LOVER
.
.
Park Chanyeol & Kim Kai
And others
GS
.
.
Chapter 3: You are My Everything.
.
.
Italic: Inggris. Bold: Spanyol
Kai berjalan tersenyum kecil menatapi lonceng ini seperti lonceng gereja. Tangannya sudah terangkat dan membunyikan lonceng tepat setelah itu pintu terbuka.
Ia tersenyum senang akhirnya mereka bisa masuk. Pintu rumah sakit terbuka, menampilkan lima orang pria berjubah dokter. Dua orang membuka pintu, berjalan lebih dulu. Mereka berwajah asia sama seperti ketiga laki-laki yang dibukakan pintu. Dua dari tiga laki-laki itu berjalan di depan sedangkan pria terakhir berjalan sedikit di belakang. Kai menajamkan penglihatannya, memperhatikan lebih seksama seseorang yang berjalan di belakang dua pemuda itu.
"Malto… andwae…" gumam Kai merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seseorang yang menghilang begitu saja selama 6 bulan, seseorang yang seperti ia kenal lama, seseorang yang membuatnya nyaman, seseorang yang membuatnya merasakan hal yang dulu sempat ia rasakan. Seseorang itu sekarang berjalan di depan, menampilkan wajah datar, mata menatap lurus ke depan, terkesan dingin dan tajam. Dia benar-benar Park Chanyeol.
Tao juga sama terkejutnya. Melihat seorang dokter yang sangat ia kenal, mantan kekasihnya. Entahlah hubungan mereka sangat tidak jelas. Kris. Ada di hadapannya, tidak menampilkan ekspresi apapun melihat dirinya, entah dia melihat Tao atau tidak.
Chanyeol berjalan semakin di depan, mendekat ke arah Kai. Meskipun pandangannya ke depan ia menatap wajah Kai, wajah yang selalu ia rindukan selama ini tapi berusaha ia sembunyikan. Ia tidak ingin rasa rindu itu membuatnya kehilangan Kai ia tidak ingin itu. Jadi, ia memutuskan hanya melewati Kai seperti semilir angin. Kai terkejut, pandangannya tidak percaya. Apa Chanyeol tidak mengingatnya sama sekali? Ia membalikkan tubuhnya, menatap Chanyeol terkejut dan tidak percaya.
Baekhyun menyenggol Taehyung, berbisik tentang Chanyeol dan tingkah Kai seperti kecewa dengan sikap Chanyeol seperti itu, "Itu pasien yang pernah di obati Kim sonsaeng, kan?"
Taehyung mengangguk menatap Kai bingung dan terkejut dengan ekspresi Kai seperti itu. Sedangkan Tao menatap tajam Kris, antara tidak percaya dan sedikit senang akhirnya ia bisa bertemu dengan Kris ditempat sedingin ini.
Chanyeol menatap satu persatu orang di hadapannya, termasuk Sehun. Ngomong-ngomong soal Sehun, ia terlihat kesal dan menatap Kai menyelidik. Kalau mereka baru bertemu kenapa Kai bisa bertingkah seperti itu atau Kai sudah mengingat Chanyeol tapi itu tidak mungkin kalau Kai ingat pasti reaksi Kai tidak seperti itu.
"Selamat datang di La Rinconado Hospital, selain presdir dari rumah sakit IlHo aku juga menjabat sebagai presdir sekaligus dokter di rumah sakit ini, Park Chanyeol imnida, bangeupsmida."
"Annyeonghaseyo!"
Chanyeol masih tetap dengan wajah datarnya, terkesan dingin, tidak bersahabat pada siapapun. Ia kembali menatap seluruh orang di hadapannya, "Dimana ketua tim kalian?" tanya Chanyeol. Kai kembali berjalan ke tempatnya tadi membalas wajah datar Chanyeol dengan wajah super dingin dan mendung seperti bicara dengan Seungri.
"Aku."
Kai menjulurkan tangannya mengajak Chanyeol bersalaman, "Joneun Kim Kai imnida, IlHo team isajang. Bangowsmnida." Chanyeol membalas jabatan tangan Kai ragu-ragu. Memang tidak terlihat kalau ia ragu-ragu tapi Kai tahu. Ia tahu seakan-akan ia sudah mengenal Chanyeol lama padahal belum. Kontak mata itu kembali terjadi, kali ini Chanyeol benar-benar menunjukkan pagar pembatas tersebut. Pagar pembatas yang sangat tinggi dan lebar seakan-akan pagar tersebut menghalangi Kai masuk.
"Park Chanyeol imnida."
Kai melepas jabat tangan lebih dulu, kembali ke rombongannya berusaha tidak menatap Chanyeol meskipun itu hal mustahil karena Chanyeol ada di hadapannya bersama dirinya untuk 2 minggu ke depan mana mungkin ia tidak menatap Chanyeol.
"Selama di sini kalian akan tinggal di asrama bersama pegawai rumah sakit yang lain. Wakil ketua rombongan IlHo segera bertemu dengan saya untuk membahas daftar piket kalian, sementara Park sonsaeng akan menjelaskan denah gedung rumah sakit La Rinconado, setelah itu kalian beristirahat."
"Nde!"
Tao maju selangkah, menjulurkan tangan mengajak berjabat tangan dengan Kris meskipun dibalas cukup lama. "Huang ZiTao imnida, bangowsmnida." Ucap Tao memperkenalkan dirinya meskipun Tao sudah mengenal luar dalamnya. "Anda yang memilih tempat diskusi kita."
Kris tetap diam berjalan pergi ke sebuah bangunan besar di samping rumah sakit, itu asrama tempat mereka tinggal nanti. Tao mengikutinya dengan pandangan tajam dan sarat akan misteri bagi rombongan relawan IlHo.
"Dokter yang barusan pergi tadi adalah Dokter Kris. 3 pria ini adalah dokter juga. Pria berrambut hitam cepak itu Kim NamJoon, pria berrambut abu-abu di samping NamJoon-ssi adalah Min Yoongi, dan pria di belakangku ini Jung HoSeok."
Baekhyun menahan pekikan fangirl nya menyadari ketampanan 3 dokter di sini, setidaknya ia tidak harus melihat salju atau darah terus menerus. Pria yang sangat tampan, bahkan bukan hanya dia saja yang menahan pekikan kagum Kyuhyun dan rombongan wanita tersenyum senang melihat wajah-wajah dokter di sini.
"Ini pertama kalinya kalian kemari, saya akan menunjukkan denah rumah sakit ini."
Kai berjalan sedikit di belakang tidak ingin berdekatan dengan Chanyeol yang nampak acuh tak acuh padanya. Ia mendengarkan semuanya meskipun sedikit sulit karena pikirannya sekarang bercabang-cabang memikirkan kisah hidupnya sendiri mengapa begitu sulit.
.
.
.
Tao menatap tidak percaya Kris masih bersikap biasa-biasa saja pada dirinya. Malah dia lebih asik pada papan daftar rombongan IlHo dan mengatur jadwal piket meskipun jarang ada yang datang untuk berobat ke rumah sakit ini. Setelah selesai Kris menyerahkan daftar itu, "Beritahu, kan pada anggota rombongan relawanmu."
Kris terpaku menatapi wajah tajam kekasihnya ini. ya kekasih Kris masih mengganggapnya kekasih begitu juga Tao tapi berbeda dengan keluarga Huang. Ia sudah lama tidak menatapi wajah Tao sedekat ini sejak 6 bulan lalu bahkan lebih. Ia selalu merindukan gadis bermata panda ini, setiap saat.
"Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau bekerja di rumah sakit ini selama bertahun-tahun?" tanya Tao pelan, mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam tasnya, kembali menatapi Kris yang masih saja dengan pandangan datar tanpa ekspresi.
"Aku tidak ingin kau menyusulku kemari."
"Kenapa kau tidak ingin aku kemari?"
"Karena hubungan kita sudah berakhir." Tao berdecih menahan emosinya yang siap meledak mendengar jawaban Kris selalu saja sama setiap ia bertanya kenapa Kris selalu menghindari. Jawaban itu selalu sama dan benar-benar membuat Tao stress sendiri.
"Siapa yang mengatakannya? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Wae ire?" tanya Tao nyaris seperti memohon meminta kepastian Kris. Pria berdarah campuran ini ikut menghela nafas, "Aku yang mengatakannya karena hatiku sudah berubah."
"Aku benar-benar akan membunuhmu, Wu YiFan!"
Kris tetap diam mendengar umpatan frustasi Tao, mata panda itu sudah memerah dan dari sudut matanya mengalir air mata. Ia tidak bisa lagi menatapi wajah Tao yang seperti itu. Ia bangun dari duduknya, melangkah pergi. Sekali lagi Wu YiFan lari seperti pengecut, bagi Tao. Sekali lagi Tao diperlakukan seperti ini anehnya ia malah semakin mencintai pria itu dan tidak ingin kehilangan Kris. Tangisnya semakin menjadi mengingat semua kenangan mereka…
3 tahun lalu…
Tao membuka matanya menatapi sekitar yang sangat ia kenal, kamar kekasihnya sejak beberapa bulan lalu. Ia menoleh ke samping tidak menemukan siapapun kecuali satu buket bunga mawar merah dan sebuah note di buket bunga itu. Morning baby panda datang ke dapur setelah bangun.
Tao beranjak bangun keluar membawa buket bunga ini dengan senyum lebar, menghampiri Kris yang sedang berdiri membelakanginya seperti sedang menyiapkan sesuatu di meja makan. Tanpa persetujuan pemiliknya Tao memeluk tubuh tegap dan tinggi Kris.
"Morning to, gege~"
Kris tersenyum mengelus tangan halus Tao yang ada di perutnya, melirik buket bunga mawar yang ia sengaja beli tadi pagi khusus untuk Tao. "Gege buat sarapan apa? Baunya harum." Puji Tao menatapi waffle buatan Kris yang dihiasi oleh beberapa buah segar. Kris tersenyum mendengar pujian dari Tao secepat kilat ia mengecup telapak tangan Tao.
"Xiexie, gege. Aku suka kau romantis seperti ini." Kris semakin tersenyum membalik tubuhnya agar berhadapan dengan Tao, memeluk pinggang ramping kekasihnya.
"Aku bisa romantis setiap hari asalkan kau tetap di sini," ucap Kris menunjuk dadanya sendiri lalu menunjuk dada Tao, "dan aku tetap di sini." Tao mengangguk imut kembali memeluk Kris sangat erat, seolah-olah takut kehilangan kekasihnya ini dan tidak berniat melepaskannya pada siapapun.
"Love you~" ucap Tao tulus di balik dada bidang Kris. Lagi, Kris memperlakukan dirinya begitu romantic mengecup puncak kepalanya sambil membalas ucapan cintanya, "Love you to, baby panda."
…
"Aku punya sesuatu untukmu."
Tao tersenyum sambil menutup matanya menunggu hadiah apa yang akan diberikan Kris padanya. Saat membuka matanya ia diperlihatkan sebuah gantungan berbentu panda dengan ekdpresi wajah yang bisa di ganti. Senyumnya semakin lebar melihat Kris juga memiliki benda yang sama dan menggantung di ransel Kris.
"Kyeopta~" puji Tao menekan tombol di gantungan panda ini, mengganti raut wajahnya yang semula tersenyum menjadi tersipu malu lalu menunjukannya pada Kris. Mereka kembali tertawa lebar sama sekali tidak peduli dengan para pengunjung café yang sedikit iri dengan pasangan di dekat jendela itu. Pasangan yang sangat serasi tapi sekarang tidak memiliki kejelasan hubungan sekarang.
.
.
La Rinconado, Distrik Ananea, Provinsi San Antonio de Putina, Peru, 2016.
Kai menyusun pakaiannya ke lemari di kamar asramanya ini tidak bersemangat. Entah kemana rasa semangatnya mengingat Chanyeol ada di sini. Pria yang sama membuatnya merasakan sengatan aneh yang berbeda dengan pria lain, mendaratkan bokongnya di atas kasur mencoba menghubungi Luhan meskipun sedikit sulit karena jaringan di sini tidak seperti di Korea. Ia memutuskan untuk keluar, dengan pakaian super tebal dan sepatu boat cokelat, mencoba menghubungi Luhan dan akhirnya tersambung.
"Bagaimana Sehun? Apa dia kedinginan di sana?"
Kai berdecih mendengar nama yang terucap adalah Oh Sehun bukan nama Kai, "Sehun baik-baik saja, ia lebih sering di dalam dekat perapian atau penghangat ruangan." Jawab Kai membuat rasa khawatir Luhan sedikit berkurang dan bisa bernafas lega.
"Bagaimana kota dengan salju abadi?"
"Dingin. Lulu kau tahu aku bertemu seseorang yang menghilangkan ganjalan itu dan pria itu adalah Park sajangnim. Apa kami berjodoh, Lulu?" tanya Kai mendudukan dirinya di sebuah bangku panjang yang terbuat dari batu, menatap sekeliling lebih tepatnya anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran dan lempar bola.
"Park Chanyeol isajang?"
"Nde, suasana di antara kami sangat kaku. Seharusnya senang, kan?" tanya Kai tapi yang terdengar marah suara berisik seperti semut.
"Yeoboseyo? Lulu?" Kai menjauhkan ponselnya mengcek apakah telfonnya masih tersambung atau tidak. "Lulu? Apa kau bisa mendengarku?"
Telfon mereka terputus, Kai mendesah pasrah meskipun di luar sinyal di sini tetap lemah. Helaan nafas keluar, ia kembali fokus menatapi anak-anak yang bermain tadi. Ada yang bermain kejar-kejaran, petak umpet, perosotan, ayunan dan trampoline. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Seorang anak kecil nampak sedang menengadahkan gelas plastic di bawah pipa usang, mengalirkan air yang berwarna tidak bening.
"Hei!"
Kai menghampiri mereka yang nampak asing dengan wajah Kai. Ia merebut gelas plastic itu, menaruhnya di tanah dan memberi sebotol air mineral, "Igo, jangan minum itu." ucap Kai menirukan gaya orang minum, tanda silang dan pipa usang ini. Anak laki-laki di hadapannya ini mengerucutkan bibirnya tidak mengerti dan tidak peduli, Kai tersenyum kecil membuka botol air mineral tadi dan membantu anak kecil ini minum.
"Hei!"
Kai terkejut melihat seorang wanita paruh baya datang, menarik anak laki-laki tersebut menjauhi Kai. terkejut menerima balasan kasar dari ibu anak laki-laki ini, apa mereka takut Kai memberi racun di air mineral tadi? Ia memang pernah mendengar kabar kalau sanitasi dan ledeng tidak tersedia di kota ini maka dari itu IlHo membangun pengaliran air di sini.
"Apa yang kau beri pada anakku wanita Asia?"
Kai sedikit menatap aneh pada wanita bersurai putih dan bermata biru ini, seolah-olah takut pada Kai, takut kalau Kai mencelakai anaknya padahal Kai berniat baik pada anak laki-laki tersebut. Ia berusaha tersenyum meskipun sedikit susah karena jujur ia tidak suka orang menatap dirinya setajam itu.
"Aku hanya memberi air saja karena aku lihat anakmu meminum air langsung dari pipa ini bahkan air nya tidak berwarna bening lagi."
"Shut up! Kau hanya wanita Asia yang benar-benar membuat tersiksa seperti ini."
"Nyonya, aku hanya memberinya air karena air itu…"
"Aku tidak mau mendengar perkataan orang Asia sepertimu!" Kai hampir saja mengumpati wanita paruh baya ini jika saja Chanyeol tidak datang melerai perdebatan wanita ini yang sepertinya seorang rasis. Ketara sekali orang seperti itu orang rasis, dilihat dari tatapan tajamnya pada Kai termasuk Chanyeol.
"Dia dokter baru di sini aku akan memberitahu dia untuk tidak mencampurimu dan anak-anak di sini." Wanita itu berdecih lantas pergi bersama anak itu yang nampak ingin menangis karena ditarik sangat kuat oleh wanita itu. Kai meringis, ia ingin sekali menolong anak itu walaupun sepertinya sulit karena wanita rasis seperti itu pasti kasar.
"Jangan campuri wanita itu lagi. Dia pindahan dari Britania Raya, dia seorang rasis yang sangat anti terhadap orang Asia. Hati-hati, di sini bukan Korea tapi kota tertinggi di Peru."
Kai memasukkan tangannya di saku mantelnya, menatap Chanyeol sekali lagi memastikan kalau pagar pembatas itu sudah hilang tapi Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Kai. "Apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Kai otomatis membuat kontak mata itu tercipta lagi. Memberanikan diri berdiri lebih dekat di hadapan Chanyeol, mengamati dengan seksama pria di hadapannya ini, mencari jawaban lewat kedua iris cokelat gelap tersebut. Tidak ada apa-apa.
"Aku uisa sekaligus isajang rumah sakit tempatmu bekerja dan rumah sakit tempatmu menjadi relawan, sudah kewajibanku mengkhawatirkan karyawan seperti mu."
"Jinjja?"
Chanyeol memberanikan diri menatap Kai, menjaga pagar pembatas di matanya ini tetap bertahan. Menjaga agar Kai tidak mengenalinya lebih jauh, tapi kekeras kepala Kai masih tetap sama seperti dulu. Wanita ini semakin menatap Chanyeol intens.
"Jinjja, sekarang aku yang bertanya jika aku diperlakukan seperti itu pasti kau membelaku karena aku adalah isajang."
"Kalau kau di posisiku tadi aku membelamu bukan karena kau isajang tapi karena kau Park Chanyeol." sanggah Kai cepat, mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya menghasilkan uap cukup tebal dari hidungnya. Deru nafas yang masih sangat Chanyeol hafal dan rindukan setiap detik. Ia mencoba menepik semua itu meskipun sangat sulit karena ia selalu merindukan Kai dan Kai adalah segala-galanya bagi Chanyeol.
"Apa kau benar-benar membelaku karena aku karyawanmu bukan Kai? Apa kau benar-benar pria besenjata seperti yang kau ucapkan 6 bulan lalu? Aku ingin kepastian." Pinta Kai memelas, meruntuhkan pertahanannya untuk mendapat kepastian dari seorang Park Chanyeol. Menatap dalam kedua iris itu lagi, mencoba meruntuhkan pagar pembatas di kedua mata Chanyeol.
"Jawab aku, Park sonsaeng."
Chanyeol mengalah, ia memberikan jalan untuk Kai. Ia membuka pagar pembatas di matanya agar Kai tahu bahwa ia serius. Ia tidak berbohong kalau ia membela Kai karena karyawan bukan karena seorang Kim Kai. Ia maju selangkah memberi jarak sedekat mungkin untuk Kai agar mengetahui kalau ia serius.
"Nde, aku membelamu karena kau karyawan di rumah sakitku dan relawan di rumah sakitku dan soal aku pria bersenjata, itu benar. Jadi, keputusan ada di tanganmu."
Kai tersenyum miris mendengar jawaban Chanyeol yang sangat tepat membuat lubang di hatinya semakin lebar dan dalam. Menganggukkan kepalanya paham, menatap Chanyeol dengan pagar pembatas sama seperti Chanyeol. Fungsinya sama seperti pagar milik Chanyeol agar Chanyeol tidak bisa masuk ke dalam matanya, ke dalam hidupnya lagi meskipun hal yang mustahil tapi ia harus coba.
"Arraseyo. Sekarang aku benar-benar mengerti dan akan pergi meninggalkanmu."
Kai berbalik ke gedung asrama, berjalan dengan langkah berat sama seperti malam itu. Meninggalkan Chanyeol dengan luka yang amat dalam dan lebar, sekali lagi mereka berdua membuat lubang di hati mereka kembali membesar. Sekali lagi, tidak ada niatan untuk membuat lubang itu semakin lebar dan dalam tidak ada sama sekali. Tapi, keadaan membuat mereka terpaksa melakukan semua ini dan entah kapan lubang ini tertutup.
.
.
.
Untuk menyambut kedatangan rombongan relawan IlHo mereka membuat pesta kecil-kecilan dengan minum-minum dan makan-makanan berlemak. Mereka semua tersenyum kecuali ketua dan wakil mereka masing-masing. Padahal ada banyak makanan lezat di meja panjang buatan perawat Kim SeokJin.
"Aku keluar dulu." Ucap Tao tiba-tiba keluar begitu saja sambil menggunakan mantel tebalnya. Kris yang sejak tadi tidak berminta berpesta memlilih mengikuti Tao keluar. Chanyeol berdecih kembali meminum sojunya tidak berniat ikut campur dalam urusan percintaan seorang Kris Wu.
…
Ia menyukai minum tapi kali ini moodnya sedang tidak berjalan lancar jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan menuju tempat pembangunan pengaliran air bersih milik IlHo dan perumahan. Melewati pagar pembatas dan memilih berjalan di area yang cukup sepi dari pekerja bangunan. Tangannya menyatu, menggosok untuk mencari sedikit kehangatan, jujur suhu hari ini lumayan dingin meskipun ia sudah memakai mantel tebal. Langit malam ini cukup indah dengan bintang-bintang yang bersinar terang.
"Yeppeo~" Tao melipat tangannya di dada mencari kehangatan dari tubuhnya. Ia terlalu sibuk, tidak menyadari sebuah pipa besar dari bangunan di atasnya hampir menimpa tubuh kurusnya jika saja seseorang tidak mendorongnya ke samping.
"Kya!"
Nafas Tao terengah-engah, menatapi sekitar dan ternyata ia masih selamat. Kepalanya terangkat melihat siapa yang menyelamatkannya dari bahaya besar ini. Matanya membulat, antara tidak percaya dan senang karena Kris datang menolongnya. Kris menatap Tao, membantunya berdiri, memutari tubuh Tao mencari cedera di tubuh rapuh ini.
"Miccheosseo? Apa kau tahu warga sipil dilarang masuk ke area ini? Kau memang tidak bisa bahasa Spanyol tapi di sana ada tulisan bahasa inggirs, apa kau tidak membacanya?"
Tao terpaku mendapat kemarahan Kris karena kecerobohannya sendiri. Senyum kecil tercetak di bibirnya, melihat Kris perhatian pada dirinya seperti ini. Nafas terengah-engah mereka mulai stabil, akal sehat mereka sudah terkumpul. Mata mereka benar-benar bertemu bukan dengan tatapan tajam, melainkan menelisik satu sama lain.
"Apa kau khawatir padaku?" tanya Tao dengan suara lirih, kelewat senang sampai-sampai ia ingin menangis. Kris kembali diam seperti biasa. Rasa cinta membuat dirinya kehilangan control untuk menjauhi Tao, malah ia melindungi Tao seperti ini. Hatinya dilema sekarang, apa ia akan menyerah pada hatinya meskipun nanti sakit atau tidak menyerah tapi mengorbankan hati Tao.
"Apa kau khawatir karena aku Tao atau Huang sonsaeng?" tanya Tao lebih diperjelas lagi. Kris mengangguk perlahan, "Aku khawatir karena kau Tao." Jawab Kris semakin membuat senyum Tao tercetak. Matanya memerah menahan air mata harus.
"Kau takut aku terluka? Kau rela terluka demi diriku? Demi Huang ZiTao?"
"Nde."
"Lalu, bagaimana jika aku terluka?" tanya Tao kali ini lebih berani melontarkan pertanyaan yang membuat hati Kris mengibarkan bendera putih, tanda menyerah. Ia sudah tidak bisa membiarkan hatinya dan hati Tao sakit.
"Aku menyesal karena tidak memelukmu selama ini."
Pertahanan Tao runtuh, senyum kecilnya masih tetap sama meskipun Kris tidak berlari ke tempatnya lalu memeluknya. Hatinya terluka karena dia tapi Kris tidak berbuat apa-apa untuk dirinya.
"Aku terluka di sini, begitu juga kau," ucap Tao menunjuk dadanya dan dada Kris. Tapi tetap tidak ada reaksi atau tanda-tanda kalau Kris mau memeluknya. "apa kau tidak ingin memelukku?" tanya Tao lebih tepatnya meminta dan Kris masih diam menatapi wajah Tao.
"Nde," jawab Kris menghasilkan senyum getir karena Kris tetap saja berdiri di sana. "Lalu, kenapa kau berdiri saja di sana?" tanpa peringatan Kris menarik Tao ke pelukan hangatnya. Memeluk Tao dengan sungguh-sungguh, tidak seperti di rumah sakit enam bulan lalu. Menyalurkan seluruh perasaan rindu terpendamnya selama ini. Dari mata elangnya mengalir sebutir air mata yang berubah menjadi anak sungai, begitu juga dengan Tao. Ia menelusupkan kepalanya di dada Kris, menangis sejadi-jadinya. Air mata ini sebagai bentuk ungkapan rasa sakit mereka dan rasa rindu mereka. Tangan Tao terangkat membalas pelukan Kris sangat erat seolah-olah ia tidak ingin Kris menjauh lagi seperti kemarin-kemarin. Ia ingin Kris tetap di sini, bersamanya, memeluknya seerat ini dan Kris tahu lewat pelukan ini.
.
.
.
Awalnya ia tidak berniat lomba minum tapi ia kalah bermain TOD jadi ia ikut berlomba minum. Di hadapannya sudah ada 10 kaleng bir yang harus ia habiskan dalam sekali teguk dan siapa yang lebih cepat ia pemenangnya. Lomba ini di gagas oleh Siwon, Taehyung dan Sehun. Trio jahil ini pasti memiliki ide jahil atau lomba aneh-aneh.
"Hana… dul… set!"
Kai membuka kaleng birnya cepat-cepat, ia harus menang agar ia bisa cepat tidur dan tidak perlu menatap Chanyeol yang entah kenapa bisa ikut lomba ini. Meminum birnya kelewat cepat bahkan Chanyeol belum selesai satu kaleng bir, bahkan ia kalah dengan Baekhyun.
"Kim sonsaeng! Kim sonsaeng! Kim sonsaeng!"
Kai tersenyum, membuka kaleng bir ke limanya sedikit terhuyung terlalu banyak minum alkohol dan sepertinya ia sudah mabuk. Baekhyun sudah mengangkat tangannya, berlari kecil mencari toilet. Tersisa Kai dan Chanyeol, mereka duduk berhadapan tidak ada yang mau mengalah untuk memberhentikan game konyol ini.
Kai menjatuhkan bir terakhirnya begitu saja, tanda ia kalah dan tidak kuat lagi. Kenapa malam ini ia tidak kuat minum, padahal ia selalu menang lomba seperti ini tapi kenapa di depan Chanyeol ia malah kalah. Chanyeol menghentikan minumnya di bir ke sepuluhnya, menatap Kai sedikit khawatir. Wanita berrambut cokelat ini sedikit terhuyung-huyung, memegangi kepala dan cegukkan beberapa kali.
"Sonsaeng, mau aku antar ke kamar?" tanya Baekhyun setelah kembali dari kamar mandi, menghampiri Kai dan terlihat khawatir melihat kondisi Kai. Gelengan kepala menjadi jawaban tidak dan itu membuat Baekhyun bungkam. "Kalian lanjutkan saja pestanya aku mau keluar sebentar." Pamit Kai berjalan sedikit limbung keluar dari ruang tamu asrama ini, mengambil mantel dan juga sepatu boat nya. Udara malam biasanya membuat rasa mabuk hilang, itu baginya. Hidungnya menghirup sebanyak-banyaknya udara dingin malam ini, menghilangkan rasa mabuknya, minuman terkutuk ia berjanji tidak akan minum lagi tapi pasti ia langgar sendiri janjinya.
"Kepalaku pusing sekali," keluh Kai berjongkok memijat-mijat kepalanya yang malah pening menghirup udara dingin. Sepasang tangan muncul dari belakang, membantu Kai memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Pemilik tangan itu adalah Chanyeol, ia sengaja mengikuti Kai hingga keluar. Tidak tega melihat gadis yang masih ia sayang mabuk di tempat rawan seperti ini, perlahan tubuh Kai menyandar pada tubuh Chanyeol.
"Park sonsaeng?" tanya Kai memastikan kalau yang ia lihat adalah Chanyeol. Ia segera bangun, tersenyum miring melihat Chanyeol ada di hadapannya. "Yogi wae isseo?" tanya Kai sedikit melantur, suara cegukkan terdengar beberapa kali, tubuhnya juga masih limbung karena efek bir. Chanyeol merengkuh pinggang Kai, menjaganya agar tetap berdiri di tempat.
"Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku ke sini karena kau mabuk."
Kai menggeleng, menolak pernyataan Chanyeol soal dirinya yang mabuk, "Anniyo!" Kai menjauhi rengkuhan Chanyeol, melambaikan tangannya sebagai tanda kalau ia tidak mabuk dan baik-baik saja. "Aku hanya kedinginan saja, kalau sedang dingin aku memang seperti ini. Arrachi?" Chanyeol mengangguk kembali mencoba mendekati Kai tapi Kai menjauh lagi.
"Ya! Aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan menjauhimu, aku harus menepati ucapanku, hah?!"
"Tapi, aku tidak ingin menjauhimu."
Kai menyerah dalam alam bawah sadarnya, memberhentikan langkah mundurnya, menatap Chanyeol seakan meminta kepastian dari ucapan Chanyeol barusan. Anggukan yang ia dapat serta sebuah rengkuhan hangat di pelukannya. "Aku tidak ingin tapi keadaan akan semakin rumit jika kau terus mendekatiku. Kau segalanya bagiku, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku rela meskipun hanya menatapmu saja." Ucap Chanyeol mengelus kedua sisi wajah Kai sangat lembut, tersenyum kecil ke arah Kai. Senyum yang sama seperti di rumah sakit dan senyum…
Dia menoleh tersenyum melihat seorang wanita.
Kai menjauh mendapat sebuah gambaran yang semakin membuat kepalanya bertambah sakit serta perutnya semakin terasa di aduk-aduk. Gejolak perutnya membuat ia memuntahkan apapun yang bisa ia muntahkan. Chanyeol menghampirinya kembali tapi tangan Kai terangkat seakan memberi kode untuk tidak mendekat.
"Jangan lihat aku!"
Ia keras kepala dan tidak suka diperintah sejak 12 tahun lalu jadi, ia memutuskan menegakkan tubuh Kai. memberinya sebuah sapu tangan untuk membersihkan bibir Kai yang bau muntahan dan alcohol. Kai mengernyit melihat sapu tangan yang semula berwarna putih sekarang terlihat kotor karena bekas muntahannya.
"Ini kotor, aku akan mencucinya." Chanyeol mengangguk, mengajak Kai masuk ke dalam asrama susah payah, jujur tubuh Kai sedikit berat dibanding wanita-wanita di Spanyol yang dulu sempat ia kencani sebagai pelampiasan dirinya karena tidak bisa bertemu Kai. Ia menjatuhkan tubuh Kai di atas kasur, menyelimutinya dan berniat pergi tapi sebuah tarikkan membuat ia tertahan di atas tubuh Kai.
"Apa kau senang bertemu denganku lagi?" tanya Kai dengan mata tertutup serta tangan menangkup kedua sisi wajah Chanyeol, mempertemukan kedua mata mereka sekali lagi. Pria bersurai cokelat tua kembali tersenyum, mengangguk lalu mengecup kening Kai cukup lama sebelum mengatakan, "Aku senang bertemu denganmu lagi, Kim Kai-ssi."
Kai tersenyum kecil, memejamkan kedua matanya dan masuk ke alam mimpi. Chanyeol melepas kecupannya, menatap kedua kelopak mata Kai yang sudah tertutup sempurna tidak lama kemudia terdengar bunyi dengkuran halus membuatnya sedikit bisa bernafas lega. Perlahan ia menjauh dari tubuh Kai, merapihkan kembali selimut Kai dan mematikan lampu kamar ini. Tepat setelah itu pintu terbuka menampilkan sosok pria berwajah putih terkesan dingin. Dia Oh Sehun, tanpa babibu ia mencengkram kerah Chanyeol memojokkannya ke dinding.
"Apa sebenarnya maumu? Apa kau ingin menyakitinya lagi? Kau datang membuatnya tersenyum lalu meninggalkannya dengan sebuah luka, apa kau ingin mengulanginya lagi, Park sonsaeng?" marah Chanyeol semakin kuat mencengkram kerah Chanyeol bahkan hampir mencekiknya. Chanyeol hanya diam, ia memang pantas mendapat perlakuan seperti ini.
"Annimida, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ingin melupakannya."
"Sudah terlambat, kau mengulangi kesalahanmu sebanyak dua kali dan aku sudah tidak bisa menerima semua itu. Jauhi Kai atau kau akan mendapat masalah dariku, aku tidak peduli kau atasanku atau apapun. Aku minta hal ini, jauhi Kai." Sehun melepas cengkramannya. Keluar meninggalkan Chanyeol yang nampak terkejut dengan perlakuan Sehun dan kata-kata pria berwajah dingin itu. ia kembali melirik Kai lalu keluar dari kamar, memikirkan perkataan Sehun. Memang benar, ia mengulangi kesalahannya sebanyak dua kali. Seharusnya 6 bulan lalu ia tidak menerima ajakkan Kai untuk minum pasti semua ini tidak akan terjadi dan seharusnya 12 tahun lalu ia tidak bertemu Kai dan memiliki perasaan ini begitu juga Kai. Tapi, sekarang hanya kata seharusnya yang bisa ia ucapkan di kepalanya. Sehun memang benar, jika ia ingin Kai bahagia ia harus menjauhi Kai. Takdir ini salah amat maka dari itu ia akan mengembalikan ke alamat yang seharusnya.
.
.
.
BRUK!
Suara dentuman tubuh seseorang dibanting terdengar. David pelaku dari suara dentuman itu, ia sedang membanting tubuh seseorang penduduk local yang memiliki gangster kecil di La Rinconado. Gangster ini sengaja ia sewa untuk mengawasi keadaan sekitar penambangan emas illegal mereka tapi mereka malah ketahuan dan ia harus menyuap para polisi untuk tutup mulut.
"Kau benar-benar membuatku marah, Mr Jose. Aku menghabiskan uangku untuk menyewamu tapi kenapa kau mengecewakanku?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, penjaga pembangunan PAM itu memergoki kami dan para penambangmu lalu…"
"Aku sudah mendengar cerita itu. Jadi, hentikan ocehanmu dan KEMBALI KE SANA!" orang bernama Jose itu segera bangun, berlari keluar mansion tersembunyi ini secepat kilat dengan mobil mereka. David menggeram kesal, menendang botol alcohol nya hingga hancur menjadi keeping-keping.
"Edwerd sudah datang, dia membawa narkoba yang Boss pesan." David memebenarkan letak jasnya, mengeluarkan sebuah koper hitam yang berisi penuh dengan uang jutaan dollar, melemparkannya pada Jiwon. "Aku malas bertemu dengan seseorang, berikan uang itu dan edarkan narkoba ke Brazil, Argentina dan Korea. Aku harus tetap di sini mengawasi tambang emasku, jangan sampai ada kesalahan. Got it?" setelah mengucapkan perintah mutlak itu David berjalan masuk ke ruangan tempat Tiffany terbaring lemah. Menatapi istri yang masih ia cintai sampai sekarang tapi ia terlalu sibuk untuk sekedar mengatakan I Love You. Ia hanya mampu mengatakan kata itu saat Tiffany terlelap seperti ini, memberinya kecupan hangat lalu kembali ke dunia kelamnya.
Ia tidak bisa pergi dari dunia kelam ini meskipun sebenarnya ia mempunyai keluarga harmonis jika saja ia berani meninggalkan dunia ini, seperti istrinya harapkan tapi tidak bisa. Ia tidak bisa melakukan itu karena ia sudah terikat begitu juga dengan Tiffany dan Chanyeol.
"Sorry, honey. Seharusnya kau mendengarkan ayahmu dan pasti kau tidak menderita seperti ini. seharusnya kau memilih Nickhun dibanding aku seorang ketua mafia yang menipu keluargamu kalau aku seorang CEO farmasi, seharusnya aku tidak menghobongimu sehingga kau tidak membenciku. Sorry…"
David menggenggam telapak tangan milik Tiffany yang sangat dingin, tersambung dengan banyak kabel dan selang. Sungguh keadaan yang menyedihkan tapi ini lebih baik dari 5 tahun lalu, bahkan tanpa Chanyeol ketahui ia selalu menangis duduk di samping Tiffany berulang kali meminta maaf meskipun Tiffany tidak mendengarnya.
"Sorry, i love you, thank you, honey…"
.
.
.
.
Rasa mabuknya sudah hilang sejak beberapa jam lalu tapi entah kenapa ia masih saja terbayang-bayang dengan ilusi aneh. Ia pikir itu ilusi karena tidak mungkin Chanyeol mengecup keningnya lalu mengucapkan kata-kata romantic seperti itu. Kai menghentikan menulis laporannya, menatap para pekerja yang terlihat sibuk mengangkat pipa-pipa dan bahan bangunan lainnya meskipun ditengah cuaca dingin seperti ini.
"Kim saeng, ini laporan rekam medis dari dokter yang pernah menjadi relawan di sini."
Kai tersadar, menerimanya dan tersenyum pada Baekhyun. Sepertinya ia tidak boleh melamun lagi tentang Chanyeol. "Kim saeng, kepala kontruksi ingin bertemu dan menyapa anda." Tambah Baekhyun lalu meninggalkan Kai yang hanya mengangguk sebagai jawaban ya kalau ia akan menemui kepala kontruksi tersebut.
"Nde? Keluarga itu seorang rasis Asia dan mereka tetap ngotot tidak mau minum air ini?"
Kepala kontruksi- Choi Dalpeng mengangguk dengan ucapan Kai yang mengulang laporannya. "Jadi, anda meminta saya untuk menemui mereka dan menjelaskan bahaya meminum air yang terkontaminasi zat besi itu?" tanya Kai memperjelas permintaan Dalpeng.
"Nde, kami sudah mencoba berulang kali membujuknya tapi tidak berhasil malah kami diumpati mungkin hasilnya akan berbeda jika seorang dokter yang menyampaikan."
Kai terdiam, ia tahu keluarga rasis itu. Wanita yang sama tempo hari mengumpati dirinya karena sudah membantu anaknya minum air dari orang Asia. Kai mengangguk tersenyum hangat pada Dalpeng, ia tidak mungkin menolak permintaan dari orang tua seperti Dalpeng. Lagipula, bagian dari tugasnya termasuk ini.
…
Dan di sinilah ia. Berdiri kaku mengumpulkan segala keberanian yang ia miliki untuk menghadapi wanita rasis seperti Anna. Wanita itu bernama Anna dan anaknya Andre serta suaminya bekerja di pembangunan PAM bernama Michael. Tapi, aneh juga jika dia seorang rasis tapi kenapa suaminya bekerja di tempat orang Asia? Aneh juga. Kai menggelengkan kepalanya, bukan saatnya untuk memikirkan hal itu, yang terpenting ia harus membujuk Anna menggunakana air bersih bukan air dari sumur mereka. Ia kembali menarik nafas panjang, mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu cokelat ini beberapa kali sampai terdengar bunyi tunggu sebentar dan suara derap langkah mendekati pintu. Tidak lama muncul wanita rasis kemarin, mengenakan celemek, wajahnya semula ramah terlihat marah.
"Kenapa kau kemari?"
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa anda tidak memakai air PAM? Air itu lebih bersih daripada air yang anda pakai selama ini." Anna tersenyum meremehkan. Kai menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan-pelan, ini cara tersendiri untuk mengontrol emosinya.
"Apa kau bisa menjamin jika air itu bersih tanpa obat-obatan?"
"Tapi, air PAM lebih baik daripada air sumur kalian. Karena penambangan emas tersebut, air di daerah ini terkontaminasi dan kami membantu kalian untuk mendapatkan air bersih. Apa anda tahu bahaya mengonsumsi air yang tercampur limbah tambang emas?" Anna memutar matanya malas mendengar ocehan tidak berguna Kai.
"Aku tetap tidak mau, bahkan aku bertengkar dengan suamiku karena orang Asia sepertimu. Jika saja kau tidak datang aku dan suamiku tidak akan bertengkar seperti ini. Jadi, biarkan kami menjalani hidup kami dan kau jalani hidupmu sendiri."
Belum sempat Kai membalas pintu sudah tertutup sangat kasar dan keras. Kai menghela nafas, berkacak pinggang melihat wanita keras kepala lainnya selain Luhan dan Tao bahkan dia lebih keras kepala dan egois. Kai kembali mengetuk pintunya kali ini lebih keras, seperti tidak memiliki sopan santun tapi ini harus. Anna kembali membukakan pintunya, bersiap mencaci maki Kai jika Kai tidak menyela duluan.
"Apa kau tidak mau minum air itu karena air itu dari orang Asia?" tanya Kai memperjelas masalah Anna yang langsung dijawab anggukan penuh dengan emosi dan rasa muak melihat wajah Kai.
"Oke, apa kau tidak akan mengijinkan anakmu bermain badminton karena olahraga itu dari Asia? Hanya itu yang ingin aku katakan dan tanyakan. Good bye, Mem Anna." Kai berjalan pergi meninggalkan Anna yang tampak biasa saja dan masih menganggap dirinya benar meskipun ia tahu ia salah membiarkan anaknya meminum air kotor demi rasa rasis nya. Tapi, ia tidak peduli toh anaknya masih baik-baik saja.
Sementara di tempat lain, Kai berteriak frustasi. Kenapa sulit sekali membujuk orang rasis seperti itu. kenapa juga ia mau menerima permintaan Dalpeng untuk membujuk wanita rasis itu? Kai kembali berteriak, berjongkok di tanah menatap sekeliling. Paling tidak karena wanita itu ia tidak memikirkan Chanyeol dan delusi aneh nya.
"Dasar, kalau tidak suka orang Asia kenapa masih tinggal di sini dan mengijnkan suaminya bekerja di proyek pembangunan PAM IlHo? Dasar aneh." Sadar tidak sadar Kai ikut mengumpati sikap wanita rasis itu. tanpa ia sadari ia berteriak-teriak di depan sekrumunan anak-anak kecil yang bermain di taman. Kai semakin mengacak-acak rambutnya frustasi, berusaha tersenyum sambil menghampiri mereka, mengeluarkan beberapa batang permen.
"Igo."
Beberapa anak hanya diam sampai salah satu dari mereka, anak wanita rasis kemarin menghampiri Kai dan menerima salah satu permen Kai.
"Gracies," Kai tersenyum, ia sedikit tahu itu artinya terimakasih. Tidak lama setelah Andre beberapa anak mengrubunginya, mengambil permen dari tangannya dan kembali bermain. Kai tersenyum lebar, ia menghampiri mereka dan ikut melompat-lompat di atas trampoline. Suara tawanya yang merdu dan sedikit asing menarik perhatian beberap brandalan di kota ini. Kai betul-betul tidak menyadarinya sampai salah satu dari mereka menarik Kai turun secara paksa.
"Wow, Asian women. Kau terlalu cantik untuk berdiri di sini dan bekeja sebagai dokter."
Kai melepas cengkraman brandalan ini, melangkah mundur seraya melindungi anak-anak tadi yang berdiri di belakang tubuhnya. Ia sudah lama tidak menggunakan jurus-jurus taekwondo ia sedikit takut kalau jurusnya malah gagal dan tidak berhasil.
"Menjauh atau…"
"Or what baby? Tenanglah, kami hanya ingin bermain lompat-lompat juga tapi di dalam kamar. Mau?" Kai menatap tidak percaya, apa ia sedang di lecehkan sekarang. Ia menepis salah satu dari kelima berandalan di hadapannya, menampar sisi kanan wajah brandalan ini hingga mengeluarkan darah.
"Bitch! Apa kau ingin mati?"
Kai berteriak, memejamkan matanya takut melihat mereka berlima mengeluarkan senjata berupa pistol ke arah Kai. Tubuh Kai semakin bergetar, entah darimana bayangan yang selalu muncul di mimpinya kembali muncul. Bayangan seorang pria mengacungkan senjata dan lalu menembak entah kemana.
"KYA! Aku tidak bersalah! Tolong aku!"
SRAK!
BANG!
Kai membuka matanya terkejut melihat sebuah punggung ada di hadapannya, ikut mengacungkan sebuah senjata juga dan salah seorang dari berandalan terjatuh dengan kaki berdarah. Reflek Kai memeluk anak-anak yang berdiri di belakangnya, seakan-akan melindunginya dari orang-orang bersenjata ini.
"Kau dokter Korea itu, kan? Jangan beralih profesi dari dokter menjadi pahlawan atau menjadi gangster seperti kami." Ucap salah satu dari mereka menggunakan Bahasa Spanyol. Pria itu-Chanyeol tersenyum meremehkan, menurunkan senjatanya lalu secepat kilat merebut senjata mereka dan mengarahkannya pada mereka.
"Ini senjata kalian tapi mereka berbeda dengan hewan peliharaanmu." Kali ini Chanyeol menggunakan Bahasa Inggris yang pasti mereka ketahui. Salah satu dari mereka maju, berniat merebut senjatanya tapi Chanyeol bertindak cepat memindahkan pistol ke tangan kirinya, menggunakan tangan kanannya untuk menyiapkan peluru dan kembali mengacungkan pistolnya menghasilkan para berandalan itu mengangkat tangan menyerah.
"Dia bukan hewan peliharaan yang jika dilatih akan menurut. Dia bertindak dari perintah dari yang memegang senjata, tidak mengenal pemiliknya dan jika aku menarik pelatuknya kau tertembak. Jadi, pergi dari sini!"
Setelah Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, para berandal itu berlari pergi dengan segala umpatan yang ditujukan untuk Chanyeol. Kai berjongkok terlihat lemas dengan kejadian yang sungguh membuatnya terkejut.
"Anak-anak lebih baik kalian pulang saja, untuk beberapa hari jangan bermain di sini dulu."
Kai melirik Chanyeol masih dengan pandangan terkejut apalagi tangan Chanyeol masih memegang pistol yang siap di tembakkan. Tubuhnya yang semula melemas, berubah menjadi gemetar, dan keringat dingin membasahi wajahnya.
"Kim sonsaeng, Kim sonsaeng!"
BANG
Seorang gadis berteriak takut, menundukkan kepala sambil menutup kedua telinga.
"KYA!"
Chanyeol membulatkan matanya, ia mencengkram kedua lengan Kai, menegakkan tubuh Kai, mempertemukan kedua bola mata mereka tapi Kai tetap berteriak ketakutan seperti ingin menjauhi dirinya. "aku tidak ingin mendengarnya! Jangan tembak itu! Jebalyo!" Chanyeol melirik pistolnya, melemparnya ke sembarang arah yang penting benda itu menjauhi Kai. Ia kembali menegakkan tubuh Kai.
"Kim sonsaeng! Kim sonsaeng! Kim sonsaeng, lihat aku! KIM SONSAENG!" Kai tersadar begitu suara melengking Chanyeol memanggil dirinya, menyapu kedua telinganya, seperti bunyi suara besi yang sedang di asah. Sangat melengking hingga sanggup menyadarkan Kai dari rasa takutnya yang entah darimana asalnya ketika melihat senjata, terutama pistol. Kai memeluk Chanyeol, mencari pertolongan dari pelukan ini.
"Jauhkan aku… jauhkan aku dari pistol itu… jebalyo…"
Chanyeol membalas pelukan Kai. Menjawab dengan anggukan beberapa kali dan suara ya serta semua baik-baik saja, tenanglah. Di pikirannya hanya ada satu pernyataan, apa mungkin Kai mengalami fhobia karena kejadian 12 tahun lalu yang bahkan tidak ia ingat tapi hatinya ingat? Chanyeol memejamkan matanya, menahan air mata yang hampir jatuh, merasa bersalah seumur hidup karena kejadian itu membuat Kai seperti ini.
"Jebalyo… jebalyo… Park Chanyeol-ssi."
.
.
.
Anna menatap panic pada anaknya yang terus-terusan muntah dan berteriak kesakitan pada bagian perutnya. Ia tidak mau membawa anaknya pergi ke rumah sakit terdekat milik orang Asia itu. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi saat suaminya pulang ia langsung di tampar menceritakan semuanya.
"Apa kau gila?"
Anna menegakkan tubuhnya, tidak menunduk sama sekali seolah yang ia lakukan sudah benar dengan tidak mengijinkan anaknya meminum air PAM IlHo buatan Asia. Michael mengangkat tubuh anaknya, membawanya keluar tapi baru selangkah maju Anna menghalanginya lagi.
"Jangan pernah membawa anakku ke rumah sakit Asia itu atau pernikahan kita berakhir."
"Lebih baik pernikahan kita berakhir daripada aku mengorbankan nyawa anakku." Balas Michael berlari menerbos Anna. Keluar begitu saja, meninggalkan Anna yang juga jatuh terduduk memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
.
.
.
Chanyeol menatap lurus ke depan dengan pandangan datar dan tidak berminat meskipun ia khawatir dan sangat ingin bertanya kondisi Kai. Wajahnya masih pucat, tangannya pun masih sedikit gemetar. Helaan nafas kembali terdengar dari kedua bibir Kai mau pun Chanyeol. Sibuk dengan pikiran masing-masing tentang dua buah kotak. Kotak merah dan hitam. Merah milik Chanyeol sudah terbuka dan berisi masa lalu kelam 12 tahun lalu. Kotak hitam milik Kai berisi masa lalu kelam 12 tahun lalu yang belum terbuka dengan alasan penyakit. Mereka sama-sama tidak tahu ada satu kotak lagi di antara merah dan hitam, kotak masa depan mereka berdua atau masa depan mereka sendiri.
"Sudah sampai." Ucap Chanyeol singkat, datar, tanpa minat sama sekali. Kai menoleh, tersadar, kembali ke alam sadar. Ia mengangguk, tersenyum kecil sebelum ia keluar dari mobil. Matanya menangkap seseorang yang sepertinya ia kenal, orang itu seperti suami dari wanita rasis itu. Dia berlari masuk ke rumah sakit.
…
"Sejak kapan dia mengeluh sakit dan muntah?" tanya Kai melepas stetoskop nya. Menatap Michael penuh tanya sekaligus bingung. Chanyeol yang ikut melihat, memperhatikan dengan seksama anak bernama Andre ini.
"I don't know, aku sibuk bekerja. Istriku yang mengetahuinya."
Kaii menghela nafas mendengar kata istri berarti ia harus terlibat lagi dengan wanita rasis itu. Kai kembali pada sosok Andre yang masih tertidur pulas, menekan perut disekitar ulu hati Andre, dibalas dengan erangan kesakitan yang sangat pilu. Kai mengernyit, ini seperti ciri-ciri seseorang terkena keracunan bahan kimia B3.
"Dia keracunan B3 dan kurang gizi."
"Anniyo, gejala kurang gizi memang ada tapi kalau keracunan B3 sepertinya terlalu cepat." Sanggah Kai menatap Chanyeol tidak setuju dengan diagnose Chanyeol sesingkat itu tanpa mendengar penjelasan Michael.
"Apa kalian mengkonsumsi air dari sumur bukan PAM?" tanya Baekhyun yang sepertinya sedikit setuju dengan Chanyeol. Michael mengangguk pelan, Kai semakin mengernyit mengingat kembali kejadian saat ia memergoki anak-anak sedang meminum air langsung dari pipa dan mengemut sebuah besi tua.
"Kita harus segera melakukan detoksifikasi, berikan dia IV, vitamin C, EDTA." Perintah Kai kembali menyelimuti Andre. Menatap Taehyung dan Baekhyun, terutama Taehyung yang masih bingung dengan gejala keracunan yang begitu cepat.
"Dia keracunan B3? Secepat itu." ucap Taehyung antara percaya tidak percaya, Kai mengangguk pasti melirik Chanyeol yang nampak meremehkan dirinya."Yes dia juga menderita anemia karena sel darah merah mengira racun itu nutrisi dan racun menyebar sangat cepat." Jelas Kai kali ini menggunakan Bahasa inggris agar Michael mengetahui juga kondisi anakknya.
"Thank you,"
"You'r welcome." Balas Kai menatap Chanyeol yang lebih tertarik melihat sebuah troli ranjang datang dan ditaruh di samping tempat tidur Andre. Itu wanita rasis Asia tadi sore, dia juga terbaring lemah dengan mulut berbusa serta erangan kesakitan masih terdengar. Chanyeol bergerak lebih cepat, memeriksa Anna dan memerintahkan perawat lain untuk memberi pengobatan pada Anna.
"Gomawo, mianago." Ucap Kai menghampiri Chanyeol yang nampak datar mendengar kalimat terimakasih dan maaf Kai yang terdengar tulus. Kai menghela nafas melihat sikap Chanyeol seperti itu, "Kasus keracunan B3 ini sangat jarang terjadi. Jadi, kami harus leb-"
"Tapi, kasus seperti ini sudah sangat biasa di sini. Lain kali, kenali tempat tugasmu terlebih dahulu. Seharusnya Choi Seungri mengirimkan dokter yang lebih baik bukan dokter idola." Ucap Chanyeol memotong penjelasan Kai yang menurut Chanyeol semakin memperburuk masalah kecil seperti ini. Kai terpaku, wajahnya seketika murung mendengar sindiran Chanyeol soal dirinya yang memiliki predikat Dokter idola, menatap punggung Chanyeol yang mulai menghilang, masuk ke ruangan. Meninggalkan Kai yang hampir saja menangis hanya karena mendengar sindiran Chanyeol padahal ia sudah sering mendengar sindiran seperti itu.
…
Kai mengusap wajahnya yang terlihat lelah, menatap arloji cokelatnya yang menunjukkan angka 11 malam. Sudah dua jam lamanya ia menunggu Anna dan Andre sadar, tapi tidak ada perkembangan sama sekali. Ia harus melihat salah satu dari mereka sadar baru melanjutkan pekerjaan memeriksa persedian obat-obatan.
"Dimana aku?"
Kai membuka matanya lebar-lebar, berbalik ke ranjang Anna. Memeriksa infus, denyut nadi dan detak jantungnya. Anna terdiam melihat Kai bertindak cepat dengan segera memeriksa keadaannya setelah sadar.
"Apa yang kau rasakan sekarang? Mual? Pusing? Atau sakit di sekitar ulu hatimu?" tanya Kai kembali menekan bagian perut di sekitar ulu hati kembali terdengar ringisan kesakitan Anna. Kai menghela nafas, "Racun di tubuhmu belum menyebar jadi, keadaanmu masih baik dibanding Andre. Besok pagi kami akan melakukan detoksifikasi padamu." Ucap Kai menjelaskan diagnose nya. Tersenyum kecil sebelum pergi tapi dihalangi oleh Anna.
"Thank you, aku sudah bicara padamu sangat kasar waktu itu." Kai tersenyum simpul, mengelus pelan punggung telapak tangan Anna. Berlalu pergi tapi sekali lagi ia dihalangi Anna. "Aku akan menggunakan air IlHo, aku rasa aku harus mencoba minum air buatan orang Asia." Kai berbalik, tersenyum kecil sebagai balasan. Kembali berjalan ke gudang obat-obatan tapi sebuah tarikan menghampirinya.
"Sunbaenim menggunakan perasaannya untuk membujuk orang rasis itu. Chukaeyo~"
Kai semakin tersenyum lebar, mengibaskan tangannya sebagai tanda kalau itu sudah biasa. Tapi, senyumnya menghilang mendengar sebuah ucapan yang seolah menentang ucapan selamat Taehyung. "Wanita memiliki perasaan yang lebih sensitive, tentu saja dia terharu karena melihat kebaikan orang yang sudah ia hina habis-habisan. Contoh seperti ini banyak sekali di drama-drama."
Kai berkacak pinggang, menatap tajam Chanyeol seolah-olah mengancam Chanyeol agar segera diam atau paling tidak menghentikan wajah datar serta kata-kata pedas Chanyeol. "Apa kau pikir membujuk seorang wanita rasis itu mudah? Apa kau bisa melakukannya?"
"Tentu, aku tinggal mengobatinya, memberi perhatian seperti pasien lain dan pasti dia akan terharu terakhir berbalik meminta maaf atau menyesalinya. Itu yang biasa dilakukan dokter idola, kan?"
Kai diam, tidak berniat membalas ucapan menyindir Chanyeol. matanya sudah memerah menahan emosi dan rasa sedihnya karena pria yang menarik perhatiannya berbicara sangat pedas tanpa ada alasan yang jelas. Ia menghela nafas melihat Chanyeol kembali masuk ke ruangannya.
"Sonsaeng…"
"Berikan daftar obat yang harus aku periksa, aku harus segera tidur." Pinta Kai menengadahkan tangannya meminta daftar obat pada Baekhyun dan Taehyung.
.
.
.
Kai berdecak, menulis sangat kasar di atas papan daftar obat-obatan di gudang pertama. Perkataan Chanyeol tadi masih membekas di kepala dan terniang-niang, entah kenapa orang itu tiba-tiba bersikap dingin seperti itu padahal seharian tadi ia memikirkan delusi aneh tentang Chanyeol bersikap lembut ternyata salah besar. Kai menghela nafas, memberhentikan gerakan tulis menulis tangannya, menarik nafas, menghembuskannya secara perlahan juga.
"Dasar!" gumam Kai kesal dan licik. Keritan pintu gudang yang sangat nyaring membuat ia tertarik dan ikut menoleh ke belakang. Wajahnya semakin galak melihat Chanyeol yang datang membawa beberapa kardus obat sepertinya, menaruh beberapa kardus itu di rak tepat di samping Kai. Kai hanya diam, menunggu reaksi lain Chanyeol tapi tidak ada sama sekali.
"Cepat selesaikan, pasienmu menunggu."
Hanya perintah yang ia dapatkan, membuat jari-jari lentiknya meremas erat pulpen berwarna hitam ini. Chanyeol menyadari itu, memutuskan untuk mengalah. Menyandarkan tubuhnya di rak, memperhatikan setiap gerak-gerik Kai terutama pulpen berwarna hitam dengan karakter Toy Story. Film itu, film yang sangat mengingatkan Chanyeol pada tragedy perubahan hidupnya tiga ratus enam puluh derajat.
"Wae? Melihatku seperti itu." tanya Kai ketus, membalas sikap dingin Chanyeol. Ia kembali melirik lewat ekor matanya Chanyeol masih saja menatapi wajahnya. Kai menghela nafas, memberhentikan jarinya bergerak, membalik tubuhnya menghadap Chanyeol.
"Mianhae…"
"Arrayo, kau pasti meminta maaf karena tadi, kan?" tanya Kai sedikit percaya diri. Chanyeol tersenyum miring ternyata Kai berpikir jauh juga tentang arti permintaan maafnya.
"Anniyo, soal di taman tadi kau begitu takut melihat aku memegang pistol." Kai kembali menulis, mengalihkan wajah malunya karena sudah salah mengira kalau Chanyeol meminta maaf karena perkataan pedas dan dingin Chanyeol. Tawa kecil terdengar, membuat Kai kembali menoleh.
"Wae?"
"Aku tertawa karena kau cepat mengambil kesimpulan padahal aku belum selesai bicara. Aku meminta maaf karena di taman itu dan perkataan pedasku." Ucap Chanyeol kali ini terdengar tulus dan tidak main-main. Kai tersenyum kecil lalu kembali mengangguk ia paham dan menerima permintaan maaf Chanyeol.
"Arrayo, aku maafkan." Ucap Kai kembali menulis kali ini dengan senyum menghiasi wajahnya. Chanyeol kembali tersenyum menatapi wajah berseri-seri Kai seperti matahari yang sangat jarang di kota ini. wajah itu membawa kehangatan dan kecerian tapi dibalik itu semua yang bahkan tidak diketahui Kai ada awan gelap yang siap menerjang wajah ceria itu.
"Kau suka Toy Story?" tanya Chanyeol tiba-tiba. Sepertinya Kai lupa soal acara gagal menonton itu. Kai tersadar menunjuk penanya sendiri lalu tersenyum mengingat satu hal, tentang ganjalan itu masih ada dan sulit sekali mencari benda yang bisa menarik ganjalan ini.
"Nde, entah kenapa aku merasa film ini berkaitan dengan masa laluku yang tidak aku ingat sama sekali tentang masa akhir SMA ku. Aku ingin sekali mengingatnya, mengingat kenangan indah dan barangkali kenangan buruk."
Chanyeol menghilangkan senyumnya. Ia tahu kenenangan indah Kai apa dan kenangan buruk Kai. Sehun dan satu keluarga Kai tidak berharap Kai mengingatnya, termasuk dirinya. Kai tersenyum kecil, menengadahkan tangannya seperti meminta sesuatu.
"Sebagai permintaan maaf kau harus memberiku sesuatu." Pinta Kai. Chanyeol menggeleng, kembali sibuk menata kardus-kardus yang tersisa. Kai cemberut, melanjutkan perkerjaannya kembali tapi masih dengan ekor mata melirik Chanyeol. Pria dengan tubuh tinggi di atas rata-rata itu bangun dari posisi jongkoknya, berdiri tegap dan mengatakan hal yang membuat Kai senang.
"Aku akan memberimu hadiah. Ini hadiah atas keberhasilanmu dan hadiah penyambutan kau yang terlambat."
Kai tersenyum, menengadahkan tangannya lagi sambil tersenyum dan bertanya, "Sumuel? Sumuel mwondae?" Chanyeol tidak menjawab. Ia mendekati Kai secepat kilat sampai-sampai Kai tidak bisa menghindar. Ia menarik Kai mendekat dengan tangan Kai ia genggam erat. Tangan sebelahnya menarik tengkuk Kai mendekati wajahnya, mempertemukan bibir mereka pertama kalinya. Ya, mereka berciuman untuk pertama kali nya dengan perasaan berbeda. Chanyeol dengan perasaan rindu, sementara Kai terkejut dan bingung karena ini ciuman pertamanya selama ia hidup 30 tahun ini. Ciuman pertama Kai!
To Be Continue
(TBC)
Ryeo note:
Hahaha, ciuman pertama mereka dan Kai! *pusup10xngosngosan*. Eotteyo? Semoga Bahasa inggrisnya kali ini bener ya, karena jujur nilai Bahasa inggris tertinggi Cuma 76, jadi harap maklum ya. aku nggak sempet ngerubah ke bahasa spanyol sama inggris jadi harap maklum, ya. terimakasih atas kesetian menunggu dan doakan semoga koneksi internet tempatku lancar terus amin.
terimakasih sudah review dan baca.
see you next tima~~
