Boleh curcol dikit ya :)
Saya kemarin itu dalam keadaan on fire. Saking on fire-nya sampai lupa ngedit, sampai lupa tanda baca, trus EYD berantakan, English-nya jaaaannn- zero! Hahahaha...
Tapi saya bahagia, karena apa? #kepokanLoPada hahaha, karena ada yang mau jadi beta reader gratisan saya.
Makasih buat NineTailFox, dan iadyy yang udah komen di chap kemarin. Mereka adalah orang yang mau review di mana letak kesalahan saya :)
Karena resolusi saya tahun ini adalah menghilangkan typo, maka saya akan sangat berterimakasih apabila para reader sekalian mau mengingatkan. Hahaha...
.
Well, di chap ini ada bagian 18++
Dan bagi kalian yang belum cukup umur, saya sarankan untuk men skipnya okey. Saya tahu batas kok. Saya nggak tanggung jawab jika kalian salah tanggap trus menuduh saya author cabul.
Sankyuuuu-
.
.
Mereka bilang mereka adalah musuh.
Mereka saling membenci.
Saling menghancurkan.
Tapi kemudian menikah.
.
.
Hinata pikir dengan menikahi Sasuke maka ia akan membalas dendam kepada lelaki itu. Menunjukkan kepada dunia bahwa lelaki sialan itu tidak akan bisa merebut kebahagiaannya. Perempuan independen sepertinya akan mempermalukan keluarga Uchiha, membuat mereka memilih mati ketimbang hidup.
.
Sasuke pikir dengan menikahi Hinata ia bisa mengendalikan gadis itu. Membuatnya tersiksa dengan cemoohan yang akan didapat gadis itu, dan membuat hidupnya seperti di neraka. Dia berjanji akan membuat perempuan yang sok hebat itu merengek di kakinya.
.
Wellcome to reading-
.
WEDDING HELL.
.
An Original story by poochan.
Naruto by MK.
.
Sasu-Hina
Romance
.
Warning:
M content.
Typos, OOC, plotless, dan crackpair.
.
DLDR!
.
Bersikap sopan
dan jangan budayakan plagiat.
Saya menerima kritik dan saran.
.
.
(Act • 4)
.
Artemis
.
.
[Hinata pov]
.
Pernah dengar Helen dari Troya? Seorang perempuan yang bisa menggegerkan kerajaan Yunani. Dan membuat perang besar karena kecantikannya.
.
Menurut penelitian Helen bisa juga diartikan Selene atau Artemis, si dewi rembulan dalam mitologi Yunani. Sejarah mencatat kalau dia mencintai musuh dari kerajaannya. Dia menghianati Minelous dan lebih memilih Paris sebagai kekasihnya.
.
Perang besar itu tak dapat dielakkan dan memaksa Minelous si bijaksana memilih untuk mempertahankan harga diri dan melupakan cintanya.
.
Mungkin aku bukan Helen. Tapi aku bisa membuat Itachi dan Sasuke pecah kongsi. Pernah dengar devide et impera? Taktik lama bangsa Portugis demi mendapatkan rempah dari negeri Indonesia. Maka aku menggunakan hal yang sama untuk kedua Uchiha itu.
Mungkin kalian bertanya. Kenapa aku harus membenci mereka kalau aku mencintai salah satunya.
Jawabannya sangat simpel, aku tidak suka mempertaruhkan harga diriku menjadi rendah di hadapan mereka. Apalagi jika karena surat wasiat konyol.
****Wedding Hell****
.
Hinata point of view
Musim semi 2004.
.
Uchiha Sasuke benar-benar berengsek kelas wahid. Setelah ia begitu menyebalkan mengalahkanku dalam ujian masuk, ia masih berani membuatku malu di depan kelas.
Sialan, memang.
"Aku tidak menyukai menjadi ketua dewan siswa, lagipula kita kan masih kelas satu. Kenapa tidak kau tunjuk Hinata saja."
Aku mengepalkan tanganku di depan meja. Memasang senyum manisku untuk mencoba tidak terkecoh atas pelecehan verbal Sasuke barusan. "Maaf, Uchiha-kun. Kebetulan sekali, aku sudah menjadi sekertaris. Jika kau tidak lupa." Aku menahan tanganku untuk tidak menampar mulut culasnya.
Apa-apaan ini? Setelah ia mengusulkanku dan membuat hampir semua orang percaya bualannya kalau aku adalah sekertaris impian, lalu dia seenaknya mengejekku dengan dia yang seolah menolak menjadi dewan siswa?!
Dasar iguana sialan! Dia pikir aku tak tahu tak-tik alibinya? Dia pikir kamuflase kacangan macam ini aku tak tahu begitu?! Ia sengaja menghinaku yang cuma sekertaris dewan siswa kan?!
.
Keparat kau Uchiha busuk!
.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Lalu dengan senyum terbaikku aku akan membalasnya. "Jika Uchiha-kun tidak bisa menampuk beban itu, maka Neji-kun bisa dipertimbangkan. Kurasa, banyak hal tidak bisa diukur melalui nilai akademik. Kadang nilai etika dan norma adalah kunci yang memang tidak bisa diukur dengan eksakta."
.
Aku melihat kilat kemarahan di matanya. Rasakan itu Uchiha sialan!
"Neji Hyuuga merupakan pria paling bertanggung jawab yang pernah kukenal. Dan aku bisa menjaminnya dengan harga diriku."
"Kau sengaja mencalonkan pengawalmu sendiri?" Sasuke menyeringai sinis, seolah mengejekku karena berpikir seperti abege labil yang sedang dimabuk cinta dan buta akan keadaan di sekitarku.
Tentu saja aku takkan mengakui kehebatannya. Egoku takkan pernah mengijinkan diriku memuji atau mengakui segala kebaikan dari para Uchiha. Terutama setelah surat wasiat itu.
.
Aku memberikan jurus senyum paling manis yang kupelajari dari ibu tiriku. "Oh, Uchiha-kun, kalau aku tidak mengenalmu, tentu aku berpikir kau sedang cemburu." Aku kemudian terkikik sopan. Memberikan dia candaan manis akan membuatku menang.
Semua orang di depan kami berkasak-kusuk sendiri,
"Kalian manis sekali, andai saja kau belum pacaran dengan Neji, Hinata..." Ino dengan riang mencetuskan ide gila yang terdengar seperti iblis yang akan diijinkan masuk surga.
Dia mengerutkan alisnya yang hitam dan memandangku dengan dingin, "Kau pacaran dengan Neji?!" Ada geraman amarah yang keluar begitu saja.
Oh, aku suka ini. Menggoda Sasuke Uchiha memang menyenangkan. Aku memberikan wajah imutku, lalu dengan manja aku mengerling, "Neji sangat baik, dan dia seorang gentleman. Dia takkan memandangku seperti mahluk hina dan akan memperlakukan gadis dengan baik." Aku memuji semua kelebihan Neji. Dan semua itu fakta, bukan bualan.
.
Sasuke mendengus. "Oh, nikmatilah masa mudamu dengan baik Hinata." Sasuke beranjak dari tempat duduknya. Sebelum langkahnya mencapai pintu, Hinata berbicara dengan nada yang begitu manis. Namun begitu, Sasuke enggan untuk sekedar berbalik dan melihat ke dalam manik mata ametys milik Hinata.
"Untuk orang yang mengaku tidak tertarik dengan tawaran Obito-san, kau terdengar sangat perhatian." Hinata menatap punggung Sasuke yang terlihat begitu bidang dan kokoh daripada milik si jangkung Itachi.
Sebelum tangan Sasuke meraih pintu, suara merdu Hinata terdengar lagi, "Arigatou, Sasuke-kun, kau baik sekali."
.
Blam!
.
Pintu ruangan rapat, tertutup, meninggalkan beberapa pasang mata yang tampak tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi meski memenangkan pertarungan atas Sasuke, Hinata justru merasa kalah. Apalagi saat ia sadar, bukan dia yang melenggang penuh kemenangan, karena pada dasarnya Sasuke telah meninggalkan permainan ini lebih dulu.
****wedding hell****
...
..
.
Sasuke berjalan ke atap gedung. Dadanya sesak, ada sebuah api yang berkobar besar ketika Ino mencetuskan kaliamat, "Kalian manis sekali, andai saja kau belum pacaran dengan Neji, Hinata..."
Dalam amarah tertahankan, Sasuke mencengkeram pinggiran dinding pembatas. Ingin melompat saja. Tapi ia mendengus, seringai menyakitkan terlukis jelas di bibirnya.
Bahkan menjadi musuh sempurna di mata Hinatapun, tak bisa membuat gadis itu berpaling kepadanya. Segala atensinya hanya seperti lalat yang sekedar lewat.
Ia mendesah, mungkin hatinya perlu hiburan. Dan ia bisa memulainya dari si kuning sahabat rival abadinya.
.
Raven: Hi.
YellowGirl : Hai Sasuke-kun. Tumben chat privat denganku
Raven: Hn.
YellowGirl: Pasti kepo soal Hinata lagi ya :)
Raven: Hn. Ketahuan?
YellowGirl: Hihihi.. sekarang Hinata kelihatan kesal.
.
Sasuke menarik napas ketika ia mengetikkan sebuah nama,
Raven: Neji?
YellowGirl: Oh, dia bilang tidak bisa jadi dewan siswa.
Raven: Maksudku mereka benar-benar jadian?
YellowGirl: Entahlah. Soalnya Hinata biasa menangis di pelukan Neji. Terus, dia sering membela Neji dari Tuan Hyuuga. Tadi malam malah aku melihat mereka berciuman.
.
Sasuke meremas ponselnya. Lalu dengan cepat mengetik, 'sampaikan selamat saja.'
YellowGirl: Wah-wah, seperti prodi saja.
Raven: Sialan.
YellowGirl: Gimana kabar Itachi?
Raven: Bagian mana yang ingin kau tanyakan?
.
Ada jeda lama ketika Ino membalas chat Sasuke.
YellowGirl: Hinata sepertinya curiga hubungan kita. Dia tanya apa kau sedang PDKT denganku. Hahahaha.. dia tampaknya salah paham dengan kedekatan kita.
.
Jari Sasuke tergantung di udara. Ia gamang bertanya apakah Hinata sudah bilang kalau gadis itu dijodohkan dengan Itachi atau belum.
Soalnya kan Ino cinta mati dengan kakaknya. Sebagai imbal balik Sasuke yang memberi informasi kepada Ino, gadis blonde itu maka dengan semangat menggebu akan membocorkan apapun tentang Hinata. Termasuk kesukaannya akan permainan kendo, hobinya yang memecahkan soal matematika. Dan juga cita-citanya yang dilamar di rooftop gedung tertinggi dengan cincin antik yang memiliki sejarah, seperti berlian Hope milik Marie Antoniette.
Sasuke merogoh kotak rokok di kantongnya, ia butuh pelampiasan. Persetan dengan Hinata yang tak menyukai bau tembakau, toh dirinya tidak pernah dipilih.
Hanya satu yang bisa membuatnya terpilih. Yaitu ketika Itachi menyerah akan surat wasiat itu.
Sial!
Itachi tentu tidak bodoh, saham lima belas persen dari Uchiha Enterprize tidak sedikit. Itu bisa membuatnya menjadi milyarder dalam satu kedipan mata. Hanya orang bodoh yang melepasnya. Apalagi, Hinata merupakan selera Itachi, type Lara Croft.
.
Memenangkan Hinata ibarat sudah menakhlukan dunia. Terdengar prestius bukan?!
.
Jadi otak jeniusnya harus bekerja, jika ia ingin memiliki Hinata, maka ia harus merubah buruannya.
Mendekati Ino, maka akan membuat Hinata akan berusaha mendekatkan Ino dengan Itachi. Karena Sasuke tahu, Hinata tidak akan pernah membiarkannya bahagia.
Hinata tahu, selamanya Itachi adalah orang yang ingin dilampaui oleh Sasuke.
Hinata akan memakan umpan. Seolah-olah mendekatkan Itachi pada Ino. Jebakan cantik. Ini adalah trik kamuflase spektakuler.
Tapi Sasuke lupa, satu komponen yang terlupakan. Dia lupa, kalau kakaknya benar-benar mencintai Hinata. Head over heels.
.
.
We're so close
Yet not so close enough
*anonim
.
.
Tak.. tak.. tak..
Hah- hah- hah-
Napas Hinata menderu di dalam topeng pelindungnya. Matanya menyipit, dia belum kalah.
Tidak akan.
Maka itu dia mengambil kuda-kuda lagi, memejamkan mata sejenak, melepaskan semua beban sebelum mengambil satu serangan.
Tak-tak..
Tak-tak-tak,
Hinata mempercepat gerakan sehingga 'tak'
Dia memukul kepala si lawan.
Lalu semua gerakan berhenti. Hinata mengamati sosok yang terbalut atribut kendo. Lalu dia mendengus, "Kau lagi. Bukannya kau ada kencan dengan Ino."
Sosok di depannya membuka pelindung kepalanya menampilkan lelaki rupawan dengan rambut basah karena keringat. Sasuke menyeringai, menatap Hinata dengan pandangan tak bisa diartikan.
Hinata melepas pelindung kepalanya, rambutnya terurai sempurna. Sasuke terkesima, dalam bayangannya rambut Hinata yang menempel di kening wanita itu dan peluh yang membasahi pelipis dan leher gadis itu membuatnya tampak seksi.
Hinata bergerak menjauhi arena. Mengambil handuk dan menaruh pedang kayu beserta pelindung kepalanya. Ia mengusap peluhnya dengan handuk berwarna ungu muda.
Tanpa terasa, Sasuke sudah mendekat, terlalu dekat hingga Hinata bisa mencium bau tembakau sekaligus juga sake dan aroma pinus yang bercampur dengan keringat. Hanya satu kata yang mendeskripsikan wangi Sasuke, manly. Bukan wangi bocah abege dengan colonge.
Sasuke mendekap Hinata dari belakang, tanpa suara.
.
Sebenarnya siapa mereka?
Yang mendeklarasikan diri sebagai musuh yang tak mengenal kata kalah. Mencari sebuah kalimat kemenangan yang tak pernah akan keluar dari dua bibir yang memilih untuk diam dan membatu.
.
"Sialan." Sasuke membalik tubuh Hinata kasar dan mendorongnya ke sudut ruangan. Mengajarkan Hinata betapa putus asanya perasaannya sekarang.
Terutama setelah sang asisten berkata bahwa Itachi menyetujui Hinata sebagai jodohnya. Dan Neji?
Berengsek!
Pelindung Hinata itu telah merampas perhatian Hinata darinya.
Ciuman itu bukan sesuatu yang lembut dan penuh dengan cinta. Hinata merasa harga dirinya disobek.
Ia tahu, ia dan Sasuke tidak akan menginjak apa yang disebut dengan cinta. Karena cinta yang ia kenal tidak mungkin berbentuk pria berengsek seperti ini.
Hinata mendorong Sasuke menjauh dengan sisa kekuatannya.
Tidak!
Seorang gadis tidak boleh cemen. Karena di dunia ini dipenuhi lelaki-lelaki berengsek seperti Sasuke dan juga ayahnya.
Ia mengusap wajahnya kasar.
Lalu mendengus,
"Setelah kau lambungkan aku dengan post it yang kau taruh di lokerku, atau di buku-buku yang ku pinjam. Lalu kau berkencan dengan sahabatku. Hebat sekali." Hinata menatap geram wajah Sasuke yang tampak sendu.
Sasuke diam. Berdiri di sana dengan tatapan sakit akibat penolakan Hinata.
"Pikirmu aku siapa? Kalau kau bosan dengan yang lain lalu kau akan kembali padaku? Bahkan bicara cintapun kau tak sanggup."
Sasuke hendak buka suara sampai Hinata dengan cepat memotongnya,
"Kalau kau suka dengan sahabatku, maka jangan buat aku muak dengan semua ini." Hinata melemparkan kotak ke wajah Sasuke hingga kertas-kertas biru muda itu berjatuhan ke lantai.
"Kau tak perlu mengasihaniku yang selama tiga tahun mau saja terjerat bualanmu. Karna aku sudah bangun. Dan kau belum."
Ada tamparan tak terlihat yang membuat Sasuke merasa sakit. Seolah kau tiba-tiba tersadar akan sebuah kesalahan besar. Semuanya fiktif, seharusnya perasaannya kepada Hinata hanyalah sebuah permaian, tapi kenapa? Kenapa ia harus risih ketika mendengar Itachi bersedia bertunangan dengan Hinata. Dan kenapa pula ia harus kesal setengah mati ketika mendengar Hinata ada rasa dengan Neji.
.
Ketika Sasuke mendongak, si surai indigo telah menghilang. Yang ada hanya ruangan kosong tempatnya berdiri, dengan hujan deras di luar sana. Serta kertas-kertas biru yang berhamburan di kakinya.
Hatinya mencelos, saat matanya tak sengaja melihat tulisan tangannya sendiri.
.
.
Satu dari seribu
Aku mau kamu
(*mongseptember; Petjah)
.
.
****wedding hell****
...
..
.
Kembali ke masa sekarang.
.
Pesta baru saja usai, Hinata kembali ke penthouse suaminya. Dengan senyum kemenangan yang terlukis culas di bibirnya, ia berjalan dengan anggun menyeret kimononya.
Di belakangnya Sasuke menatap punggung Hinata, tanpa sadar menerka apa yang ada di kepala gadis itu. Adakah sedikit saja terbesit jika Sasuke mencintainya? Apakah Sasuke perlu mengakuinya?
.
Mungkin tidak sekarang. Tidak saat Hinata baru saja menghancurkan dua pernikahan. Satu milik Itachi dan pernikahannya sendiri.
.
"Ucapanmu bagaikan belati. Kau tidak sadar berapa banyak orang yang terluka karena mulutmu itu, sayang?!" Sasuke Uchiha menahan geraman rendah yang keluar seperti serigala yang terluka.
.
Hinata berbalik dengan gerakan anggun sekaligus melankolis, seperti gerakan seorang ratu sejagat yang berbalik untuk memberikan senyum kemenangan yang terlukis begitu cantik sekaligus merendahkan.
"Oh. Kurasa, apa peduliku?! Toh aku tak mendapatkan manfaat dari itu?!"
Sasuke habis kesabaran, lalu berjalan dengan langkah besar mendekati Hinata, tangan wanita itu sudah siap melayangkan pukulan ke pipinya namun dengan sigap ditangkapnya pergelangan tangan mulus istrinya, "Kau, diam sajalah!"
Namun tawa ironi Hinata pecah berderai, "Sebagai wanita aku berhak cemburu kan?! Jadi sebenarnya siapa yang kau selamatkan? Hatinya Ino?"
Sasuke menghempaskan tangan Hinata hingga perempuan itu terjengkang dan ambruk ke ranjang.
"Ckck.. kau bilang Itachi dingin?! Kau lebih bar-bar dan juga dingin kepadaku. You're cruel an selfish bastrad!"
"Demi Tuhan, Hinata!" Sasuke mengerang, "Apakah kau tak bisa melihatnya?!"
.
Hinata tersenyum menjengkelkan, perpaduan senyum ironi, senyum meremehkan dan senyum culas. "Melihat apa? Melihat kau yang begitu marah setiap kali ada hubungannya dengan Ino? Melihatmu marah ketika nama Itachi ku sebut? Jadi, apa, apa yang membuatmu merasa harus kupedulikan?!" Hinata bangkit dari tempat tidur, memberikan tatapan maut ke arah Sasuke.
Sasuke meremas dasi bordeaux dan mencampakkannya ke lantai. Lalu mengusap wajahnya kasar. Sampai kapan debat kusir ini berlanjut.
Sampai ia melolong seperti serigala yang menandai kekuasaannya?!
Sasuke mengatupkan rahangnya. Menahan mulutnya untuk berkata lebih banyak. Karena Hinata akan membalasnya berkali lipat lebih tajam dengan nada sarkastiknya.
"Aku tidak ada hubungannya dengan Ino!" Sasuke menegaskan.
"Begitu pula denganku." Jawab Hinata acuh, "Bukan salahku jika Itachi jatuh cinta pada siapa."
Sasuke kehilangan kendali kesabarannya. Mulut Hinata adalah bensin dan ia adalah api. Percuma saja meletakkan keduanya dalam satu ruangan. Yang ada justru Sasuke yang tanpa aba-aba menerjang Hinata ke ranjang. Dan menegaskan bahwa ia adalah alpha di sini. Di teritorinya.
.
***wedding hell***
.
.
Alice: How long is forever?
White Rabbit: Sometimes, just one second
*Alice in wonderland
.
.
Ada titik di mana Sasuke menyukai kata keabadian. Sesuatu yang bernama selamanya.
Seperti hidup dengan Hinata selamanya. Terdengar hidup dan berwarna.
Hinata dan selamanya adalah gabungan frasa yang membentuk kalimat yang indah. Misalnya kalimat, hidup dan memiliki Hinata selamanya. Indah kan?
.
.
Keindahan itu kini terpampang di depannya, berada dalam jangkauannya, dan begitu nyata.
Ada yang berdenyut nyeri di dalam relung hatinya. Menghempaskannya ke tepi asa dan mendorongnya berulang kali hingga ia mengira ia sudah habis. Merasa ditolak oleh Hinata bukan hal baru, tapi setiap kali ditolak itu rasanya masih sama. Sakit.
.
.
Mungkin sebersit pemikiran gila sekaligus klise berenang dalam otaknya. Mungkin Hinata takkan meninggalkannya bila wanita itu hamil.
Dan bila hanya itu yang bisa membuat Hinatanya bertahan di sisinya. Ia kan menjadi lelaki berengsek itu. Menghamilinya supaya wanita itu terikat dengannya.
...
..
.
Sasuke menarik obi silver milik Hinata dan melemparnya sembarangan. Bibirnya menyerang istrinya beringas. Ada sebuah emosi yang mencoba disalurkannya pada setiap sentuhan dan juga jamahannya.
Hinata terengah ketika Sasuke melepaskan bibirnya untuk mengambil napas, mata mereka bertatapan seolah saling mengukur, siapa yang lebih cinta siapa. Siapa yang akan dipuaskan siapa.
Sasuke mencium kening Hinata, bukan sebuah ciuman yang mungkin akan dibayangkan Hinata. Seharusnya mereka saling mencaplok. Bukan saling mengikrarkan diri untuk saling berbagi.
Hinata jengah, mendorong tubuh Sasuke dan menggulingkannya ke ranjang.
Sekarang posisinya berbalik. Hinata di atas, dan Sasuke berada di bawah.
Hinata menatap Sasuke dengan intens, lalu tanpa canggung mendekat ke muka pewaris kedua perusaan Uchiha itu.
Hinata dengan keahlian yang tak pernah Sasuke duga, memagut bibirnya mesra. Seolah mengejeknya bahwa Hinata telah ahli menjinakkan para serigala lapar.
Pemikiran itu membuat Sasuke marah. Marah yang membangkitkan geloranya. Terutama saat Hinata dengan tangan nakalnya telah membuat celananya melorot dan tonjolannya berdiri tegak seolah mengajukan pendapat minta dipuaskan.
Sial.
Dia ereksi dengan keras.
Hinata dan tangan sialannya telah membuat sebuah kenikmatan yang hanya bisa dibayangkannya selama ini. Gerakan konstan up and down membuat angannya melaju tinggi.
Dan makin tersiksa ketika benda kenyal, lembab dan hangat menyapu miliknya. Memberikan jilatan surgawi yang membuatnya melambung tinggi. Melebihi para astronot di langit sana.
Hinata terlalu mahir memuaskan egonya. Terutama saat disadarinya sesi licking telah berakhir dan dimulainya invasi mulut cantik yang menjeratnya dalam kenikmatan yang membuatnya frustasi.
.
Tanpa aba-aba, Sasuke memilih untuk bangkit dan duduk dengan tergesa. Membuat Hinata berhenti dan melepaskan kuluman. Alisnya terangkat sebelah dengan gerakan menggoda. Dan Sasuke malas untuk memberikan aksi basa-basi di malam pertama mereka.
Ia menggulingkan Hinata di bawah tubuhnya. Bukan saatnya, Hinata mengambil kendali. Karena Sasuke sadar jika posisinya lebih tinggi dari Hinata. Ia yang akan membuat gadis itu mengerang dan memohon ampun untuk segera dimasuki.
Menggingit ujung cuping Hinata membuat desahan erotis keluar begitu saja dari kerongkongan Hinata.
Tak ada yang akan di tahan Hinata sekarang. Tidak setelah ia memproklamirkan diri sebagai pejantan dan Hinata adalah ratunya.
Sasuke menandai semua hal yang terpampang, dimulai dari leher, dan juga dada wanita itu. Lalu Sasuke meneruskan ciuman basahnya ke bawah, ke lekukan payudara, dan turun dan berhenti di pusarnya yang berleluk indah. Membuat jejak-jejak yang sensual yang membuat Hinata terus menerus mendesah dan juga mengumpat-umpat.
Tangan Sasuke mengitari keliman celana dalam Hinata hingga membuat wanita itu kehabisan napas. Dan menarik benda segitiga sialan itu jauh dari tempatnya. Lalu dengan keahlian seorang pria yang sudah punya pengalaman tinggi dalam memuaskan pasangannya.
Hinata menjulurkan tangan saat disadarinya, temperatur berubah begitu panas dan sensual. Ia mematikan lampu ruangan dengan satu jentikan. Membuat lampu temaram yang disiapkan Sasuke seketika menyala otomatis.
Siluet mereka terlihat begitu erotis, dan Sasuke tak tahan menghajar Hinata malam itu juga.
..
.
Sasuke menyiapkan dirinya di depan milik Hinata, dan dengan satu hujaman tajam ia telah memasukkan miliknya ke dalam pusat gairah wanita itu.
Sasuke merasakan begitu banyak kepuasan saat tahu bahwa milik Hinata terjaga elastisannya dan terasa sempit dan menggairahkan.
Sasuke makin menajamkan hujaman, membuat tubuh Hinata terdorong-dorong ke belakang.
Kasar, cepat, dan bertenaga.
Membuat Hinata kehabisan napas dan juga suara.
Hanya desahan-desahan penuh gelora yang terpantul dan menggema dalam ruangan itu. Dan mereka meraih puncak yang indah seperti letusan kembang api di malam pergantian tahun.
Begitu spektakuler dan juga indah dalam satu kemasan cantik.
Hinata yang terkulai dalam dekapannya, dan Sasuke yang mulai tertidur dengan Hinata dalam rengkuhannya.
.
****wedding hell****
..
.
Sasuke terbangun dengan sebuah perasaan bahagia, terutama saat tubuh mungil Hinata yang ia yakini masih telanjang memunggunginya.
Rambut wanita itu masih berantakan dengan cara yang menakjupkan. Begitu halus, bagai sekumpulan benang-benang sutra yang disebar di sampingnya.
Sasuke tersenyum singkat saat disadarinya ia butuh mandi dan memulai aktifitasnya lagi. Ia harus segera berangkat ke kantor pusat untuk pengajuan cutinya.
Lagipula ada hal besar yang menunggunya setelah ini.
.
Mungkin sebuah sarapan di tempat tidur untuk sang istri tercinta bukanlah ide buruk. Ia bersedia menjadi lelaki menye dan berbuat romantis untuk sang pujaan hati.
****wedding hell****
...
..
.
Air shower membasahi tubuhnya. Sasuke terkesiap melihat air yang turun berubah warna.
Sial!
Matanya tak mungkin menipu. Jejak merah di lantai putih kamar mandi jelas membuktikan kalau Hinata itu masih suci ketika ia menggaulinya semalam.
.
Pemahaman yang rancu berkeliaran di otaknya. Bagaimana mungkin wanita itu masih tersegel jika ia tahu kalau ia memberikan harta berharganya kepada Neji.
Ia melihat sendiri Hinata nyaris telanjang semasa SMA di kamar yang sama dengan Neji ketika study tour ke Hokaido. Dan bahkan semua orang tahu kalau Hinata kekasih Neji. Bagian mana yang membuatnya harus merasa menyesal memperlakukan Hinata dengan kasar seperti tadi malam.
Menyudahi acara mandinya, ia menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana jika pemikiran itu benar?
Bagaimana jika ia terlalu picik memandang Hinata?
Sasuke buru-buru memakai boxer dan melilitkan handuk di perutnya.
.
Berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara, ia mendekati ranjang. Dengan jantung yang berdetak keras ia menyingkap sebagian selimut yang menutupi seprai. Berharap semua prasangkanya adalah sebuah ilusi kosong yang tak terbukti.
Nyatanya kenyataan itu pahit.
Lebih pahit dari secangkir kopi Vietnam tanpa gula.
Tubuh Sasuke menegang.
Hinata yang berbaring miring bergerak. Ia baru saja terbangun dan mencium bau aftershower yang menguar dari tubuh suaminya.
Ia berbalik dan melihat Sasuke menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Hinata mencoba memberi lelaki itu sebuah senyum tulus di tengah tubuhnya yang lemah. "Hei.." suara seraknya begitu sexy di telinga.
Tapi tidak demikian yang dirasakan oleh Sasuke.
.
"Ada apa?" Hinata menatap khawatir karena ada sebersit perasaan sakit dan juga- sesal yang tiba-tiba muncul dari dalam mata Uchiha raven itu.
.
.
"Kau-" Sasuke mengatupkan rahangnya. Matanya terpejam, lalu memandang Hinata pias, "perawan?!"
.
Hinata memalingkan muka. Air mata menetes melalui celah kelopaknya yang masih menutup. Demi Tuhan, apa salahnya jika ia masih perawan? Toh dia tidak akan merengek kesakitan kan? Dan ia menggaransi dirinya sendiri bahwa dia bisa dan mampu memuaskan suaminya.
.
Tapi mengapa?!
Mengapa Sasuke harus terluka oleh kenyataan itu?!
Konyol!
.
Harusnya dia yang menangis karena Sasuke memperlakukan kasar dirinya. Meski sakit, ia takkan menampik bahwa ada sebuah kenikmatan besar yang ia rasakan.
.
Lalu si cantik jelita sadar, bahwa mungkin saja, Hinata takkan memuaskannya. Oh, mungkin juga, Ino yang ada di bayangan Sasuke ketika menidurinya.
.
Sialan!
.
Pemikiran itu justru membuatnya begitu marah dan terhina. Kalimat-kalimat yang ia susun rapi dalam benaknya keluar begitu saja.
Seperti sebuah pukulan telak yang menyadarkan Uchiha berengsek itu. Namun begitu, bukan Hinata kalau dia tidak bisa menjatuhkan lawannya. Maka dengan dagu terangkat ia akan memutuskan di mana tempatnya berada.
.
Hinata menahan panas di dadanya. Matanya menatap tajam Sasuke dengan kecamuk sedih yang begitu kentara. Andai ia mengulang waktu. Dan tak pernah memilih Sasuke menjadi prianya. Tapi tidak! Harga dirinya melarangnya untuk meraung di depan Sasuke.
.
Jadi dengan tangan yang mengepal karena mencengkeram gulungan selimut yang membungkus tubuhnya, Hinata tersenyum begitu sinis, matanya menyiratkan kebencian yang nyata, lalu tanpa suara bangkit dari ranjang dan berjalan tertatih ke arah kamar mandi.
.
Sasuke menahan perih di dadanya, ia menyesal telah melukai Hinata. "Biar aku yang pergi." Bukan maksud yang salah sebetulnya, jika Hinata menganggapnya sebagai pengecut yang melarikan diri dari masalah.
.
Hinata menahan tangannya untuk tidak melemparkan apapun ke kepala Uchiha.
.
Tidak, ia terlalu agung untuk mengucapkan sumpah serapah atau tindakan bodoh. Hatinya terlalu tinggi untuk menjambak Sasuke dan menabrakkan kepala jenius itu ke tembok. Jadi yang dilalukannya hanya, mengetatkan rahang dan berbisik dingin,
"Kau tak berhak atas harga diriku, bangsat! Jangan bersikap seolah-olah kau inosen di sini." Hinata mengangkat tinggi-tinggi dagunya. Menahan gumpalan air mata yang bersiap terjun bebas membasahi pipi porselennya. Ia menggertakkan gigi ketika melihat gerakan Sasuke yang turun dari ranjang. Meskipun ia tahu, Sasuke pasti berusaha untuk menenangkan dirinya, atau sekedar memeluknya.
Tidak!
Hinata tak suka dikasihani.
.
" Diamlah di situ, karna yang berhak meninggalkan di sini adalah aku." Hinata berusaha menahan getaran suaranya. Matanya menatap Sasuke penuh kebencian, persetan dengan segala cinta yang ia miliki untuk lelaki itu.
.
BRAK!
.
Hinata membanting pintu kamar mandi.
.
***Wedding Hell***
.
Haruskah ia berlutut di hadapan Hinata dan meminta maafnya. Atas semua waktu yang Sasuke hancurkan berkeping-keping. Atas semua tindakan tak bermoralnya?
.
Demi Kamisama! Berapa hal picik yang keluar menjadi kalimat laknat yang melukai hati wanita itu.
Cemburu benar-benar menguras hatinya dan membuat ketulusannya menguap tak bersisa.
Yang ada hanya perasaan benci yang mengakar, meski cintanya tak pernah lekang dan justru menguat seiring kebersamaannya dengan Hinata.
.
Hinata masih perawan!
.
Sasuke menjambak kasar rambutnya. Setelah mengambil kehormatan istrinya, kenapa mulutnya harus bertanya, ha?!
Setelah menghancurkan selaput dara, dia justru mengusik harga diri si Cleopatra?!
Sasuke benar-benar marah pada dirinya sendiri sekarang. Terutama sebelum Hinata bangkit dari ranjangnya,
.
"Tahu apa yang kuberikan kepada Neji, Sasuke? Hal berharga yang tidak pernah akan kuberikan kepadamu?! Harga diriku.Kepercayaanku. Aku kan menumpahkan segala kegelisahanku, kemarahanku, kesedihanku, dan segala perasaan berharga karena dibutuhkan."
.
Sasuke memejamkan mata. Merasa terluka karena kalimat tajam istrinya,
.
"Aku bisa memberimu segalanya, suamiku. Tubuh, benci, bahkan cintaku. Tapi sayangku, tidak dengan harga diriku. Aku tak membutuhkanmu, maka kau takkan pernah se-spesial itu."
.
Sasuke menggeram dengan segala kemarahan dan rasa frustasi yang berkobar hebat dalam dadanya, ia bangkit dari ranjang.
Tangannya menarik seprai dan menggeretnya tanpa belas kasian. Dia mencampakkan benda itu ke ujung ruangan dan dengan kemarahannya yang masih berkobar, ia meraih pendulum hiasan yang ada di atas meja minimalis yang ada di samping ranjang dan melemparkannya ke pintu geser kaca balkonnya hingga pecah berkeping-keping.
Sialan!
Kenapa lelaki harus diharamkan menangis?! Padahal hatinya sesak akan perasaan sedih, muak, kecewa dan marah pada dirinya sendiri.
Bagaimana?! Bagaimana memperbaiki hati Hinata agar percaya padanya lagi?!
.
*** break ***
.
.
Artemis:
Disebut juga Selene, atau dewi rembulan pada mitologi Yunani. Ia mencintai seorang manusia, dan itu membuat Zeus marah. Maka Zeus pernah menjanjikan kepada kekasih Artemis untuk memilih sebuah hal untuk dikabulkan. Sadly si lelaki justru memilih awet muda alias abadi agar bisa terus bersama dengan Artemis.
Zeus yang licik mengabulkannya dengan menjadikan si kekasih tertidur untuk selamanya.
.
Kenapa saya milih judul itu? Karena wanita hebat yang mengguncang dunia (baik itu Cleopatra, Helen, atau bahkan Marie Antoniette) itu selalu diasosiasikan dengan bulan, maksudnya kecantikannya kaya bulan (indah dilihat, jauh untuk digapai).
.
.
.
A/n:
Baperrrr kan lo pada!
Hahahaha...
Njir! Schoolfict-nya fail!
Chap ini paling sulit, karena dalam perjalanan menulis saya, saya tak pernah suka setting school fict.
Menonton Sakurasou no Pet Kanojo, Hyouka dan juga kisah love hate dari Nisekoi hanya untuk riset gimana sih school life itu.
Well..
Harus saya akui, i'm not good in this case. Dan saya juga harus mengakui, penulis newbie sekarang makin kreatif dan makin cerdas. Banyak kok newbie yang dengan cerdas memanfaatkan sisi mereka yang masih pelajar dan menulis school fict dengan ciamik. Dan saya merasa bangga karena banyak readers yang mulai berani mengembangkan diri dan berjuang jadi penulis.
Huaaaaa- *mewek terharu.
Oh iya, saya curhat (lagi) dikit ya, XD
Saya dapat ripiu yang puanjangggg banget. Tapi bukan di sini. Di trilogi Romeo. Intinya si reader komplain kenapa dua main charanya harus death. Nah.. namanya juga fanfik buk, saya udah setting dari sananya gitu. Mungkin si mbak nggak baca romeo 1 (Stalking Romeo) dan 2 (Cheating Romeo). Cuma baca romeo 3 trus endingnya doang, jadi enggak paham sama kode'an dari saya.
Saya udah bilang bacanya harus berurutan 2-1-3 bukan 1-2-3. Makanya mbaknya nggak terima dan harus bawa-bawa MK segala. MK yang nggak salah aja mbaknya menghakimi. Kasian MK, #pukpuk.
Mungkin difinisi kesempurnaan kita berbeda, saya punya standar sendiri dan sampeyan juga begitu. Namanya juga author, saya bukan Tuhan yang maha adil dan membahagiakan semua orang. #bow
.
Kalau kalian punya ekspektasi yang besar terhadap cerita saya, maka saya sarankan untuk tidak membaca cerita ini, karena saya jelas-jelas mengatakan ini PLOTLESS. Mohon dicermati di warning ya.
Ya weslah-
Makasih ya, baca curahan hati saya :)
Lope yu ol deh!
Pororo90
.
*bonus chapp'e
...
..
.
Love isn't easy, darling
So do I
*Me
.
.
"Keren!" Kiba melihat Hinata dengan mata yang menampilkan tanda waru yang terlihat jelas di penglihatan Sasuke. Begitu juga para lelaki yang sibuk melihat penampilan Hinata di atas panggung. Sasuke mengatupkan rahangnya keras-keras berusaha untuk tidak mengatakan apapun untuk menarik perhatian yang lain.
.
Hinata memerankan tokoh Kaguya no Hime. Putri yang asalnya dari bulan dan dihukum dengan dibuang ke bumi.
Pas sekali!
Sasuke mendengus tak suka. Berapa banyak saingannya di muka bumi ini untuk mendapatkan hati si putri sulung Hyuuga? Terutama setelah Ino menjadi pesulap yang memoles Hinata demikian cantik dengan kimono yang dijahit khusus oleh perusahaan mode Yamanaka demi lancarnya acara puncak bunkasai ini.
Demi tuhan, ide gila siapa yang mebuat Itachi turut serta?! Dia kan sudah alumni! Oh, tentu saja koneksi.
Itachi memerankan kaisar yang tak ingin Kaguya pergi dari bumi. Sialan!
Harusnya peran itu jatuh pada Sasuke, tapi ia harus melepaskan jabatan itu setelah ayahnya meminta dia untuk digantikan oleh anak lelaki sulungnya sebagai (calon) tunangan resmi sang jelita.
Sasuke menarik napas dengan degup jantung menggila ketika ia melihat mata Hinata yang melihatnya. Tepat di manik mata. Seolah berbicara kepadanya.
"Aku hanya akan menikah dengan lelaki yang sanggup memberikan apa yang kuminta." Kaguya berbicara dengan nada tenang namun penuh dengan tantangan. Wajahnya begitu rupawan dengan rambut yang dibelai oleh angin. Matanya berkilat penuh dengan tekad. Ada senyum yang anggun, khas dengan kemewahan yang tak terengkuh. Seolah Hinata memang terlahir memerankannya. Seolah jiwa Kaguya berada dalam sosoknya.
.
Sasuke merasakan dadanya berdenyut, menajamkan segala ambisinya. Hinata telah melayangkan tantangannya. Dan Sasuke pantang untuk mundur. Dalam hati ia berjanji akan menjadi pemenang bagi putri Kaguya-nya.
Meski ia harus mencari mangkuk suci buddha, dahan pohon emas, kulit tikus putih yang berasal dari gunung berapi, mutiara naga, dan kulit kerang bercahaya milik burung walet. Atau bahkan hal mustahil yang mungkin akan disebutkan Hinata dikemudian hari.
.
.
Kamu..
Siapakah kamu
Mencuri hatiku
Menggoda di setiap langkahku
.
Mungkin itu kamu..
(*astaga dari Muvon band)
