Disclaimer:

Naruto : Masashi Kishimoto

Date A Live: Koshi Tachibana

.

.

.

Genre: supranatural/fantasy/action/romance/mystery

Rating: T

Setting: AU (Alternate Universe)

.

.

.

Legend Of The Mystic Pyramid

By Hikasya

.

.

.

Chapter 4. Hari pertama di sekolah baru

.

.

.

Keesokan harinya, Origami bersiap-siap untuk pergi ke sekolah yang baru. Ia sudah bangun lebih awal yakni sekitar jam 4 shubuh, karena biasanya ia akan lari pagi selama satu jam untuk meningkatkan stamina tubuhnya agar menjadi lebih kuat. Hal itu menjadi kebiasaannya sejak kecil atas ajaran ayahnya yang juga seorang Cenayang.

Setelah dipastikan beres, Origami yang sudah berpakaian khas Konoha International High School, buru-buru keluar dari kamar Naruto sembari menyandang tas putih di punggung. Kebetulan ia berpapasan dengan Naruto di lorong di lantai dua, antara dua kamar yang saling berhadapan - kamar yang satunya masih dalam tahap renovasi.

Mereka saling memandang ketika lewat dari arah yang berlawanan. Tatapan Naruto sangat tajam, sedangkan tatapan Origami sangat datar.

"Selamat pagi, Naruto!" sapa Origami.

"Huh!" balas Naruto yang langsung membuang muka. Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil seragam sekolahnya karena baru saja mandi di kamar mandi yang ada di bawah. Berpakaian piyama serba berwarna orange dengan handuk yang menggantung di lehernya.

Origami hanya diam saja sembari memandang kepergian Naruto hingga Naruto masuk ke kamar. Lalu Origami berjalan lagi menuju ke lantai satu.

Begitu Origami sudah tiba di lantai satu, ia disambut dengan senyuman Kushina.

"Selamat pagi, Origami!"

"Selamat pagi, Bibi!"

"Ayo, sarapan dulu bersama kami!"

"Baik."

Origami mengangguk cepat. Tangannya ditarik Kushina hingga ia terseret menuju dapur. Di mana Minato menunggu mereka untuk sarapan bersama.

Saat ini, waktu menunjukkan pukul 06.20 pagi. Origami duduk berhadapan dengan Minato dan Kushina. Ia meletakkan tasnya di kursi kosong yang berada di samping kursi yang didudukinya. Di depan matanya, makanan menggugah selera dan minuman yang menyegarkan, membuatnya tidak tahan untuk mengambilnya.

"Selamat pagi, Origami. Hari yang sangat indah untuk masuk sekolah di sekolah yang baru ya?" Minato tersenyum seraya memegang secangkir teh hangat.

"Selamat pagi, Paman. Hn, itu benar," Origami juga tersenyum tapi senyuman yang simpul.

"Ayo, silakan makan dulu!" Kushina turut tersenyum dalam suasana hangat ini.

"Tapi, apa sebaiknya kita menunggu Naruto, Kushina?"

"Naruto, dia..."

Belum sempat, Kushina melanjutkan kata-katanya, muncul suara yang memotongnya.

"Aku tidak perlu ditunggu," ternyata Naruto yang tiba-tiba muncul di samping kursi yang diduduki Origami. "Aku pergi dulu. Dah!"

Naruto menyambar cepat sepotong roti bakar yang diambil Origami lalu disumbat di mulutnya, kemudian ia buru-buru melangkah menuju ke luar rumah.

"Naruto, tunggu!"

Suara Kushina mencegahnya pergi. Naruto menoleh dengan malas sambil mengeluarkan roti bakar yang sudah dimakannya separuh.

"Kenapa lagi, Bu?"

"Kamu harus pergi ke sekolah bersama Origami."

"Aku tidak bisa. Buru-buru nih. Ayah saja yang mengantarkan Origami."

"Ayahmu harus cepat pergi ke kantor pagi ini. Dia tidak bisa mengantar Origami, tahu! Pokoknya kamu harus pergi dengan Origami! Kamu tidak boleh membantah!"

Dalam sekejap mata, dapur itu dipenuhi aura kemarahan Kushina yang menakutkan. Ditambah rambut Kushina yang berkibar-kibar seperti bendera dengan wajah marah yang mengerikan seperti monster.

Naruto yang panik setengah mati, menghelakan napas pasrah. "Ya sudah. Aku akan pergi dengan Origami."

Saat itu juga, Kushina tersenyum dengan wajah yang berseri-seri. "Nah, begitu dong."

"Ya," Naruto melirik Origami dengan sewot. "Hei, kamu yang berambut putih! Ayo, cepat jalan!"

"Baiklah."

"Origami, baik-baik ya dengan Naruto. Pegangan yang kuat pada Naruto agar kamu tidak jatuh dari sepeda."

"Iya, Bibi."

Origami yang juga merasa kesal karena harus disuruh pergi sekolah dengan Naruto, terpaksa mengikuti apa yang diminta Kushina. Ia menyambar cepat tas yang terletak di kursi yang berada di sampingnya, lalu tergesa-gesa mengejar Naruto yang tega meninggalkannya duluan.

"Paman, Bibi, kami pergi dulu ya!" seru Origami ketika keluar dari dapur.

"Iya, selamat belajar!" ucap Minato dan Kushina bersamaan. Mereka tersenyum senang.

Sementara itu, di luar rumah, Naruto baru saja mengeluarkan sepeda dari garasi. Origami menunggunya di dekat pintu pagar.

"Ayo, naik!" pinta Naruto usai menghentikan sepeda yang dinaikinya di dekat Origami. "Kalau bukan Ibuku yang menyuruhku untuk pergi bersamamu, tentunya aku sudah pergi sendiri sekarang."

Origami berwajah datar. "Berarti kamu takut pada Ibumu."

"Tidak juga."

"Lantas?"

"Jangan banyak bicara lagi. Apa kamu mau naik apa tidak, hah? Kalau tidak, aku pergi duluan dan silahkan kamu pergi sendiri ke sekolah dengan berjalan kaki!"

"Aku naik."

Origami langsung duduk di belakang Naruto. Laki-laki berambut pirang itu terkejut tatkala Origami memeluk pinggangnya dari belakang. Tapi, karena keadaan yang memaksa, ia mengurungkan niatnya untuk tidak memarahi Origami. Tanpa membuat masalah lagi, ia langsung mengayunkan sepedanya dengan kecepatan tinggi.

Bagaikan pembalap sepeda profesional, Naruto mengebut di jalanan sepi yang belum tersentuh oleh siapapun. Ia berharap bisa menakuti Origami agar Origami berteriak panik dan memintanya turun dari sepeda lalu Origami memilih pergi sendiri.

Namun, kenyataan yang sebaliknya, Origami terlihat tenang saja. Justru Origami semakin memeluk pinggangnya dengan erat. Naruto heran mengapa Origami tidak seperti gadis lain yang biasanya takut jika laki-laki mengebutkan sepeda ataupun motor seliar ini. Ia berpikir Origami menahan ketakutan itu agar tetap bersamanya hingga tiba di sekolah.

Tak lama kemudian, mereka tiba juga di sekolah yang bernama Konoha International High School itu. Sebuah sekolah elit yang dihuni sebagian besar manusia dan yokai.

Begitu sepeda yang dinaiki Naruto bersama Origami, masuk ke tempat parkiran khusus sepeda, aura yokai yang kuat, dirasakan oleh Origami sehingga membuat Origami jatuh dari sepeda karena tidak kuat menahan efek aura yokai yang terlampau besar itu, saat bersama Naruto yang baru saja menghentikan sepeda.

GREP!

Untung saja, tubuh Origami yang tumbang ke belakang akibat gelombang aura yokai yang kuat itu, ditahan oleh seseorang dari belakang. Dua tangan kekar seseorang itu memegang dua bahu Origami sehingga Origami selamat dari acara jatuh.

Naruto menoleh karena terkesiap mengapa Origami jatuh tadi. Ia sedikit khawatir dengan keadaan Origami, namun ia pun merasa kesal ketika tahu siapa yang menahan Origami agar Origami tidak jatuh ke tanah.

"Ah, terima kasih," sahut Origami yang melepaskan diri dari seorang laki-laki.

"Hn," ujar laki-laki berambut hitam dengan mata hitam sekelam malam.

"Uchiha ... Sasuke," desis Naruto dengan sorot mata yang sangat tajam.

Baik Naruto maupun Sasuke, saling memandang dengan tajam. Seakan terjadi aliran listrik permusuhan di antara mereka.

Origami yang berdiri di tengah mereka, terdiam memandang wajah mereka secara bergantian. Hingga muncul seorang gadis berambut hitam datang menghampiri mereka bertiga.

"Selamat pagi, Naruto, Sasuke! Lalu dia..."

Gadis berambut hitam itu, menghentikan langkahnya ketika memandang Origami. Gadis berambut putih itu juga memandangnya dengan datar.

"Dia, Tobiichi Origami. Orang yang menumpang tinggal di rumahku. Dia anak baru yang akan masuk ke kelas kita, Kurumi."

Tokisaki Kurumi, nama gadis berambut hitam yang diikat dua di bawahnya, tersenyum manis sembari mengulurkan tangan pada Origami. Gadis bermata biru itu menyambut uluran tangan Kurumi.

"Aku Tokisaki Kurumi, sahabatnya Naruto. Kamu bisa memanggilku Kurumi. Salam kenal ya."

"Aku Tobiichi Origami. Salam kenal juga."

"Senang bisa berjumpa dengan teman baru sepertimu."

"Aku juga."

"Kuharap kita bisa berteman."

"Mungkin saja."

"Kenapa kamu bilang mungkin saja?"

"Tidak ada."

Origami melepaskan tangannya dari tangan Kurumi. Ia menatap wajah Origami dengan tajam. Lama sekali sehingga membuat Naruto, Sasuke, dan Kurumi heran.

"Ada apa, Origami?" tanya Kurumi yang masih tersenyum.

"Hm, bisakah kamu mengantarkanku sampai ke kelas, Kurumi?" jawab Origami yang balik bertanya.

"Oh, tentu. Kita sekelas ya."

"Hn."

"Mari, ikut aku!"

Kurumi langsung menggandeng tangan Origami. Gadis berambut putih panjang yang dibiarkan tergerai itu, mengangguk patuh. Ia mengikuti langkah Kurumi untuk menyusuri halaman luas sekolah yang menyerupai istana itu.

Naruto dan Sasuke yang memandang kepergian mereka, memilih diam untuk beberapa menit. Lalu mata kelam itu tertuju pada sosok di sampingnya.

"Hei, Dobe."

"Ada apa, huh?"

Naruto meliriknya dengan tajam. Sasuke memasukkan dua tangannya ke saku celananya.

"Dia manis juga ya?"

"Siapa yang kamu maksud?"

"Origami itu."

"Lalu, apa maumu?"

"Tidak ada."

Usai mengatakan itu, Sasuke langsung pergi. Naruto pun berseru padanya.

"Dasar, kamu sama saja dengan Origami, Teme!"

"Berisik, Dobe!"

Mereka berdebat sengit. Orang-orang yang berdatangan ke sekolah itu, ternganga melihat mereka.

Tapi, di balik semua itu, ada seseorang yang mengintai Origami. Ia berdiri di antara keramaian yang memadati halaman depan sekolah tersebut. Berpakaian seragam khas yang sama dengan murid-murid lainnya.

Siapakah seseorang misterius itu?

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Update kilat lagi.

Terima kasih.

Minggu, 3 Februari 2019