Naruto X Hanabi
Disclaimer
Naruto punya bang Masashi Kishimoto.
Rated : M (udah jelas-_-")
Warning : Typo, abal, gaje, Lime, Lemon, adegan dewasa (Anak kecil ga boleh melototin nih fic)
Pair : Naru x Hana
.
.
Naruto Pov
Hai! Namaku Naruto. Namikaze Uzumaki Naruto. Tapi aku lebih suka Uzumaki Naruto. Ayahku bernama Namikaze Minato, seorang CEO terkenal yang menjalankan Namikaze Corp. Sedangkan ibuku, dia adalah seorang perancang busana yang terkenal di dunia. Namanya Uzumaki Kushina.
Umurku 17 tahun, dan aku sekolah di Konoha Gakuen, kelas XI-A. Aku termasuk siswa terpopuler di sana. Walau menduduki peringakt kedua, tapi itu tak masalah. Peringkat pertama diduduki oleh sahabatku, Uchiha Sasuke.
Kini aku sedang duduk menghadap televisi. Di sampingku terdapat Hiashi oji-san, di samping kananku ada pacarku, Hinata. Di samping Hinata ada Hanabi, adik Hinata.
Sebenarnya aku di sini datang berkunjung. Lagi pula, aku sudah akrab dengan Hiashi Ji-san, atau bisa dibilang calon mertua. Hihihi... Aku tertawa sendiri memikirkannya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Hinata, bukan.. Lebih tepatnya ke arah Hanabi yang sedikit melirikku sebelum dirinya kembali menatap TV. Aku hanya menghendikkan bahu dan kemudian menatap TV. Aku bisa merasakan Hanabi melirikku lagi, tapi tidak aku hiraukan. Hey! Aku mempang tampan, tapi tidak perlu curi-curi pandang 'kan?
"Naruto-kun." Suara Hinata membuyarkan lamunanku, sebelum aku menatap Hinata yang mendongak ke arahku.
"Ya, Hinata-chan, ada apa?" tanyaku dengan nada kalem seperti biasa.
"Apa be-besok kau ada u-urusan?" tanyanya dengan gagap. Seperti biasa.
"Tidak. Mungkin setelah pulang sekolah, aku akan berdiam diri di rumah. Kebetulan pekerjaan sedang cuti seminggu." kataku.
"Begitu ya.. Apa besok kau ada waktu untuk mengantarkan Otou-sama?" Alisku terangkat bingung mendengar perkataan Hinata.
"Mengantarkan Hiashi Oji-san?" tanya kepada Hinta.
"A-"
Hinata berniat menjelaskannya, tapi segera di potong oleh Hiashi Oji-san. "Iya, Naruto. Besok Ji-san akan berangkat Tokyo. Mungkin Oji-san akan berada di sana selama dua minggu lebih." jelas Hiashi Oji-san kepadaku. "Jadi, besok kau bisa mengantarkanku ke bandara 'kan, Naruto?"
Aku menunjukkan senyum lima jariku. "Tentu saja bisa, Ji-san!
Naruto Pov end
.
.
Keesokan harinya, Naruto telah berada di bandara bersama Hiashi, serta Hinata dan Hanabi yang juga ikut mengantarkan Ayahnya.
"Pesawat Konoha Trans Airline akan berangkat tiga menit lagi. Dimohon untuk para calon penumpang, untuk segera memasuki pesawat." Suara dari speaker bandara bergema, menandakan pesawat sebentar lagi lepas landas.
"Naruto, aku ingin kau menjaga Hinata dan Hanabi dengan baik selagi aku tidak ada di dekat mereka," kata Hiashi seraya menatap Naruto.
"Hihihi... Serahkan padaku, Ji-san!" seru Naruto mengacungian jempol.
Hiashi tersenyum, kemudian menatap kedua putrinya. "Hinata, Hanabi, jaga diri kalian baik-baik. Jangan menyusahkan Naruto. Dan sarapan secukupnya," kata Hiashi sambil membelai surai kedua putrinya.
"Ingat itu, Hanabi. Tidak boleh makan berlebihan," timpal Naruto membuat Hanabi menggembungkan kedua pipinya.
"Mou~.. Aku selalu makan makanan secukupnya kok," protes Hamabi sambil memalingkan wajahnya.
"Hahaha.. Baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu." Hiashi melambaikan tangannya ke arah ketiga remaja tadi, sebelum berjalan meninggalkan mereka.
"Baiklah, Hinata-chan, Hanabi, ayo pulang," kata Naruto mendapat anggukan dari dua Hyuuga bersaudara.
.
.
Sudah seminggu lebih berlalu setelah Hiashi meninggalkan kediamannya.
Naruto berjalan dengan gembira. Hari ini adalah ulang tahun Hinata, ia ingin memberikan kejutan kepada Hinta dengan sebuah kado di tangannya. Walau ukuran hadonya hanya segenggam tangan Naruto, tapi itu bukan kado biasa. Di dalamnya berisi cincin emas dan secarik kertas puisi untuk melamar Hinata. Yap! Naruto hendak melamar Hinata walau Hiashi tidak ada di rumah. Sengaja ia tidak menghubungi Hinata bahwa ia akan datang kerumahnya.
Sebenarnya, tadi malam Naruto sudah mengatakan kepada Hiashi bahwa Naruto akan melamar Hinata, dan Hiashi menyetujuinya.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya Naruto telah sampai di depan pintu rumah tradisional khas Jepang.
Ting Tong
Naruto menekan bel untuk memanggil seseorang yang ada di dalam. Tapi, sudah hampir satu menit, pintu tidak kunjung terbuka. Naruto kembali menekan bel pintu dengan harapan semoga ada yang membukanya. Namun, nihil. Tidak ada sahutan dari dalam.
"Apa Hinata-chan tidak ada di rumah, ya?" gumam Naruto entah kepada siapa.
Naruto memutuskan untuk memutar kenop pintu, memastikan rumah terkunci atau tidak.
Cklek!
"Tidak terkunci." Naruto berinisiatif untuk masuki rumah. Memang terdengar tidak sopan, tapi ia takut terjadi apa-apa dengan Hinata.
"Ahhn~.. I-iya! Le-lebih kencang, Kiba-khun~..,"
Entah halusinasi atau memang kenyataan, dirinya mendengar suara desahan yang sangat erotis. Namun, dirinya seperti tidak asing dengan suara tadi.
Naruto segera berlari memasuki ruangan lebih dalam, dan sampailah ia di depan kamar hinata.
"Ugh! Sempit, Hinata-chan." terdengqr sebuah lenguhan lelaki dari dalam kamar Hinata.
Jantung Naruto berdetak kencang mendangar suara Hinata dan lelaki lain. Naruto menjulurkan tangannya untuk meraih kenap pintu kamar Hinata.
"Semoga ini mimpi,.. Semoga ini mimpi,.. Semoga ini mimpi.," gukam Naruto dengan tangan bergetar.
Cklek
Pintu telah terbuka, memperlihatkan Hinata yang menungging di atas kasur, sedangkan di belakang Hinata terlihat lelaki berambut coklat dan di pipinya terdapat tato segitiga terbalik berwarna mereka. Mereka menatap Naruto dengan pandangan terkejut.
"Ah! Maaf mengganggu, Hinata, Kiba," kata Naruto sebelum berlaru meninggalkan kamar Hinata.
Hinata terdiam sesaat karena terkejut, kemudian menggejar Naruto. "Na-Naruto-kun! Tunggu!" teriak Hinata.
Naruto tidak memperdulikan panggilan Hinata dan terus mempercepat jalannya. Akhirnya ia sampai di depan pintu, ia dapat mendengar dwrap langkah Hinata mendekat, tapi Naruto tidak menghiraukannya. Setelah keluar, Naruto menutup pintu dengan cepat dan berjalan meninggalkan rumah tradisional tersebut.
"Eh?! Naruto-nii-chan?"
Sebuah suara memanggilnya saat dirinya tengah berjalan keluar dari halam rumah Hyuuga. Saat di menoleh, dapat ia lihat Hanabi yang menatapnya khawatir.
"Ah! Hai, Hanabi-chan," sapa Naruto mencoba tersenyum ke arah Hanabi yang menatapnya khawatir.
"Nii-chan, kenapa Nii-chan terlihat sedih? Apa yang terjadi, Nii-chan? Apa Hinata-nee menyakiti Nii-chan? Apa Hinata-nee memukul Nii-chan? Apa Hi-" Perkataan Hanabi tidak sempat terselesaikan saat sebuah telunjuk menempel dibibir mungilnya.
"Tidak," kata Naruto dengan senyum kecutnya. "Kalau begitu, tolong bawakan ini untuk kakakmu, ya." Naruto menyerahkan kotak yang ia pegang kepada Hanabi. Kemudian langsung pergi meninggalkan Hanabi yang hanya menatap punggung Naruto.
Akhirnya, Hanabi memutuskan untuk menemui kakaknya dan menyerahkan kotak yang Naruto titipkan kepadanya. Namun, setelah membuka pintu, ia terkejut saat melihat Hinata terduduk sambil menangis dengan keadaan tanpa pakaian. Di samping Hinata, Hanabi melihat seorang kelaki berambut pantat ayam tengah memeluk Hinata, dan ia hanya mengenakan boxer. Dari sini Hanabi tahu kenapa Naruto sedih tadi.
"Hi-Hinata-nee-chan," gumam Hanabi.
Hinata melihat adiknya, kemudian berhambur memeluk Hanabi sambil terisak. "His.. Hiks.."
"Nee-chan..," Hanabi melepas pelukan Hinata, kemudian menatap kakaknya yang masih menangis. "...apa kau melakukan hal tidak senonoh dengan lelaki ifu?" tanya Hanabi sambil menunjuk ke arah Sasuke.
Hinata tidak menjawab, justru ia lebih mengencangkan tangisannya.
Hanabi menatap kesal kakaknya. "Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Nee-chan? Kenapa kau tega menghianati Naruto-nii? Apa kau tidak tahu seberapa sakit hatinya Naruto-nii?" tanya Hanabi dengan mata berkaca-kaca.
"Go-gomen.. Hiks.. A-aku.. Menyesal, Hanabi." Hinata meracau kearah Hanabi.
Hanabi hanya diam, kemudian menyerahkan kotak kecil dari Naruto. "Ini dari Naruto-nii untuk, Nee-chan."
Dengan terisak, Hinata menerima dan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah cincin emas dengan permata berwarna lavender, serta kertas di saping cincin. Hinata mengambik kertas tersebut dan membacanya.
"Huaaaaa.." Tangis Hinata pecah setelah membaca isi kertas tadi. "Gomen,.. Go-gome.., hiks.. Gomenasai, Naruto-kun." Hinata terus mengucapkan maaf sambil menangis.
Hanabi penasaran dengan isi tersebut. Ia mengambilnya dan kemudian mebaca isinya. Mata membulat setelah membaca surta tadi. Kemudian ia menatap Hinata. "Kau lihat sendirikan, Nee-chan. Hari ini.., di hari ulang tahunmu yang ketujuh belas, Nii-chan akan melamarmu. Tapi,.. Niatnya sirna setelah melihat kau bermesraan dengan lelaki lain." Hanabi menatap datar ke arah Hinata.
Sasuke yang sedari tadi diam, kini mulai membuka suara. "Kau jangan menyalahkan Hinata terus, bantulah kami untuk menyelesaikan masalah ini."
Hanabi menatap Sasuke datar, sebelum berbicara, "Kenapa aku harus terlibat? Bukankah ini urusan kalian berdua? Kalian harus menyelesaikan masalah kalian. Dan kau, Hinata, aku menyesal memiliki kakak pelacur sepertimu." Setelah mengatakan hal itu, Hanabi keluar dari rumah meninggalkan Kiba dan Hinata yang kini tengah menangis keras.
.
.
Malam telah tiba. Udara dingin tidak membuat membuat Naruto kedinginan. Ia tengah larut dalam lamunannya. Jam menunjukkan pukul 00.47, namun, Naruto tidak berniat untuk pulang.
Saat ini, Naruto tengah duduk di pinggir jalan yang sedang sepi kendaraan. Hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Naruto menundukkan kepala. Ia masih sedih mengingat kejadian siang tadi.
Keadaan Naruto terlihat buruk sekarang. Baju kemeja yang ia kenapa terlihat tidak rapi, rambut kuningnya berantakan, serta wajahnya yang terlihat kusut.
"Nii-chan!" Sebuah suara tidak ditanggapi oleh Naruto yang masih melamun.
Hanabi- Sosok yang memanggilnya- menepuk pundak Naruto dan berhasil mendapat perhatian dari Naruto.
"Astaga, Nii-chan! Ke-kenapa keadaanmu bisa seperti ini?" tanya Hanabi panik melihat keadaan Naruto.
"Ti-tidak," kata Naruto pelan.
"Sebaiknya aku akan mengantar Naruto-nii pulang." Hanabi menarik tubuh Naruto yang berat agar lelaki ini mau bangun. "Uhk! Ayo banguj, Nii-chan."
Setelah berhasil membuat Naruto berdiri, ia langsung melingkarkan lengan Naruto di leher putihnya. Ia segera membawa Naruto ke rumah ayay Naruto, Namikaze Minato.
.
.
Tok tok tok
Hanabi mengetuk pintu di depannya dengan sedikit keras. Dari dalam, terdengar derap langka dari dalam.
Cklek
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya tengah menatap mereka khawatir.
"Na-Naruto-kun," kata wanita tadi yang ternyata ibu Naruto, Uzumaki/Namikaze Kushina. Kemudian ia membantu Hanabi membawa Naruto ke dalam rumah dan membawanya ke kamar Naruto.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naruto, Hanabi?" tanya Kushina dengan cemas.
Hanabi diam sebentar sebelum menatap Kushina. "Lebih baik kita bicara di tempat lain, Oba-san," kata Hanabi dibalas anggukan oleh Kushina.
Mereka pinda ke ruang tamu agar tidak mengganggu Naruto yang tertidur. Hanabi menceritakan semuanya, di mulai dari Hinata yang menghianati Naruto, hingga Naruto berakhir terbaring lemas di kamarnya.
"Jadi begitu," geram Kushina sambil mengepalkan tangannya.
Hanabi hanya menunduk mendengar nada marah dari Kushina. "Maafkan kakakku, Ba-san, karena telah menyakiti hati Naruto. Dan maafkan aku karena kakakku, Naruto-nii jadi seperti ini." Hanabi semakin menunduk saat isakan terdengar darinya.
Kushina terdiam sebentar sebelum mengelus pelan kepala Hanabi. "Daijobu desu, Hanabi-chan. Lagi pula kau tidak salah, jadi kau tidak perlu meminta maaf." Kushina merengkuh tubuh mungil Hanabi ke dalam pelukannya.
"Ta-tapi,..aku tetap merasa bersalah. Aku takut karena ulah kakakku, Naruto-nii akan membenciku juga," ucap Hanabi lirih.
"Tenanglah.. Aku yakin, Naruto tidak akan membencimu atau pun kakakmu. Naruto sudah cukupa dewasa untuk mengerti hal itu. Naruto pasti tahu bahwa Hinata bukan jodohnya, jadi jangan khawatir kalau Naruto akan membenci kalian," kata Kushina merapatkan dekapannya kepada Hanabi. Mencoba menenangkan gadis yang berumur 14 tahun ke dalam dekapannya.
.
.
Keesok harinya~ DI RUMAH KEDIAMAN NAMIKAZE.
Terlihat seorang gadi berambut coklat bermata putih pucat tengah menuangkan air panas ke dalam gelas yang ada di meja. Tak berapa lama, terdengar derap langkah dari tangga, dan saat gadi itu menoleh, dapat ia lihat wanita -Kushina- berjalan ke arahnya.
"Ohayou, Ba-chan," sapa gadiz tadi sambil tersenyum.
"Eh?! Hanabi-chan? Ohayou mo." Kushina telah berdiri di samping Hanabi. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Membuatkan teh hangat untuk Ba-chan." Hanabi mengaduk teh yang sudah ia campur gula secukupnya.
"Ah.. Kau tidak perlu repot-repot, Hanabi-chan. Aku jadi merasa tidak enak," kata Kushina menggaruk belakang kepalanya. Di pagi buta sudah di suguhkan oleh hidangan teh hangat.
Tunggu! Pagi buta? Ahh, benar. Sekarang baru jam 05.41, pasti banyak orang yang masih bergemul di balik selimut. Mengenai Hanabi yang ada di kediaman Namikaze, ia tadi malam menginap di sini. Dengan alasan "Aku masih belum ingin pulang karena aku akan melihat kakakku dan mengingat kejadian kemarin".
Kebetulan Minato sedang ada meeting di kantirnya, jadi Hanabi tidir dengan Kushina.
" Oh, ya, Ba-chan. Apa Naruto-nii belum bangun?" tanya Hanabi.
"Belum. Biasanya dia bangun lebih awal dariku."
"Begitu, ya. Mungkin ia masih sedih mengingat hal itu." Hanabi menundukkan jepalanya, tapi mengingat perkataan Kushina tadi malam membuat Hanabi lebih baik. "Aku akan membuatkan teh hangat untuk Naruto-nii." Kemudian, Hanabi membuatkan segelas teh lagi untuk Naruto. Setelay selesai, ia langsung pergi menuju kamar Naruto.
Kushina yang melihat hal itu hanya tersenyum.
.
.
Hanabi langsung membuka pintu kamar Naruto tanpa mengetuknya. Saat ia sudah masuk, ia menemukan Naruto yang duduk di pinggi kasur sambil menatap foto yang ada di depannya.
Hanabi meletakkan gelas di meja belajar Naruto, kemudian mendekat ke arah Naruto yang masih belum menyadari keberadaannya.
"Nii-chan," panggil Hanabi yang tidak di balas oleh Naruto.
"Nii-chan!" Hanabi memanggil sedikit keras yang berhasil membuat Naruto menoleh ke arahnya cepat.
"Ah! Ha-Hanabi," gumam Naruto.
Hanabi tanpa ragu duduk di samping Naruto.
"Apa Nii-chan masih mengingat Hinata-nee?"
Naruto hanya diam mendengar pertanyaan Hanabi. Kemdian menundukkan kepalanya.
Hanabi juga sedih melihat Naruto menderita karena ulah kakaknya. Ia bertekad, bagaimana pun caranya, ia harus membuat Naruto bahagia dan melupakan kakaknya.
"Gomen..," kata Hanabi kemudian.
"Kenapa menta maaf?" Naruto menatap Hanabi bingung walau masih ada ekspresi sedih di wajahnya.
"Karena kakakku, Nii-chan jadi menderita.. Hiks.. Andai Nee-chan tidak melakukan hal bodoh seperti kemarin, pasti Nii-chan tidak akan terpuruk seperti ini. Aku minta maaf, Naruto-nii," ujar Hanabi dengan isakan yang terdengar jelas. "A-aku takut.. Nii-chan akan membenciku karena ka-"
Puk
Sebuah tepukan mendarat di kepala Hanabi. Pelakunya adalah Naruto yang menatapnya dengan lembut. "Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah. Daj aku tidak akan membencimu."
Pendengar perkataan Naruto, membuat Hanabi sedikit teh h tenang. Tanpa rasa takut, Hanabi memeluk Naruto erat, solah ia tidak ingin kehilangan pemuda yang telah memikat hatinya.
Yahh.. Hanabi mencintai Naruto awal pertemuan mereka saat Hinata memperkenalkan Naruto kepada keluarganya.
Hanabi yang masih memeluk Naruto, mengalihkan pandangannya ke arah foto yang ada di tangan Naruto. "Apa Nii-chan masih belum bisa melupakan Hinata-nee?" tanya Hanabi mendongak ke atas, menatap wajah Naruto yang tidak kunjung menjawab.
"Jika memang Naruto-nii tidak bisa melupakan Nee-chan, aku akan membantu Nii-chan melupakannya... Dan berpaling ke arahku," kata Hanabi dengan nada lirih di akhir.
Naruto menatap Hanabi terkejut. Ia pahan arti dari 'berpaling kepadaku'.
"A-apa maksudmu, Hanabi?" tanya Naruto dengan wajah sock
"Nii-chan,.. Selama ini aku menyukaimu,.. Tidak! Lebih tepatnya aku mencintaimu. Aku mulai mencintaimu saat Hinata-nee mengenalkan Nii-chan kepada keluargaku."
Naruto diam mendengar penuturan Hanabi, tapi langsung terkejut saat Hanabi mendekatkan wajahnya ke arah wajah Naruto.
"Co-cotto matte, Hanabi." Naruto mencoba melepas pelukan Hanabi sebelum Hanabi menciumnya, namun, Hanabi terlalu erat memeluk Naruto.
"Aku akan membantumu, Nii-chan." Setelah mengatakan hal tersebut, Hinata menempelkan bibirnya pada bibir Naruto.
Awalnya hanya menempel biasa, namun Hanabi mencoba melumat bibir Naruto. Naruto sendiri begitu menikmati ciuman Hanabi padanya. Entah setan apa yang menggodanya, membuat ia membalas lumatan Hanabi. Mereka saling berebit untuk mendominasi permainan. Walau mereka hanya amatir, tapi mereka cukup ahli sebagai seorang pemula.
Naruto masih mengingat yang di ucapkan oleh Hanabi tadi. 'Berpaling ke arahku? Berarti selama ini... Hanabi.. Mencintaiku?' batin Naruto yang masih beradu dengan Hanabi.
Tangan Naruto bergerak untuk meraih dada Hanabi yang tidak besar karena umurnya yang masih semi remaja awal. Ia meremas pelan gumpalan daging tersebut.
"Hmmhh~" desah Hanabi di sela ciuman mereka.
Naruto semakin liar memainkan dada Hanabi. Ia meremas dan terkadan memelintir tonjolan yang tercetak di baju Hanabi.
3 menit berlali, mereka melepas pagutan mereka karena pasikan udara di paru-paru hampir habis.
"Hahh,.. Hah,.. Hah,.." napas mereka terengah-engah dengan wajah memerah bak kepiting remus. Naruto tidak berhenti memainkan dada Hanabi yang menyebabkan sangat empu mendesah karena geli bercampur nikmat.
"Ahh.. Sshhsss," desah Hanabi. Ia tidak peduli ini masih pavi buta.
"Ahh~..," lenguh Naruto saat tiba-tiba tangan Hanabi menyusup masuk ke dalam celana yang ia kenapan dan meremas pelan kemaluannya.
"Naruto-nii, buka kan bajuku," sedikit menjauh dari Naruto saat Naruto segerah meraih bajunya dan melepasnya. Dan Hanabi kini hanya memakai atasan tank top berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih(walau tak sputih Hinata).
Naruto juga membuka bajunya merasakan gerah yang tak tertahan.
Kini mereka kembali berciuman. Naruto melumat bibir Hanabi, menyesapnya pelan dan terkadang memberikan gigitan kecil di bibir Hanabi. Tangan Naruto menyelinap masuk ke dalam dalaman Hanabi dan meremas payudara Hanabi halus. Memainkan sesuatu yang menonjol dari gumpalan tersebut.
"Hmm.. Ahh~~.. Naruto-nhii~.." Hanabi mendesah saat ciuman Naruto berpindah ke lehernya. Meningalkan KissMark di leher putih Hanabi.
Tangan Naruto bergerak untuk membuka tank topHanabi.
Ctek
Ia berhasil membukanya, dan kini terlihatlah dada Hanabi yang masih kencang dan belum besar. Naruto segera melahap dada Hanabi, menciptkan rasa geli dan nikmat pada sang pemilik.
"Uhh~~.. Na-Naruto-nii.. Sudah cukup," kata Hanabi. Namun berbeda dengan tindakannya yang menekan kepala Naruto untuk terus menghisapnya. "Ughh~.. Yahh.. Ahh.. Ikehhh~.." lenguh Hanabi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Tangan Naruto berupaya melepas celana Hanabi dengan bibirnya yang masih menyesap dada Hanabi. Setelah berhasil membuka celana yang dikenakan Hanabi, Naruto segera menurunkan celana dalam dan memperlihatkan area V yang masih rapat.
Tangan Naruto mengusap selangkangan Hanabi yang membuat Hanabi menjerit keenakan.
"Khyaaa~~hh.. Nhii-chan.." dirinya memekik saat dengan tiba-tiba, Naruto mengangkatnya dan memangkunya.
Dan kemudian, Naruto melanjutkan aksinya, membuat Hanabi kembali mendesah. Tangan Naruto terus merrmas dada Hanabi, tangan satu lagi bermain pada vagina Hanabi.
"Ahh~.. Nii-chanhh~.. Lebih.. Berikan aku lebih,"
Mendengar perintah Hanabi, membiat Naruto tersenyu. "Tentu saja, Hime-sama."
Salah satu jari Naruto mencoba memasuki liang vagina Hanabi membuat Hanabi memekik pelan saat sesuatu mencoba menerobos selangkannya.
"Akh! Ughh~ Hmmhhmm~.."
Jari Naruto sudah mentok hinga tidak bisa masuk lebih dalam lagi. Naruto memaju mudnurkan jarinya yang masuk ke dalam vagina Hanabi, menciptakan dedahan erotis keluar dari Hanabi. Dan desahannya kembali mengeras saat Naruto mencoba memasukkan satu lagi jarinya.
"Ahhhh~.. Nii-chan~.."
Naruto menciumi lihir Hanabi dari belakang. Tak luput pundak Hanabi juga ikut ia hisap yang menghasilkan keniimatan tersendiri bagi Hanabi.
"Hmm~ahh~.. Nii-chan.." Hanabi memejamkan matanya seraya mengginggit bibirnya.
Tangan Naruto tak henti-henti memainkan dada dada daj selangkangan Hanabi. Bahkan Naruto memasukkan tiga jari sekaligus untuk memanjakan miss.V Hanabi.
"AHHHhnn~..," desah Hanabi sedikit keras saat Naruto berhasil menemukan klitorist Hanabi dan memainkannya. "Ahhh~~.."
Naruto memelintir puting Hanabi yang sudah menegang dan menarik-narik kecil payudara Hanabi. Sedangkan tangan kiri Naruto mencubit pelan klitorist yang ada di selangkangan Hanabi.
"Nhii-chan~.. Ja-jhangan keras-kerashh~.," pinta Hanabi yang tidak di gubris oleh Naruto yang menambahkan rangsangan di tubuh Hanabi.
"Hhhmm~.. A-aku.. Nhii-chan~~ ahh.. Aku mau.. Ughh~.."
Naruto yang tahu Hanabi akan mencapai klimaksnya, menambahkan rangsangan di tubuh Hanabi dengan menjipati telinga Hanabi, menimbulkan rasa geli pada Hanabi.
"Ahh.. Nii-chan~.. A-ada yang mau keluar," kata Hanabi di sela kenikmatannya.
"Keluarkan saja, Hime-chan," bisik Naruto di telinga Hanabi yang membuat Hanabi merinding merasakan hembusan nafas Naruto.
"Ahh.. Ahh. Ahhnnhh... Aku mauu~~ Ke-keluar... Ughh! Na.. Na.. NARUTO-NII!"
Slerr
Cairan keluar dari vagina Hanabi dengan derasnya.
"Hahh.. Hahh.. Hah.. Nii-chan~," gumam Hanabi menyandarkan tubuhnya di dada Naruto. "Ai.. Hahh.. Aishiteru, Nii-chan.."
Naruto hanya ternyum menatap Hanabi yang memerah wajahnya. "Aishiteru mo, Hime-chan," ucap Naruto sambil memeluk Hanabi. "Lebih baik kau istirahat dulu, Hanabi. Setelah itu bersihkan dirimu," kata Naruto mendapat tatapan cemberut dari Hanabi.
"Mou~.. Kita bahkan masih belum ke menu utaman, Nii-chan, dan kau sudah menyuruhku membersihkan diri." Perkataan membuat Naruto membulatkan matanya.
"Me-menu utama? Cotto! Kau tidak berniat mepakukan itu denganku kan?" tanya Naruto dengan nada tidak percaya. Namun, dirinya harus menelan ludah saat Hanabi memperlihatkan raut wajah yang sudah dipenuhi nafsu.
"Aku.. Mau sekarang, Nii-chan." Hanabi menggoyangkan bantatnya, mencoba memberi rangsangan pada Naruto junior (penis).
"Shhhssahh~~.. Matte, Hanabi. Ja-jangan lakukan ini sekarang.. Ba-bagaimana dengan sekolahmu? Ahh.., tanya Naruto di akhiri desahannya karena Hanabi yang menggesekkan bokongnya pada penis Naruto yang masih tertutup celana.
"Aku tidak pedulu, Nii-chan. Yang aku inginkan hanya dirimu." Hanabi menatap sayu ke arah Naruto yang hanya diam. "Lagi pula jika Nii-chan tidak mengeluarkan di dalam, aku tidak akan hamil."
"Tapi.. Bukan itu saja, hanya saja-hhmphh!" Naruto tidak dapat melanjutkan alasannya karena Hanabi terlebih dahulu menciumnya.
"Hahhmmh~," desah Hanabi yang masih mencium bibir Naruto dan melumatnya rakus.
"Hmmaaahh~~"
Naruto bisa merasakan lidah Hanabi mencoba menerobos masuj ke dalam mulutnya. Ia membuka mulutnya sedikit agar Hanabi bisa bersilat lidah dengannya.
"Hmmhh~."
Hanabi semakin liar mencumbu bibir Naruto, ia bahkan tidak peduli napasnya hampir habis. Tangan Naruto kembali memainkan dada dan vagina Hanabi yang telah basah.
"Fuahh~"
Hanabi melepas pagutanya dan menghirup napas sebanyak-banyaknya.
"Hahh..hahh..hahh.. Nii-chan, kita langsung saja ke inti. Aku sudah tidak tahan," kata Hanabi memasang wajah sayu serta rona merah menahan nafsu.
Naruto diam sedaat. Dirinya masih belum yakin untuk melanjutkan lebiha jauh lagi. Terlebih, Hanabi adalah anak Hiashi, teman ayahnya. Ia takut jika Hiashi ia telah melakukannya dengan Hanabi, pertemanan ayahnya dan Hiashi akan mengendur.
"Tunggu dulu Hanabi. Apa kau yakin?" Naruto menatap Hanabi yang kini menatapnya serius.
"Aku serius,.. Naruto-kun!" Hanabi menunjukkan raut wajah tak kalah serius.
"Ta-tapi,.. Bagaimana dengan A-"
"Otou-sama tidak mempermasalahkannya," potong Hanabi dan mengatakan kepada Naruto bahwa ayahnya tidak masalah jika Hanabi juga mencintai Naruto. Dan hal itu membuat Naruto menganga.
"Ka-kau tidak bercanda, 'kan?" Pertanyaan dibalas gelengan oleh Hanabi membuat Naruto bertambah syok.
"Jadi, Nii-chan... Mau kah kau..." Hanabi menggantungkan perkataannya sambil mengusap dada bidang Naruto yang atletis.
"Tidak bisa 'kah tanpa melakukan sex?" tanya Naruto seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ini benar-benar memalukan baginya.
"Tidak bisa, Nii-chan. Kau harus melakukannya sekarang." Hanabi bangun dari pangkuan Naruto dan berpindah ke kasur, kemudian merebahkan tubuhnya di rancang.
"Ayo, Nii-chan. Jangan membuat yang di bawah mengunggu," kata Hanabi membelai kemaluannya.
"Ba-baiklah." Jujur, untuk Naruto ini sangat memalukan. Walau dirinya pernah menonton film JAV, tapi melakukannya langsung membuatnya ragu.
Naruto bangun dari duduknya dan melepas celananya yang masih melekat. Hingga ia melepas celana dalamnya, membuat Hanabi memandang takjup penis Naruto yang sudah berdiri.
"Ara.. Sudah tegang ne," gumam Hanabi seraya meraih penis Naruto dengan kakinya. Ia melakukan footjob dengan canggung. Bagaimana pun juga, ini pertama baginya.
Naruto yang mendapat rangsangan tak terduga hanya dapat mendesah merasakan kemaluannya dimainkan oleh kaki mulis Hanabi.
"Ahhh~~"
Hanabi yang mendengar desahan Naruto tersenyum bangga karena ia berhasil membuat Naruto mendesah.
"Bagaimana, Nii-chan? Apa nikmat?" tanya Hanabi menatap Naruto yang terus mendesah.
'Kuso! Aku tidak tahan,' batin Naruto mengumpat. Naruto menghentikan gerakan Hanabi, membuat Hanabi menatap Naruto bingung. Namun ia merasa senang karena tiba-tiba Naruto menciumnya liar.
Mereka terus berpagutan dan bersilah lidah. Tangan Naruto mengobrak-abrik vagina Hanabi, sedangkan tangan kirinya meremas dada Hanabi pelan.
"Nghh~~.. Nii-chaammhh~" desah Hanabi di sela ciumannya. Ia terus mendesah karena Naruto kini menjilati telingannya.
"Ihh~ gheli, Naruto-kun.. Ihhh..ahhh~~" Hanabi mencoba melindungi telinganya yang di serbu oleh lidah Naruto.
Jilatan Naruto berpindah ke dada kiri Hanabi. Menghisapnya kuat menbuat pemilik melenguh dengan nikmat. Cairan di vaginanya keluar semakin banyak merasakan tubuhnya di serang tepat di titik sensitifnya.
Naruto terys menhisap kedua dada Hanabi yang tidak besar namyn menggiurkan. Ciuman Naruto tyryn je perut Hanabi membuat sang pemilik meronta kegelian.
"Ahhahah.. Nii-chan~.. Geli ihh~~" Hanabi mencoba mendorong kepala Naruto agar pindah dari perutnya. Akhirnya ia lega karena Naruto sudah tidak menjilati perutnya, namun ia harus dibuat mendesah hebat saat jilatan Naruto berpindah ke daerah kewanitaannya. Terlebih lagi Naruto menghisapnya kuat.
"AHHHhhnnhh~~.." Hanabi melenguh panjang saat Naruto menghisap vaginanya kuat. Dirinya merasa sudah tidak sanggup, namun nafsunya mengalahkan rasa lelahnya. "Nii-chan.. Laghi.. Ughhnn... Lagi, Nii-chan," perinta Hanabi yang kemudian dilakukan Naruto dengan senang hati.
Beberapa menit kemudian, Hanabi merasakan desakan yang berasal dari vaginanya.
"Ughh~ Nii-chan, akhu mau uhhh.. Keluar."
Naruto yang mendengar perkataan Hanabi memperkuat hisapannya dan memperdalam lidahnya mengobrak-abrik sisi kemaluan Hanabi.
"Akhu.. Keluar." Hanabi tidak kuat menahan sentuhan Naruto. "NII-CHAAAANN~!" Teriakan menggema di kamar Naruto saat Hanabi mengeluarkan cairan bening yang sedang Naruto telan.
"Hahh.. Hahh.. Hah.." Napas Hanabi memburu karena kelelahan. Sudah dua kali ia orgasme.
Naruto telah selesai menjilati sisa cairan Hanabi. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping Hanabi berbaring. Naruto tersenyum menatap Hanabi yang menutup matanya seraya mengatur napas. Pandangan Naruto turun ke arah dada Hanabi yang tidak belum sempurna, namun menghiurkan. Tangan Naruto dengan jail memainkan puting Hanabi.
"Hmmhh~" Hanabi yang sudah tidak sanggup mendesah hanya bergumam dengan erotis.
10 menit berlalu. Namun mereka tidak ada yang membuka suara, dan hanya terdengar napas Hanabi yang sedikit membaik.
Hanabi menatap Naruto yang memejamkan matanya. Ia yakin Naruto masih belum tidur karena tangan Naruto terus memainkan dadanya.
"Naruto-kun," panggil Hanabi membuat Naruto membuka matanya.
"Hm?"
"Ayo ke menu utama. Aku sudah tidak sabar." Perkataan Hanabi hanya dibalas kekehan dari Naruto.
"Baiklah. Tapi ini akan sakit," peringat Naruto kepada Hanabi yang mengangguk. Kemudian Naruto bangun dari berbaringnya dan memppsisikan tubuhnya di atas Hanabi. Naruto menggesekkan kemaluannya dengan kemaluan Hanabi. Salah satu tangannya bermain pada dada Hanabi, sedangkan tangan satunya sebagai tumpuan agar ia tidak menindih Hanabi.
"Ahhh~~" Hanabi mendesah saat penis Naruto menggesek vaginanya. Bahkan ia dapat merasakan cairan yang keluar dari sana. "Uhhmm~" Hanabi menarik kepala Naruto ke bawah agar ia dapat mencium Naruto.
3 menit berlalu, dan Naruto hanya menggesekkan penisnya membuat Hanabi kesal.
"Nii-chan! Cepat masukkan!"
"Hm? Masukkan?" tanya Naruto seolah tidak mengerti maksud dari perintah Hanabi. Ia tetap menggesek vagina Hanabi yang mulai gelisah.
"Aku sudah tidak tahan, Nii-chan! Uhh~.. Cepat masukkan penismu!" Hanabi sedikit meninggikan suaranya saat Naruto tak kunjung memasukkan penisnya.
"Kau ingin aku memasukkannya?" tanya Naruto dibalas anggukan oleh Hanabi dengan wajah sayunya. "Kalau begitu... Memohonlah." Naruto sedikit tersenyum puas melihat wajah tak sabaran dari Hanabi.
"Ck! Aku mohon, Nii-chan, masukkan penismu," mohon Hanabi dengan wajah memerah.
"Kurang erotis. Ulangi lagi." Naruto benar-bunar puas melihat wajah Hanabi yang memerah padam.
"Ugh! Ja-jangan membuatku memperkosamu, Nii-chan!" sungut Hanabi membuat Naruto terkekeh karena ancamannya.
"Baiklah, baiklah."
Naruto berhenti menggosokkan penisnya dan mulai memposisikannya di depan vagina Hanabi. Dengan perlahan, Naruto memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Hanabi.
"Ugh! Sempit. Kuso!" racau Naruto dengan rahang mengerang. Sedangkan Hanabi mendesah karena sesuatu yang belum pernah ia rasakan tengah memasuki lubang surganya.
"Uhhmmhh.."
Naruto berhenti mendorong pinggulnya saat merasakan kepala penisnya mencium selaput dara Hanabi. "Kau yakin Hanabi?" tanya Naruto memastikan.
"U'umm." Hanabi mengangguk lemah menahan sakit yang akan ia rasakan.
Dengan cepat, Naruto mendorong pinggulnya hingga merobekkan selaput dara Hanabi.
"Akh! Sa-sakit.. Hiks.." Setes air mata menurin dari mata Hanabi merasakan sakit di area selangkannya.
Naruto yang tidak tega melihat Hanabi, berinisiatif untuk mencium Hanabi. Tangannya meremas dada Hanabi, dan terkadang mencubit puting merah jampu Hanabi.
"Uhmm~.." Hanabi menggoyangkan pinggulnya menandakan Naruto boleh bergerak.
Naruto menarik pinggulnya hingga kepala penisnya akan terlepas dari lubang vagina Hanabi, namun belum sampai terlepas, Naruto sudah memasukkan kembali. Dan ia melakukan itu teru menerua hingga tempo cepat.
"Ugh! Ahh.. Ahh. Ahh. Ahh. Ah.." Tubuh Hanabi bergoyang seiringan dengan sodokan yang diberikan oleh Naruto. "Ahh.. Terus, Nii-chan~.. Ahh.."
Naruto yang mendengar Hanabi semakin mempercepat goyangannya, hal itu membuat Hanabi mendedah keenakan. Bahkan Hanabi mendedah panjang saat penis Naruto membentur dinding rahimnya, memberikan sedikit kejutan yang menurutnya nikmat.
"Ahh~.. Hanabi-chan.. Punyamu.. Nikmat." Mendengar pujian Naruto, Hanabi sedikit membusungkan dadanya bangga. Namun itu adalah masalah buatnya karena Naruto langsung melahap dadanya dan menghisapnya kuat.
"Ahhhh~~ pelan-pelhan, Nhii-chanhh~.."
Naruto tak mengindahkan perintah Hanabi dan terus menghisap dada Hanabi. Suara benturan selangkangan Naruto dan Hanabi terdengar karena semakin banyaknya cairan yang keluar dari liang Hanabi.
"Ughh~" Hanabi melenguh karena ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari vaginanya. "Nii-chan~.."
Naruto yang merasakan kejantanannya di apit kuat oleh dinding-ding vagina Hanabi, semakin kuat menggerakkan pinggulnya. "Keluarkan saja, Hime," kata Naruto teru menyodokkan penisnya.
"Aku.. Akhuu~.. AKU TIDAK KUAT, NII-CHAN!~"
Cairan bening jeluar banyak dari selangkangan Hanabi. Dadanya naik-turun seirngin ia mengambil napas. Ia begitu lelah karena kenikmatan yang diberikan Naruto padanya. "Nghh~" Hanabi sedikit mendesah saat Naruto mencapu penisnya dari liang Hanabi, jemudian merebahkan tubuh kekarnya di samping Hanabi yang dipenuhi keringat.
"Hahh.. Nii-chan.. Hah.. Hah," panggil Hanabi yang menatap Naruto cemas.
"Ya? Ada apa, Hanabi-chan?" Naruto juga menatap Hanabi yang menatapnya dengan wajah sedih.
"Gomenasai," gumam Hanabi lirih.
"Nandemo, Hanabi-chan?" Naruto juga ikut cemas saa Hanabi meminta maaf padanya.
"Aku.. Tidak bisa membuat Nii-chan orgasme." Hanabi menundukkan kepalanya dengan penyesalan karena ia tidak dapat membuat Naruto klimaks.
Naruto yang mendengar itu pun menghedapkan wajah Hanabi ke arahnya, kemudian mencium bibir ranum Hanabi sesaat. "Tidak masalah. Lagi pula kita bisa melakukan lebih lama setelah kita menikah nanti." Perkataan Naruto membuat wajah Hanabi bersemu merah.
Naruto menatap jam wekker yang ada di meja belajarnya, dan ia langsung membulatkan matanya. 'Selama itu, kah?' batin Naruto yang melihat jam menunjukkan pukul 07.04. 'Mungkin Okaa-chan sudah menyusul Otou-chan ke kantor,' lanjut Naruto membatin.
"Hanabi-chan, lebih baik kita mandi." Naruto bangun dari rebahannya. Hanabi hanya diam karena masih ada rasa sakit di selangkangannya. "Kau bisa bangun?" Hanabi hanya menggeleng menjawan pertanyaan Naruto. Dengan terpaksa Naruto menggendong Hanabi untuk mandi bersama.
.
.
Masih di waktu yang sama. Di depan kamar Naruto, terdapat wanita paruh baya yang tengah menyandarkan tubuhnya di dinding dengan badan penuh keringat. Dan terlihat di rok yang ia pakai sedikit basah di area selangkangannya.
"Hahh.. Hahh.. Tak kusangka.. Hahh.. Mereka.. Hebat bermainnya," gumam wanita tersebut yang merupakan ibu dari Naruto, Uzumaki Kushina.
Kemudian wanita itu menatap jam yang ia kenakan dan waktu menunjukkan pukul 07.06.
"Ah! Sial! Aku terlambat menyusul Minato-kun. Lebih baik aku segera menyusul Minato-kun dan meminta jatahku yang semalam."
Kushina beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan depan kamar Naruto.
.
.
4 years later.
Sudah empat tahun berlalu semenjak kejadian itu, dimana penderitaan dan Kebahagiaan Naruto bercampur menjadi satu. Menderita karena dihianati oleh pacarnya, dan bahagia karena mendapat menemukan cintanya kembali.
Malam harinya, di rumah Namikaze, terlihat keluarga Hyuuga dan keluarga Namikaze berkumpul. Terlihat Minato dan Hiashi tengah gembira. Pagi tadi merupakan acara pernikahan Naruto dan Hanabi.
Yap! Benar sekali. Naruto dan Hanabi menikah tadi pagi pukul 09.30. Tapi kita tidak akan membahas suasana ramai penuh suka cita di rumah Namikaze, tapi kita akan membajas suasana di rumah Hyuuga yang begitu sepi.
Di sebuah kamar, terlihat dua sejoli yang kini tengah asik bercumu mesra.
"Ahh.. Hanabi-chan~.." Seorang penuh mendesah saat wanita yang berada di atasnya menaik-turunkan pinggul rampingnya. Nama wanita tersebut adalah Hyuuga Hanabi.
"Uhh.. Naruto-kun~ ahh.. Kali ini..ahhnn.. Akhu akan membuatmu klimaks," ujar Hanabi yang dibalas kekehan dan desahan dari lelaki yang bernama Naruto, lebih tepatnya Uzumaki Naruto.
"Aku menunggu itu, Hanabi-chan," Seringai rubah tercipta di wajah Naruto.
Hanabi teru menggoyangkan pinggulnya, tapi tidak bertahan lama karena...
Brak!
... Pintu kamar Hanabi terbyka dengan keras, pelakunya adalah seorang wanita berambut indigo tengah menatap mereka dengan pandangan sayu, dan terlebih lagi ia tidak mengenakaj pakaian sehelai pun.
"Aku ingin bergabung dengan kalian, Naruto-kun, Hanabi-chan."
"...?!"
"...?!"
.
.
"Ugghh~~.. Kalian sungguh hebat, Hanabi-chan, Hinata-chan."
"Tentu saja, Naruto-kun. Kami kan hebat, benar kan, Nee-chan?"
"Itu benar, Hanabi-chan. Kita akan membuat Naruto klimaks berkali-kali."
Dan suara mereka bergema di kesunyiam rumah Hyuuga.
.
.
The End/Tamat/Owari
Yosh! Akhirnya bisa bernapas lega.
Ok! Bertemu lagi dengan saya, Hashaka Lio bersama karya laknat saya "Kimochi".
Bagaimana dengan fic ini? Hot? Membosankan? Atau ada perasaan lain kah? Khakhakha... Ga usah di pikirkan bagus apa enggaknya, karena saya membuat ini hanya untuk yang suka aja...
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, "Kenapa milih Hanabi?". Sebenarnya saya suka karakter Hanabi kecil. (Aku bukan pedo...). Karena menuritku Hanabi itu... Hmmm.. Apa ya? Aku bingung sendiri :v
Oh, ya! Di chapter ini saya sedikit memberi bumbuh hurt untuk Naruto dan Hinata. Walau tidak ngena feel nya, jadi gini deh, ancur. Sama seperti chapter sebelumnya yang tema NTR. Tapi tidak apa, karena yang ini aku lebih mementingkan lemonnya.
Ah.. Sudahlah.. Kita lupain aja. Dan chapter selanjutnya, Naruto akan bermain dengan karakter Onee-sama. Ok! Pilih Vote yuk:
-Yamanaka Ino
-Haruno Sakura
-Uchiha Satsuki (Sasuke female version)
-Ayame
