Author:"wah maaf telat update, soalnya saya menunggu kuota, biasanya sih sebulan sekali"

Mi Yan:"halah balas review aja sudah sana"

Author:"oke, dan kamu balik perang sana"

Mi Yan:"baik"(pergi)


-xtreme guavaniko-

Author:"looking forward!"

Zhang Liao:"kalimat gue!"

Author:"pinjam"

Ya, Xia Pi dibakar oleh Lu Bu, tapi kalo sejarah aslinya saya ga tau, (*Author membuat cerita dengan otak yang gaje, harap dimaklumi*). Mi Yuan, memang hampir sama dengan Mi Yan namanya, namanya juga kaka adik XD

Oke thanks to review.


-fanficmember-

Saya maklumin karna ceritanya terlalu panjang XD

Benar Cao Pi merayu, anda benar sekali (kasih jempol), masa lalu Mi Yan itu kelam, atau ga sedih, atau (ditabok karna kebanyakan 'atau' ) oke thank to review.

-Lee Xia-

Bulu ayam? Nama julukan yang bagus (catat)

Lu Bu:"gue Lu Bu!"

Author:"dibalikkan jadi Bu Lu"

Lu Bu:(lempar Author ke kuali)(?!)

Oke thanks to review.

-scarlet and blossoms-

Kyaaaaaa om keren jadi Masamune, makin keren

Xiahou Dun:"ga mau, aku lebih suka menjadi diriku sendiri"

Author:"ya udah"

Oke thanks to review.

-Kirina Fujisaki-

Iya, Mi Yan imut banget waktu kecil, dia sungguh imut. Lu Bu memang kejam harap dimaklumi, sudah itu jelek pula (Author ditebas Lu Bu pake tempe goreng), kyaaaa om keren gituloh (peluk Xiahou Dun)

Xiahou Dun:"balik nulis didepan laptop sana!"

Oke thanks to review.

-KuroragiUum-

Cao Cao:"gyaaaaa jari gue!"

Author:"Mi Yan peluk kaka Kuroragi sana, supaya ga nangis lagi, hitung hitung dapat rejeki meluk kaka Kuroragi"

Oke thanks to review.


Royal Kingdoms: The Justice

By:Aiko Ishikawa

Rated:K+

Genre:adventure,humor

-all character belong to Koei, ada OC dalam ni cerita-

Warning:seperti biasa ceritanya gaje amat, kemungkinan OOC, cerita lari dari sejarah (?) dan hal hal yang ga akan ditemukan dalam sejarah aslinya, satu lagi Author terlibat dalam cerita (baca:mengganggu)

Summary: semua orang saling menaklukan satu sama lain, saling membunuh, apakah didunia ini sudah tidak ada lagi keadilan, apakah semuanya sudah mengikuti hukum rimba 'siapa yang kuat dia yang menang' apakah keadilan sudah lenyap didunia?


Chapter:4

-kekalahan Yuan Shao-

"kau kenapa Mi Yan?" tanya Cao Pi, Mi Yan hanya diam, entah kenapa tiba tiba rasa ketakutan akan perang muncul secara tiba tiba. "kau kenapa Mi Yan?" tanya Cao Pi lagi, "hentikan perang ini" kata Mi Yan, "itu mustahil" bantah Cao Pi, "ta,tapi perang ini banyak orang yang tak bersalah harus mati, apa pangeran tidak merasakan hal itu?" tanya Mi Yan pada Cao Pi, Cao Pi hanya diam seribu bahasa dia tidak dapat menjawab pertanyaan Mi Yan, yang memang benar kalau perang itu banyak yang harus mati.


"Yang Mulia Cao Cao, saya sudah membunuh dua prajurit terkuat Yuan Shao, yaitu Yan Liang dan Wen Chao" kata Guan Yu sambil memberi hormat. "terima kasih Guan Yu" kata Cao Cao tersenyum. "kalau begitu bolehkah saya pergi" kata Guan Yu, "pergi?" tanya Cao Cao

"ijinkan saya pergi, saya ingin bertemu dengan saudaraku" kata Guan Yu memohon, "maksudmu Liu Bei?" tanya Cao Cao, "iya" kata Guan Yu, "aku mengijinkannya" kata Cao Cao tersenyum. Guan Yu memberi hormat setelah itu pergi, Xu Huang yang melihat kepergian Guan Yu menghentikannya, "anda mau kemana master Guan Yu?" tanya Xu Huang sambil menghentikan langkah kuda Guan Yu, "aku akan pergi menemui saudaraku" jawab Guan Yu, Xu Huang hanya memandangi Guan Yu, "begitu ya, saya sungguh kagum pada anda, master Guan Yu" kata Xu Huang tersenyum, "kagum?" tanya Guan Yu, "anda dapat membunuh dua jendral terkuat Yuan Shao" kata Xu Huang, "aku hanya melakukan tugas yang diberikan pada Yang Mulia Cao Cao, dan anggaplah ini balas budi akan bantuanmu di perang Xia Pi" kata Guan Yu, "begitu ya, kalau anda ingin pergi, apa anda sudah mendapatkan ijin dari Yang Mulia Cao Cao?" tanya Xu Huang, "sudah temanku" kata Guan Yu, "kalau begitu silahkan, maaf saya menggangu" kata Xu Huang sambil mempersilahkan Guan Yu lewat, "terima kasih" Guan Yu memacu kudanya pergi.


"sialan, kenapa mereka tidak ada habisnya!" Xiahou Dun terus melawan prajurit Yuan Shao yang banyak itu. Zhang Liao juga membantu Xiahou Dun untuk mengambil Bai Ma dari Yuan Shao, tapi musuh terlalu banyak, "JANGAN BIARKAN MEREKA MENGAMBIL BAI MA!" perintah sang komandan. "tidak berguna!" Xiahou Dun tidak kuat lagi untuk melawan prajurit Yuan Shao yang begitu banyak. "master Xiahou Dun!" Zhang Liao menghampiri Xiahou Dun, tapi malang sekali nasibnya Zhang Liao terkena sayatan dilengan kanannya "ZHANG LIAO!" teriak Xiahou Dun.

"ukh!" Zhang Liao hanya memegangi lengan kanannya yang terluka, Xiahou Dun menghampiri dan melindungi Zhang Liao yang terluka "aku akan melindungimu, master Zhang Liao" kata Xiahou Dun sambil terus menyerang musuh walaupun tubuhnya sudah sangat lelah. Zhang Liao hanya memandangi Xiahou Dun yang bertarung demi melindungi dia, terlihat dari wajahnya rasa kecewa.


"jadi prajurit Cao Cao melemah" kata Yuan Shao, "benar yang mulia" jawab seorang komandan, "bagus" Yuan Shao sangat bersemangat karna kemenangan sudah didepan mata, "saat ini yang masih bertempur hanya jendral Xiahou Dun dan Zhang Liao, itupun mereka sudah sangat sekarat" kata komandan itu, "habisi mereka, dan serang kastil Guan Du dengan menara panah" perintah Yuan Shao, "baik!" kata komandan itu lalu pergi, "kemenangan ini milikku, kali ini kemenangan menjadi milikku!" kata Yuan Shao sambil mengacungkan tangannya kebulan.


"Guo Jia! Cepat laporkan pada Yang Mulia, kalau ada menara panah!" teriak Xu Huang, "baik" Guo Jia berlari menuju Cao Cao untuk mengabarkan serangan menara panah dadakan itu ( Readers:"Author, menara panahnya kan baru dikirim, kok sudah sampe, Author:"hanya Yuan Shao dan tuhanlah yang tahu")

"bukannya Yuan Shao tadi baru mengirimnya, kok sudah sampe sih, pake apaan dia?" tanya Cao Cao "aduh Yang Mulia, seharusnya kan anda bilang 'apa menara panah?' begitu" jelas Guo Jia, "aku lupa naskahku Guo Jia" kata Cao Cao sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal. Tiba tiba sang penulis yaitu Author muncul sambil membawa kertas dan berlari kearah Cao Cao, "aduh kenapa bisa sampe lupa naskahnya?" tanya Author, "maaf" kata Cao Cao sambil mengambil kertas dari tangan Author, "nih baca naskahnya" kata Author memberikan naskah ke Cao Cao, "ngomong ngomong ngapain situ kesini?" tanya Cao Cao, "ya memberi naskah ceritanya" kata Author, "diralat! Diralat ceritanya! Entar para Readers bingung!" teriak Guo Jia disamping telinga Author, "iya, iya" kata Author menutup telinganya, "kalau begitu balik nulis didepan laptop sana!" kata Cao Cao dan Guo Jia menendang Author secara bersamaan.

-ralat-

"Apa menara panah?!" Cao Cao shock berat bahkan ingin jantungan, "iya Yang Mulia" jawab Guo Jia.

"brengsek kau Yuan Shao!" kata Cao Cao, "apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?" tanya Guo Jia, "kamu ahli strategi kan?" Cao Cao balik bertanya, "Jia Xu juga ahli strategi" kata Guo Jia sambil melirik Jia Xu, "kita hanya perlu menghancurkan menara panah itu" kata Jia Xu sambil meminum kopinya (!) dengan nikmat. "caranya?" tanya Guo Jia dan Cao Cao bersamaan, "tanya kan Author" kata Jia Xu masih meminum kopinya. Cao Cao menarik Author dari depan laptop, "eh tunggu, saya masih pingin nulis" kata Author, "halah, nanti aja sekarang ini adalah masalah bagaimana caranya menghancurkan menara panah itu?" tanya Cao Cao, "wah saya ga tahu" kata Author, "tahu banyak dipasar" kata Guo Jia, "kalimat gue!" kata Author, "pinjam" kata Guo Jia, "sudah balik loe sana didepan laptop, biar nanti saya pikirkan cara yang paling ampuh" kata Cao Cao, Author balik ke laptop.


"sial mereka tambah banyak!" gerutu Xiahou Dun, "maaf master, gara gara aku, kau kesusahan" kata Zhang Liao.

Tiba tiba Zhang He muncul dihadapan mereka, "aduh cyin, kenapa sih masih ada cowo yang idup sih, capcai deh eike disuruh ngabisin cowo" kata Zhang He sambil memperhatikan Xiahou Dun dan Zhang Liao yang sudah sangat sekarat, sedangkan yang diperhatikan hanya bisa masang wajah jawdrop, "makhluk apaan itu?" kata Zhang Liao dengan tubuh bergemetar, "makhluk bumilah" kata Zhang He sambil berdandan, "hei makhluk bencong pasar tanah Abang! (?!), kalo mau berantem saya terima!" teriak Xiahou Dun, "eike harus cantik, jadi eike harus dandan deh" kata Zhang He masih terus berdandan.

Xiahou Dun dan Zhang Liao muntah 15 ember, "terlalu! Dasar banci botol kecap! Terima ini!" kata Xiahou Dun menyerang Zhang He.

Triiing!

"sabar, eike masih bedandan , jadi ancur kan bedak eike" kata Zhang He sambil menahan serangan Xiahou Dun.

"nggak ada waktu bedandan banci! Ayo bertarung!" amarah Xiahou Dun sudah sampe puncak karna Zhang He terus bicara soal bedak, padahal wajahnya sudah cantik kaya aspal jalanan (Author dicakar Zhang He) well kembali ke cerita.

"aduh cyin, jangan serang eike deh, iih jijay deh ngeliat pak tua kaya kamyu" kata Zhang He sambil melompat kebelakang like a ninja, "aku masih muda! Bahkan si Author ngefan berat sama aku" kata Xiahou Dun sifat narsisnya yang entah dia ketularan siapa. Author muncul sambil teriak gaje, "OM KEREEEN!" teriak Author. "jangan panggil gue om keren, gue kan punya nama" kata Xiahou Dun. "sorry om keren" kata Author.

"iih, saposeh kamyu, nggak ada urusan deh" kata Zhang He sambil kembali bedandan.

-ralat-

"aduh cyin, jangan serang eike deh, iih jijay deh ngeliat pak tua kaya kamyu" kata Zhang He sambil melompat kebelakang like a ninja, "apa katamu?! Pak tua! Dasar banci botol kecap!" kata Xiahou Dun.

Entah kena apa, tiba tiba Zhang He langsung ambruk, "nah loh, kenapa tu banci?' kata Xiahou Dun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "saya sudah menyerangnya dengan musou attack, master Xiahou Dun" kata Zhang Liao.


Menara panah yang menyerang kastil Guan Du berhasil dihancurkan berkat strategi Cao Cao, (Author:"nah lho, kemana dua makhluk itu papi Cao Cao?", Cao Cao:"dua makhluk itu sedang melakukan aktifitas mereka masing, lupakan saja"). "akhirnya menara panah itu roboh, berhasil, berhasil ye!" kata Cao Cao sambil joget like a Dora.(?!)


"pasti Cao Cao kalah, untuk merayakan kemenangan kita, ayo kita berpesta" Yuan Shao meminum coklat panasnya (?) (*karna arak/ minuman memabukan hukumnya haram, jadi Author ganti coklat panas, lumayan menghangatkan saat dimalam yang dingin*), pesta minum Yuan Shao sangat meriah, padahal pasukan Cao Cao masih belum kalah, dibalik rerumputan ada empat mata yang memperhatikan mereka.

"wah pesta minum, ga ngajak ngajak" kata Guo Jia, "kau ini, tugas kita disinikan membunuh Yuan Shao" kata Xu Huang, mereka terus menunggu.

Setelah pesta minum minum itu selesai, Yuan Shao tidur dengan pulas, dan disaat itulah dua penguntit tadi (!) #plak# menyerang Yuan Shao yang sudah terlelap, dan Yuan Shao kalah.


Cao Pi kembali ke kastil Guan Du, Cao Cao yang melihat putranya kembali dengan selamat langsung berlari menuju Cao Pi dengan gaya slow motion (*halah lebay amat*) "Cao Pi syukurlah kau selamat, Mi Yan kau juga, dan..." Cao Cao tidak melanjutkan kalimatnya, dia terkejut melihat seorang wanita cantik yang berada disebelah Cao Pi, "Cao Pi! Siapa perempuan itu?! Kenapa kau bawa perempuan?!" kata Cao Cao sambil menunjuk Zhen Ji, "dia Zhen Ji ayah, calon menantu ayah" kata Cao Pi, "wah, kau pandai memilih, ternyata seleramu tinggi juga" puji Cao Cao, Mi Yan yang tidak mengerti akan pembicaraan antara Cao Pi dengan Cao Cao hanya bisa masang wajah nano nano.

-To Be Continued-


Akhirnya chapter 4 sudah saya selesaikan, butuh tiga hari (*halah ga usah lebay*), kalo menurut fakta sejarah kematian Yuan Shao, dia dibunuh saat sudah tertidur pulas, maklum dia kan lagi mabuk berat, mohon reviewnya ya, see you next chapter.

Next chapter: Zhang He dan Zhen Ji