Pengkhianatan.

Penyesalan.

Kebahagiaan.

Kebencian.

Tangis.

Tawa.

Rindu.

Itu adalah sebagian unsur yang melekat pada Cinta.

You

Disclaimer : Masashi Kishimoto

You by Rinyaow

Pair : SasuxNaru, slight KakaxIru

Rated : T

Genre : Romance/Drama

Warning : Gaje, Alur Kecepatan, Banyak typo, Shounen-ai, BL, OOC ga nyambung dan banyak lagi .

Setting : AU / Alternative Universal

mohon maaf author-author yang sudah lebih berpengalaman. Saya penulis *belum bisa dibilang author* baru yang belum terlalu mengerti.

Key Word for Everyone :

-Do not like? I beg you to do not read this-

You

Chapter four : feeling

Langit terus membagikan tetesan air tanpa henti.

Petir dan kilat menemani.

Matahari tak terlihat lagi sejauh mata memandang.

Gelap.

Seperti itulah perasaan lelaki yang bertarung melawan air bah yang tumpah dari langit.

Mencari sebagian hatinya.

Sebagian hati yang pemiliknya telah dia lukai.

Sasuke's POV

Aku terus berlari. Tapi rasanya berat sekali. Aku memutuskan untuk berhenti sebentar. Akh, seragam dan seluruh tubuhku kuyup. Tapi, Masa bodoh. Aku tak peduli. Kulangkahkan kakiku dan kubawa seluruh tubuhku untuk bergerak. Dan terus berlari.

Hei, kenapa aku merasa hujan ini seakan menghambatku untuk mencari dia.

Aku harus segera menemukanmu, Naruto. Aku harus menemukanmu.

~0o0~

Sasuke terus berlari dan mencari Naruto. Dia pergi ke rumahnya dan yang dia temukan hanya seorang laki-laki yang mengenakan masker duduk di beranda rumah Naruto. Terlihat jelas dia sedang menikmati suasana dan melodi yang diciptakan hujan .

"Permisi, apakah Naruto ada?" tanya Sasuke pada laki-laki itu.

Lelaki bermasker itu melihat ke arah Sasuke.

"Wah, Naruto belum pulang dari sekolah. Ada apa? Kalau perlu, nanti saya sampaikan padanya," jawabnya.

"Oh. Tidak perlu. Saya permisi," kata Sasuke. Dia berbalik pergi.

"Hei, masih hujan. Berteduhlah dulu,"

"Tidak perlu,"

Mereka berdua diam. Sasuke yang tidak merasa memiliki urusan dengan lelaki di depannya, membalikkan tubuhnya.

"Hm, boleh saya bertanya sesuatu?"

Sasuke terdiam sebentar.

"Silakan,"

"Kau, apakah kau Uchiha Sasuke?"

"..." Sasuke diam.

"Ya, kenapa anda tahu?" jawab Sasuke.

"Haha, suatu kebetulan atau keberuntungan aku bisa bertemu denganmu. Kenalkan, aku Hatake Kakashi. Salah satu orang yang mengurus Naruto," kata Kakashi sambil mengulurkan tangan.

"Hn," jawab Sasuke. Dia membalas uluran tangan Kakashi.

Mereka pun terdiam. Mereka sama-sama tipe orang yang hanya bicara seperlunya saja.

Hanya harmoni antara rintik dan jalan yang bertemu lah yang memberikan suara dalam kesunyian di antara mereka berdua.

"Darimana anda tahu tentang saya?" tanya Sasuke.

"Hm, Naruto sering bercerita tentangmu,"

DEG

"Yah, dia selalu bercerita padaku dan Iruka tentangmu. Dia bilang kau itu dingin, tak berperasaan, hanya punya sedikit persediaan emosi, susah bergaul dan banyak lagi,"

DEG

"Haha, tapi dia selalu bilang kau adalah orang paling baik yang pernah dia kenal. Setelah keluarganya tentunya," Kakashi tersenyum. Walaupun dia memakai masker, tak diragukan lagi kalau Kakashi memang sedang tersenyum.

DEG

"Ne, Sasuke. Dia sayang sekali padamu. Jaga dia baik-baik. Kalau tidak, kau akan mengetahui akibatnya," kata Kakashi sambil tersenyum. Dia tahu lelaki di depannya ini tidak main-main.

DEG

"…" Sasuke sama sekali tidak menanggapi perkataan Kakashi. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Kau dingin sekali ya? Benar kata Naruto, haha," tawa Kakashi.

"Aku memang sudah menyakitinya," bisik Sasuke pelan.

"Eh? ap-"

"Kakashi-san, ada tamu?" tanya Iruka yang baru saja selesai menyiapkan makan siang.

Kakashi yang semula ingin bertanya pada Sasuke, segera mengurungkan niatnya karena dia merasa dia hanya salah dengar.

"Ne, Iruka. Dia adalah Uchiha Sasuke. Orang yang sering diceritakan Naruto pada kita," jawab Kakashi.

"Oh, jadi kau itu Sasuke-kun ya? Senang berkenalan denganmu. Aku Umino Iruka. Salah satu orang yang merawat Naruto. Sama dengan Kakashi-san," kata Iruka sambil tersenyum.

"Ya," jawab Sasuke.

"Dia benar-benar dingin ya, Iruka?" kata Kakashi sambil menggenggam pergelangan tangan Iruka. Mencoba mencari kehangatan di tangan kekasihnya itu.

"Haha, bisa dibilang begitu, Kakashi-san," jawab Iruka dengan lembut. Dia membalas genggaman dari Kakashi. Berbagi kehangatan dalam sepasanga tangan miliknya dan kekasihnya.

"…"

Sasuke terdiam. Hatinya tiba-tiba terasa sakit.

"Ne, Sasuke-kun. Kau baik-baik saja?" tanya Iruka.

"Hn,"

"..." Sasuke memotong ucapannya sejenak. Dia mengambil napas untuk melegakan paru-parunya yang mendadak seperti kekurangan oksigen.

"Sepertinya saya harus pulang. Saya permisi,"

"Tapi, hari masih hujan, berteduhlah dulu disini, Sasuke-kun," saran Iruka

"Kau mencari Naruto kan? Duduklah disini dan tunggu dia pulang," sambung Kakashi.

"Tidak!" Sasuke spontan menjawab dengan setengah membentak. Iruka dan Kakashi sedikit terkejut. Tidak mengerti ada apa dengan si Pemuda Uchiha ini.

"Um, maksud saya, saya harus pergi sekarang..,"

"Dan, terima kasih," kata Sasuke. Dia membalikkan badannya dan bergegas lari, lagi.

Iruka dan Kakashi memandang punggung Sasuke yang terlihat semakin mengecil sejalan dengan jauhnya dia telah berlari.

"Dia sedikit aneh ya, Kakashi-san,"

"Ya. Semoga dia baik-baik saja dengan Naruto,"

"Aku harap juga begitu, Kakashi-san,"

Mereka berdua pun duduk berdua. Saling menggenggam tangan satu sama lain dan menikmati gemericik air hujan yang masih terus mengguyur kota.

~0o0~

Sasuke's POV

Besok. Aku akan menjelaskan semuanya pada Naruto. Pasti.

~0o0~

Sudah beberapa jam berlalu setelah bel masuk berbunyi. Seluruh murid di kelas sedang asyik dan serius belajar, walaupun ada beberapa murid yang asyik dalam artian lain. Ada yang asyik bercanda, asyik memainkan hp-nya, bahkan asyik terlelap.

Namun lain dengan dia. Si pemuda berambut biru-kehitaman itu sedang melamun. Sama sekali bukan ciri khasnya. Terlihat sedikit guratan kesal di wajahnya. Dia berniat menjelaskan semuanya pada Naruto sebelum bel berbunyi -hari ini-. Ternyata, sampai bel sudah berbunyi, yang ditunggunya malah tidak muncul-muncul batang hidungnya.

Sasuke sangat tidak sabar menunggu jam istirahat. Padahal dia dulu sangat tidak menyukai jam istirahat. Kenapa? Setiap penggemarnya selalu mendatangi kelasnya, entah untuk sekedar melihat, bahkan untuk menyatakan cinta. Sekarang, dia begitu tidak sabar menunggu dentang bunyi bel itu. Suatu perubahan lagi dari seorang Uchiha.

TENG TENG TENG

"Ya, silakan istira-"

BRAK

Sasuke tidak mempedulikan yang lain. Bahkan sensei-nya pun juga tidak. Tanpa sengaja dia menjatuhkan kursi tempatnya duduk. Dia ingin segera menemui Naruto. Secepatnya melihat Naruto. Mengatakan segalanya pada Naruto.

Dia langsung menuju kelas Naruto yang ada di depan kelasnya.

Setelah masuk, dia mencari sesosok lelaki berambut pirang terang.

Diedarkannya pandangannya ke seluruh kelas.

Namun, dia tidak ada.

Setelah tahu Naruto tidak ada di kelas, Sasuke bergegas keluar untuk mencari Naruto.

"Dia sedang sakit,"

Sasuke berhenti. Sakit?

"Apa?"

"Dia sedang sakit," ulang pemuda berambut coklat.

Sakit. Dia sedang sakit.

"Kenapa?"

"Masih bisa bertanya, heh Uchiha?"

"…"

"Dia sakit karena KEMARIN, UCHIHA,"

Hati Sasuke miris mendengarnya.

"Asal kau tahu, aku tidak menghajarmu kemarin alasannya bukan karena aku takut. Tapi aku tidak mau membuat Naru-chan bertambah sedih,"

"..."

"Jujur saja, aku ingin sekali menghajarmu tuan Uchiha. Atas segala yang sudah kau lakukan terhadap dia,"

"..."

"Kau tahu? Dia bermalam di rumahku. Dia menangis. Menangis! Dia yang selalu tersenyum itu, MENANGIS!"

"..."

"Gara-gara siapa, Uchiha? Gara-gara KAU kan?"

"…" Sasuke sama sekali tidak bisa membalas semua perkataan Kiba. Karena lelaki itu benar. Dia memang bersalah. Sangat bersalah.

Kiba terdiam sejenak.

"Jauhi dia, Uchiha,"

"Tidak bisa," bisik Sasuke.

"Aku ingin dan aku sangat berharap kau tidak menemuinya lagi. Dia terlalu polos untuk bisa mengenalmu, Uchiha-sama," lanjut Kiba.

"TIDAK!" bentak Sasuke.

Seluruh orang yang ada di sekitar mereka terkejut mendengar bentakan Sasuke.

Shikamaru dan Neji pun ikut keluar dari kelas.

"Ada apa ini?"

"Kenapa Sasuke-kun membentak Kiba-kun?"

"Ribut sekali!"

"Ck, merepotkan,"

"Sasuke-kun keren sekali! Aih~,"

Berbagai gumaman keluar dari banyak orang.

"Kenapa tidak? Kau sudah melukainya. Sudah membuatnya menangis. Sudah menghancurkan hatinya. Mau apalagi kau?" cecar Kiba.

"…"

"Kau sama sekali tidak punya hak untuk menemu-,"

"Dimana dia?" kata Sasuke pelan.

Kiba tidak menjawab.

"Untuk apa aku memberitahumu?"

"Dimana? Dimana Naruto?" tanya Sasuke lagi.

"Aku tanya untuk ap-"

"Aku mohon," potong Sasuke. Dia tidak tahu lagi tentang harga diri atau apalah. Dia hanya ingin segera bertemu dengan Naruto.

Ucapan Kiba terpotong. Gambaran perasaannya terlihat dengan jelas di wajahnya. Dia sangat terkejut mendengar Uchiha Sasuke berkata 'mohon'.

Shikamaru dan Neji terkesiap.

Seorang Uchiha memohon? Mengucapkan kata 'mohon'?

Sungguh suatu keajaiban yang mungkin benar-benar keajaiban bagi mereka.

Hening.

"Hah, dasar menyebalkan! Aku sudah katakan, dia sakit karena hujan kemarin,"

Sasuke langsung memfokuskan pendengarannya.

"Dia di rumahmu?" tanya Sasuke. Pelan.

"Dia memang tidur di rumahku. Tapi, karena orang tuaku sedang tidak ada di rumah, aku memutuskan untuk membawa Naru-chan ke rumahnya," kata Kiba.

Sasuke merasakan rasa panas yang tiba-tiba mendera ulu hatinya. Mendengar Naruto yang terluka karenanya. Mengetahui ternyata dia menangis. Mendapati Naruto sedang sakit. Semuanya karena Dia. Dia. Dirinya.

"Aku benar-benar brengsek," batin Sasuke.

~0o0~

Bel pulang sudah berbunyi. Sasuke berlari meninggalkan kelas. Dia bergegas pergi ke rumah Naruto. Tak melihatnya selama beberapa jam saja sudah membuat Sasuke hampir gila. Disuruhnya pak supir untuk segera melaju ke rumah Naruto.

Setelah sampai, Sasuke baru saja menyadari bahwa dia sama sekali tidak membawakan apapun untuk Naruto dan keluarganya.

Tapi, dia memang tidak bisa memikirkan hal lain selain Naruto sekarang.

Dia selalu penuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan Naruto.

Seluruh panca inderanya ingat dengan baik bagaimana Naruto itu.

Tatapan. Sentuhan. Senyuman. Genggaman. Cengiran. Ucapan.

Sasuke tak pernah sadar sang Uzumaki begitu berharga bagi dirinya.

Setelah Naruto jauh darinya, Sasuke baru menyadari hal kecil itu.

Bahwa dia membutuhkan Naruto.

~0o0~

Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah Naruto.

Diketukkannya jari-jarinya ke pintu itu hingga menimbulkan suara khas.

"Tunggu sebentar," sahut seseorang dari dalam.

Cklek. Pintu terbuka.

"Sasuke-kun? Ada apa?" tanya seseorang yang ternyata adalah Umino Iruka.

"Naruto ada?" jawab Sasuke.

"Ya, dia ada. Tapi dia sedang tidur, Sasuke-kun,"

"..." Sasuke diam sebentar.

"Bolehkah saya bertemu dengannya?" lanjut Sasuke.

"…" Iruka tampak ragu sejenak. Naruto yang sedang demam memang perlu banyak istirahat. Tidak boleh diganggu oleh orang lain. Tapi setelah melihat guratan wajah Sasuke. Dia berkata dengan tersenyum,

"Masuklah, Sasuke-kun. Dia ada di atas. Kau akan menemukan kamarnya dengan mudah,"

Sasuke menatap mata Iruka. Dia mendapati kehangatan yang tulus.

"Ya. Te-terima kasih banyak,"

"Sama-sama, Sasuke-kun," Iruka tersenyum lagi.

~0o0~

Sasuke melihat sebuah kamar yang pintunya berwarna jingga bercampur kuning. Dia tahu dengan pasti, itu kamar Naruto. Naruto memang menyukai warna jingga seperti dia menyukai ramen.

Dibukanya pintu itu perlahan dan pelan. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu sesosok pemuda yang sedang terlelap.

Dia masuk dan melihat Naruto tidur dengan pulas. Diambilnya kursi belajar Naruto.

Sasuke duduk di samping Naruto.

Diperhatikannya pemuda yang sedang terbaring di hadapannya itu.

Tiba-tiba, dia melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya pada orang lain selain pada Naruto.

Membetulkan kain basah yang ada di dahinya.

Menyapu keringat yang mengaliri pipinya.

Mengukur suhu tubuh sang Uzumaki dengan membelai lehernya, pelan.

Lalu, ditatapnya wajah Naruto.

Perlahan, dengan sangat pelan, digenggamnya telapak tangan Naruto yang berkeringat. Digenggamnya erat.

"Maaf," kata Sasuke pelan.

"Maafkan aku,"

Sunyi senyap.

Yang terdengar hanya desahan teratur dari pemuda berkulit tan di depannya.

"Hei, bangunlah. Banyak yang ingin kukatakan padamu, Dobe," kata Sasuke sambil mengeratkan genggamannya pada Naruto. Seakan berusaha membagi sensasi dingin dari tangannya untuk menurunkan suhu tinggi pada tubuh Naruto.

"Aku benar-benar bersalah. Maafkan aku," sambung Sasuke pelan. Diciumnya telapak tangan Naruto yang bersuhu hangat itu.

Hening.

Naruto benar-benar tertidur dengan pulas.

Semilir angin yang masuk ke kamar Naruto membuat Sasuke sedikit mengantuk.

Dia memang merasa lelah sedari kemarin. Seluruh pembantu dan pengurus rumah dibuat kaget oleh kepulangan sang tuan muda yang basah kuyup saat senja sudah menuju malam.

Desahan teratur dari bibir Naruto dan suasana yang sepi, membuat Sasuke pelan-pelan ikut terlelap di samping Naruto. Dia terlelap tanpa melepaskan genggamannya dari telapak tangan sang Uzumaki.

~0o0~

Matahari sudah tenggelam. Dia mengucapkan selamat tinggal dan berjanji akan kembali esok harinya

Pemuda berambut pirang yang tertidur pulas tadi, bergerak pelan.

Naruto terbangun. Dia merasa tenggorokannya kering.

Perlahan, dibukanya kelopak mata yang menutupi mata birunya itu.

Dikerjap-kerjapkannya agar dia bisa melihat dengan jelas.

Didengarnya hembusan napas yang teratur terdengar di sampingnya.

Dia terkejut melihat seorang lelaki tidur –tidur sambil duduk- di sampingnya.

Kesadarannya telah kembali seluruhnya. Terkumpul karena Naruto benar-benar terkejut.

Dia lebih terkejut saat tahu bahwa lelaki itu adalah –Uchiha Sasuke.

Refleks, ditariknya tangannya yang digenggam erat oleh Sasuke.

Sasuke terbangun.

Sasuke diam sejenak. Dia tidak tahu ini mimpi atau nyata. Tapi dia merasakan ini adalah kenyataan. Satu hal yang pasti, dia sama terkejutnya dengan Naruto.

Biru langit bertemu Hitam langit.

Mereka bertatapan.

Naruto's POV

Kenapa dia ada disini? Apa maunya denganku? Mau menyakitiku lagi? Hei, kenapa sakit itu datang lagi?

Sakit. Sakit. Sakit. Sesak.

Sasuke's POV

Ah, dia sudah bangun. Aku harus menjelaskan semuanya sekarang. Harus.

Supaya sesak dan sakit ini hilang.

Normal's POV

Mereka bertatapan.

Mencari sedikit kebenaran yang berada pada mata milik orang yang berbeda.

"Naruto," ucap Sasuke.

"Kenapa?"

"Aku mau mengatakan sesuatu padamu,"

"..." Naruto paham kemana arah pembicaraan ini menuju.

"Aku sudah mendengar semuanya, Sasuke-san," jawab Naruto sambil menunduk. Matanya terasa panas.

Sasuke merasa sangat sakit. Dia melihat bahu Naruto bergetar pelan.

"Bukan itu," kata Sasuke.

"Sasuke-san, aku merasa sangat pusing. Bisakah kau keluar?"

Sasuke terkesiap. Naruto memanggilnya 'Sasuke-san'?

"Maaf, bisakah kau pulang?" tanya Naruto lagi.

"Dobe, dengarkan aku," kata Sasuke frustasi. Naruto menolaknya untuk sekedar berbicara.

"Tem-," sesaat Naruto ingin menjawab ejekan Sasuke. Tapi, dia merasa bukan dia yang berhak memakan kata itu lagi.

"Maaf, aku sangat tidak enak badan, Sasuke-san,"

"Na-,"

Cklek. Pintu terbuka tiba-tiba.

"Ini minumannya, Sasuke-kun. Kau terlihat nyaman saat terlelap tadi. Tidak enak aku membangunkanmu," kata Iruka yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Naruto. Diletakkannya minuman itu di meja.

"Ya," jawab Sasuke sedikit kesal.

Iruka berjalan ke arah Naruto.

"Naru-chan, sudah bangun ya? Bagaimana tubuhmu?" tanya Iruka sambil memegang kening Naruto.

"Sudah lumayan Kaa-san. Tapi kepalaku pusing sekali," jawab Naruto. Dia memanggil Iruka 'Kaa-san' karena dia merasakan kasih sayang seorang Ibu darinya. Seperti kasih sayang ibunya dulu, Uzumaki Kushina.

"Sebentar Naru-chan. Kaa-san akan minta tolong Kakashi-kun untuk membeli obat," kata Iruka. Dia berjalan menuju pintu.

"Iya, Kaa-san," kata Naruto dengan tersenyum.

Iruka pun keluar untuk menelepon Kakashi.

Lagi-lagi, Sekarang hanya mereka berdua.

Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan duluan.

"Aku pulang, Naruto," kata Sasuke tiba-tiba.

Lagi-lagi, rasa sakit itu mendera ulu hati Naruto.

"Ya, terima kasih sudah menjengukku, Sasuke-san. Hati-hati di jal-" jawab Naruto pelan.

"Aku pasti akan menjelaskan semuanya padamu," Sasuke berdiri di samping pintu.

Naruto terdiam.

"Dan mendapatkanmu kembali. Itu Pasti,"


To be continued


Saya benar-benar tidak menyangka 'YOU' bisa sampai bagian 4.. terima kasih kepada para Readers and Reviewers xD

Review dari kalian selalu mendukung saya. Saya senang, kalian semua bersedia membaca dan me-review.

Katakanlah, review dari anda adalah SEMANGAT saya untuk menulis :D

Terima kasih banyak.


Ini balasan untuk review kalian, Minna..


#lovelylawliet~ saya belum pantas dipanggil sprti itu, Lovely-san :) terima kasih banyak, saya terharu dipuji seperti itu TwT. Terima kasih banyak! :D terima kasih banyak buat reviewnya!


#NhiaChayang~ fic saya bkin ketawa? beneran ? *ga percaya* makasih yah, udah review dan mengikuti cerita ini :D terima kasih banyak, Nhia-san :)


#Lavender Hime-chan~ Waah, saya belum pantas dipanggil senpai.. TwT saya penulis baru .. blum pantas.. blum pantas *pundung* anyway, makasih banyak sudah bersedia review xD


#Els-san~ Iya ! banyak bacot juga gpp kok xD


#Fujoshinki - akut~ wah, terima kasih banyak TwT sa-saya terharu .. i will do my best xD thank you very much ! xD


#loveydovey~ terima kasih banyak .. uu, terharu T.T maaf, Sai tidak muncul. Saya bingung mau dijadiin apa, maaf ya.. dan makasih sdah mau mereview saya :D


#Fujoshi Nyasar~ Tidak apa-apa, Fujo-san. Fujo-san dan yang lain bersedia membca saja saya sudah senang, apalagi direview .. :D saya senang jika fic ini dinikmati .. uu, terharu T-T. silakan.. saya yang berterima kasih krna sudah di fave :D


#Safira Love SasuNaru~ xD terima kasih sudah review, tntg ending, psst xD


#Chic-kun~ itu karena Kiba tidak terlalu paham dengan masalah diantara SasuNaru. dan dia pikir, Naru pasti tidak suka jika dia ikut campur seenaknya :D trima ksih bnyak untuk reviewnya.. saya senang TwT


#UchiRasen~ xD hihi.. u-uwah.. saya yang blum brpngalaman ini? masih banyak yg lbih bagus kok! xD makasih banyak ya, uda ngikutin cerita and me-review saya .. uu, TwT


#bhiiielyzhia~ trima kasih sudah brsedia mereview saya, Lyzhi-san :) salam kenal juga xD u-uwa. makasih sudah di fave.. TwT *maaf tadi salah nulis nama*


#Vii no Kitsune~ A-ah? bisa membuat anda menangis? Be-beneran ? TwT


In the end, ini Update yang kalian minta.. maaf jika terlambat TwT
Sungguh, seluruh review anda semua membuat saya terharu.. Saya tidak menyangka sama sekali kalian akan mereview saya yang masih sangat new di FF ini T.T
Terima kasih banyak..

dan.. Saya masih belum pantas dipanggil Senpai, minna.. Panggil saja saya Rin ya? *maksa*

bagaimana chap ini menurut kalian?

Mind to give me some review, please?

Arigatou~

And, Semoga liburan sekolah kalian semua menyenangkan, Minna-san xD