Sakura berjalan sendirian dilorong sekolah saat pagi menyapa. Terpaan angin mengenai wajahnya yang kedinginan karena cuaca pagi ini begitu mendung. Kemarin, entah untuk yang berapa kalinya Sakura melihat kejadian kematian tepat dimatanya sendiri. Rasanya begitu menyiksa sampai-sampai hanya ada kesesakan di dadanya, melihat kematian dan merasakan kehadiran sosok mahluk halus yang diluar nalar manusia saja sudah begitu menyiksanya. Ditambah bullyan dan kesendirian yang selama ini melingkupinya. Adilkah ini semua baginya?
Sakura duduk termenung dibawah pohon mapple yang mana daunya berguguran, untuk beberapa saat Sakura bisa melihat sosok mahluk astral penghuni sekolah berambut pirang yang tersenyum melihatnya dari kejauhan. Sosok arwah itu berambut pirang dengan manik mata berwarna ungu dengan dress putih yang telah lusuh. Sakura tercenung, seakan baru kali ini ada yang tersenyum padanya, Sosok arwah pula.
"Sakura!"
Sakura menoleh, seorang pemuda berambut merah berwajah baby face sambil berlari datang menghampirinya.
"senpai"
Sasori tersenyum manakala dia sudah ada dihadapan Sakura. Masih mengatur ritme nafas Sasori duduk dipinggir Sakura.
"terimakasih"
"?"
"terima kasih sudah memperingatkanku kemarin untuk tidak lewat jalan bonsai"
Sakura tersenyum sekilas, kemudian dia menundukan arah tatapan matanya. Pasti setelah ini Sakura akan dikatai sebagai gadis aneh, penyihir, pembawa sial persis seperti yang telah dikatakan oleh teman-temanya.
"Sakura-chan?"
Sakura masih menunduk, menerka-nerka kejadian yang entah sudah berapa kalinya dia alami. Sakura mengacuhkan kehadiran Sasori
"Sakura-chan kau tak apa?"
"uhm eh.. iya senpai kau bicara apa tadi?"
Fikiran Sakura sedang tidak ada ditempatnya, sementara Sasori mengernyit mendapati Sakura yang tak menyahut panggilanya
"terima kasih sudah memperingatkanku sebelumnya"
"hmm"
Sakura hanya menjawab dengan gumamanya saja. Dia mencengkram rok seragamnya. Sementara dibalik jendela kelas, tak jauh dari situ seorang pria pirang memperhatikan Sakura dari kejauhan.
"sial!"
Dia mengumpat, marah. Mengetahui Sakura dekat dengan kakak kelasnya.
"apa nanti siang kau ada acara?"
"sepertinya tidak"
"bagaimana kalau kau jalan bersamaku?"
Sasori mengajaknya jalan? Sakura berfikir, sejenak dia ragu untuk menerima tawaran Sasori. Apa itu tidak salah, mengingat Sakura hanyalah seorang murid yang kesulitan bersosialisasi
"akan ku fikirkan nanti"
Sakurapun meninggalkan Sasori yang masih duduk ditaman. Sakura memasuki kelas dan saat itu tangan kekar mencekal pergelangan tanganya.
"Sakura"
Naruto menatap lamat Sakura, dengan tatapan yang sulit diartikan
"lepaskan tanganmu. Kau menyakitiku Naruto"
"kita perlu bicara"
"aku rasa tak ada yang perlu dibicarakan, aku harap kau mengerti. Menjauhlah dariku"
"Sakura-chan"
Naruto mendecak merasa frustasi dengan sikap dingin Sakura yang seolah selalu menjauhinya. Bahkan untuk berbicarapun rasanya sulit sekali, Sakura tak menghiraukan Naruto. Cukup sudah! Hanya karena Naruto menolong dan mengantarkanya pulang Sakura harus menerima siksaan dari para senpainya. Sakura tidak ingin insiden itu terulang kembali, Sakura hanya bisa diam. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekedar berceritapun Sakura tak bisa. Dia kesulitan, dia merasa sendirian. Sudah cukup bullyan teman-teman Sakura yang tujukan kepadaya. Dia tidak ingin itu terulang lagi, maka Sakura selalu menghindari Naruto, menjauhi Naruto. Sedangkan yang diajuhinya sendiri berusaha keras agar bisa kembali dekat dengan Sakura. Tak peduli tatapan sinis dan teriakan gila fans-fans fanatiknya yang sudah kelewat batas.
.
.
.
Caffe yang ada di pinggir jalan itu sedikit lengang, Sakura dengan sedikit enggan hanya mengaduk-aduk cappuchino latte yang sudah dia pesan.
"maafkan aku, apa kau merasa bosan?"
"ah, sama sekali tidak senpai. Hanya saja aku tak pernah ketempat seperti ini sebelumnya"
Sakura merasa sedikit canggung, sudah sejak lama dia tak pernah keluar rumah atau untuk sekedar makan di caffe seperti yang saat ini dia lakukan bersama Sasori. Sakura mengurung dirinya dirumah, menutup dirinya dari dunia luar.
Sasori hanya mengangguk, mendapati jawaban dari Sakura. Hazelnya menatap pemilik emerald Sakura yang tengah memandangi minumanya. Sasori bangkit dari tempat duduknya, dan menuju tempat band yang ada didalam caffe, Sasori menaiki panggung dan sedang berbisik kesalah seorang personil yang ada diatas panggung, personil itu mengangguk mengerti. Kemudian setelah lagu yang dibawakan band itu usai, Sasori maju dan meraih microfont. Sasori mengecek sebentar apakah microfont itu jalan atau tidak, lalu dia berbicara.
"selamat malam semua"
Semua arah mata tertuju pada Sasori, termasuk Sakura yang melihat Sasori
"musik spesial ini aku persembahkan untuk seseorang yang tengah duduk disana"
Sasori menunjuk Sakura, Sakurapun merasa canggung mana kala pengunjung caffe yang tidak terlalu banyak itu melihat Sakura. Sasori tersenyum, kemudian dia mengeluarkan sesuatu yang menjadi perhatian. Sebuah biola jenis hofner, Sasori meraih penggesek dan meletakan biola dipundak kirinya. Lalu diapun mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang Sakura kenal lagu dari Michi to you all mengalun merdu dari biola yang sedang dimainkan Sasori. Sakurapun terhanyut, ikut terbawa suasana akan lagu yang dihasilkan oleh biola. Sakura sama sekali tidak menyangka, Sasori yang notabenenya sebagai kapten team basket KHS ternyata pandai memainkan sebuah biola. Maka saat Sasori selesai memainkan lagu dengan biolanya tepuk tangan riuh memenuhi caffe. Sasori membungkukan badanya sebagai ungkapan terimakasih, Sakura tersenyum Sasori meletakan kembali biolanya turun dari panggung dan menuju tempat duduknya.
"apa kau suka?"
"bagaimana bisa kau memainkan biola?. Permainan yang indah!"
Sasori tersenyum puas, Sakura merasa terhibur dengan permainan dari biola yang Sasori mainkan.
"bagus kalau kau menyukainya"
Jawab Sasori santai sambil meminum minumanya 'dan lagu ini yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang mirip denganmu' lanjutnya dalam hati.
.
.
.
"apa yang akan kau lakukan?"
"entah.. penyamaranku terasa sia-sia"
Naruto hanya menjawab lesu atas pertanyaan yang dilontarkan malaikat Nagato. Tempat berlatarkan langit malam, galaxy bertaburan bintang. Bagai ruang kosong hampa pembatas terasa suram bagi Naruto. Dia merasa telah salah mengambil langkah, terlebih dia telah berbuat gegabah dengan menyamar sebagai manusia.
"apa Sakura pernah curiga tentangmu?"
"pada awalnya dia memang curiga, tapi apa yang aku lakukan. Apa yang aku usahakan, seolah semakin jauh jarak diantaraku denganya. Mahluk tanah sialan itu terus saja mendekatiku. Mereka gila!"
"maksudmu para gadis itu eh?, kau memang telah salah mengambil langkah Naruto"
"aku kemari untuk meminta saran"
Naruto menatap Nagato yang duduk kemudian mengepakan sayapnya dan menghampirinya.
"kali ini aku tak bisa membantu"
".."
"selesaikanlah apa yang telah kau mulai Naruto. Dan ingat, jangan pernah kau ulangi untuk menggunakan kekuatanmu didunia manusia"
"aku mengerti"
Nagato bangkit dar tempat duduknya, dengan sekali kepakan sayap dia menghampiri Naruto dan menyentuh kuat kedua pundak Naruto tetapi tidak menyakitinya. Nagato langsung menatap lamat kearah irish blue azure Naruto.
"sekarang kembalilah.. pertanggung jawabkan akan hal yang telah kau mulai sebelumnya"
.
.
.
Sakura merasa telah mendapatkan sedikit kebahagiaan kehidupanya yang terasa begitu kelam. Sejak insiden Sasori tanpa sengaja melemparkan bola basket dan membuat Sakura berdarah, sejak Sasori dengan suka rela memberikan pakaian gantinya pada Sakura kehidupan Sakura mulai terasa berubah. Hatinya terasa hangat memikirkan kedekatanya dengan senpainya tersebut. Sakura perlahan mulai memejamkan matanya, terlelap dalam remang cahaya bulan yang menyusup masuk dibalik jendela kamarnya.
.
.
"Sasori.."
"..."
"Sasori-kun.."
"kau disini anata?"
"aku disini Sasori-kun"
Tangan hangat itu memeluk Sasori dari belakang merasakan desiran sebuah perasaan dikamar temaram dengan cahaya lilin yang mengelilinginya.
.
.
.
"apa ini tidak salah?, si gadis aneh itu dekat dengan Sasori senpai?"
"hah setelah gagal dekat dengan Naruto-kun dia berani mendekati senpai ketua team basket KHS"
Celetukan ketidaksukaan teman-temanya terhadap Sakura seolah bukan hal yang biasa baginya, namun kali ini lain ceritanya karena Sakura dekat dengan kakak kelasnya. Gosip itu cepat menyebar, gosip Sakura dekat Sasori Akasuna telah banyak diketahui hampir seluruh siswa KHS. Sakura menunduk, mengetahui bahwa banyak pandangaan yang mengintimidasinya.
"gadis aneh!"
Ingin rasanya Sakura segera kabur atau pulang saja kerumahnya bila dia tidak ingat dia adalah salah satu murid di KHS. tatapan-tatapan mengintimidasi itu terus saja mengikutinya, mengekor kearahnya, belum lagi cibiran untuknya.
"ikut denganku"
Tangan Sakura digenggam erat oleh seorang pemuda. Sakura seolah dibwa kabur dan pergi dari koridor sekolah tempat dia merasa dikucilkan dan kini Sakura berada ditaman, Sakura seolah terhipnotis dan mengikuti saja ajakan seseorang yang mengajaknya
"kenapa kau membawaku kemari?"
Kini mereka saling bertatapan. Naruto membalikan badanya yang semula membelakangi Sakura, gerakanya lambat. Bahkan untuk sesaat Sakura seolah terkesima dengan gerakan Naruto yang tampak begitu elegant. Dan seakan bersinar dihadapan matanya.
"kenapa? Bukankah sudah jelas. Bahwa banyak siswa disini yang tak menyukaimu?"
"tau apa kau tentangku sampai mengatakan itu padaku?"
"Sakura-chan"
Naruto kini mendekat dan memegang kedua bahu Sakura. Seolah mengunci gerakan Sakura untuk menghindarinya, memaksanya untuk menatap lamat saphire blue miliknya. Sakura seolah tak nyaman dengan posisinya yang dikungkung oleh Naruto, Sakura mencoba berkelit. Tapi apa dayanya, Sakura hanyalah seorang gadis. Tak sanggup untuk melawan pemuda dihadapanya.
Dengan gerakan cepat Naruto langsung mendekap Sakura kedalam pelukanya. Menenggelamkan tubuh kecil Sakura dalam dada bidangnya.
"apa yang kau lakukan!"
Sakura seolah bergidik ngeri dengan gerakan cepat Naruto yang memeluk Sakura secara tiba-tiba. Dia merasa panik, tapi Sakura tak bisa melepaskan pelukan erat Naruto. Sakura mencoba memukul Naruto, sia-sia Naruto terus memeluknya, bahkan meredam gerakan Sakura yang memberontaknya.
"lepaskan!"
"Sakura-chan"
Lagi, Naruto memanggil lirih Sakura masih dengan posisi memeluknya.
"aku berjanji akan membuatmu lepas dari penderitaan"
"!"
"aku berjanji tak akan membiarkanmu menderita lagi lebih dari ini"
Apa maksud dari perkataan Naruto? Naruto seakan mengetahui apa yang dialami oleh Sakura. Sakurapun berhenti dari rontaanya, merasakan hangat pelukan Naruto. Sakura terdiam, seolah ada pertanyaan yang muncul dibenaknya.
"a..a-pa maksudmu?"
"berjanjilah"
"?"
"berjanjilah untuk tidak menjauhiku lagi Saku-chan"
Sakura masih tidak mengerti maksud dari Naruto, maksud dari sikap Naruto. Tapi dia terdiam kini dalam pelukan Naruto dan dengan pertanyaan yang menggelayuti dihatinya. Benarkah ini?.
Desiran angin menggeraikan rambut pink Sakura, Naruto memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya dipundak Sakura. Mencium aroma cherry dipundak Sakura, sementara Sakura yang masih bingung kini hanya terdiam dalam dekapan Naruto. Menatap sayu Naruto yang terpejam menutup matanya.
.
.
.
TBC
