Sometimes... Someone
.
CHAPTER 4
Warning! YAOI, Best-fucking-Friend, Typo(s) gak masuk akal.
Pair! Mark x Jaemin
Slight! Mark x Donghyuck, Jeno x Jaemin
NCT adalah punya Sment, Saya Cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)
.
Happy Reading
.
Aku masih marah padanya. Lebih tepatnya kecewa. Kekecewaan itu sekiranya juga tidak bisa hilang dalam semalam dua malam. Entah kapan. Aku sendiri tidak yakin.
Jeno menemaniku kemana pun aku pergi. Dia selalu ada di depan mataku setiap saat selama sebulan ini. Berkat dia aku tidak pernah merasa kesepian. Hanya saja sekarang hidupku agak terasa ganjil. Karena bukan Jeno yang selama ini ada di posisi itu.
"Aku sedih..."
"Kau sudah berusaha dengan baik."
Karena selama ini Jeno sudah dengan baik menemani dan berusaha berteman denganku, kurasa tidak masalah jika kali ini aku yang memperlakukannya dengan baik. Lagi pula, kami memang sudah berteman. Teman artinya adalah mencoba untuk selalu ada satu sama lain. Maka dari itu aku duduk di sebelahnya di taman stadion setelah sore tadi pertandingan final dilakukan. Sekolah kami kalah. Padahal tim sepak bola menjadi andalan sekolah untuk ajang olahraga ini. Sedikit banyak aku tahu bagaimana perasaan Jeno karena gagal. Belum lagi dengan posisinya sebagai penyerang. Seperti ujung tombak. Sama sepertiku kala itu.
"Tidak semua rencana berjalan seperti yang kita harapkan. Kau bisa mencobanya lagi tahun depan. Kalau mau..."
"Ah! Sebal. Apa mungkin karena kami terlalu meremehkan tim mereka ya? Jaemin... aku benar-benar sedih." Jeno memainkan kakinya di atas tanah sampai debu-debu beterbangan.
"Kalau sedih ya menangis jangan merajuk begitu." Aku berusaha menggodanya. Namun sepertinya dia tidak menyukai godaan itu. Terbukti dari bagaimana dia semakin memainkan tanah di bawah kakinya. "Oke, oke... Ayo pergi dari sini. Sudah malam. Akan kutraktir ramyeon."
"Sungguh?"
Benar-benar seperti anak kecil. Dengan sedikit pancingan saja moodnya langsung berubah.
"Iya."
"Hore!"
.
Aku tidak bisa dengan kejam menyuruhnya untuk mengantarku pulang dalam keadaan hati yang seperti itu. Jadi aku menyuruhnya pulang dengan segera ke rumah sementara aku pulang menggunakan bis. Jeno sempat menentang ide itu, tentu saja. Tapi, aku meyakinkannya dengan banyak alasan. Mulai dari berlatih berjalan, sampai rindu dengan kendaraan panjang itu. Heol, siapa yang pernah rindu dengan bis kota? Alasan itu bahkan tidak di terima di otakku.
"Haaah..."
Desahan lelah keluar dari mulutku saat rumahku sudah terlihat dari ujung jalan. Ternyata berjalan dengan tiga kaki –plus kruk- lebih melelahkan ketimbang berjalan normal. Aku ingin cepat-cepat berhenti bergantung pada benda itu dan berjalan seperti orang lain. Bahkan berlari jika ibu mengijinkannya lagi.
Aku berjalan melewati rumah Mark hyung. Refleks, aku melirik kamar di lantai dua. Kamar Mark hyung sudah gelap. Ada dua kemungkinan, dia sudah tidur atau malah belum pulang. Donghyuck bisa saja melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada Jeno. Ah! Tidak! Apa yang kupikirkan? Kenapa aku membandingkan diri dengan mereka? Lagi pula hubungannya kan berbeda. Mark hyung dan Donghyuck berpacaran sementara aku dan Jeno hanya teman. Tentu saja berbeda!
Segera aku mengalihkan pandangan dari kamar Mark hyung untuk kembali fokus pada perjalanan pulangku. Seharusnya tidak seperti ini. Aku tidak boleh memikirkan Mark hyung lagi seintens dulu jika tidak mau lebih sakit hati.
Mataku menangkap sosok seseorang duduk di depan pintu rumah Mark hyung. Ia berhenti memainkan ponselnya saat tanpa sengaja menangkapku tengah menatapnya. Ternyata dia disana. Bukan sedang tidur atau berkencan dengan pacarnya.
"Baru pulang, Jaemin?"
Aku tidak menjawabnya. Namun entah kenapa malah berhenti berjalan. Mark hyung melakukan yang sebaliknya. Dia berdiri lalu mendekatiku. Hanya pagar sebatas dada yang memisahkan kami sekarang. Jarak yang sangat dekat untuk bisa diterima dalam kondisi hubungan kami sekarang.
"Berjalan-jalan dengan Jeno?" tanyanya lagi. Ada senyuman miring yang tergantung di wajahnya. "Apa kau menghiburnya karena kekalahan hari ini?"
"Kupikir begitu. Dia membutuhkannya."
Senyuman Mark hyung hilang perlahan. Bukannya aku berniat untuk memandanginya terus. Hanya saja... aku memang terbiasa seperti itu.
Mark hyung perlahan menundukkan kepalanya. Tanpa kuduga, dia tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahuku. Tubuhku menegang. Kenapa ia melakukan ini?
"Kalau begitu bisakah aku memintanya juga?"
Ada sesuatu dari ucapan itu yang tidak aku pahami. Nada bicaranya. Mark hyung tidak pernah memohon dengan cara bicara yang seperti ini. Dia lebih suka memerintah. Kelemahan terdengar jelas, aku ikut melemah karenanya.
"Sejak dulu, kau melakukan hal yang kau lakukan pada Jeno itu padaku. Bolehkah aku memintanya kembali?"
'Tapi kau sudah punya Donghyuck. Kau tidak memerlukannya lagi dariku. Pergilah padanya dan minta itu. Kau akan merasa jauh lebih senang. Bukan begitu?'
Aku ingin mengucapkan kalimat itu dengan jelas menggunakan mulutku. Namun aku paham bukan kata-kata seperti itu yang Mark hyung butuhkan saat ini. Bukan kalimat yang mengindikasikan penolakan karena mungkin dia bahkan sudah mendapat penolakan dari timnya sendiri sebelum ini. Aku membencinya namun bukan berarti aku mesti makin menghancurkannya juga.
Kuusap rambutnya. "Kau sudah bekerja bekerja keras. Terima kasih."
.
Berita kekalahan tim sepak bola itu menyebar dengan sangat cepat. Euforia kemenangan dari sekolah seberang sana berhembus kencang di sosial media sampai ke tangan setiap orang di sekolah ini. Pagi hari yang biasanya tenang kini sedikit gaduh. Rasanya seluruh orang memandang para pemain dengan pandangan miring. Sebab ini kali pertama dalam lima tahun tim mereka kalah.
Berlebihan. Memang kenapa kalau kalah sekali saja? Sesekali sekolah ini harus merasakan ada di bawah agar bisa menikmati rasanya di atas awan pada kesempatan berikutnya.
"Aku bisa naik sendiri." Kuhentikan usaha Jeno untuk menggendongku pagi ini. Seluruh orang menatap kami. "Kenapa kau tidak cepat-cepat ke kelas saja dan mengubur wajahmu dalam tas?"
"Hah? Konyol. Memangnya kenapa? Hei, apa kakimu itu benar-benar sudah tidak apa-apa?"
"Kau dilihat banyak orang. Dan ya kakiku baik-baik saja."
Jeno memperhatikan sekitarnya dengan tatapan ingin tahu. Seketika, mereka yang menatap kembali melakukan aktivitas masing-masing seakan tidak mengacuhkan kami.
"Bagus. Ayo jalan."
Laki-laki bodoh. Dia bahkan tidak menyadarinya. Dengan santai Jeno berjalan di sampingku sambil meniti anak tangga satu-persatu.
Seharusnya aku menikmati waktu makan siang dengan tenang. Donghyuck menghilang sejak bel istirahat baru saja berbunyi. Namun malangnya diriku, malah terjebak diantara para wanita cantik sekolah yang kutahu beberapa sebagai manager tim sepak bola. Mereka mengajakku ke tempat pembuangan di belakang sekolah. Biasanya tempat ini dipakai untuk merokok bagi sebagian siswa yang sengaja membolos, kutahu dari Mark hyung. Dan saat mengingat hal itu, aku tahu apa yang akan mereka lakukan.
Ah... Tuhan, kenapa aku harus dibully? Apa aku melakukan kesalahan berat di masa lalu?
"Biar kuperjelas alasan kenapa kau dibawa kemari. Kau berhubungan baik dengan Mark." Yeri si manager tim sepak bola membuka suara. Sering kali aku bertanya-tanya, kenapa manager tim olah raga selalu perempuan, cantik lagi, tapi bodohnya sama sekali tidak paham masalah olahraga seperti Yeri ini. Bukan rahasia lagi bahwa nilai olahraganya hanya rata-rata. Mungkin modal tampang.
"Ya kami teman kecil. Tapi tenang saja kami sudah tidak sedekat yang kalian kira."
"Lalu sekarang kau menggoda Jeno."
"Iy- Apa!? Menggoda apa? Hei dia yang duluan mendekatiku. Mata kalian buta ya?"
Tak perlu hitungan detik, mata mereka membola seperti akan keluar dari tempatnya. Mengerikan. Bagaimana bisa perempuan mengeroyok laki-laki begini? Apa karena aku pincang?
"Intinya kau yang bertanggung jawab atas semua kekalahan mereka kemarin!"
Aku? Kenapa aku? Rasanya ingin sekali aku berteriak di depan telinga mereka bahwa aku bukan Tuhan yang menentukan ini dan itu. Selama pertandingan yang kulakukan hanyalah duduk d tribun sekaligus mendengar teriakan melengking gratis dari Donghyuck. Memang aku ini kurang menderita apa?
"Kau membuat kapten tim kami tidak fokus selama sebulan setelah kau lomba lari itu. Cih! Lagi pula bagaimana bisa anak kelas satu ikut lomba maraton? Kalah lagi. Pasti kau mensuap sekolah kan? Memalukan."
"Setelah kau cidera lalu kau merayu Jeno. Kau ini punya muka tidak? Cacat begitu-"
"Hey girls... you call me what?"
Aku merasa baik-baik saja. Kekuranganku hanya tidak bisa berjalan normal untuk sementara. Bukan berarti aku cacat. Perempuan-perempuan ini...
Satu, dua, tiga, empat, lima. Hanya lima orang perempuan. Mereka pikir hanya karena mereka perempuan aku jadi takut?
"Aku tidak cacat. Lalu, aku bukan perempuan jalang yang suka menggoda laki-laki. Dan, apa menurut kalian khawatir pada teman itu hal yang buruk? Mark melakukan hal yang baik guys. Lagipula aku tidak menyuruhnya sampai seperti itu padaku. Bukan salahku kalau mereka berdua memang lebih tertarik padaku ketimbang kalian yang tidak punya pesona. Benar 'kan?"
Tiba-tiba seseorang dari mereka mendorongku ke tempat penampungan sampah. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya yang mengeras. "Sialan!"
Hanya umpatan itu yang keluar dari mulutnya.
Aku tidak tahan melihat keangkuhan di wajah mereka saat melihatku tak berdaya di tempat sampah. Muak sekali rasanya. Sama seperti aku muak pada sampah -sampah yang mengeliliku.
Kuambil kruk yang jatuh di sampingku. Sebisa mungkin aku bangkit dengan cepat.
"Kalian membuatku marah."
Baiklah kalian berlima, tangan kosong. Aku sendirian, sepertinya akan adil jika pakai alat.
Aku memukul mereka dengan krukku satu persatu. Awalnya mereka hendak melawan tapi aku melakukannya dengan membabi buta sampai tak ada yang berani mendekat.
"Ack!"
Jackpot. Aku mengenai wajah seseorang dari mereka. Bukan sengaja. Semoga dia punya banyak uang untuk operasi plastik jika tulang hidungnya patah. Aku tidak peduli.
"Kau benar-benar!" Yeri menarik rambutku lalu melemparkanku ke tanah.
Sakit. Pertengkaran dengan perempuan memang berbahaya.
Mereka sepertinya tidak berniat untuk melanjutkan pertengkaran –bully yang gagal- ini lalu memilih untuk pergi. Meninggalkanku yang tergeletak di tana sekiranya sudah membuat mereka puas.
Ah... sakit.
Jaemin Pov end.
.
Author Pov.
Untuk kedua kalinya Jaemin menjadi pusat perhatian hari ini. Dengan baju yang terlanjur kotor dan lusuh ia berjalan di koridor. Tentu saja dia risih dengan pandangan mereka, namun Jaemin tidak punya banyak pilihan.
"Jaemin! Kau..."
Saat di lantai dua, Jeno menghampirinya. Sikap murid kelas 2 yang memandanginya sepertinya membuat Jeno ikut penasaran dan akhirnya menemukan Jaemin dengan kondisi seperti ini.
"Aku ada pakaian di ruang klub. Ayo ikut aku."
"Yah harus turun lagi. Aku capek. Sudahlah, pakai ini saja. Toh sudah mau pulang."
"Kau mau dipandangi seperti itu oleh yang lain? Kalau guru tahu bagaimana? Cepat."
Jeno tidak menyerah untuk menyeret Jaemin ikut dengannya. Melihat bagaimana kondisi temannya itu, Jeno tidak ingin terlalu banyak bertanya. Dia sudah bisa mengira-ira apa yang terjadi.
"Mungkin sedikit kebesaran," Jeno menyodorkan seragam bersih pada Jaemin saat mereka sudah ada di ruang klub. "Disitu ada kamar mandi. Kau bisa sekalian bersihkan badanmu. Sejujurnya kau bau."
"Terima kasih bajunya. Tentu saja bau, aku masuk tempat sampah."
"Hah!?"
Jeno tidak sempat meminta penjelasan karena Jaemin sudah lebih dulu cepat-cepat masuk ke kamar mandi dengan jalan tertatihnya.
"Jeno." Namja itu segera mengalihkan pandangan ke pintu masuk. Ia kira akan jadi satu-satunya orang di ruang itu setelah Jaemin masuk ke ruang yang berbeda. Ternyata tidak. Mark berdiri disana dengan tatapan mata yang mencurigakan. "Kau dipanggil Kim Saem."
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Dia bilang kau disuruh menemuinya di kantor guru."
"Baiklah. Oh iya, Jaemin masih ada di kamar mandi dan juga, tolong aku titip kuncinya."
Mark mengangguk mengerti. Ia menunggu sampai Jeno benar-benar menghilang di balik tikungan lorong sebelum akhirnya masuk ke dalam ruang klub. Diputarnya kunci pintu hingga berbunyi lalu menyembunyikan benda itu di saku celananya.
Butuh waktu beberapa saat. Suara deru air berhenti setelah sepuluh menit dan saat itu Mark mulai menyiapkan dirinya.
Jaemin keluar dari kamar mandi dengan pakaian Jeno, yang ternyata memang sedikit kebesaran. Ia terkejut dengan kehadiran Mark di sana yang seakan menggantikan posisi Jeno.
"Mana Jeno?"
"Dia pergi. Aku tidak tahu dia kemana. Saat aku kesini dia tiba-tiba lari begitu saja."
Selama ini Jaemin selalu mempercayai apa yang dikatakan Mark. Namun, sekarang terdengar berbeda. Laki-laki itu bahkan tidak menatapnya saat bicara. Bukan kerena malas seperti yang biasa dia lakukan. Tapi, memang sengaja untuk menghindar.
Jaemin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hendak keluar dari ruangan itu dengan baju kotor miliknya di tangan. Sungguh menyusahkan. Sudah pincang, tangan penuh lagi.
Lalu ia merasakan kejanggalan itu. Pintunya terkunci. Perasaannya berubah tegang. Dia seakan mengerti apa yang akan terjadi.
"Sudah lama sekali kita tidak berdua seperti ini." Celetuk Mark. Dia berjalan mendekati Jaemin di ambang pintu. "Aku merindukannya."
"Apa yang hyung rindukan? Bukankah menurut hyung, berdua denganku itu menyebalkan?"
Mark tersenyum getir. Seharusnya sekarang dia senang karena Jaemin menggunakan bahasa hormat yang selama ini ingin dia dengar dari laki-laki yang lebih muda itu.
"Sudah sebulan lebih. Bisa tidak kita akhiri pertengkaran ini?"
Apakah itu perintah atau permintaan. Jaemin tidak paham. Mark terlalu banyak ada di tingkat teratas dalam sebuah kelompok, sudah pasti dia tidak terlalu mengerti bagaimana caranya memohon atau meminta dengan baik.
"Apa barusan itu kata lain dari permintaan maaf, hyung?" Jaemin menempatkan dirinya pada posisi yang dengan leluasa memandang Mark dengan tatapan remeh.
"Kalau kau memandangnya seperti itu, aku tidak keberatan."
Benar bukan? Betapa arogannya Mark itu. Jaemin tidak mengerti lagi bagaimana menyadarkan temannya untuk sejenak saja merendah. Paling tidak hanya untuk meminta maaf. Setelah sekian lama dia menutup diri dari Mark, Jaemin sebenarnya merasa sekaranglah saat yang tepat. Tapi, cara Mark meminta maaf membuatnya berpikir ulang. Jaemin tidak menyukainya. Kali ini dia ingin mengedepankan ego dalam menghadapi Mark. Ia tidak ingin kalah dan mengalah lagi.
"Apa sulitnya bilang, maafkan aku. Aku bersalah. Lebih enak didengar hyung. Atau jangan-jangan hyung memang tidak merasa bersalah? Tapi, kalau dipikir-pikir benar juga sih. Hyung memang tidak salah. Aku kan jatuh sendiri waktu lomba. Memang apa yang hyung lakukan sampai aku jatuh? Tidak ada tuh... Woah! Jadi, sepertinya aku yang salah disini. Haruskah aku yang minta maaf, Minhyung hyung?"
Ruang klub itu tiba-tiba terasa panas. Saking panasnya, kerongkongan Mark jadi kering sampai ia tak mampu untuk bicara. Ada hal yang dikuasai Mark selama ini, membantah dan memerintah. Namun, sekarang keduanya tak berlaku. Di hadapan sahabat yang selama ini paling sering melihat kelihaiannya dalam bersilat lidah.
"Hyung tidak mau bicara? Hyung benar-benar berpikir ini salahku?" Mark ingin berteriak, tentu saja tidak! Jaemin salah paham. Tapi, Mark bahkan tidak tahu argumen apa yang akan mendukung persepsinya itu. "Okay. Minhyung hyung mianhae. Aku salah sudah marah padamu karena kakiku sekarang cacat padahal semua ini salahku sendiri. Kupikir mulai sekarang kita juga tidak usah berteman lagi. Kau pasti malu punya teman sepertiku."
"Tentu saja tidak! Siapa yang bilang aku akan malu berteman denganmu? Jaemin, aku sudah minta maaf padamu dulu, tapi kau tidak mendengarkannya. Kumohon maafkan aku sekali lagi. Aku bersalah. Seharusnya aku tidak memperlakukanmu dengan buruk, seharusnya aku datang di perlombaan itu."
"Seharusnya kau tidak ingkari janjimu. Kenapa kau lebih memilih bersama dengan Donghyuck? Aku yang membantumu untuk bersamanya. Lalu, ini yang kau lakukan padaku? You forget me!"
Tanpa bisa ditahan, air mata Jaemin mengalir. Di depannya berdiri seseorang yang telah ia kenal sejak sangat lama. Waktu yang telah berjalan hingga saat ini itu rasanya sia-sia sudah ada begitu Jaemin menyadari Mark tidak mengerti dirinya, Mark tidak menyayanginya, Mark tengah bersiap meninggalkannya untuk laki-laki lain. Bukan dia posesif. Tentu jika sifat itu bisa dia pelihara, ia akan lakukan. Tapi Mark bukan kekasihnya, dia bukan siapapun selain sahabatnya. Namun karena itu. Karena Mark adalah sahabatnya, Jaemin tidak mau dia pergi.
Kenyataan memukulnya dengan keras. Sekarang setelah ia tak sanggup lagi untuk menerima kenyataan bahwa Mark memang tidak bisa terus ada di sampinya, Jaemin yang memilih mundur. Terasa sama sakit.
"Berikan kuncinya."
Jaemin berusaha mendekati Mark. Ia tahu laki-laki itu selalu menyimpan benda kecil di balik almamater seragamnya. Tapi Mark tidak berpikir membiarkan Jaemin keluar dengan keadaan seperti ini adalah hal baik. Lagi pula dia belum selesai. Jaemin belum memafkannya. Jadi dia berjalan mundur sembari terus menghindari Jaemin.
"I'm not forget you. Berikan aku kesempatan lagi."
"I'm done! Gimme the key!"
Mereka hampir sampai di ujung ruangan saat kruk Jaemin tersandung kursi. Sontak benda itu jatuh ke lantai, meninggalkan pemiliknya yang kehilangan keseimbangan. Jaemin sudah cukup pulih tapi untuk menghadapi hal mendadak seperti ini dia belum siap.
Mark melupakan hubungan mereka yang semakin berantakan. Tubuhnya seakan bergerak sendiri untuk menangkap tubuh Jaemin yang limbung. Tak hanya sampai disitu, tangannya langsung memeluk tubuh Jaemin. Disaat yang nyaris sama, Jaemin kembali menumpahkan emosinya.
Keduanya tahu betapa rindunya mereka satu sama lain. Pelukan itu seakan lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. Pelukan itu terasa lebih nyaman dari yang pernah mereka lakukan.
"Putuskan Donghyuck. Kembalilah padaku."
Deg.
Jantung Mark bagaikan kehilangan detaknya.
.
Seluruh murid telah pulang saat Mark kembali ke kelas. Dia membiarkan waktu terlewat begitu cepatnya hanya untuk memeluk Jaemin. Dia hanya ingin memeluk namja itu dan membiarkan suasana sepi menyelimuti mereka.
Hanya satu orang yang masih bertahan di bangkunya. Jeno.
"Jeno..."
"Guru Kim tidak memanggilku. Hah... bagaimana ini, aku malu sekali."
"Mianhae."
"Tidak apa-apa." Jeno mendekati Mark, lalu berdiri sambil bersandar pada meja di belakangnya. "Apa yang kau bicarakan dengan Jaemin?"
Apa yang aku bicarakan dengan Jaemin? Mark tidak yakin. Ia masih gamang untuk mengingat apa yang baru saja terjadi.
"Kami sepertinya... Mulai berpacaran." Jawaban itu sama sekali tidak diantisipasi Jeno. Tangannya meremat pinggir meja sembari membiarkan Mark bercerita lebih jauh. "Aku hanya berniat untuk mengembalikan hubungan baik kami. Lalu-"
"Kau masih berpacaran dengan Donghyuck."
"Itu masalahnya. Aku... tidak yakin."
Jeno menjauhkan dirinya dari meja. Ia mendekati Mark, untuk menghempaskannya ke lantai dengan sebuah tinjuan. "Bisa-bisanya kau! Apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan hah!? Kau mau menyakiti Jaemin lagi!?"
Mark mengerang. Pukulan Jeno tidak main-main. Laki-laki itu tidak biasa main tangan, dia pengguna kaki sejati dalam segala hal. Untuk kali ini Mark bersyukur Jeno tidak menendangnya.
"Yah! Jawab aku!" Jeno menduduki perut Mark lalu menarik kerah temannya itu. Ia kehilangan kesabaran.
"Ini satu-satunya cara agar Jaemin mau berbaikan denganku. Aku akan putuskan Donghyuck saat aku siap nanti."
.
"Kau pacaran dengan Mark?"
Jaemin tidak menjawab. Sebenarnya dia tahu pertanyaan itu bakal keluar dari mulut Jeno saat tiba-tiba namja itu menyuruhnya untuk turun dan menemuinya.
Malam semakin larut, udara pun bertambah dingin. Namun Jeno tidak mau membuang waktunya hanya dengan sebuah basa-basi Jaemin untuk menyuruhnya masuk. Dia ingin kejelasan. Ia ingin memastikan tidak ada seorang pun dari sahabatnya akan terluka karena hubungan ini.
"Iya,"
"Dia pacaran dengan Donghyuck. Bagaimana kau, ah! Aku tidak mengerti dirimu Jaem. Sungguh."
Untuk mempertemukan mata saja Jaemin tidak berani. Dia takut menemukan kebencian di mata Jeno untuknya. Ia takut mendapat label sebagai perusak hubungan orang dari teman barunya itu.
"Kau bisa saja menyakiti dirimu sendiri. Mark tidak mencintaimu."
"Aku cuma ingin dia tetap di sampingku. Dan kurasa ini satu-satunya cara. Dia sahabatku Jeno, kupikir kau akan mengerti."
"Justru karena kau sahabatnya aku semakin tidak mengerti. Kau ini naif! Memang dengan memperjelas status kalian, akan menjamin dia akan di dekatmu selamanya? Tidak, kalian bahkan akan semakin menjauh saat putus nanti. Kau benar-benar akan kehilangan sahabatmu, Nana."
Masih terlalu dini untuk seorang berusia enam belas tahun berpikir sejauh itu. Kini Jaemin sibuk menggigit bibir bawahnya begitu menyadari kebodohan itu.
"Sudahlah terserah kau saja! Pokoknya aku tidak mau ikut campur. Dan maaf saja, tadi sore aku menonjok kekasih barumu itu."
Jeno bersiap menjalankan motornya. Jaemin segera menahan tangan namja itu sebelum terlambat.
"Apa?"
"Bisa tidak kita berpisah baik-baik? Selalu saja kau meninggalkanku di tengah pertengkaran."
"Pertengkaran apa? Kita tidak bertengkar!"
"Tuh kan kau membentakku. Itu artinya kau marah padaku. Marah artinya bertengkar."
"Tidak!"
"IYAAAA!"
Tanpa mereka sadari, seseorang di balik jendela tengah memperhatikan mereka dengan senyuman di wajahnya.
.
Hidup semakin hari semakin sulit. Semakin banyak pilihan dengan keindahan dan keburukannya masing-masing. Pilihan ada untuk dipilih, juga ditinggalkan. Selalu seperti itu. Mendatangkan bimbang, memanggil lebih banyak tanya.
Mark merasa hidupnya terombang-ambing seperti tengah berdiri di tengah jungkat-jungkit dengan orang berbeda di setiap ujungnya. Ia ingin memilih ke sisi kanan disaat seseorang di sisi kiri terlalu sulit untuk dia abaikan. Ia ingin ke sisi kiri namun cintanya terpaut di sisi yang kanan. Bisa saja dia diam di tengah. Namun, pada saatnya nanti juga dia akan terjatuh. Tidak ada pilihan yang paling baik. Dia resah, dia siap untuk goyah.
"Kupikir kita akan pergi ke cafe yang baru buka itu. Kemarin hyung sudah berjanji padaku kan?"
Sorot mata kecewa serta marah itu membuat Mark tak enak hati. Semakin hari, semakin banyak saja tatapan itu dilontarkan padanya dari Donghyuck. Karena memang dia semakin banyak mengingkari janji.
"Maafkan aku. Tiba-tiba ibu memintaku untuk pulang cepat."
"Kenapa? Ada masalah?"
"Aku juga tidak tahu."
"Ya sudah kalau begitu. Kuharap bukan masalah serius. Aku pulang duluan ya hyung."
"Hati-hati."
Namja itu pergi dari kelasnya. Mark kembali bisa bernapas dengan bebas.
"MARK!"
"HUA! Ya! Na Jaemin! Kau mengagetkanku!"
Jaemin hanya terkekeh karena berhasil mengagetkan Mark. Ia duduk di kursi di depan milik Mark. "Bagaimana? Jadi tidak ke cafe itu?"
"Iya. Ayo pergi."
Mark merangkul bahu Jaemin lalu mereka berjalan keluar bersama dari kelas itu. Jaemin menyempatkan diri menyapa Jeno yang duduk di bangkunya sembari menatap mereka berdua. "Dadah Jeno~"
Perlu Jeno akui, kelakuan mereka sedikit menyebalkan.
Sudah hampir sebulan sejak Jaemin meminta –memaksa- Mark untuk menjadi kekasihnya. Diantara waktu tersebut, sudah banyak kejadian yang bergulir seperti roda, tak terhenti selama gayanya masih ada. Peran Jeno untuk mengantar Jaemin pergi kemana pun tiba-tiba telah berpindah tangan pada Mark. Orang sebenarnya memang diharapkan orang tua Jaemin untuk menjaga anak mereka.
Jeno bersyukur ia tak harus bangun lebih pagi lagi, dia juga bersyukur tidak perlu banyak bertemu Jaemin lagi. Tapi disamping itu, rasanya dia selalu dihantui perasaan tidak nyaman kala Jaemin berdekatan dengan Mark. Ia juga jadi tidak enak dengan Donghyuck yang sering menanyainya mengapa Mark tiba-tiba berubah. Jawaban apa lagi yang harus dia berikan pada namja itu?
.
Malam itu Jaemin bermain ke rumah Mark. Kebiasaan yang sudah cukup lama ditinggalkannya. Ia meminta izin pada ibunya untuk menginap di sana. Dan tentu saja wanita tegas itu sama sekali tidak keberatan. Malah, ia ikut senang dengan berbaikannya kedua remaja itu. Begitu pula keluarga Mark. Mereka menyambut Jaemin dengan bahagia. Tapi Jaehyun adalah yang paling senang karena mendapatkan adiknya kembali.
"Jaehyun hyung tidak berubah. Pipiku sakit."
Mereka berdua masuk ke kamar Mark saat makan malam usai. Jaemin mengusap pipinya yang merah akibat cubitan Jaehyun yang tidak main-main sakitnya. Laki-laki memang tidak tahu diri. Sudah tahu kuat, masih saja main tangan. Segemas apapun dan sebahagia apapun dia karena bisa dekat dengan Jaemin lagi, cubitan bukan hal yang bisa Jaemin tolerir sebagai pelampiasan.
"Aigoo... sini lihat. Kasih sekali..." Mark menggodanya dengan mengelus pipi Jaemin. Awalnya dengan lembut tapi setelah itu dia menggerakkan tangannya dengan liar sampai Jaemin merasa pipinya makin panas.
"Haish! Sakit, bodoh!"
Mark tergelak. Dia tidak bosan-bosan menggoda sahabat –kekasih-nya itu.
Jaemin membaringkan tubuhnya di kasur single Mark. Ia mengerang nyaman saat punggungnya dengan sempurna tergolek di sana. Wangi tubuh Mark langsung menguar. Dia merindukan kasur itu.
Mark yang bosan berdiri tanpa melakukan apapun memutuskan untuk bergabung. Ia naik ke tempat tidur sampai benda itu bergoyang gelisah karena menopang kelebihan beban. Tubuhnya sedikit menimpa Jaemin saat ia berbaring di sebelah namja itu.
"Aduh sempit Mark."
"Kau yang gendutan Jaem."
Kalimat itu sukses membuat Jaemin nyaris melempar Mark keluar dari kasur. Tapi untuk bergerak saja sekarang dia kesulitan. Jadi namja manis itu memilih untuk diam saja.
"Dulu kita muat tidur berdua disini."
"Itu kan waktu SD. Sejak SMP kita juga tidurnya sudah seperti koala dan pohon disini."
Keduanya mengingat bagaimana keusilan ibu Mark yang mengambil foto mereka saat tidur dua tahun lalu. Hasilnya membuat mereka hampir tidak tidur bersama selama sebulan. Pasalnya Jaemin trauma karena dia berubah fungsi jadi guling di tempat tidur ini.
"Kau seperti mau memanjatku setiap kali kita tidur bersama."
Tanpa bisa dicegah dahi Mark berkerut. Ia sudah dewasa sekarang. Tujuh belas tahun, berteman dengan orang-orang sebaya yang sudah menganggap film porno sebagai sarapan pagi, tidak boleh ditinggal.
"Agak ambigu."
"Ambigu apa?" Tapi Jaemin seakan-akan masih sama seperti Jaemin dua tahun lalu. Polos.
Mark segera menggelengkan kepala. Tidak mau mengotori otak Jaemin sampai waktu tiba. Ya, sampai waktunya tiba yang itu artinya cepat atau lambat.
"Kakimu masih sering nyeri?" tanya Mark untuk mengalihkan perhatian.
"Tidak. Aku bahkan yakin sudah bisa lari maraton sekarang."
"Heih... Immo bisa marah kalau itu terjadi. Cari hobi lain saja. Aku tidak mau bantu bujuk-bujuk lagi kalau itu berurusan dengan lari."
Mark duduk di tempat tidurnya sambil menatap Jaemin serius.
"Arraseo..." jawab Jaemin lemah. Dia kecewa karena tak ada seorangpun yang mengijinkannya untuk berlari lagi. "Aku akan coba yang lain."
"Good."
Mark kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Jaemin. Dia mengabaikan ketidaknyamanan yang ada. Namun, Jaemin terlanjur menyadarinya. Jadi dia berbaring miring untuk membuat lebih banyak space buat Mark. Pilihan itu sepertinya salah. Ia mendapatkan objek penglihatan yang membuat jantungnya berdebar cepat karena mengubah posisi tubuhnya.
Sekarang dia sudah mendapatkan sahabatnya kembali. Entah utuh atau hanya sebagian. Namun kenyataan yang ada di depannya sudah membuat Jaemin merasa sangat lega. Mark ada di dekatnya lagi. Karena hal itu dia mulai merasa tamak.
Jaemin menggeser tubuhnya mendekati Mark lalu memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Kenapa Jaem?"
Sikap Jaemin itu mengundang pertanyaan di benak Mark. Tubuhnya membeku di tempat.
"Jangan tinggalkan aku. Jangan jauh dariku. Aku tidak mau kehilanganmu, Mark."
"Bahkan sekarang saja aku tidak bisa bergerak. Jangan khawatir. Aku tidak akan pergi."
Mark tidak membalas pelukan Jaemin. Tangannya lebih memilih untuk memainkan rambut sahabatnya itu karena dia tahu hal itu bisa menenangkannya.
"Janji?"
Jaemin mengangkat kelingkingnya.
Mark menatap Jaemin sejenak. Terakhir kali mereka melakukan janji ini, ia mengingkarinya. Mengapa Jaemin masih percaya padanya?
"Janji tidak?" ulang Jaemin yang tidak sabar menunggu jawaban Mark.
"Aku janji."
Mereka menautkan kelingking untuk kesekian kalinya. Kali ini Mark berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan melanggar janji itu. Karena dia juga tidak ingin kehilangan Jaemin.
Tempat tidur kecil itu berderit pelan. Ia meronta karena tuannya bergerak. Bergerak mendekati sahabatnya dalam jarak yang tidak biasa. Hingga punggung Jaemin bertemu dengan tembok, Mark tidak berhenti sampai disitu.
Mata jernih Jaemin yang selama ini diabaikannya seakan memanggilnya untuk semakin dekat. Secara fisik maupun yang lainnya. Kini dia mencoba untuk tidak berontak. Bibirnya bergetar saat merasakan hembusan napas hangat Jaemin menyapunya.
"Mark, bukannya ini terlalu dekat ya?"
Krik...
"Aku tahu badanmu besar, tapi jangan pepet aku begini. Sempit."
Seketika Mark memundurkan tubuhnya. Akal sehat kembali menguasai pikirannya. Ia mengumpat kecil.
"Kenapa aku begini! ARGH! Donghyuck maafkan aku!"
"A-Aku mau ke kamar mandi." Cepat-cepat dia berjalan ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Kali ini dia mengutuk keberadaan ruangan itu. Kenapa harus ada di kamar ini? Kenapa tidak di dapur saja, jadi dia bisa lebih banyak menghabiskan waktu untuk berjalan.
"Agh! Sial! Sial! Apa yang kulakukan? Oh may God, I almost ruin my bestfriend!"
Di sisi lain, Jaemin masih berbaring di tempat tidurnya. Ia mencengkram selimut di bawahnya sembari menggigit bibir. Tentu saja dia tahu apa yang akan dilakukan Mark jika ia tidak menghentikannya tadi.
Jika ia membiarkan moment itu terjadi, apa yang akan dia rasakan? Apakah jantungnya akan berdebar-debar? Apakah tubuhnya akan terasa panas? Apakah tangannya akan mendekap Mark lebih erat?
"Astaga!" Jaemin terkesiap dengan pemikirannya sendiri. Lalu iblis membawa satu pertanyaan lagi di otaknya, apakah bibir Mark terasa lembut?
Bahkan setelah memikirkannya, ia tak mampu untuk berekspresi. Tubuhnya terlanjur sudah panas, wajahnya pasti memerah sekarang.
Ponsel Mark yang berbunyi menghentikan fantasi liarnya. Jaemin mendekati benda kotak itu di atas meja belajar Mark. Sebuah pesan dari Donghyuck baru saja diterima.
Kegilaan Jaemin langsung reda. Ia dijatuhi oleh kenyataan bahwa dia bukan satu-satunya.
Dari, Donghyuck
Hyung apakah besok sibuk? Mau nonton film tidak?
Jaemin mengintip ke pintu kamar mandi. Belum ada tanda-tanda Mark akan keluar dari sana. Ia mengetik sebuah balasan untuknya. Setelah pesan itu terkirim, ia menghapus riwayat pesan itu.
"Maaf Donghyuck..."
.
Donghyuck menggenggam ponselnya dengan tangan yang bergetar.
Dari, Mark Hyung
Maaf. Aku sibuk.
Sudah berkali-kali. Sudah tak terhitung lagi waktu yang seharusnya mereka lewati bersama hilang. Semua terjadi sejak kekasihnya itu berbaikan dengan Jaemin. Donghyuck merasakan perbedaan yang drastis dari sikap Mark. Sangat dingin, sangat sibuk.
Kemarin ia sengaja mengikuti Mark yang tiba-tiba membatalkan kencan mereka dengan alasan harus menemani ibunya belanja. Dan ia benar-benar menemukan Mark di mall, tapi bukan bersama ibunya melainkan Jaemin. Semua orang yang melihat pasti akan berpikir mereka adalah sepasang kekasih. Donghyuck tidak buta, jadi dia merasakannya.
"ARGH!"
Barang-barang di atas meja kini berpindah tempat ke lantai. Berhamburan, berantakan. Donghyuck tidak peduli.
.
Bulan Oktober yang dingin. Pepohonan mulai menggugurkan daunnya setelah berhasil membuat Seoul indah dengan warna kuning dan jingga. Terkadang badai datang bersama angin besar, di hari yang lain matahari bersinar terang tanpa terhalang gumpalan awan. Hampir seluruh orang mulai memperhatikan ramalan cuaca setiap pagi yang biasa mereka abaikan hanya untuk menjaga tubuh mereka tetap kering sampai rumah malam harinya.
Hujan turun lebat saat istirahat makan siang. Biasanya ada saja murid yang bermain di lapangan, namun sekarang semuanya mendekam di dalam gedung. Puluhan kumpulan remaja putri bergosip di koridor. Membuat jalan itu terasa sempit seketika. Butuh usaha keras hanya untuk pergi ke kantin.
"Nanti malam hyung datang tidak?" tanya Jisung sambil mengunyah makan siangnya.
"Aku datang bersama Chenle." Celetuk Renjun yang duduk di sampingnya. Chenle yang duduk di depan mereka berdua hanya tersenyum girang.
"Tapi, aku tidak tanya padamu ge. Aku tanya pada Jaemin hyung."
"Tidak tahu Jisung-ah. Lagi pula kau kan lihat sendiri kalau sekarang hujan. Nanti malam bisa saja hujan juga." Jawab Jaemin sekenanya. Ia mengaduk makan siangnya tanpa semangat.
"Yah semoga saja tidak. Masa iya festival setahun sekali batal karena hujan. Ayolah hyung... datang ya."
"Bilang saja kau tidak punya teman untuk diajak kesana karena duo China ini mau kencan."
Jisung mengerutkan bibirnya karena dia ketahuan. Renjun dan Chenle hanya tertawa melihat magnae itu.
"Kalian membicarakan apa? Sepertinya asik."
Tiba-tiba Jeno duduk di sebelah Jaemin. Ia mengambil minuman namja itu lalu meminumnya tanpa dosa.
"Festival kembang api malam ini." Jawab Jaemin. Dia masih mengaduk makannya tanpa minat.
"Jaemin hyung tidak semangat pergi. Huft... padahal aku ingin nonton. Tapi, kalau tidak temannya bisa-bisa aku hilang disana."
Jawaban Jisung membuat Jeno heran. Ia memandang Jaemin yang akhirnya menyuapkan makan siang ke mulutya. Jaemin memang bukan tipe orang yang suka keramaian setiap saat. Jika dia menolak untuk datang ke festival malam ini, maka itu hal yang wajar. Namun, Jaemin tidak akan begini pada Jisung. Dia selalu menyanyangi Jisung dan mengiyakan segala hal yang anak ayam itu minta.
Tangan Jeno menghentikan tangan Jaemin yang kembali menggunakan sendoknya untuk mengobrak-abrik makanan. "Kenapa? Kau sakit ya?" bisik laki-laki itu. Ia memanfaatkan sebisingan kantin untuk menyembunyikan suaranya dari orang di meja itu kecuali Jaemin.
Tanpa dijawab, Jeno bisa tahu jawabannya dari hangat tak biasa yang berasal dari tangan Jaemin. Lekas ia memindahkan tangan ke leher namja itu. "Ah, benar. Bagaimana bisa?"
"Tidak tahu. Lagi pula semua orang kan bisa demam begitu saja. Tanpa alasan."
Jeno mengiyakan saja. Ia tidak mau membuat Jaemin bicara panjang lebar yang nanti malah akan semakin membuatnya sakit.
"Jisung-ah, nanti malam pergi denganku saja. Mau tidak?" tawar Jeno.
"Mau! Akhirnya dapat teman. Tapi, Jaemin hyung..."
"Dia sakit. Lihat, pucat begitu."
"Maaf Jisung."
"Tidak apa-apa hyung. Aduh, aku malah baru sadar sekarang. Maaf..." Jisung menggeser tubuhnya mendekati Jaemin lalu memeluknya penuh kasih sayang.
.
Awalnya Jaemin berencana untuk menggelung diri di bawah selimut semalaman untuk meredakan demamnya. Sejak pulang tadi, tubuhnya semakin tidak karuan. Pening di kepalanya semakin menjadi-jadi, begitu pula panas tubuhnya. Berkebalikan dengan itu, ia merasa dingin setengah mati.
Ponselnya bergetar berkali-kali. Grup chat kelasnya penuh dengan foto yang menampilkan keramaian festival malam ini. Festival kembang api setiap Oktober itu memang selalu ramai pengunjung. Jelas, berkelas internasional. Pasti banyak turis pula disana. Sebagai orang Seoul, Jaemin sudah bosan dengan keramaian dan suasana festival itu. Tahun lalu ia sekeluarga pergi beramai-ramai bersama keluarga Mark, lengkap dengan kekasih Jaehyun juga. Malam ini, kedua orang tuanya memilih untuk tetap di rumah karena udara di luar terlampau dingin bagi mereka.
Jaemin bangun saat tiba-tiba merasa perutnya bergejolak. Dia tahu ini pertanda baik. Setiap kali ia demam dan memuntahkan makanannya, sakitnya selalu reda.
Ia kembali dari kamar mandi dengan perasaan lega. Peningnya berkurang.
Ada pikiran untuk menyusul Jeno dan Jisung ke festival. Namun, ia mengurungkan niat itu. Biarlah mereka berdua menikmati waktu bersama. Hitung-hitung untuk mendekatkan diri. Selama ini mereka hanya bersama kalau ada Jaemin diantara mereka.
Jaemin meletakkan kembali ponselnya di tempat tidur. Matanya menelusur ke luar pintu balkon. Hujan sudah tidak turun lagi, seperti yang semua orang harapkan. Senyuman terpatri di wajahnya saat membayangkan kebahagiaan semua orang di festival itu. Di saat yang sama, sebuah kebetulan kembali menghampiri. Diseberang sana, Mark tengah memakai mantelnya. Bersiap-siap untuk pergi sekiranya. Jaemin tidak tahu dia akan kemana, untuk apa, atau dengan siapa. Seharian ini mereka belum bicara. Sore tadi, Mark ada rapat klub sepak bola sementara Jaemin sudah terlanjur tidak kuat untuk menunggunya di sekolah. Jadi, mereka pulang terpisah.
Jaemin masih menunggu apa yang akan dilakukan namja itu selanjutnya. Namun Mark telah lebih dulu menemukan Jaemin yang memandangnya tanpa bicara dari kamar seberang.
Mereka saling diam walau tahu saling ketahuan.
Mark menghembuskan napasnya.
Jaemin menahan perasaan menggebu di dadanya.
.
Donghyuck menunggu kekasihnya lebih dari setengah jam dari waktu yang telah di tentukan. Dia kesal melihat ratusan pasangan dengan mesra berlalu lalang di depannya. Ia ingin berteriak bahwa dia juga akan melakukan hal yang sama saat Mark sampai di sana.
Saat akhirnya orang yang ditunggunya datang bersama laki-laki lain, Donghyuck tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Maaf aku terlambat. Dan..." Mark menggantung kalimatnya. Ia tidak yakin kata apa lagi yang bisa ia gunakan untuk menjelaskan situasi ini.
"Kupikir kau tidak akan keberatan jika kita pergi sama-sama kan, Donghyuck-ie? Kita kan teman. Kajja." Tanpa canggung Jaemin menarik tangan Donghyuck masuk ke dalam keramaian taman sungai Han.
Donghyuck mencuri pandang ke Mark yang lebih memilih berjalan di belakang. Dia tersenyum kecut. Mengisyaratkan ketidakmampuannya untuk mengelak.
Ketiga orang itu memutari area festival dengan usaha ekstra karena membludaknya pengunjung yang datang. Beberapa kali Mark harus menjaga kedua keka -ah! Mari kita sebut sebagai teman saja untuk kali ini agar tidak membuat pemeran utama kita terlalu terlihat bajingan. Mark harus menjaga kedua temannya agak tidak terhimpit diantara lautan manusia. Tidak mudah memang mengingat ia bahkan terdorong beberapa kali.
"Kita beli suatu dulu. Aku lapar." Ajak Donghyuck yang diiyakan saja oleh kedua temannya. Mereka mendekati sebuah stan tteok lalu memesan tiga porsi makanan dari tepung beras itu.
"Kalian duduk saja duluan. Ah! Disana sepertinya tidak terlalu ramai. Aku akan cari minum." Mark menunjuk tanah lapang yang tak jauh dari pusat keramaian lalu pergi setelah menitipkan makanannya pada Donghyuck.
"Akhirnya. Capek juga berjalan di keramaian begitu."
Donghyuck mendudukkan dirinya di atas rumput tanpa ragu. Tidak mencerminkan dirinya sebagai anak orang kaya sekaligus pianis yang biasanya punya gaya hidup mewah.
"Tidak apa-apa duduk begitu saja? Kalau banyak semut bagaimana?"
"Pantatku tebal kok. Tidak akan sakit. Duduk sini." Ditepuknya tempat kosong di sebelahnya. Jaemin menuruti Donghyuck.
Mereka berdua menghabiskan waktu dalam hening. Terlalu sibuk memperhatikan sekitar.
Diam-diam Jaemin sedang meregulasi perasaannya yang berantakan. Ia masih bingung mengapa ada di tempat ini sekarang. Terjebak diantara kencan Mark dan Donghyuck. Jika saja pengalaman ini terjadi berbulan-bulan lalu, pastinya tidak akan ada masalah. Tapi tentu saja sekarang semuanya berbeda.
Sebuah ajakan ambigu dari Mark satu jam lalu menariknya kemari. Entah dorongan apa yang membuat laki-laki itu mengajaknya pergi menonton kembang api, sedangkan dia tahu seharusnya malam ini adalah kencannya bersama Donghyuck. Bisa saja dia berbohong mau pergi ke suatu tempat bersama teman-teman klubnya jadi ia tidak bisa ikut. Seharusnya perilaku yang biasa digunakannya pada Donghyuck itu dilakukannya juga padanya.
"Tahun lalu, apa kembang apinya hebat?" tanya Donghyuck yang seakan berusaha memecahkan es diantara mereka.
"Ya. Selalu hebat sebetulnya. Benar-benar besar seperti bunga yang mekar."
"Sayang sekali aku baru bisa melihatnya sekarang. Semoga tahun ini lebih hebat dari sebelumnya."
"Semoga saja. Baru kali ini aku bisa menonton kembang api tanpa aturan macam-macam dari ibuku."
"Heh? Kenapa begitu?"
"Tentu saja begitu. Setiap tahun kami sekeluarga dan keluarganya Mark selalu pergi bersama. Kami berdua tidak bisa main dengan bebas karena mereka berempat selalu memegangi tangan kami. Pernah kan, tiga tahun lalu kami sengaja kabur, eh kami berakhir di kantor polisi. Sampai acara selesai, kami tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Sehari setelahnya kami dikunci di kamar masing-masing. Bodoh sekali."
Tanpa sadar Jaemin bicara panjang lebar dengan bersemangat saat menceritakan pengalaman masa lalunya. Ia tak menyadari Donghyuck yang duduk disampingnya mulai bergetar.
"Kalian sangat dekat ya. Aku iri."
Barulah Jaemin menyadari bahwa perkataannya itu mungkin melukai Donghyuck.
Donghyuck memeluk lututnya tanpa alasan. Ia memandang keramaian di depan seakan menunggu seseorang.
"Kalau aku jadi Jaemin, aku pasti sudah suka pada Mark sejak lama. Lalu, kami akan berpacaran mulai detik itu sampai menikah nanti."
"Ap-Apa? Hah, lucu. Sebenarnya hubungan kami tidak seindah itu juga kok."
Jaemin tahu, Donghyuck dan siapapun orang di dunia ini tidak tahu hubungan aslinya dengan Mark sekarang. Mungkin Jeno menjadi satu-satunya pengecualian. Ia tidak bisa menunjukkan kejujurannya di depan Donghyuck. Tidak setelah semua hal jahat yang dia lakukan pada namja itu.
"Tapi tetap saja, kenapa ya aku selalu merasa telah mengganggu hubungan kalian?" Ada kegelisahan dalam diri Donghyuck yang jelas terlihat dari bagaimana caranya memainkan jemari. "Meski kalian hanya bersahabat sedangkan aku adalah kekasih Mark, tetap saja yang terlihat lebih pantas disebut berpacaran itu hubungan kalian. Aku merasa menjadi pengganggu setiap saat."
Jaemin tidak menanggapi apapun kalimat Donghyuck. Mulutnya terkunci rapat tanpa ada tanda-tanda hendak terbuka bahkan untuk sekedar menghembuskan napas.
"Akhir-akhir ini hubungan kami jadi renggang. Kami jarang bertemu, jarang berkirim kabar. Dia tiba-tiba menghilang. Aku bertanya-tanya, apakah dia tidak mencintaiku lagi? Dan aku menyadari satu hal." Donghyuck mengalihkan pandangannya pada Jaemin. Membuat tatapan mata yang mengisyaratkan sang objek untuk bersiap. "Semua karena kau."
Jaemin menahan napasnya. Jantungnya bahkan terasa mau copot saat Donghyuck mengucapkan kalimat terakhir. Tangannya mulai berkeringat. Ia tidak siap dipojokkan.
"Kenapa tegang begitu?"
"Ak-aku... aku tidak mengerti."
"Jaemin, aku tidak sedang menyalahkanmu. Jangan takut." Donghyuck langsung menggenggam tangan Jaemin yang dingin.
"Tapi kau bilang..."
Ia bilang sesuatu yang sebenarnya memang terjadi. Oleh karena itu Jaemin ketakutan.
"Aku hanya berasumsi saja kalau semuanya memang terjadi karena kau. Bukan hanya tentang hubungan kami yang renggang tapi juga mengapa kami bisa bersama. Semuanya berawal dari kau. Kau dan Mark yang tengah saling menjauh saat itu membuatku mendapat kesempatan, itulah alasan terbesar kenapa kami bisa seperti ini. Dan sekarang saat hubungan kalian kembali hangat, aku merasa tersisihkan."
Tempat di sekitar mereka mulai penuh dengan orang. Semakin ramai saja. Namun, fokus mereka tak teralih sedikitpun. Masing saling memaku satu sama lain. Saling menunggu untuk mendengar dan didengar.
"Lalu bagaimana? Aku tidak mungkin menjauh dari Mark untuk membuat hubungan kalian tetap hangat. Kau tidak bisa seegois itu." Jaemin marah. Tentu saja.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menjauhinya Jaemin. Sebaliknya, aku sadar diri bahwa mungkin hubunganku dengan Mark hanya sampai disini. Karena Jaeminnya sudah kembali." Senyuman yang dipaksakan di wajah Donghyuck membuat Jaemin menyadari kejahatannya selama ini. "Kenyataan itu menyakitiku. Belum pernah aku menyukai seseorang sedalam ini. Sekarang malah, aku tidak bisa mempertahankannya. Dengan tanganku sendiri aku melepaskan orang yang kucintai."
.
Jaemin berjalan dibelakang Mark dan Donghyuck. Bukan tanpa alasan, dan alasan itu bukan karena Donghyuck memintanya. Ia hanya terlalu lelah untuk berjalan sejajar dengan mereka berdua. Karena hatinya terus terasa sakit sejak pengakuan Donghyuck satu jam yang lalu. Ia kehabisan tenaga untuk merenunginya.
Kedua tangan mereka yang sering kali bergesekan seakan memberikan kode untuk saling menggenggam. Waktu berlalu cepat namun tak juga hal itu mereka lakukan. Mungkin, mereka terlalu keras menahan diri. Dan pasti mereka menahan diri karena kehadirannya.
Mark tidak pernah terlihat sebahagia ini dalam seluruh tahap kehidupannya. Baru saat ia menemukan kenyataan ia 'mencintai' Donghyuck, seluruh hidupnya seakan berubah dari abu-abu menjadi penuh warna. Jaemin meyakini hal itu berulang kali. Ia tak menutup mata dan berpura-pura tidak tahu. Jaemin menyadari ada keromantisan yang ingin Mark tunjukkan pada Donghyuck dalam hubungan mereka. Hal yang tidak pernah ia tunjukkan dalam hubungannya bersama Jaemin.
Donghyuck juga demikian. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui bagaimana perasaannya pada Mark. Pianis itu mengatakan sendiri bahwa dia mencintai sahabatnya.
Sementara Jaemin disini, apakah posisinya sekarang?
Jaemin berhenti membuat langkah dengan kakinya.
Mereka berdua saling mencintai, lalu aku ini apa?
Kenapa aku melakukan semua ini sementara aku sendiri tidak yakin, apakah aku mencintainya atau tidak?
"Mark!" sebuah tangan menahan bahu Mark tiba-tiba dalam kerumunan itu. Sontak, ia menoleh bersama Donghyuck.
"Oh! Jeno. Kau disini... bersama Jisung. Hm, mencurigakan."
"Apanya yang mencurigakan hyung? Kami hanya datang bersama kok." Bantah Jisung sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin sahabat 'mamanya' itu salah tangkap. Tidak! Pokoknya tidak!
"Begitulah. Kau sendiri... bersama Donghyuck. Hm, tidak heran."
"Annyeong Jeno."
"Halo juga Donghyuck."
Sapaan basi-basi itu berakhir begitu saja.
"Kami datang dengan Jaem, mana dia?"
Mark tersedak kalimatnya sendiri. Ia mengedarkan pandangan demi menemukan laki-laki mungil itu. Dalam sekejab ia sudah tak terlihat lagi.
"Jaemin? Kau datang bersamanya?" Kepanikan Jeno langsung tersulut. Ia menyadari ketidakhadiran temannya itu diantara mereka.
"Tadi dia, Shit!" Mark segera mengambil ponselnya. Ia mendial nomor Jaemin tanpa pikir panjang. Sialnya, di festival itu tidak ada sinyal. Usahanya sia-sia.
"Hyung kau mengajak Jaemin hyung dan membiarkannya? Yah! Yang benar saja!? Dia itu sedang sakit." Jisung nyaris mencengkram kerah kemeja Mark jika Donghyuck tidak segera menghentikan aksinya.
"Aku tidak tahu kalau dia..."
Mark tidak membuang waktu untuk menerobos kerumunan lagi tanpa mempedulikan teman-temannya yang lain. Jantungnya berdebar cepat. Ia takut terjadi apa-apa pada Jaemin. Sejak awal mereka saling menatap di kamar itu, sebenarnya Mark sudah curiga. Jaemin tidak biasanya sependiam itu, dia tidak biasanya melewatkan event dan memilih untuk berdiam diri di kamar dengan baju kumal begitu. Seharusnya dia lebih peka. Seharusnya dia tidak menawarkannya sesuatu yang malah semakin melukainya.
"Jaemin-ah, kau dimana?"
Kakinya mulai lelah. Semakin banyak orang yang datang karena malam puncak akan segera di mulai. Jika waktu itu tiba saat Mark belum menemukan Jaemin, maka semuanya akan semakin rumit.
Mark telah melakukan segalanya. Ia berputar putar sambil rasanya ingin menangis karena usahanya tak membuahkan hasil. Bersamaan dengan itu, kembang api mulai meluncur ke angkasa. Meledak di udara dengan meninggalkan warna-warni berbagai rupa. Seluruh orang bersorak senang. Festival itu memang seharusnya diisi oleh kegembiraan, bukan kekalutan.
Jaemin menerawang beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ia menatap Mark disana yang tengah melihat objek meledak di langit dengan pandangan memburam. Suara kembang api dan sinar dari benda itu perlahan mengambil kontribusi dalam pengambilan kesadarannya. Ia ingin mendekati Mark dan berlindung di bahunya. Tapi, ia sudah terlanjur lemas.
"Mark hyung..."
Mark mengalihkan pandangan dari kembang api yang sempat membuatnya terkesima. Dia tidak bisa membuang waktunya seperti ini. Saat ia merendahkan pandangan, seseorang yang ia cari tertangkap oleh netranya.
Mereka tidak mengerti kenapa hari ini mereka saling menatap diantara jarak tanpa kata. Mereka tidak mengerti kenapa rasanya sulit sekali hanya untuk menjabarkan perasaan dalam hati mereka untuk satu sama lain. Mengapa hanya dengan menatap seperti ini saja, rasanya sangat membahagiakan.
Mark melangkahkan kakinya lebar dan tergesa saat sorot mata Jaemin berubah. Tubuh namja itu hampir limbung saat Mark tepat menangkapnya.
"Kau menemukanku."
"Karena aku janji tidak akan pergi."
.
Jaemin menyandarkan kepalanya yang pening di bahu Mark. Mereka berhasil menemukan tempat yang sunyi untuk menikmati sisa pertunjukan kembang api dan menenangkan tubuh Jaemin yang tremor. Mark melingkarkan tangannya di perut Jaemin untuk memastikan ia tak terjatuh.
"Mark..."
"Hm?"
"Kenapa kau menyukai Donghyuck?"
"Jangan bicarakan itu."
"Aku ingin tahu. Katakan."
Jaemin mengangkat kepalanya untuk bisa menatap Mark dengan jelas. Ia ingin memastikannya sekali lagi.
"Aku hanya suka padanya. Tidak ada alasan."
Rasanya sedikit sakit mendengar pernyataan itu. Jika Mark bisa menyukai Donghyuck tanpa alasan, kenapa... ah! Tidak.
"Klasik,"
"Tapi, mungkin ada satu yang membuatku benar-benar menyukainya. Perasaannya padaku terlihat jelas. Karena itu, aku percaya padanya."
Itu adalah masalahnya. Jaemin mengerti.
"Mark, ayo kita akhiri hubungan ini."
"Apa yang, Sudah kuduga. Kau-"
"Kalian saling mencintai, itulah alasan kenapa kalian bersama. Donghyuck bilang hubungan kalian dimulai karena hubungan kita renggang saat itu, dia bilang itulah alasan kenapa kalian bisa sampai seperti ini. Tapi, sebenarnya aku tidak melakukan apapun untuk membuat kalian bersatu. Kalian hanya, saling jatuh cinta. Aku... aku..."
Satu persatu air mata meluncur dari ujung mata Jaemin. Ia sendiri tidak tahu kenapa benda itu akhirnya jatuh juga.
"Aku sangat jahat karena memisahkan kalian. Kau sahabatku, Mark. Tapi, aku melukaimu."
"Tidak, Jaem. Aku mengerti. Aku sepenuhnya mengerti kenapa kau seperti ini. Tolong, jangan menangis. Kau lebih melukaiku jika seperti ini." Mark menarik Jaemin ke dalam pelukannya.
Saat itulah Mark mulai menyadari sesuatu. Mereka bukan anak kecil lagi yang bisa saling mengejek dan tertawa bebas tanpa memikirkan bagaimana dunia memandang mereka. Perlahan persahabatan mereka akhirnya telah berubah menjadi seperti ini. Seperti layaknya puzzel. Semakin banyak kekurangan masing-masing yang terlihat, semakin banyak perasaan yang akan tumbuh, karena itu, mereka berusaha untuk saling menutupinya.
Mark sadar dia bukan lagi bocah yang suka memerintah Jaemin seenak hati, dia bukan lagi seseorang yang egois, dia bukan Mark yang suka melihat Jaemin menangis. Sebaliknya, kesadaran untuk melindungi sahabatnya itu muncul. Dia melakukan hal-hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya hanya untuk menjaga perasaan Jaemin. Ia tumbuh dengan baik berkat kehadiran sahabatnya itu.
"Berbahagialah dengannya. Tapi aku harap, kau tidak melupakanku seperti waktu itu. That's hurt so bad."
"Tidak akan. Aku sudah berjanji padamu."
"Jangan! Janji itu, lupakan saja." Jaemin segera menjauhkan tubuhnya dari Mark.
"Kenapa? Jaemin jangan begini."
"Kau akan menyakiti Donghyuck jika kau jaga janji itu. Lagipula, kita tidak mungkin selalu bersama disaat kau percaya pada orang lain."
Jaemin tidak tahu bahwa perkatannya itu menyakiti Mark. Dia tidak tahu betapa berontaknya Mark sekarang di dalam sana. Ia hanya menyampaikannya lewat kepalan tangan yang terlampau kuat, namun Jaemin tak melihatnya.
"Kupikir, kita..."
"Tidak apa-apa Mark. Sungguh, aku tidak ingin mengekangmu."
Aku lebih suka kau kekang Jaemin. Jangan lepaskan aku begitu saja.
"Sudah, kembali ke Donghyuck sana. Kembang apinya sudah selesai. Dia pasti menunggu."
Mark masih tidak bisa percaya. Bahkan setelah tangan Jaemin mendorongnya untuk pergi. Kelegaan yang dia harapkan karena bisa mencintai Donghyuck dengan bebas, tidak dia dapatkan.
"Kita. Ayo pulang."
Jaemin menggeleng. "Nikmati kencan kalian. Aku mau disini dulu."
"Tidak. Kita berangkat bersama, jadi pulang juga harus sama-sama."
"Aniya. Aku sudah cukup berdosa membuat kalian menderita. Sana-sana."
"Jaem!"
"Jaemin."
Suara lain masuk dalam percakapan mereka. Keduanya menoleh dan mendapati Jeno berjalan mendekat. Selayaknya pangeran berkuda putih yang hendak menyelamatkan sang putri dari pangeran jahat.
"Jeno. Ah! Lihat, sudah ada Jeno disini. Kau bisa pergi sekarang."
Jeno terlihat bingung dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Ia hanya berjalan mendekati Jaemin dengan wajah polos. Bahkan saat namja itu meraih tangannya, dia tak tahu harus apa kecuali menurut.
Matanya tidak buta untuk melihat pemandangan itu. Mark menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah aku pergi." Mark mengusak rambut Jaemin untuk mengurangi tekanan di antara mereka. "Antar dia pulang dengan baik."
"Tentu."
Mark pergi. Aku bahkan tidak bisa tersenyum lagi saat melihat mereka berdua.
"Hei, apa ada yang salah?"
Kebingungan masih menggantung di udara sekitar Jeno. Ia menoleh dan mendapati Jaemin menangis tanpa bisa dibendung. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri namun tak berhasil. Napasnya bahkan tersenggal.
Jeno segera meraih kedua tangan Jaemin yang menutupi wajahnya. Takut temannya itu tidak bisa bernapas. Darah Jeno berdesir cepat. Tubuhnya memanas. Kelemahan Jaemin yang sekarang ditunjukkan padanya, membuat kaki Jeno lemas seketika. Ragu, ia menarik Jaemin ke pelukannya. Sedetik kemudian dia menyesal melakukan itu. Dia hanya membuat perasaannya menjadi semakin jelas. Jeno belum siap untuk menghadapi perasaannya sendiri.
"Aku menyesal mengatakannya."
.
Lampu kamar orang tua Jaemin sudah padam. Sudah terlalu larut bagi mereka untuk terjaga, jadi Jaemin memakluminya.
"Kau tidak bisa meninggalkan Jisung diantara Chenle dan Renjun seperti itu. Kasihan." Celetuk Jaemin sambil mengembalikan helm ke Jeno.
"Tidak apa-apa. Mereka pasti sedang bersenang-senang."
Tidak seperti biasanya, Jeno ikut turun dari motor. Ia mengantar Jaemin sampi pintu pagar.
"Terima kasih tumpangannya. Dan, bahunya."
"Iya, cukup basah. Terima kasih kembali."
Hening cukup lama. Jaemin seperti tidak ada niatan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Jaemin,"
"Ya?"
"Aku punya ide yang mungkin bisa sedikit... membantumu."
Jaemin mengerutkan dahinya. Bingung.
"Apa?"
"Kita, eum... menjalin hubungan."
"What!?"
"Maksudku, kupikir dengan begitu kau tidak akan kesepian karena Mark punya Donghyuck. Dan maksudku kita bisa membuat Mark ummm, cemburu? Oh! Bukan kata yang tepat. Apa ya?"
"Sepertinya aku mengerti. Statusku denganmu akan membuatnya lebih leluasa untuk berkencan dengan Donghyuck, lalu dia senang. Luar biasa! Aku setuju."
Bukannya itu malah menyakitimu?
"Oke, mulai sekarang kita mulai. Kau pacarku, dan aku pacarmu."
"Tapi tanpa perasaan kan?"
Jeno termangu. Tanpa perasaan...
"Terserah kau saja."
.
.
"JAEMIN!"
Pagi yang cerah itu dirusak dengan suara tak mengenakkan. Pelakunya siapa lagi kalau bukan putra tunggal keluarga Lee. Dia menatap jam tangannya gusar.
"JAEMIN KITA TERLAMBAT BODOH!"
"Haish! Kau benar-benar tidak sabaran."
Orang yang dipanggil Mark akhirnya keluar dari rumahnya. Ia belum menggunakan sepatunya dengan benar.
"Cepat-cepat!"
"Iya ini sudah. Dasar, kalau mau cepat, ganti nih sepeda pakai motor."
"Ya! Tidak sopan. Sepeda ini mengantarmu ke sekolah lebih dari empat tahun tahu!"
"Yayaya... terserah." Jaemin segera naik ke atas boncengan. "Jalan!"
Seperti itulah kebiasaan berisik mereka setiap pagi. Akhirnya kembali mengganggu seluruh tetangga setelah beberapa saat berhenti.
Jalan ramai seperti biasanya. Bising, penuh polusi. Hanya segelintir orang yang peduli pada lingkungan. Salah satunya Mark yang rela menggunakan sepeda ke kesekolah untuk mengurangi polusi udara. Sebenarnya hanya alibi sih karena dia belum bisa naik motor sampai sekarang.
"Hei, Mark. Kau tahu tidak?" tanya Jaemin sambil menundukkan tubuhnya agar Mark bisa mendengar dengan jelas di keramaian jalan.
"Wae?"
"Saranghae."
Hening...
"Apa? Aku tidak dengar."
"Pabbo."
"Kenapa tiba-tiba mengataiku!? Dasar babi."
"Kenapa kau mengataiku babi? Yang babi itu sepupumu!"
"Tapi sepupuku bilang kau adiknya jadi kau juga babi."
"Arght! Terserah!"
Perjalanan mereka masih panjang. Ke sekolah, maupun ke tempat yang sebenarnya mereka tuju. Yang pasti adalah, perjalanan itu penuh kejutan. Dan mereka siap menghadapi kejutan-kejutan hidup itu. Bersama.
Mark tersenyum. Dia mendengarnya.
.
.
END
.
A/N telolet! Akhirnya END. What!? END kaya gini? Jadi gak sesuai sama ekspektasi? Hahaha... maaf, sepertinya author terlalu ingin buatnya jadi rasional. Eh, malah tambah bikin gayeng. Yasud lah. Terima aja ya temen-temen. Maaf kalo abis ini bakal banyak golok yang melayang. Jangan bunuh aku dulu. Kalau kalian bunuh aku sekarang, gak bisa baca sequelnya. Eh...
Maaf karena updetnya kaya karet. Molor-molor. Duh, aku tuh kena WB parah. Separah parahnya.
Gak usah bacot lah ya. Kasian reader bacanya.
Makasih untuk semua yang udah dukung FF ini. FF yang kubuat dengan sedemikian rupa... elah...
Terima kasih untuk Review, untuk Fav, Untuk Follow. Semua yang baca tapi gak ninggalin jejak. Gak papa. Makasiiiih.
Hope You Like It^^
