"Dendam yang terpelihara pada akhirnya akan menggerogotimu pelan, sampai kau tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."

"Apa?" Jungmo hampir berteriak di seberang sana ketika mendengar seluruh cerita Sungmin yang diucapkan sambil menahan tangisnya. "Apa yang ada di otak Kyuhyun?"

Sungmin menghela napas panjang, "Aku hanya tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu, Jungmo. Dia sungguh berubah, tidak seperti yang kita kenal. Dia... aku hampir yakin kalau dia… membenciku."

"Membencimu?" Jungmo mendesah pelan, Sungmin hampir bisa membayangkan lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya di seberang sana, "Aku sungguh tidak bisa membayangkan kalau dia membencimu Minnie, sikap lembutnya, kebaikannya, tatapan penuh cintanya kepadamu waktu itu, semuanya tampak tulus." Suara Jungmo berubah prihatin, "Kau tidak apa-apa Minnie? Perlukah aku menjemputmu?"

"Jangan Jungmo." Sungmin berseru cepat, "Pada awalnya kupikir kalau Kyuhyun cemburu kepadamu, kepada kita."

"Itu konyol... kau seharusnya memberitahunya kalau aku..."

"Yah, dia memang belum tahu Jungmo-ah... dan hari itu ketika aku mengunjungimu setelah pernikahan, dia ada di rumah ketika aku pulang dan menungguku. Dia tampak marah besar, mengata-ngataiku sebagai perempuan yang tidak menghormatinya karena langsung mengunjungi kekasihnya setelah pernikahan. Dia mengira kita sepasang kekasih."

"Apakah kau tidak menjelaskan semuanya kepadanya?"

"Aku tidak punya kesempatan." Sungmin mendesah pedih, "Dia tidak memberiku kesempatan."

Hening lama, seolah Jungmo sedang berpikir keras.

"Kyuhyun sungguh keterlaluan." Jungmo menggeram, tampak marah, "Dia memperlakukanmu seperti ini, sama seperti dia sedang menghinaku. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri, Minnie, keluargaku. Kalau Kyuhyun bersikap keterlaluan kepadamu, dia harus menghadapiku."

oOo

Kyuhyun membanting tubuhnya di sofa kantornya. Dia tidak tahu harus kemana. Dia tidak bisa berada di rumah dan memancing terus menerus konfrontasi dengan Sungmin, yang membuatnya lelah. Dia juga tidak bisa datang ke rumah tempat Seohyun dirawat, melihat kondisi Seohyun yang seperti itu makin lama makin membuat luka di dalam hatinya yang sudah parah semakin menganga.

Satu-satunya tempat yang bisa membuatnya nyaman dan sendirian adalah kantornya di hari Minggu. Satpam perusahaannya tampak bingung melihat kedatangan bosnya tiba-tiba di hari Minggu, tetapi Kyuhyun memasang tampang datar dan tidak peduli.

Benaknya berkelana tanpa arah, memikirkan tercapainya tujuannya. Semua rencananya sudah mengarah ke arah yang diinginkannya. Pernikahannya dengan Sungmin semakin mempermudah rencananya.

Kyuhyun pada akhirnya berhasil menikahi Sungmin dan menjalankan rencana balas dendamnya.

Pada akhirnya dia akan menahan Sungmin dalam pernikahan ini dan terus menerus menyakitinya tanpa Sungmin sadari. Tetapi... semua keberhasilan ini tidak membawa kepuasan kepada dirinya. Entah mengapa. Apakah karena batinnya sendiri menyadari bahwa dia telah membalas dendam kepada orang yang tidak tahu apa-apa?

Tidak! Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan keras. Sungmin pantas menerima pembalasan ini. Dia sedikit banyak telah berkontribusi dalam penderitaan yang dialami Seohyun... kesakitan yang dialami Seohyun... Belum lagi kepedihan yang ditanggung oleh keluarganya selama ini. Semuanya sangat sepadan dengan pembalasan dendam ini.

Kyuhyun mendesah dan berdiri dengan gelisah, menatap dari jendela kaca di ruang kerjanya ke arah langit yang gelap dan mendung.

Sungmin. Perempuan itu, dengan keluguannya telah dengan mudahnya jatuh ke dalam cengkeraman Kyuhyun. Sebenarnya Kyuhyun bisa saja menghancurkan hidupnya tanpa harus menikahinya. Tetapi entah kenapa di saat terakhir Kyuhyun memutuskan bahwa dengan menikahi Sungmin, dia akan lebih mudah mengikat perempuan itu. Dan lebih leluasa membalaskan dendamnya. Hal itu juga mencegah Sungmin kabur meninggalkannya sebelum pembalasan dendamnya usai.

Dia teringat kepada Jungmo yang tampak begitu dekat dengan Sungmin, dan mencibir.

Perempuan itu bahkan dengan mudahnya melompat meninggalkan Jungmo dan menghambur ke pelukannya, benar-benar watak perempuan gampangan, seperti yang dibayangkannya selama ini. Tetapi bagaimanapun juga hubungan Jungmo dengan Sungmin yang begitu dekat, bahkan setelah Sungmin menikah dengannya terasa begitu mengganggu. Ingatannya akan Sungmin yang langsung mengunjungi Jungmo dihari pertama pernikahan mereka membuatnya marah dan terhina.

Dia mengernyit, Sungmin pasti akan langsung menghambur kepada Jungmo karena sikap Kyuhyun. Tiba-tiba dia sadar. Diraihnya kunci mobilnya dan bergegas keluar.

oOo

Pada akhirnya Sungmin tidak tahan harus terus berdiam diri di rumah Kyuhyun yang begitu besar dan lengang, apalagi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Kyuhyun akan pulang hari ini. Dia akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko, karena dia sangat butuh melepaskan semua permasalahannya di rumah kaca. Dari dulu, Sungmin sudah terbiasa, kabur dan merenung di rumah kaca, ketika pikirannya kalut.

Kadangkala Sungmin menghabiskan waktunya dengan merawat tanaman-tanamannya, mencurahkan kasih sayangnya dan mengalihkan perhatiannya.

Sebelum menuju ke rumah kaca, Sungmin mampir ke Garden Cafe, dan menghela napas sedikit senang dengan aroma khas yang menenangkannya dari cafe ini. Cafe ini penuh dengan aroma rempah yang nikmat, bercampur harumnya kue yang baru keluar dari panggangan. Suasananya damai, seperti di rumah.

Sungmin melangkah menuju sebuah sudut yang nyaman, di dekat rumpun bunga anggrek putih dengan bercak keunguan yang indah, hasil dari rumah kacanya. Suasana cafe tampak ramai dengan para pelayan yang lalu lalang melayani pengunjung, mungkin ini karena tepat saat jam makan siang.

Kangin sendiri yang mendatanginya, lelaki itu tampaknya sudah melihatnya dari jauh dan kemudian menembus kesibukan cafe untuk menghampirinya,

"Pengantin baru ada di sini lagi." Kangin tertawa, "Apa yang kau lakukan di sini, Sungmin?"

Sungmin tersenyum kecut, berusaha tampak ceria, "Aku membutuhkan teh hijau untuk menambah semangatku."

"Segera datang." Kangin mengedipkan sebelah matanya, "Apakah kau ingin teman minum teh? Ada pastry apel dan keju yang baru keluar dari oven."

Sungmin menganggukkan kepalanya, "Aku mau." Gumamnya. Lalu duduk merenung dan menunggu.

Apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi perkawinannya? Apa yang harus dilakukannya kepada Kyuhyun? Bagaimana mungkin cinta yang begitu lembut dan pekat bisa berubah begitu cepat menjadi kebencian yang menyayat?

Sungmin begitu penuh dengan pertanyaan yang ingin dilemparkannya kepada Kyuhyun. Tetapi jangankan untuk bertanya, untuk berbicarapun sepertinya lelaki itu sama sekali tidak memberinya kesempatan.

Sebenarnya apa yang diinginkan Kyuhyun dari pernikahan ini?

Teh hijaunya kemudian datang, disajikan dalam cangkir mungil berwarna putih yang masih mengepul dan beraroma teh yang khas dan harum. Bersamaan dengan itu, sepiring pastry yang masih panas yang menggiurkan disajikan bersama.

Sungmin meneguk tehnya, dan menikmati rasanya. Begitu pahit tanpa gula, tetapi ketika indra penciumannya bekerja, aromanya yang nikmat memberikan rasa tersendiri ke indra pencecapnya. Sehingga kepahitan itu berubah menjadi rasa yang khas yang selalu dirindukan oleh lidahnya.

Sungmin teringat akan filosofi Kangin tentang teh hijau, dan dia tersenyum. Teh hijau mengingatkan Sungmin akan rahasia, rahasia sebuah rasa yang harus menunggu saat yang tepat, menyibak lapisan demi lapisan untuk menemukan apa sebenarnya yang tersembunyi di baliknya.

Ponselnya berbunyi tiba-tiba membuat Sungmin tersentak dari lamunannya, diangkatnya ponsel itu ketika tahu bahwa Jungmo yang menelepon,

"Halo Jungmo."

"Katamu kau akan segera datang kemari, dan aku cemas karena kau belum tiba juga."

"Aku mampir di Garden Cafe untuk makan siang." Jawab Sungmin sambil tersenyum miring.

"Teh hijau lagi?" Jungmo tergelak, "Aku tidak pernah tahu tentang obsesimu meminum teh hijau di saat makan siang entah panas atau hujan. Menurutku minum soda yang paling enak."

"Soda tidak baik untuk kesehatan." Sungmin mengernyit, membuat tawa Jungmo semakin keras.

"Oke Minnie, lekaslah datang, dan aku ingin kau menceritakan semuanya secara langsung."

oOo

Jungmo sudah menunggu. Meskipun tampak santai, lelaki itu tegang dan kelihatan sekali sangat mencemaskan Sungmin,

"Bagaimana keadaanmu?" Jungmo menarikkan kursi bagi Sungmin untuk duduk, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.

"Aku baik-baik saja." Sungmin berusaha tersenyum tegar, "Tetapi perasaanku tidak." Lanjutnya serak.

Jungmo menatap Sungmin dan mengernyitkan keningnya, "Kau baru dua hari menikah dan Kyuhyun sudah bersikap seperti ini. Kalau begini aku jadi menanyakan motivasinya menikahimu." Jungmo menatap Sungmin hati-hati, "Apakah mungkin dia sedang berusaha menjebakmu dalam pernikahan ini Minnie?"

"Menjebakku?" Sungmin menatap Jungmo dengan bingung, "Tetapi kenapa? Demi alasan apa?"

"Aku tidak tahu." Jungmo mengangkat bahunya, "Semula aku sempat curiga dengan sikap Kyuhyun yang mendekatimu dengan begitu intens dan cepat, bahkan kemudian melamarmu padahal hubungan kalian baru semumur jagung." Lelaki itu duduk di kursi depan Sungmin dan menghela napas panjang, "Tetapi aku melihat betapa kau mencintainya, dan aku berpikir bahwa kau sudah menemukan belahan jiwamu."

Hati Sungmin terasa sakit mendengar kata-kata Jungmo, itu sama seperti yang dikatakan Kyuhyun kepadanya dulu sebelum menikahinya. Bahwa Sungmin adalah belahan jiwanya, bahwa Kyuhyun tidak perlu berlama-lama lagi menunggu untuk menikahinya karena dia tahu pasti dia sudah menemukan belahan jiwanya,

Tetapi tentunya seseorang tidak akan bersikap kasar dan penuh kebencian kepada belahan jiwanya bukan?

"Aku akan mencari tahu Minnie. Aku tidak rela kau diperlakukan begini tanpa tahu alasannya."

Sungmin menghela napas panjang, "Tetapi jangan berkonfrontasi dengan Kyuhyun, Jungmo, dia... dia sepertinya menuduh kita menjalin affair di belakangnya."

"Itu konyol." Jungmo menghela marah, "Kalau dia tahu yang sebenarnya dia akan malu karena pernah menuduhmu."

Sungmin memalingkan muka, menahan tangisnya yang hampir tak terbendung, "Aku mencintainya, Jungmo... sangat mencintai Kyuhyun, tidak pernah aku merasakan perasaan ini sebelumnya kepada lelaki manapun... tapi...aku..." Suara Sungmin serak, dia menelan ludah dengan susah payah, menahan sesak di dadanya, sebutir air mata bergulir dari matanya, tanpa dapat dia tahankan, Jungmo menatap Sungmin yang menangis, lalu mendekatinya, dan berdiri di sebelah Sungmin, lalu memeluk Sungmin yang masih duduk di kursi, tampak begitu rapuh dan lelah dengan kesakitannya.

"Oh sayangku.. kasihan sekali dirimu, sayang." Jungmo memeluk Sungmin, dan Sungmin menumpahkan segala tangisannya di sana, di pelukan lelaki yang sudah dikenalnya sejak kecil, yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri.

oOo

"Oh. Jadi inilah yang selalu kalian lakukan kalau berduaan."

Suara dingin itu membuat Sungmin terlonjak kaget dan langsung melepaskan dirinya dari pelukan Jungmo. Dia menoleh ke pintu masuk dan memucat ketika melihat Kyuhyun berdiri di sana, tampak luar biasa marah.

"Kyuhyun?"

"Aku muak melihat bukti ketidaksetiaanmu ini Sungmin." Kyuhyun menggeram marah, "Ayo pulang."

Dengan kasar Kyuhyun merenggut lengan Sungmin, menariknya berdiri dari duduknya.

Jungmo langsung meradang, dia merenggut sebelah lengan Sungmin yang bebas dan menahannya,

"Kau tidak boleh memperlakukan Sungmin seperti itu." Jungmo menarik Sungmin dari cengkeraman Kyuhyun dan menyembunyikannya di belakangnya. "Ada apa denganmu Kyuhyun?"

Kyuhyun menatap Jungmo dengan tatapan tajam dan jijik, "Ada apa? Kau pikir aku harus diam saja melihat affair yang kalian lakukan terang-terangan untuk menghinaku?" tatapan tajam Kyuhyun beralih kepada Sungmin, yang tampak ketakutan dan pucat pasi, bersembunyi di belakang punggung Jungmo, "Pulang Min. Kalau tidak kau akan menyesal karena aku akan menghancurkan kekasihmu ini berikut semua bisnis dan juga rumah kacamu."

Ancaman itu mengena. Karena Kyuhyun adalah seseorang yang berpengaruh terhadap klien-klien besar rumah kaca Sungmin, dan lelaki itu sangat berkuasa. Dari tatapan matanya yang menyala, Sungmin tahu bahwa Kyuhyun akan berbuat apapun untuk mewujudkan ancamannya.

Sungmin gemetar, takut menghadapi kemarahan Kyuhyun, tetapi dia harus memberanikan diri.

Mungkin dengan begini dia bisa menemukan jawaban atas sikap Kyuhyun yang sangat kejam ini.

Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan diri, Sungmin melangkah keluar dari lindungan Jungmo dan maju mendekati Kyuhyun,

"Aku akan pulang." Gumamnya pelan.

"Sungmin!" Jungmo berteriak dengan serak, "Jangan!"

Sungmin menoleh, menatap Jungmo dengan lembut, meski matanya berkaca-kaca, "Aku akan baik-baik saja."

Dan kemudian Kyuhyun merenggut lengannya dengan kasar, setengah menyeretnya keluar dari rumah itu.

oOo

Perjalanan itu ditempuh dalam suasana yang hening dan mengerikan. Kyuhyun terdiam dan beberapa kali terlihat menggertakkan gerahamnya, menahan marah. Sementara itu Sungmin begitu tegang menantikan luapan kemarahan Kyuhyun.

Baru beberapa hari mereka menikah dan Sungmin sudah begitu takut menghadapi kemarahan Kyuhyun.

Oh, Kyuhyun tidak memukulnya, sama sekali tidak ada yang mengarah kepada kekerasan ketika Kyuhyun marah, satu-satunya tindakan kasar yang dilakukan Kyuhyun adalah menarik dan mencengkeramnya tadi, yang membuat pergelangan tangannya sakit. Sungmin entah kenapa yakin Kyuhyun tidak akan memukulnya atau melakukan kemarahan fisik kepadanya. Tetapi yang ditakutkan Sungmin adalah serangan verbal Kyuhyun. Bagaimanapun juga Sungmin mencintai Kyuhyun, dan kata-kata kasar Kyuhyun kepadanya mempunyai efek yang berpuluh-puluh kali lebih menyakitkan.

Dia menoleh ke arah Kyuhyun yang sedang menyetir dan bertanya dengan takut-takut,

"Kenapa kau begitu membenciku Kyu? Jungmo bilang kau sebenarnya tidak mencintaiku dan sedang berusaha menjebakku ke dalam pernikahan, entah karena apa."

Kyuhyun melirik sinis ke arah Sungmin, lalu berucap tak kalah sinis. "Hebat sekali kekasihmu itu memberikan analisa tentang diriku."

Sungmin menghela napas panjang mendengar tuduhan Kyuhyun, "Sudah kubilang Jungmo bukan kekasihku, tidak akan pernah dan tidak akan bisa, dia seorang gay."

Kalimat itu membuat Kyuhyun mengerem mobilnya secara refleks karena kaget. Dia tertegun, lalu kemudian menjalankan mobilnya seperti semula dan bergumam ketus,

"Alasan yang sangat bagus, Lee Sungmin. Tapi aku tidak percaya."

"Kau bisa menanyakan sendiri kepada Jungmo, dia mengatakan kepadaku bahwa dia gay dan dia merahasiakannya sudah sejak lama."

Kyuhyun menatap Sungmin dengan tajam, "Kalian mungkin saja sudah berkomplot untuk membodohiku, mengira bahwa aku tidak akan curiga ketika tahu bahwa Jungmo gay. Tetapi maaf saja Sungmin, aku tidak sebodoh itu sehingga begitu mudahnya kau tipu."

"Kenapa kau jadi seperti ini Kyuhyun?" Air mata mulai mengalir di sudut mata Sungmin, duduk di sini dan melihat suaminya tampak begitu membencinya benar-benar menyakiti hatinya.

Kyuhyun mengetatkan gerahamnya, tidak berkata-kata lagi, dan mengabaikan ucapan Sungmin.

Membiarkan perempuan itu terisak-isak selama perjalanan mereka pulang.

Dan ketika itu juga, di benak Sungmin muncul suatu keputusan bulat. Buat apa mempertahankan perkawinan yang sepertinya sudah hancur sebelum dimulai ini?

oOo

Ketika Kyuhyun memarkir mobil di depan, dia langsung keluar dan memutari mobilnya, lalu membuka pintu penumpang di sebelah supir, sebelum Sungmin sempat keluar.

Sekali lagi dia mencekal lengan Sungmin dan memaksanya keluar,

"Ayo." Gumamnya marah.

Sungmin berusaha melepaskan diri dari pegangan Kyuhyun, tetapi cekalan tangan lelaki itu begitu kuatnya,

"Sakit Kyu!" Sungmin berteriak ketika Kyuhyun menyeret lengannya menaiki tangga, tetapi Kyuhyun tampaknya sudah mengeraskan hatinya sehingga tidak mempedulikan kesakitan Sungmin.

Mereka menuju kamar Sungmin, bukan kamar utama, Kyuhyun membuka pintu kamar itu dan mendorong Sungmin masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.

Tiba-tiba perasaan terancam menyelubungi benak Sungmin, dia menatap suaminya yang berdiri dengan marah di dekat pintu dan merasa takut, takut akan tekad kuat yang menyala-nyala di mata suaminya.

"Apa yang akan kau lakukan Kyuhyun?"

Kyuhyun membuka jasnya dan melemparnya begitu saja, lalu melonggarkan dasinya.

"Menurutmu apa?"

Sungmin langsung mundur beberapa langkah menjauhi Kyuhyun, apakah lelaki ini akan melakukan apa yang ditakutkannya? Mungkinkah Kyuhyun sekejam itu?

"Kumohon jangan." Sungmin bergumam, ketika menyadari bahwa Kyuhyun benar-benar akan melakukannya.

Kyuhyun tersenyum sinis, "Aku tahu di kepalamu penuh dengan pemikiran licik, berputar mencari jalan untuk bercerai. Tetapi aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkanmu melenggang bebas dengan bahagia." Kyuhyun maju selangkah membuat Sungmin langsung mundur selangkah ketakutan, "Kau istriku, dan aku suamimu, sepertinya aku harus membuatmu menyadari posisimu."

"Jangan Kyuhyun." Sungmin bergumam lagi, berusaha menyadarkan lelaki itu yang entah kenapa tampak begitu marah dan tidak bisa menahan diri.

Tetapi Kyuhyun tidak mempedulikannya, dia merenggut Sungmin, dan mendorongnya ke ranjang, ketika Sungmin mundur dan hendak bangkit dari ranjang, Kyuhyun mencengkeramnya dan menindihnya.

Sungmin berteriak sekuat tenaga, berusaha menyingkirkan Kyuhyun, tetapi tubuh lelaki itu terlalu berat, terlalu kuat, dan apalah dayanya, seorang perempuan lemah dibawah kuasa lelaki yang sedang penuh kemarahan?

Pada akhirnya pertahanan Sungmin berubah menjadi air mata, air mata sakit hati dan penderitaan. Ketika suaminya akhirnya merenggut kesuciannya dengan kasar dan tanpa perasaan, tidak mempedulikan kesakitan dan tangisan permohonannya.

Ini adalah malam pertama yang sama sekali tidak pernah diimpikan oleh Sungmin. Penuh pemaksaan, dirinya direndahkan bagaikan seorang pelacur, dan penuh rasa sakit, luar dalam.

Dan ketika lelaki itu selesai melampiaskan kemarahannya, lalu berdiri dengan tergesa memakai pakaiannya kembali, dan melangkah pergi meninggalkan Sungmin yang terbaring dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dengan pakaian setengah robek dan acak-acakan, dan penuh air mata, hati Sungmin hancur seketika.

Ingatannya melayang kepada ibunya yang penuh kasih dan selalu mendoakan kebahagiaannya suatu saat nanti, mendoakan agar Sungmin menemukan suami yang penuh kasih dan bisa menjaganya.

Sungmin menggingit bibirnya, tersengal atas tangis yang pekat.

"Ibu... aku diperkosa..." rintihan itu diselingi tangis, dan Sungmin memanggil nama ibunya, merindukan pelukan ibunya dan elusannya yang menenangkan, dan begitu kesakitan ketika menyadari kenyataan bahwa dia sendirian dan sebatang kara.

.

.

.

TBC/END ?

Sorry readers baru update sekarang :'( . kemarin saya lagi badmood sungguh… part ini sungmin ironis banget ya? Jadi nyesek sendiri :'(. Reviewnya dikit ya? Kekeke… banyakin lagi dong :P.

Oh ada yg nanya knpa judulnya ga pke remake kyumin? Tadinya udh aku pake, trus mlah salah naro jdinya judul " Pembunuh Cahaya Remake Kyumin" itu di taruh dip ling atas halaman pertama.. sekali lagi maafkan saya.. kadang kala sering khilaf, jadi maklumi :D