Tittle : Ayah, Aku Harus Pergi

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Chara : Castor, Labrador, Teito, Frau

Warning : Yaoi, BL, Sho-ai (lengkap), AU, Chara Death! , mpreg (walau ga ada adegannya sih ._.)

Rated : T

Ayah, Aku Harus Pergi


Aku terpaku sesaat dan mencoba untuk menerima keadaan. Tatapanku kosong dan hanya melihat kearah cicin itu terpasang.

Kucoba untuk mendekatkan diri kearah 'korban' tersebut. Tubuhku mulai berkeringat, entah kenapa... Padahal aku sedang berada diruangan ber-AC yang bersuhu cukup rendah.

.

.

.

-karena ini ruang mayat.

Kuraih tangan mungil pucat yang sudah sangat kaku itu dan membelai jemari dimana cicin itu melingkar. Bisa kurasakan lembut kulitnya, ukuran telapak tangannya, namun sudah tidak hangat seperti biasanya.

Entah kenapa tubuhku mulai bergetar, kugenggam erat tangan mungil itu dengan tangan kananku dan kudekap erat didadaku, sedangkan tangan kiriku mencoba untuk membuka sehelai kain putih yang menutupi tubuhnya.

Bercak-bercak darah yang melukiskan kain putih ini sudah berubah menjadi kecokelatan, begitu pula dengan tetesan-tetesannya dilantai.

Kutarik perlahan kain ini, sudah mulai terlihat rambut lembut berwarna lilac yang dihiasi beberapa bercak darah yang sudah mengering. Tanganku tidak mau berhenti untuk menarik kain ini sehingga terlihatlah wajah 'seseorang' yang sangat kucintai sedang memejamkan mata dengan tenang dan damai, bahkan seulas senyum tipis terukir diwajahnya.

'Apa dia bahagia telah meninggalkan aku dan Teito berdua ?'

Tentu saja tidak.

Senyuman itu, terukir karena...

-'Ia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai seorang ibu yang melindungi keluarga kecilnya.'

Airmata mulai membasahi wajahku. Aku tidak terima dengan keadaan ini. Kenapa... Kenapa Tuhan tidak adil ?! Menelantarkan aku dan anakku berdua tanpa sosok ibu dan istri... Membiarkan hatiku terus dilanda oleh penyesalan yang mendalam... Hanya karena kelalaianku sebelum berkendara. Seandainya aku menge-check mesin mobil sebelum berangkat dan menemukan problemnya, ini semua tidak akan terjadi.

Pandanganku mulai buram, terlalu banyak airmata yang membasahi wajahku dan kacamataku. Tanpa melepaskan genggaman dan dekapanku kepada tangan mungilnya, aku berlutut dan memeluk tubuh dingin yang sudah tidak bernyawa lagi, lalu kukecup dahi dan pipinya berulang kali.

"... Kenapa kau tega meninggalkan kami, Lab ?" aku berkata sambil menatap wajahnya lekat-lekat dengan sedikit terisak.

"Kenapa Tuhan memaggilmu begitu cepat ?"

"... Kenapa Tuhan menghapuskan semua kebahagiaan yang selama ini kita alami dengan adanya kepergianmu, Lab ?"

"Kenapa ?!"

"Jawab aku ! Labrador !"

"..." tak ada jawaban. Suasana kembali hening dan yang terdengar hanya isakkan tangisku, dokter berambut pirang dibelakangku hanya terdiam dan menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan juga. Karena tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.

Masih sambil mendekap tangannya didadaku, aku teringat kenangan-kenangan yang sangat berbahagia dikeluarga kecil kami sebelum 'kejadian' itu terjadi.

Senyumannya, tawanya, kehangatannya, ketulusannya, semuanya... Mengenai 'dia'.

Namun, saat mengingat kalau dia sudah tiada... Hatiku kembali seperti ditusuk.

"LAB ! TOLONG JAWAB AKU !" bentakku kepadanya. Padahal, aku tahu... Ia tak mungkin menjawabnya lagi. Tubuh yg sudah mulai membujur kaku ini kudekap lebih erat dan kuat. Aku masih tidak rela atas kepergiannya yang begitu mendadak.

Kubelai rambut halusnya dan membisikkan kalimat dari lubuk hatiku yang paling dalam walaupun isak tangis masih menyertainya.

"...Jangan tinggalkan aku... Jangan tinggalkan aku... Lab... Kembalilah..."

Namun, seseorang menepuk pundakku pelan. Ya, benar saja. Dokter pirang itulah yang menyadarkanku dari luapan kesedihan barusan.

"Hentikanlah. Dia... Benar-benar merelakan nyawanya demi kalian... Berdua."

"... A-apa maksudmu ?"

"Saat mobil ambulance kami tiba, aku melihat tim penyelamat sedang mengeluarkan tubuh para korban. Kau hanya luka ringan, anakmu mengalami luka yang cukup serius diseluruh tubuhnya, lalu... Istrimu... Mengalami luka yang sangat parah dibagian kepala dan tubuh bagian atas. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, ia terus mendesakku untuk menyelamatkan kalian berdua dengan menyebut nama dan menujuk kalian yang sedang tak sadarkan diri dan dalam kondisi fisik dan mental yang sangat lemah. Mau tidak mau, aku menurutinya dan menyuruh para dokter yang lain untuk memberi kalian pertolongan pertama dan segera dibawa ke rumah sakit untuk dipulihkan secara total. Tubuhnya yang tergeletak berlumuran darah dihadapanku, sungguh membuatku iba. Karena... Dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu... Dia masih mendahului keselamatan kalian. Tak beberapa lama, ia menarik jas putih yang aku kenakan dengan tenaga yang hampir tidak ada dan berkata, 'Terima kasih' sambil terengah-engah, lalu ia tersenyum lembut sambil menggenggam tanganku dengan sisa kekuatannya, sampai... Kekuatan yang ia miliki benar-benar habis. Bahkan, untuk bernafas pun ia tak sanggup... Nafasnya mulai tercekat dan... Dia pergi meninggalkan kita. Maafkan aku... Aku tak sempat menyelamatkannya... Sungguh... Aku menyesal... Sekali lagi maafkan aku..."

Aku membisu karena telah mendengar ceritanya. Cerita yang 'benar-benar terakhir' tentang dirinya.

Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya sesosok manusia lemah tanpa pendamping hidup yang hidup di dunia yang kejam ini. Kejam ? Mungkin tidak juga... Namun takdirku lah yang kejam.

Sekarang, hanya untuk tersenyum dengan tulus itu... Sangatlah sulit. Semua kenangan indah tentang keluarga kecilku yang berbahagia telah dihapuskan. Dihapuskan dengan terhapusnya sesosok insan yang benar-benar aku dan Teito cintai.

Air mataku semakin deras mendengar 'pengorbanan' dirinya. Aku tak bisa berlagak tegar, sisi lunak didalam hatiku semuanya terbuka. Aku sudah tidak bisa apa-apa lagi sekarang. Aku hanya bisa menangisi kepergiannya sambil menjerit, menyalahkan Tuhan, dan... Menyalahkan diriku sendiri.

"...Hanya demi aku... Dan Teito, kau sampai seperti itu... Maafkan aku..."

.

.

.

.


Lalu, keesokan harinya,.. Tubuh Labrador yang sudah sangat kaku dan pucat itu sudah terbaring didalam peti berlapis kaca bening dan disekelilingnya diletakkan berbagai macam bunga hias kesukaannya.

Aku hanya bisa memandangi wajahnya itu untuk terakhir kalinya. Kuusap lapisan kaca yang melindungi dirinya. Melindungi kecantikannya.

Rasa sakit dan perih kembali menyeruak didalam dadaku. Aku kembali disadarkan, 'jika dia seperti ini karena aku...'

Dengan rasa sakit yang masih berkecamuk didada ini, kulihat peti yang ditidurinya untuk selama-lamanya mulai dipindahkan kedalam peti yang lebih besar yang terbuat dari kayu.

Aku sudah tak bisa melihat parasnya lagi... Sampai-

-Tanah benar-benar mengubur dirinya bersama penyesalanku.

Orang-orang yang ramai berdatangan, kini sudah tiada. Semuanya sudah kembali ke istananya masing-masing karena hujan yang cukup deras menghampiri pemakaman ini.

Derasnya suara air, seperti iringan lagu kematian yang terus mendampingimu dan diriku yang masih terpaku kearah batu nisan yang terukir namamu dengan sempurna.

Kutaburkan beberapa genggam kelopak bunga. Tanpa sadar, air mataku kembali turun. Sederas air hujan yang terus menghujani kita.

"... Kita akan selalu bersama, kan? Labrador?"

"Tapi... Kebersamaan kita hanya sampai disini... Tuhan tak mengizinkan kita bersama lagi, sampai kita dipertemukan kembali dialam yang disebut 'surga', dan akan membangun kehidupan yang indah seperti dulu lagi... Ya, kan?"

"... Well, rest in peace, my wife... I'll always protect Teito as i can... Just seeing me from there, okay?"

Kuusap batu nisan yang sudah jelas terpampang namanya disana dan mengecupnya singkat.

"... I love you..."

Setelah mengganti pakaianku yang basah kuyup itu, kulihat Teito yang tak berdaya sudah mulai menggerakkan jemarinya perlahan. Kemudian, gerakan-gerakan halus itu berubah seperti sedang mencari sesuatu.

Aku yang sudah sangat senang melihat dirinya yang hampir siuman, langsung menggenggam tangan mungilnya.

"Teito, ayah disini... Jangan takut..." ucapku dengan sangat tulus.

Ternyata dia sudah siuman, walaupun belum 100%. Ia sudah bisa membuka matanya sedikit dan menjawab perkataanku dengan suara yang sangat kecil, hampir menyerupai bisikkan.

"I...bu... Mana?" sambil tersenyum lemah ia mengatakan hal itu.

Aku harus jawab apa? Aku tak mungkin mengatakannya disaat keadaan dia yang belum pulih total.

Jadi untuk menjawab pertanyaannya, aku hanya bisa diam.

"Aku... Ingin dipeluk sama ibu..."

"... Biar ayah yang peluk untuk sementara, ya?"

Lalu Teito mengangguk dan aku langsung memeluk tubuhnya yang sangat rapuh itu dengan lembut tanpa melepaskan sejumlah selang yang hinggap ditubuh mungilnya.

Namun, selang-selang itulah yang membantunya untuk tetap bertahan hidup.

"A...yah kan, sudah Teito peluk..., Teito juga... Mau memeluk ibu..." ucapnya terbata-bata.

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan mengecup dahinya.

"...Maafkan ayah..."

"Kena..pa, ayah?"

Aku yang telah kehabisan kata-kata dan tindakan untuk menutup-nutupi kepergiannya, hanya bisa menggigit bibir bawahku. 'Apa yang harus kukatakan kepadanya?'

"... Ayah tak bisa bilang kepadamu..."

"..."

"Ibu... Telah..."

"Ke-kenapa, ayah? Ibu... Kenapa?"

"Ibu telah meninggalkan kita... Maafkan ayah..."

"..."

Tak ada jawaban darinya. Suasana kembali hening seperti sebelumnya. Detik jarum jam pun kembali mengiringi suasanan di ruangan ini.

Namun, perlahan-lahan aku mendengar suara isakkan lemah. Kutatap dirinya lekat-lekat.

Dia... Menangis. Teito... Maafkan ayah... Percuma jika ayah menyembunyikan ini semua. Suatu saat, kamu akan merasakan rasa sakit itu bahkan lebih sakit dari ini.

"Hiks...hiks... I...bu...hiks..."

"Maafkan ayah, Teito..."

"..."

Keadaan menjadi hening sesaat. Namun, perkataan yang sangat membuatku terkejut itu meluncur mulus dari mulut anakku satu-satunya.

"...Ayah... Kenapa aku tidak ikut saja... Bersama ibu?"

"A...Ap-"

"Aku tidak akan kuat hidup tanpa ibu..."

"Tei..to... Jaga bicaramu.."

"Tanpa ibu, aku...-"

"CUKUP, TEITO!"

TBC


Ng... Ini TBC loh, sodara-sodara!(?) ._. *digampar*
umm okeh, disini... kayaknya flashback semua =w=" flashback masih akan berlanjut sampai ke chap selanjutnya~ jangan bosen yaaahh~ XD
RnR!