Heart Beat
Chapter 4
Main cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Other cast : Lihat didalam cerita
Happy Reading!
.
.
Waktu semakin larut. Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 2:00 dini hari. Jangkrik-jangkrik mulai berbisik lirih bersenandung kecil menandakan bahwa malam sudah semakin larut. Sunyi senyap, hanya terdengar bunyi khas jarum jam yang terus berdetak sejak tadi.
Sejak berbaringnya Kyuhyun dikasur yang sama dengan dirinya-bahkan kini sedang tidur nyenyak-mungkin dibelakang tubuhnya begitu mengusik ketenangannya serta merta di perparah dengan kondisi ia yang dipeluk erat oleh pria itu membuat Sungmin tidak bisa menutup matanya sejak tadi.
Entah sudah berapa jam Sungmin hanya diam layaknya patung pajangan, tak bergerak sama sekali hanya membiarkan Kyuhyun untuk terlelap nyaman sambil memeluk tubuhnya. Sungmin sudah tidak memperdulikan tubuhnya yang sekarang menjadi tawanan tubuh Kyuhyun. Bahkan kini ia layaknya sebuah bantal guling yang bisa seenaknya Kyuhyun peluk dengan kaki nya yang melilit kuat dipahanya hingga ia terkunci tak bisa bergerak kemana-mana.
Otak Sungmin lebih tertarik untuk mengingat atau mungkin mengulang kembali percakapan nya siang tadi dengan Seohyun.
Flashback
Sungmin sudah duduk disofa yang berbeda dengan Seohyun. Ia menatap Seohyun penuh antisipasi. Berjaga-jaga jika mungkin wanita itu berbuat hal nekat, seperti mencekiknya-mungkin disaat ia lengah atau tidak Seohyun sedang menyembunyikan benda-benda tajam dibalik punggungnya itu yang bisa ia gunakan untuk membunuh dirinya jika ia kurang waspada.
Oke mungkin ini terdengar berlebihan. Tapi paling tidak Sungmin hanya berusaha untuk melindungi dirinya dari keganasan istri-istri bejat seorang Cho Kyuhyun. Ia tahu bahwa Seohyun dan Victoria itu sama. Sama-sama membenci dirinya. Jadi, mungkin saja mereka sedang menyusun rencana untuk menyingkirkannya saat ini.
" Sudahlah Sungmin-ah. Tak perlu takut padaku." Ucap Seohyun dengan tatapan geli.
Sungmin tak terlalu menanggapi bujuk rayu Seohyun padanya. Ia lebih tertarik untuk mengetahui apa tujuan yeoja itu datang kemari. Tidak mungkin hanya sekedar untuk sebuah sapaan basa basi. Pasti ada hal lain yang mendasari yeoja cantik itu hingga sampai nekat kemari menemuinya.
Bersikap sok baik padanya bahkan terkesan bersahabat dengannya, bukankah tadi malam tidak terjadi hujan badai atau sejenisnya hingga Seohyun bisa berubah baik seperti ini. Yang nyata-nyatanya wanita ular itu jauh dari kesan ramah saat pertama kali bertemu dengannya. Bahkan Sungmin masih sangat ingat moment buruk pertemuan nya dengan Seohyun waktu itu.
" Tak perlu bermanis kata. Cukup katakan saja apa maumu menemuiku." Ucap Sungmin tidak sabar.
Seohyun tertawa, tawa yang terkesan aneh menurut Sungmin.
" Kau ternyata orang yang tidak sabaran ya." Ujarnya terkesan mengejek.
Sungmin memutar bola matanya malas. Peduli apa ia dengan wanita ini.
" Oke. Aku akan langsung berbicara saja padamu." Kini Seohyun mulai menatap Sungmin serius.
Sungmin menengadah. Menunggu apa yang akan yeoja itu katakan padanya
" Aku tahu siapa Kyuhyun dengan baik dan bagaimana perangainya selama ini." Seohyun mulai menjabarkan penjelasannya. Penjelasan yang menurut Sungmin terlalu bertele-tele.
" Bisakah kau langsung keintinya saja." Pinta Sungmin malas.
Tak perlu di jelaskanpun ia sudah tahu seperti apa perangai Cho Kyuhyun itu. Pemaksa, keras kepala, egois, kejam, berhati dingin, emosional, bermulut tajam hingga satu-satu keburukan pada namja itu tidak bisa ia sebutkan karena terlalu banyaknya hal buruk yang melekat didalam dirinya. Apalagi yang tidak ia ketahui dengan tabiat buruk namja arogan itu.
Seohyun mendelik tak suka saat pembicarannya dipotong oleh Sungmin dengan seenaknya," Bisakah kau beri aku waktu untuk bicara." Selanya tajam.
Sungmin mengalah membiarkan Seohyun kembali melanjutkan penjelasannya yang berbelit-belit itu.
" Kyuhyun adalah type laki-laki yang mudah bosan. Pada apapun itu dan pada siapapun itu."
Sungmin menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti namun ia hanya diam membiarkan Seohyun terus berbicara. Seohyun menjeda ucapannya, seperti menimbang-nimbang untuk mengatakan kelanjutan ceritanya.
" Sungmin-ah. Aku akan membantumu keluar dari sini. Aku tahu kau pasti tidak kuat tinggal disini walaupun itu hanya sehari saja kan." Seohyun menatap wajah Sungmin penuh keseriusan.
Sungmin tertawa. Tawa sinis yang terkesan mengejek.
" Kau ingin membebaskan ku dari sini. Apa kau ingin menjadi superhero ku agar aku berterima kasih atau berhutang budi padamu dan setelahnya kau bisa seenaknya menginjak-injak harga diriku lagi, begitu." Kata Sungmin sarkatis. Bahkan nada bicaranya kini naik beberapa oktaf.
Tidak ada reaksi apapun dari Seohyun, ia hanya diam namun raut wajahnya begitu mengerikan jika dilihat.
" Aku sedang tidak bercanda Sungmin-ssi."
" Apa saat ini kau lihat aku sedang bercanda." Balas Sungmin sengit.
Mungkin disituasi berbeda Sungmin akan begitu sangat berterima kasih pada Seohyun kerena sudah mau membantunya bebas dari rumah neraka ini, tapi tidak untuk saat ini. ia bahkan begitu sangat kesal mendengar kata membebaskan keluar dari mulut siapapun itu termasuk Seohyun disaat semua mala petaka ini sudah menimpa dirinya.
Mengapa baru sekarang ada orang yang berniat ingin membebaskannya setelah pertunangan sialan itu terjadi.
Mengapa baru sekarang wanita ular ini menawarinya sebuah kebebasan setelah ia sedikit demi sedikit mulai menerima keadaannya yang menyedihkan ini.
Seohyun nampak menarik nafas. Mencoba tenang melihat api kemarahan masih berkobar dikedua bola mata Sungmin.
" Aku tahu ini mungkin sudah terlambat. Tapi aku ingin mencoba membantumu Sungmin." Kata Seohyun mencoba meyakinkan Sungmin akan kesungguhan niat baiknya yang ingin membebaskan namja manis itu dari jeratan tangan suaminya.
Sungmin sedikit meluruhkan tatapannya," Mengapa kau mau melakukan ini?" Tanya nya penuh intimidasi.
" Karena aku melihat kau seperti adikku. Adikku yang sudah meninggal akibat dari tangan-tangan bejat keluarga cho." Ada kemarahan disana. Sungmin melihat itu dengan jelas.
Sungmin tidak tahu dan mungkin tidak pernah ingin tahu bahwa Seohyun memiliki seorang adik yang sudah dibunuh oleh keluarga cho-kata wanita itu tadi. Namun satu hal yang menarik perhatian Sungmin.
" Lalu mengapa kau menikah dengan Cho Kyuhyun jika kau punya dendam dengan keluarga Cho dimasa lalu." Tanya Sungmin pada akhirnya.
Walaupun sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan kisah hidup wanita didepannya ini, namun Sungmin merasa ada yang janggal disini. Mengapa Seohyun mau menikah dengan Kyuhyun yang seorang keturunan Cho jika ia tahu bahwa keluarga Kyuhyun telah membunuh adiknya.
" Tidak hanya adikku bahkan seluruh keluargaku pun habis di tangan mereka." Lanjut Seohyun tanpa berniat menjawab pertanyaan Sungmin.
Sungmin baru tahu jika keluarga Cho bisa sekejam itu. Tidak heran kekejaman itu menurun pada Cho Kyuhyun.
" Bagi keluarga cho, seorang penghianat adalah musuh terbesar mereka. Dan ayahku termasuk orang yang berhianat itu. Setelah tahu penghianatan itu, mereka membabat habis seluruh keluargaku dan hanya menyisakan diriku saja."
" Aku pastikan bahwa saat ini kau masih menyimpan dendam itu." Tebak Sungmin.
" Tentu saja. Aku tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana mereka membunuh satu persatu keluargaku di depan mataku sendiri."
Sungguh kisah yang tragis. Itu yang bisa Sungmin simpulkan dari keseluruhan cerita Seohyun.
" Mengapa kau tidak membunuh Kyuhyun jika begitu."
" Aku masih ingin hidup. Kyuhyun itu punya mata dimana-mana. Jika aku salah sedikit saja, maka nyawaku taruhannya. Lagipula aku bukan orang yang naif Sungmin. Yang akan menolah begitu saja jika ada seseorang yang memberiku setumpuk uang serta kehidupan mewah tanpa aku harus bersusah payah mencarinya, seperti Kyuhyun."
Sungmin yakin Seohyun adalah satu diantara ribuan orang diluar sana yangg begitu menggilai uang. Tidak mengherankan. Cukup melihatnya saja, Sungmin sudah tahu bahwa Seohyun itu wanita gila uang. Sungmin mendesah, mencoba memahami situasi yang terjadi.
" Bagaimana jika Kyuhyun tahu bahwa kau membantuku untuk bebas dari sini. Bukankah nyawamu bisa saja menjadi taruhannya." Tanya Sungmin menantang.
Seohyun diam sesaat," Selama ini Aku sudah belajar banyak dari Kyuhyun bagaimana cara menipu itu." Sahutnya dengan seringai licik.
" Kau yakin?"
" Tidak pernah seyakin ini. Aku berjanji Sungmin, aku akan membebaskan mu dari sini secepatnya. Dan kau bisa hidup normal diluar sana tanpa gangguan ataupun ancaman dari siapapun."
Tawaran itu terdengar menggiurkan bagi Sungmin yang sekarang menyandang gelas sebagai seorang tahanan-bukan tahanan sel seperti kriminal-kriminal diluar sana, namun lebih kepada seorang tahanan rumah. Ia tak boleh pergi kemanapun tanpa pengawasan dari Kyuhyun. Bukankah itu terdengar menyedihkan, ia tak ubahnya seperti burung yang terkurung disangkar emas.
" Aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan dengan kakimu lagi jika kau berani berbohong padaku." Ancam Sungmin tak main-main.
Seohyun tersenyum mengangguk pasti," Aku akan berusaha agar kau bisa bebas secepatnya dari mansion ini. Namun kau pun harus membantuku Sungmin-ah."
Sungmin mengerut bingung," Apa?"
" Aku tadi sudah memberi tahu padamu bahwa Kyuhyun itu mudah bosan pada apapun itu dan siapapun itu. Dan aku yakin cepat atau lambat ia pun akan bosan padamu."
Kata-kata itu terdengar begitu kejam bagi siapapun itu. Seolah-olah kau hanya berupa barang yang indah sesaat dan setelah rusak atau cacat, kau akan dibuang tanpa mau dipungut oleh siapapun lagi karena kau sudah tidak berguna lagi. Namun kata-kata itu tidak mempan untuk Sungmin. kalimat itu terdengar biasa saja ditelinganya.
" Lalu?" Tanya Sungmin lagi.
" Kau hanya cukup bersikap baik pada Kyuhyun. Dan disaat Kyuhyun sedang lengah padamu, kesempatan itu akan aku manfaatkan untuk membebaskanmu dari sini. Aku akan pastikan jejakmu tidak akan pernah bisa Kyuhyun lacak dimanapun itu."
Sungmin mengangguk menerima saran serta penjelasan Seohyun. Rencana itu terdengar masuk akal. Namun satu hal yang mengganjal dipikiran Sungmin, bisakah ia berbuat baik pada Kyuhyun? Disaat ia melihat Pria arogan itu saja, rasa amarah dan kebencian selalu berhasil menguasai akal pikirannya.
" Dan satu lagi. Kau harus berhati-hati dengan Victoria."
Flashback End
Sungmin mendesah. Terlalu buntu untuk mengartikan arti dari kata hati-hati yang Seohyun peringatkan untuknya. Lalu mengapa Victoria. Apa wanita itu memang sebegitu berbahaya lebih dari yang ia kira. Namun demi kebaikan serta kelancaran rencana mereka, untuk kali ini ia harus menuruti perkataan Seohyun dulu. Ia harus berbuat baik pada Kyuhyun dan harus lebih waspada dengan Victoria.
" Kau masih terjaga?" Serak suara Kyuhyun menyapa indra pendengaran Sungmin. Namja manis itu sedikit memperbaiki posisi berbaringnya.
Kyuhyun sedikit mengangkat tubuhnya untuk menatap wajah Sungmin," Kau merasa tidak nyaman?" Tanya nya.
Tentu saja bodoh. Jadi, bisakah kau menyingkir atau perlu pergi dari kamar ini sekarang juga maki Sungmin yang hanya bisa ia teriakkan didalam hati.
" Anniyo. Aku terbangun karena merasa sedikit dingin." Jawab Sungmin mencoba memejamkan matanya. Seakan ia kembali ingin tidur lagi.
" Diluar memang sedikit berangin. Aku akan menghidupkan pemanasnya kalau begitu." Sungmin merasakan Kyuhyun sedikit bergerak untuk mengambil sesuatu diatas meja nakas sebelum terdengar bunyi klik pelan.
Sekarang kamar mewah itu berubah menjadi hangat. Kyuhyun rupanya menghidupkan pemanas ruangan.
" Sudah hangat sekarang." Kyuhyun pun turut menaikkan selimut sebatas leher Sungmin kemudia disusul dirinya yang kembali berbaring disamping Sungmin dengan masih memenjarakan tubuh mungil itu didalam dekapannya.
Sungmin diam tidak menjawab sama sekali. nafasnya dibuat senormal mungkin layaknya orang yang sedang tertidur.
'Tahan Sungmin, tahan. Semua ini hanya sementara' Bisik batin Sungmin.
.
.
Pagi menjelang. Sungmin sudah bangun pukul 6 pagi tadi. Saat terbangun tadi, Sungmin sudah tidak mendapati Kyuhyun lagi diranjangnya atau dimanapun disudut ruangan ini. Dan kabar baiknya lagi, ia tidak perlu menarik urat marah-marah dipagi buta seperti ini jika Kyuhyun sudah tahu diri untuk menyingkir lebih dulu sebelum ia usir. Mungkin pria itu kembali kekamarnya, Sungmin tidak perduli.
Sungmin sudah mandi sejak ia bangun tadi. Rambut hitam pekatnya pun terlihat masih basah. Tidak banyak yang bisa Sungmin lakukan didalam kamar mewah ini saat pagi menjelang selain duduk-duduk bosan di balkon kamarnya. Melihat matahari pagi yang mulai naik menyinari kota Seoul serta ia hanya diam menunggu Park ahjumma menjemputnya untuk sarapan pagi dimeja makan. Karena Kyuhyun tidak memperbolehkan ia keluar lagi setelah insiden percobaan Sungmin untuk melarikan diri waktu itu.
Sungmin masih berfikir. Sikap apa baiknya yang harus ia tunjukkan didepan Kyuhyun atau paling tidak bagaimana ia memulai untuk berlaku 'baik' seperti apa yang Seohyun sarankan padanya.
Haruskan ia mulai mengatur dari ucapannya, sedikit lembut mungkin. Karena biasanya ia berbicara pada Kyuhyun layaknya orang yang berbicara pada orang tuli. Atau dari sakapnya yang harus mulai mengalah tidak mencoba melawan Kyuhyun lagi mungkin, molla. Sungmin masih belum tahu apa yang harus ia lakukan pada Kyuhyun agar rencana mereka berjalan dengan lancar tanpa cacat sedikitpun karena kelakuannya.
" Tuan Lee, waktunya sarapan. Tuan cho sudah menunggu anda di meja makan."
Sungmin tersentak dari pikirannya yang bercabang. Ia melihat matahari sudah naik bahkan dengan terik bersinar diatas sana. Sudah berapa lama ia melamun sampai tidak tahu waktu bahkan ia tidak menyadari Park ahjumma masuk kekamarnya.
Sungmin mengangguk, bergegas mengikuti Park ahjumma yang menuntun jalannya didepan sana.
.
.
Sungmin melihat Kyuhyun yang sudah ada dimeja makan. Pria itu juga sudah rapi dengan setelan jas mahalnya, begitu menegaskan bahwa ia bukanlah orang sembarangan. Kini Sungmin beralih menatap kesisi dimana disitu sudah ada Victoria yang sedang menikmati bacaannya dan Sungmin tebak itu pasti majalah fashion. Lalu Sungmin beralih menatap Seohyun yang juga sedang menikmati roti panggang yang dilumuri dengan keju panas ditangannya.
Sungmin mengambil tempat duduk seperti biasa, disamping Kyuhyun. Ia mulai memakan roti yang sudah diolesi selai coklat didalam piringnya.
Keadaan meja makan itu hening, seakan para penghuni meja itu memiliki dunia mereka masing-masing sebelum suara sendok dan piring yang bertabrakan terdengar dari Kyuhyun. Pria tampan itu sudah selesai dengan sarapannya dan kini ia masih sibuk membersihkan mulutnya dengan tisu. Sungmin tidak perduli, memilih diam dan kembali melanjutkkan sarapannya yang tinggal setengah.
" Sungmin." Sungmin menoleh saat Kyuhyun menyebut namanya.
" Hari ini aku sudah meminta Kim Ryeowook untuk mengantarmu berbelanja pakaian." Sungmin menaikkan sebelah alisnya bingung mendengar nama asing lagi disebut oleh Kyuhyun terlebih mengapa pria ini mengijinkannya keluar tanpa pengawasan darinya. bisa saja kan ia kabur disaat Kyuhyun lengah.
" Dan jangan pernah bermimpi kau bisa kabur dengan mudah dari genggamanku." Sela Kyuhyun tajam seakan tahu isi pikiran Sungmin.
Sungmin membuang pandangannya sedikit kesal," Kim Ryeowook, nugu?" Tanya nya.
" Ia adalah asisten pribadimu mulai hari ini. orang yang akan melayanimu, menyediakan semua kebutuhanmu disini." Jelas Kyuhyun.
Sungmin menggeram tak suka. Kebiasaan Kyuhyun yang selalu seenaknya semakin membuat ia muak dengan sejuta peraturannya itu. Apa-apaan ini. Ia bukan lagi anak kecil yang harus diurus oleh orang lain.
" Aku tidak mau. Kau fikir aku seorang bayi yang tidak bisa mengurus diriku sendiri." Protes Sungmin tidak terima.
" Tidak ada bantahan Lee Sungmin. setiap istriku memang sudah aku sediakan satu asisten pribadi yang akan mengurus mereka dan itu pun berlaku padamu." Ujar Kyuhyun dingin.
Sungmin beralih menatap Seohyun dan Victoria secara bergantian yang seakan tidak perduli akan kehadiran nya serta perdebatannya dengan Kyuhyun. Sungmin memejamkan matanya mencoba sabar.
" Dan ini. kau bisa menggunakannya semaumu." Kyuhyun menyerahkan sebuah kartu berwarna kuning emas pada Sungmin.
Selepasnya Kyuhyun pergi dengan meninggalkan sejuta kekesalan yang sangat pada namja manis yang masih betah menatap punggung tegapnya hingga menghilang dari ruangan itu.
Sungmin mengepalkan tangannya marah. Ia benci diatur apalagi oleh orang brengsek macam Cho Kyuhyun itu. Dan apa ini, credit card. Apa Kyuhyun pikir ia ini seorang pengemis.
Suara kursi berderit menyebabkan Sungmin mengalihkan fokus menatap Victoria yang melenggok pergi tanpa sepatah katapun meninggalkan meja makan.
Sungmin menatap heran yeoja itu. Tumben sekali ia tidak memancing keributan dengannya pagi ini. namun toh itu lebih baikkan, setidaknya ia bisa menormalkan urat lehernya agar tidak kembali tegang seperti sebelumnya karena kesal.
Sungmin kembali menatap Seohyun yang ikut berdiri. Wanita itu menatapnya sekilas sebelum ikut pergi menyusul langkah Victoria. Sungmin sungguh dibuat heran pagi ini, ada apa dengan dua ular itu. Mengapa mereka bersikap aneh sekali pagi ini.
Sungmin mengedikkan bahunya acuh, tidak ingin ambil pusing dengan penyebab keanehan yang terjadi dirumah ini. ia lembali melanjutkkan sarapan paginya yang tertunda. Marah disaat perut lapar bukanlah pilihan bagus menurut Sungmin.
.
.
Sungmin tengah duduk-duduk ditaman belakang dengan ditemani satu gelas susu vanilla dan sepiring cemilan ringan menikmati angin yang berdesir lembut dipagi hari. Hari ini ia tidak terkunci lagi didalam kamar mewah itu. Mungkin Kyuhyun sedikit memberinya kebebasan walaupun hanya sebatar berkeliaran didalam rumah.
Jangan berharap Sungmin bisa keluar dari mansion ini saat banyaknya bodyguard Kyuhyun yang ada dimana-mana, mengawasinya. Tapi paling tidak ia bisa menikmati hidup tanpa harus terkurung seperti seorang tahanan.
Sungmin begitu sangat bersyukur hari ini Seohyun dan Victoria pergi dari rumah untuk urusan yang penting, itu yang sempat ia dengan dari Park ahjumma tadi pagi saat ia tidak sengaja melewati dapur
Seohyun pergi entah kemana dan Victoria, kata Park ahjumma tadi ia sedang pergi mengecek butiknya. Sekarang tinggal ia sendiri saja dirumah ini. tanpa pengganggu atau pencekcok yang selalu memancing amarahnya untuk berdebat urat leher. Paling tidak ia bisa sedikit bersantai pagi ini.
" Tuan Lee." Sungmin menoleh. Melihat seorang laki-laki yang bisa terbilang mungil dengan senyum manis dibibirnya sedang bersimpuh disamping kursi yang ia duduki.
" Apa yang kau lakukan dibawahnya, berdirilah." Pinta Sungmin hendak membantu pria mungil itu berdiri dari bersimpuhnya.
" Tidak tuan Lee. Tuan cho akan marah jika tahu saya sudah lancang pada tuan." Lirihnya yang masih enggan untuk bangun.
Tunggu dulu. Apa pria mungil ini adalah Kim Ryeowook, persisi seperti apa yang Kyuhyun bicarakan tadi pagi tentang asisten pribadinya.
" Kau Kim Ryeowook?" Tanya Sungmin memastikan.
Pria mungil itu tersenyum sebelum mengangguk pasti," Ya tuan. Saya Kim Ryeowook, orang yang akan mengurus segala kebutuhan tuan Lee."
Sungmin mengangguk. Tapi pria ini terlalu mungil untuk ukuran seorang asisten yang akan bekerja 24 jam tanpa henti. Ia pria ini kuat bekerja selama itu.
" Hari ini tuan cho meminta saya untuk menemani tuan Lee berbelanja." Jelasnya lagi dengan terus menundukkan kepalanya dalam. Seakan pantangan baginya jika melihat atau melirik wajah Sungmin sedikit saja.
Sungmin risih. Bahkan sangat risih dengan perlakuan asistennya ini. apa semua asisten sama perlakuannya seperti apa yang Ryeowook lakukan sekarang. Ia bukan seorang raja atau kaisar yang setiap orang yang bertemu dengannya harus bersimpuh dengan kepala menunduk layaknya tersangka pembunuhan.
Ia hanya Lee Sungmin orang biasa bahkan mungkin terkesan miskin yang sedang beruntung saja seperti layaknya cinderella. Jadi Ryeowook tidak perlu terlalu berlebihan hingga harus sampai bersimpuh seperti ini.
" Bangun. Aku tidak nyaman berbicara tanpa menatap seperti ini." Sungmin melirik tubuh Ryeowook yang sedikit bergetar mendengar nada bicaranya yang datar. Apa permintannya ini terlalu berlebihan hingga membuat pria mungil itu gemetaran begini.
" Tapi tuan.."
" Bangunlah. Apa kau tidak mendengar." Paksa Sungmin sedikit kesal. Ia baru tahu pria mungil itu sedikit keras kepala jika menyangkut melanggar aturan.
" Ba.. baik tuan Lee." Dengan ragu tubuh mungil itu bangkit dari bersimpuhnya, berdiri dengan tubuh yang masih sedikti membungkuk serta wajah yang masih setia menunduk.
" Kau terlihat takut padaku."
" Dalam peraturan saya dilarang untuk menatap langsung wajah majikan. Itu suatu kelancangan tuan Lee."
Isi perjanjian yang sungguh tidak masuk diakal. Dan Sungmin tahu, orang gila mana yang sudah seenaknya membuat perjanjian konyol itu. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun si pria brengsek itu. Hanya dia orang satu-satunya yang gila membuat sejuta peraturan dengan sangat tidak masuk akal seperti ini.
" Lupakan perjanjian itu jika kau sedang bersama ku. Sekarang aku majikanmu kan bukan Cho Kyuhyun itu, jadi kau harus menuruti semua perkataanku mulai saat ini." Sungmin ingin tertawa sakin lucunya dengan perkataannya saat ini. ia terlihat seperti majikan yang kejam, tapi mau bagaimana lagi agar Ryeowook mau merubah sikap nya yang suka menunduk itu selain dengan jalan memerintah.
" Dan aku perintahkan agar kamu tidak menunduk atau bersimpuh lagi jika didepanku, mengerti." Ultimatum Sungmin lagi. Ryeowook mengangkat wajahnya penuh keheranan.
" Mungkin juga kita bisa berteman." Sambung Sungmin lagi dengan senyum tipis.
Mungkin ia bisa berteman dengan Ryeowook. Dia terlihat baik dan polos. Lagipula ia tidak punya teman disini kan, dengan kehadiran Ryeowook mungkin saja ia bisa menjadi teman untuknya bercerita kan.
Ryeowook semakin terpekur tidak percaya. Selama ini didalam benaknya, ia selalu membayangkan mungkin saja ia akan memiliki seorang majikan yang kejam, berwajah seram dan selalu berkata-kata kasar. Namun setelah bertemu Sungmin, semua prasangka buruk itu lenyap seketika. Bahkan majikannya ini menawarinya untuk berteman. Satu lah yang sangat jarang terjadi dikalangan asisten sepertinya.
" Tuan Lee." Gumam Ryeowook.
Sungmin tertawa kecil, merasa lucu dengan ekspresi yang Ryeowook perlihatkan saat ini. mungkin permintaannya terlalu mengejutkan untuk pria mungil itu sampai terpaku dengan mulut yang sedikit menganga syok.
.
.
Sungmin dan Ryeowook memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang terbesar di seoul. Mall ini adalah salah satu dari sekian mall yang Kyuhyun miliki, itu yang sempat Ryeowook jelaskan padanya tadi selama di mobil. Tidak mengherankan jika Kyuhyun bisa sekaya ini dan membangun mall yang begitu besar.
Mereka terus masuk masih dengan diiringi beberapa bodyguard yang Kyuhyun perintahkan dibelakang mereka yang selalu setia mengikuti kemanapun Sungmin pergi layaknya seekor lalat.
" Bisakah kalian menjauh. Kalian membuatku tak nyaman." Pinta Sungmin putus asa, belum lagi pandangan aneh orang-orang pada dirinya. Mungkin mereka menganggap ia adalah seorang akan kecil yang butuh penjagaan ekstra dari beberapa bodyguard disisinya.
Sungmin merasa tidak leluasa jika mereka terus mengikutinya macam parasit.
" Maaf tuan Lee, kami tidak bisa."
Oke, cukup sudah. Sungmin sudah bosan mendengar jawaban yang selalu sama dalam kurun waktu 1 jam ini. dengan menghentak kesal, Sungmin menarik tangan Ryeowook untuk pergi dari sana yang tentunya masih diikuti oleh bodygurad Kyuhyun yang gila-gila itu.
.
Sungmin saat ini ada ditoko pakaian yang menjual berbagai jenis sweater. Ia hanya duduk bosan disalah satu sofa melingkar yang berada ditengah ruangan sambil menunggu Ryeowook yang masih memilih sweater yang pas untuknya didalam sana.
Bertanya mengapa tidak Sungmin saja yang mencari pakaian yang cocok dengannya. Namja manis itu beralasan bahwa ia malas sekali hanya untuk sekedar memilih pakaian yang cocok dengannya, jadi ia menyerahkan semua tugas itu pada Ryeowook untuk mencarikannya. Lagipula ia tidak terlalu pemilih dalam hal berpakaian. Asalahkan nyaman, ia akan memakainya.
" Tuan Lee bagaimana dengan ini." Sungmin menilai sweater yang berada dikedua tangan Ryeowook. Sebuah sweater rajut berwarna coklat lembut yang polos. Sungmin mengangguk pertanda ia suka dengan pilihan Ryeowook.
Ryeowook tersenyum puas. Ia kembali masuk kedalam toko mungkin ia ingin membungkus sweater itu, Sungmin tidak terlalu ambil pusing.
Namun satu lah yang membuat Sungmin tertarik. Dari kejauhan ia melihat seorang ahjussi sedikit tua dengan membawa sebuah pendang atau apapun itu Sungmin tidak terlalu jelas melihatnya, sedang berlari menuju kearahnya.
Sungmin tersentak. Ahjussi itu berlari kearahnya membawa sebuah benda tajam. Berteriak-teriak memanggil namanya serta menyebutnya sebagai seorang pembunuh.
" Lee Sungmin keluar kau. Dasar pembunuh. Kau yang sudah membuat anakku mati." Ahjussi itu terus berlari kalut mencari Sungmin.
Setelah menemukan Sungmin yang sedang duduk disebuah sofa didalam toko, ia langsung berlari layaknya orang kesetanan merangsak menuju kearah Sungmin dengan pedang yang mengancung-ancung kearah namja manis itu.
Tidak ada seorang pun yang berani mendekati ahjussi tua itu, mereka masih sayang nyawa hanya untuk sekedar menghalangi jalannya.
Sungmin bergetar ketakutan. Kebingungan serta merta merayapi isi kepalanya kala ahjussi tua itu terus menyebut-nyebut bahwa ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh anaknya apapun yang terjadi Sungmin pun tidak tahu.
" Aku akan membunuhmu Lee Sungmin." Teriaknya lagi namun kali ini lebih keras dari yang tadi.
Para bodyguard dengan sigap menahan ahjussi tua itu yang ingin menjangkau tubuh Sungmin dengan pedang di tangannya, memastikan ahjussi itu tidak bisa mencapai tubuh tuan mereka tanpa melukai tubuh mereka sendiri dengan pedang yang di bawa oleh ahjussi itu.
Sungmin semakin bergetar ketakutan. Keringat dingin mulai mengucur didahi putihnya. Melihat seseorang yang mengancung-acungkan benda tajam apalagi sebuah pedang tentu saja membuat Sungmin takut bukan main. Jika itu hanya pisau kecil, tidak masalah. Namun ini, sebuah pedang. Tidak ada satu orang pun yang mau tertebas pedang tajam yang dibawa ahjussi itu kecuali para bodyguard Kyuhyun, mungkin.
" Letakkan pedang anda itu tuan." Pinta salah satu bodyguard yang paling kekar. Ia maju perlahan-lahan kearah ahjussi tua itu.
" Jangan ikut campur. Menyingkir kalian dari jalanku atau tidak pedangku ini yang akan menebas kepala kalian semua." Teriaknya lagi membuat para mengunjung mundur ketakutan.
" Tuan akan dipenjara jika masih terus keras kepala seperti ini."
" AKU TIDAK PERDULI." Ahjussi tua itu mengibaskan tangannya membuat pedang ditangannya ikut bergerak membuat sebagian wanita menjerit takut.
Para bodyguard itu mundur sedikit. Mengintai waktu yang tepat untuk melumpuhkan ahjussi itu.
" Keluar kau Lee Sungmin. jangan bersembunyi macam pengecut seperti itu." Serunya lagi.
Para security berbondong-bondong datang. Mereka terkejut bukan main melihat kekacauan yang sudah ditimbulkan oleh ahjussi itu.
Sungmin terus meringkuk disofa. Menyudutkan dirinya seakan ia berusah untuk berlindung dari tangan jahat yang ingin melukai dirinya. Ia merasa kebas dengan keadaaan sekitar yang semakin kacau. Belum lagi teriak pria tua itu terus berdenging dikepalanya membuat Sungmin semakin pusing dibuatnya. Siapapun tolong aku jerit hati Sungmin.
Drtt..drtt
Diantara ketegangan yang terjadi. Ponsel yang ada disaku celana Ryeowook berbunyi tanda panggilan masuk. Cepat-cepat pria mungil itu mengangkat panggilan itu setelah melihat nama tuan Cho tertera sebagai si penelepon.
" Mengapa Sungmin tidak mengangkat teleponku. Suruh Sungmin untuk memegang ponselnya sekarang juga." Terdengar nada marah diseberang link sana. Bagaimana Kyuhyun tidak marah, ia sudah menelpon Sungmin beberapa kali namun tidak ada satu panggilan pun yang dijawab olehnya.
" Tuan.. tuan cho, ini gawat." Seru Ryeowook panik. Matanya begitu awas menatap kedepan lebih tepatnya menatap seorang ahjussi tua yang sedang menggilan diluar toko.
" Apa yang terjadi?"
" Seorang ahjussi datang tiba-tiba. Berteriak sambil mengancung-acungkan pedang pada tuan Lee. Ia terus berteriak mengatakan bahwa tuan Lee adalah pembunuh anaknya. Saat ini bodyguard tuan sedang mencoba untuk menahan ahjussi itu, tuan cho." Jelas Ryeowook dengan nafas terengah seperti habis maraton jauh.
" Tuan.. tuan cho, anda masih disana." Tidak ada sahutan sama sekali. Ryeowook melihat ponselnya. Sambungan telepon terputus. Kyuhyun memutusnya tanpa mengatakan apapun.
Ryeowook kembali menyimpan ponselnya. Ia beralih menatap sang majikan yang sudah pucat semakin memucat saja disudut sofa.
" Tuan Lee anda tidak apa-apa?" Tanya Ryeowook semakin cemas. Cemas dengan keadaan diluar yang begitu kacau sekaligus cemas dengan keadaan Sungmin yang jauh dari keadaan baik-baik saja.
Berkali-kali Ryeowook mengguncang pelan pundak Sungmin namun tidak ada reaksi apapun dari namja manis itu. Ryeowook mengigit bibirnya takut. Ia juga bingung jika situasinya sudah seperti ini.
Tanpa berfikir, Ryeowook meraih tubuh dingin Sungmin untuk dipeluknya. Mengabaikan satu peraturan yang tidak memperbolehkan nya untuk menyentuh langsung tubuh majikan, yang terpenting saat ini adalah kondisi Sungmin, majikannya. Ia harus memastikan majikannya ini baik-baik saja. Ryeowook sedikit meringis merasakan tubuh Sungmin begitu dingin didalam pelukannya.
.
.
Kyuhyun memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Sedari tadi ia ters memikirkan Sungmin selama dikantor, jadi semua itu adalah pertanda bahwa namja manis itu sedang dalam bahaya.
Wajah Kyuhyun mengeras. Siapa gerangan pria tua itu yang berani sekali mengusik miliknya. Barani-beraninya ia menodongkan pedang pada Sungmin. Apa pria tua itu ingin pedang nya sendiri menebas langsung urat lehernya hingga terputus.
Kyuhyun memacu mobilnya semakin cepat. Tidak perduli ia telah menerobos lampu merah sekalipun. Bahkan ia beberapa kali mendengar suara klakson disertai umpatan tajam dari pengendara lainnya saat dengan tiba-tiba ia menyelip tanpa tanda sama sekali. ia hanya ingin cepat sampai melihat dengan jelas kerusuhan yang dibuat ahjussi itu ditempatnya. Dan yang lebih utama ia ingin cepat sampai melihat keadaan Sungmin.
Wajah tampan itu sepenuhnya datar, tanpa ekspresi. Sangat sulit orang untuk mengenali apa yang sedang dipikirkan oleh Kyuhyun saat ini.
.
.
Kyuhyun sampai lebih cepat. Saat keluar dari mobil ia sudah disambut oleh beberapa bodyguard dan satu pegawai yang langsung mengambil alih mobil Kyuhyun untuk diparkirkan.
" Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Kyuhyun dingin.
Satu bodyguard maju selangkah menyamai langkah panjang Kyuhyun yang berjalan layaknya orang berlari.
" Maafkan kami tuan. Semua terjadi diluar perkiraan kami. Tapi kami masih berusaha untuk melindungi tuan Lee dari serangan brutal ahjussi itu."
" Mungkin meremukkan tubuhnya tidak akan pernah cukup bagiku." Desis Kyuhyun berbahaya.
Semua bodyguard terkesiap menunduk takut. Tidakkah ucapan Kyuhyun terlalu mengerikan untuk didengar. Tak bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi pada pria tua itu jika ia sampai bertatap muka langsung dengan Kyuhyun. Mungkin tubuhnya benar-benar akan remuk ditangan Kyuhyun.
Mereka sampai ditempat orang-orang berkerumunan menonton aksi brutal seorang ahjussi tua di sebuah Mall besar. Seakan tahu siapa yang datang, semua pengunjung yang menyaksikan perkelahian layaknya drama-drama roman picisan yang sedang merebutkan toboh wanita didalam cerita menyingkir memberikan jalan untuk Kyuhyun.
Kini Kyuhyun menyaksikannya langsung dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria tua itu yang dengan brutal merangsak para bodyguard nya yang mencoba untuk menghalangi jalannya untuk bisa menjangkau tempat Sungmin kini berada.
Sedangkan Sungmin, pria manis itu meringkuk takut diatas sofa didalam pelukan Ryeowook. Bola mata Kyuhyun seketika menggelap. Fokusnya hanya satu, pria tua nekat yang ingin mati hari ini ditangannya.
" Kim moon hyuk." Seru Kyuhyun dengan akses mematikan. Suaranya bagaikan lonceng kematian yang berdentang nyaring.
Pria tua yang ternyata bernama lengkap Kim moon hyuk itu menoleh kebelakang tepat pada Kyuhyun yang sedang berdiri tegap layaknya malaikat kematian dengan raut wajah datar tanpa ekspresi seperti biasanya.
Sikap brutalnya tadi menghilang digantikan dengan raut wajah terkejut melihat seorang Cho Kyuhyun ada didepan matanya. Berdiri tegak dengan bola mata yang menghunus tajam bagaikan pedang tak kasat mata yang siap untuk menguliti tubuhnya hidup-hidup.
" Tuan cho." Serunya dengan tampang tak percaya.
Semua orang bahkan seluruh dunia pun mengenal dengan baik siapa itu Cho Kyuhyun. Mereka mengagung-agungkan nya, memujanya layaknya seorang dewa. Miliyarder terkaya bertangan dingin yang selalu muncul menghiasi majalah-majalah pembisnis paling sukses kini tengah berdiri menatap lekat kearahnya.
" Kau terlihat baru selesai bersenang-senang. Sayang sekali aku tidak melihatnya dari awal." Tanya Kyuhyun maju selangkah demi selangkah
" Apa yang sedang kau lakukan disini. Berlatih drama?" Kalimat itu terdengar konyol layaknya lelucon basi untuk menghibur. Namun pancaran mata Kyuhyun, seakan siap meremukkan siapa saja yang berani mengusik dirinya.
" Tu.. tuan cho. Apa yang anda lakukan disini?" Tanya Kim moon hyuk terbata-bata. Dihadapkan dengan pengusa seperti Kyuhyun tentu saja membuat ia gemeratan tak terhingga. Apalagi dengan predikat buruk Cho Kyuhyun selama ini yang berhembus membuat ia semakin kebas ketakutan.
Kyuhyun menyeringai, menampakkan sosok iblis mengerikan yang bersemayam didalam tubuhnya. Sosok tua itu mundur teratur saat Kyuhyun semakin dekat padanya. Nyalinya yang tadi membumbung tinggi menciut seketika. Tidak ada yang mau berurusan dengan Cho Kyuhyun termasuk dirinya.
" Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan ditempatku ini." Kyuhyun berhenti. Berdiri beberapa meter dari pria tua itu.
" Dia." Tunjuknya pada Sungmin dengan penuh amarah.
" Dia seorang pembunuh yang telah membunuh anakku. Dia adalah pembunuh." Teriaknya membahana membuat sebagian orang berjengkit ngeri.
Kyuhyun maju. Menarik kasar kerah baju kumal milik pria malang itu. Kata-kata kasar itu berhasil mengantar Kyuhyun pada ujung titik kemarahannya.
" Seseorang yang kau sebut pembunuh itu adalah calon istriku." Bisik Kyuhyun mengerikan.
Kim moon hyuk terperangah dengan mulut menganga tak percaya. Ini sama saja ia mengantarkan nyawanya sendiri ketangan Cho Kyuhyun.
Kyuhyun membanting kuat tubuh ringkih itu hingga terpental kuat diatas lantai. Pria tua itu terbatuk-batuk keras merasakan lehernya yang kebas karena cengkraman erat Kyuhyun dikerah bajunya.
" Bawa dia. Aku akan membuat perhitungan padanya selepas ini." perintah Kyuhyun kepada beberapa bodyguardnya.
Tubuh ringkih itu meronta minta dilepaskan. Berteriak memohon pada Kyuhyun untuk mengampuni nyawanya.
Kyuhyun melongos tak perduli sambil menepuk tangannya seakan ia baru saja menyentuh benda kotor. Mata tajamnya beralih menatap kearah Sungmin.
Tanpa kata ia melangkah pelan kearah sofa sebelum berdiri tegak didepan tubuh Sungmin yang masih senantiasa bergetar walaupun sudah tidak terlalu kentara. Matanya tertutup rapat seolah takut untuk melihat pemandangan mengerikan itu lagi.
Kyuhyun mengisyaratkan agar Ryeowook pergi meninggalkan dirinya dan Sungmin berdua. Ryeowook mengangguk mengerti, melepas pelan pelukannya ditubuh Sungmin yang menyingkir sedikit jauh dari keduanya.
Kyuhyun berjongkok dibawah kaki Sungmin. tangan besarnya terulur menggenggam kuat tangan Sungmin. Sungmin meronta, sedikit terkejut bercampur takut saat merasakan ada seseorang menyentuh bagian tubuhnya.
" Lepas.. lepaskan aku hiks.." Tangis yang berusah Sungmin tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga membanjiri pipinya yang sudah memerah.
Ketakutan yang mendalam membuat tubuh mungil itu merespon cepat setiap ada sentuhan sekecil apapun yang mengenai kulitnya seperti saat ini. ia mengibas kuat tangannya agar terlepas dari genggaman Kyuhyun.
Mata Kyuhyun berkabut marah, melihat Sungmin begitu ketakutan merasakan sentuhannya.
" Diamlah. Ini aku Kyuhyun."
Sungmin mematung sesaat. Rontaannya pun seketika berhenti. Mata yang semula terpejam sedikit pelan terbuka menampakkan sepasang bola mata sejernih berlian berkabut karena airmata. Sungmin menatap kosong wajah Kyuhyun yang ada dihadapannya.
Bola mata jernih itu memancarkan raut kebingungan, ketakutan serta sedikit kemarahan disana yang berwujud lelehan airmata yang meluncur bebas membasahi wajah Sungmin yang sudah sembab karena manangis.
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya saat lagi-lagi Sungmin menangis namun bedanya sekarang tanpa isakan keras. Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tanpa kata tubuh mungil itu sudah berpindah kedalam gendongannya. Kyuhyun menggendong tubuh Sungmin ala bridal style. Melangkah tenang melewati kerumunan orang-orang yang masih setia menonton mereka dari kejauhan. Kyuhyun tidak memperdulikan jeritan keras yeoja-yeoja yang melihat dirinya menggendong tubuh Sungmin, yang terpenting saat ini ia harus membawa Sungmin pulang. karena hanya mansionnya lah tempat teraman untuk Sungmin saat ini.
Sedikit banyak Kyuhyun menyesal, mengapa ia bisa membiarkan Sungmin keluar tanpa dirinya disamping namja manis itu.
.
.
Pembunuh
Kau sudah membunuh anakku
Kau seorang pembunuh
" Haaahh... haah.. haaah." Sungmin terbangun dari tidurnya. Bola matanya bergerak liar menatap kesekitar. Keringat dingin bercucuran didahi dan tubuhnya sampai piyama tidurnya sedikit basah.
" Kau bermimpi buruk." Sungmin menoleh. Baru sadar jika ia tidak hanya sendiri dikamar luas ini. Ada Kyuhyun juga disana, duduk tenang disisi ranjang sambil terus memperhatikannya lekat.
Kyuhyun mengusap ringan keringat didahi Sungmin. Sungmin tidak bersuara. Pikirannya masih tertuju pada suara-suara aneh yang berdengung didalam kepalanya.
" Tidak usah difikirkan. Ada aku disini."
Sungmin beralih menatap Kyuhyun lekat," Apa dia ingin membunuhku?" Lirih Sungmin parau. Kyuhyun hanya diam. Enggan untuk menjawab pertanyaan Sungmin.
" Dia terlihat membenciku. Apa aku mempunyai salah padanya?" Tanya Sungmin lagi. Tidak memperdulikan pening yang sudah menyerang kepalanya.
Kyuhyun mencengkram bahu Sungmin erat. Memaksa bola mata indah itu untuk menatap lekat bola mata tajamnya.
" Dengarkan aku baik-baik Sungmin. Dia itu bukan siapa-siapa, hanya orang gila yang nekat mencari masalah denganku. Aku sudah membereskannya. Kau aman bersamaku." Kata Kyuhyun tegas bercampur nada memerintah yang kental. Ia tidak ingin dibantah saat ini. Sungmin hanya perlu melupakan kejadian tadi dan jangan pernah mengingatnya lagi.
" Aku takut. Dia-dia ingin membunuhku."
Kyuhyun tidak tahan. Dengan cepat dipeluknya tubuh Sungmin. menyembunyikan tubuh mungil itu didalam rengkuhannya. Menyampaikan tanpa kata bahwa ia akan selalu melindungi Sungmin.
Sungmin kembali menangis. Tidak berontak atau menolak pelukan Kyuhyun. Pelukan Kyuhyun sedikit banyak sudah membuat ia tenang. Seumur hidupnya baru kali ini ia mengalami kejadian mengerikan itu. Didepan matanya seseorang menodongkan sebuah pedang tajam kearahnya dengan terus mengatakan bahwa dirinya adalah pembunuh. Dan kejadian ini sedikit banyak sudah membuat Sungmin trauma.
.
.
Tuk tuk tuk
Suara ujung bolpen yang saling berbenturan dengan permukaan meja kayu yang keras terdengar pelan mengisi kesunyian yang mencekam didalam ruang kerja Kyuhyun.
Hanya ada Kyuhyun dan Jongwoon didalam sana. Duduk saling diam dengan sejuta pikiran masing-masing yang bercabang. Menyimpulkan satu benang kebenang yang lain berharap mereka menemukan ujung yang tepat agar simpul itu tertarik berubah menjadi seuntai benang yang utuh yang dapat digunakan, namun simpul itu berakhir kusut karena sampai saat ini mereka sama sekali belum menemukan jalan keluar yang tepat.
" Kau sudah membereskannya." Tanya Kyuhyun dingin.
Jongwoon menunduk hormat," Sudah tuan."
"Bagaimana hasilnya?"
" Kami tidak menemukan hasil apapun tuan." Jeda sesaat sebelum Jongwoon kembali melanjutkkan perkataannya
" Dia bungkam. Tidak mau membuka mulut dan mengatakan siapa orang yang sudah menyuruhnya untuk menggertak tuan Lee. Ia terlalu setia pada tuan bodoh yang telah menyuruhnya itu."
Tidak ada respon yang berarti dari Kyuhyun selain anggukan kecil. Raut wajahnya pun tidak terbaca sama sekali. tidak ada kemarahan diraut wajah, hanya ada raut tenang yang begitu datar.
" Kau sudah mengancamnya?"
" Ancaman saya tidak pernah berakhir menjadi lelucon seperti ini, tuan Cho." Kyuhyun terlihat menghela nafas.
" Cari tahu sampai pelaku sebenarnya kalian dapat lalu bawa kehadapanku hidup-hidup." Nada itu terkesan datar menuntut.
Jongwoon mengangguk mengerti," Kami akan bergerak secepatnya tuan."
Jongwoon undur diri menyisakan Kyuhyun didalam ruangan tamaram itu karena hanya lampu kecil yang Kyuhyun nyalakan diatas meja kerjanya sebagai penerangan.
Kyuhyun menopang dagu," Tikus kecil ini terlalu menggangguku." Desis hanya berbahaya.
" Ini baru permulaan." Lirih seseorang dalam kegelapan diiringi dengan kilat yang menyambar cepat diatas langit yang keseluruhannya gelap tanpa bintang pertanda hujan akan segera turun.
.
.
.
TBC
Aku kembali lagi. Selamat membaca. Tolong REVIEW untuk sedikit menghargai karya saya walaupun hancur seperti ini. nulis juga butuh perjuangan yang ektra menguras tenaga*lebaykumat.
Sampai jumpa chapter depan, see you.
