Sapu, alat pel, kemoceng, daftar belanja dan sekeranjang pakaian kotor hadir dihadapan empat pemuda yang tengah berlutut mohon ampun pada sang kapten. Pekerjaan rumah tangga untuk remaja SMP yang dijuluki Kiseki no Sedai sama saja dengan neraka. Ya... itulah titah sang kapten, mempekerjakan teman-temannya sebagai Kiseki no babu dalam sehari.
Kise Ryota mendesah berkali-kali saat menatap alat perangnya, seorang model harus bergelut dengan sapu, alat pel dan kemoceng, oh... Kise akan memilih menjadi model majalah dewasa saja, malu saat dipotret dengan pakaian minim dapat ditoleri daripada malu karena tidak biasa memegang sapu dan kerabatnya.
Aomine Daiki melotot hingga manik safir itu hampir keluar dari rongganya saat sebuah kertas laknat dihadapkan padanya, daftar belanjaan itu diremat hingga tak berbentuk. Menu latihan sepuluh kali lipat lebih dipilihnya daripada arus berhadapan dengan ibu-ibu pengosip diarea belanja. Sayangnya sama seperti Kise, Aomine tak mempunyai pilihan lain.
Nasib Midorima juga memburuk, jemarinya yang selalu dirawat dengan baik, kini harus bersentuhan dengan pakaian kotor sang kapten, mesin cuci dan setelika akan menjadi teman seperjuangannya hari ini, ingin rasanya Midorima menganti boneka beruang yang merupakan lucky itemnya hari ini dengan boneka voodo dan membubuhkan nama Akashi diatasnya kemudian disiksa sedemikian rupa, namun sayangnya Midorima bukan tipe yandere, jadi hal itu tidak akan mungkin terjadi.
Murasakibara masih sibuk bersujud dan memohon dihadapan sang kapten saat semua cemilan yang dibawanya telah dirampas, sedikit menyeret sang raksasa ungu untuk menjalani hukuman yang ditetapkannya, memasak sarapan untuk mereka berenam. Sungguh neraka bagi sang remaja yang hobi makan.
.
.
.
.
.
*HOCUS FOCUS*
Disclaimer:
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
Story by Aoi-Umay
Pairing:
Chibi!Kuroko x GoM
Warning:
Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU
DLDR, R&R please...
Enjoy Reading ^^
.
.
.
.
.
"Huft..." helaan nafas itu sudah berkali-kali keluar dari bibir seksi sang model, peluh membanjiri sekujur tubuhnya, satu jam lamanya bergelut dengan alat pembersih membuat si pirang merengut hampir frustasi.
Mimpi apa Kise semalam sehingga harus membersihkan seluruh apartemen sang kapten, selesai dengan segala urusannya dengan bersih-bersih, Kise memilih untuk rehat sejenak dengan duduk pada salah satu sofa yang ada diruang tengah. Merentangkan kedua lengannya, memcoba untuk mengusir penat sambil sesekali memijat salah satu bahunya sebelum sebuah suara cempreng mengintrupsi semua acara pijat memijatnya.
"Kice-nii lelah?"
Kise bersumpah, sebelumnya dia tidak melihat siapapun duduk bersamanya, tapi kenapa tiba-tiba ada suara cadel yang bergaung dari sampingnya. Dengan gerakan patah-patah, Kise mencoba menoleh ke samping kirinya, menoleh kearah suara.
"Mou~ Kurokocchi, kenapa mengagetkan aku –ssu."
Bocah dengan manik azure itu hanya menenglengkan kepala, tidak terlalu kaget dengan reaksi orang pada kehadirannya.
"Sejak kapan Kurokocchi disini –ssu?"
"Cejak tadi. (sejak tadi)" jawabnya singkat.
Kise kembali menatap sang bocah, senyum bak malaikatnya sungguh menenangkan jiwa, hukuman menjadi babu sehari seolah terlupakan, penat yang sedari tadi menjalari seluruh jiwa dan raganya mendadak lenyap tak bersisa. Kise mengedarkan pandangan seantero apartemen, takut-takut jika sang kapten memergokinya sedang bersantai. Merasa aman, Kise beranjak dari tempat duduknya, memandang kearah bocah yang kini sedang duduk sambil mengoyangkan kaki kecilnya yang menjuntai.
"Kurokocchi~" teriakan Kise mengema bersamaan dengan digendongnya tubuh mungil sang bocah yang kini diangkat tinggi-tinggi diudara sambil berputar beberapa kali.
"Kurokocchi imut –ssu, Kurokocchi sangat manis, aku belum mengucapkan selamat pagi padamu."
Surai baby-blue itu bergoyang searah dengan angin saat tubuh munggilnya diputar diudara, ekspresinya masih tetap datar, berbeda dengan pemuda yang memutarnya.
"Selamat pagi Kurokocchi~"
Chuu~
Kecupan hangat sang model diberikan pada sang bocah yang kini sudah terperangkap dalam pelukan hangat miliknya, mengabaikan sang bocah yang merintih karena pelukan yang menyesakkan.
"Kice-nii, aku tidak bica belnapas." ronta sang bocah sambil memelas, berharap segera terlepas dari tubuh remaja yang memeluknya.
Harum sampo aroma buah itu menyeruak mengoda hidung Kise, membuatnya betah berlama-lama memeluk bocah dengan tinggi tak lebih dari paha orang dewasa. Sambil mengesekkan kedua pipinya pada pipi tembam Kuroko, Kise kembali mendaratkan kecupan mautnya, berkali-kali, berulang-ulang tanpa lelah, tanpa bosan. Sehingga sebuah jitakan dikepala sang blonde menghentikan kegiatannya.
"Apa yang kau lakukan pada Tetsu?"
Suara berat itu menyelamatan sang bocah dari pelukan beruang sang blonde, tapi hanya sejenak karena kini tergantikan dengan siksaan yang lebih parah dari sebeumnya, pemuda tan itu turut memeluk sang bocah tak kalah eratnya dengan pelukan ala Kise.
"Cecak Aomine-nii." rintih Kuroko terabaikan karena kini kedua pemuda itu tengah berebut untuk saling memiliki sang bocah.
"Aominecchi... lepaskan Kurokocchi –ssu, aku belum selesai mengucapkan selamat pagi padanya." rengek Kise, sambil mengais-ngais Kuroko yang saat ini sedang digendong oleh Aomine.
"Selamat pagi, huh? Kau hanya membuat Tetsu sesak nafas." sunggut Aomine, masih berusaha menjauhkan Kuroko dari tangan Kise.
"Aku juga belum mengucapkan selamat pagi ya?" gumam Aomine, dan mulai mendaratkan kecupan ringan pada pipi kiri sang bocah. "Selamat pagi Tetsu."
"Celamat pagi Aomine-nii."
"Kau sudah mengucapkan selamat pagi, sekarang kembalikan Kurokocchi padaku –ssu." Teriakan kolosal Kise kembali mengema, jemarinya ikut menarik lengan Aomine, berharap segera melepaskan lengan kekarnya dari Kuroko, namun bukannya melepaskan, Aomine tetap kekeh mempertahankan jeratan lengannya pada tubuh bocah lima tahun itu.
Acara tarik menarik, rebut merebut itu terus berlanjut mengakibatkan kegaduhan yang tak terelakkan, sehingga dua kepala menyembul ikut bergabung dalam kegaduhan yang terjadi diruang tengah.
"Kenapa kalian ribut sekali, nanodayo?" Midorima yang baru kembali dari masa hukumannya, segera menengahi keributan yang ada, dan merebut Kuroko dari gendongan Aomine dengan mudah saat pemuda tan itu lengah.
"Akachin menyuruh kalian diam, kalau tidak dia akan menambahkan hukumannya." Murasakibara turut ambil suara dengan kepala yang sedikit menyembul dari pintu dapur.
"Apa yang kalian ributkan, nonodayo?" tanya Midorima setelah menurunkan kembali sang bocah yang tadi direbutnya dari gendongan Aomine.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi pada Kurokocchi –ssu, dan Aomine seenaknya mengambil Kurokocchi dariku." adu Kise sambil menampakkan muka memelas yang parah.
"Kau membuat Tetsu sesak nafas, makanya aku mengambil Tetsu darimu." kilah Aomine, tak mau kalah.
Dan adu mulut kembali terjadi diantara Kise dan Aomine, mengabaikan sosok bocah yang sedari tadi diperebutkan yang kini duduk dengan tenang diatas sofa. Hingga sesosok pemuda dengan surai zamrud mendekati sang bocah, menyibak surai baby-blue yang terjatuh di dahinya sejenak sebelum sebuah kecupan didaratkan diatasnya.
"Selamat pagi Kuroko, kecupan dari cancer adalah lucky item aquarius hari ini."
Kise dan Aomine berhenti berdebat, dan kini keduanya kompak berteriak kesal pada penganut oha-asa itu. Tak mau hanya menjadi penonton, Murasakibara turut ikut meramaikan suasana, lengan panjang itu segera merengkuh tubuh mungil yang masih duduk diatas sofa, membawanya dalam gendongan hangat dan ikut-ikutan memberikan selamat pagi plus sebuah kecupan pada dua kelopak mata yang tertutup ditambah dengan mengesekkan kedua hidung mereka.
Teriakan lebih membahana sekang, lebih keras daripada teriakan kolosal Kise. Tiga pemuda itu sudah tersulut emosi dan cemburu dengan tingkah raksasa ungu didepannya. Tubuh Kuroko kini kembali menjadi korban, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dari dekapan satu ke dekapan yang lain. Dan teriak-teriakan iri dan marah bergaung seantero apartemen, menengelamkan suara lirih sang bocah yang ingin terlepas dari siksa pelukan ini.
"Apa yang kalian ributkan." baritone itu akhirnya memecah kegaduhan yang ada, intimidasi yang menguar membuat empat remaja yang saling berebut kini terdiam, tak ada satu pun yang bisa mengucapkan sebuah kata, aura hitam menyelimuti udara membuat suasana semakin mencekam.
Kuroko segera melompat turun dari dekapan Murasakibara saat semua pemuda dengan surai warna-warni itu lengah dan kaki-kaki mungilnya langsung melangkah menuju sosok merah yang berdiri diambang pintu dapur.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Akashi begitu bocah kecil itu sudah sampai didekatnya.
"Hanya mengucapkan celamat pagi dan mencium Tetcuya." Jawab Kuroko dengan polosnya.
Aura hitam Akashi menguar semakin gelap, manik heterochomenya menghujam empat pemuda yang berdiri tak jauh dari sana, dan sebuah seringai melengkapi sisi gelap sang kapten.
Dengan sekali hentak, tubuh Kuroko sudah dalam naungan gendongan sang kapten. Membuat sang bocah mengeratkan salah satu lenganya pada leher pemuda yang mengendongnya.
"Ryota, Daiki, Atsushi, dan Shintarou,"
Satu tatapan tajam sebelum kalimat dilanjutkan membuat empat pemuda yang mematung menahan napas saking gugupnya, takut mendengar titah yang akan sang kapten gaungkan.
"Jangan ganggu kami,"
Singkat, padat, absolut dan penuh ancaman adalah nada yang didengar empat pemuda lainnya, dan diam adalah sikap yang mereka ambil, dari pada membuat kapten otoriter mereka bertambah marah.
"Jangan ada yang berani menginjakkan kaki ke dapur sebelum kami selesai, jika kalian masih ingin berjalan pulang dengan kaki yang lengkap." imbuhnya.
Menyadari bahwa kini teman-temannya sudah bisa diam, Akashi segera berbalik dan beranjak menuju dapur dibelakangnya.
"Kita mau kemana Akachi-nii?" tanya Kuroko heran, melihat sang pemuda yang tak pernah berniat menurunkan tubuhnya.
"Kita akan sarapan Tetsuya."
Mendengar kata kita terucap dari bibir Akashi, Kuroko dapat menduga pasti Akashi tidak akan membiarkannya menyentuh makanannya sendiri, atau memberikan porsi yang lebih dari porsi makan biasanya. Singkat kata, ada hal yang tidak akan menyenangkan terjadi.
"Tetcuya makan cendili ya." mohon Kuroko
Alis Akashi bertaut, emosinya sudah benar-benar teruji dari pagi dan kenapa bocah kecil satu ini juga ingin ikut-ikutan membantah perintahnya.
"Tidak."
Satu kata itu sukses membuat Kuroko merengut dan mengembungkan pipi tembamnya.
"Tetcuya cudah becal Akachi-nii."
Akashi bersumpah sangat ingin melahap wajah imut yang terpatri pada ekspresi manis sang bocah, hanya saja dia harus bersabar melakukannya. Otak kriminal Akashi mulai bekerja, dia ingin membuat empat pemuda yang kini terjejer diambang pintu dapur memandang iri ke arahnya.
"Baiklah. Kau boleh makan sendiri."
"Hole~" Kuroko berteriak saking senangnya, hingga dia tidak sadar sebuah seringai diberikan sang kapten padanya.
OoO
Satu menit...
Dua menit...
Kuroko hanya memandang menu sarapannya dengan perasaan gamang, bibirnya kembali mengerucut dan pipinya lagi-lagi mengembung.
"Kenapa Tetsuya? Tidak lapar?" baritone itu bertanya dengan nada sinis yang kentara.
Azure itu mendelik mendengar tanya pemuda yang duduk berhadapan denganya, bibirnya mengerucut makin panjang.
Satu detik...
Kuroko menatap Akashi.
Dua detik...
Kembali menatap piring penuh berisi pancake dengan madu sebagai toping diatasnya.
Tiga detik...
Azure kembali menatap heterochome, mencoba meminta penjelasan.
Empat detik...
Kuroko menatap marah pada peralatan yang tersaji disamping piring, sebuah pisau dan garpu menjadi pelengkap sarapannya.
"Akashicchi kejam –ssu, mana mungkin Kurokocchi yang masih lima tahun dapat mengunakan pisau dan garpu." Kise sudah tidak tahan dengan pemandangan yang tersaji, dia sudah tidak peduli jika Akashi akan menghukumnya kembali. Kise ingin sekali melangkahkan kaki ke dalam dapur, namun sayang gerakannya harus terhenti saat Aomine dan Midorima menarik kedua lengannya.
"Lepaskan aku –ssu, aku ingin membantu Kurokocchi."
Semakin keras Kise meronta, semakin keras juga kedua rekannya mengapit lengannya agar tidak memaksa masuk dapur, tiga pemuda yang lain juga merasakan kekesalan yang sama seperti Kise. Tapi mengingat ancaman sang kapten membuat mereka kembali berpifir secera logis. Bagaimanapun nyawa tetap lebih utama kan?
"Diam Ryota, atau kau ingin aku memotong lidahmu agar kau berhenti berisik."
Kise bergidik ngeri mendengar nada dingin yang mengalun pada kalimat sang kapten, masih sayang nyawa, Kise akhirnya hanya mengigit ujung kaosnya untuk meredam teriakan dan caciannya.
"Kenapa Tetsuya? Bukannya kau yang meminta ingin makan sendiri?"
Izinkan Kuroko melempar pisau atau garpu dihadapannya pada wajah penuh seringai dihadapannya. Namun sayang, Kuroko terlalu sayang jika harus melukai wajah penuh pesona itu.
"Jika kau menyerah, kau hanya perlu memohon padaku Tetsuya."
Alis Kuroko mulai berkedut samar, manik azurenya membulat sempurna. Dengan sentakan keras, jemari mungilnya mulai mengambil pisau dan garpu dihadapannya. tidak mendapat asupan makanan dari semalam, membuat Kuroko ingin segera menyantap sarapannya yang kelihatan menggoda.
Tek.. tek...
Bunyi pisau dan garpu yang beradu dengan piring memenuhi dapur yang sunyi tanpa suara rengekan Kise atau ancaman Akashi. Semua pemuda yang ada hanya diam mengamati bagaimana sang bocah mencoba menotong pancake dan menyuapkannya pada mulut munggilnya. Peluh mulai bergulir melewati pelipis, karena tubuh yang mungil membuat Kuroko harus bertumbu pada lututnya agar tidak tenggelam di meja makan, ditambah dengan jemari mungilnya yang tak cukup mengengam pisau, membuat tenaganya hampir terkuras hanya karena acara sarapan.
Pada menit berikutnya, helaan napas lega diambil bersamaan. Para pemuda yang mengamati kegiatan Kuroko sejak tadi kelihatan lega melihat jerih payah sang bocah membuahkan hasil sedangkan Kuroko tersenyum cerah karena berhasil memotong pancakenya walaupun dengan potongan yang cukup besar.
Tanpa buang waktu segera Kuroko menyuapkan potongan besar pancake ke arah bibir ranumnya, memberikan gigitan besar dan mengunyahnya dengan kasar. Cengiran terhias pada bibirnya yang penuh, azurenya kembali menatap heterochome dengan bangga.
Namun rasa bangga itu harus segera berakhir, karena gigitan Kuroko pada pancakenya membuat berat pancake tidak seimbang sehingga beberapa bagian yang masih tertancap pada garpu harus pasrah pada grafitasi bumi.
Manik azure itu hampir berkaca-kaca, jerih payahnya terjun bebas ke arah bumi, membayangkan harus kembali berpeluh demi sebuah potongan pancake mambuatnya sedih. Kesedihan juga terpancar pada penonton diambang pintu dapur.
"Jika kau menyerah, kau hanya perlu memohon padaku Tetsuya."
Kalimat sang kapten kembali terngiang, untuk ukuran seorang bocah, Kuroko nampaknya memiliki harga tinggi yang terlampau tinggi. Terlalu enggan jika harus memohon pada merah yang sedari tadi menghujam dengan heterochomenya.
"Tetsuya... aku tak punya waktu seharian hanya untuk menemanimu di maja makan."
Kuroko kembali merengut sebal, manik-manik azure itu berkaca-kaca, haruskah dia menyerah? Haruskah dia memohon hanya untuk sesuap sarapan. Diliriknya dengan ekor mata melihat merah yang sedang duduk sambil sesekali menyesap teh yang terhidang di depannya.
Sebuah seringai terpampang jelas disana, membuat Kuroko menghela napas, sebelum bibir mungil itu memburai sebuah kata singkat.
"Akachi-nii... tolong."
Seringai makin lebar tersungging pada wajah menawan yang kapten, wajah imut Kuroko yang memelas sungguh membuatnya ingin segera menyerang mahluk mungil tak jauh darinya itu.
"Tolong apa Tetsuya?"
Dengusan kecil dilakukan Kuroko, lelah dengan sikap sang kapten yang selalu mencoba menyiksanya.
"Tolong bantu Tetcuya calapan Akachi-nii."
"Jangan pernah menarik kata-kata yang sudah kau ucapkan, Tetsuya."
"Unn." anggukan polos itu sebagai jawaban, tanpa si bocah ketahui bahwa konteks kata tolong dalam dua kepala merah dan baby-blue itu memiliki arti yang jauh berbeda.
OoO
"Akachi-nii..."
"Hmm..."
"Ano~ Tetcuya ingin duduk cendili."
"Tidak ada tempat duduk untuk balita disini Tetsuya, jadi lebih baik duduk diam disana."
Bibir mungil itu kembali cemberut, tolong dalam pengertian Kuroko adalah tolong potong pancakenya menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga dia lebih mudah melahapnya. Sedangkan tolong dalam artian Akashi adalah membawa bocah mungil itu dalam pangkuannya, mengapit tubuh dengan kedua lengan yang sedang sibuk memotong pancake diatas meja, dengan sebuah hembusan nafas yang menyapu leher pucat Kuroko sebagai bonusnya.
Lengan kiri Akashi terjulur memeluk pinggang kecil itu, membawa Kuroko duduk pada salah satu pahanya. Dan decak kesal terdengar saat manik heterochomenya melihat sisa madu yang belepotan sekitar bibir Kuroko.
"Kita harus membersihkan dulu sisa madu disekitar bibirmu sebelum kita melanjutkan makanmu."
Azure itu membulat, ditambah tubuhnya ikut menegang sedangkan bulu romanya meremang saat hangat lidah Akashi dengan teliti menghapus setiap sisa madu yang menempel pada sisi bibirnya.
"HUAAAA~ Akashicchi, lepaskan Kurokocchi –ssu." teriakan Kise kembali membahana, ujung kaosnya sudah tak berbentuk lagi akibat gigitan yang sedari tadi dilakukannya sambil mengamati setiap adegan yang dilakoni seorang remaja pedofil pada mangsanya.
Aomine yang juga memanas, menyalurkan emosinya dengan menjambak surai pirang sang model, keluh sakit dari Kise tak dihiraukannya, yang Aomine inginkan hanya menyalurkan murkanya daripada dia harus kehilangan nyawa karena menumpahkan kekesalannya pada barang-barang sang pemilik apatemen.
Beda Aomine beda Midorima, pemuda dengan surai zamrud itu meremas habis boneka beruang yang menjadi lucky itemnya, membuat busa isi boneka miliknya terburai kemana-mana.
Dan apa yang terjadi pada si raksasa ungu, tak ubahnya dengan tiga teman yang lain, Murasakibara turut geram hanya karena menyaksikan adegan paling ambigu yang tersaji, saking geramnya Murasakibara tidak sadar kini dia mengunyah bungkus maibo yang sudah habis sejak tadi.
Bukan tanpa sengaja Akashi melakukannya, dia malah sudah merencanakan sejak tadi. Bahkan rekasi teman-temannya juga sudah diprediksinya, itulah hukuman yang sebenarnya, hukuman menjadi pembantu hanya pra-hukuman saja. Meluluh lantakan perasaan sekumpulan remaja dengan bermain-main bersama pusat dunia mereka adalah inti dari hukuman yang ingin dia berikan. Kejam? Tentu saja, tapi memang itulah pesona miliknya.
Selesai dengan bersih-bersihnya, dengan sengaja Akashi menyapukan bibir merahnya pada bibir mungil Kuroko, membuat semburat merah meradang pada wajah pucat sang bocah.
"Lebih manis dari sekedar madu, lebih memabukkan dari sekedar candu." gumaman ambigu itu cukup keras untuk terdengar teman-temannya yang sedari tadi hanya berdiri diambang pintu, Kise sudah lemas hampir pingsan melihat Kurokocchinya, Aomine makin geram sehingga makin keras menjambak mahkota indah Kise, kacamata Midorima retak, dan Murasakibara saking kesalnya sudah mengigit dinding didekatnya. Dan si korban, hanya tertunduk malu dengan rona merah yang makin melebar keseluruh permukaan wajahnya. ini adalah acara sarapan paling panjang selama dia ingat.
"Buka mulutmu Tetsuya," Akashi menyentuh dagu sang bocah agar Kuroko berhenti menyembunyikan diri, sebuah garpu lengkap dengan potongan pancake siap ditangan kanannya. "atau kau ingin suapan secara langsung?" kedipan mata itu menutup kalimat tanyanya, membuat Kuroko segera memasukan pancake yang disodorkan dengan sedikit beringas dilanjutkan dengan memalingkan wajah, menyembunyikan wajah malu dari sang kapten.
Dahi Kuroko mengkerut saat melihat teman-temannya sudah terkapar diambang pintu dapur dengan berbagai posisi, dan berbagai ekspresi marah, geram, dan kesal.
"Apa yang terjadi pada meleka nii-chan?"
Gidikan bahu diberikan Akashi, "Biarkan saja mereka, kita lanjutkan saja sarapan kita."
.
.
.
.
.
TBC
A/N :
Maaf ('/\') salah saia jika pada chapter ini misteri belum terkuak, salahkan saia jika masih terdapat typo yang tersebar, alur cerita yang membosankan atau ada kata-kata yang tidak EYD. Tapi jangan salahkan saia jika telat update telat, karena yang patut disalahkan adalah salah satu profaider yang tiba-tiba menghapus program gratisan internet yang selama ini saia anut. TT^TT
Untuk chapter ini mungkin memang belum masuk konflik, padahal pengen cepet-cepet masuk konflik biar cepet end, tapi ide tentang sarapan tiba-tiba muncul sehingga mengeser konflik pada chepter selanjutnya. *pundung dipojokan*
Nee~ semoga para reader menikmati alur cerita yang saia bawa, jangan segan-segan memberikan kritik dan saran, saia akan selapang dada mungkin menerima semua kritik dan saran yang masuk. #plak
Nee~ waktunya balas review...
[Kagakuro lovers]
Hey... Kagakuro-san~ terimakasih sudah review lagi. *terbar kissu*
Setuju pake banget! Kuroko memang ultimate uke _ dia memang pantas diharem, sangat pantas. Tapi masalahnya adalah kemampuanku yang masih abal, jadi kadang sulit bikin haren-harem gitu, masih susah kalau bikin yang rame-rame. ('/\') #plak *dasar Author ngga guna*
Kalau ditanya aku suka AkaKuro, jawabannya tentu "IYA..." tapi aku juga suka pairing KagaKuro, atau AoKuro. Pokoknya yang ada Kuroko deh. XD
Jika berkenan silahkan review lagi... ^^
[shizuo miyuki]
Hai... ini sudah dilanjut Miyuki-san, walaupun tidak cepat seperti yang diharapkan. Iya nanti pasti dibahas ko kenapa Kuroko mendadak menjadi kuntet #plak harap bersabar saja menunggu kelanjutannya, karena saia yang sedang ababil.
Terimakasih sudah review Miyuki-san, silahkan review lagi jika berkenan... ^^
[Ruki]
AAA~ Kuroko memang imut, AAA~ Akashi memang pedo, AAA~ ini AkaKuro lagi... *ikut jejeritan* AkaKuro tak akan lekang oleh waktu. XD
Terimakasih sudah review Ruki-san, silahkan review lagi jika berkenan... ^^
Akhir kata...
Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian
Silahkan klik Review... _
