Preview

Momen saat Natsu berbisik kepada Gray terlihat oleh Lucy yang membuatnya curiga. Gray dan Natsu berlari keluar, Lucy juga mengikutinya. Namun mereka berdua berpencar, Lucy memilih mengikuti Natsu yang berlari menaiki tangga.

Love in Case

Disclaimer : © Fairy Tail milik Hiro Mashima

Warning: OoC, AU, Typo(s), and agak GaJe plus Sadis

~Happy Reading~

Chapter 4

~Lucy PoV~

Aku terus berlari mengikuti Natsu menaiki tangga menuju atap. Aku bersembunyi dibalik tembok tangga dan melihat Natsu membuka pintu atap yang tidak terkunci. 'aneh, biasanya pintu atap selalu terkunci'. Natsu mulai menghilang dibalik pintu. Aku segera menyusul kearah pintu yang sudah tertutup itu. Aku mendekat dan mengintip apa yang Natsu lakukan dari kaca yang berada dipintu ini. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sini. Natsu berjalan menuju pembatas atap yang dari besi berwarna silver. Ada suatu benda cokelat melilit di pembatas itu 'tali? Ya, itu tali. Kenapa ada tali disitu? Apakah tali itu digunakan untuk melakukan triknya? Bisa jadi' tanpa berfikir panjang, langsung kubuka pintu atap dan menghentikannya

"Natsu!" teriakanku sontak membuat Natsu langsung menoleh kepadaku

"apa yang kau lakukan disini"

DEG!
Suara itu. Itu bukan seperti sebuah pertanyaan ditelingaku, namun lebih kearah ancaman. Suara berat dengan mata yang menatap tajam kepadaku itu cukup membuat jantungku berdetak tak teratur. Aku tak dapat bergerak, seperti ada lem yang sangat kuat menempel disepatuku. Suaraku tak bisa keluar seperti tercekik oleh tangan yang besar. Kalaupun ia ingin membunuhku, mungkin dapat Natsu lakukan dengan mudah saat ini. Natsu mulai berjalan mendekat. Semakin dekat tatapan itu semakin jelas, tatapan saat pertama kali aku bertemu dengannya. 'kowai. Siapa saja, tolong aku!' aku merapatkan kedua kelopak mataku dan terasa tubuhku mulai bergetar namun tiba-tiba…
BRAK!
pintu atap terbuka keras oleh seseorang yang sontak membuatku memisahkan kelopak mataku untuk melihat siapa orang itu. Natsu menghentikan langkahnya.

"Gray…" aku sedikit lega. Namun rasa lega itu hilang saat momen Natsu berbisik kepada Gray terputar diotakku. Dan yang lebih mengejutkan, Gray menyeringai kejam. Seringai yang sekejam Natsu.
BUK!
"ahk!" aku merasa sebuah pukulan keras ditengkukku. Keseimbanganku mulai hilang. Aku mencoba menoleh kearah pukulan itu. Aku melihat Natsu menggenggam sebuah benda hitam 'pistol kah?'. Pandanganku mulai menghilang, samar-samar terlihat Natsu menuju kearahku. 'apa yang akan ia lakukan' dan bayangan Natsu pun menghilang bersama dengan kesadaranku.

.

.

Kesadaranku mulai kembali. Aku dapat melihat samar atap putih dengan sebuah lampu neon putih dalam keadaan mati sepanjang 1 meter dan sebuah kasur yang menahan tubuhku. 'dimana ini?' itulah kalimat yang ingin aku keluarkan dari mulutku, tetapi terhalang oleh selotip yang menempel pada mulutku. "mph!" tak hanya itu, tanganku terikat dipojok-pojok kasur ini. Sedikit beruntung kakiku diikat dengan keadaan kaki tertutup. "mmpphh!" aku mencoba berteriak – atau lebih tepatnya meraung meminta tolong. 'ini UKS bukan' aku menyadari saat melihat almari berisi berbagai macam obat. UKS berada digedung lain, berlainan dengan gedung utama tempat ruang kelas. Digedung ini sangat sepi. Aku menoleh kearah jendela, matahari masih bersinar. Aku mencoba melihat jam tanganku, menunjukkan pukul 12.30 siang. 'masih ada kemungkinan siswa akan kesini' 30 menit lagi para siswa akan istirahat.

.

Tigapuluh menit lebih berlalu. Selama itu pula aku mencoba melepaskan diri dari ikatan ini dan hasilnya nihil. Aku sudah mendengar bel istirahat berbunyi 5 menit yang lalu namun masih belum ada siswa yang datang kesini. 'tolong' aku ingin mengatakan itu tapi hanya erangan lemah yang muncul.
TAP.. TAP..
Aku dapat mendengar suara langkah kaki mendekat kesini. "emmpph!" aku mencoba mengerang lebih keras agar berharap seseorang tersebut mendengarnya. Langkah itu terdengar tak beraturan. Dan…
SREEK...
Suara pintu UKS terbuka. Aku segera menoleh dan mendapat jawaban kenapa langkah kaki terdengar tak beraturan. Mataku terbuka lebar melihat sepasang siswa diambang pintu. 'Tidak! Siapa saja asal jangan mereka…'

~Normal PoV~

Mata Lucy terbuka lebar menatap sepasang siswa itu. Gray dan Natsu.

"yo~ sudah sadar? Lucy Heartfilia…" hanya dengan satu sapaan dari Gray, tubuh Lucy mulai bergetar kecil. "wow… jangan takut Lucy. Aku temanmu bukan?" Gray menyeringai kearah Lucy yang sudah memucat. Ia mendekat kearah Lucy. Airmata Lucy mengalir deras kepipi pucatnya. "haha… kau punya tubuh yang cukup bagus Lucy" Gray memandangi seluruh tubuh Lucy. Dan tak sadar sebuah pistol menempel dibelakang kepala Gray.

"jika kau macam-macam, akan kulubangi kepalamu!" suara Natsu sontak membuat reflek Gray melawan dan juga menodongkan pistol pada temannya. Mereka berdua saling menodongkan pistol kearah satu sama lain.

"haah…" Gray menghembuskan nafasnya dan menurunkan pistolnya. "santailah Natsu, aku tau ia targetmu, aku tidak akan ikut campur" Gray beranjak dari sebelah Lucy dan merebahkan tubuhnya disalah satu kasur di ruang itu.

'targetnya? Aku target Natsu?' batin Lucy

"berhentilah menangis. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat" suara Natsu berdengung dengan jelas didalam telinga Lucy

'menyelesaikan? Apa aku akan dibunuh? Apa aku akan dimutilasi? Siapa saja, tolong aku!' "emmphh!" Lucy mulai meronta tak karuan. Erangannya memenuhi ruangan ini. Dan dalam sekejap Lucy diam membeku hanya menyisakan sedikit suara tangisannya saat tangan Natsu mulai mencengkram kepala Lucy

"sudah kubilang untuk berhenti menangis" Natsu melepaskan cengkramannya. "dengarkan aku" mata onyx Natsu menatap mata caramel Lucy yang sedikit memerah karena tangisannya. "sekarang nyawamu berada ditanganku. Jadi jangan memberontak". Kelopak mata Lucy melebar mendengar perkataan - ancaman Natsu. Lucy hanya terdiam. "untuk sekarang aku akan melepaskan selotip yang berada dimulutmu. Jika kau berteriak kau akan tahu akibatnya" Lucy terdiam, airmatanya masih berlinang. Selotip di mulut Lucy telah dilepas. Nampak jelas mulut Lucy bergetar pelan. Lucy sangat ketakutan, keringat dingin menyelimuti dirinya. Namun alat gerak Lucy masih terikat. "jangan berteriak" kali ini Lucy hanya mengangguk. Natsu merogoh saku celananya hendak mengambil sesuatu.

"a-apa y-yang ingin kau lakukan?!" suara Lucy bergetar ketakutan saat melihat Natsu merogoh sakunya.

"diamlah!" Lucy hanya bisa pasrah dengan keadaanya yang terikat. Lucy memejamkan matanya.

"tolong… jangan sakiti aku…" Lucy mulai memohon dengan airmata yang mengalir kembali dari matanya.

"siapa yang ingin menyakitimu? Bukalah matamu" Lucy pun membuka matanya dan melihat Natsu menyodorkan tangannya yang menggenggam suatu identitas dengan sebuah lencana bintang berukiran 'INTELEJENSI'.

"intel-lejensi?" Lucy bertanya dengan suaranya yang parau

"em. Aku dan Gray adalah agen intelejensi" Natsu menjawab singkat dan tersenyum menunjukkan grinsnya. Grins itu nampak berbeda dengan grins yang pernah ia tunjukkan ke Lucy. Kali ini grins itu tak tampak menyeramkan seperti dulu bagi Lucy. Dan senyuman Natsu kali ini benar-benar hangat. Tubuh Lucy perlahan pulih.

"jadi…mulai sekarang jangan pernah mengikuti Natsu lagi." Gray bangkit dan menunjukkan kartu identitasnya yang sama seperti milik Natsu.

"nande?" Lucy mengangkat satu alisnya dengan ekspresi bingung.

"hah…" Natsu menghela nafasnya seraya melepas satu persatu simpul yang mengikat tangan dan kaki Lucy. "kau dulu pernah bertanya bukan? Apakah aku yang melakukan pembunuhan berantai ini? Dan kau masih ingat jawabanku?"

"em. Kau menjawab mungkin kau benar, tapi mungkin juga kau salah" jawab Lucy dengan lugu seraya mengelus pergelangan tangannya yang terlihat sedikit lecet karena ikatan tersebut. Lucy memposisikan dirinya duduk disamping ranjang menghadap Natsu. "jadi apa maksud jawabanmu itu?" Lucy mendongak kearah Natsu. Percakapan ringan nan sebentar tersebut membuat Lucy lebih tenang dan nampaknya ia tak lagi ketakutan.

"kau salah menuduhku jika aku yang melakukan pembunuhan berantai ini…" setelah menjelaskan itu Natsu terdiam beberapa saat sebelum lanjut bicara " tapi kau benar jika menuduhku sebagai pembunuh berantai". Mulut Lucy sedikit menganga mendengar perkataan Natsu

"ma-maksudmu?"

"aku-"

"sudahlah, tak perlu diteruskan Natsu. Sebentar lagi jam istirahat makan siang selesai. Sebaiknya kita kembali satu persatu sebelum terlambat" Gray menyela perkataan Natsu, merubah suasana yang suram menjadi lebih cair sedikit.

"a-ah. Gomen ne Luigi. Menceramahimu tentang masa lalu" Natsu nyengir seperti anak kecil

"Luigi? Lucy dayo. Lucy!" Lucy memprotes karena Natsu salah menyebut namanya

"jadi namamu Lucy? Kau belum mengenalkan dirimu" Natsu menyilangkan tangannya didadanya

"benarkah?"

"em" Natsu mengangguk. Lucy mencoba mengingat kembali kejadian pertama ia bertemu. Jari telunjuknya berada didagunya sambil wajahnya memandangi langit-langit.

~flashback~

"Dragneel-san? Desu yo ne?" Lucy mencoba untuk menyapanya

"hn" dia hanya menjawab singkat. 'Dinginya…' batin Lucy

"setidaknya lihatlah orang yang kau ajak berbicara dong… ja yoroshiku ne" Lucy mencoba untuk lebih akrab dengannya – sepertinya lebih ke 'sok akrab'

"em. Yoroshiku"

~flashback END~

"ah benar juga" Lucy menepukkan kedua tangannya. "ja~ watashi Lucy Heartfilia. Yoroshiku ne, Natsu, Gray" senyuman hangat terukir diwajah cantik Lucy

"em." Natsu dan Gray mengangguk bersama. "4649" Gray mengucapkan deretan angka dan beranjak pergi. Natsu yang mendengar itu hanya tertawa kecil.

"4649?" Lucy mengangkat alisnya. "apa maksudnya?" Lucy bertanya kepada Natsu yang baru melewati pintu menyusul Gray

"itu sebuah kode. Coba pecahkan Luce. Ja~" Natsu pun menghilang dari pandangan Lucy

"kode? 4649? Luce? AAHH mou~ apa-apaan mereka berdua?!" tangan Lucy mengepal diudara dengan empat siku-siku disudut kepalanya.

.

Pelajaran sesudah jam istirahat berjalan seperti biasa.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Guru dikelas Lucy sudah pergi 3 menit yang lalu setelah bel berbunyi. Lucy masih terduduk dibangkunya memikirkan angka '4649' yang dikatakan Gray. 'yon-sen ro-pyaku yon ju kyu? Atau yon roku yon kyu?' Lucy mencoba memikirkan arti agka itu. 'mou~ wakaranai..' Lucy mengacak-acak rambut pirangnya kesal. Natsu yang melihat Lucy hanya tertawa kecil. Ia beranjak dari tempat duduknya, meletakkan sebuah kertas dimeja Lucy dan berjalan keluar. Lucy mengernyitkan dahinya.

"kertas? Apa lagi maksudnya?" Lucy mengambil kertas yang dilipat menjadi kecil itu. Ia membaca beberapa tulisan yang tertera dikertas itu.

[ datanglah kerumah Gray, kami akan menceritakan sesuatu. Ini alamatnya #########

*NP : kode itu,kau pasti bisa memecahkannya nona ranking 4 paralel. Aku beri petunjuk, pikirkan kata lain, contohnya 1 bisa ichi maupun hitotsu. Ja semoga beruntung]

Lucy terdiam memikirkan kalimat tambahan dikertas itu. "ah… sou ka.. yon roku shi ku, yoroshiku. Dasar dua orang itu, ada-ada saja" Lucy melihat jam tangannya menunjukkan pukul 4 sore. "yah.. aku masih harus ke rumah Gray. Bisa-bisa terlambat pulang" Lucy bergumam sendiri sambil memasukkan peralatannya kedalam tas dan beranjak pulang.

Lucy sudah berada didepan pintu Gedung Utama tempat semua kelas dan ruang guru berada. Disana ia melihat gadis kecil dengan rambut biru yang dikepang dua.

"Wendy-chan?" Lucy menyapa gadis yang sedari tadi diam itu. Wendy pun menoleh kearahnya

"Lucy-san? Baru pulang?" tanya gadis imut itu

"em. Kau belum pulang?" tanya Lucy yang sudah berada disampingnya

"etto… sebenarnya Lucy-san.. ada orang yang mengirim surat padaku, katanya ingin mengatakan sesuatu dipintu Gedung Utama" suara Wendy pelan namun dapat didengar oleh Lucy

"eh? Hhhmmm… mungkin dia akan menembakmu Wendy-chan? Hehehe…" Lucy menggoda Wendy yang nampak wajahnya memerah

"mou~" Wendy menggembungkan kedua pipinya yang memerah.

"hihi.. Ah aku ada janji. Aku duluan ya Wendy-chan. Ja~ Mata ashita.." Lucy mulai berlari sambil melambaikan tangannya kepada Wendy

"Mata ashita Lucy-san" Wendy juga melambaikan tangannya. Ia tak sadar sedang diamati oleh seseorang dari dalam ruangan. Lucy mulai menghilang dari pandangan Wendy. Ia pun kembali menunggu seseorang yang mengiriminya surat.

Seseorang berjalan dibelakang Wendy dengan langkah yang pelan tapi pasti tanpa menimbulkan suara yang keras. Dengan sekali gerakan orang tersebut berhasil membungkam mulut Wendy. Tubuhnya yang mungil mencoba meronta namun sayang tenaganya kalah telak. Cengkraman orang tersebut lebih kuat dari Wendy. Perlahan rontaan Wendy semakin melemah hingga ia tak bergerak. Dengan satu hentakan tubuh mungil Wendy berhasil dibawa oleh orang itu.

.

.

07.00 p.m.

Malam ini bulan purnama, nampak cahayanya menyinari kota Crocus menambah keindahan kota ini. Ramainya kota melengkapi indahnya malam ini, orang berlalu lalang dan mobil berlewatan. Namun suasana itu berbeda disebuah ruangan yang hanya tersinari oleh cahaya bulan. Seorang gadis mungil diikat disebuah ranjang. Kedua tangan dan kakinya diikat dipojok ranjang membuat posisi gadis ini terlentang. Nampak sebuah siluet seseorang dikegelapan menyiapkan berbagai macam alat dimeja. Gadis bersurai biru dan berkepang dua tersebut mulai membuka kedua matanya.

"di-dimana ini? si-siapa kau?" gadis tersebut meronta-ronta "lepaskan aku. Kumohon lepaskan aku" ia memohon kepada seseorang yang sibuk mengasah alat-alat tajamnya. "a-apa yang akan kau lakukan?! Kumohon lepaskan aku.. hiks.." tangis gadis tersebut mewarnai heningnya ruangan ini.

"Wendy Marvel…" suara tersebut tak menghibur sama sekali bagi Wendy. Seseorang tersebut mulai mendekat kearah Wendy dengan menggenggam sebuah pisau bedah. "jangan menangis ojou-chan" ia menyeringai kejam. Wendy yang merasa dalam bahaya semakin meronta namun tali yang menjerat sangat rapat.

"tolong, hiks… kumohon lepaskan aku.. hiks…" Wendy menangis sesenggukan. Airmata sudah membasahi kedua pipi manisnya. "onegai" Wendy terus memohon tapi… "aahh! Sakit.. jangan sakit, hentikan!" sebuah pisau bedah menggores lengan kanan Wendy. Goresan sedalam 2cm dan memanjang mulai dari sendi pergelangan tangannya hingga lengan atasnya. Darah segar mengalir keluar dari goresan itu. Wendy menangis menahan perih ditangannya. Dan sekali lagi… "sakiitt! Jangaan! Hentikan! Kumohon hentikan! Sakkiiit!" teriakan Wendy menggema disekeliling. Kali ini giliran tangan kirinya yang digores oleh orang itu.

"tenanglah ojou-chan. Nikmatilah setiap sensasinya… HAHAHAHA!" orang tersebut tertawa seperti iblis – bukan, dia memang pantas disebut iblis.

Wajah Wendy basah oleh keringat dingin dan airmatanya. "AAKKH!" sebuah goresan indah terbentuk dipipi kanannya. Keringat yang membasahi badan Wendy menambah rasa perih luka itu. Sayatan itu terhenti sekitar 10 menit. Dan selama itu Wendy menangis memohon ampun kepada orang itu. Namun semakin Wendy memohon orang tersebut semakin ingin menyiksa Wendy.

07.12 p.m.

Darah dari tangan Wendy masih mengalir walaupun sebagian luka sudah sedikit mengering. Orang – bukan, iblis itu kembali mendekati Wendy yang nampak lebih pucat dibanding beberapa menit tadi. Kembali Wendy mengejang karena melihat orang itu mendekat.

"he-hentikan.. hiks.. kumohon hentikan.. sak-kit.." Wendy kembali menangis sesenggukan. Orang tersebut kembali membawa gunting yang sepertinya sangat tajam. "tidak! Jangan lakukan it- AAAKKHH! HENTIKAN! SAKKIIT..!" teriakkan Wendy menggema kembali diruangan itu. Dan gunting yang dipegang orang itu meneteskan darah yang masih hangat. Darah yang berasal dari jari tangan kiri Wendy yang dipotong. Potongan jari Wendy yang mungil berjatuhan dilantai. Lima jari yang ia ambil, nampak darah memancar dari tangan Wendy. Menetes dan menggenang tepat dibawah kasur. "ku-mohon.. h-he-ntikan…" suara Wendy nampak melemah

"ojou-chan? Apakah kau sudah tidak kuat." Iblis itu tersenyum puas melihat Wendy yang mulai memucat dan melemas. Nafas Wendy mulai melemah dan matanya nampak seperti menerawang kebalik atap ruangan. "sebelum kau mati, akan aku beri hadiah perpisahan". Iblis itu mengambil sebuah kapak dan meletakkannya disamping tubuh mungil Wendy. Ia menaikki kasur itu dan duduk diatas perut Wendy. Wendy hanya diam tak berdaya. Iblis itu mencengkram kedua pipi Wendy. Ia menarik lidah Wendy dan memotongnya.

"AAAHHKK!" Wendy berteriak dan tersedak oleh daranya yang mengalir dari lidah miliknya. Iblis itu melempar lidah Wendy kesembarang arah. Nampak mata Wendy terbuka lebar, ia masih bernafas namun nafas yang kecil. Detak jantungnya pun melemah. Nyawanya sudah berada diujung tanduk. Iblis tersebut turun dari kasur, ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah keatas dan dengan sekali hentakan… nyawa Wendy melayang bersama dengan menancapnya gunting dijantung gadis itu. Iblis itu menarik guntingnya yang penuh darah dan melemparkannya kelantai.

"HAHAHAHA!" iblis itu tertawa puas. Menggema keseluruh ruangan ini. "sebentar sekali, aku masih bermain sebentar denganmu ojou-chan" iblis tersebut masih ingin bermain dengan tubuh takbernyawa Wendy. Ia meraih seragam Wendy dan dengan sekali hentakan, semua kancing terlepas dari tubuh mungilnya. Dengan hanya disinari cahaya bulan, nampak bagian dada yang masih tertutupi oleh bra yang berdarah, hingga pinggang yang masih tertutupi oleh rok gadis mungil itu. Iblis itu menyeringai licik. Ia mengambil pisau yang tergeletak dilantai dan mengarahkannya dibawah tulang taju pedang gadis itu.
JLEB
Pisau tersebut sukses menancap pada pada perut Wendy. Tak hanya diam, iblis itu membedah perut Wendy hingga keujung rok bagian atas Wendy. Tangan iblis itu mengorek isi perut Wendy dan mengeluarkannya. Sekarang usus Wendy terpampang diatas perutnya sendiri. "HAHAHA!" iblis itu kembali tertawa. Ia kembali menaiki kasur itu dan mengambil kapak yang sedari tadi diam diatas kasur. Dan aksi mutilasinya pun ia mulai. Ia potong tangan kanan dan kaki kiri Wendy. Ia memandang wajah Wendy yang memutih pucat. "sayonara… Ojou-chan~ HAHAHA!" dengan sekali hentakan kapak tersebut sukses memutus kepala Wendy dari badannya. Kasur yang semula putih itu tak lagi putih, namun berwarna merah darah.

07.38 p.m.

Tsuzuku… (Bersambung…)

HAHAHA…#ketawa puas. Bagaimana readers? Sadis? Greget? Kalau kurang sadis review yak :p .hehe. Author baru pertama kali ngebikin karakter anime jadi kaya ayam potong gini. Sebenarnya author ga tega membuat Wendy dipotong-potong, tapi berhubung kocokan karakter yang akan terbunuh keluarnya dia yah mati deh. Gomen. Kira-kira next chap siapa ya chara FT yang bakal tewas di tangan *******?

Hiro Mashima sensei, gomenasai, hontou ni gomenasai, karena karakter imut yang anda buat malah saya hancurkan begini, maaf sebesar-besarnya.

Reply for Review

Fic of Delusion: terimakasih pujiannya :D semoga menikmati chap 4 ini ya Fic of Delusion-dono

Wearethechampion : thank you. :D

Nah… terimakasih buat yang sudah membaca maupun meriview. Arigatou na.
oh ya, untuk yang kode 4649 itu saya inget dari anime Detective Conan, jadi maaf yaa Aoyama Gosho sensei, saya pinjem kodenya. Baiklah kalau begitu, seperti biasa, saya akan melanjutkan cerita jika ada review dari anda readers.
Okelah..
ja~ ne~