Author (yang menulis cerita ini) dan 'author' (yang punya hajatan SUC) dalam cerita ini adalah dua entitas yang berbeda.


Oh, mulai Bab 3, disclaimer dipindah ke bawah.


Chapter 3 ~ Ada Main-Main di Balik Layar


Sebuah pertemuan di ruang tertutup sedang terjadi di balik layar pertunjukan – secara harfiah! Pertemuan itu dihadiri oleh keempat juri.

"Jadi, enaknya yang main duluan si raja setan (Oda Nobunaga – Pen.) apa nyonya vampir (Remilia Scarlet – Pen.), nih?" tanya sebuah suara pria.

"Bagaimana kalau kita hom-pim-pah saja?" tanya sebuah suara wanita.

"Setuju!" jawab tiga suara yang tersisa.

"HOM-PIM-PAH ALAIHUM GAMBRENG!" seru keempatnya.

"Tunggu, emang kita hom-pim-pah mau ngapain, yah?" suara seorang perempuan. Tiga orang lain jawsdrop di tempat.

"ELU YANG NGUSULIN, KOK ELU YANG LUPA DULUAN, SIIH~!?" teriak ketiga juri yang lain. Tak lama kemudian, terdengar tiga pukulan melayang.

Penonton dan panitia sweatdrop di tempat, terutama panitia operasional yang menjaga kerahasiaan pertemuan itu. Mereka dipimpin oleh seekor (?) kappa – Kawashiro Nitori – dan pendekar sakti dari Klan Konohagakure, eh, keliru, Klan Tsutsui – Shima Sakon – yang keduanya terlibat dalam dua aksi keroyokan terhadap satu shikigami dan tiga peri.


Beberapa saat kemudian ...

"Bagaimana, siapa yang main duluan?" Setelah keempatnya keluar dari pertemuan rahasia itu – dengan tiga benjolan nemplok di kepala Reimu – kurang lebih itulah pertanyaan yang muncul dari semua orang di sekitar situ.

"Tadi kami sepakat, yang main duluan adalah ...," Kenshin, lupa di tengah jalan, lalu bertanya kepada Shingen, 'siapa tadi?'

'Entah, Azai Nagamasa, mungkin,' bisik Shingen, yang juga lupa, sekenanya.

'Sembarangan. Azai-san bukannya PJ dekorasi? -_-' bisik Kenshin panas.


Sementara itu, di dapur ...

"HUAAJHIYENGG~" Nagamasa bersin, entah karena ada dua juri yang mempergunjingkannya atau karena masakan yang tengah ia masak terlalu banyak merica. Karena seksi dekorasi kerjanya praktis udah berakhir saat acara berjalan, Azai Nagamasa dan Kazami Yuuka, PJ dan wakil PJ sie dekorasi, membantu di dapur.

*dan author pun dihajar Nagamasa gara-gara SFX bersinnya terlalu lebay XD*


(OK, ayo kembali ke studio! – Yuuka dan Daiyousei, sambil mengantar Nagamasa ke P3K)


Tahu Shingen juga lupa, ia kemudian berbisik ke Youmu, 'Tadi siapa?'

'Tadi katanya 'raja setan,'' jawab Youmu. 'Eh, Reimu, tadi beneran 'raja setan,' kan?' bisik Youmu, yang kurang yakin, kepada Reimu. Reimu mengangguk. Selain keempat juri, seisi studio njomplang berjamaah (?) gegara tingkah absurd keempatnya.

"Siapa, nih, jadinya?" Aya, tengu gagak yang jadi PJ dokumentasi, juga ikutan enggak sabar.

"Yang main duluan adalah Tuan Takur," jawab Shingen.

"MAKSUD LO 'TUAN TAKUR' SIAPA~!? -_-" tanya ketiga juri yang lain, lebih panas daripada bisikan Kenshin soal Nagamasa atau reaksi atas pertanyaan Reimu yang memuatnya dimassa ketiga juri yang lain.

"Eh, maksud saya, Tuan Oda ^^;" jawab Shingen.

'Tuan Takur? Ente kebanyakan nonton film India, nih, Takeda-san? -_-' gumam Yukari di pojokan.

"Nggak ada 'main-main,' nih, kok juri empat biji cuma Hakurei-san dan Konpaku-san yang beres, sisanya absurd?" tanya Yukimura sinis. *dan Yukimura pun di-deathglare Kenshin dan Shingen*

"Belum apa-apa udah tanya 'nggak ada main-main.' Kami jamin, tidak ada 'main-main' di balik layar, kalo nggak percaya, tanya tuh kappa. Tidak ada kontak dengan rombongan peserta di balik layar," jawab Sakon, kemudian menunjuk ke arah Nitori.

Tak lama setelah pertemuan absurd empat juri tadi, Remilia (dan Nobunaga) diberi waktu 2x24 jam untuk melaporkan aksi pencurian baret Yukimura (?) ke Pak RT (woi! – Remilia, Nobunaga, dan Yukimura)

eh, salah~ :V

Tak lama setelah pertemuan absurd empat juri tadi, Remilia (dan Nobunaga) diberi waktu satu setengah jam untuk menyiapkan materi yang akan mereka tampilkan dalam stand-up comedy.

"Sudahlah, toh seabsurd-absurdnya mereka berempat, dijadikan satu pun nggak mungkin mengalahkan calon lurah semalam, Sanada-san. Kau sendiri tahu Youmu-chan semalam sampai mencak-mencak, padahal orangnya biasanya nggak seperti itu," Yuyuko meyakinkan Yukimura yang masih tidak yakin tidak ada pengaruh luar yang membuat pertemuan empat juri absurd tadi makin absurd.

Calon lurah?


Sementara itu, di bagian P3K ...

Dua cewek – satu lunarian, satu lagi satori – lagi ngerumpi di bagian P3K sementara satu cowok – Naoe Kanetsugu, PJ sie P3K – masuk.

Ada apa garangan? *dan author dijilat oleh seekor garangan*

(Eww~ jijik, bero~ – Eirin, Satori, dan Kanetsugu)

Eh, keliru. Ada apa gerangan?

Kanetsugu, yang tadi mendapat kabar kalau ada rombongan yang pingsan, buru-buru masuk untuk memeriksa keadaan rombongan tersebut. Begitu ia melihat Eirin dan Satori ngerumpi di pojokan sememtara ruangan sudah kosong, ia kontan bertanya, "Yagokoro-san, Komeiji-san, kalian ngerumpiin apa, nih? :3"

"Waaah~ ketinggalan lu, Naoe-san," jawab Eirin misterius.

"Iyaa~ Kalo kamu ngerti, nggak ngira tahan~" tambah Satori, makin misterius.

"Kalian ini ngegosipin siapa, sih? -_-;" Kanetsugu mulai tidak sabar.

"Siapa yaaa~ :v" jawab Eirin dan Satori bersamaan.

"Waah, tiga orang tiga-tiganya kok gemblung semua kerjanya~ - -;" gerutu Kanetsugu.

"'Gemblung' artinya apaan, sih?" tanya Eirin, asli nggak tahu.

"'Cerdas.' Kayak calon lurah entah di mana itu, berbahasa seperti itu maunya kelihatan cerdas malah kelihatan gemblung. Atau, mengutip Konpaku-san semalam, 'maunya kelihatan kayak intelek malah kelihatan kayak telek,' -_-" jawab Kanetsugu sarkastik. Sarkastik, karena ia – dan Satori, yang membaca pikiran Kanetsugu, dan, yang lebih penting, ikut menyaksikan ulah koplak si calon lurah dan pernyataan keras Youmu – tahu apa artinya yang sebenarnya.

"Tunggu. Si paruh-hantu yang biasanya sopan itu mengeluarkan pernyataan demikian? Satori-nee, kita memikirkan 'Youmu' yang sama, kan?" sela Eirin kaget.

Satori, menahan tawa gara-gara aksi si calon lurah dan permainan kata yang dilemparkan Youmu yang diakibatkannya, mengangguk. "Sayang sekali, semalam kau enggak lihat," tambahnya pada Eirin. "Tuh calon lurah tololnya keterlaluan, sampai-sampai Enma-sama ikutan ngakak."

Watdepak, Eiki-sama pun tertawa? Kita nggak sedang ngomongin yama yang itu, kan? Bukan hanya Eirin, Kanetsugu juga kaget. Mana mungkin, karakter no-nonsense seperti Shiki Eiki dibuat tertawa oleh ulah tolol calon lurah itu, pikir Kanetsugu yang bahkan sejak pertama bertemu pun tahu karakternya serius minta ampun, makanya ia ditempatkan sebagai PJ sie kesekretariatan. (Apa hubungannya? -_- – Eiki)

"Mm-hm. Tertawanya paling keras. 'Baru kali ini Eiki-sama tertawa sekeras itu :o' kata Komachi semalam," tambah Satori.

Rahang bawah Eirin dan Kanetsugu, yang udah lepas dari engselnya, terjun bebas gara-gara informasi dari Satori menyoal tawa lepas Eiki semalam. That ever-stern yamaxanadu was laughing off her head last night? This can't be right, can it?


Sementara itu, dari luar ruangan~

'Ada apa nih, kok P3K ribut bener,' gumam Yuyuko, wakil PJ sie acara yang kebetulan lewat.

Setelah membuka tirai yang membatasi bagian P3K, ia kemudian bertanya dengan riang, "Semua baik-baik saja, kan?" dan dengan sukses mengejutkan mereka bertiga.

"Gabut (gaji buta alias nggak kerja – Pen.) gini, menurutmu bagaimana? Tahu sendiri, kan, P3K tuh justru gabut kalo semua berjalan lancar," jawab Kanetsugu.

"K-kalo dia, sih, kayaknya nggak ngira nggak ngerti deh, Naoe ^^;" bisik Eirin.

"Tahu, kok. ^^;" jawab Yuyuko.

"Tapi, yah, berhubung sejak kemaren gue nggak bisa boker (!) dan baru lega, jadi tadi mestinya kamu yang jalan duluan sebagai wakil PJ, Ei-chan" lanjut Kanetsugu kepada Eirin.

''Ei-chan?' Lagi didera cinlok, nih, yee~ :3' gumam Satori dan Yuyuko usil.

'Ooh, pantas tadi waktu keroyokan nggak kelihatan batang hidungnya, ternyata panggilan alam ... -,-' pikir Eirin pada saat yang sama.

"Yaah, jangan lantas setelah pasien sehat lalu kalian omongin di belakang, saja, lah," lanjut Kanetsugu enteng, tanpa tahu Eirin dan Satori tadi benar-benar ngomongin Ranmaru dan Sakuya.

Jleb~ "Dia tahu dari mana kita lagi ngomongin Mori-san dan Izayoi-san? o.O" gumam keduanya kaget.

"Lha!? Ja-jadi kalian benar-benar ngomongin mereka? :O" Kanetsugu ikut kaget. Eirin dan Satori, terpojok, hanya bisa mengangguk mengakui perbuatan mereka.

"Memang ada apa dengan mereka?" tanyanya lagi. Singkat cerita, Eirin dan Satori, yang yakin kalau tingkah mereka seperti orang jatuh cinta, berhasil mengajak Kanetsugu dan Yuyuko untuk menjalankan sebuah konspirasi atas Ranmaru dan Sakuya.

Konspirasi seperti apa, sih, yang akan mereka jalankan terhadap maid dan page yang sedang dilanda cinta pada pandangan pertama tersebut?

(Jawabannya kapan-kapan aja yah~ :V – Yuyuko, Eirin, Satori, dan Kanetsugu)


Up next, in Battle of Demons!

Chapter 4O ~ ?

Unfortunately, the synopsis has been lost, just like the truth about the Incident at Honnou-ji. It'll take me some time to find it. :v


Disclaimer: Author hanya menyumbangkan ide naskah pada cerita ini. Yang terbukti mengkopas naskah ini tanpa seizin penulis bakal ane sumpahin menggantikan posisi Ranmaru dan Sakuya menjadi korban konspirasi Yuyuko, Eirin, Satori, dan Kanetsugu. Oh, Ranmaru, Sakuya, dan Youmu bakal menodongmu dengan senjata tajam kalau-kalau kau menghindar setelah terjerat konspirasi 'Kemakmuran' (!?) yang mereka berempat susun. Dijamin hasilnya tidak akan baik~ :v


A/N: Oh, man, kebangetan banget tuh calon lurah. Mencalonkan diri jadi lurah aja, kok bertindak sok intelek dengan menyalahgunakan diksi seperti itu, sih~? Tanggung jawab, lo, Youmu dan Eiki jadi OoC! #mulaingawur

(Tunggu, emang ente tahu siapa calon lurah yang dimaksud? – Eiki)

Untuk bab ini, tidak ada author's cut. :p