Naruto © Masashi Kishimoto

Aku seorang Ibu Kost © Tomat Jambu

Happy Reading, enjoy it! :D

Naruto berlari kencang menuju museum kota dengan menenteng tas punggung berwarna hitam. Wajahnya berkeringat karena aktivitasnya berlari dari kost menuju museum kota. Tapi itu tidak menjadi masalah karena tujuannya sekarang adalah bertemu Hinata dan mencegahnya bertemu dengan Kiba.

Lalu dia berbelok cepat di perempatan jalan dekat museum kota. Dari kejauhan, sudah terlihat beberapa pengunjung memadati gerbang museum kota. Entah kenapa hari ini museum kota sangat padat, tidak seperti hari-hari biasa. Orang-orang lebih memilih pergi ke mall atau pantai daripada mengunjungi museum kota yang sudah berumur puluhan tahun.

Naruto berhenti di depan gerbang museum. Napasnya putus-putus dan dia terengah-engah. Sangat lelah. Itu yang dirasakan Naruto saat ini. Dia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Lalu sejenak dia diam karena sedang membaca tulisan di spanduk yang dipasang di depan museum kota.

"DOG EXHIBITION"

Ha? Aneh sekali namanya? Apa ini artinya ada pameran anjing di dalam? Oh, jadi ini yang menyebabkan museum kota hari ini sangat ramai? Lalu Naruto berjalan masuk ke museum kota dengan nafas yang masih berat.

"Tiket?"

Naruto melongo memandang sebuah tangan yang terlihat seperti meminta sesuatu darinya. Lalu dia mengangkat wajahnya dan memandang si pemilik tangan. Wajah orang itu sangar dengan kumis tebal berwarna hitam dan tubuh yang tegap tinggi dengan kulit berwarna coklat tua.

"Tiket? Untuk apa?" tanya Naruto dengan wajah yang mulai was-was jika akan terjadi sesuatu.

"Kau tidak bisa masuk tanpa tiket, kau tahu?"

"Tapi—tapi, a-aku tidak tahu itu."

"Bagaimana bisa kau tidak tahu hal ini? Bukankah sudah tertulis di brosur?" tanya orang sangar itu sambil menunjukkan sebuah brosur pada Naruto. Naruto membaca kata per kata di brosur tersebut dan matanya membelalak saat tahu kalau pameran anjing di dalam memerlukan tiket yang harganya sama dengan hape android.

"Ah, gila? Masak harga tiket ini bisa sampai mahal? Dimana aku bisa mendapatkannya?" tanya Naruto setengah berteriak.

"Sudah habis. Jadi sekarang kau pergi saja dan jangan kembali kalau kau belum punya tiket!" usir orang itu. Saat Naruto akan diseret pergi, tiba-tiba ada yang menyodorkan dua tiket pada orang sangar itu.

"Ini tiketku dan tiket Naruto. Kau tidak perlu mengusirnya pergi." Ucap sosok yang dianggap malaikat bagi Naruto. Naruto pun langsung tertawa bahagia saat tahu kalau sosok itu adalah temannya sendiri.

wOwOwOw

"Ah, aku tidak menyangka ternyata orang yang aku temui itu kau, Hinata." Ucap Kiba saat melihat-lihat lukisan bergambar anjing. Hinata hanya tersenyum canggung. Dari tadi dia hanya menunduk tanpa melihat wajah Kiba.

"Hei, kau kenapa?" tanya Kiba tiba-tiba. Hinata langsung tersentak kaget dan langsung mendongakkan wajahnya. Kiba hanya terkekeh melihat keluguan di wajah Hinata.

"Kau ini lucu sekali, Hinata!" puji Kiba sambil mengacak-acak lembut rambut Hinata. Hinata hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

'Aku merasa kalau ada Naruto disini.' Batin Hinata sambil melihat sekeliling museum yang sudah berubah menjadi tempat pameran yang bertemakan anjing. Batinnya mengatakan kalau Naruto ada di sekitar sini dan kalau melihatnya berduaan dengan Kiba, Naruto pasti marah. Dan hal itulah yang membuat Hinata menjaga jarak dan hanya diam saja jika diajak ngobrol dengan Kiba.

"Ayo, Hinata! Akamaru sudah ditunggu!" ajak Kiba sambil menggandeng tangan Hinata. Hinata yang takut ketahuan Naruto langsung melepaskan genggaman tangan Kiba. Sedangkan Kiba hanya memandang Hinata saat dia berusaha melepaskan tangannya dari genggamannya.

"Emm, maaf. Memangnya kenapa dengan Akamaru? Sepertinya dia sangat penting?" tanya Hinata. Lalu dia berjalan mengikuti Akamaru dari belakang. Kiba pun berjalan di samping Hinata.

"Ah, kau belum tahu ya? Penyelenggara pameran ini adalah seniman yang sangat terkenal dan sangat hebat. Suatu hari seniman itu bertemu denganku dan Akamaru sedang bermain di taman. Dan entah ada apa, tiba-tiba seniman itu menghampiriku dan Akamaru.." ucap Kiba.

"Lalu?"

"Lalu seniman itu berkata padaku kalau Akamaru membuatnya mendapatkan inspirasi yang sangat cemerlang melebihi dari matahari di langit dan dia menyuruhku datang ke museum kota untuk melihat pameran karya-karnyanya. Begitu.." Kiba bercerita panjang lebar dan langsung disambut dengan gelak tawa Hinata.

"Jadi, Akamaru yang jadi inspirasi dibalik pameran besar ini?" tanya Hinata. Dan Kiba langsung mengangguk mantap.

wOwOwOw

"Aku sangat berterima kasih padamu, Sai. Kalau tidak ada kau mungkin aku tidak akan masuk ke dalam museum." Naruto mengucapkan terima kasih pada Sai. Sai hanya tersenyum sambil terus berjalan melihat isi museum.

"Kalau boleh tahu, kenapa kau membeli dua tiket?" tanya Naruto ingin tahu.

"Sebenarnya aku ingin melihatnya dengan Sasuke. Tapi ternyata dia sudah ada janji dengan Sakura." Naruto hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Sai.

"Ada perlu apa kau kesini? Setahuku, kau bukan orang yang suka pada seni." Ucap Sai. Naruto hanya nyengir.

"Aku ada sesuatu dengan seseorang, tapi ternyata orang itu sudah pergi dengan orang lain."

"Ha? Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Aku juga."

Sai berhenti dan memandang Naruto. Menurutnya ada yang tidak beres padanya hari ini. Dan kalau boleh ditebak, hal yang membuat Naruto aneh adalah wanita. Mungkin saja dia ingin pergi dengan seseorang tetapi orang itu malah pergi dengan orang lain.

Saat Sai berhenti berjalan, Naruto pun ikut-ikutan berhenti. Sejenak dia bingung kenapa tiba-tiba Sai memandanginya dengan tajam. Membuat Naruto salting sendiri.

"K-kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Naruto takut. Sai diam saja lalu berjalan lagi melihat-lihat isi pameran. Naruto hanya terbengong melihat tingkah laku temannya yang aneh.

Suasana di dalam pameran sangat hening meskipun pengunjungnya banyak. Mungkin suasana seperti ini sangat aneh bagi Naruto yang sudah terbiasa dengan suasana pesta yang full music. Kini dia bingung dengan apa yang akan dia lakukan disini. Jujur saja, mengunjungi suatu tempat yang sangat asing baginya adalah tidak menyenangkan.

Naruto tetap mengikuti Sai dari belakang. Inginnya jalan-jalan dengan Hinata eh, kenapa jadinya malah jalan-jalan dengan Sai? Naruto terus-menerus menggerutu di dalam hatinya. Matanya terus melihat sekeliling museum kalau-kalau dia menemukan Hinata.

'Dimana Hinata?'

"Eh, Sai! Aku kesana dulu, ya? Aku mau mencari seseorang." Ucap Naruto langsung melenggang pergi tanpa memperdulikan Sai yang akan berkata sesuatu.

Naruto berjalan sendirian seperti orang tersesat. Ya, dia benar-benar tersesat dan tidak tahu mau kemana. Berkali-kali dia megalihkan pandangannya ke segala arah untuk mencari satu sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Hinata Hyuuga.

Dengan berbekal wajah bodoh, Naruto terus berjalan untuk mencari Hinata. Terus berjalan dan tidak terasa sudah sangat jauh dari pintu masuk. Kini dia sudah berada di depan sebuah pintu besar dan sepertinya—hanya orang tertentu yang boleh masuk ke dalam sana. Tiba-tiba saja Naruto ingin masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia merasa kalau di dalam sana ada Hinata. Dia sangat ingin bertemu dengan gadis itu.

Dengan gemetar, Naruto menyentuh gagang pintu dan mendorongnya agar pintu besar berwarna coklat tua itu terbuka. Perlahan dia mengangkat kaki untuk masuk ke dalam ruangan—yang menurutnya terisolir—sehingga dia tahu ruangan apa itu.

Tiba-tiba sebuah cahaya langsung menyinari Naruto. Dan dia tahu apa itu. Kira-kira itu sebuah lampu yang sangat besar dan kelihatan mewah. Dan baru dia sadari, dia sudah berada di dalam ruangan yang tadi sempat membuat dia penasaran.

Naruto merasa kalau sekarang ini beberapa pasang mata tertuju padanya. Suasana langsung berubah menjadi hening. Keringat dingin langsung mengucur dari dahi Naruto. Entah apa yang akan terjadi, Naruto tidak bisa membayangkan. Bahkan dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang ini. Iya, kan? Pergi ke tempat yang asing bagi diri kita adalah sangat tidak menyenangkan dan kita akan sangat terlihat seperti orang bodoh.

"Naruto?" sebuah suara lembut yang sangat ia suka terdengar seperti sedang memanggilnya. Naruto celingukan mencari sumber suara. Dan ternyata suara itu adalah suara Hinata! Haha, sudah kubilang, kan? Hinata ada di sini! Batin Naruto bersorak girang.

"Aaa, hai, Hinata." Naruto nyengir dengan wajah tak berdosa.

"A-apa yang kau lakukan d-disini?"

"A-aku sedan menca—hei hei, apa-apaan ini? Lepaskan aku!" Naruto berteriak tubuhnya diseret agar keluar dari ruangan itu oleh dua orang bertubuh besar.

"Hei, lepaskan aku!" Naruto terus berteriak agar kedua orang itu melepaskan tangan mereka di pergelangan tangannya. Tapi kedua orang itu tetap diam dan mencoba untuk menyeret Naruto keluar tapi tetap saja tidak bisa karena Naruto terus berontak.

Hinata beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju Naruto. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya seakan mencegahnya untuk pergi. Hinata memutar kepalanya dan ternyata yang memegang tangannya adalah Kiba. Langsung saja Kiba menarik tubuh Hinata dan membawanya pergi.

"Hinata! Aku ingin bicara denganmu! Hinata! Hina—hei, lepaskan aku bodoh!" Naruto berteriak memanggil nama Hinata dan tubuhnya semakin berontak. Tapi saat melihat Hinata pergi bersama Kiba, tubuhnya langsung melemas dan rasanya jantungnya jatuh ke lantai. Karena Naruto sudah tidak berontak lagi, dua orang bertubuh besar itu dengan mudah mengusir Naruto sampai keluar museum.

BRUK!

Naruto jatuh tersungkur karena ditendang keluar oleh dua orang besar yang tidak tahu sopan santun—itu menurut Naruto. Lalu beberapa saat kemudian dia bangkit dan mengaduh kesakitan karena ada beberapa bagian tubuhnya yang lecet. Naruto duduk bersandar di tembok museum dan melepaskan tasnya yang dari tadi dia taruh di punggung dan meletakkan tas itu di sampingnya.

Tiba-tiba dia teringat saat dia melihat Hinata bersama Kiba dan saat dia pergi meninggalkan dirinya dan sama sekali tidak berniat menolongnya. Dia ingat, bagaimana Hinata bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi bersama Kiba dan sekali lagi, tanpa sedikitpun niat ingin menolongnya. Begitu yang Naruto lihat dari tingkah dan wajah Hinata.

Dia mengambil sebuah batu dan melemparnya jauh-jauh seakan-akan dia melempar rasa kekesalannya. Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk pergi ke danau di belakang bukit. Dia ingin menumpahkan semua rasa kekesalannya disana. Perlahan dia berdiri dan kembali menenteng tas hitam milik Hinata di punggungnya dan mulai berjalan meninggalkan museum.

wOwOwOw

"K-kenapa k-kau mengajakku p-pergi? Naruto ingin me-menemuiku, Kiba." Ucap Hinata lirih. Kiba hanya diam saja. Dia tetap berjalan dengan Akamaru di sampingnya. Hinata melirik ke arah Kiba. Terpaksa dia menahan tangis yang sangat ingin dia keluarkan.

"Entah. Aku .. tidak tahu. Tiba-tiba saja aku ingin membawamu pergi."

"Oh, begitu."

Tiba-tiba suasana hening. Sekarang tujuan Kiba hanya satu. Dia ingin pulang. Entah kenapa kejadian tadi sangat membuat kepalanya pusing padahal itu bukan kejadian yang besar. Tapi entah kenapa, cara Hinata memandang Naruto yang tidak ia suka. Maka dari itu dia membawanya pergi.

"Kita pulang, ya?" tanya Kiba sambil memandang Hinata.

"Pulang?" Kiba mengangguk.

"Kau mau mampir ke suatu tempat?" tanya Kiba. Saat Kiba bertanya seperti itu, tiba-tiba saja dia ingin pergi ke suatu tempat yang ingin dia kunjungi saat ini.

"A-aku ingin—"

"Kemana? Kalau begitu kuantar, ya?" potong Kiba. Hinata langsung diam. Diantar? Justru dia ingin pergi ke tempat itu adalah untuk menghindar dari Kiba. Eh, kok sekarang Kiba malah menawarkan diri untuk mengantarnya?

"Ah, t-tidak usah. Aku bisa sendiri, kok." Ucap Hinata sambil menunduk.

"Benarkah? Kau kan wanita. Masak pergi sendiri?" tanya Kiba keukeuh. Dia sangat ingin menemani Hinata. Sebenarnya bukan itu tujuan Kiba. Dia menawarkan diri untuk mengantar Hinata karena dia ingin tahu kemana Hinata akan pergi. Mungkin saja dia pergi karena ingin menemui Naruto.

"T-tidak apa, kok. T-tenang saja. Aku .. hanya pergi ke tempat yang t-tidak jauh dari sini." Ucap Hinata sambil memainkan jarinya.

"Kemana?"

"Aaa, kau tidak perlu tahu. A-aku hanya ingin sendiri saat ini, Kiba." Ucap Hinata sambil memandang Kiba. Kiba hanya mengernyit melihat tingkah Hinata. Dia sebal karena Hinata tidak memberi tahu kemana dia pergi. Dia sebal karena pasti penyebab semua ini adalah Naruto. Dia sebal karena kenapa harus Naruto yang menjadi lelaki idaman Hinata? Kenapa bukan dirinya?

"A-aku pergi dulu, Kiba. Jaga dirimu." Pamit Hinata sambil membungkuk. Lalu tersenyum pada Kiba dan pergi entah kemana. Kiba hanya memandang punggung Hinata dari kejauhan. Dia memandang Hinata dengan perasaan pilu. Kejadian di museum tadi cukup membuatnya takut. Meskipun singkat, tapi bisa dipastikan kalau Hinata menyukai Naruto begitupun sebaliknya. Dan hari ini, Kiba juga membuktikan satu hal tentang dirinya, kalau ..

"Aku mencintaimu, Hinata."

wOwOwOw

Sebuah batu tercebur ke dalam danau setelah dilempar oleh seseorang. Danau yang semula tenang berubah menjadi pecah karena kehadiran batu tersebut. Sosok lelaki berambut kuning tengah melamun sambil sesekali melempar batu ke danau. Pandangannya kosong dan entah kemana pandangan itu tertuju.

Kini Naruto sedang memikirkan satu hal. Tak lain dan tak bukan adalah Hinata. Entah kenapa akhir-akhir ini wanita indigo itu selalu mewarnai hari-hari Naruto. Setiap malam selalu mengisi mimpinya. Dan Naruto sama sekali tidak terganggu akan kehadiran Hinata di pikirannya.

Tapi untuk mendapatkan hati Hinata adalah hal yang paling sulit. Hinata cantik, anak orang kaya, pintar dan sangat menawan. Sedangkan dirinya, tidak tampan, tidak keren, tidak terlalu pintar, anak orang biasa-biasa saja, dan dia adalah anak band. Itu saja yang dia punya. Tidak ada hal yang bisa dibanggakan darinya untuk menarik hati Hinata.

Lalu dia membaringkan tubuhnya di hamparan rumput hijau di dekat danau. Matanya terpejam membayangkan kalau nanti dia bisa memiliki Hinata seutuhnya. Pasti hidup ini akan sangat indah. Perlahan senyum manis mengembang dari bibirnya. Angin sore yang menenangkan berhembus membuat hati Naruto agak membaik. Sudah dia duga, tidak ada yang bisa mengalahkan suasana tenang di danau ini.

"Naruto?"

Perlahan mata Naruto terbuka. Sebuah siluet wajah nampak saat Naruto membuka matanya. Entah itu mimpi atau bukan, sosok yang membangunkan Naruto memiliki wajah seindah malaikat. Tidak tahu itu malaikat apa. Yang terpenting adalah, malaikat itu cantik sekali. Berwajah sama seperti..

"Kau?" tanya Naruto. Sosok itu tersenyum malu dan menundukkan wajahnya. Semburat merah tampak saat Naruto memandanginya.

"A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto lagi.

"A-aku disini ha-hanya i-ingin emm .. a-aku ta-tadi tidak sengaja, aaa .. ha-hanya ingin ke danau t-ternyata a-ada kau disini, j-jadi aku mem-bangunkanmu la-lalu—" Hinata gugup saat berhadapan dengan Naruto. Apalagi sekarang Naruto memandanginya lekat-lekat.

"Kau ingin membangunkanku? Atau kau sengaja datang kesini agar bisa berdua denganku?" potong Naruto. Seketika ekspresinya berubah menjadi ekspresi pervert. Langsung saja wajah Hinata berubah menjadi warna merah total. Lalu dia memalingkan pandangannya dari wajah Naruto.

"H-hei, wajahmu merah! Kau sakit, ya?" tanya Naruto. Seketika juga badan Hinata ringan. Rasanya dia ingin pingsan. Kalau disekitar sini ada kamera, mungkin dia akan melambaikan tangan karena dia benar-benar sudah tidak kuat.

"Kau kenapa, sih?"

Hinata tetao tidak ingin memandang wajah Naruto. Dia benar-benar sangat malu. Rasanya dia ingin berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Naruto. Bodoh bodoh bodoh! Kenapa aku tadi membangunkan dia? Apa yang ada di otakku? Batin Hinata merutuki dirinya sendiri.

Naruto terdiam memandangi Hinata yang sedang memalingkan wajahnya seakan dia tidak mau memandang wajahnya. Apa wajahku terlalu jelek? Begitu yang ada di pikiran Naruto. Lalu Naruto duduk di samping Hinata karena lelah menunggu Hinata yang daritadi diam saja.

Hinata melirik Naruto yang sekarang sudah ada di sampingnya. Oh, God! Pemandangan ini benar-benar membuat Hinata ingin berteriak. Angin sepoi berhembus membuat rambut kuning Naruto bergerak lembut dan benar-benar sangat terlihat tampan. Wajah Naruto yang manis membuat Hinata tidak bisa menahan diri. Rasanya dia ingin, dia ingin memiliki laki-laki disampingnya itu.

"Kau tahu, tadi aku ingin mengajakmu pergi ke museum. Tapi ternyata kau sudah ada janji dengan Kiba. Lalu aku mencarimu sampai ke ruangan aneh dan kejadian finalnya aku ditendang keluar museum. Lucu, ya?" Naruto nyengir kepada Hinata tentang kejadian yang menimpanya hari ini. Hinata menoleh ke arah Naruto dengan pandangan tidak percaya. Naruto tadi ingin mengajaknya pergi?

"K-kau? K-kenapa tidak bilang k-kalau ingin mengajakku p-pergi?" tanya Hinata. Pandangan Naruto kosong. Lalu tidak lama kemudian dia mengangkat bahu yang artinya tidak tahu.

"Aku ingin memberimu kejutan. Ah, bodoh sekali aku! Hahaha! Lalu, bagaimana kencanmu dengan Kiba tadi? Mengasyikkan?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan. Hinata memandang Naruto dengan wajah tak senang. Kenapa saat-saat seperti ini dia malah mengalihkan pembicaraan?

"B-biasa saja. K-kenapa kau ingin mengajakku p-pergi, Naruto?" tanya Hinata. Naruto terdiam. Pandangannya kosong lagi. Lalu sejenak kemudian dia mengambil tas hitam yang tergeletak tidak jauh darinya. Lalu menyerahkannya pada Hinata. Sedangkan Hinata hanya bisa bengong tidak tahu apa maksud Naruto.

"Aku ingin mengembalikan itu. Itu tasmu, kan?" Hinata membuka isi tas itu dan memandanginya tidak percaya. Bagaimana tas itu bisa ada di tangan Naruto?

"Bagaimana b-bisa? A-aku kira tasku tertukar dengan m-milik Kiba." Ucap Hinata.

"Kau kan bertabrakan denganku, kau lupa ya?" ucap Naruto dengan wajah sedih. Dia sedih saat tahu kalau Hinata sama sekali tidak ingat tentang insiden tabrakan dan yang dia ingat hanya Kiba. Bahkan dia mengira kalau tas itu adalah milik Kiba. Dan yang paling dia benci adalah saat Hinata menyebut nama Kiba di depannya. Itu adalah hal yang paling tidak dia suka.

"Sudah hampir malam. Ayo pulang bersamaku." Ajak Naruto. Lalu dia berdiri beranjak untuk pulang ke kost. Hinata hanya diam terduduk.

"Hei, ayo berdiri. Sudah hampir malam, Hinata. Tenang saja! Kau akan pulang bersamaku." Ajak Naruto. Yang diajak hanya diam. Lalu Naruto duduk lagi saat menyadari kalau ada sesuatu yang menimpa Hinata.

"Hei, Hinata! Ayo kita pul—hei, kau kenapa menangis?" Naruto panik saat menyadari kalau wanita malaikatnya sedang menangis. Jujur saja, dia paling tidak tega melihat kalau melihat wanita menangis.

Saat Naruto tahu kalau dia sedang menangis, dengan cepat Hinata mengusap air matanya dan tersenyum kepada Naruto. Senyum yang dipaksakan. Dia tahu, dia tidak boleh terlihat lemah di depan lelaki yang ia sukai. Meskipun hatinya sangat sesak, tapi dia tetap harus tersenyum.

"T-tidak apa-apa. K-kau pulang saja. H-hari ini aku ingin menginap di ru-rumah saudaraku." Jawab Hinata dengan suara parau. Naruto memandang Hinata miris. Sebenarnya ada apa dengan wanita ini? kenapa dia sangat sulit ditebak?

"Rumah saudaramu? Kalau begitu kuantar, ya?" tanya Naruto dengan semangat. Hinata langsung mengangkat wajahnya memandang Naruto. Matanya membelalak kaget dengan tawaran Naruto. Diantar? Itu bisa membuatnya tidak tidur tujuh hari tujuh malam!

"Ah, t-tidak usah, Naruto. Itu a-akan merepotkanmu. Aku bisa sen—"

"Sudaaaah, jangan menolak!" potong Naruto sambil menarik tangan Hinata sehingga Hinata langsung berdiri. Semburat merahnya tidak bisa ia sembunyikan saat tangannya digenggam pujaan hatinya. Rasanya seperti melayang diudara.

wOwOwOw

Jalanan sudah sepi. Tetapi lampu-lampu jalanan masih menyala jadi tidak terlalu menyusahkan pejalan kaki saat berjalan di tengah kegelapan malam. Begitu juga dengan dua orang yang sedang berjalan beriringan saat ini. Samar-samar terlihat semburat merah muncul di wajah sang wanita.

"Dimana rumah saudaramu? Masih jauh?" tanya Naruto. Hinata mengangkat wajahnya karena daritadi dia hanya menunduk.

"Lumayan j-jauh. Tapi s-setelah ini sampai, kok." Jawab Hinata. Hatinya seakan ingin melompat keluar dari tubuhnya.

Terus seperti itu yang dirasakan Hinata. Rasanya melayang ke udara. Apalagi saat dia makan ramen dengan Naruto hanya berdua. Ya, hanya berdua. Berkali-kali Hinata tersedak karena terlalu gugup saat berbicara dengan Naruto. Apalagi tadi Naruto sempat mengacak-acak rambutnya. Kalau saja jarak rumah sakit dekat dengan kedai ramen, mungkin dia akan memilih pingsan.

"Hei, terima kasih hari ini ya? Kau mau memberikan waktumu untuk menemaniku makan ramen. Hehe!" ucap Naruto pada Hinata yang tetap mempertahankan semburat merah di wajahnya.

"I-iya, Naruto. Sama-sama."

"S-sudah sampai, Naruto." Naruto menoleh ke arah rumah besar bercat putih dengan halaman bersih dan rapi. Naruto berdecak kagum melihat rumah besar itu. Dia kagum dengan seluruh keluarga Hinata. Bagaimana bisa sekaya itu? Sampai-sampai rasanya uang itu bisa dihasilkan dengan hanya menjetikkan jari saja.

Lalu dia melihat papan nama di depan rumah. Neji Hyuuga. Saat membaca nama tersebut, rasanya dia pernah mengenal nama itu. Tapi kapan dan dimana? Dia tidak pernah punya teman bernama Neji dan bermarga Hyuuga. Tapi sepertinya dia pernah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Neji.

"Ah, kau tidak mampir, Naruto?" Naruto memandang rumah megah itu dan rasanya seperti menimbang-nimbang sesuatu apakah dia mampir atau tidak. Tapi tidak ada salahnya mampir. Ini masih belum terlalu larut. Tapi kalau tidak mampir, dia tidak bisa mengenal saudara Hinata. Kan kalau kenal, mungkin saja hubungannya dengan Hinata bisa direstui. Oke, Naruto. Ini terlalu berlebihan.

"Kau bisa ngobrol dengan Neji. Kau belum mengenalnya, kan? Ayo masuk." Ajak Hinata sambil menarik tangan Naruto agar masuk ke dalam rumah Neji.

Saat berada di dalam rumah tersebut, yang hanya bisa dikatakannya hanya kata-kata wow. Benar-benar mewah dan berkelas. Kalau tinggal disitu mungkin hidup Naruto akan makmur. Eh, bagaimana ya kalau ibunya diajak kesini? Mungkin dia akan pingsan melihata rumah semegah ini.

"Hinata, kau jadi kesini?" sosok berambut panjang berwarna hitam legam turun dari lantai atas melewati tangga dengan pakaian tidur. Sepertinya dia tadi sedang istirahat tetapi terbangun saat menyadari kalau adiknya datang ke rumah.

"I-iya, Neji. Ma-maaf aku tidak memberitahumu k-kalau aku datang kesini h-hari ini." Hinata membungkuk seakan memberi salam pada kakaknya. Neji tersenyum. Lalu matanya menangkap sosok yang ada di samping Hinata.

"Kau membawa teman? Siapa dia?" tanya Neji. Sepertinya dia mengenal orang yang dibawa Hinata. Ingatannya langsung tertuju pada sebuah kejadian yang sangat membuatnya ingin mati. Kejadian yang membuatnya ingin membunuh semua orang, termasuk orang berambut kuning di depannya itu. Dan dia ingat siapa dia, dan apa yang telah dilakukannya padanya dan pada orang yang paling dicintainya.

"Ah, aku Naruto. Naruto Uzumaki. Senang berkenalan denganmu, Neji." Naruto membungkuk memberi salam pada Neji. Tapi yang terlihat Neji malah memandangnya sengit dan menunjukkan wajah tidak suka. Tangannya mengepal seakan ingin memukul wajah Naruto. Sekarang dia benar-benar ingat kalau orang di depannya, Naruto Uzumaki, adalah orang yang telah menghancurkan hidup kekasih yang benar-benar dia cintai, TenTen.

"Dasar brengsek!"

"Neji!"

wOwOwOw

wow wow! Chapter empat, euy! Aduh, seneng bangeeeeet! Rasanya lega banget bisa nyelesein chapter empat yang udah ditunggu-tunggu oleh pemirsa setia FFN (gak salah loe?) :D semoga chapter empat ini bisa diterima oleh pembaca sekalian. Amin :)

KRITIK dan SARAN lewat REVIEW

Fandini P. :D