinata juga tidak memprediksi bahwa waktu istirahatnya hanya satu menit untuk memulihkan diri. Ia begitu terkejut saat pemuda bungsu itu melepaskan jaket dan bajunya, dan langsung mengangkat kaki kanannya ke atas untuk di sandarkan di jok atas kemudi belakang.
What the hell! Mereka sudah mau masuk ke permainan utama?
Mata mutiara Hinata terbelalak tatkala kejantanan Gaara sudah berdiri tegak di depan vagina miliknya, dan membelai belahan vaginanya tersebut secara perlahan M-muatkah 'benda' sebesar itu masuk ke dalam kewanitaannya?
Hinata menelan ludah.
Sementara itu, Gaara mulai terlihat frustasi ketika barang kebanggannya bergesekan dengan kemaluan Hinata. Dengan tatapan yang tak bisa di artikan, ia memandang sang pujaan hati dengan penuh kehati-hatian.
"Apa boleh ku masukkan, Hinata-hh?" Nafas pemuda itu semakin memburu dan terdengar berat. Dan Hinata tahu, semua itu karena Gaara telah menahan hasrat untuk mencumbuinya sedari tadi supaya ia tidak kesakitan. Semua itu terlihat jelas dari cengkraman Gaara pada paha kanannya yang semakin menguat.
Ayolah, tentu saja Hinata tidak akan menolak permintaan Gaara barusan mengingat bagian tubuhnya di bawah sana juga mulai berdenyut-denyut lagi.
Gadis itu bersemu. "Y-ya... masukkan, Gaara!"
Si bungsu dari tiga bersaudara tersebut sudah tak bisa mengendalikan dirinya lagi, dengan sekali erangan tertahan ia hentakkan penis besar tersebut ke dalam vagina Hinata yang masih terasa sempit. Sial! Padahal tadi ia sudah mencoba untuk melonggarkan jepitannya dengan tiga jari miliknya!
Tapi sepertinya belum berhasil.
"U-UAHHH!" Rasa sakit hebat yang menjalar dengan cepat di dalam kewanitaannya membuat Hinata tersentak. Bahkan ia tanpa sengaja menekuk tubuhnya dan meremas pinggiran jok untuk mengurangi rasa sakit tersebut. Sakit sekali. Namun sepertinya rasa sakit itu masih belum selesai saat melihat Gaara tengah menggeram tertahan sambil memasukkan penisnya yang masih belum bisa masuk semua.
"G-Gaaraahh!" Hinata memejamkan matanya, dan meremas jok dengan lebih kuat lagi hingga buku-buku kukunya memutih. "ARGHH!"
Pemuda itu mendesah gusar saat kewanitaan sang gadis berdenyut dan menjepit miliknya dengan sangat keras. Seperti jemuran yang sedang di peras sampai semua airnya habis tak tersisa, dan tentu saja hal itu membuat Gaara hampir merasa gila karena sangat nikmat hingga ia memutuskan untuk memasukkan semua kejantanannya dalam sekali hentakkan! Saat ini, ia tak mau memikirkan Hinata yang tengah menderita.
"Sial, Kau begitu sempit-KHH!" Dan setelah mendorong pinggulnya kasar, Gaara akhirnya berhasil berada didalam tubuh Hinata.
"KYAA-ARGHH!" Sodokan tersebut membuat Hinata mengerang kesakitan. Namun setelah Gaara berhasil dan berdiam diri sejenak, rasa sakit itu perlahan memudar dan digantikan dengan ngilu yang tak kalah hebatnya.
Sekuat tenaga, Hinata menahan isakannya saat merasakan sesuatu yang cair mengalir menuruni paha kirinya. Ia sendiri yang menyuruh Gaara untuk seperti ini. Jadi risiko sakit-bahkan mungkin hamil, harus ia tanggung dengan tak ada penyesalan. Lalu, gadis-wanita itu tersenyum saat melihat wajah Gaara berubah cemas ketika mengetahui darah keluar dari kewanitaanya. "Tidak apa-apa." katanya lagi.
"—tapi kau berdarah, apa sakit?"
Hinata tertawa, meski terdengar hambar karena rasa ngilu di otot perutnya kembali terasa sakit. "Gaara, aku ingin bertanya."
Pemuda itu mengalihkan pandangan matanya, dan menatap Hinata dengan pandangan melembut. Ia masih meringis saat melihat Hinata yang masih berdarah. "Apa?"
Pipi sang wanita merona, untuk sesaat Hinata mengalihkan pandangan matanya sebelum melihat jade Gaara kembali. "B-bagaimana... rasanya?" tanyanya malu-malu.
Gaara tercekat, namun saat merasakan kewanitaan sang wanita bersurai indigo tersebut mulai berdenyut sesekali, ia segera membungkuk dan menelungkup wajah Hinata dengan kedua tangannya untuk menatap mata hijaunya.
"Kau sempit dan—nikmat," suaranya terdengar parau. Saat Gaara mulai bergerak perlahan, nafasnya semakin terengah. "Dan milikmu-ghh... meremas milikku dengan kuat!"
Hinata menggigit bibirnya saat melihat Gaara yang tengah dilanda gairah seperti ini. Nafasnya yang terengah, bibirnya yang terbuka, matanya yang sayu, bahkan semburat rona merah muda yang ada dipipinya semakin membuat Hinata terangsang. Ditambah lagi 'adik' Gaara yang tengah bergerak di bawah sana, mengakibatkan rasa nikmat yang tiada duanya hingga membuat Hinata mendesah keenakan dan melupakan rasa sakitnya secara perlahan.
Oh, God... he is awesome!
Wanita berusia dua puluh tahun itu menggeram, lalu meremas rambut merah Gaara sedikit keras. Hinata bisa merasakan tubuhnya mengejan bersamaan dengan hentakan pinggang Gaara yang mulai cepat.
"Ohh—Gaara, kau keras!" Pekik Hinata terbakar nafsu. "Di sana sayang, iya terus!"
Sang pemuda membuka mulutnya, dan sedikit merendah untuk melahap dada kiri Hinata dan mengigit-gigit ujungnya yang keras. Melalui cara ini juga Gaara berharap bahwa lenguhan-lenguhannya bisa teredam, karena jujur kemaluan Hinata yang gila benar-benar terasa nikmat!
"Hemph-!" Sial, lubang itu semakin berdenyut keras untuk menarik kejantanannya dengan kuat! "Hina-shh..."
"A-ahh! Ahh... –akh!" Desahan Hinata semakin menjadi saat pinggul Gaara mulai menghentak dengan lebih cepat dan dalam. "A-aku suka, Gaara-akh! Milikmu sangat-Hiyahhh!"
Gaara menggigit telinga Hinata, lalu menyodok kemaluannya dengan semakin beringas. "K-kau pikir, lubangmu juga tidak-hngh... membuatku gila, hah?"
Sang wanita memeluk leher Gaara, dan buru-buru mengulum bibir yang sudah mengatakan hal yang sangat tabu tersebut. Namun meski begitu, mereka berdua menyukainya karena dengan kata-kata yang tidak senonoh itu, jantung mereka berdua berdetak semakin cepat dan membuat nafsu mereka memuncak hingga serasa mau meledak!
"G-hmphh... nghh!" Hentakan Gaara terasa sangat dalam dan cepat. Hingga Hinata tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak merancau, dan melebarkan kakinya supaya pemuda itu bisa bergerak dengan lebih leluasa.
Ia ingin lebih!
"Hina-mphh.." Melepaskan ciuman panasnya dengan sang wanita dari Konoha, Gaara kemudian mempercepat tempo pinggulnya hingga ia merasa tak bisa memikirkan hal lain lagi selain kata nikmat. Oh, shit... serapat apakah sebenarnya vagina Hinata ini hingga membuatnya hampir gila begini?
Tubuh Hinata mengejang, dan kedua tangannya meremas pundak Gaara dengan kuat. "OHH! Sodok aku, Gaara-hh! Di sana, di sana!"
Dan pemuda itu menggeram, ia bahkan melumat kembali bibir Hinata dengan buas dan tanpa ampun. Hingga ia bisa merasakan hisapan kewanitaan Hinata yang semakin berdenyut kuat sebagai balasannya, lubang tersebut meremas miliknya-yang saat ini juga tengah berdenyut nikmat. Oh, ia tahu bahwa Hinata akan mencapai titik klimaksnya sebentar lagi. Dan Gaara, tidak mau Hinata menikmati puncak itu seorang diri!
Meremas dengan tidak sabar payudara besar Hinata, Gaara kemudian menghentakkan pinggulnya kembali dengan kasar. Ia mulai kehilangan akal!
"UAHHH! Ahh... ahhh... Gaara-Hagh! N-nikmat sekali!"
"Y-ya Hinata, terus remas milik-kuhh!"
Hinata mendongak, membiarkan dadanya membusung-yang langsung di habisi oleh Gaara. Gerakan gila yang memabi-buta pada kewanitaannya membuatnya sudah tak bisa bertahan lagi. "Gaara, a-aku... aku akan keluar-ahh!"
"Hhah... Hah... keluarlah bersamaku, Hinata." Ujar Gaara parau. Pemuda itu kemudian meraih satu tangan Hinata dan menggenggamnya erat. "Sedikit lagi!"
"H-hah... ough, G-Gaara aku sudah tidak taha-akhh!"
Pemuda itu semakin menghentakkan pinggulnya dengan tidak karuan, dan tidak sampai setengah menit, Gaara bisa merasakan miliknya berdenyut-denyut kuat untuk meminta pelepasan.
"Ga-Gaara, kumohon... aku mau keluar-AHH!"
"H-Hinata, aku—Khh!"
"D-di dalam, Gaara! Keluarkanlah-ahh... di dalam!" Pinta Hinata mantap, ia lalu merapatkan kedua kakinya dan memeluk pinggang si bungsu keluarga Rai dengan kuat. Sebentar lagi, sebentar lagi ia juga akan klimaks!
"Ga-Gaara... ahh! Milikmu dan milikku, berdenyut!" Rancau Hinata keenakan. "Ahh... hahhh!"
Merasakan ada yang mau meledak dalam kejantanannya, Pemuda bertato Ai itu kemudian memeluk Hinata erat. "Hinata—aku, aku—KELUAR-AKHH!"-
"A-hh... Ahhh.. Gaa-Gaara, aku juga akan-Kyaahhhh!"
.
.
.
Stuck In The Moment
.
.
.
Nafas keduanya sama-sama saling terengah, dan di pagi dini hari ini mereka sudah mandi dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuh mereka. Bahkan untuk Hinata—yang saat ini masih mengejang, ia bisa merasakan vaginanya berdenyut-denyut selama beberapa saat hingga cairan berwarna putih kental mengalir dari sana. Itu adalah sperma Gaara-yang bercampur dengan cairan kewanitaan miliknya.
Oh astaga, tenaganya benar-benar terkuras habis.
Hinata terkulai lemas, dan sedetik kemudian tubuh Gaara ambruk menindihnya. Keduanya terengah kelelahan dengan wajah yang memerah.
"Kau-hebat, Hinata." ucap Gaara dengan nafas yang masih putus-putus. "Aku mencintaimu."
Mata mutiara Hinata mulai terasa berat, namun ia masih memaksa dirinya untuk tetap terjaga. Angin sepoi dari jendela yang terbuka kini baru terasa menusuk kulitnya. Hinata kedinginan.
"Terimakasih, Gaara." Katanya tulus. "Kau sudah mengabulkan permintaanku, membuatku... menjadi wanita."
Pemuda berambut merah tersebut bangun, dan menumpukan berat badan pada lengannya untuk menatap Hinata. Iris jadenya meredup. "Apa kau menyesal?"
Hinata menggeleng pelan, lalu tersenyum. "Aku sangat senang, ku harap kau yang tidak menyesal."
Nada sang mantan kekasih yang mulai terdengar lemah, membuat Gaara menyunggingkan seulas senyuman.
"Tentu saja tidak." Lalu, ia mengecup kening Hinata lembut. "Aku tidak akan pernah menyesal jika bersamamu."
Gaara membelai surai indigo Hinata yang berantakan, sebelum akhirnya mengecup kelopak mata amethyst tersebut dengan penuh kasih sayang. "Tidurlah,"
.
.
.
Stuck In The Moment
.
.
.
Sinar matahari yang begitu terik mengusik tidur Hinata hingga membuatnya menyerah untuk kembali beristirahat. Kesadarannya yang perlahan terkumpul, membawa semua kenangan tentang kejadian tadi malam. Dimana ia sedang minun dan bermain di diskotik, bertemu Gaara, menggodanya dan—yap, one night stand dengannya.
Kening Hinata mengernyit. Dimana pemuda Rai itu sekarang?
Samar-samar, suara gemericik air dari kamar mandi menjawab pertanyaan Hinata. Well, ia di rumah pemuda itu sepertinya melihat tampilan kamar yang sama sekali berbeda dengan hotel.
Hinata bangun karena ia merasa haus, dan tentu lebih baik lagi jika ia bisa menemukan air sekaligus obat pengurang rasa sakit untuk kepalanya yang mulai berdengung seperti di sengat sekumpulan lebah.
"Tsk-, tidak ada air." Hinata berdecak, ia akhirnya mengenakan kaus besar milik Gaara yang tergeletak begitu saja di lantai dan berjalan menuju dapur.
Dua gelas air putih langsung tandas dalam sekali minum, dan hal itu baru membuatnya merasa lebih baik. Namun saat perutnya berbunyi sedetik kemudian, gadis yang memiliki tinggi seratus lima puluh lima centi meter tersebut memutuskan untuk memasak mengingat kemarin siang adalah terakhir kali ia makan.
Dan, Gaara menyusulnya sepuluh menit kemudian.
"Wah, seperti mimpi." Kata pemuda itu ramah. "Aku terbangun, dan istriku membuatkanku sarapan."
Selama beberapa saat, Hinata merona. Namun ia buru-buru membalikkan badannya dan berkutat dengan telur yang saat ini tengah ia goreng. Sikap keras kepalanya kembali. "K-kalau begitu, anggaplah semua ini mimpi."
Gaara terkekeh pelan. "Kalau begitu, aku tidak mau bangun."
Hinata menahan napas. Sejak kapan pemuda itu menjadi tukang perayu? "Seingatku Gaara yang dulu bukan raja gombal seperti ini."
Gaara mendekat, lalu membantu Hinata membawakan dua buah telur mata sapi yang saat ini sudah ia tiriskan. "Tapi aku berani menjamin, bahwa kau sempat membayangkan kupeluk dari belakang saat sedang memasak, daripada membantumu seperti ini kan? Supaya kita bisa melakukan ini dan itu kemudian. Disini."
Amethyst Hinata terbelalak, pipinya merona. "Gaara—!"
Lagi, pemuda yang saat ini mengenakan kaus kasual warna merah tua favoritnya itu terkekeh. Lalu berjalan menuju ruang makan. "Baiklah, kita bicarakan sambil sarapan."
Hinata mengekor di belakang, dan mereka berdua akhirnya sarapan dalam diam.
"Apa bahan makanan di kulkas habis?" Tanya Gaara memastikan, karena bukannya ia tak bersyukur, sarapan dengan telur saja ia merasa masih ada yang kurang. Karena biasanya, sekretaris kantornya selalu membawakan makan siang cepat saji untuknya. "Aku masih lapar."
Hinata menelan sarapannya, lalu menatap Gaara serius. "Apa saja yang terjadi semalam?"
"Kau bisa memasak lagi? Maksudku, apa kau tidak keberatan untuk masak lagi? Masakanmu enak."
Kening Hinata kembali mengernyit. "Ya, ya semalam kita sudah ini dan itu. Tapi aku tidak ingat semua-aku yakin, katakan padaku dari awal."
Gaara meringis. "Ayolah, aku masih lapar Hinata Hyuuga."
Sontak, mata Amethyst Hinata memincing. "Jangan membahasnya saat kita sedang makan. Dan lagi, jangan pernah panggil aku begitu! Aku bukan Hyuuga lagi. Namaku hanya Hinata." Katanya marah.
Si Bungsu rai merasa tertarik. "Kenapa?"
Memalingkan pandangan matanya kesamping, Hinata terdiam sebentar apakah ia akan mengatakan pada Gaara atau tidak. Namun daripada ia bertanya lagi nanti, lebih baik Hinata mengatakan sejujurnya sekarang. Lalu, gadis bersurai biru tua tersebut bercerita mengapa ia sampai di depak keluar dari rumah Hyuuga. "Aku begitu tertekan karena dia berkhianat. Saat itu aku memilihnya karena dia begitu baik seperti ular berbisa, hingga membuatku meninggalkanmu. Dan karena aku depresi karena kehilangan dia, keluargaku menyerah hingga menitipkanku di rumah sakit jiwa. Tapi aku kabur, lalu lari kesini. Dan tentu saja, aku juga menyesal akibat pilihan bodohku untuk meninggalkanmu demi si brengsek itu. But you can see, semuanya sudah terjadi."
Gaara hanya mengangguk maklum, ia tidak dendam pada Hinata sedikitpun. Karena memang, ia yakin suatu saat nanti Hinata akan kembali kedalam pelukannya. Kejadian itu sudah berlangsung saat mereka SMA, dan daripada waktu yang terus berlalu ia gunakan untuk membalas dendam, Gaara lebih memilih untuk mengubah dirinya supaya mapan, mandiri dan kelak, bisa membawa Hinata ke dalam pelukannya dengan jirih-payahnya sendiri, dan lihat? Ia telah berhasil-meski ternyata tak sesusah yang Gaara kira. "Hmm, tak apa aku memaafkanmu."
Gaara tersenyum lembut, dan hal itu membuat Hinata tersipu. "Aku menerima semua kekurangan dan kelebihanmu."
Teringat dengan tujuan awalnya, Hinata akhirnya kembali menatap Gaara intens dan mengabaikan ucapan Gaara barusan karena ia merasa tak layak mendapatkan semua kebaikan itu. "Ce-ceritakan dahulu padaku tentang semalam."
"Jangan membahasnya, kita sedang makan."
Namun, Hinata masih keras kepala. "Jangan membalik omonganku dan katakan padaku, Gaara."
Mendesah kalah, Gaara kemudian menatap sarapan Hinata yang masih setengah. "Bahkan kau masih belum menghabiskan makananmu,"
"Aku tidak perduli."
"Apa sarapanmu masih kau makan?" Tanyanya lagi.
Hinata geram. "Gaara!"
Pemuda itu lalu tersenyum simpul, kemudian bercerita. "Aku tak sengaja bertemu denganmu di diskotik, kau mabuk. Dan awalnya, aku akan mengantarmu ke kamar hotel terdekat. Tapi kau menolak, minta di antarkan pulang-oh ya, di mana rumahmu sekarang?"
Manik mutiara Hinata menatap Gaara dengan tak percaya. "Apa yang terjadi setelah itu?"
"Apa kau mau makan? Aku masih lapar, boleh untukku?"
"Kemana kau mengantarku kemudian?"
Gaara tak perlu persetujuan. Ia langsung mengambil sarapan Hinata, lalu memakannya. "Aku tidak jadi mengantarmu, karena kau memaksaku untuk-uhm, yah di mobil."
Hinata tak terlalu terkejut dengan jawaban pemuda di depannya ini, mengingat seluruh tubuhnya memang terasa pegal, terutama bagian kewanitaannya. Namun tetap saja, fakta bahwa semalam ia memang melakukannya membuat gadis itu syok. Kepala Hinata sedikit berdenyut saat memikirkan kemungkinan terburuk. Kalau ia hamil, bagaimana?
"G-Gaara, itu pertama kalinya untukku." Lirih Hinata malu. "Dan aku tak keberatan jika setelahnya, semua ini berakhir."
Kini, giliran Gaara yang mengernyit. "Kenapa?"
Menghembuskan nafas cepat, gadis berponi itu kemudian menggigit bibir bawahnya. "K-kita sudah lama berakhir, dan aku rasa semalam itu memang hanya kebetulan kita bertemu. Anggap saja, kita impas karena aku telah memberikanmu hartaku, sebagai permintaan maaf karena aku telah meninggalkanmu dulu."
Pandangan Gaara menajam. Ia sangat tidak suka dengan kalimat sama yang Hinata katakan semalam. "Bukankah aku sudah mengatakannya?"
"-Eh?"
"Aku semalam bilang padamu, bahwa aku ingin kau kembali. Ke-dalam-pelukannku. Dan kau sudah menjawab 'iya', dan 'bersedia'." Katanya kesal.
"Ta-tapi kau lihat, semalam aku mabuk."
"Aku tidak perduli."
"Gaara-aku... aku..." Hinata tidak tahu, mengapa sisi lain dari hatinya merasa ada yang keberatan dengan ucapan pemuda tersebut. Bukannya Hinata sudah tak mencintainya lagi, namun ia hanya merasa... tidak pantas. Ia merasa sangat hina hingga tak layak mendapatkan perlakuan baik dari Gaara. "Aku sekarang sudah berubah, jadi jahat."
Gaara menghentikan aktivitas makannya, dan menatap Hinata lebih tajam. "Aku tahu, dan biarkan aku selesaikan sarapanku dahulu." Karena aku perlu mengisi tenaga, setelah kau kuras habis semalam! Lanjut Gaara dalam hati.
"Aku pemabuk, perokok, bahkan gaya hidupku sudah beruba—"
"Hinata!" Pemuda itu mengerang, dan melemparkan sendoknya ke atas piring dengan kesal. "Aku sudah mengatakannya juga semalam, bahwa aku tidak perduli. Tadi pagi bahkan aku sudah memanggil Sasori untuk memastikannya!"
"Me-mengenai apa? penyakitkah?" Hinata mengambil minumnya, dan meneguk air putih tersebut supaya lebih tenang. Jantungnya berdetak dengan tak karuan sekarang. "A-aku sakit apa?"
"Bukan," Jawab Gaara enteng. "Meski kau bilang kau pemabuklah, pecandulah, perokoklah, tapi semua itu masih bisa di sembuhkan."
Lalu alis Hinata mengernyit. "Kalau begitu tentang apa?"
Mencondongkan tubuhnya kedepan, pemuda bersurai merah tersebut kemudian menatap Hinata intens. "Sasori memeriksamu, dan selama beberapa hari ini ia sudah memastikan bahwa kau sekarang berada di masa suburmu, dan tentu, aku tidak akan membiarkanmu pergi membawa anakku begitu saja."
Hinata sukses tersedak. Bahkan sampai terbatuk-batuk. Kalimat Gaara barusan terngiang kembali di kepala Hinata dengan sangat lancar tapi ia masih tak percaya. "-uhukk! Apa?!"
Gaara menopang wajahnya pada satu tangan, dan melunakkan tatapan matanya pada Hinata. "Dengar ya, pernikahan kita akan berlangsung seminggu lagi."
Kedua mata sang wanita terbelalak. Namun, suaranya tercekat begitu hendak memprotes.
"—Dan selama seminggu itu, aku akan memastikanmu tidak kabur dengan 'menyempurnakan' cikal bakal anakku, di rahimmu. Oh tentu saja, Jika hanya sekali sepertinya memang masih kurang."
Mulut Hinata ternganga, dan entah mengapa udara disekitarnya membuatnya merasa sesak!
What the hell, mimpi apa ia semalam!
Dan sebelum Hinata mampu menjawab, pemuda di hadapannya tersebut sudah menyeringai dengan penuh kemenangan saat melanjutkan kalimat mematikannya. "Ya, kan Rai Hinata? Marga itu sepertinya cocok juga untukmu."
Hinata masih kesulitan bernafas saat Gaara mulai bangkit dari kursi dan meraih pundak kurusnya dari belakang. "Aku juga suka kau sekarang-yang binal. Mengingat semalam kau meminta untuk melakukannya di mobil, bagaimana kalau sekarang giliranku untuk melakukannya di ruang makan?"
Gaara pasti sudah gila!
Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mulut pemuda itu muali membasahi tengkuk Hinata dan meremas-remas kedua payudaranya yang tak terlindungi oleh apapun kecuali kaus kebesaran yang ia kenakan. Hinata hanya bisa mendesah, tubuhnya terasa gemetar.
Ya Tuhan, kejutan apa lagi sekarang?
Sentuhan Gaara yang semakin lama semakin intim, sukses membuat Hinata pasrah dengan semua yang akan dilakukan pemuda tersebut terhadap tubuhnya.
"Katakan bahwa kau menerimaku," Bisik sang calon suami mesra di telinganya, Hinata melenguh. "Katakan, Hinata."
"H-ughh... G-Gaara, tanganmu!"
Pemuda itu menyeringai, sebelum menarik kursi Hinata kebelakang dan mengangkangkan sebelah kakinya di atas meja. Gaara kemudian meremas kembali dada kenyal Hinata dari belakang. "Katakan."
Hinata mengerang, gerakan jemari pemuda itu di kewanitaannya benar-benar membuat Hinata tak bisa menahan desahannya. "I-Iya, aku ma-ughh..."
Dengan sekali sentakan, Gaara memasukkan dua jarinya dengan sedikit kasar. "Aku tidak dengar."
"A-aku juga mencintai-hahh... Mencintaimu, Ga-ARGHHH!"
"Apa?"
Kocokan jari-jari Gaara yang semakin cepat pada vaginanya membuat Hinata merasa akan gila. Fuck, ia akan mencapai batasnya-lagi, hanya dengan jari pemuda itu yang mengobrak-abrik kewanitaanya. Memalukan, tapi nikmat. "AKU MAU, GAARA SIALAN-KYAAHHHH!"
.
.
.
Stuck In The Moment
.
.
.
Jam yang menggantung di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit, dan itu artinya, upacara pernikahan Gaara-Hinata akan berlangsung sebentar lagi. Namun saat Kankurou dan Temari yang malah terlihat cemas, Matsuri hanya bisa menghela nafas lelah.
"Dimana Gaara?!" Bentak Rai Temari dengan nada cemas. "Aku sudah menanyakannya pada mempelai wanita, tapi ia juga tidak tahu!"
"Aku akan mencari di toilet." Kata Kankurou.
Matsuri melirik vas bunga besar yang ada di sebelahnya dengan malas. "Aku tidak tahu."
"Bantu aku mencarinya, kau kan sekretarisnya!"
Dalam hati, Matsuri mengumpat karena ia tak di bayar ekstra untuk hal ini. Namun, gadis berambut cokelat tersebut tetap patuh. "Baik."
Setelah itu, Temari pergi mencari adiknya di setiap sudut ruangan pesta. Sedangkan Matsuri, ia lebih memilih untuk memakan hidangan yang tersaji di sisi ruangan karena ia belum sarapan. Kalau dua kakak Gaara itu melihat? Ah sudahlah, biarkan saja. Toh, bosnya juga tidak akan kemana-mana.
Karena Matsuri tahu, dimana Gaara berada.
"Kau-aghh... kau gila?!" Hinata mengerang tertahan, membekap mulutnya dengan tangannya sendiri agar tak terdengar sampai luar. "G-Gaara, upacaranya akan di-Hmphhh!"
Calon suaminya tersebut mengabaikan peringatan Hinata, dan memilih untuk mendorong tubuh setengah telanjang itu supaya setengah membungkuk di cermin rias. "K-kau kan yang nakal-shh... Kau yang menyembunyikanku dari Temari-nee!"
Mata Amethyst Hinata menatap pantulan cermin yang ada di depannya, wajahnya memerah saat melihat Gaara tengah menyetubuhinya dengan baju pengantin yang masih melekat di tubuh mereka. "K-kau sendiri yang datang kesini-Ahh... Gaara-nghh!"
Pemuda itu membungkuk, lalu menepuk pantat Hinata dengan keras. "Kau melihatnya di cermin, hm?"
Membekap mulutnya kuat-kuat, calon mempelai wanita itu semakin kesusahan menahan desahan nikmatnya saat Gara mulai bergerak dengan liar. "Nghh... Ga-Gaara-mnhh!"
Pemuda yang mengenakan setelan jas putih tersebut menarik wajah Hinata, dan mencium bibirnya dengan kasar. Melumat habis daging kenyal tersebut hingga saliva mereka saling menyatu. "Hina-mmh..."
Hinata mengerang, kejantanan Gaara yang menghentak dengan sangat cepat di dalam kewanitaannya memubuat Hinata merasa seeprti mau meledak! Ia akan klimaks sebentar lagi!
"Ougmhh... Gaa-nghhh... aku-ahh... ahhh! Aku akan keluar!"
Gaara memperdalam ciuman mereka, dan meningkatkan tempo sodokannya. Pinggulnya yang bergerak maju mundur dengan cepat membuat Hinata melenguh tertahan sebelum akhirnya mengaku kalah karena tak bisa menahan orgasmenya lebih lama lagi.
Meremas dada Hinata dengan kasar dari luar gaun, Gaara menggeram tertahan. "Tahan Hinata, aku juga-khhh!"
Hinata bisa merasakan penis Gaara yang semakin keras, menyodok dengan kasar kewanitaannya hingga menimbulkan suara becek yang begitu jelas. Benda berurat tersebut semakin berdenyut-denyut. Oh, astagaaa!
"Akhh... Gaara-oughh, kau menyodokku! Ahhh... di sana, yah di sana!"
"A-ahhh... Hina-nghh... aku kelu-arghh... aku keluarr!"
"Y-ya, Gaara! Aku juga akan-Keluarghhh... AAAAHHHH!"
Cairan panas yang mengaliri rahimnya dapat Hinata rasakan dengan jelas. Jumlahnya banyak, sangat banyak malah hingga cairan tersebut keluar dengan perlahan di kedua kakinya. Bahkan selama beberapa saat, Hinata juga masih bisa merasakan kejantanan Gaara yang berdenyut-denyut di dalam sana.
Keduanya terengah.
"K-Kau gila-hah... hahh..."
Si pemuda beriris hijau hanya terkekeh pelan, lalu melepaskan penisnya dari vagina Hinata dan merapikan kembali celana beserta setelan jasnya. Ia tampak berantakan.
"Kita akan melanjutkannya nanti malam," Kata Gaara serius, namun wajahnya masih tersenyum. "Aku ingin banyak anak darimu, Hinata."
Hinata hanya terdiam. Wajahnya memerah karena malu. Dan dengan di bantu Gaara, sang mempelai wanita tersebut lalu berdiri dan merapikan gaunnya. "Aku tidak bisa menebak bagaimana anakku nanti, mungkin dia akan mesum sepertimu."
Gaara meralat. "Anak kita."
Dan tepat tiga menit sebelum acara dimulai, Matsuri membuka pintu dan memberikan tatapan memelas. "Durasi, Durasi."
Gaara hanya memutar bola matanya kesal.
Gadis berambut sebahu itu kemudian mendekat, dan dengan sangat cepat membantu memperbaiki penampilan Hinata. Mengolesi lipstik lagi, bedak lagi, gaun lagi, bahkan parfum yang sangat banyak agar napak tilas aroma percintaan mereka tidak terlalu jelas.
"Te-terimakasih, Matsuri." Ujar Hinata tulus dengan pipi yang sudah berwarna merah akut.
Gadis itu hanya terseyum, lalu menjawab dengan jujur. "Tak masalah, bos Gaara memang sudah membayarku untuk ini."
Si bos sedikit terseinggung. "Hei!"
"Baiklah Hinata-san, sudah siap. Segera bergegaslah! Upacaranya akan dimulai!"
Sialan, bocah ini mengabaikan atasannya!
Hinata mengangguk, lalu membungkuk sekali lagi sebagai rasa terimakasih. Sang mempelai wanita yang sangat menawan tersebut segera pamit untuk pergi ke tempat upacara bersama sang mempelai pria-Gaara.
Gaara menerima uluran tangan Hinata, lalu tersenyum tulus sambil mengaitkan tangan Hinata di lengan kirinya. Mereka berdua, lalu berjalan beriringan.
Matsuri tersenyum lega memandang keduanya. "Selamat menempuh hidup baru, Bos dan Hinata-san!"
.
Stuck In The Moment; End
.
Halo! :D
Halo readers tertjintah! Lama tak jumpa karena saya hiatus cukup lama, dan kalian boleh melempari saya dengan roti nastar sepuasnya! *eh* :3 Habis lebaran lho, jangan marah ya! Hika juga mau minta maaf lahir bathin karena;
Hiatus
Sekali Update ratenya begini
Nambah dosa lagi Eits tapi itu bagi yang nekat baca ya :'v resiko ditanggung sendiri!
Terimakasih banyak untuk:
Ne Maki Lucis Caelum, Guest, Virgo-Shaka Mia, Triwik97, keiKO-buu89, Guest, Shion-Hana, RahilsanXD, RinZiTao, .77, Natsu no Midori, clarin, Amerarudori, permatadian, yuka, riyui, rina naomi, namikaze, Lgaara, Silver rose, Ade854, Morita Naomi, Arikazushitoka, dan silent reader semua ^^
Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya :") saat ini Hika sedang berusaha bangkit dari HIATUS, jadi mohon selalu dukungannya ya! ^^ akhir bahagia dengan lemon yang sukses bikin sakit kepala pas ngetiknya, semoga bisa membuat readers sekalian puas :') plis jangan minta sequel, dll supaya fict yang lain bisa jalan #aminnn #digeplak!#
Terimakasih banyak atas dukungan dan waktunya untuk membaca, Sampai bertemu di fict-fict selanjutnya ya! ^^ Ps: sequel anata II sedang di usahakan :*
Salam hangat, Hikari no Aoi.
Stuck In The Moment; CLEAR!
