"Trouble Makers"

by: lavenderviolletta

Naruto by : Masashi Kishimoto

[Hinata H. x Sasuke U. ]

Romance,Hurt,comfor,

.

.

.

WARNING

(OOC, Miss TYPO)

.

.

Happy Reading

.

.

Sinar mentari yang masuk melalui tirai jendela kamar, membuat Hinata menampakan iris lavendernya karena silau. Ia menggeliat, perlahan matanya melebar saat di lihatnya waktu menunjukan pukul 6.30 pagi.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!" teriaknya histeris, Hinata dengan cepat memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap, perasaan jengkel dirasakannya saat ini, kemana penghuni rumah ini sampai tidak ada yang membangunkannya.

Hinata berlari menuruni anak tangga rumahnya , ucapan selamat pagi dari para maid yang di lewatinya tak ia balas, di lihatnya meja makan, namun tidak ada Neji,Hiashi ataupun Hanabi disana, bahkan tidak ada sisa sarapan sama sekali, kemana perginya orang-orang pikirnya.

Tanpa pikir panjang, ia berlari meninggalkan manshion Hyuuga, kembali ia menggerutu "bagaimana ini". hari ini ada ulangan matematika dan merupakan pelajaran Anko, Sensei terkiler se KHS, lama menunggu taxi di depan Manshionnya yang tak kunjung tiba, ia nekat berlari, yah.. upaya yang sia-sia memang, walaupun ia tau ini akan terlambat meski ia berlari karena 15 menit lagi bel masuk berbunyi.

"ckiiittt...!" , suara deruman motor bisa di dengar Hinata sekarang, ia menoleh, mendapati Naruto dengan motor Ninja nya yang berwarna orange, "naiklah, kita akan terlambat". Tanpa pikir panjang Hinata segera menaiki motor besar itu, mata Hinata membulat dengan semburat merah di pipinya saat Naruto memegang kedua tangan Hinata dan di lingkarkan pada perutnya.

"eh, Naruto-kun?"

"kau pegang yang kuat yah, kita akan sampai di sekolah dalam waktu 10 menit, kau siap?".

"Ha.. Hai"

.

Awalnya Hinata mengira ini merupakan pagi yang buruk, namun kehadiran Naruto membuat pagi nya berubah 180 derajat, dewi fortuna memang sedang berpihak padanya saat ini, "kami-sama.. katakan bahwa ini bukanlah mimpi, bisa memeluk dan berada sedekat ini dengan Naruto-kun, oohhh..."

.

"sudah sampai Hinata-chan."

"..."

Naruto tersenyum ketika ia menoleh dan melihat Hinata menyenderkan kepala di pungggungnya dengan kondisi mata yang tertutup dan senyum di bibir tipisnya tanpa melepaskan pelukannya pada Naruto dan malah menjadikannya semakin erat.

"Hinata-chan?", kembali Naruto menyadarkan Hinata dengan suaranya yang sedikit di besarkan, membuat Hinata sadar dan membuka kelopak lavendernya.

"eh?",

"kita sudah sampai Hinata-chan", kembali rona merah menghiasi kedua pipinya, "gomenee Naruto-kun", perlahan Hinata menuruni motor, "arigatou"

.

Hinata melangkahkan kakinya, berjalan menelusuri koridor yang mulai terlihat sepi karena 5 menit lagi bel masuk tiba. Sesekali ia tersenyum dengan semburat merah di pipinya mengingat baru saja ia berangkat sekolah bersama dengan Naruto.

Sasuke menarik tangan Hinata kasar, menyeretnya hingga kini keduanya berada di sudut koridor.

"lepaskan berengsek !"

"kenapa kau pergi bersama Naruto?", pandangan Sasuke yang tajam meminta Hinata untuk menjelaskan.

"tch, apa urusanmu?" Kembali Sasuke menarik tangan Hinata dan menghempaskan tubuhnya hingga punggung Hinata beradu dengan dinding yang ada di belakangnya, kedua tangan Sasuke berada di kiri dan kanan bahu Hinata, mengunci pergerakannya.

"kau lupa, aku ini siapamu sekarang eh?"

"..."

Hinata membuang muka, ia lebih memilih menatap pintu yang ada di hadapannya daripada memandang wajah tampan Sasuke yang memandangnya tajam.

"jawab"

"aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika aku tengah berlari, dan Naruto-kun mengajaku untuk ikut bersamanya, kau puas !"

"..."

"bisakah kau membiarkanku pergi sekarang, bell sudah berbunyi."

Hinata menepis satu tangan Sasuke yang ada di sampingnya, melewati Sasuke.

"mulai besok, kau akan pergi dan pulang sekolah bersamaku."

Hinata menghentikan langkahnya, memutar balik tubuhnya.

"apa?"

"..."

Sasuke melangkahkan kakinya, menjauhi Hinata menuju kelas. Hinata menjambak rambutnya kesal. "ohh kami-sama, apa lagi sekarang", baru saja dirinya merasakan bahagia dan rasa itu hancur seketika oleh pria berambut raven dan bermata onyx itu.

.

.

.

.

Hinata tersenyum saat melihat Sai kini kembali duduk di bangkunya, langkah Hinata terhenti saat Sai memanggilnya.

"boleh aku ikut makan bento bersamamu? Otousaan membuatkan aku dua bento hari ini dan satu lagi untukmu."

"tentu saja, Sai-kun."

.

.

"sejak kapan kau membawa bekal kotak bento? Kau terlihat seperti playgroup".

"ohh ini, hahaa.. iya tadi Hinata memberikan bentonya untuku, katanya sih dia di traktir temannya makan bersama, jadi bekal nya dia kasihkan untuku,dan lagi sebagai ucapan terimakasih karena,- heii temeee kembalikan kotak bento nyaaaa..."

Gaara hanya memandang Sasuke dan Naruto datar, bodoh pikirnya.

"tidak dobe, ini milik Hinata, apapun yang dimilikinya itu berarti miliku".

"tch, tapi dia memberikannya untuku".

"..."

"ayolahh temeee,, kembalikan aku lapar.", Naruto meringis, Sasuke hanya menatap Naruto dengan tampang stoic nya.

"bento ini miliku, Gaara, bawa si baka dobe makan bersamamu."

"ayolah temee, aku ingin mencoba sedikit saja onigirinya".

"tidak"

"temeeee..."

Sasuke melempar kartu kreditnya, dan dengan cepat di tangkap oleh Gaara.

"makanlah ke restoran termahal yang kalian suka". Gaara menyeringai, ia menarik tangan Naruto dan membisikan sesuatu.

"baka ! untuk apa kau memelas kotak bento bodoh itu, kau llihat ini?".

"aarrrggghhh.. aku lapar Gaara, aku hanya ingin mencobanya sedikit saja, woii temee kau pelitttt !"

"..."

"terserah kau saja, selamat berebut kotak bento bodoh itu , sepertinya ramen Ichiraku mulai membuat perutku terasa lapar."

"hah? Ramen? Aku ikut Garaaaaa... !"

.

.

"Hinata, aku ingin kau jujur"

"tentang apa Sai-kun?"

"apa yang telah terjadi padamu dan Sasuke?"

"eh?"

"aku, bisa kembali berada disini, itu tidak mungkin jika tidak terjadi apapun padamu"

"..."

"katakan, apa yang telah terjadi?"

"itu tidak penting, yang lebih penting kan kau bisa kembali berada disini kan?"

"jika kau masih menganggapku teman, ceritakanlah."

"..."

"Hinata?"

"dia menginginkanku menjadi kekasihnya."

"apa?"

"..."

"dan kau menyetujuinya?"

"bagimana lagi, tidak ada cara lain."

"gomenee Hinata, karena aku,-"

"heii sudahlah.. lagi pula dia tidak akan semena-mena terhadapku, dan lagi jika aku menjadi kekasihnya, tidak akan ada yang berani membully ku lagi, terlebih lagi aku bukan Trouble Maker lagi sekarang, bukankah itu menguntungkan bagiku,aahh.. dan Sasuke tampan, tidak akan malu jika berjalan bersamanya."

"kau berbohong, aku bisa melihatnya dari mata mu"

"eh"

"apa yang harus aku lakukan Hinata, bagaimana caraku menolongmu dari jeratan Sasuke?"

Sai menatap Hinata yang juga menatapnya, Hinata memungut satu helai daun momiji yang ada di sampingnya, ia mengeluarkan pena dari saku blezer nya dan menggerakannya disana.

"kau hanya perlu tersenyum seperti ini." Hinata menggambar Sai yang sedang tersenyum di dalam daun itu. "sai membulatkan matanya, terkejut.

"aku berjanji, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk melindungimu Hinata."

"arigatou Sai-kun."

.

.

.

"kyaaaaaaaaaaaaaaaaa... kereeennn... sekolah kita akan mengadakan liburan musim panas ini ke Hawai, ini pasti akan seru"

"yah Shion chan, ini pasti akan menyenangkan."

"kau akan mendapatkan Sasuke-kun disana."

"kyaaaaa... !"

"berisik ,, Sasuke mana tahan dengan wanita berisik sepertimu tch." , Ino menimpali, di ikuti anggukan dari Sakura.

"bermimpilah untuk mendapatkan Sasuke," kali ini Sakura yang berbicara dengan berkack pinggang.

"lalu, kalian berfikir kalian yang lebih pantas eh?". Shion berkata seolah meremehkan.

.

.

"Hinata kau dengar itu, " bisik Sai di telinga Hinata, dan hanya di balas anggukan oleh Hinata.

"mereka tidak mengetahui kau telah menjadi kekasih Sasuke?"

"aku tidak tau, tapi bukankah ini bagus."

"..."

"eh Sai-kun, mari kita lihat acara liburan musim panasnya", Hinata memegang tangan Sai, mengajaknya untuk melihat pengumuman di mading.

"waaaahhh... ini pasti akan menjadi seru." Ujarnya.

"Sai-kun, kau juga ikut kan?"

"sepertinya tidak."

"eh? Tapi kenapa?"

"ku rasa biaya untuk liburan itu lebih baik aku pakai untuk membuat gallery lukisan ku daripada di pakai hanya untuk bersenang-senang." Sai tersenyum seraya pergi meninggalkan Hinata.

.

.

"dddrrrttt... dddrrrttt... dddrrrrttt..." (suara ponsel Hinata bergetar).

Hinata memandang sederetan nomor cantik yang tak di kenalnya di layar tocuhscreen itu, "Siapa?" pikirnya, penasaran Hinata menekan tombol hijau, menyambungkannya dengan si penelepon.

"Moshi-moshi."

"aku menunggumu di parkiran."

Hinata membulatkan matanya, tat kala ia menyadari suara maskulin itu merupakan suara..

"Sasuke?"

"aku senang kau mengenal suaraku."

Sasuke terkekeh, Hinata mendecih sebal.

"sepuluh menit, waktumu berjalan dari sekarang."

"eh?"

"jika dalam waktu itu kau tak muncul juga di hadapanku, kau akan celaka."

"apa kau,-"

"tuu... tuttt.. tuutt.."

"heiiiii... !",

.

.

Sasuke menyeringai saat Hinata kini berada di hadapannya, ia membukakan pintu mobil Ferrari blue dark nya, mempersilahkan Hinata memasuki mobilnya.

.

.

"jadi ini rumahmu?"

"..."

"arigatou." Hinata keluar dari dalam mobil Sasuke seraya membanting pintu mobilnya kasar.

Hinata menghentikan langkahnya ketika Sasuke mengikutinya dari belakang.

"apa yang kau lakukan eh?"

"hanya melihat-lihat." Balasnya datar.

"siapa yang mengajakmu masuk?", Hinata menatap Sasuke heran, tak menghiraukan pertanyaan Hinata, Sasuke memasuki manshion megah itu.

"ku minta kau pulang."

"dimana kamarmu? Aku ingin melihatnya, Sasuke menaiki tangga rumah satu persatu , tingkah Sasuke membuat Hinata semakin bingung.

"heii.. apa yang kau lakukan, ku minta kau keluar sekarang Sasuke !",

Hinata menghalangi Sasuke agar tidak semakin menelusuri rumahnya.

"apa aku tidak boleh melihat kamar kekasihku sendiri eh? Aku hanya ingin tau tempatmu tertidur."

"kau pskiopat !"

Sasuke hanya memandang Hinata datar tanpa ekspresi, pandangannya seolah mengatakan "terserah apa katamu."

"baiklah, aku tidak tau bagaimana dulu ibu mu mengajarimu cara bertatakrama di rumah orang, kau dari keluarga terpandang tapi tidak memiliki etika, dan kau membuatku pusing."

"..."

Hinata membuka kunci pintu kamarnya, dan memperlihatkannya pada Sasuke

"ini kamarku, kau sudah puas sekarang?"

"tidak buruk.", Sasuke mengabsen ruangan bernuansa lavender itu, semua barang yang berada di sana berwarna lavender, Sasuke menelusuri setiap ruangan yang ada di kamar itu, sampai tangannya terhenti ketika ia akan membuka buku harian yang tergeletak rapi di atas meja belajar Hinata.

"jangan sentuh."

"kenapa?"

"itu privesiku, kau tak berhak mengetahuinya."

"..."

"kenapa menatapku seperti itu?"

"..."

"kau membuatku takut."

"perlihatkan isinya."

"tidak !, sebaiknya kau pulang, sebelum aku berteriak bahwa kau maling yang menyelusup rumah orang begitu saja."

"tch !, semakin kau melindungi buku itu semakin aku ingin melihatnya."

"eh?"

"berikan padaku Hinata."

"sudah ku bilang tidak ya tidak."

"jangan sampai aku bersikap kasar padamu."

"eh? Neji-nii". Hinata mencoba menipu Sasuke dengan menyebut nama Neji, dan ketika Sasuke lengah hal itu di jadikan Hinata untuk melarikan diri, namun usaha Hinata gagal, Sasuke dengan cepat menarik tangan Hinata dan menghempaskannya kasar hingga Hinata tersungkur di tempat tidurnya, Sasuke manutup pintu kamar Hinata seraya menguncinya rapat. Kuci kamar itu ia masukan ke dalam saku celananya, Sasuke menyeringai, ia mendekati Hinata yang tengah berjalan terus memundur menjauhinya.

"cukup, Sasuke apa yang akan kau lakukan."

"lihatkan isinya padaku dan aku akan pulang."

"tidak ada cara lain." Pikirnya dalam hati, Hinata mendekatkan dirinya pada Sasuke, ia lingkarkan tangannya pada leher Sasuke, dan mengecup bibir Sasuke lembut, Sasuke membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang telah Hinata lakukan padnya saat ini, Hinata Sasuke tidak bodoh, ia terus memperdalam ciumannya hingga Sasuke pun mulai menikmatinya dan membalas ciuman Hinata, "inilah saatnya." Ujar Hinata dalam hati, ia melempar buku diari nya melalui jendela kamarnya, Hinata takut Sasuke membaca buku yang merupakan curahan isi hatinya pada Naruto.

"...", Sasuke terdiam saat Hinata melepaskan ciumannya.

"pulanglah.. !" ujar Hinata, seraya melepaskan pelukannya.

"dimana bukunya?"

"sudah ku buang jauh."

"hm?kapan kau membuangnya?"

"saat kita berciuman tadi."

Sasuke menyeringai, kemudian berdecih.

"jadi kau sengaja melakukan itu hanya untuk mencari kesempatan untuk membuatku lengah dan membuang bukunya?"

"..."

"se pennting itu kah isi dalam buku itu hm?"

"..."

"kau membuatku semakin penasaran."

"..."

Sasuke membuka kunci kamar Hinata, bermaksud untuk meinggalkan kamar.

"kau membuatku senang hari ini."

"eh?"

"ku rasa kau salah dengan menggunakan ciumanmu".

"apa maksudmu Sasuke?"

"ku rasa aku akan menginginkannya lagi."

"ehh?"

Sasuke menyeringai seraya pergi meninggalkan kamar itu, Hinata terkulai lemas, ia menjatuhkan dirinya pada kasur king size itu, "ku mohon berakhir lah, jika ini mimpi, ku mohon bangunkan aku kami-sama..."

.

.

.

..

.

.

..

.

.

Tbc..

Arigatou mina sann... terimakasih untuk kalian semuanya, terimakasih banyak review nya.. yosh.. review lagi yahh... untuk semangat saya meneruskan fict ini,,,,

Sekali lagi arigatougozaimasta .. see u next chap..