New FanFiction
©BocahLanang
Bagi yang ingin berteman dengan BocahLanang, silakan add FB:
BocahLanang HunKai (The Real BocahLanang)
Thanks sudah mau berteman dengan BocahLanang! Yey!
Di akun itu biasanya BocahLanang posting summary ato draft FF baru
..
.
HunKai Fanfiction
Warn!:
boyslove│mystic│horror│reallife│rateM│ghost│supranatural
MainPair:
Sehun (seme) X Kai (uke)
OtherPair:
Baekhyun (seme) X Kai (uke)
Chanyeol (seme) X Kai (uke)
Other Cast:
Baekhyun
Kris
Luhan
Chanyeol
Based on Real Life..
.
.
.
Eat-this-Rose
FlashPlot:
Viana de Castelo-Portugal
...
Dan..
Pemuda Kim kemudian singgah beberapa hari.
Menunggu ayah dan ibunya
Yang mengabarkan akan datang terlambat.
...
Sepeninggal sang nenek
Dirawatnya rumah sederhana pinggir pantai itu.
...
3_ Ending..
09. 55 am..
Kursi.
Tepat disamping ranjang rumah sakit di ruangan luas bernuansa serba putih.
Jendela dibiarkan terbuka, hingga korden putih itu bergerak-gerak dihembus angin sejuk pagi kota Vina de Castelo.
Di ranjang itu terbaring seorang pemuda berrambut pink lembut. Terlelap nyenyak dalam mimpinya.
Punggung tangan kirinya tersemat selang infus. Sedang hidungnya dipasangi selang oksigen.
Tubuhnya sudah dibersihkan oleh perawat.
Kelopak mata terpejam itu terlihat indah. Kulit tan miliknya terlihat istimewa terkena pantulan bias matahari.
Pakaian biru khas pasien rumah sakit membalut tubuhnya, untuk kemudian ditutupi oleh selimut putih.
Adken Beval.
Masih betah duduk dikursi itu.
Menatap sendu pemuda manis yang berbaring mengarungi mimpi didepannya.
Ia tak sanggup hati melihat pemuda itu kesakitan setelah efek bius habis jam 10 nanti.
"Kai.." diusaknya perlahan rambut halus berwarna pink peach itu. Lembut sekali helaiannya.
Untuk waktu yang lama, pagi ini ia sudah melalui perjalanan cukup jauh.
Mengendarai mobilnya kembali ke rumahnya di pusat kota untuk mengambil beberapa baju dan seluruh buku perkuliahannya. Ia berencana menjaga Kai untuk waktu yang tidak ditentukan. Beval sadar, Kai sangat membutuhkannya saat ini.
Kurang 3 menit lagi, bahkan telapak tangan Beval sudah berkeringat dingin. Kai sebentar lagi siuman. Tangannya memegang tombol yang langsung menuju alarm dokter jaga.
Kemeja berlumur darah Kai itu kini berganti dengan kemeja putih bersih yang dipadu dengan celana jean hitam dan sneaker biru. Rambut ungunya disibakkan sangat tampan. Tapi tidak dengan mata sipitnya yang menatap serius-cemas.
Drrrt.. drrrt..
Smartphone di saku celananya bergetar beberapa kali menandakan panggilan masuk. Segera ia lihat siapa penelfon itu.
"Halo?" diangkatnya panggilan itu. Beberapa bunyi gaduh terdengar diseberang sana.
Ada gemerisik daun seperti badai angin dan hembusan angin kencang. Namun detik berikutnya terdengar bunyi ringkik jangkrik dan derit kursi yang memekakkan.
"Halo?" kembali disapanya orang yang menelfonnya.
Tidak ada sahutan. Hanya suara helaan nafas berat. Dan tarikan nafas menyesakkan.
Dijauhkan smartphonenya sejenak dari telinga kanannya, sekedar melihat siapa nama kontak penelfon.
Private Number.
"Jangan coba-coba mendekati milikku.." suara berat disana terdengar sangat mengintimidasi.
Apa maksudnya itu? Beval yang tidak mengerti pun sekali lagi ia coba sapa penelfon diseberang sana.
"Halo? Apa maksud anda-"
Tepat lima menit habis..
"AAAAAAAAAAAAAAARRRRGGGKKKHHH!" teriakan anak Kim berusia 15 tahun itu memekakkan telinga.
.
.
.
PRAKK! SRAAKK!
Dilempar smartphonenya asal dan langsung menekan tombol. Sayup-sayup ia mendengar suara derap langkah tergesa menuju ruangan Kai. Beval sendiri berusaha menahan tubuh Kai yang berteriak kesakitan.
TAP-TAP-TAP-
BRAK!
"Cepatlah dokter Luhan!" Beval ikut berteriak ketika Luhan datang bersama lima suster.
"Beri bius sekarang!" Luhan memerintahkan seorang suster untuk segera menyuntikkan bius di leher Kai.
JLEB!
"Ah-hyung.. sakit.." lirih Beval dengar kalimat dari bibir Kim sebelum anak itu tak sadarkan diri.
"Dokter, bagaimana?" Beval membenarkan kembali letak tidur anak 15 tahun itu. Membenarkan juga helai halus poni pinknya.
"Dia sudah tenang. Tapi seperti yang kau lihat, jahitannya rusak karena ia berteriak keras, tadi" Luhan meringis melihat benang-benang jahitan itu merobek kulit Kai, memperparah lukanya.
"Apakah bisa dijahit ulang?" Beval miris melihat darah segar itu kembali mengalir.
"Tentusaja bisa, tapi untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali, kali ini saya harap Anda setuju agar luka pasien diperban rapat" dokter muda itu memberikan pilihan terbaik yang sebelumnya Beval tolak mentah-mentah.
"Hhh.. baiklah" Beval mengangguk lemah. Bagaimanapun juga ia tidak tega membiarkan Kai lebih tersiksa.
Pembedahan minor dilakukan di ruang ini.
Benang khusus menjahit luka itu menusuk dan mengikat luka menganga itu menjadi satu. Jemari handal Luhan membuat simpul jahit luka dengan sangat cepat dan rapih.
"Dokter, pastikan jahitannya rapih.. saya ingin wajah Kai tetap mulus tanpa daging tumbuh bekas benang jahitannya" Beval menepuk bahu Luhan.
Ia sungguh cemas. Bagaimana bisa? Bagaimana jadinya jika anak manis itu berakhir buruk rupa karena guratan bekas benang jahit menonjol membuat cacat wajah manisnya? Membuatnya buruk rupa seperti monster? Tidak. Beval tidak ingin.
"Akan aku usahakan" dokter muda itu menjawab sebisanya.
Setelah beberapa adegan bedah minor, Beval akhirnya memilih keluar ruang kamar pasien Kai. Ia tak sanggup melihat kelanjutannya.
12. 07..
Derak kaca jendela membuyarkan lamunan Adken Beval.
Ditolehkan wajahnya pada ranjang yang masih diisi oleh anak manis dengan nafas teratur.
Pembedahan selesai beberapa waktu lalu.
Dari jarak dua meter ini, mata sipitnya masih bisa melihat rembesan darah memberi titik-titik bercak merah mengotori perban tebal luka Kai.
"Bagaimana bisa.." Adken mengusak rambutnya kesal hingga berantakan tapi malah menambah kesan tampannya.
"Emmh.." gumaman dan gerakan tubuh remaja Kim itu membuat Adken segera berlari mendekati ranjang dan memegang jemari halusnya.
"Kai. Kai. Ini aku! Hyung disini!" ditahannya bahu Kai ketika anak itu hendak bangun memberontak.
"Hmmmm!" Kai berusaha mencakar perban tebal yang menutupi lukanya.
"Jangan nanti lukamu bertambah parah! Kai kumohon!" Beval memeluk tubuh Kai erat. Mengunci kedua tangan yang ingin merobek perbannya.
"Hiks!" akhirnya hanya isakan lirih yang terdengar. Namun mengiris hati namja berumur 21 tahun yang mendekapnya.
"Gwenchana, hyung akan melindungimu" Beval mengelus puncak kepala Kai dan membiarkan anak itu menyandarkan kepala di bahunya.
Perlahan ia geser tubuhnya sehingga terbaring, dengan Kai tidur berbantalkan lengannya. Masih diusak rambut halus itu, mencoba menenangkan isakan lirih yang masih terdengar.
Makin lama keduanya makin intim.
Pelukan makin erat, dan Kai yang bersembunyi di ceruk leher Beval. Hidungnya samar-samar mencium aroma maskulin dari tubuh namja itu.
Beval kemudian menaikkan selimut hingga sebatas leher Kai dan sebatas bahunya. Dipandanginya wajah Kai yang masih terisak namun mulai mengantuk.
"Mmm.." Kai kelihatan tidak rela ketika Beval menjauhkan lehernya, sehingga Kai tidak bisa bermanja-manja lagi.
Chu~
"Hyung tidak akan membiarkanmu sendiri" dikecupnya puncak kepala Kai. Membuat anak manis itu mengedipkan matanya yang sembab. Terkejut.
Chu~
Lalu dikecupnya perban itu. Tepat di posisi bibir Kai yang terhalang lilitan perban.
"Hyung mencintaimu.."
DEG!
Untuk sesaat. Waktu berhenti.
Kai berhenti terisak detik itu juga.
Semua terlalu tiba-tiba.
09. 55 pm..
Malam hari, Kai sudah mulai membiasakan dirinya.
Mata sayunya berpendar mengamati ruang inapnya. Dan berhenti pada sosok yang sedang melahap beberapa potong sandwich kemasan dari minimarket depan rumah sakit.
"Kau tidak boleh makan, sayang. Dan jangan seperti itu, hyung tidak tega" Beval menolak ketika mata Kai berbinar kepadanya dengan tangan yang membentuk aegyo bbuing-bbuing.
"Huh" Kai mendengus kesal. Perutnya memang tidak keroncongan, tapi lidahnya bosan hanya merasakan enzim amilase ludahnya.
"Haha, makanya, cepat sembuh dan hyung akan membelikan makanan-makanan enak" Beval menghabiskan gigitan terakhir sandwichnya. Membuang plastik pembungkus itu pada tempat sampah disudut dekat pintu kamar mandi.
Setelahnya didekati anak manis 15 tahun yang masih setia menatapnya.
"Kau mau apa? Biar kita rencanakan. Hm.. pizza, hotdog, lasagna, spagethi, macaron, barbeque, salmon, atau.." Beval mengelus dagunya seolah berfikir keras.
"Ayam goreng?" Beval mengakhiri pemikirannya dengan satu jenis makanan.
"Hmmmm! Hmm!" Kai memekik semangat dan menunjuk-nunjuk Beval. Matanya berbinar senang. Ya, ternyata anak itu suka ayam goreng.
"Baiklah, kita akan makan ayam goreng setelah kau sembuh" Beval membenarkan selimut Kai dan membantu Kai merebahkan tubuhnya untuk tidur.
"Mmm.." anak Kim itu menggeleng tidak setuju.
"Jadi.. kau mau menghabiskan semuanya sendiri, begitu?" Beval menaikkan satu alisnya sanksi.
Kai mengangguk antusias.
"Dasar... baiklah, apapun untukmu, sayang" diusaknya rambut halus Kai dan dimatikan lampu utama. Membiarkan Kai beristirahat malam ini.
Dipandanginya kedua kelopak mata Kai yang terpejam erat. Indah. Tapi pasti akan lebih indah jika perban itu tidak menutupi sebagian wajahnya.
Kini jemari lentik Beval tanpa sadar menyentuh perban itu. Hati-hati. Takut menekan luka menganga didalamnya.
"Kai.. kenapa bisa seperti ini?" Beval terlarut dalam lamunannya sebelum getar smartphone di saku belakang celananya menandakan telepon masuk.
Agak tidak rela, ia menjauhkan tangannya sekedar untuk mengecek smartphonenya.
Sreet..
Dilihatnya siapa pemanggil itu.
Mr Kim calling..
"Ayah Kai?" Beval memang sudah memiliki nomor telepon kedua orang tua Kai. Karena Beval sendirilah yang mengirimi kabar kematian nenek Kim kepada keluarga Kai. Meski ia berharap Tuan Kim bisa datang, tapi Kai saja sudah cukup baginya.
Kembali dilihatnya Kai yang sudah tertidur lelap. Karena enggan mengganggu tidur Kai, terlebih anak itu pasti akan menangis nantinya, ingin bicara pada ayahnya tapi tidak bisa karena tertutup perban.
Akhirnya Beval memilih beranjak dari kursi, berjalan keluar kamar inap. Menutup pintu hati-hati.
.
.
.
BLAM.
Sepi..
Hanya Kai didalam.
Entah detik ke berapa, kedua kelopak mata Kai yang terasa mengantuk berat terpaksa terbuka karena kasurnya berderit seperti ada seseorang yang menaikinya.
Remang-remang lampu tidur disampingnya membuat pandangannya tak jelas.
Tapi ia melihat seseorang.. tinggi. Mendudukkan diri di sudut dekat kakinya.
.
.
.
Menakutkan.
"Hai, sayang.." suara serak terdengar dari bayangan itu.
Topi Fedora itu menutupi wajahnya. Sosok namja. Dengan setelan jas hitam dan kemeja hitam juga. Tapi kulitnya putih bersih.
Kai merinding mendengar suara sosok itu. Tubuhnya seperti tersengat dan detak jantungnya berdentum cepat hingga kepalanya pening.
"Maaf, aku menciummu terlalu bernafsu.." sosok itu beranjak dari duduknya. Kai menatap was-was. Otaknya terlalu sulit mencerna kata-kata namja tinggi itu untuk saat menegangkan seperti sekarang.
"Aku sangat bernafsu sehingga merobek kanan kiri bibirmu sepanjang lima senti.." sosok itu menyentuh perban tebal yang melilit bibir Kai hingga tengkuk.
Ya. Bibir Kai.
Robek.
Hingga lima senti di kanan kirinya.
Memperlihatkan gigi geraham dan rahangnya.
"Hiks!" isakan dan lelehan air mata itu kembali Kai keluarkan. Ia takut..
Ternyata.. sosok itu..
"HMMMMMMPP!" Kai menjerit ketika namja itu dengan secepat kilat menerjangnya di kasur.
BREETTT!
"HMMPP!" baju pasien Kai dirobek paksa hingga terbelah menjadi dua. Dibuang asal dan terpuruk di lantai dingin kamar inap rumah sakit itu.
"Bisa kita mulai malam pertama kita, sayang?" sosok itu menjilat tengkuk Kai perlahan. Membuat Kai mendongakkan kepalanya merasakan sengatan nikmat di saat menakutkan ini.
Susah payah Kai memberontak ketika namja berjas hitam itu memelintir nipple kanannya dan menyedot kuat kulit tulang selangkanya.
"Eunmhng.." suara desahan Kai teredam oleh perban.
"Rasakan sentuhan nikmatku, sayang.." sosok itu berbisik di telinga Kai dengan suara rendah. Kai hanya bisa menarik nafasnya cepat dan menderu.
Sedang sosok itu mulai mengecupi setiap jengkal wajahnya. Bibir itu dingin. Sedingin es.
SREEETTT!
"HMMPP!" Kai berusaha menolak saat celananya ditarik paksa.
Kai naked sekarang.
Tapi kekuatan Kai kalah, kedua tangannya digenggam erat diatas kepala oleh sosok tinggi putih itu hanya dengan sebelah tangan.
Bagaimana bisa? Seingatnya, ia adalah siswa terkuat dalam push up di sekolah.
"Jangan memberontak, sayang.." telapak tangan dinginnya menelusuri lekuk indah namja berumur 15 tahun yang masih kencang dan berlekuk indah itu.
"hiks.." Kai masih terisak.
Entah sejak kapan kedua tangan Kai diikat diatas kepala oleh sebuah tali yang berpendar menyala terang dalam gelapnya ruangan ini.
...
PYARRR!
"MMMPPP!" Kai memekik takut ketika lampu satu-satunya, lampu tidur disampingnya pecah. Padam.
Gelap.
Nafas Kai memburu takut.
Berusaha menetralkan pikirannya agar kembali ke kenyataan.
"Tahan, aku akan masuk.." tubuh dingin itu entah mengapa sudah naked. Kai merasakannya. Kulit dingin itu mulai meniduri tubuh naked Kai yang bergetar hebat.
"Hiks.. Hiks.." mata sayu Kai terpejam erat kala jemari dingin itu membelai kulit halus selangkangannya.
Mengangkat kedua kaki jenjangnya dengan mudah.
"Hmhh.." sengatan luar biasa dirasakan Kai ketika ujung penisnya yang panas bersentuhan dengan perut abs bersuhu minus itu.
"Kau akan merasakan kenikmatan luar biasa ketika penis besarku yang dingin ini mengoyak hole panasmu.. Kai.." suara serak penuh nafsu itu berbisik tepat ditelinga kanan Kai. Sedang anak Kim berusia 15 tahun itu terguncang takut.
Air mata semakin mengalir deras ketika kedua kaki jenjangnya yang sedari tadi diangkat kini diletakkan melingkar pada pinggang kokoh nan dingin lelaki yang merengkuhnya.
Apakah benar jika Kai berasumsi sosok itu lelaki? Karena sungguh tubuh itu dingin tidak seperti manusia.. jadi pasti bukan lelaki maupun perempuan.. tapi makhluk lain.
"HMPP!" Kai memekik kembali ketika analnya merasakan benda tumpul besar mencoba menyeruak masuk memaksa.
Kepala Kai menggeleng enggan mencoba memohon. Kakinya berusaha lepas tapi entah mengapa tubuhnya terasa dikunci.
Kaku.
Sebanyak apapun pekikan Kai dan air matanya, tetap saja tak berbuah hasil.
Sosok itu masih enggan peduli.
"Jangan menolak. Tidak akan ada yang bisa menolongmu" ucapan tegas membuat Kai hanya bisa pasrah pada sosok yang menidurinya.
"Hiks.." kembali Kai terisak ketika pipi atasnya diusap oleh jemari dingin. Jemari itu menyerka air matanya yang sudah sedaritadi banjir.
"Aku mulai" suara terakhir tadi menjadi keputusan final.
JLEBBB!
"HMMMMPPPPPP!" pekikan keras Kai terdengar perih menyakitkan.
Menggema dalam kamar itu hingga ke lorong-lorong bangsal yang sepi.
Ada yang janggal.
Lorong itu..
Gelap.
-TBC-
Eat This Rose
BocahLanang Fanfict..
Gimana? Udah cukup horror belom? Hehe.
Ada yang tahu Kai berdarah dibagian mana? Ayo tebak!
Yup! Kai berdarah di bagian pipi. Dia bibirnya kayak disayat setan gitu. *ngeri.. horror..
Dan malam ini menjadi malam paling horror..
Makanya jangan nginep di rumah sakit okay? Hii..
Jangan lupa review ya all,
Gomawo ^^
