REVENGE OF THE WASTED
A fiction by Arisa Risarisarisa
Katekyo Hitman RebornAmano Akira
Genre : Hurt/Comfort, Family
Rated : M
Warning : Typo, slight gore, ooc Tsuna
.
.
.
.
Pagi hari dikediaman Sawada sibuk seperti biasanya, dimulai dari Reborn yang membangunkan Natsu dengan Vongola style diikuti oleh teriakan kencangnya yang sanggup membangunkan seisi Namimori, lalu I-pin dan Lambo yang mulai dengan permainan kejar-kejaran mereka, Nana yang mulai sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan yang dibantu oleh Tsuna, tak lama kemudian Natsu akan keluar dari kamarnya dan akan memeluk dan mencium pipi Nana dan Tsuna, lalu ia akan berlari keluar rumah sambil memakan roti isi menuju sekolahnya bersama Gokudera dan Yamamoto yang sudah menunggunya, lalu Reborn akan mengikuti mereka.
Nana keluar dari pintu belakang rumahnya sambil membawa seember pakaian yang akan dijemurnya dihalaman belakang rumahnya, ia menatap langit cerah dengan senyum hangat diwajah cantiknya, Tsuna yang duduk didekatnya direrumputan sambil bermain dengan ponselnya membuat senyum Nana semakin lebar saat melihat berbagai ekspresi lucu yang dibuat putranya.
'Putraku…' Nana mengadahkan kepalanya keatas dan mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya sambil menutup kedua matanya, 'Terima kasih Tuhan…Kau berikan aku kesempatan untuk bersamanya.'
Hening, namun begitu damai, Nana bersenandung kecil sambil menjemur pakaian-pakaiannya, ia biarkan semilir angin menyapu wajahnya yang senantiasa tersenyum itu, hening, namun begitu menenangkan.
Tsuna yang sebelumnya asyik dengan poselnya kini melihat Nana dengan sorot matanya yang dingin, ia lalu menyeringai lebar saat kembali melihat ponselnya yang menayangkan video dialog antara ibu dan anak didalamnya. "Ne, kaa-chan?" panggil Tsuna pelan, kepalanya tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Hm?" respon Nana tanpa melihat Tsuna yang menyeringai dengan menundukkan kepalanya.
'Tunjukkan wajahmu yang menyedihkan itu padaku Nana.'
"Kenapa? Kenapa meninggalkanku disana?" Nana seketika berhenti menjemur pakaian, ekspresi kaget tergambar jelas diwajahnya yang semula menampilkan senyum hangat itu, melihat Nana yang tiba-tiba menegang seringai diwajah Tsuna semakin lebar, perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap punggung Nana yang bergetar dengan ekspresi kebencian diwajahnya. "Aku sendirian disana, kupikir kau akan datang menjemputku jika aku menyesali perbuatanku, tapi kau tak pernah datang." Tsuna berhenti sebentar untuk melihat tubuh Nana yang bergetar semakin hebat, ia bisa membayangkan air mata wanita itu telah mengalir dengan derasnya, merasa permainannya saat ini menyenangkan seringai Tsuna terlihat semakin lebar, terdapat kilatan kegilaan dimatanya, dengan suara yang menyerupai ekspresi dimatanya Tsuna berucap, "Apakah piring yang kupecahkan itu penyebabnya?" Tubuh Nana kembali menegang, dengan cepat ia berbalik untuk melihat Tsuna yang menatapnya sedih, air mata menumpuk dipelupuk mata anak itu membuat hati Nana sakit melihatnya.
"Tsu…kun?" panggil Nana dengan suara bergetar, air matanya tak berhenti mengalir dari kedua matanya yang bergetar takut.
'Apa yang dibicarakannya? Kenapa? Kenapa dia bisa berkata seperti itu?'
Tiba-tiba Tsuna menghambur kepelukan Nana membuat wanita itu kaget, ia melihat anak 'angkatnya' yang tersenyum lebar dipelukannya, Tsuna lalu menunjukkan ponselnya pada Nana dan berkata, "Bagaimana kaa-chan? Aku mencoba menirukan film ini apakah aku bagus melakukannya? Lihat.. lihat ini yang baru saja kukatakan," ucap Tsuna antusias.
"Kau…meniru film…ini?" tanya Nana dengan suara yang masih bergetar, tidak menyangka akan ucapan Tsuna barusan.
"Ya! Bagaimana? Aku baguskan?"
"Kau tidak bersungguh-sungguh mengatakannyakan?" Tsuna menatap Nana tepat dimatanya membuat wanita malang itu semakin gugup.
Tsuna tertawa senang dihatinya ketika melihat ekspresi Nana yang terlihat begitu menyedihkan menurutnya, 'Waah…sepertinya aku tepat mengenai sasaran ya~ hahaha…'
"Apa kaa-chan akan membuangku jika aku memecahkan piring?" Pertanyaan Tsuna kembali membuat Nana terkejut, cepat-cepat ia menggeleng dan memeluk erat Tsuna.
"Tidak tidak tidak, kaa-chan tidak akan pernah melakukan itu! Tidak akan pernah…tidak akan pernah," ucap Nana lantang yang berakhir dengan lirihannya.
Tsuna yang semula terlihat begitu senang tiba-tiba kembali menunjukkan wajah datarnya setelah mendengar ucapan Nana barusan.
'Pembohong! Kau sudah melakukannya padaku!'
Nana meletakkan kedua tangannya dikedua bahu kecil Tsuna dan berkata, "Tsu-kun sangat berharga, kaa-chan sangat menyayangimu, hal seperti di film itu tak akan terjadi pada kita berdua jadi Tsu-kun… kumohon jangan berkata seperti itu lagi ya, kaa-chan…sangat menyayangimu." Ucapan tulus Nana sempat membuat Tsuna terhenyak untuk sesaat tapi ia lalu ingat bagaimana perlakuan wanita didepannya ini dulu padanya.
"Janji?" Tsuna dengan senyum kekanakan diwajahnya membuat Nana bernafas lega, ia memberikan jari kelingkingnya pada Nana yang dengan cepat menautkan jari kelingkingnya pada jari kecil Tsuna. "Janji," ucap Nana tanpa ragu membuat keduanya tersenyum lebar.
Malam harinya saat Nana akan pergi tidur ucapan Tsuna dihalaman belakang kembali terngiang dikepalanya membuat wanita itu tertunduk sedih, ia meremas dadanya yang terasa sangat sakit saat mengingat ekspresi sedih putranya yang ia tinggalkan dipanti asuhan.
'Apakah? Apakah Tsu-kun berpikir aku membuangnya karena hal itu juga? Apakah ia berpikir aku meninggalkannya karena piring itu? Tsu-kun…Tsu-kun…maaf, maafkan kaa-chan…'
Nana tenggelam dalam rasa bersalahnya malam itu, tak ada yang mendengar tangisannya, tak ada yang mengerti bagaimana rasanya berpisah dari darah dagingnya sendiri, hatinya menjerit memanggil putranya yang ia tak tahu dimana keberadaannya.
.
.
.
.
Satu hari berlalu sia-sia bagi Reborn, hitman nomor satu yang sedang bermain 'petak umpet' dengan Tsuna itu belum berhasil menemukan informasi yang berguna tentang anak laki-laki bertubuh mungil itu, ia yang semula begitu yakin kalau ia akan memecahkan misteri tentang Tsuna dengan cepat mulai meragukan dirinya sendiri, tahu karena waktu yang dimilikinya tak banyak Reborn pun menghubungi salah satu rekannya di Italia untuk membantunya menemukan informasi apapun tentang Tsuna.
"Ciaossu Bianchi…"
"Oh…Reborn-ku~ aku sangat merindukan suaramu, apakah kau akan segera kembali? Ah…kalau begitu aku akan…"
"Bianchi, aku ingin kau mencari informasi seseorang untukku."
"Hmm…apa orang ini mengganggumu Reborn? Siapa dia?"
"Namanya Tsunayoshi."
Reborn menutup sambungan itu secara sepihak meninggalkan Bianchi dengan tugas barunya.
.
.
.
.
Siang ini Natsu tidak pulang bersama dengan kedua sahabatnya dari sekolah, ia berjalan dengan lesu menuju rumahnya.
"Panasnya~" rengek Natsu sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku ingin lemon tea buatan Tsu-chan~" rengeknya lagi sembari mempercepat langkahnya.
Kring kring…
Suara bel sepeda mengembalikan Natsu kedunia nyata, dari arah yang berlawanan ia melihat wanita berambut panjang mengendarai sepeda, wanita itu kemudian berhenti didepannya dan memberinya sekaleng minuman dingin.
"Kulihat kau kepanasan, minumlah, kau membutuhkannya," ucap wanita itu sebelum kembali mengendarai sepedanya.
'Wanita yang baik.'
Asap berwarna ungu keluar dari minuman itu saat Natsu membuka tutupnya, bulu ditubuhnya tiba-tiba berdiri saat ia mencium aroma yang tidak normal diminuman itu, dengan perasaan was-was Natsu membuang isi kaleng itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat tiga ekor burung yang tiba-tiba mati setelah menjilat minuman berwarna ungu itu.
"Ma-mati? Mereka mati? Hiiiieeeee….Reborn!"
.
.
.
.
Natsu dan Tsuna sedang bermain saat bel rumah berbunyi, Tsuna yang ingin lari dari hukuman karena kalah bermain segera berlari menuju pintu untuk membukanya, Tsuna membelalakkan matanya untuk sesaat saat melihat siapa tamu mereka pada sore itu.
"Sawada Tsunayoshi?" panggil wanita dengan rambut panjang merah muda yang berdiri didepannya sambil membawa sekotak pizza.
"Ya?"
"Pesananmu." Wanita itu memasukkan sebuah pizza berwarna ungu kemulut Tsuna yang jatuh seketika sambil memegangi mulut dan perutnya.
Mendengar suara bedebum yang keras, Natsu segera menuju pintu depan disusul oleh Reborn, keduanya terkejut saat melihat Tsuna terbatuk keras dilantai dan seorang wanita yang tadi memberikan Natsu minuman aneh berdiri didepan rumah mereka.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" teriak Natsu marah, ia mengepalkan tangannya bersiap untuk memukul wanita didepannya namun suara batuk Tsuna menghentikannya, setelah memberikan tatapan tajam pada wanita didepannya Natsu lalu menggendong Tsuna dan membawanya kekamar mandi meninggalkan Reborn dan wanita asing itu.
"Bianchi," panggil Reborn sambil menurunkan fedoranya membuat sebagian wajahnya tertutupi.
Wanita yang diketahui bernama Bianchi itu segera menunduk dan menggendong Reborn, membawanya kedalam pelukannya. "Oh Reborn, aku sangat merindukanmu~"
"Kau menemukan apa yang kuminta?" Pertanyaan Reborn membuat postur tubuh Bianchi segera berubah professional, ia menurunkan Reborn dan berdiri tegak, matanya menajam melihat ruangan dimana Tsuna dan Natsu menghilang.
"Ya," jawabnya singkat.
"Ikut denganku."
Dikamar mandi Natsu sibuk membantu Tsuna untuk memuntahkan makanan beracun yang sempat ditelan oleh Tsuna tadi.
"Ayo muntahkan Tsu ayo…" ucap Natsu sambil mengelus punggung Tsuna
"Uhuk…uhuk…" Mata Tsuna berkilat tajam saat mengingat kejadian tadi, seringai yang terpatri diwajahnya tak terlihat oleh Natsu yang masih mengelus punggungnya lembut
'Poison cooking Bianchi, aku tak menyangka Reborn akan memanggilnya fufu…kau membuat permainan ini semakin menarik Reborn.'
"Aku akan mengambilkanmu air hangat," ucap Natsu saat Tsuna berhasil memuntahkan seluruh isi perutnya, Tsuna menatap Natsu yang menghilang dibalik pintu dengan tatapan lembut, perlahan bibirnya tertarik keatas, membuatnya tersenyum lembut untuk pertama kalinya.
"Kupikir…memiliki seseorang yang memperdulikanmu tidak terlalu buruk," ucap Tsuna dengan suara yang parau namun senyum lembut itu tak pernah hilang dari wajahnya.
.
.
.
.
"Apa yang kau temukan?" tanya Reborn saat ia dan Bianchi berada ditempat yang sepi.
Bianchi mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan memberikannya pada Reborn yang mulai membaca isi amplop itu. "Aku sempat tak percaya saat aku menemukan ini, tapi bukti-bukti yang ada sangat kuat, tempat itu memang terbakar tapi aku berhasil mendapatkan semua informasi ini," ucap Bianchi dengan suara profesionalnya.
Reborn meremas kertas yang digenggamnya saat membaca semua informasi disana, Bianchi menghela nafas panjang saat melihat reaksi Reborn, ia lalu mengadahkan kepalanya keatas dan kembali melanjutkan ucapannya, "Dia adalah objek eksperimen, dan dia adalah eksperimen yang berhasil, mereka menghilangkan semua kekurangannya membuatnya…normal, julukannya adalah sikaki pendek, pembunuh berdarah dingin yang tak memandang bulu siapapun targetnya, dia bahkan menghabisi seluruh famiglia-nya dan menghilang begitu saja, sayangnya aku tak berhasil menemukan informasi pribadi tentangnya selain kelainannya, tak ada nama, umur, tanggal lahir ataupun asalnya."
"Aku rasa ini sudah cukup untuk mengalahkannya dipermainan ini."
Keheningan menyelimuti keduanya untuk sesaat, tak lama kemudian Bianchi memecah keheningan diantara mereka. "Pewaris Vongola terlihat sangat dekat dengannya, apa kau akan membiarkan hal itu terus berlanjut Reborn?"
"Setelah mereka mengetahui kebenaran tentang dirinya, mereka akan meninggalkannya."
"Aku…tak begitu yakin dengan hal itu Reborn, maksudku apa tujuannya datang kesini? Jika untuk membunuh Natsu kenapa tidak ia lakukan sebelum mereka saling mengenal? Mereka terlihat sangat dekat sekarang…seperti ada ikatan diantara mereka."
"Aku mengerti apa maksudmu Bianchi, tapi kita harus mencobanya dengan informasi ini."
"Apa kau akan memberitahukan hal ini pada Nono?"
"Tidak, tidak sekarang, tapi saat ini Iemitsu berhak tahu kalau keluarganya dalam bahaya."
"Aku akan membantumu Reborn." Reborn mengangguk menanggapi ucapan Bianchi.
Leon yang berada ditangan Reborn segera mengubah dirinya menjadi ponsel yang kemudian digunakannya untuk menghubungi Iemitsu.
"Ciaossu."
"Ah…Ciao Reborn, hmm tidak biasanya kau menghubungiku, apa ada yang…"
"Tutup mulutmu dan dengarkan aku."
"O-okay…"
"Beberapa hari yang lalu Nana mengadopsi seorang anak laki-laki bernama Tsunayoshi." Reborn dapat mendengar suara kursi yang jatuh dari seberang sana, ia juga dapat mendengar nafas Iemitsu yang mulai memburu, tanpa memberikan waktu pada Iemitsu, Reborn kembali melanjutkan ucapannya, "Usianya sebelas tahun, fisiknya mirip dengan Nana tapi…aku menemukan fakta menarik tentang dirinya."
"A-apa itu?"
"Dia seorang pembunuh bayaran, sebelum datang ke Namimori ia membunuh seluruh famiglia-nya." Reborn dapat menduga ekspresi seperti apa yang Iemitsu tunjukkan disana, ia bahkan dapat mendengar suara gemeletuk gigi pria yang berada diseberang sana itu
"Aku akan pulang Reborn, aku akan kembali, kumohon…kumohon lindungi keluargaku…" pinta Iemitsu dengan suara yang lirih
"Itu tugasku."
.
.
.
.
Rutinitas dipagi hari dikediaman Sawada tidak berubah sedikitpun, kini terlihat Natsu yang berjalan gontai diantara kedua sahabatnya, ia memberanikan diri untuk memberi Reborn yang berjalan diatas tembok tatapan tajam.
"Apa kau ingin mati baka-Natsu?" ancam Reborn dengan aura membunuh disekitarnya membuat ketiga remaja itu ketakutan, tak menyangka Reborn yang biasanya terlihat santai walau sedikit sadis itu akan mengeluarkan aura yang begitu mematikan.
"He-hehehe…ma-maaf Reborn," ucap Natsu disertai dengan tawa canggungnya, beberapa kali ia mencuri pandang pada Reborn yang terlihat larut dalam pikirannya, setelah menguatkan mentalnya Natsu pun bertanya, "Ne Reborn…ehm…apa terjadi sesuatu padamu?"
Tiba-tiba Reborn berhenti berjalan dan berbalik menghadap Natsu dengan cepat membuat pemuda malang itu memekik kaget. "Apapun yang terjadi padaku maupun urusanku tak ada hubungannya denganmu baka-Natsu," ucap Reborn dingin.
"Ha-hai," ucap Natsu gugup sambil menganggukkan kepalanya berulang kali, hilang sudah keberaniannya.
"Aku ingin kalian berkumpul sepulang sekolah, dimana tempat yang kalian inginkan?" tanya Reborn masih dengan suaranya yang datar.
"Bagaimana kalau ditempatku? Ruang berlatih sedang kosong," ucap Yamamoto menyarankan yang disetujui oleh teman-temannya.
"Baiklah, kita bertemu disana." Setelah mengatakan itu Reborn berlalu pergi meninggalkan ketiga remaja yang bingung akan sikapnya.
"Apa Reborn sedang PMS ya?" ucap Natsu tiba-tiba yang membuat kedua sahabatnya terbatuk dengan kerasnya.
"Ju-Judaime…"
"Hahaha…kukira anak itu seorang laki-laki?"
.
.
.
.
"Menurut kalian kenapa Reborn meminta kita berkumpul?" tanya Natsu pada kedua sahabatnya saat mereka berjalan menuju kediaman Yamamoto.
Gokudera mengendikkan bahunya lalu mengatakan, "Mungkin ada mafia yang mengincar Juudaime." Natsu sweatdrop mendengar jawaban Gokudera.
"Kita disini!" ucap Yamamoto saat ketiganya berhenti didepan restoran Takesushi, ketiganya lalu memasuki restoran tersebut yang sedang ramai pengunjung.
"Waah…sibuk seperti biasanya ya Tsuyoshi-san," sapa Natsu pada pemilik Takesushi yang sedang sibuk memotong ikan.
Tsuyoshi mengalihkan pandangannya pada ketiga remaja yang baru saja memasuki restorannya, wajahnya langsung cerah setelah melihat putra kesayangannya bersama dengan dua sahabatnya berdiri didepannya. "Ah…Selamat datang Takeshi, Natsu, dan Gokudera, apa kalian ingin makan disini? Hahaha…"
"Tidak tou-san," jawab Takeshi sambil menggelengkan kepalanya. "Hari ini kami hanya akan mengobrol diruang berlatih, anak kecil yang selalu bersama Natsu ingin mengatakan sesuatu pada kami," sambungnya lagi yang membuat Natsu kembali sweatdrop dan Gokudera yang sudah menyumpah-serapahi kebodohan Yamamoto Takeshi.
"Oh begitu," ucap Tsuyoshi setelah ia diam sejenak. "Baiklah, tapi kalian harus membawa camilan ini." Tsuyoshi memberikan senampan makanan ringan, beberapa sushi, dan tiga gelas jus pada Takeshi yang menerimanya sambil tertawa, setelah berpamitan ketiganya lalu pergi menuju ruang latihan keluarga Yamamoto.
Natsu, Takeshi dan Gokudera duduk ditengah ruang latihan sambil memakan camilan mereka dan mengobrol sedikit, ketiganya sedang asyik mengobrol sambil bercanda saat suara Reborn tiba-tiba terdengar.
"Ciaossu."
"Re-Reborn." Reborn duduk didepan ketiga remaja itu lalu tangan mungilnya dengan cepat mengambil camilan yang berada didepan mereka. "Jadi…ada apa?" tanya Natsu setelah cukup lama mereka memperhatikan Reborn yang sedang asyik makan tanpa mengatakan apapun.
Setelah meminum espresso yang entah dari mana didapatnya, Reborn lalu memberikan amplop cokelat pada Natsu yang tempo hari diberikan Bianchi padanya. "Buka dan bacalah." Tanpa memperdulikan ketiganya, Reborn kembali melanjutkan makannya.
Natsu bersama dengan Takeshi dan Gokudera yang mengintip dari balik bahunya membaca informasi pada tiap kertas didalam amplop itu, ketiganya membelalakkan mata ketika mereka berhasil mencerna isi amplop itu, tangan Natsu bergetar saat ia membaca isi kertas terakhir, dengan ekspresi marah ia membanting tumpukan kertas itu dan menatap tajam pada Reborn, kali ini ia tak bergeming saat Reborn balik menatapnya tak kalah tajam.
"APA-APAAN INI REBORN!" teriak Natsu, wajahnya memerah karena marah
"Ini adalah kebenaran tentang dirinya."
"Kau pasti bercanda kan?"
"Sudah kuduga, dia pasti seorang mafia. Juudaime kita harus menyingkirkannya sebelum anak sialan itu berbuat sesuatu."
Natsu memukul lantai kayu ruang latihan itu begitu keras, ia yakin kalau lantai itu pastilah retak. Natsu mengalihkan pandangan marahnya pada Gokudera yang baru saja memintanya untuk menyingkirkan Tsuna.
"Tidak akan kubiarkan kalian menyentuhnya," ucap Natsu menekankan tiap katanya.
Reborn yang kesal karena ucapan Natsu barusan segera melempar Leon yang berubah menjadi sandal pada Natsu. "Berpikirlah rasional, dia adalah pembunuh yang dikirim untukmu dank au dengan bodohnya jatuh kedalam perangkapnya."
"Kenapa dia tidak melakukkannya saat pertama kali bertemu? Huh? Ini semua pasti permainanmukan? Benarkan?!"
"Natsu…"
"Juudaime…"
"Dia adikku! Dan kalaupun apa yang kau katakan itu benar aku ingin mendengarnya langsung dari Tsuna!" Natsu yang masih dengan perasaan marah berlari keluar dari kediaman Yamamoto menuju rumahnya.
Tbc
Wooaahh…maaf karena Risa update lama *membungkuk
Tsuna seperti berkepribadian ganda ya? Dia itu seorang actor dan dia hanya ingin memberi hint pada Nana agar luka lama wanita itu kembali terbuka, salah satu teknik balas dendam ala Tsuna * wink
Dan…Reborn sudah tahu identitas asli Tsuna, chapter depan sepertinya Iemitsu bakalan muncul untuk memperpanas situasi, so…silahkan ditunggu chapter depannya
Terima kasih kepada para pembaca yang uda memfollow atau memfavoritkan fic ini *membungkuk
Ciao ciao
