Hallo minna-san.

jumpa lagi, sebelumnya saya mau minta maaf dulu karena telat update. mungkin ada beberapa dari readers yang udah lupa sama nih cerita. kesibukan di dunia nyata membuatku nggak sempat nulis, trus gomenne kalau ini cerita kependekan, kurang asik, atau apapun itu.

Bow 90 derajat.

ok, kita lanjut aja ke cerita


Disclaimer:: I don't own the character. Naruto belong to Masasashi Kishimoto Senpai. I just own this strory


Aku tak tahu aku harus memasang wajah yang seperti apa hari ini. Pagi tadi aniki kembali menghampiriku, dan berkata jika semua ini belum terlambat. Ia mau menyerah asal aku mau berjuang. Huh, apa-apaan itu. Dia minta ganti posisi setelah semua ini? Harusnya dari awal kami ganti posisi, aku anak pertama dan dia anak ke dua pasti semua akan baik-baik saja. tapi mau bagaimana lagi, tak mungkin aku melawan takdir bukan?

Huft, tapi aku juga tak bisa menyalahkannya. Aku terlalu menyayanginya bahkan untuk sekedar merasa kesal. Jika saja calon suami naruto bukan aniki, aku pasti sudah menculiknya dari dulu. Dan ku pastikan calon suaminya itu tak akan merasakan yang namanya hidup damai di dunia ini. Hidup ini aneh bukan? Aku mencintai naruto dan dia menikah dengan kakak ku.

Aku menatap langit dari jendela kamarku, melirik pada awan-awan yang menggantung. beberapa ekor burung terbang bergerombol dan ada juga yang berpasangan. Bahkan burung pun memiliki pasangannya masing-masing. Ah, sejak kapan aku jadi melankolis begini? Kulirik tuksedo putih yang tadi di berikan para pelayan padaku. Haruskah aku memakainya? Menjadi pendamping pria dari pernikahan gadis yang kucintai? Ugh rasanya aku ingin kabur dari sini. Dan lagi aku tak berminat menghadiri pernikahan menyakitkan ini. Apakah aku harus membawa seseorang untuk menemaniku? Mungkin bukan ide buruk.


Dan di sinilah aku sekarang, bersama seorang gadis bersurai merah jambu yang terlalu antusias dan bersemangat melihat betapa indahnya suasana taman kota yang kini telah disulap menjadi tempat pesta pernikahan yang elegan. Garden party, dengan tema putih suci dengan bunga mawar putih menjadi bunga utama. Setiap sudut taman dipenuhi mawar putih. bahkan meja-meja pun di hiasi mawar putih yang elegan.

Si gadis pink menarik tanganku mendekat padanya dan menempelkan kepalanya di bahuku dengan menjijikkan. tersenyum pada setiap undangan yang melewati kami. Namun kuabaikan saja tak ingin menanggapinya. Aku terlalu kacau bahkan untuk sekedar hadir hari ini. Buruknya lagi akulah pendamping mempelai prianya. Sepertinya semua penderitaan ini belumlah cukup untuk hatiku.

"Pernikahan yang indah ne, sasuke-kun" ucapnya dan mengambil beberapa cake di meja hidangan. Aku hanya diam tak ingin menanggapi. Sebenarnya pesta pernikahan ini akan sangat indah dan berkesan bila ini dilakukan untuk pernikahanku dan naruto.

"Bila nanti kita menikah, apa kau juga akan membuat pesta seperti ini juga untukku sasuke-kun" wanita ini cerewet sekali. Menyesal aku mengajaknya, mungkin harusnya aku harus memillih perempuan yang sedikit pendiam.

"Jangan bermimpi" hanya itu yang aku ucapkan, dan si gadis pink tertawa ringan menanggapi. Dia bodoh.

"Pasti kakakmu bahagia sekali hari ini sasuke-kun, bisa menikah dengan orang yang dicintainya." Ucapan si gadis pink mengejutkanku. Apakah aniki bahagia? Apakah aniki mencintai naruto? Aku tak pernah tahu itu.

"Mereka dijodohkan" ucapku tak terima dengan perkataan sakura.

"Hontou? Ah, ku pikir mereka saling mencintai karena biasanya orang menikah karena saling mencintai. Ternyata di zaman sekarang ini masih ada saja yang namanya di jodohkan, seperti dorama saja" sakura sedikit terkikik menahan tawa di akhir kalimatnya.

Mungkin sakura benar, mungkin saja mereka saling mencintai. Haruskah aku mencari tahu? Lalu jika semua itu benar aku harus apa? Sekarang saja aku tak tahu harus berbuat apa?


Kini aku sedang berdiri disisi aniki bersama para undangan lainnya untuk menyaksikan upacara sakral pernikahan kakakku. Alunan musik nan mewah mengalun khidmat, orang-orang terdiam, mungkin berbisik lebih tepatnya. Di ujung sana seorang gadis bersurai pirang yang cantik tengah berjalan lurus kearahku dan aniki. Tubuhnya yang ramping terbalut gaun pengantin yang melekat pas pada kulit kecoklatannya. Dan senyum manis tak lupa bertengger di wajahnya, senyuman indah untuk aniki. Dadaku kembali sakit, setiap langkah yang di ambil oleh naruto menghujam jantungku terlalu perih. Tak ingin menampakkan kerapuhanku aku memasang poker face terbaikku. Memandang angkuh terhadap semua orang yang tengah berbahagia dengan pesta pernikahan ini. Menjadi uchiha sasuke yang dikenal setiap orang sebagai manusia dingin.

Ku teliti lagi wajah naruto yang sedikit menunduk dengan rona merah. Mungkinkah ia malu? Atau gugup? Tapi sumpah demi apapun naruto cantik sekali hari ini. Gaun putihnya menggantung lembut seperti helaian sutera, dan di belakangnya karin yang juga bergaun putih mendampinginya berjalan dalam gandengan paman minato yang terlihat tersenyum tampan di usianya yang tak lagi muda. Semuanya terlalu indah dan menyakitkan di saat yang bersamaan.

Dan sepeti upacara pernikahan sudah sering terjadi sebelumnya, paman minato menyerahkan tangan naruto pada aniki, perlambang penyerahan tanggung jawab dan perlindungan puterinya pada sang calon suami. Dan aniki menerimanya dengan seulas senyum simpul di bibirnya. Untuk sesaat aku berkhayal melihat diriku sendiri di posisi aniki. senyum miris akhirnya terpasang di wajahku, mataku memanas ingin mengeluarkan cairannya. Tapi aku tahu aku harus kuat, tak mungkin aku merusak pesta pernikahan kakakku dan gadis yang kucintai. kucoba tegar dan kembali memasang poker face yang entah kenapa terasa berat untuk hari ini.

Mereka semua kini tersenyum. Aniki, paman minato dan bahkan naruto tersenyum. Jadi apa hanya aku yang bersedih di sini? Kini aniki membawa naruto menuju altar, aku dan karin mengiri mereka berdua meninggalkan paman minato yang tengah menyeka air mata bahagia. dan aku ingin kematian datang menjemputku di sini sebelum sumpah itu terucap, sungguh aku sudah tak sanggup.

"Uchiha Itachi" panggil sang pendeta dan aku menahan gejolak dalam hatiku agar tak menghancurkan pernikahan ini.

"Ya"

"Maukah kau mendampingi uzumaki naruto dalam suka dan duka, menjaga dan melindunginya hingga maut memisahkan kalian?" jantung berdetak dengan keras, berpacu seolah menuju detak terakhirnya. Dan entah kenapa di sudut hatiku, aku berteriak pada aniki untuk berkata tidak.

"Saya bersedia" lalu pandangan sang pendeta tertuju pada naruto dan memanggil namanya. dan aku membeku.

"Uzumaki Naruto?"

"Y-ya" naruto gugup? Mungkin ini pertama kalinya aku melihatnya begitu. dan ketahuilah bahwa aku jauh lebih gugup sekarang. Ku yakinkan diriku bahwa aku akan baik-baik saja. semua akan baik-baik saja. begitu caraku agar tetap berdiri di sini dan membiarkan semua selesai seperti seharusnya.

"Maukah kau mendampingi Uchiha itachi dalam suka dan duka, menemani dan melayaninya hingga maut memisahkan kalian?" tanya sang pendeta. Sesaat kulihat naruto memandangku, tak mengerti apa maksudnya. Apa ia butuh dukunganku?

"Saya bersedia" ucapnya bagai bisikan, namun kami bisa mendengarnya. Sepertinya aku memang tak sanggup, ini terlalu menyakitkan. bahkan genangan yang sedari tadi ku tahan benar-benar mendesak keluar. hatiku benar-benar ngilu. sakit sekali, aku ikhlaskan pada tuhan bila ia ingin mencabut nyawaku sekarang karena sungguh aku sudah tak sanggup lagi. bunuhlah aku di sini. dan sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. buru-buru ku hapus agar tak ada yang tahu.

"Dengan ini kalian resmi menjadi suami istri, Itachi aku persilahkan kau mencium istrimu" tak bisakah pendeta sial ini menghilangkan bagian yang ini dari prosesi pernikahan? Ataukah dia tahu betapa sakitnya aku di sini dan ingin menambah penderitaanku di sini? Kupalingkan wajahku saat aniki akan mencium naruto. Aku tak ingin melihat. Berdiri di sini sudah cukup menyakitkan bagiku, apalagi melihat adegan itu. Tidak terima kasih,aku bukan masokis.

Semua orang bertepuk tangan, mungkin aniki sudah menyelesaikan ciuman menyebalkannya dan aku memalingkan wajahku melihat keduanya. Dan aku harus menyesali tindakkanku. Itachi belum menyelesaikannya, ia tampak begitu menikmati ciumannya dengan naruto yang mulai saling melumat. Aku jijik dan aku ingin pergi. Sepertinya memang hanya aku yang terluka di sini. Jelas sudah itachi menyukai naruto begitu pula sebaliknya. Semuanya terlalu menyakitkan untukku. Aku ingin pergi, apakah aku pengecut bila aku benar-benar melakukannya?

Beberapa orang mulai mengerubungi kami dan memberi selamat untuk itachi dan naruto. Ditengah keramaian, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka, aku tak sanggup lagi. Kutarik tangan sakura yang tadi datang bersamaku, membawanya paksa bersamaku. Aku butuh pelampiasan, dan terima kasih untuk sakura karena sudah hadir di sini. Aku menyeretnya menuju toilet terdekat, menguncinya dari dalam. Sebelum sakura sempat berkata apa pun aku langsung melumat bibirnya dengan kasar, memaksanya untuk membuka dan menerima kehadiranku.

Ciumanku semakin kasar dan penuh kemarahan, semua aku lepaskan pada si gadis pink. Kugigit dan ku hisap lehernya dan dia mendesah. Aku tahu perempuan ini sudah tak berkutik lagi di hadapanku. Dan dalam sekejap aku sudah berada di dalam sakura. Sakura menikmatinya begitupun aku. Aku melampiaskan kemarahanku dalam diri sakura, dan saat aku mencapai rasa tertinggi dalam diriku aku memuntahkan semuanya dalam dalam tubuh sakura tak peduli, apakah ia akan hamil setelah ini atau tidak.

"Hah.. aku tak menyangka kau akan menghabisiku sini. Hah.. sepertinya ciuman kakakmu yang panas itu bisa juga membuatmu hard. Kalau melihat adegan mereka, aku jadi tak yakin kalau mereka itu di jodohkan sasuke-kun" si pink itu terus saja bicara sambil merapikan penampilannya.

"Kau berisik" makiku dan merapikan penampilanku.

"Haha, kau tak pernah berubah ne, sasuke-kun" dia memeluk lenganku sekilas, lalu kembali merapikan rambutnya yang berantakan.

"Oh, ya ampun. Bagaimana ini?" teriaknya menjengkelkan "Kau membuat tanda di tempat yang tak bisa ditutupi sasuke-kun" dan dia berujar pura-pura imut di hadapanku.

"Itu masalahmu" ku tutup pintu toilet dan meninggalkannya di dalam sana dengan masalahnya. Aku harus segera pulang. Bermain dengan sakura tak sepenuhnya mengilangkan masalahku. Aku masih merasakan sakitnya. rasanya jantungku seperti berlubang. Ini seperti rasa sakit pada novel picisan yang sering aniki rekomendasikan padaku. Aku tak menyangka bila ternyata rasa sakit yang dulu cemooh kini terjadi padaku. bahkan aku merasakan yang jauh lebih sakit dari novel itu. Ingatkan aku untuk berterima kasih pada si penulis novel.

"Oh shit" sesak di dadaku tak kunjung berkurang, entah kenapa rasanya begitu menyebalkan. Perkataan sakura terngiang-ngiang di telingaku. 'Kalau melihat adegan mereka, aku jadi tak yakin kalau mereka itu di jodohkan sasuke-kun'

Benarkah begitu? Benarkah mereka berdua saling mencintai. Kalau begitu, berati perasaankulah yang salah selama ini. Akulah yang harus mengalah, aku yang memiliki rasa ini sendirian. Naruto mencintai aniki, dan begitu sebaliknya. Berarti keputusanku tak salah bukan?

"Sasuke ibu sudah mencarimu sejak tadi, sini kita foto keluarga" suara ibu mengusik lamunanku. Aku berjalan bagai robot mendekati semuanya. Sebelah kanan aniki ada ayah dan ibu, lalu di sebelah naruto ada bibi kushina paman minato dan karin. Aku mendekat kesebelah ibu, lalu si photographer meminta kami semua tersenyum menghadap kamera, namun sepertinya hanya keluarga naruto dan ibu ku yang senyum. Aku dan ayah hanya memandang datar dan aniki mengulum senyum samar di wajahnya.

"Naruto sekarang kau lempar buket bunganya ya. Kalau bisa arahkan padaku ok" selesai berfoto karin langsung menarik naruto menuju kerumunan gadis-gadis yang berharap dapat buket bunga pengantin. Setelah menghitung satu sampai tiga, naruto melempar bunganya dan jatuh tepat dalam pelukan gadis berambut si gadis pink berisik yang entah sejak kapan sudah menyelesaikan beres-beresnya di toilet.

"Kyaa, aku dapat bunganya" sorak si pink heboh dan aku memutuskan untuk menyingkir. Tak ingin meladeninya yang berteriak seperti kucing minta kawin.


Para tamu undangan mulai meninggalkan tempat resepsi. Hanya tinggal kami di sini, aku ingin pulang, entah sudah berapa kali kata ini muncul dibenakku. Tapi ayah berkata kami akan pulang bersama dan melakukan makan malam keluarga sekaligus berbincang-bincang setelah bersatunya keluarga kami. Sepertinya ayah juga masih ingin menambah lukaku di sini.

"Hoi teme, hari ini kau aneh sekali" ini pertama kalinya dalam hari ini naruto bicara padaku, meski sebelumnya kami selalu bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. Wajahnya nampak pucat, sepertinya pernikahan ini banyak menguras staminanya.

"Aku lelah sekali teme" ucapnya dan ikut duduk di sebelahku lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Dan jantungku berdegup cepat karena aksinya padaku. Jantung bodoh, kau sudah tak boleh berdebar lagi karena istri orang, tolong hentikan sebelum dia mendengar debarmu yang keras itu.

Keheningan menyelimuti kami. Mentari senja menyapu hangat wajah kami. Beberapa orang hilir mudik membereskan peralatan sisa pesta. Ayah dan ibu kami juga sibuk, entah karena apa aku tak tahu. Suasana yang cukup romantis jika tidak mengingat keaadaan saat ini

"Akhirnya aku menikah muda dengan kakakmu, teme" gumamnya masih bersandar di bahuku. matanya masih terpejam, entah apa yang ia pikirkan di dalam sana.

"Apa kau bahagia, naruto?" akhirnya pertanyaan itu ku suarakan juga. Segala sesuatunya berkecamuk dalam diriku. Lama ia terdiam, seperti memikirkan dengan keras perkataanku.

"En, aku juga tak tahu. Tapi karena itu anikimu kurasa aku akan bahagia. Tapi jika yang kau tanya adalah saat ini, aku merasa biasa saja. Kenapa memangnya?" tanyanya dan memalingkan wajahnya menatapku lurus. Terlalu dekat untuk ukuran seorang teman. Bahkan hembusan nafasnya terasa menggelitik pipiku. Apa naruto ikut-ikutan menggodaku?

"Apa kau mencintai aniki, Naruto?"

TBC

Sekali lagi maafkan saya, menggantungkan chapter ini. Soalnya saya juga bingung lanjutannya gimana bagusnya. Butuh saran readers sekalian, gimana kelanjutannya.

Special Thanks buat

Aiko Michishige. AprilianyArdeta. Deep'O'world. Dewi15. Ichiro Makoto. Khioneizys. MimiTao. NaluCacu CukaCuka. NiPutuTrisnaJunayanti. Uchiharuno Sierra. UzumakiDesy. Yoona Ramdanii. akira suke. chy karin. justin cruellin. . narunaruha. princess haru. . satansoo. sivanya anggarada. sparkcloud0208. uzumakinamikazehaki. viraoctvn. yassir2374. yukiko senju. dan zielavienaz96. yang udah Favorite kan cerita ini

trus buat

AprilianyArdeta. Dewi15. FujoDeviLZ10. Jasmine DaisynoYuki. Khioneizys. NaluCacu CukaCuka. Okada Hikami. Yoona Ramdanii. claire nunnaly. julihrc. justin cruellin. . narunaruha. princess haru. satansoo. sparkcloud0208. viraoctvn. wildapolaris. wintersubaki. yassir2374. zea vaclav. yang udah Follow cerita ini.