Minami.
Xi Luhan – Kim Minseok
others
PG17
Don't Like Don't Read. I told you.
Boys Love.
Storyline: kpowpers - Dale
Summary:
Luhan selalu berfikir bermain dengan Xiumin adalah hal yang menarik. Ia juga tidak segan-segan mengajak fans bahkan keluarganya untuk ikut bermain didalamnya, "apa kau sudah gila?!"
.
.
Minami
.
.
Xiumin menghempaskan badannya pada ranjangnya, "Dasar rusa gila! Mati saja sana!" Umpat Xiumin. Dia terkejut bukan main saat melihat panggilan Luhan yang mencapai angka 95—sembilan puluh lima dalam waktu kurang dari 7 menit. "Apa 'sih yang dia pikirkan? Aku tahu otak Luhan sudah lebih buruk dari apa yang kupikirkan. Dia pasti sudah gila. Aku tidak akan mengangkat panggilannya lagi! Tidak akan!" Xiumin membanting ponselnya ke meja nakas.
Salju diluar mengalihkan perhatiannya. Sekarang sudah larut malam dan dia berencana tidur. Xiumin mulai berbaring, tidak lupa menghidupkan penghangat ruangan agar tidak merasa terlalu dingin.
Mata Xiumin sudah lama terpejam tapi dia sama sekali tidak tertidur, dia resah dan kembali duduk. Perasaannya tidak nyaman, "sialan!" Dia mengambil ponselnya dinakas, Luhan tidak menghubunginya lagi.
Tangan Xiumin bergerak cepat mengetik pesan pada Luhan.
Luhan, apa kau sudah tidur?
Tapi tidak ada balasan. Xiumin membenamkan wajahnya pada bantal dipelukannya, menjerit redam disana.
Xiumin bangkit dan berjalan kearah jendela. Tangannya yang bersedekap mengelus lengannya sendiri, "dingin sekali" katanya.
Jalanan Seoul mulai sepi dan Luhan belum mengabarinya. Apa benar dia sudah tidur?
Xiumin menggelengkan kepalanya, "aku tidak yakin" Xiumin menumpu kepalanya pada Jendela. Matanya bergerak gelisah memandangi jalanan Seoul dibawah sana.
DDRT DDRT
Xiumin cepat-cepat berdiri tegak dan melirik ponselnya yang berkedip. Dia berlari dengan cepat sampai nyaris tersandung, "yaish!"
Nama Luhan tertera disana dan tanpa menunggu lama Xiumin menggeser layar dengan cepat, "Luhan?!" Xiumin berteriak khawatir
"B—Buka,"
Apa yang terjadi?
Suara Luhan tampak menggigil, Xiumin sudah nyaris menjatuhkan air matanya, "L—Luhan, ada apa? Kau dimana?"
"B—Buka"
Panggilan terputus...
.
.
Minami
.
.
Xiumin merasakan tangannya yang terasa kebas dan tidak merasakan jika dia sudah menjatuhkan ponselnya. "L—Lu.." Xiumin kesulitan bicara. Badannya mematung seperti robot saat kakinya berjalan mengikuti instingnya, berjalan menuju pintu dorm. Badannya ikut kesulitan bergerak saat mendengar suara Luhan yang seperti mengejang kedinginan. Pikirannya berkecamuk luar biasa, dan Xiumin merasakan dadanya seperti tertimpa batu besar, membuatnya sulit bernafas.
Satu detik setelah Xiumin membuka pintu. dia disambut dengan tubuh Luhan yang menimpanya. Suhu badannya dingin sekali, Luhan bahkan hanya menggunakan sandal rumah. Xiumin menangis keras, memeluk Luhan, "Hiks—Luhan. Apa yang terjadi?" racau Xiumin. Tangannya bergetar ketakutan menyentuh Luhan. Bibir pemuda itu bahkan sudah memutih.
Tidak ada seorang pun yang menolongnya, ini tengah malam dan para member sudah terlelap. Hanya tersisa dirinya dan Luhan yang terjebak dalam drama ditengah keheningan dan dinginnya cuaca. Xiumin susah payah mengangkat tubuh Luhan untuk bangun—langkahnya sampai terseok-seok.
Luhan menggenggam tangan Xiumin yang merangkulnya. "Dingin..A—ak" Luhan mencoba berbicara. Pria itu sudah tidak bisa merasakan apapun lagi selain kehangatan tubuh Xiumin lewat genggaman tangannya. Luhan sudah menggigil kedinginan.
Tanpa berpikir lagi, cepat-cepat Xiumin membawa tubuh Luhan untuk masuk meski dengan menopang tubuh pria itu. Xiumin sedikit kesulitan jika harus menggendong Luhan—Xiumin masih merasakan ngilu pada bokongnya.
Luhan terengah-engah mencari oksigen melalui mulutnya.
Xiumin yang sudah membaringkan Luhan diranjang buru-buru menambah suhu penghangat ruangan. Luhan masih tetap menggigil, Xiumin menangis terseguk sampai badannya bergetar. Dia melepas bajunya dengan segera, begitu juga baju Luhan yang ternyata sudah basah akibat salju—Xi Luhan bodoh yang kemari hanya dengan sweater yang menutupi tubuhnya. Apa dia berfikir dia rusa sungguhan? Baik. Tolong Ingatkan pada Xiumin untuk menendang Luhan nanti.
Xiumin membawa tubuhnya ikut berbaring disebelah Luhan dan memeluknya erat. Luhan membalasnya meski tangannya terasa kaku. Xiumin memeluk Luhan sampai dia sendiri merasakan dinginnya tubuh Luhan. Satu-satunya pikiran yang menyumpal otaknya adalah membuat Luhan hangat apapun caranya.
"Hiks—Lulu"
Luhan tersenyum kecil mendengar Xiumin yang terus menangis dengan menyebut namanya, dia sudah bisa merasakan hangat yang menjalari tubuhnya lewat sentuhan tubuh Xiumin yang memeluknya begitu erat. Tangannya bahkan sudah mengelus surai Xiumin, "jangan menangis."
"Tidak mau. Aku sangat mencemaskanmu—sebenarnya apa yang ada dipikiranmu? Aku benar-benar membencimu" suara tangis Xiumin mengeras.
Pria manis itu sudah kalut luar biasa saat melihat Luhan. Yang hanya dia tahu adalah membuat Luhan hangat, hangat, dan hangat. Luhan masih ingat betul apa alasan tubuh polosnya sekarang—meski niat Xiumin hanya untuk menghangatkan Luhan.
Melihat Luhan yang nyaris mati adalah mimpi buruk bagi Xiumin. Jantungnya seperti diremas saat Luhan menyuruhnya berhenti menangis. Setengah mati Xiumin ketakutan, nyawanya seperti dicabut paksa. Belum lagi wajah pucat Luhan yang begitu lemah.
Mata Luhan melirik seluruh sudut kamar Xiumin. Menelusuri setiap jengkal isi kamar Xiumin tanpa terkecuali.
Alisnya mengernyit saat tidak menemukan sesuatu yang patut dicurigai. Luhan pikir Xiumin benar-benar melakukan Threesome dengan Baekhyun dan Chanyeol. Ranjang Xiumin masih tampak rapi—tidak berantakan seperti selesai bercinta.
Bantal bulu itu masih tersusun rapi, sprainya juga terpasang dengan benar. Tidak ada bekas kusut disana-sini.
Luhan bernafas lega, setidaknya tidak ada satupun yang berani menyentuh Xiumin meski Luhan tidak disampingnya.
Tapi Luhan berani bersumpah dia mendengar lenguhan Baekhyun!
Luhan rasanya ingin membenturkan kepalanya yang terus saja memutar suara lenguhan Baekhyun sampai membuatnya ragu dengan kenyataan. Kamarnya bahkan masih tertata rapi. Oh, bisa saja mereka melakukannya di kamar mandi 'kan? Ya... Bisa jadi
Luhan mengeram. Rasa penasaran memenuhi otaknya. Kakinya terasa gatal ingin berlari ke kamar mandi disudut kamar. Tapi suara Xiumin yang terus saja menangis membuat Luhan mengurungkan niatnya. tapi percayalah, tidak seorang pun bisa menghentikan rasa geram Luhan untuk segera mengecek berbagai sudut kamar Xiumin sampai ke kamar mandi sekalipun.
Dia memang tidak sempat melihat cara berjalan Xiumin karena memang dia sudah tidak bisa berfikir barang sedikitpun. Tubuhnya sudah mati rasa—lain halnya dengan sekarang, suhu tubuhnya sudah kembali normal dan pikiran tentang bercinta kembali memenuhi otaknya setelah keinginan untuk hidup lebih menghantuinya saat ia nyaris mati.
"Diamlah sayang" Tangan Luhan mengelus punggung polos Xiumin, menyuruhnya tenang. Dagunya yang bersandar pada pucuk kepala Xiumin masih bisa melihat dengan jelas jika kamar ini tetap rapi.
Luhan tersenyum lega—melupakan dirinya yang nyaris mati karena menerobos badai salju untuk kesini. Dia tidak menemukan keanehan dan itu artinya tidak ada yang harus dikhawatirkan—kecuali kamar mandi. Catat.
Selimut yang menutupi bagian Xiumin kini mengalihkan perhatian Luhan. Sudut bibir pria itu terangkat saat tangannya yang mengelus punggung Xiumin kini beralih meremas bokong pria manis itu. "L—Lu," Xiumin mengerang dan berhenti menangis.
"Berhenti...hh" nafas Xiumin mulai satu-dua. Luhan bisa merasakannya karena wajah Xiumin yang terbenam di ceruk lehernya. Badannya bergerak gelisah akibat ulah Luhan.
"A—aku tidak mau" Xiumin mendorong badannya mundur dari Luhan—menjauh. Nafasnya tercekat saat menatap mata Luhan yang memburam sarat akan nafsu. Nada bicara Luhan turun di oktaf paling rendah. "aku benar-benar butuh dihangatkan, Baobei"
Seperti ada sihir yang melingkupinya. Ucapan Luhan seperti mantra yang membius Xiumin jatuh didalamnya. Pria manis itu mengangguk tanpa sadar.
Luhan mengabaikan alasannya kesini yang hanya untuk memastikan keadaan Xiumin meski dirinya nyaris mati karena badai.
Otaknya seperti berputar, membuat pikirannya menjadi begitu gelap dan begitu menginginkan Xiumin berada dibawahnya. Luhan tidak merencanakan dirinya akan nyaris mati dihantam badai salju dan berakhir diatas ranjang bersama Xiumin dalam keadaan tanpa busana demi menghangatkan tubuhnya.
Tadinya niat Luhan hanyalah berlari bak seorang Super Hero dan memastikan pujaannya dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian kembali pulang setelah berhasil memastikan keadaan Xiumin yang masuk dalam posisi aman.
Tapi semuanya berubah saat bayangan tentang malam sebelumnya keputar seperti kilasan dikepala Luhan, belum lagi keadaan sekarang yang seperti mendukung tingkah Luhan.
"Kau milikku"
Kalimat Luhan seperti mengantui Xiumin. Pemuda manis itu tersentak seakan sadar. Dia buru-buru berangkat tapi Luhan menahan tangannya dan kembali menghempaskan Xiumin hingga kembali berguling dibawahnya. "T—Tidak boleh!" Xiumin memekik memperingatkan Luhan—tidak peduli jika pekikannya bisa membuat keributan di dorm. Xiumin menarik selimut dibawah untuk menutupi tubuhnya. Tanpa diduga Luhan kembali mencegah Xiumin dengan menarik tangannya.
Xiumin ternganga, Luhan tidak memperdulikannya dan mencium Xiumin paksa. Xiumin menolaknya dengan keras, badannya memberontak dibawah Luhan.
DDAK
Seseorang melempar kepala Luhan dengan sepatu diatas rak sana.
Luhan mematung, matanya melotot kearah Xiumin yang meringis dengan bibir membengkak. Mata Xiumin sudah berkaca sampai membuat rasa bersalah muncul memenuhi sudut hati Luhan. Kepalanya terasa berdenyut akibat hantaman benda. Matanya melirik sepatu yang tergelak didekat kepala ranjang.
Apa yang baru saja Luhan lakukan?
Seakan tersadar, Pria itu menjauh dari atas Xiumin dan duduk. Dia menemukan Chanyeol yang berdiri dengan satu tangan memegang sepatu. Alis Chanyeol bertaut, rambutnya acak-acakan dan wajahnya memerah karena geram
"Apa yang kau lakukan disini, idiot?"
.
.
Luhan seperti merasakan Dejavu saat dirinya kembali duduk dikursi ruang tengah dan dihakimi kembali—kali ini Chanyeol yang menggantikan peran ibunya.
Bedanya, Xiumin tidak duduk disampingnya. Chanyeol melarangnya untuk ikut karena Xiumin tidak menggunakan pakaian dan—mengenaskan. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membengkak dibawah selimut dengan tubuh polos. Chanyeol tidak sampai hati untuk menyuruhnya berangkat dari ranjang.
"Kau mau menghajarnya, ya?" Mulai Chanyeol. Luhan yang lebih tua seakan mengecil karena Chanyeol yang tampak begitu emosi dihadapannya. Alisnya bertaut, dan Luhan merasa tidak nyaman hanya dengan menggunakan Boxer. Oh hell. Ada apa dengan Chanyeol? Kenapa pria idiot itu seperti tidak senang dengan kehadirannya?
Luhan memutar bola matanya—tidak peduli.
"Hey, aku peringatkan kau—Luhan Hyung. Jangan membuat keributan ditengah malam. Baekhyun nyaris saja terbangun karena ulah bodohmu. Aku kesulitan membuatnya tidur—"
Luhan mengabaikan Chanyeol. Pria itu duduk dengan santai tanpa mendengarkan Chanyeol yang mengoceh. Tidak peduli jika Chanyeol bisa mencekiknya kapan saja, Luhan memilih memejamkan matanya dan jatuh tertidur
"—kau tidak seharusnya memperlakukan Xiumin hyung seperti itu. Dia sudah kesulitan ber—" Chanyeol berhenti berbicara. emosi pria itu dengan cepat melompat naik mengetahui Luhan sudah tertidur tanpa mendengarkan peringatannya.
Kaki panjang Chanyeol menendang tulang kering kaki Luhan dengan keras
"AW!" Luhan terkejut bangun dan melompat-lompat memegangi kakinya yang berdenyut, "AISH! Apa yang kau lakukan idiot?!"
Chanyeol mendengus, "maafkan aku Luhan Hyung. Tapi kau benar-benar menjengkelkan. Kau tertidur dan tidak mendengarkan peringatan baikku. Sialan"
"Oh itu" Luhan sudah kembali duduk tenang. Matanya mengantuk karena mendengar Chanyeol mengoceh. ia sampai beberapa kali menjatuhkan kepalanya—nyaris kembali tertidur.
Chanyeol memijat pelipisnya frustasi. Perlakuan Luhan benar-benar membuatnya jengkel, seperti tidak menghargai Chanyeol. Sebenarnya Chanyeol bisa saja mencekiknya sekarang, tapi melihat keadaan Xiumin yang mengenaskan betul-bentul menyentuh hati Chanyeol. Dia rasa Xiumin membutuhkan Luhan, jejak air mata di wajah Xiumin seperti memperingatkan Chanyeol. Entah apa yang terjadi sebelumnya, seingatnya Xiumin hyung dalam keadaan baik-baik saja paska dirinya membawa Baekhyun kekamar.
Lalu, kenapa Luhan bisa ada disini?
Pertanyaan itu mengaung diotak Chanyeol. Dia menggelengkan kepalanya, "aku tidak peduli" kata Chanyeol. Matanya melirik Luhan bengis, "jika bukan karna Xiumin Hyung. Akan kupastikan tanganku sendiri yang akan mematahkan lehermu"
Tapi Luhan masih bergelung dialam bawah sadarnya—tidak mendengar Chanyeol. Mulutnya terbuka dan dia sudah terlentang diatas sofa.
Pria tinggi itu mendengus, kemudian kembali ke kamar Xiumin. Menemukan pria itu yang duduk diatas ranjangnya. Chanyeol sangat sungkan melihat keadaan Xiumin—
—Come On, Chanyeol adalah pria dewasa berumur dua puluh lebih. Jika dihadapkan dengan tubuh seperti itu, kau yakin tidak akan ada sesuatu yang terjadi? Belum lagi wajah polos Xiumin yang menatapnya dengan mata polos itu. Grrrrr, sabarlah.
Entah sejak kapan sikap hormat Chanyeol berkurang secara drastis dan menguap jika bersinggungan dengan Luhan. Mood Swing Baekhyun yang terlempar padanya sedikit banyak membuat suasana hatinya kadang ikut menjadi buruk.
Chanyeol menghela nafas kasar, menggelengkan kepalanya. Xiumin menyadari keberadaan Chanyeol. Suara pintu yang terbuka mengejutkan Xiumin, Tangannya menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai leher, "dimana Luhan? Apa kau menyakitinya?"
Chanyeol menggeleng, dari seluruh pertanyaan formal. Kenapa pertanyaan itu yang terlontar? Apa dirinya sekarang tampak seperti seorang penjahat? Chanyeol tidak habis fikir. Xiumin yang dulunya menjauhi Luhan kini mengkhawatirkan pria bodoh itu? Pfft. Ingin rasanya Chanyeol tertawa sampai pingsan.
"Tidak. Aku tidak menyentuhnya seujung kuku pun"
Bohong.
Tapi karna Chanyeol yang mengatakannya. Xiumin mengembangkan senyumnya, percaya dengan ucapan Chanyeol tanpa berfikir dua kali. Sebenarnya Xiumin tidak bodoh. Tapi Chanyeol itu sifatnya betul-betul baik. Sulit sekali jika harus mencurigainya. Jadi Xiumin mengangguk membalas Chanyeol. Matanya kembali bersiborok dengan hazel Chanyeol, "lalu kenapa dia tidak kembali?" Tanya Xiumin setelah dirinya tidak menemukan tanda Luhan akan muncul dari balik punggung Chanyeol.
"Dia sudah tertidur."
"Sungguh?" Kepercayaan Xiumin goyah.
Chanyeol mengangguk. "Tidak perlu mencarinya. Dia sudah tidur, sebaiknya kau juga tidur Hyung. Bukankah besok kau akan makan malam bersama keluarga Luhan Hyung?"
Xiumin mati kutu. Darah naik dengan cepat kearah pipinya sampai membuat Chanyeol terkikik. "Arasso, Hyung." Chanyeol melirik saklar lampu disana. Tangannya terulur menyentuh saklar yang dekat dengannya. "Cha—aku akan kembali tidur. Kau juga tidurlah, ini sudah benar-benar larut. Selamat malam Hyung"
Chanyeol menekannya dan membuat lampu kamar Xiumin padam.
"Ya. Kau juga, Selamat Tidur"
.
.
Sabtu pagi pukul lima kala itu. Xiumin masih terjaga didalam kamarnya. Katakan saja jika dia juga idiot, menunggu Luhan kembali masuk dan menginginkan tidur bersama Luhan dengan tenang. Terdengar gila memang, tapi Xiumin benar-benar butuh aroma tubuh Luhan untuk membuatnya mengantuk. Sedikit banyak dia sudah terbiasa dengan aroma Luhan sebagai pengahantar tidurnya. Omong-omong jika memang Chanyeol berhasil membuat Luhan tertidur. Makan Ini mungkin waktu tidur Luhan yang paling cepat. Xiumin tidak tahu apa saja yang dilakukan Chanyeol hingga Luhan jatuh tertidur. Ya...tertidur—
—atau pingsan?
Apa?
Pingsan?
"Yang. Benar. Saja" Xiumin mengeja kalimatnya, "Astaga!"
Sekilas dia mengingat Chanyeol
"Apa dia sudah selesai? Tanganku gatal sekali ingin mematahkan lehernya"
Oh Shit.
Xiumin buru-buru bangun dan mengambil pakaian dalam lemarinya secara asal.
Ini buruk! Ini buruk! Ini buruk!
Sudah keempat kalinya Xiumin nyaris terjungkal karena memakai baju secara tidak sabaran. Setelah Luhan nyaris mati. Sekarang apa lagi? Dia pingsan?
"Aku bisa gila" gerutunya.
"YAK!" Xiumin terduduk dilantai saat akan memakai celana. "Bunuh saja aku!" Dia berteriak frustasi. Kenapa semuanya terasa sulit? Haft.
Baik.
Tingkat kecemasan Xiumin naik disetiap detiknya. Dia bahkan tidak sadar membanting pintu kamarnya saat akan keluar. Matanya mengedar melirik seluruh ruangan.
Oh Great.
Dia menemukan Luhan terlentang diatas sofa hanya dengan menggunakan boxer. Secara kilat Xiumin berinisiatif mengambil selimut dikamarnya dan kembali menemui Luhan yang tertidur—atau bahkan pingsan.
Cuaca sangat dingin dan pria itu hanya mengenakan boxer? Cerdas sekali. Dia memang tidak melihat bagaimana keadaan Chanyeol saat menarik Luhan keluar dari kamar. Seingatnya Luhan tidak mengenakan apapun—saat Chanyeol menarik pria itu keluar. Pria tinggi itu menyuruh Xiumin menutup matanya.
Xiumin mendekat dan berdiri disamping Luhan, menunduk dan mendengar bisikan deru nafas Luhan yang teratur.
"Dia tidur," tanpa sadar Xiumin tersenyum. Menyadari jika Luhan hanya tertidur—bukan pingsan seperti dugaanya.
Hidung Xiumin sudah bersentuhan dengan hidung bangir Luhan. Dengan pelan, Xiumin mengecup bibir Luhan, "hey." Panggil Xiumin.
Tidak ada jawaban.
Sebetulnya dia ingin membangunkan Luhan dan mengajaknya pindah. Tapi wajah Luhan tampak begitu lelah. Pelukan Xiumin pada selimut di rengkuhannya mengendur.
Pria itu membentangkan selimutnya agar menutupi tubuh Luhan. Entah sejak kapan Xiumin jadi menyukai memandang wajah Luhan. Dia sudah bersimpuh dilantai dan memandangi wajah itu dalam damai.
Xiumin kembali mengecupi Luhan—kali ini jatuh pada pipi pria itu. Ia mengutuk dirinya yang tersenyum malu-malu seperti seorang gadis setelah mengecupi bibir dan pipi Luhan. Suasana hatinya begitu nyaman sampai membuat aliran darahnya naik sampai kepipi.
Setelah melihat Luhan. Entah kenapa rasa kantuk itu mulai datang, mungkin karena efek cemasnya sudah hilang dan berganti dengan efek tenang. Matanya mulai berkunang melihat Luhan. Mungkin karena dia tidak punya teman berbicara membuatnya jadi mengantuk.
Xiumin menyandarkan kepalanya dekat dengan wajah Luhan meski tubuhnya duduk tidak nyaman dilantai—hanya bersandar pada kursi.
Mulut Xiumin terbuka, kembali menguap. Kali ini dia membiarkan matanya terpejam "Selamat tidur Luhan" bisik Xiumin sebelum pergi tidur.
.
.
To be Continue
.
.
HAHAHA BINGUNG MAU NULIS APA LAGI HAHAHA
Boleh review?
Yang cantek yang ganteng makasih yak buat review, fav, foll kalian semua. Makasih! Makasih! Makasih!
Jangan lupa tinggalkan jejak review kalian nak. Mhihiwhiw
Sign kpowpers
