chapter 4.

.

.

.

"Kau ,gila!" teriak Taehyung nyaring, ia kini sudah bangkit dari posisi duduk dan menunjuk wajah Jimin. Taehyung tidak habis pikir dengan Jimin. Lelaki waras macam apa yang mengajak lelaki lain berciuman? Dia gila.

"Yeah! Dan kau yang membuatku gila!" jawab Jimin dengan nada meninggi. Dan perkataan itu membuat rahang Taehyung mengeras.

"Berhenti berkata omong kosong! Kau membuatku makin membencimu sialan!"

"Kau tidak percaya! Baik pukul aku! Biar kau percaya aku tidak hanya omong kosong!"

Bukh!

Taehyung benar-benar memukul rahang Jimin hingga memar. Bahkan kini Taehyung berniat memukul Jimin lagi-

Namun Jimin malah menahan tangan kiri Taehyung. Mereka saling tatap sebentar, kilat marah terpancar dari mata yang lebih muda. Taehyung pun menggunakan tangan kananya untuk memukul wajah Jimin.

Buakh!

Lelaki yang lebih tua mendorong lelaki yang lebih muda bahkan sebelum Taehyung memukul Jimin hingga tubuh Taehyung membentur lemari uks dan menimbulkan suara brak sangat keras. Jimin langsung mendekat dan mencengkeram kedua tangan Taehyung. Ia menaruh tangan kiri di samping tubuhnya sementara tangan kanannya di atas kepalanya. Tidak lupa ia juga menaruh lututnya di antara kedua kaki Taehyung. Taehyung sudah terkunci. Jimin mendekatkan wajahnya ke arah Taehyung. Taehyung meronta keras. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Jimin. Dan tahukan itu sangat sulit, Jimin si kecil itu punya tenaga besar dan sangat kuat mencengkeram pergelangan tanganya. Dan mungkin dugaanya yang mengatai Jimin kerempeng itu salah. Ia baru sadar otot bisep Jimin yang tercetak di balik seragamnya terlihat jelas saat mencengkeram kedua tangannya.

Sementara Tahyung merasa sangat terkejut dengan posisi mereka. Mereka sangat dekat, dan tidak ada orang pernah berposisi sedekat ini denganya sebelumnya.

Ia menelan ludah kasar saat Jimin mulai memiringkan wajahnya dan mendekatkan wajahnya. Taehyung pasrah, ia hanya bisa menahan nafas seiring jarak mereka yang mulai menipis.

Tapi bukanya mencium Jimin malah menatap wajah manis Taehyung dengan tampang tolol bin bodoh miliknya.

Bahkan matanya tidak bisa berhenti menatap wajah Taehyung yang matanya kini terpejam erat. Wajah itu sangat mulus dan manis. Belum lagi bibir penuh yang sangat indah itu seolah memanggil-manggil Jimin untuk mecicipinya. Jimin tersenyum mabuk yang terlihat amat sangat bodoh. Dan yang lebih bodohnya lagi Jimin baru sadar jika dia terpesona.

Taehyung itu cute. Sangat cute.

Apa?!

Tidak tidak!

Apa yang dia pikirkan!

Jadi Jimin ingin bilang kalau ia mulai terpesona pada lelaki begitu? Hah? Yang benar saja!

Jimin melepaskan kuncian di tangan Taehyung dan mulai mundur menjauh dari Taehyung , Taehyung membuka matanya pelan lalu menatap Jimin bingung. Kenapa Jimin malah melepaskanya? Apa Jimin mempermainkanya?

Lelaki berambut hitam itu . Lalu berlari keluar dari uks. Ia harus menjauh dari Taehyung, harus. Atau ia akan benar-benar menyandang status, homo setelahnya.

.

.

.

Nyatanya Jimin tidak bisa. Saat pelajaran ia tidak bisa berhenti menatap pemuda yang terkenal pendiam dan aneh itu barang sedetik saja. Ia bahkan terkena damprat oleh Lee seongsaenim si guru bahasa inggris karena melamun. Dan berakhir dengan dia kena hukuman maju ke depan dan menyanyi lagu anak-anak berlirik bahasa inggris yaitu twinkle-twinkle little star. Demi apapun Jimin sangat nista saat menyanyikan lagu itu, bahkan seluruh kelas menertawainya karena lirik lagu itu jadi belepotan saat Jimin menyanyikanya.

Lee seongsaenim menggeleng-geleng kepala tidak habis pikir. Guru itu pun menyuruh Jimin duduk dengan ekspresi malas yang ketara.

Saat Jimin berjalan menuju bangkunya ia hanya bisa memiringkan bibirnya malas, saat para temanya menertawainya. Ia lalu melenggang cuek tidak peduli dengan kikikan teman-temanya. Saat ia sampai bangkunya, Ia tak sengaja melirik ke arah Taehyung yang ternyata sedang menatapnya. Namun Taehyung langsung melengos ke arah lain saat kedua pasang mata mereka bertemu tatap.

Jimin tersenyum kecil saat mendapati itu. Ia sedikit merasa apa ya? Jimin juga tidak tahu. Yang pasti dia merasa senang saat Taehyung memperhatikanya juga. Ia pun mengambil ponselnya yang ada di loker bangkunya. Dan mengetikkan sesuatu di ponsel pintar itu,

To : Park Seulgi-yaaa

Seulgi, aku mau minta maaf ya. Mungkin kita harus mengakhiri hubungan kita. Aku bosan dengan mu, aku sudah punya pacar baru. Maaf kan aku,

.

.

.

Selama di kantin Taehyung merasa sangat risih. Ia memesan makanan seperti biasa. Duduk di bangku paling pojok dan sendirian seperti biasa. Namun kali ini ada mata yang selalu memperhatikanya. Yeah, dan dia adalah Si bedebah Park itu. Ia menatap tajam lelaki menyebalkan itu saat menatapnya.

"Jiminie kapan kau akan menelfon aku?"

"Malam nanti, ku telfon sayang.." jawab Jimin. Si gadis memekik pelan, lalu memeluk lengan Jimin.

"Aku kan juga ingin kau telfon jim, masak Yura saja yang kau telfon!" protes gadis di sampingnya, cemburu.

" .ya nanti kalian akan ku telfon semuanya yaa, jangan cemberut begitu dong.."

itu kode.

Jimin memang sedang bersama gadis-gadis, tetapi mata Jimin menatap Taehyunh dan kebetulan Taehyung juga menatap lelaki berambut hitam itu, bahkan Jimin malah mengedipkan sebelah matanya genit ke arah Taehyung. Melihat itu, membuat membuat wajah Taehyung secara tidak sadar sedikit memerah.

Lihat? Bagaimana bisa lelaki seperti itu yang membuat Seulgi jatuh cinta, belum lagi lelaki itu tadi pagi mengajak nya berciuman. Walau tidak jadi sih, tapi tetap saja itu menggelikan. Cih! Dasar playboy keparat, sudah main dengan banyak wanita, lalu untuk apa dia juga menggoda nya juga!? Batin Taehyung yang kesal, atau dia malah sebenarnya cemburu , tidak ada yang tahu.

"Sabtu malam, kita kencan bersama bagaimana Jim?" si gadis bernama Yejin bertanya dengan nada genit luar biasa.

"Boleh," jawab Jimin santai.

"Tapi, apa pacarmu itu tidak akan marah?" tanya Yejin lagi.

"Halah, biarkan saja. Paling pas marah dia akan memutuskan aku, dan bukankah jika begitu waktuku bersama kalian akan lebih banyak sayang.." goda Jimin sambil menebar senyum ala palyboy keparat khas miliknya.

Muak!

Taehyung langsung berdiri dan ingin pergi dari kantin.

By the way tadi dia sudah bayar kok sebelumnya.

Namun dia yang akan kabur dari kantin kembali duduk saat melihat Seulgi yang datang menghampiri Jimin dengan wajah sembab habis menangis.

"Jimin!"

Otomatis Jimin yang sedang bermesraan dengan gadis-gadis itu langsung menoleh ke arah suara tadi. Jimin langsung kelabakan saat gadis bernama Seulgi mengusir para gadis-gadis yang tadi mengerumuni Jimin.

"Pergi kalian!" raung gadis berambut cokelat bergelombang itu.

"Seulgi, hentikan jangan membuat malu aku" ucap Jimin sambil memegang bahu Seulgi namun langsung di tepis kasar oleh gadis cantik itu.

"Apa maksudmu mengirim pesan itu pagi tadi padaku?" tanya Seulgi to the point. Taehyung terus menyimak obrolan sepasang kekasih itu.

"Aku minta maaf Seulgi-ya, tapi kita harus bicara, tapi tidak disini!" Jimin mencoba menarik lengan gadis itu untuk mengajaknya bicara ke tempat lain. Namun gadis itu tetap tidak bergeming.

Gadis itu tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis keras.

"Kenapa kau melakukan ini?! Seperti apa orang yang bisa menggantikan aku, Jim?! Apa dia salah satu dari gerombolan gadis-gadis tadi? Kau jahat!"

Jimin menggeleng.

"Bukan selugi-ah, bukan. mereka teman ku"

"KAU BOHONG!"

"Astaga selugi-ah, pelankan suara mu-"

Plak!

Ucapan Jimin terputus karena Seulgi yang menamparnya keras.

"DIAM! aku membencimu! Dan baik kalau kau ingin putus, kita putus sekarang!"

Dengan itu Seulgi langsung berlari dari kantin meninggalkan Jimin dengan tangisanya. Jimin hanya menatap datar kepergian Seulgi tanpa ada raut penyesalan di wajahnya. Lelaki berambut hitam itu lalu menatap Taehyung yang diam di kursinya. Mereka bertatapan lama, lalu Taehyung memilih memutus tatapan itu dan pergi dari kantin.

.

.

Jimin bolos lagi. Ia sama sekali tidak ada semangat untuk belajar hari ini. Ia menyumpal telinga nya dengan headset putihnya dan duduk bersandar di bawah pohon beringin yang berdiri di taman belakang sekolah. Ia menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Paling tidak dengan ini ia bisa meredakan pusing di kepala nya yang seperti orang yang kecanduan drugs. Hidupnya yang awalnya normal dan baik-baik saja berubah jadi gila dan tidak logis gara-gara mimpi sialan, kekuatan super dan...

Kim Taehyung.

Shittt!

Dia lagi!

Kenapa dia ingat namja itu lagi sih! Dia kemari untuk melupakan sejenak bocah aneh itu. Namun kenapa semakin dia ingin tidak memikirkan anak itu, Tuhan malah seperti ingin menggodanya untuk makin memikirkan Taehyung.

Ia sudah gila!

Dan gila nya gara-gara Taehyung!

Apa ini karma ya? Karma karena suka mempermainkan wanita? Wajah Jimin makin murung. Tapi kenapa Tuhan menghukumnya seperti ini, menikahi janda beranak tiga kedengaranya lebih bagus daripada jatuh cinta dengan lelaki seperti yang ia alami sekarang. Jimin tidak menampik jika gejala yang dia alami adalah gejala jatuh cinta, ia bukan anak ingusan bodoh yang sok polos dan bertanya-tanya apa yang ia rasakan ini. Ia tahu persis ini cinta.

Jimin mengusap wajahnya kasar!

Apa jatuh cinta pada laki-laki memang sesulit ini? Lalu apa yang akan Jimin lakukan? Memang kemarin dia manembak Taehyung namun perasaanya berbeda. Apa ia akan memendam perasaanya ini, meninggikan gengsinya dan hidup dalam kepura-puraan? Belum lagi kekuatan gila ini yang tidak akan hilang jika ia belum bisa membuat Taehyung jatuh cinta padanya. Dan lagi, jika dia memang jadian dengan Taehyung apa kata mantan-mantannya yang berjumlah ratusan itu tahu Jimin pacaran dengan cowok? Lalu Imagenya sebagai playboy berubah menjadi seorang homo! Dan tahu yang lebih buruk? Mereka akhirnya berfikir jika kelakuan Jimin yang suka gonta-ganti pacar selama ini adalah sebagai kedok untuk menutupi kehomoanya.

Sungguh Ironis..

.

.

Pelajaran sudah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu. Dengan malas-malasan Jimin berjalan keluar kelas. tanganya bergerak untuk melepas kancing jas almamater sekolahnya. Tumben cuaca hari ini panas sekali. Mungkin ia bisa mampir ke minimarket untuk membeli air dingin.

"Tae, bolehkah aku pinjam buku catatan bahasa inggris mu? Ku dengar kelasmu sudah membahas bab 3 ya?"

Ucapan itu tak sengaja terdengar oleh telinga tajam milik Jimin. Mau tak mau mendengar nama Tae di sebut ia langsung mencari sumber suara itu. Dan matanya melihat itu, melihat saat seorang siswi culun bernama Sulli sedang berdiri sambil beraegyo di hadapan si bocah sialan yang sudah mencuri perhatianya akhir-akhir ini.

Dari sini, Jimin bisa melihat jika Taehyung tersenyum kecil lalu mengangguk. Gadis itu tersenyum lebar sambil tersipu malu, fix gadis culun itu sepertinya naksir Taehyung.

"Sebentar ya.." Taehyung lalu mengambil buku catatan bahasa inggrisnya lalu menyodorkan nya pada gadis culun itu. Gadis itu tersenyum saat menerima buku itu lalu membacanya.

"Catatan mu seperti biasa sangat rapi," puji gadis itu. Dari kejauhan terlihat jika Jimin sudah memasang ekspresi datar yang sangat tidak enak di lihat.

"Terima kasih" balas Taehyung sambil tersenyum.

"Umm-tae bolehkan aku minta nomor ponsel mu, biar lain kali aku bisa menghunmbungi mu?" tanya gadis itu malu-malu.

Cuih! Jimin mendengus sebal. Apa-apaan itu. Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Dengan langkah lebar Jimin mendekati dua sejoli itu dan menghancurkan moment yang sangat berharga bagi Sulli itu.

"Hai cantik" ucap Jimin tiba-tiba. Sontak Taehyung dan Sulli terkejut dengan kehadiran makhluk pendek ini. Bahkan dengan cepat Jimin merebut buku catatan Taehyung.

"Kau ingin pinjam buku nya? Ah sayang sekali, bukunya sudah ku pinjam duluan" ucap Jimin santai sambil tersenyum mengerikan

"Hey!-" ucap Sulli pelan.

"Karena buku ini sudah kupinjam, Maka dari itu, ini!" ada jeda sebentar lalu Jimin. melempar buku bergambar Hulk ke arah gadis bernama Sulli itu. "kau pinjam ini saja! Itu buku milik Park Jimin loh, tahu kan? Cowok paling tampan di sekolah ini, oh ya satu lagi Taehyung tidak punya handphone jadi jangan minta nomor hanphone padanya!" ucap Jimin tegas ala ditaktor. Taehyung melihatnya jadi kesal sendiri, Jimin ini mau nya apa sih?!

"Kau ini apa-apaan hah!" bentak Taehyung kesal.

"Apa? Hah? Kau itu diam saja lah!" Balas Jimin songong bukan main. Gahhh! Makhluk kerdil ini benar-benae menyebalkan!

"Jadi cantik, kau pinjam buku itu saja ya? Jangan khawatir catatanku lengkap dan rapi kok, ya jelas sih yang mencatat kan Park Tampan Jimin hahaha, atau kau juga mau minta nomor ponsel ku? Di situ sudah ada kok tinggal telpon saja kok manis~" goda Jimin sambil menaik turunkan alisnya genit. Dan tanpa Sulli bisa tolak, ia karena ulah Jimin.

Taehyung muak dan Kesal, dia langsung menginjak kaki Jimin yang belapis sepatu itu hingga menghasilkan pekikan kesakitan Jimin

"Arghhhhh,sialan!" Dengan itu Taehyung langsung berjalan menjauh untuk mengambil sepeda nya di parkiran. Jimin melihat Taehyung yang kabur langsung mengejar Taehyung.

"Taehyung-ah! Tunggu!" teriak Jimin.

Sulli yang masih dalam mode tolol pun akhirnya sadar atas kejadian absurd tadi. By the way, tadi itu benar-benar Jimin ya!? Gadis itu pun akhirnya melirik buku tulis berwarna hijau lumut menjijikan bergambar makhluk hijau besar bernama Hulk yang kini ada di tanganya. Penasaran ia pun membuka buku itu. Ia harap sih, isi catatan itu benar-benar rapi seperti Jimin bilang tadi. Namun baru saja Sulli membuka buku itu, ia hanya bisa melongo bodoh!

Jelas!

Orang tulisan Jimin jelek kayak cekeran ayam!

"Kalau tulisanya kayak gini, gimana aku bacanyaaaaaaa!" jerit Sulli dari dalam hati. Ia pun mengumpati Jimin dan segala tipuan pesona nya dengan bahasa Zimbabwe.

.

.

"Tae! Tunggu dong!"

"Pergi sana sialan!"

Jimin tidak menyerah, dia terus mengejar Taehyung yang tidak mau mendengarkanya.

Grep!

Hingga akhirnya Jimin berhasil menangkap pergelangan tangan Taehyung yang sedang menuntun sepeda nya.

"Tunggu dulu," ucap Jimin. Taehyung menatap tajam cowok idiot ini.

"Apa mau mu aku mau pulang!" bentak Taehyung kesal.

"Ck, ini buku mu!" Jimin lalu menyodorkan buku bergambar anime jepang Sailor Moon itu kepada Taehyung. Dan dengan lirikan tajam Taehyung menerima buku catatan bahasa Inggris nya itu.

Mereka terdiam sebentar.

Taehyung yang tidak melihat respon Jimin memutuskan untuk pergi saja. Tapi Jimin lagi-lagi menahanya.

"Ayo pulang bersama" ucap Jimin tiba-tiba.

"Tidak.." taehyung menjawab ketus. Jimin mendengarnya jadi gemas sendiri karena kegalakan Taehyung. Ia pen langsung menggeser tubuh taehyung yang memegangi setir sepeda.

"Ayo aku bonceng!"

Hidung besar Taehyung kembang kempis karena Jimin. Anak ini kenapa pantang menyerah sekali sih. Hingga akhirnya Taehyung menyerah dan duduk di boncengan. Jimin tersenyum tipis lalu menaiki sadel sepeda dan lelaki berambut hitam itu mulai mengayuh slaper sepeda itu.

Hening.

Tidak ada yang mau membuka obrolan. Jimin sendiri bosan jika berdiam-diaman begini. Walau ia tahu Taehyung membencinya paling tidak bertengkar lebih baik daripada berdiam-diaman begini. Jimin kan tidak tahu rumah Taehyung, tapi kenapa Taehyung tidak memberitahu rumahnya? Apa sebegitu malasnya ya anak itu padanya hingga membuka obrolan saja tidak mau.

Jimin menghela nafas.

Oh iyaJimin baru ingat, dia harus mencari jalan yang sepi yang tidak di lalui mobil, bisa bahaya dong kalau Taehyung melihat kemampuanya. Alhasil dia memilih melewati gang-gang sempit samping sekolahnya. Walau tadi sempat ada beberapa mobil mencoba berinteraksi denganya karena berboncengan dengan Taehyung.

"CIYEEE JIMIN EHEMMM!"

"JIM AYEEE HEBATT CEPAT TEMBAK DIA!"

"YESSS AYO PACARI DIA!"

Seperti itulah teriakan histeris para mobil itu saat melihat dia dan Taehyung berboncengan. Tetapi Jimin memilih cuek dan menatap tajam mereka.

"Shut, up bitch!" umpat Jimin sambil berbisik saat mendengar teriakan mobil kodok yang paling memprovokasi.

"LANGSUNG NIKAHI SAJA, JIMINNNNNN!"

Yang benar saja!

.

.

.

"Tae.." panggil Jimin.

"Hm" jawab Taehyung ketus.

"Rumah mu mana?"

"Gak aku bawa"

Jimin sweatdrop.

"Itu bukan jawaban logis!"

"Tapi itu jawaban yang jelas!"

Menghela nafas pelan.

"Jangan-jangan kau ingin ku bawa pulang ke rumahku ya?" goda Jimin.

"Kau itu ngomong apa sih?"

"Ayolah, aku hanya bercanda"

"..." tidak ada jawaban dari Taehyung. Jimin lagi-lagi harus menghela nafas. Sepertinya ini akan sangat sulit.

"Tae.."

"Hm.."

"Kau tahu bedanya kau dengan kapal ?"

Gantian Taehyung yang memutar mata malas.

"Kau pasti ingin menggombal!"

"Tidak.."

"..."

"Ayolah jawab saja Tae!"

"Hm?"

"Kalau kapal kan kendaraan kalau kau manusia lah!"

Hah?

Maksudnya apa coba?

"Sudah ? Begitu saja?" tanya Taehyung malas.

"Umm, yeah.. Kalau aku mengatakan tujuanku mengatakan itu aku takut kau tidak akan menyukaiya.."

"Yeah, karena aku tahu kau akan mengatakan hal bodoh setelahnya.."

"..." jimin tidak menjawab perkataan itu.

Hening..

Hingga akhirnya Taehyung sadar ini bukan jalan menuju rumahnya. Jalan ke rumahnya bukan melewati gang-gang sempit. Taehyung pun menepuk bahu Jimin pelan.

"Kita mau kemana?" tanyanya.

"Kau ingin nya kemana?" lihat itu bukan jawaban.

"Pulang" jawab Taehyung singkat.

"Tidak seru, kita jalan-jalan sebentar ya? Jarang-jarang kan kau di bonceng namja tampan!?"

Alis Taehyung berkedut kesal. Manusia bodoh di depanya ini memang rajanya narsis.

"Aku ingin pulang.."

"Sebentar dong.."

Taehyung mendengus malas. Dan pada akhirnya ia harus pasrah dan menuruti Jimin.

Jimin terus mengayuh sepeda butut milik Taehyung itu hingga keduanya berhenti di sebuah taman bunga yang terletak di pinggir kota. Hanya ada anak kecil dan beberapa orang yang beralalu lalang di sekitar mereka.

"Turunlah.."

Taehyung menurut,remaja itu pun melihat pemandangan sekitarnya lebih jauh. Dihadapan mereka kini ada sebuah danau buatan yang airnya sangat jernih. Belum lagi ada banyak bunga teratai berwarna-warni yang tumbuh di atas danau buatan itu. Disini juga banyak pepohohonan yang membuat tempat ini sangat tenang dan sejuk. Dia suka tempat ini.

"Aku tidak tahu di sekitar sini ada taman seperti ini?" komentar Taehyung. Jimin melirik sekilas.

"Orang kau sama ayam saja main nya jauh ayam, ya tidak tahu!" ejek Jimin. Taehyung cemberut. Ia mendudukkan dirinya di sebuah bangku putih yang si sediakan.

"Suka?" tanya Jimin yang duduk di samping Taehyung.

Taehyung mengangguk.

"Kenapa kau mengajakku kemari?" tanya si rambut karamel.

"Aku juga tidak tahu," jawab Jimin. Lelaki berambut hitam berdiri dan mengambil sebuah batu Lalu melemparkanya ke danau.

Ia lalu melirik ke arah Taehyung yang masih duduk di bangku.

"Aku dulu sangat suka kemari, tapi sejak sma aku tidak pernah kemari.." ucapnya lalu kembali duduk di samping Taehyung.

"Tapi entah kenapa aku malah mengajakmu kemari, padahal biasanya aku kemari selalu sendiri.."

"Lalu..?" tanya Taehyung. Jujur saat Jimin mengajaknya kemari ia sempat berfikir jika Jimin selalu membawa seseorang seperti kekasihnya kemari.

"Dulu aku sering kemari bersama ibuku" ucapnya. Ow, Taehyung salah ternyata.

"Ku kira kau selalu membawa pacar-pacarmu kemari.."

"Tidak pernah. Kau pacar pertama ku yang ku bawa kemari.."

Taehyung terdiam membisu.

"Aku tidak pernah bilang mau jadi pacarmu!"

"Dan aku tidak pernah mau peduli dengan jawaban mu"

Okay, fine selain menyebalkan dan narsis Jimin itu sangat pemaksa.

"Lalu kenapa kau tidak kemari lagi bersama ibumu?" tanya Taehyung. Jimin yang mendengarnya tersenyum kecil.

"Dia sudah tiada.."

Ooohh, Taehyung jadi merasa bersalah sekarang. Ia tidak tahu kalau Jimin sudah tidak punya ibu.

"Maafkan aku,"

"Kenapa minta maaf? Santai saja.." ucap Jimin santai sambil tertawa lebar.

"Jika begitu kau juga bisa mengajak ayahmu.."

Jimin makin tertawa lebar dan memaklumi Taehyung.

"Aku juga sudah tidak mempunyai ayah, orangtua ku sudah meninggal.."

Taehyung menutup mulutnya lalu menatap Jimin dengan pandangan merasa bersalah.

"Maaf, aku tidak bermaksud-"

"Sudah aku bilang santai saja! Aku tidak apa-apa" potong Jimin santai.

"Lalu kau selama ini tinggal dengan siapa?" tanya Taehyung

"Aku tinggal bersama kakak tiriku dan istrinya, Ayah kandungku sudah meninggal saat aku masih di kandungan , kata ibuku saat itu usia kandungan ibuku sekitar enam bulan. Kata ibuku ayah meninggal karena sakit pernafasan yang aku sendiri tidak tahu apa nama penyakit itu. Hingga ibuku menjadi seorang single parent saat aku masih kecil , dan Saat usiaku 8 tahun ibuku menikah lagi dengan seorang laki-laki baik, ia sudah memiliki seorang anak yang usianya lima tahun lebih tua dariku. Keluarga baruku sangat baik, dan selalu menyayangi aku dan ibuku. Namun sekitar empat tahun lalu, nasib buruk menimpa ibu dan ayah tiriku. Mereka meninggal karena sebuah kecelakaan mobil saat ibu dan ayahku pergi ke Busan untuk menjengun nenekku. Yeah, begitulah cerita singkat tentang keluargaku" jelas Jimin dengan nada yang biasa, dan akhirnya Jimin malah mengatakan semua tentang keluarganya. Taehyung tidak bisa berkata-apa saat mendengar cerita Jimin tentan orang tuanya yang sudah tiada, ia juga harus mengakui Jimin memang orang yang tabah. Ia yang mungkin harus banyak bersyukur mulai sekarang. Ia masih suka mengeluh saat di suruh ibu nya. Dan kini tidak bisa membayangkan dirinya jika berada di posisi Jimin yang bahkan sudah tidak memiliki orang tua. Ia bahkan hanya tinggal dengan kakak yang berstatus kakak tiri.

Jimin yang melihat Taehyung yang terlihat begitu serius jadi tertawa sendiri.

"Ayolahh jangan terlalu serius bagitu, aku tidak apa kok!" ucap Jimin yang tidak terlihat sedih sama sekali.

"Apa sih?! Aku hanya terbawa suasana!"

"Iya-iya kau ini galak sekali sih, kalau dengan aku?"

"Karena kau memang pantas di galaki!" jawab Taehyung ketus. Jimin tertawa lebar hingga matanya menghilang.

"..."

"Lalu kenapa kau tidak pernah membawa para pacarmu kemari? Aku rasa mereka akan suka kalau kau bawa kemari?" pertanyaan itu membuat Jimin menghentikan tawanya.

"Ini tempat yang istimewa, aku hanya akan membawa orang yang istimewa kemari.."

Jantung Taehyung terasa ingin meloncat saat Jimin mengatakan itu. Apa Jimin sadar saat mengatakan itu?

"Apa aku termasuk salah satu nya? Kau mengajakku sekarang?"

"Kau berharap begitu!?"

""Tidak juga.."

Jimin diam.

"Mungkin bisa di bilang, iya.." jawab nya kemudian. Wajah Taehyung tanpa ia sadari memerah.

"Aku juga tidak tahu, kenapa. Tapi mungkin kau bisa ku percaya.."

"Kau lupa kalau aku membencimu?"

"Aku tidak percaya kau benar-benar membenciku" jawab Jimin sambil terkekeh pelan.

Taehyung terdiam. Ia memikirkan sesuatu sekarang. Akhir-akhir ini ia memang lebih sering memikirkan namja menyebalkan di hadapanya ini daripada memikirkan Seulgi pujaan hatinya. Tapi perkataan Jimin barusan benar-benar membuatnya berpikir, apa ia benar-benar membenci Jimin?

"Kau mau jalan kesana, di sana ada ayunan dan permainan anak-anak.." lamunan Taehyung buyar saat mendengar tawaran Jimin tadi. Ia menatap Jimin yang sudah berdiri dari posisi duduknya. Taehyung mengangguk, mereka pun berjalan beriringan dengan Jimin yang menuntun sepedanya.

Selama berjalan pun mereka hanya saling diam. Tidak ada yang membuka suara. Taehyung sibuk dengan segala pemikiranya dan Jimin yang kini malah fokus melihat sekumpulan anak kecil yang sedang main bola.

Hingga Jimin melihat seorang anak mendendang bola terlalu kuat hingga bola itu hampir melayang di kepala Taehyung.

"TAE AWAS!"

Jimin reflek langsung melepaskan sepeda yang ia tuntun lalu menarik tubuh Taehyung memeluknya dan melindungi kepala Taehyung dari bola dengan lenganya.

Duk!

Bola itu memantul dan mengenai lengan Jimin yang dia gunakan untuk melindungi kepala Taehyung.

"Argh!" Jimin sedikit mengerang saat lenganya terkena bola. Ia bersumpah jika itu sakit. Mendengar erangan Jimin Taehyung melepaskan pelukan itu dan menatap Jimin yang sedikit mengibaskan lenganya yang mungkin sangat ngilu karena terkena bola.

"Jim, kau tidak apa-apa?" tanya Taehyung khawatir. Jimin mendongak dan menatap wajah Taehyung. Lelaki berambut hitam itu mengangguk,

"Aku tak apa.." balasnya. Jimin pun berjongkok dan mengambil bola itu.

"Ini punya kalian?" tanya Jimin pada sekumpulan anak itu. Mereka mengangguk kompak. Jimin pun berjalan ke arah mereka dan memberikan bola itu.

"Lain kali kalau main hati-hati ya, kasihan hyung itu kalau terkena bola kalian.." ucap Jimin mencoba menasehati mereka. Mereka pun mengangguk patuh.

"Mian hyung, tadi tidak sengaja"

"Tidak apa-apa, ya sudah. sana main lagi" ucap Jimin lalu mengusak rambut seorang bocah. Setelah melihat bocah itu kembali bermain, Ia pun berbalik dan berjalan kearah Taehyung. Ia lalu mengambil sepeda milik Taehyung yang sempat ia banting tadi.

"Ayo,"

Taehyung mengangguk diam.

Keduanya kemudian berhenti di sebuah ayunan yang kebetulan kosong karena tidak ada yang memainkan. Taehyung langsung berlari dan duduk pada salah satu ayunan sambil tertawa lebar.

"Jim dorong!" titah nya. Jimin balas tersenyum dan menuruti keinginan Taehyung untuk mendorong ayunan itu

Taehyung terlihat tertawa senang. Dan memekik kecil saat ayunan itu bergerak agak tinggi.

"Jim! Ini menyenagkan sungguh~ hahaha!" melihat tawa bocah itu Jimin jadi ikut senang. Ia pun ikut tertawa melihat tingkah Taehyung yang ternyata childish juga.

"Jim! Dorong lagi!" jimin menurut dan mendorong ayunan itu lebih kuat, Taehyung lagi-lagi memekik senang.

"Jim! Aku terbang! Hahaha!" teriak Taehyung berlebihan.

"Kau senang?!"

"Yaaa! Hahahah!"

"Jimin! Lagi, dorong yang kuat!"

Jimin terus mendorong ayunan itu, walaupun lama-lama capek juga.

"Aku capek tae,"

"Yahhhh, lagi dong!"

"Tapi aku capek, kau sih enak tinggal naik!" Taehyung cemberut mendengarnya. Jimin lalu duduk di ayunan sebelah Taehyung.

"Jangan cemberut terus, kau mau es krim tidak?!"tawar Jimin saat melihat raut wajah muram Taehyung.

Taehyung menoleh ke arah Jimin. dia ingin sih, tapi dia kan tidak punya uang. Uang saku nya sudah habis untuk membeli makan siang dan untuk membayar iuran kas. Taehyung akhirnya menggeleng.

"Serius? Aku yang bayar kok tenang saja.." ucap Jimin

"Memangnya tidak apa-apa?"

"Kalau tidak boleh buat apa aku menawarimu, bodoh!" Jimin berkata dengan gemas. Taehyung akhirnya mengangguk. Jimin tersenyum,

"Kau tunggu disini ya.." Jimin berkata sambil menyentil tahi lalat di hidung Taehyung. Dengan itu Jimin akhirnya berlari ke arah penjual es krim yang tidak jauh dari mereka. Dari tempat Taehyung duduk, ia bisa melihat Jimin sedang bercanda dengan penjual es krim dan menggoda anak kecil yang membeli es krim bahkan ia tertawa lebar seolah orang-orang itu adalah temanya. Ia benar-benar tipe orang yang mudah sekali berbaur dengan siapa saja dan ia harus mengakui walau dia menyebalkan tetapi Jimin itu sebenarnya baik hati. Ssttt-Jangan bilang dia, nanti kegeeran dia.

Tak lama Jimin pun kembali dengan membawa dua es krim cone cokelat yang terlihat sangat menggoda di mata Taehyung, bahkan Jimin bisa melihat mata pemuda itu berbinar bahagia.

"Ini untukmu.." Jimin lalu memberikan es krim itu pada Taehyung. Dengan senang hati Taehyung menerima es krim itu dan langsung memakan nya. Sementara Jimin sendiri terlihat memakan es krim itu dengan pelan.

"Aduh" Jimin sedikit mengaduh saat es krim itu mengenai ujung bibirnya yang agak memar karena pukulan Taehyung pagi tadi.

"Kau kenapa?" tanya Taehyung.

"Ah! Tidak apa-apa.." Jimin menyentuh memar di samping bibirnya guna menutupinya dari Taehyung. Dan sialnya Taehyung baru sadar kalau Jimin terluka karena pukulanya pagi tadi.

"Itu kan karena pukulanku tadi, kau tidak apa-apa?"

"Sudah, sudah ini cuma luka kecil, tidak apa-apa kok. Jangan merasa bersalah begitu.." potong Jimin sambil tertawa lebar.

"Tapi-"

"Sudah, cukup. Diam dan makan es krim mu, aku tidak apa-apa"

Taehyung diam. Dan melanjutkan kegiatan makan es krim nya. Jimin yang kurang kerjaan kini malah memperhatikan Taehyung yang sedang makan. Dia itu lucu, sekali. Makan nya mirip anak kecil, dan sedikit belepotan. Jimin yang gemas mendekatkan ibu jari nya ke arah sisa es krim yang menempel di ujung bibir Taehyung, ia mengusapnya pelan, bukanya memasukan ke mulut Taehyung, Jiminmemsukan sisa es krim itu kedalam mulutnya sendiri.

Taehyung terkejut melihatnya.

"Kenapa?" tanya Jimin melihat ekspresi blank milik Taehyung.

"Kau..."

Ucapan Taehyung terputus saat kini Jimin malas membungkam mulutnya yang di penuhi es krim dengan sebuah ciuman tepat di bibirnya. Bahkan Taehyung makin membelalakan mata saat kini ia bisa merasakan lidah Jimin mulai menjilat dan menghisap bibir bagian bawah miliknya. Dan sialnya Taehyung yang masih bodoh dalam ciuman itu malah membuka mulutnya dan pasrah saat mulutnya di dominasi. Ia makin merasa sesak saat Jimin tidak kunjung menghentikan ciuman itu, bahkan ia malah menyesap sisa-sisa es krim yang masih tertinggal di mulut Taehyung.

"Engh-" lenguhan tertahan keluar dari mulut Taehyung. Dihiasi suara kecipak lidah saling beradu terdengar jelas di antara mereka.

"Jim-ahh" Lagi-lagi mulut Taehyung yang ingin bicara kembali di bungkam oleh Jimin dengan mulutnya. Bibir penuh miliknya kembali di lumat kasar oleh Jimin, hingga ia hanya bisa memejamkan mata karena sudah terlalu tidak berdaya. Bahkan saking lemas nya es krim di tangan nya kini sudahjatuh ke tanah. Jimin menaruh tangan kanan Taehyung di pundak nya, supaya bisa menahan dirinya agar tidak ambruk.

Merasakan Taehyung yang sudah begitu lemas, Jimin memegangi pinggang Taehyung, sementara tangan satunya ia gunakan untuk memegangi es krimnya. Jimin terus mencium bibir manis itu dan tidak peduli dengan keadaan pemiliknya yang sudah memerah dan sangat lemas.

"Jimh-stop" Taehyung berkata di sela kegiatan itu sambil memukul bahu Jimin pelan.

Jimin menurut. Ia akhirnya melepaskan pagutan itu. Jimin bisa melihat wajah Taehyung memerah dan bibir penuh nya makin merekah seksi.

"Jim, es krim ku jatuh.." ucap Taehyung pada Jimin. Mata segarisnya lalu melirik es krim Taehyung yang sudah meleleh di tanah. Melihat wajah sedih Taehyung, Jimin akhirnya memberikan es krim coklat nya kepada Taehyung.

"Makanlah punyaku," Jimin berkata. Taehyung sedikit merasa sungkan.

"Ayo, ambil" Jimin kini malah menyodorkan es krim iti ke depan mulut Taehyung. Akhirnya Taehyung pun menerima es krim Jimin yang hanya berkurang sedikit itu.

"Kau ingat perkataan ku tadi pagi? Aku menantangmu ciuman. Jika aku bisa membuatmu menyebut namaku, kita benar-benar pacaran.?" Jimin mencoba membuka obrolan.

Wajah Taehyung makin memerah. Ia ingat, itu kan kalimat yang Jimin katakan di uks pagi tadi.

"..."

"Dan tadi kau menyebut namaku di sela ciumanku, dan apa itu berarti artinya kita benar-benar pacaran?" tanya Jimin.

Taehyung membelalak.

"Sudah ku tidak mau!" teriak Taehyung.

"Ayolah Tae, jadilah pacarku.." Ucap Jimin sedikit memohon.

"Aku itu normal! Aku suka cewek, dan aku suka Seulgi!" jawab Taehyung.

"Kau itu suka Seulgi memangnya dia suka padamu? Tidak kan? Sudah lah kau jadi pacarku saja sudah jelas kan!"

"..." Taehyung terdiam. Jimin itu benar sebenarnya. Jangankan suka, melirik dia saja Seulgi tidak pernah.

"Mikirmu itu lama sekali sih. Apa susahnya sih bilang iya? Lagipula jadi pacarku pun kau tidak ada rugi-rugi nya. Malah aku yang susah karena harus mentraktirmu jika kencan nanti!" ucap Jimin malas. Alis Taehyung berkedut. Sebenarnya si pendek ini niat menembaknya tidak sih?

"Kau itu niat tidak sih menembakku?"

"Tidak. Jadi cepat jawab iya, karena aku tidak menerima penolakan" tegas Jimin kejam.

"Aku tidak mau!"

Jimin mengangkat alis nya. Lalu menyeringai,

"Emmm, tidak mau yaa. Baiklah, besok kau tunggu saja ada seorang namja gila yang akan mencium mu di depan kelas"

"Apa katamu?"

"Tidak ada siaran ulang"

Singkat, padat dan tidak jelas.

"Cepat jawab! Atau kau mau ku cium lagi sampai kehabisan nafas?" ancam Jimin sambil medekatkan wajahnya.

"Ish, kau ini kenapa sih? Kenapa kau suka menciumku ? Kau itu bukanya homophobia ya?"

"Aku sudah tidak peduli lagi dengan homophobia. Sekarang yang paling penting sekarang jawab pertanyaanku tadi!"

Taehyung mendengus keras, kesal setengah mati dengan manusia pendek ini.

"Kalau aku tidak punya jawaban lain selain iya kenapa kau masih bertanya jawabanya!" ketus Taehyung.

"Siapa tahu kau mau kupermalukan" sahut Jimin datar.

Grhhhhh! Jimin benar-benar manusia paling menjengkelkan yang pernah Taehyung temui.

"So? Apa kita sekarang pacaran?" tanya Jimin sok manis.

"Mana ku tahu!"

"Sudah lah pacaran saja, kalau menunggumu akan terlalu lama!" dengan itu Jimin langsung merangkul Taehyung dan menaruh kepala pemuda berambut cokelat di pundaknya. Taehyung sendiri tidak menolaknya.

"Kau menembakku memangnya kau mencintai aku?" tanya Taehyung.

"Aku tidak tahu" jawab Jimin.

Plak!

Kepala Jimin jadi sasaran Taehyung lagi.

"Sebenarnya kau ini serius tidak dengan ku!"

"Aduh! Kau ini kenaapa suka sekali memukulku sih! Kalau menikah nanti aku yakin aku bisa babak belur karena tangan besar mu! Tentu saja aku serius denganmu kalau tidak buat apa aku sekarang jadi belok kalau tidak serius!?" kesal Jimin sambil mengelus kepala nya.

"Habis kau terlihat main-main"

Jimin mengehela nafas. Lelaki itu kini menarik kedua tangan Taehyung untuk ia genggam.

"Aku mau bersumpah demi apapun jika kali ini aku benar-benar serius padamu. Aku akan berhenti menjadi playboy mulai detik ini demi kau jika kau mau mempercayai aku. Aku memang brengsek, tapi kau bisa pegang kata-kataku. Kalau aku memang sangat membutuhkanmu.."

Taehyung memalingkan wajahnya untuk melirik arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang blushing parah. Ia malu sungguh. Belum lagi kini Jimin malah duduk berlutut di bawahnya sambil menggenggam tanganya persis seperti lelaki memperlakukan wanita. Dan sialnya kenapa dia malah di posisi wanita itu sih!?

"Tae, maukah kau berjanji satu hal untukku?" tanya Jimin.

"Apa?"

"Bisakah aku bergantung padamu?"

Mereka lalu saling bertatapan sebentar. Dan Taehyung akhirnya mengangguk tanpa pikir panjang. Mungkin ia harus memberi kesempatan Jimin untuk membuktikan perkataanya jika ia serius denganya. Dan melupakan Seulgi cinta pertamanya.

Jimin pun berdiri dari posisinya lalu mendektakan bibirnya untuk mencium kening Taehyung lama.

"Saranghae.." bisiknya.

.

.

.

.

Tbc.

Mungkin ff ini bakal segera saya tamatin. Walau agak nggak rela karena ff ini adalah ff karya saya yang paling saya suka di banding ff saya yang lain. So, mind to review..?