DIFFERENT
(MONSTER NARUTO VERSION)
.
.
Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.
Warning : Typo, AU, Naruto/Hinata/Neji/Kurenai, Rated M, OOC, Mengandung unsur sex.
.
.
CHAPTER 1.
.
.
Seorang pria berambut pirang berantakan berjalan mendekati sebuah rumah sakit besar di Konoha. Langkahnya mengayun begitu santai. Mata aquamerine yang terlihat jenaka namun juga mematikan itu memandangi gedung rumah sakit dengan tatapan bosan. Beberapa jam yang lalu ia sudah dengan susah payah membujuk ketua teroris keriputan walau usianya masih sangat muda. Meminta pria menyebalkan dengan kuncir kudanya itu untuk setidaknya mengundur waktu pemboman yang ia rencanakan. Pria pirang itu masih memiliki sebuah transaksi yang menggiurkan dengan seorang bos mafia Suna yang kebetulan tengah dirawat di rumah sakit ini.
Dan dia berkata kalau pria pirang ketua mafia terbesar di Konoha ini bisa melakukan transaksi dengan kliennya hari ini. Si dia akan menyuruh adiknya yang ia ingat pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu. Pria tanpa ekspresi. Mata aquamerinenya menangkap siluet mobil sport merah terang yang ia yakini sebagai mobil Sasuke, adik dari Itachi.
Namun, tiba-tiba keningnya berkerut. Ia melihat seorang wanita dalam mobil itu. Seingatnya Itachi tidak pernah mengatakan apapun soal wanita berambut merah muda yang sekarang sedang berada didalam mobil Sasuke. Naruto merasa sedikit ganjil dengan wajah cemas yang jelas terlihat diwajah cantik wanita itu. Dan ia sangat yakin jika dia juga pernah bertemu dengan wanita itu. Bukankah dia salah satu dokter dirumah sakit ini? Apa hubungan mereka berdua? Apa wanita itu salah satu mata-mata Black Rose?
Berusaha tidak memperdulikan mereka, Naruto hanya berdiri diambang pintu rumah sakit menunggu Sasuke yang tengah berlari menyebrangi jalanan mrnghampirinya. Dia baru saja akan menyapa pria yang terlihat tergesa-gesa itu saat pria itu justru terus berlali melawatinya. Meninggalkannya diluar sementara ia telah lebih dulu berlari kedalam rumah sakit.
"Sial, berani sekali ia pergi begitu saja dan mengacuhkan sapaanku. Apa seperti ini transaksi yang dilakukan para teroris keparat itu? saling kejaran seperti adegan film Bollywood?" Naruto mendengus namun tak ayal dia juga ikut berlari mengikuti Sasuke, namun langkahnya segera berhenti saat melihat apa yang tengah pria itu lakukan.
"Wow, tunggu dulu. Apa yang dilakukannya?" ia terus memperhatikan Sasuke yang tengah sibuk menekan semua alarm tanda bahaya yang dilewatinya dan segera berbelok memasuki sebuah ruangan yang Naruto yakini tak lagi dipakai.
Sesaat bayangan akan seorang wanita yang ia lihat bersama Sasuke kembali menghantui pikirannya. Ia mencoba mengingat ekspresi wajah wanita itu maupun Sasuke.
"Shit!" sebuah kesadaran datang padanya.
Ia telah ditipu mentah-mentah oleh Itachi. Pria itu ingin melenyapkan Naruto yang mencoba menghalangi rencanya dan juga adiknya sebagai pembelot organisasi. Naruto merutuki kebodohannya. Ia berniat segera berlari keluar dari rumah sakit. Namun, langkahnya terhenti saat dilihatnya orang begitu banyak berlarian dihadapannya. Menghalangi akses pintu keluar. Ia terus berusaha menerobos kerumunan yang semakin lama semakin padat. Teriakan disekelilingnya membuat Naruto semakin frustasi dan marah. Naruto berusaha mengambil pistol yang ia simpan dibalik jas eksentrik yang ia kenakan. Namun, saat ia hendak mengeluarkannya seseorang mendorongnya dari belakang, membuat Naruto menjatuhkan pistolnya. Ia menggeram semakin marah.
Naruto terus berjuang untuk keluar dari sana. Dan saat akhirnya ia berhasil keluar dari sana, Naruto segera berusaha untuk berada cukup jauh dari gedung untuk sedikit mengambil nafas.
"Sialan, untung saja bomnya belum meledak." Naruto menolehkan kepala kebelakang.
"Gagal sudah transaksi seharga milyaran uero ku." Naruto menggaruk rambutnya.
Sesaat sebelum ia sempat melangkahkan kakinya dirasakan dadanya panas dan nyeri. Ia menyentuh dadanya yang kini berlumuran darah. Lututnya terasa lemas. Naruto mencoba berdiri, dipandangi setiap jendela gedung disekitarnya dan melihat seorang pria dengan tato cakar berwarna merah disalah satu gedung. Tangannya memegang senapan laras panjang dengan peredam. Naruto menggeletukkan gigi. Menahan sakit dan marah.
"Jadi pria keriputan itu berniat membunuhku juga? Brengsek." Naruto mencoba melangkahkan kembali kakinya yang terasa begitu berat. Jalannya terhunyung. Saat naruto kembali menolehkan kembali kepalanya, pria itu telah hilang. Naruto mencoba terus berjalan dengan keadaannya yang semakin mengenaskan. Ia mendudukkan dirinya diatas kursi taman tak jauh dari rumah sakit. Perlahan kesadarannya semakin menghilang. Dan sebelum kesadarannya semakin menipis ia bisa mendengar suara ledakan sangat keras. Naruto terkikik pelan.
"Rupanya kita sudah sama-sama gagal." Dan semuanya kemudian menghitam..
...
Cahaya matahari menyinari sebuah kamar dengan nuansa lembut. Diatas tempat tidur terbaring seorang pria bertelanjang dada. Sepanjang bahu dan dada bidang sebelah kanannya terbalut perban. Wajah berkulit tan itu terlihat lebih pucat dari yang seharusnya. Perlahan matanya mengernyit merasakan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Dengan sedikit mengerang pria itu berusaha bangkit dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
CEKLEK
Pria dengan rambut pirang itu menolehkan kepalanya kearah pintu yang terbuka. Dan saat itu dia melihatnya. Wanita berambut hitam panjang dengan wajah yang begitu cantik. Untuk sesaat ia merasa bahwa waktu telah berhenti.
"Ah, kau sudah bangun." Wanita itu tersenyum begitu lembut padanya.
"Apa kau kecewa aku bangun?" Wanita itu berhenti melangkah dan menatap Naruto sekilas sebelum melanjutkan kembali langkahnya mendekati Naruto.
"Dimana aku?" pria itu bertanya.
"Kau dirumahku. Aku menemukanmu sekarat ditaman kota saat aku sedang berjalan-jalan." Wanita itu menaruh baskom berisi air dan lap di atas meja samping tempat tidur.
"Kenapa kau tidak membawaku ke rumah sakit?" pertanyaan itu entah kenapa muncul dalam kepalanya.
Bukankah saat kau menemukan seorang asing yang terluka parah kau harusnya membawanya kerumah sakit? Atau bahkan melapor pada polisi. Bukannya justru membawanya kerumahmu.
"Apa aku harus membawamu kesana?" Alis pria itu berkerut. Bingung.
"Ayah bilang tempat-tempat umum seperti itu sangat seram. Kau tidak akan mau tinggal disana." Kebingungan semakin menyergap isi kepalanya. Apalagi ditambah dengan raut wajah sungguh-sungguh wanita itu.
"Siapa namamu?" wanita itu menghentikan sejenak kegiatan mengganti perban pria dihadapannya.
"Hinata. Hinata Hyuga. Siapa namamu?" wanita bernama Hinata itu tersenyum lembut padanya.
"Hah, ternyata gosip itu benar. Aku pikir kau hanyalah sebuah dongeng." Hinata menatap bingung pria dihadapannya.
"Namaku Naruto. Naruto Namikaze dan aku yakin kau tidak akan tahu siapa aku." Pria itu-Naruto mendengus pelan.
Dia memandang lekat wanita dihadapannya. Naruto memang pernah mendengar tentang keluarga Hyuga. Keluarga yang menjadi anjing ratu paling setia dan paling hebat serta terkenal diseluruh penjuru dunia. Keluarga yang selalu menjadi musuh bagi pejahat-penjahat diseluruh penjuru Konoha seperti dirinya.
Naruto juga pernah mendengar kabar tentang salah seorang keturunan Hyuga yang sengaja dijauhkan dari dunia luar hanya untuk melindunginya yang sangat lemah, berbeda dengan saudaranya yang lain. Dengan kata lain, anak yang tak diinginkan.
Dan selama ini ia selalu menganggap hal itu adalah hisapan jempol belaka. Bagaimana mungkin seorang Hyuga yang agung meiliki seorang keturunan yang sangat payah? tapi sekarang disinilah ia. Berada dalam satu ruangan dengan orang yang selama ini ia anggap dongeng.
"Ah!" Naruto mengerang saat tangan halus Hinata tidak sengaja menekan terlalu keras luka tembakan didadanya.
"Nah, sekarang sudah tidak apa-apa. Kurenai akan datang memeriksa keadaanmu nanti." Hinata mulai membereskan barang-barangnya.
"Kurenai?"
"Iya, dia seorang dokter yang hebat. Ayahku bilang aku tidak perlu pergi ke rumah sakit yang menyeramkan selama aku bersama Kurenai." Wajah polos wanita itu entah kenapa menarik perhatian Naruto begitu banyak.
Ia tidak mengira ada orang setega itu yang benar-benar menyingkirkan putrinya. Dan ia rasa meskipun mungkin benar wanita dihadapannya ini sangat lemah, setidaknya dia memiliki wajah yang begitu cantik. Mereka bisa saja menikahkannya dengan salah satu anggota kerajaan untuk memperkuat kedudukan mereka bukan?
"Kau benar-benar tidak pernah pergi kemanapun?"
"Aku pergi ketaman kota kadang-kadang saat Neji tidak ada dirumah." Alis mata Naruto kembali mengerut mendengar nama seorang pria keluar dari bibir wanita dihadapannya.
"Neji?"
"Hm, dia adalah sepupuku." Hinata kembali duduk di atas sebuah sofa disamping tempat tidur.
"Dia jarang bicara. Tapi dia sangat baik padaku." Hinata tersenyum sekilas seraya membereskan barang-barang yang ia bawa barusan.
Entah kenapa nama Neji begitu mengganggunya ia mencoba mengingat nama itu. Dan dia mengingatnya sekarang. Neji. Jelas ia pernah mendengar nama itu. Tidak ada seorang penjahat pun yang belum pernah mendengar nama itu. Neji Hyuga, seorang anjing ratu Konoha paling disegani saat ini. Meskipun umurnya masih sangat muda, tapi pria itu telah berhasil menduduki posisi sangat tinggi. Dan dialah anjing ratu yang paling dihindari para penjahat sepertinya.
"Entah aku beruntung atau sial bisa berada disini sekarang." Naruto mendengus mengingat sekarang ia yang seorang bos mafia paling dicari di Konoha bahkan di seluruh dunia berada tepat di sarang seorang anjing ratu no.1.
"Tentu saja kau beruntung. Kau bisa hidup sekarang merupakan sebuah anugrah yang tuhan berikan. Kau harus bersyukur." Naruto menolehkan kepalanya. Ia bahkan lupa keberadaan wanita cantik yang satu ini.
"Ah, aku harus menyiapkan makan malam." Lagi-lagi wanita itu tersenyum padanya. Benar-benar sangat tulus sebelum meninggalkannya sendirian didalam kamar.
"Haah, rasanya aku seperti masuk kedalam mulut harimau meskipun aku telah berhasil keluar dari mulut buaya." Naruto sedikit terkikik. Ia mengusap keningnya perlahan.
...
Hinata sedikit bersenandung sambil menyiapkan makan malam bersama Kurenai. Perasaannya benar-benar sedang bahagia sekarang. Ini pertama kalinya ia bisa berbicara dan bersama dengan seorang pria selain sepupunya, Neji.
Trak.
Hinata menyimpan pisaunya dengan cukup keras. Membuat Kurenai sedikit terkejut dan menoleh padanya.
"Ada apa?" Kurenai bertanya pada Hinata.
Hinata lantas menangkap tangan Kurenai dan meletakkannya didadanya. Kurenai bisa merasakan jantung Hinata berdetak sangat kencang.
"Apa kau merasa sakit?" Kurenai kaget dengan debaran jantung Hinata yang begitu kencang dan wajahnya yang memerah. Namun, dengan cepat Hinata menggeleng.
"Aku akan selalu seperti ini jika aku membayangkan pria bernama Naruto itu. Apa yang harus kulakukan? Apa ini normal?" wajah polosnya membuat Kurenai tidak tahan untuk tersenyum.
"Kau berdebar jika mengingatnya? Membayangkannya? Berada didekatnya?" Dengan keras Hinata menganggukkan kepala.
"Kau pernah mengalaminya?" Hinata memandang Kurenai dengan tatapan sedikit memelas.
"Kau sedang jatuh cinta, honey." Kurenai mengelus rambut Hinata lembut.
"Cinta? Apa itu tidak apa-apa? apa aku tidak akan terluka? Ayah akan sangat marah jika aku terluka." Wajah cemas Hinata justru membuat Kurenai kembali tersenyum.
"Cinta adalah sesuatu yang bagus. Kau akan merasa sangat bahagia saat kau mengalaminya. Mungkin kau akan terluka suatu hari nanti, tapi itu tidak apa. Kau akan baik-baik saja setelahnya. Kau akan semakin kuat."
"Apa ayah akan lebih sering menemuiku jika aku jatuh cinta?" senyum Kurenai perlahan menghilang.
Ia lantas memeluk Hinata. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Hinata, jadi dia hanya memeluknya.
"Wow, Aku tidak tahu kalau kalian ternyata punya hubungan seperti itu." suara bariton seseorang di belakang mereka mengagetkan keduanya.
"Naruto?" Hinata bisa melihat sekarang ini Naruto tengah berdiri di ambang pintu dapur memperhatikan mereka.
"Kenapa kau ada disini? Kau harus banyak beristirahat." Hinata berjalan mendekati Naruto.
"Aku bosan." Naruto menyenderkan badan tegapnya pada kusen pintu.
"Tapi kau harus istirahat." Hinata lantas menapit lengan Naruto dan menyeretnya menjauhi Dapur. Di belakangnya Kurenai hanya memandangi kepergian mereka dengan senyum terkembang di bibir.
...
"Apa tidak apa-apa kau makan disini? Seharusnya kau makan di dalam kamar sambil istirahat." Hinata menampakkan raut wajah khawatir.
Mengingat sekarang ini Naruto duduk di meja makan bersama mereka, padahal ia masih belum sembuh benar.
"Oh, ayolah. Aku bukan anak kecil lagi. Kau tidak perlu sekhawatir itu." Naruto dengan cuek memakan makanannya. Untuk beberapa saat suasana menjadi tenang.
"Apa kau biasa makan sebanyak itu?" Hinata memperhatikan porsi yang bisa dibilang diluar batas normal orang biasa.
"Kenapa? Aku suka makan. Justru bukankah yang aneh itu kau? Apa kau selalu makan sesedikit itu?" Naruto balik menunjukkan piring Hinata yang hanya terisi sedikit makanan.
"Aku yakin bahkan kucing pun tak akan kenyang memakannya." Naruto sedikit mengeleng sebelum akhirnya kembali melahap makanannya.
Hinata yang mendengar perkataan Naruto hanya terdiam sesaat sebelum akhirnya tangannya terulur mengambil beberapa makanan untuk memenuhi piringnya. Dan kemudian memakannya dengan riang. Naruto hanya memandang sekilas sambil mendengus menahan senyum dan kembali acuh. Sementara Kurenai hanya terdiam sambil memperhatikan mereka berdua. Senyum kembali terkembang. Ini pertama kalinya dia melihat Hinata begitu bersemangat seperti ini. Rupanya keberadaan Naruto membawa pengaruh baik pada Hinata.
...
Naruto menyamankan dirinya diatas sofa di dalam kamar yang ia tempati. Matanya menerawang kembali mengingat kejadian yang menimpanya kemarin. Ia tidak menyangka bahwa Itachi bisa selicik ini. Ia bahkan tidak menyangka bahwa ia bisa setolol itu masuk kedalam perangkapnya. Tangannya dengan keras mengepal. Naruto lantas berdiri, kepalanya masih panas menahan marah. Dan saat ia berbalik-
"WA!." Naruto sedikit memekik kaget. Pasalnya dihadapannya sekarang ini berdiri Hinata dengan dress tidur panjang berwarna putih dan rambut sepunggungnya ia gerai. Dari wajahnya bisa dilihat kalau sepertinya Hinata juga kaget dengan pekikan Naruto.
"Apa kau tidak bisa lebih mengagetkanku lagi?" Dengan kesal Naruto menatap kearah Hinata, tidak peduli jika sekarang ia hanya memakai celana panjang tidur dan bertelanjang dada, memamerkan tubuh atletisnya. Sebaliknya Hinata justru menunduk malu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Naruto berkacak pinggak dihadapan Hinata. Ia masih sangat kesal.
"Aku hanya mau mengembalikan semua barang-barangmu." Hinata lantas menyodorkan barang-barang yang sejak tadi ia pegang.
Naruto memperatikan Hinata sejenak sebelum akhirnya mengambil barang-barang yang disodorkan Hinata.
"Aku permisi dulu." Hinata lantas bergegas berbalik dengan masih menunduk menyebabkannya terantuk pintu.
"Aw." Hinata mengelus keningnya yang terantuk.
"Kau tidak apa-apa?" Naruto menghampiri Hinata.
Ia mengulurkan tangannya dan membalikkan badan Hinata agar memandang padanya.
"Coba kulihat." Naruto menyentuh dagu Hinata.
Memaksanya mendongak. Ia lantas memeriksa kening Hinata. Di hadapannya Hinata memejamkan matanya dengan rapat. Tidak ingin melihat wajah Naruto yang begitu dekat dengan wajahnya sendiri.
"Kenapa kau menutup matamu? Apa kau ingin aku menciummu?" Hinata membuka matanya begitu mendegar Naruto berkata seperti itu.
"Kenapa aku ingin kau menciumku?" Hinata menatap Naruto bingung.
"Mana kutahu." Naruto melepaskan tangannya dari dagu Hinata.
"Apa kalau aku menutup mataku kau akan menciumku?" pertanyaan Hinata sontak membuat Naruto terkejut.
"Apa?"
Menyadari apa yang telah diucapkannya Hinata menjauhkan tubuhnya dari Naruto dan segera berlari keluar dari kamar. Hinata terus berlari sampai ia mencapai pintu kamarnya sendiri. Dengan tergesa Hinata membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan keras.
"Apa yang sudah kukatakan? Bodoh." Hinata memukul-mukul kepalanya.
Wajahnya sudah sangat memerah sekarang. Namun, tak ayal senyum terkembang dibibirnya saat mengingat bahwa ia tadi begitu dekat dengan Naruto.
...
Sepeninggal Hinata, Naruto masih berdiri ditempatnya tadi. Wajahnya masih menunjukkan kebingungan.
"Haah, apa yang sebenarnya terjadi barusan?" Naruto sedikit menggeleng.
Naruto membawa barang-barangnya ke atas tempat tidur, memeriksa semua barangnya. Dan mendapati Ponselnya yang ternyata masih menyisakan sedikit baterai.
"Banyak sekali telepon masuk." Naruto membayangkan bahwa para anak buahnya di kediamannya pasti akan sangat ribut soal kehilangannya. Ia lantas menekan sebuah nomor untuk dihubungi.
"Naruto! Anda dari mana saja? Kami begitu khawatir saat mengetahui tempat yang anda jadikan tempat transaksi meledak kemarin." Naruto menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia lantas menghela napas dengan pelan.
"Aku baik-baik saja. Aku akan kembali kesana besok pagi." Naruto menyentuh jasnya yang telah bolong terkena peluru.
"Apa Itachi menghubungi kalian?"
"Tidak ada. Memangnya ada apa?" pria diujung sana yang semula begitu ribut mendadak menjadi tenang.
"Kemarin ia mencoba membunuhku. Tapi, untung saja ada seorang wanita yang menyelamatkanku." Naruto mencengkram jasnya dengan keras.
"Kami akan meningkatkan penjagaan mulai dari sekarang. Anda tenang saja."
"Baiklah. Sampai besok." Naruto menaruh kembali ponselnya di atas tempat tidur.
Sementara ia sendiri merebahkan badannya. Mencoba menutup matanya. Namun, nyatanya saat ia menutup mata. Justru bayangan Hinata lah yang muncul. Kepolosan wanita itu. Senyum lembutnya. Tingkahnya yang tak lebih dari seorang bocah. Semuanya begitu menarik perhatiannya. Sekeras apapun Naruto mencoba mengahalaunya wajah Hinata tetap kembali. Lagi dan lagi.
Selama ini ia tidak pernah percaya tentang cinta apalagi yang datang secara kilat seperti ini. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain. Saat ini sepertinya ia telah tertarik pada wanita itu. Wanita yang seharusnya ia hindari.
...
Pagi hari sepertinya waktu yang sesuai untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai kaku karena terlalu lama berbaring. Naruto memutuskan untuk berjogging berkeliling rumah sambil mencari jalan yang bisa ia gunakan untuk pergi tanpa perlu melewati jalan utama dengan resiko bertemu dengan Neji.
Tapi sejak sejam yang lalu ia sama sekali tidak menemukan jalan alternatif apapun kecuali jalan utama dan hutan. Ia juga tidak mungkin memalui jalan hutan. Ia benar-benar buta arah. Bahkan ia masih sering salah membedakan antara kiri dan kanan.
"Mungkin aku bisa menanyakan seluk-beluk hutan ini pada Kurenai, atau bahkan mungkin Hinata?" membayangkan Hinata membuatnya tersenyum.
Wanita itu sepertinya sama sekali belum pernah bergaul dengan pria selain ayah dan sepupunya. Terlihat jelas dari sikapnya tadi malam.
Naruto hendak berbelok memasuki pintu belakang rumah saat seseorang melompat didepannya. Membuat jantungnya berlonjak kencang.
"Naruto, saatnya sarapan." Mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri. Naruto mengambil nafas dalam.
"Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba seperti hantu?"
"Aku sudah dari tadi berada disini menunggumu. Apa aku mengagetkanmu?"
"Tidak apa-apa. Mungkin aku yang sedang melamun." Naruto tersenyum pada Hinata dan membimbing wanita itu memasuki rumah.
Di ruang makan sudah menunggu Kurenai beserta hidangan menggugah selera diatas meja makan.
"Kau akan mandi dulu atau.." Kurenai menuangkan susu kedalam tiga cangkir diatas meja.
"Aku akan langsung makan saja. Perutku sudah mulai berdemo dengan anarkis." Naruto duduk disalah satu kursi diikuti oleh Hinata yang memilih duduk disampingnya.
Sebenarnya bukan menu sarapan yang istimewa, tapi Naruto tidak pernah menyia-nyiakan makanan apapun yang terhidang dihadapannya. Dengan lahap dia memakan senwich tuna yang menjadi menu sarapannya pagi ini.
"Apa tidak ada jalan lain selain jalan utama didepan itu?"
"Tidak ada. Memang hanya satu. Lagi pula untuk apa? Hanya ada rumah ini disekitar sini." Kurenai menjawab pertanyaan Naruto.
"Benar-benar tidak ada jalan lain?"
"Kenapa? Kau mau pergi kesuatu tempat? Boleh aku ikut denganmu?" Hinata menghentikan makannya dan memandang pada Naruto.
"Hinata. Kau tahu kau tidak boleh keluar dari sini tanpa seizin Neji. Dan aku yakin dia tidak akan mengizinkanmu keluar dengan Naruto." Hinata berubah menjadi murung saat mendengar penuturan Kurenai.
"Tunggu sebentar. Kenapa dia hanya boleh pergi dengan seizin anj- maksudku Neji? Dan memangnya kenapa denganku?" ia merasa tidak terima namanya disebut-sebut seperti itu.
"Aku tahu siapa kau. Jadi aku juga tahu dengan jelas apa jadinya jika Neji tahu kau ada disini." Kurenai memandangnya dengan tatapan tajam. Dari awal Naruto tahu kalau wanita ini pasti bukan wanita sembarangan.
Karena bagaimanapun tidak mungkin mereka meninggalkan anak mereka berada jauh dari keramaian penduduk hanya ditemani oleh seorang wanita paruh baya biasa.
Naruto segera bangkit dari duduknya dan menyudahi acara sarapan. Ia harus mencari jalan lain untuk segera pergi dari sini. Dari jauh dia masih bisa mendengar suara Hinata yang bertanya tentang siapa dirinya.
...
Pagi-pagi buta Naruto bergegas keluar dari rumah. Ia harus keluar sekarang sebelum ia bertemu dengan Neji, ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika dia bertemu pria itu.
Dan sebelum makhluk cantik penyelamat hidupnya terbangun ia segera menuju pintu belakang rumah besar ini. Naruto bergegas menuju pintu belakang dan membukanya. Namun saat ia berniat melangkah keluar ia harus berhenti. Wanita itu. Wanita dengan senyum sepolos malaikat itu tengah berdiri dihadapannya. Memandangnya dengan tatapan mata bertanya. Ditangannya terdapat beberapa bunga segar.
"Apa yang kau lakukan disini pada pagi buta?" Naruto bertanya pada Hinata.
"Aku biasa memetik beberapa bunga pada jam-jam seperti ini. Mereka masih sangat indah dan segar pada pagi hari." Hinata memandang Naruto dengan seksama. Memperhatikan dandanan Naruto yang sepertinya siap untuk pergi kapan saja.
"Lagi pula, bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Apa yang kau lakukan disini? Kau seharusnya masih beristirahat didalam kamarmu."
"Aku harus pergi sekarang. Ada yang harus aku kerjakan." Naruto sedikit menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bisa kau minggir sebentar? Aku tidak bisa lewat kalau kau menghalangi jalanku seperti ini." Naruto melihat Hinata menggelengkan kepalanya.
"Oh, ayolah." Naruto mendorong Hinata kesamping agar ia bisa lewat. Namun, belum beberapa langkah ia berjalan. Ada sebuah tangan yang menghentikan langkahnya. Tangan itu dengan erat menggenggam lengannya.
"Kau tidak bisa pergi. Kau masih sakit." Hinata memandang Naruto dengan cemas. Namun, Naruto memandangnya dengan malas.
"Oh, tunggu sebentar disini." Hinata seperti teringat sesuatu, ia menggenggam lengan Naruto lebih erat.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, maaf. " Naruto dengan keras melepaskan genggaman tangan Hinata dilengannya. Ia berjalan dengan sedikit tergesa. Menuruni jalanan lengang daerah perbukitan. Namun sekali lagi langkahnya terhenti. Naruto membalikkan badanannya.
"Kenapa kau mengikutiku?" dibelakangnya. Tepat beberapa langkah dibelakangnya, ia bisa melihat Hinata mengikutinya.
"Aku-"
"Dengar," Naruto mendekati Hinata dan memegang pundaknya
"Aku punya sejarah yang sangat buruk dengan sepupu berambut indahmu itu-"
"Neji?" Naruto memandang wajah Hinata sekilas.
"Benar. Jadi aku tidak mau kau membuatku kembali mendapatkan masalah dengannya. Jadi sebaiknya kau pulang." Naruto membalikkan tubuh hinata dan sedikit mendorongnya sebelum ia kembali melanjutkan perjlanan dengan langkah sedikit lebih cepat. Ia kemudia berbelok memasuki hutan untuk lebih mempersingkat perjalanannya dan juga menghindari kalau-kalau ia akan bertemu dengan Neji.
Tapi lagi-lagi Naruto harus berbalik dan mendapati Hinata masih mengikutinya dengan langkah yang sedikit tergopoh. Ia memandang tidak percaya pada Hinata. Kemudian Naruto sedikit berlari. Ia berharap Hinata akan kehilangan jejaknya dan menyerah untuk mengikutinya. Namun, ia salah. Hinata masih mengikutinya walaupun ia telah tertinggal sangat jauh.
"Sial." Naruto mengacak rambutnya frustasi. Ia berjongkok dibawah sebuah pohon besar disampingnya. Memandangi Hinata yang berlari kearahnya.
Hinata segera terduduk begitu ia berhasil tiba dihadapan Naruto. Nafasnya terengah.
"Apa yang kau inginkan?" Naruto bertanya pada Hinata. Tatapan matanya menyiratkan keputusasaan.
"Aku mau menyerahkan ini padamu." Sambil masih terengah Hinata menyodorkan sebuah balpoin padanya. Naruto memandang bingung, namun ia tetap mengambil balpoin itu darinya.
"Itu milikmu. Aku mau memberikannya padamu sebelumnya." Naruto memperhatikan balpoin berukir namanya pada balpoin itu.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" Ia memandang tidak percaya pada Hinata.
"Kau yang memotong perkataanku dan berlari masuk hutan." Naruto menarik nafasnya dengan berat.
"Great! Sekarang siapa yang tolol disini." Ia memandang Hinata.
"Terima kasih. Sekarang kau bisa pulang." Naruto segera bangkit dan merjalan menjauhi Hinata.
"Aku... aku tidak tau jalan pulang." Hinata menatap Naruto dengan tatapan memohon.
"Oh, kau bisa berjalan kearah utara. Terus saja kearah utara."
"Utara?" Hinata bertanya pada Naruto.
"Ya, utara. Yang sebelah sana itu," Naruto menunjuk dengan ragu. "Atau yang itu? pokoknya kau ikuti saja instingmu. Semoga berhasil" Naruto segera berlalu dari sana. Namun segera berhenti dan berbalik menatap Hinata yang memandang balik padanya.
"Kau benar-benar tidak tahu jalan pulang?" Hinata hanya menggelengkan kepalanya.
Naruto menghembuskan nafas dengan keras. Memandang pada Hinata sekali lagi sebelum melanjutkan,
"Kau bisa ikut denganku sekarang. Aku akan mengantarkanmu pulang segera setelah aku menyelesaikan urusanku." Hinata tersenyum cerah mendengar penuturan Naruto.
"Kau tidak akan mengantarkanku pulang sekarang?"
"Aku tidak bisa. Dan bisakah kita pergi sekarang? Aku sedang terburu-buru." Hinata hanya mengangguk dan berlari kearah Naruto yang sudah mulai berjalan mendahuluinya.
"Kita mau kemana?" Hinata bertanya pada Naruto. Ia tidak tahan dengan keheningan yang terus menerus menyelimuti mereka berdua sedari tadi.
"Ke rumahku."
"Apa rumahmu jauh? Makanya kau pergi pagi-pagi sekali seperti ini?"
"Hm."
"seperti apa rumahmu? Apa sama seperti rumahku? Atau seperti orang-orang yang hidup diluar sana yang memiliki rumah bertingkat tanpa taman? Dengan siapa kau tinggal? Orang tuamu? Apa ayahmu juga tinggal denganmu? Apa-"
"STOP!" Naruto memandang Hinata frustasi.
"Bisakah kau membungkam mulutmu itu untuk sesaat? Karena aku sedang menccoba mencari jalan keluar sekarang!" nada marah dan frustasi terdengar jelas dari intonasi suaranya.
"Apa kita tersesat?"
"Ya, benar tuan putri kita sedang tersesat sekarang!"
Hening. Tak ada seorangpun yang berbicara sekarang. Naruto mencoba mengatur nafasnya. Ia tahu ia salah dengan memarahi Hinata. Tapi ia benar-benar sedang putus asa sekarang. Ia butuh menyalurkannya.
"Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku berkata sekeras itu padamu." Naruto memandang wajah Hinata. Merasa bersalah. Tapi wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng.
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa, ayah sering bicara dengan nada seperti itu padaku." Mendengar ucapannya justru menambah rasa bersalahnya.
"Mungkin kita bisa lewat sini." Hinata mendahului Naruto berjalan berlawanan arah dengan tujuan awal mereka.
"Tunggu, kau mau pergi kemana? Kita tidak bisa pergi kesana. Kita baru dari sana dan-" Naruto menghentikan ucapannya begitu mendengar suara kendaraan bermotor didepan mereka. Ia segera berlari mendahului Hinata.
"Naruto. Dari mana saja kau? Kenapa lama sekali?" Didepannya kini terlihat jalan raya dan tentu saja mobil yang datang menjemputnya.
"Bagaimana kau tahu jalan keluarnya?" Naruto memandang kebelakang mencoba bertanya pada Hinata, tapi rupanya wanita itu sudah mendahuluinya memasuki mobil selagi ia terbengong beberapa saat yang lalu.
"Kau tidak akan naik?" Hinata berbicara padanya melalui kaca mobil. Disebelahnya Chouji memandang pada Naruto, meminta penjelasan siapa wanita yang tengah duduk manis di dalam mobil mereka.
Naruto hanya memandang pada Chouji sekilas sebelum ia mengikuti masuk kedalam mobil. Duduk dibangku belakang di samping Hinata. Sementara Chouji hanya menggeleng dan menduduki kursi kemudi dan segera melajukan mobil mereka.
...
"Hinata?!" Kurenai terus menerus mencari Hinata dengan gusar.
Pasalnya ia sama sekali tidak bisa menemukannya dimanapun. Bahkan ia tidak menemukan pria pirang bernama Naruto yang mereka tolong beberapa hari lalu. Ia mulai khawatir, Hinata tidak pernah menghilang seperti ini sebelumnya. Ia tidak tahu kalau membiarkan wanita itu memetik bunga dipagi hari bisa menyebabkan hal seperti ini. Ia merasa semuanya pasti berhubungan dengan pria itu.
Kurenai menyambar telpon yang bertengger di dinding ruang makan dan memejit beberapa angkat. Ia berharap Neji belum berangkat ke istana. Ia harus berbicara padanya sekarang.
"Halo."
"Neji!" Kurenai segera berseru saat ia mendengar suara Neji.
"Ada apa? Aku harus pergi ke istana sekarang."
"Hinata menghilang."
"Apa katamu? Bagaimana dia bisa hilang?!" bisa ia dengar suara pria itu begitu marah. Dan ia menyadari kalau ia memang salah.
"Bisakah kau kesini? Aku tidak bisa menceritakannya lewat telpon." Ia tidak mendengar balasan dari Neji, pria itu telah menutup telponnya. Ia yakin akan terjadi masalah besar sekarang.
TO BE CONTINUED
Autor note :
Mina-saaan~~~~~~ jumpa lagi dengan autor sei yang cantik ini/slap. Ini adalah kelanjutan dari fanfiction berjudul moster kemaren! Seperti yang kujanjikan FF ini akan memiliki beberapa seri dan sekarang adalah seri keduanya yakni seri dari NARUHINA! Penggemar NaruHina mana suaranyaaa~~ hehehe lebay ya? Oh iya jangan lupa buat baca dan tinggalkan jejak kalian ya di kolom review ^^
Baydewey! Aku lagi bahagia banget sekarang! SASUSAKU~ NARUHINA~ SAIINO IS REALLLL! I LOVE MR. MK!
Huhuhu~~~ oke deh Sampai jumpa di chapter selanjutnya yaa~~ arigatouu
Special thx : .39, JelitaPyordova, Anisha Ryuzaki, , Aiko Asari, 1, Eysha CherryBlossom, HazeKeiko, Animea-Khunee-Chan, Naya Aditya, mantika mochi, rainy de, febri feven, XieMao, cherry-nyan, dan para silent reader~~~ lain kali tinggalkan jejak kalian di kolom review ya ^^
Akhir kata. Aku cinta kalian semua 3
