Oke, karena saya tidak menampilkan adegan panas ShikaKiba di chapter kemarin, maka saya akan menampilkannya di chapter ini. Silahkan dinikmati *dogeza
;:ww:;
Judul : Tunangan ! ? 04 by HakkiRin
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rating :Teen menuju Mature
Peringatan : jeruk nipis, LEMON, Typos, AU, OOC, author kaga bener, shonen-ai, yaoi, etc.
Pairing : ShikaKiba
:::
04. Malam Pertama
Kamar 107, Apartemen S, 7 Malam.
Kiba masih berdecak kesal dan mengumpat tiada hentinya. Shikamaru yang habis membersihkan badannya, sudah keluar dari kamar dengan baju santainya.
"Tck! Kenapa harus aku! ! !," gerutu Kiba sambil menggertakan dagunya pada meja yang menjadi tumpuan dagunya itu.
Shikamaru yang mulai bosan dengan gerutuan tidak jelas Kiba mulai duduk di kursi kosong yang berada dihadapan Kiba.
Kiba melihat kepada orang yang duduk dihadapannya itu dan mulai membangunkan dirinya, menyandarkan punggungnya pada kursi yang didudukinya.
"Kenapa kau bisa sebiasa itu, sih! ?," tanya Kiba sambil menaikkan kedua kakinya keatas kursi, ditekuk.
"Karena aku sudah mengetahui rencana orang tuaku," jawab Shikamaru.
"Tch, kalau kau sudah tahu, kenapa kau tidak membeli kamar lain saja! !," ucap Kiba kesal.
Shikamaru mulai beranjak dari duduknya dan membungkukkan badannya sehingga ia berhadapan dengan Kiba. Walaupun ada meja sebagai pemisah antara mereka.
"Kau tahu, kita diawasi oleh orang tua kita," bisik Shikamaru tepat dihadapan wajah Kiba.
"Hah! ?"
"Kau tak lihat, dikamar ini sudah dipasang CCTV oleh oraang tua kita," ucap Shikamaru mengenyimpulkan.
"AP,...," dengan sigap Shikamaru membekap mulut Kiba dengan tangannya.
"Ssst... Lebih baik kita berbisik seperti ini saja agar percakapan kita tak terdengar oleh mereka," bisik Shikamaru pelan.
Kiba pun menganggukkan kepalanya pelan dan Shikamaru pun melepaskan tangannya dari mulut Kiba. Sekarang badan mereka sudah saling mencondong, membiarkan dada bidang mereka menempel pada meja yang menjadi penghalang. Dan mulai berbisik pelan.
~510~
Di suatu tempat, terlihat dua orang tua yang sedang melihat monitor yang menampilkan kegiatan kamar hunian 107 apartemen S tersebut.
"Sepertinya anakku sudah mengetahui rencana kita," ucap seorang ibu yang merupakan ibu Shikamaru.
Seorang ibu disebelahnya pun membelalakkan matanya, tanda bahwa ia terkejut.
"Dan sepertinya dia merencanakan sesuatu," lanjut sang ibunda Shikamaru sambil menggigit kuku ibu jarinya.
Kedua ibu tersebut mulai berpikir dan akhirnya, ibunda Kiba mengusulkan sesuatu.
"Aku akan mengirimkan seseorang untuk memberikan makanan pada mereka," ucapnya sambil mengeluarkan smartphonenya dan menghubungi seseorang.
Ibunda Shikamaru yang duduk disebelahnya hanya terdiam, bingung akan usulan aneh dari besannya tersebut.
~510~
TING TONG
Terdengar bunyi bel di kamar 107 tersebut.
Kiba yang berada didalam ruangan tersebut membuka pintu apartemennya.
Ya, sekarang Kiba hanya sendiri di apartemennya. Sudah satu jam yang lalu Shikamaru pergi dari apartemen itu. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam lebih.
"Sasuke?," ucap Kiba pada seseorang yang berada didepan pintu apartemennya tersebut.
"Hn," ucap Sasuke sambil mengangkat tangan kanannya.
"Kok kamu bisa disini?," tanya Kiba dengan raut kebingungan.
"Aku dititipkan ini oleh ibumu," ucap Sasuke sambil menyodorkan kantung plastik berisi kotak bekal yang ia pegang tanpa menggubris pertanyaan Kiba kepadanya.
"Hah?," Kiba semakin bingung dengan pernyataan Sasuke.
"Sudah, ambil saja. Dia mengkhawatirkanmu. Takutnya kau tidak makan makanan yang layak," ucap Sasuke lagi sambil menggoyang-goyangkan kantung plastik yang dipegangnya.
"Aaa... Arigatou," ucap Kiba, menerima kantung plastik tersebut.
"Sekarang aku pergi, ya. Jaa nee," ucap Sasuke, pamit diri dan mulai berjalan di lorong apartemen tersebut.
"Eh, kau tak mampir dulu?," tanya Kiba sambil keluar dari kamarnya.
"Tidak, Naruto sudah menungguku," ucap Sasuke tanpa berbalik, terus berjalan menuju lift sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Ah, oke. Dah," ucap Kiba.
Ia pun kembali ke dalam kamarnya setelah melihat Sasuke memasuki lift apartemen.
~510~
"Aku sudah memberikannya, Tante," ucap Sasuke, keluar dari lift dan tanpa sengaja menubruk bahu seseorang yang akan masuk ke dalam lift. Namun, Sasuke hanya lalu tanpa meminta maaf pada orang yang ditubruknya.
Orang yang ditubruknya itu pun melihat kearah Sasuke yang berjalan menuju halaman parkir apartemen.
Perasaan pernah lihat batin orang tersebut yang ternyata adalah Shikamaru.
"Iya, tante. Kiba mengambil titipan tante tersebut," ucap Sasuke, terdengar oleh Shikamaru.
Shikamaru pun tak jadi menaiki lift dan memilih untuk mengejar Sasuke. Ia yakin yang sedang ditelepon Sasuke tersebut adalah ibunya Kiba.
"Iya, Tante. Terima Kasih Kembali," ucap Sasuke, menutup pembicaraan tersebut lalu menyimpan HP nya pada saku kemejanya.
"Hei, kau! Apa yang ibu Kiba rencanakan! ?," tanya Shikamaru sambil menarik bahu Sasuke.
Sasuke berbalik, berhadapan dengan Shikamaru.
"Oh, kau tunangannya, ya?"
"Tak perlu mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaanku!," bentak Shikamaru mulai menarik kemeja Sasuke.
"Aku tak tahu apa yang tante rencanakan. Tapi, tadi aku hanya mengantarkan makanan titipan tante pada Kiba," ucap Sasuke datar.
Shikamaru pun melepaskan tangannya tersebut dari kemeja Sasuke dan mulai berpikir.
Tck! Pasti ada sesuatu... batin Shikamaru dengan pose berpikirnya.
Sasuke yang sedang membenarkan kemejanya tersebut pun angkat bicara,"Mungkin tante mencampurkan obat perangsang pada makanannya tersebut."
Mata Shikamaru pun terbelalak.
"O... Obat perangsang! ? Yang benar saja! ! !," teriak Shikamaru, berlari menuju lift apartemen, meninggalkan Sasuke yang tengah tersenyum seperti iblis.
~510~
"KIBA! ! !," teriak Shikamaru dengan nafas tak teratur, mendobrak pintu apartemennya.
"Apaan sih teriak-teriak! ? Berisik tahu!," ucap Kiba dari balik pintu ruang makan sambil membersihkan sela-sela giginya dengan tusuk gigi.
Shikamaru pun berlari kearah Kiba, menggapai bahu Kiba dan mengguncang-guncangkannya.
"Apa yang kau makan! ?," tanya Shikamaru, masih mengguncang-guncangkan bahu Kiba.
Kiba pun menepis lengan Shikamaru.
"Ukh! Aku habis memakan makanan dari ibuku, rambut nanas bodoh!," ucap Kiba kesal.
"Tch! Cepat muntahkan itu! !," teriak Shukamaru memerintah.
"Apa! ? Mana bisa begitu, bodoh!," teriak Kiba tak mau kalah.
"Tch! Masakan dari ibumu itu sudah dicampur dengan obat perangsang, anak anjing bodoh! !," teriak Shikamaru pada Kiba.
"HAH! ?," Kiba terkejut atas pernyataan Shikamaru tersebut.
"Darimana kau tahu, baka! ? Kau mencoba memfitnah ibuku, ya! ?," teriak Kiba membela ibunya.
Shikamaru mulai kesal dengan Kiba yang tak mau kalah darinya.
"Tch! Terserah kau sajalah! Merepotkan!," decak Shikamaru menuju pintu apartemen.
"Hei, mau kemana kau! ?," tanya Kiba.
"Ke Hotel! Aku akan tidur disana!," ucap Shikamaru kesal, memegang kenop pintu.
"Ya sudah, terserah kamu lah!," ucap Kiba meninggalkan Shikamaru, menuju kamar mandi.
Shikamaru pun memutar kenop pintu, tapi sayangnya pintu itu tak terbuka juga.
Tch! Kenapa tak bisa terbuka! ? kesal Shikamaru dalam hati.
Ia pun mencoba membuka pintu tersebut dengan kunci apartemennya. Namun hasilnya sia-sia.
Jangan-jangan, ini rencana mereka juga! ? batin Shikamaru.
"Tch, SIAAAAAAAAAL! ! ! !," teriak Shikamaru menyesal sambil memukul pintu didepannya tersebut.
~510~
Kiba telah selesai menyikat giginya, ia pun keluar kamar mandi yang sudah tersambung dengan kamar tidur tersebut. Saat keluar, ia melihat seseorang sedang membaringkan dirinya di sofa yang terdapat dalam kamar tidur tersebut.
"Tak jadi ke hotel, huh?," ucap Kiba dengan senyuman mengejek.
"Pintu apartemennya terkunci sendiri! Biarkan aku tidur di sofa ini!," ucap Shikamaru kesal, berbicara membelakangi Kiba.
"Terserah kau saja," ucap Kiba menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu ruangan tersebut, lalu menuju tempat tidur yang lumayan besar didekat meja kecil tempat disimpannya lampu tidur yang ia nyalakan tadi.
~510~
Panas... batin Kiba terbangun dari tidur lelapnya. Ia tak tahu pasti jam berapa sekarang, tapi kelihatannya masih malam karena tak ada sinar yang datang dari jendela kamar tersebut yang masih ditutupi oleh gorden.
"Uuuhn...," Kiba berjalan lemas sambil memegang kasur tempat tidurnya. Karena hanya sinar lampu tidur saja yang menerangi kamar tersebut, ditambah pemandangan Kiba yang kabur, kaki Kiba pun terbentur kaki ranjang dan terjatuh ke sofa yang berada didekat ranjang tersebut. Menimpa Shikamaru yang sedang tertidur disana.
"Hei, kenapa kau mendudukiku! ?," ucap Shikamaru marah karena selain ia dibangunkan dari tidurnya oleh Kiba, badannya pun sekarang diduduki oleh Kiba yang sedang merintih kesakitan karena kakinya tadi terbentur kaki ranjang.
"Hei, cepat berdiri! Kau berat!," ucap Shikamaru lagi,kini wajahnya mulai membiru.
"Hhhh.. Tu.. Tunggu sebentar kenapa! !," balas Kiba dengan kedutan menghiasi keningnya.
Kiba pun mencoba berdiri perlahan dari tempat duduknya dan Shikamaru pun terbebas dari orang yang mendudukinya. Shikamaru membangunkan dirinya dan mencoba mengambil napas panjang.
"Akh!," Kiba oleng, ia pun hampir terjatuh ke lantai. Sadar Kiba akan terjatuh, Shikamaru pun dengan sigap berdiri dan menangkap Kiba yang akan terjatuh.
"Kau tak apa?," tanya Shikamaru bingung dengan keadaan Kiba sekarang.
"A... Aku tak apa...," ucap Kiba, menundukkan wajahnya.
Tahu ada yang tidak beres dengan tunangannya tersebut, Shikamaru pun mendudukkan Kiba di sofa. Sementara dia duduk dilantai, mencoba melihat wajah Kiba. Shikamaru berhasil melihat wajah Kiba yang sudah memerah dan dipenuhi oleh keringat.
"Tak salah lagi...," ucap Shikamaru sambil menatap Kiba.
"A...Apanya?," tanya Kiba bingung sambil mengelap keringatnya dengan punggung tangannya.
"Pengaruh obat perangsang," ucap Shikamaru dengan tatapan serius.
"Aahn... Lalu, bagaimana cara menyembuhkannya! ?," tanya Kiba sambil memalingkan tatapannya dari mata Shikamaru. Karena semakin ia ditatap oleh Shikamaru, badannya akan semakin panas tak karuan.
Shikamaru pin duduk disebelah Kiba. Lalu membisikkan sesuatu,"Seks."
"A... Apa! ? Aku tak ma... mmph...," belum sempat menolak, mulut Kiba sudah dikecup oleh Shikamaru.
"Ekspresimu itu membuat kejantananku berdiri," ucap Shikamaru setelah melepaskan kecupannya.
"Tsk! Bukankah kau sudah terbiasa dengan seks! ? Wanitamu banyak, kan? ?," ucap Kiba sambil mengelap bibirnya yang tadi dikecup oleh Shikamaru.
"Wanitaku memang banyak, tapi aku tak pernah memasukkan kejantananku pada mereka," bisik Shikamaru di daun telinga Kiba lalu menjilat dan menggigitnya. Ketika lidahnya sedang menjilati kuping Kiba, tangan Shikamaru pun perlahan membuka baju tidur yang dikenakan Kiba.
"Huuunh..."
Lidah Shikamaru pun menjilat turun sampai perpotongan leher Kiba lalu menggigitnya dan menghisapnya, meninggalkan bekas kemerahan disana.
"Kkkhhhk! !"
Lidahnya mulai menjilat turun kembali menuju puting Kiba yang sudah mengeras. Ia menjilat puting sebelah kanan, sedangkan yang sebelah kiri dimanjakan oleh tangannya. Belum puas dengan hanya menjilat saja, Shikamaru mulai menggigit, mengulum dan menghisap puting Kiba yang sebelah kanan tersebut. Sementara dada sebelah kirinya diusap-usap oleh tangan Shikamaru lalu selesai mengusap-usap, jari Shikamaru memainkan putingnya. Diremas, disentuh, terus dimanjakan seperti itu.
"Aaaah... Aaaangh...Aaaah!"
Kiba mulai menggeliat di sofa tempat berbaringnya sekarang. Terlihat penisnya sudah berdiri dari balik celana tidurnya. Penis Shikamaru pun sama keadaannya. Karena keadaan yang semakin panas, Shikamaru pun menghentikan kegiatan lidah dan tangannya bersama putin Kiba dan membuka baju yang dipakainya sekarang. Tak lupa, ia menarik celana tidur Kiba hingga sosok dibawahnya itu hanya tinggal mengenakan celana dalam yang menutupi penisnya yang telah berdiri dan mengeluarkan cairan pre cum.
"Uugh!," wajah Shikamaru memerah sempurna melihat Kiba yang telah dipenuhi oleh peluh dan cairan saliva nya.
"B.. Bodoh! Ja... Jangan melihatku sss.. seperti ituu! !," teriak Kiba dengan nafas tak teratur.
Shikamaru mendekatkan bibirnya pada Kiba.
"Aku lupa, french kiss," ucap Shikamaru lalu mencium bibir Kiba.
Ia menggigit bibir bagian bawah Kiba.
"Akh!"
Akses untuk lidahnya masuk pun terbuka. Ia menjilat langit-langil mulut Kiba terlebih dahulu. Lalu mulai menjilati gigi Kiba. Deretan atas terlebih dahulu, dari ujung kanan hingga ujung kiri. Kemudian deretan bawahnya. Tak lupa pula dengan gusi Kiba. Lalu, lidah Shikamaru pun menyentuh lidah Kiba. Kiba yang terkejut dengan lidah Shikamaru yang basah mengenai lidahnya sempat menggulungkan lidahnya agar tak bertemu lidah Shikamaru. Namun, tatapan Shikamaru yang memohon membuat Kiba menjulurkan lidahnya dan membiarkannya bercengkrama dengan lidah Shikamaru.
"Uuuhn... Khhhh... Mmmmmh.."
Setelah beberapa menit ciuman panas itu berlangsung, Shikamaru pun mengeluarkan lidahnya, meninggalkan uraian saliva disudut bibir Kiba. Ia menyelesaikan ciumannya itu karena ia sadar bahwa dirinya dan lelaki yang tadi diciumnya membutuhkan oksigen untuk paru-paru mereka.
"Kah! ?," Shikamaru terkejut karena tangan Kiba tiba-tiba memegang penisnya yang tertutupi oleh celananya.
"Buka," ucap Kiba mendekatkan wajahnya pada wajah Shikamaru, dengan tatapan sayu.
Shikamaru tersenyum mesum.
"Kalau aku membuka celanaku ini, kau harus membuka pakaian terakhirmu itu," ucap Shikamaru dengan seringaian mesum.
Kiba terbelalak, namun akhirnya ia menyetujui syarat yang diberikan Shikamaru tersebut. Lalu, mereka pun membukanya secara bersamaan.
"Wah wah, punyamu sudah berdiri tegak rupanya," ucap Shikamaru sambil meraih penis Kiba lalu mengocoknya.
"Aaaah... K... Kau licik! !," ucap Kiba dengan sedikit mendesah.
"Kau mau juga yang punyaku?," tanya Shikamaru.
Kiba mengangguk pelan. Shikamaru pun berdiri, membiarkan Kiba yang masih terduduk di sofa.
"Silahkan," ucap Shikamaru sambil memegang penisnya, memperlihatkannya tepat didepan wajah Kiba.
"A.. Apa maksudmu?"
"Kau mau penisku, kan?," ucap Shikamaru sambil mengarahkan penisnya didepan bibir Kiba.
"Kulumlah," lanjutnya.
"Ukh!"
"Tak berani?," ucap Shikamaru dengan nada mengejek.
"Tch! Aku berani kok!," ucap Kiba tak mau kalah.
Ia pun memegang penis Shikamaru, mengarahkannya kedalam mulutnya.
Besar sekali batin Kiba memejamkan matanya.
Ia menjilati terlebih dahulu penis Shikamaru, lalu mulai mengulumnya. Setelah lama mengulum, ia pun menggerakkan kepalanya, maju dan mundur. Kegiatan tersebut ternyata membuat kejantanan Shikamaru berdenyut dan mengeluarkan cairan putih didalam mulut Kiba.
"Ngh.. Hhhh...," Kiba mengelap cairan tersebut. Wajah Kiba yang merona merah dan sudah dipenuhi peluh dan cairan Shikamaru membuat Shikamaru ON kembali dan ia mulai meniduri kembali Kiba diatas sofa.
"Kita belum selesai...," bisik Shikamaru.
Ia pun memasukkan jarinya pada lubang Kiba.
"Aaaaaakh! !"
Pertama telunjuk, berhasil membuat sang Inuzuka bungsu itu menggeliat dan bergetar. Sehingga air matapun terjatuh dari matanya. Setelah Kiba terbiasa dengan jari pertama, jari kedua pun ia masukkan. Kiba pun kembali menggeliat. Kali ini ia merangkul Shikamaru.
"Hnngh... S... Sakitt..," rintih Kiba.
"Ukh!," merasa tak kuat atas rintihan Kiba, Shikamaru pun mengeluarkan jarinya.
"K...Kenapa dikeluarkan?," tanya Kiba.
"Aku tak sanggup mendengar rintihanmu itu..," ucap Shikamaru, memalingkan wajahnya.
Kiba yang masih merangkul erat Shikamaru, menarik Shikamaru hingga wajahmya berada tepat dihadapan wajah Kiba.
"M...Masukkan saja... A.. Aku tak apa... Ba.. Bagian dalamku sudah panas..," bisik Kiba ditelinga Shikamaru.
Shikamaru yang mendengar permintaan Kiba tersebut pun mulai menyodokkan penisnya langsung ke dalam lubang Kiba.
"AAAAAKH! ! !," Kiba mencakar kuat punggung Shikamaru.
Darah keluar dari lubang Kiba.
"Kkh...," Shikamaru sempat shock dan menghentikan pergerakannya. Baru sebagian penisnya yang memasuki lubang Kiba.
"L...Lanjutkan s..sa..jaaaa..!," ucap Kiba dengan nafas berat.
Shikamaru pun memasukkan seluruh penisnya kedalam lubang Kiba.
"Ngaaaakh.. Aaaahk! !," Kiba menggeliat, berusaha membiasakan penis yang sekarang sedang berada didalamnya.
Keduanya pun mengatur napas mereka masing-masing.
"Hh.. Boleh kugerakkan?," izin Shikamaru pada pemilik lubang.
Kiba mengangguk pelan, mengizinkan Shikamaru untuk menggerakkan penisnya.
Shikamaru pun memulai hentakkan pertama yang membuat Kiba mengerang. Entah itu erangan kesakitan atau kenikmatan. Lalu, Shikamaru melanjutkan kehentakkan yang kedua dan seterusnya yang membuat Kiba mendesah tak karuan. Setelah-entah-hentakkan keberapa, Kiba merasakan sweet spotnya sudah dihantam oleh kejantanan Shikamaru.
"AAAAAAH! !"
"Disini rupanya," ucap Shikamaru setelah menemukan titik kenikmatan Kiba. Ia pun terus mengeluar-masukkan penisnya, hingga bagian dalam Kiba itu terasa sangat panas.
Mereka pun mencapai klimaksnya, dengan cairan Shikamaru duluan yang memenuhi lubang Kiba dan dilanjuti oleh Kiba yang mengeluarkan cairannya yang berhasil mengotori perutnya .
"Hhhh.. Haaah.. Haaah...," Shikamaru menjatuhkan dirinya diatas Kiba. Mengatur nafasnya.
"Hh...Haaaah...Hhhaa..," sama halnya dengan Shikamaru, Kiba pun mengatun nafasnya.
"Kau berat tahu, rambut nanas!," berontak Kiba yang ditindih oleh Shikamaru.
"Oke, oke.. Aku berdiri," ucap Shikamaru, lalu ia pun berdiri.
"Aku akan tidur di kasur," ucap Shikamaru, tersenyum licik.
"Hei, itu kasurku!," teriak Kiba mencoba bangun dari baringannya di sofa. Namun bagian belakangnya yang terasa begitu sakit, Kiba pun kembali menidurkan dirinya di sofa.
"S... Sakiiiit! !," teriak Kiba sambil mengusap pinggangnya.
Shikamaru yang kasihan pun akhirnya menggendong Kiba dan menidurkannya di kasur.
"Oke, kasur itu milikmu!," ucap Shikamaru menyerah dan mulai berjalan menuju sofa kembali. Namun, Kiba memegang pergelangan tangan Shikamaru.
"Kau boleh tidur disebelahku,"ucap Kiba, menyembunyikan wajahnya yang merona dibalik bantal.
Shikamaru pun tersenyum dan membaringkan dirinya disebelah Kiba.
"Bagaimana kalau satu ronde lagi," ucap Shikamaru tanpa malu dan berhasil membuat Kiba berkedut.
"KEMBALI KE SOFA SANAAAA! ! ! !," teriak Kiba sambil melemparkankan bantal dan guling pada Shikamaru.
::TBC::
