.

.

.

Disclaimer : Yamaha Corp. dkk yang punya Vocaloid. Cerita ini seratus persen milik saya.

Warning : AU, Canon, Typo(s), misstypo(s), GaJe, Fantasy berlebihan, plot nggak jelas, kekerasan tidak jelas!

Don't Like Don't Read

Happy reading, minna-san!

.

.

Teleportation

(Miku POV)

.

.

Ini masih jam setengah dua dini hari. Dimana (mungkin sebagian) penduduk masih tidur atau mungkin begadang untuk nonton acara bola di dini hari. Tetapi aku bangun bukan untuk meonton bola atau internetan tapi aku terbangun begitu mendengar suara Kaa-san menjerit super keras.

Aku buru-buru berlari ke lantai bawah, tepat ke arah datangnya sumber suara yaitu dapur. Aku meloncati lima anak tangga tersisa supaya bisa menghemat waktu. Begitu aku masuk ke dapur, aku melihat Kaa-san berdiri memegangi tangan kanannya dengan gemetaran dan wajah pucat.

"Doushita no, Kaa-san?" tanyaku sambil mengatur bapasku sambil menggulung rambut panjangku yang berantakan.

"Seperti biasa virus musim dingin," wajah Kaa-san menjadi cerah kembali.

"Maksudnya? Oh aku tahu, pasti listrik statis akibat cuaca dingin'kan? Virus lama," aku menguap. "Aku tidur lagi, ah. Baru jam setengah dua. Oh ya, Kaa-san ngapain sih jam segini?"

"Aku harus pergi dan aku mau menyiapkan sarapan untukmu," Kaa-san dengan sarung tangan kain membuka handle kulkas.

"Pergi kemana? Ini sudah kesepuluh kalinya dalam minggu ini!" aku mengkerucutkan bibirku. "Kalau Kaa-san pergi lama kasih tau dong pergi kemana. Kalau itu tempat menarik kenapa tak mau ajak aku sih? Lagipula sekarang'kan libur." ('3')

"Kalau kau ikut nanti kau malah capek. Ini ada sangkut pautnya dengan teleportasi. Hanya teleporter ahli saja yang dapat melakukan pekerjaan dan pergi ke tempat ini."

"Aku ini teleporter juga, Kaa-san,"

"Tapi kau belum mahir," Kaa-san mencubit hidungku. "kembalilah tidur. Masih dini hari. Bukannya kau tadi bilang ingin tidur?"

"Iya deh iya." aku pasrah atas ucapan Kaa-san yang sangat tak boleh dibangkang atau aku akan diteleportasikan ke Benua Artktik. Aku berjalan kembali menaiki tangga dan masuk ke kamarku. Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur dan memejamkan mataku, mencoba untuk tertidur. Karena aku adalah tipe orang yang mudah tidur dan mudah bangun, maka tak sampai domba kedua melompat di bayanganku, aku sudah tertidur kembali.

.

.

Yah, aku tak tahu pasti sekarang jam berapa karena aku tak melihat dan peduli pada jam dindingku ataupun jam digitalku yang pasti adalah sekarang pasti sudah tengah hari.

"Perasaan tadi Kaa-san membuat sarapan tapi dimana sarapannya?" aku berbicara sendiri saking laparnya.

Saat aku berjalan menuju lemari es, ada sebuah memo yang tertempel pada pintunya.

'Sarapan buat sendiri ya.. sarapan yang tadi kubuat kuberikan pada seorang pria homeless. Bahannya ada dikulkas. Kaa-san 3'

"Ck, masak sendiri deh," gumamku sambil berdecak (sedikit) kesal. "Makan diluar aja, ah."

Aku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarku dan membersihkan diriku.

.

.

.

Karena si Author ini malas menulis rincian apa yang kulakukan saat mandi, maka saat ini aku sudah berada di luar rumah dengan badan yang segar, baju musim dingin kesayanganku, dan sebuah laptop mini di dalam tas laptop kecil berwarna tosca dengan hiasan negi dimana-mana.

Aku masuk ke dalam sebuah cafe di pinggir jalan dan memesan menu sarapan andalan mereka lalu menyalakan laptop. Setelah melakukan booting yang cukup lama, akhirnya sebuah screen background muncul yang diikuti oleh belasan icon shortcut tertampil pada laptop miniku.

Laptopku secara otomatis mencari jaringan Wi-Fi dan tak sampai semenit laptopku sudah bisa dipakai intenet-an dengan Wi-Fi gratisan dari cafe ini.

"Ini pesanannya, nona. Selamat menikmati." akhirnya pesananku diantar dan pelayan itu langsung menghilang begitu saja.

'Teleporter..' pikirku. Aku mengambil roti isi dengan tangan kananku dan langsung melahapnya sementara tangan kiri masih sibuk mengetuk-ketuk touchpad. Aku menginstal sebuah video converter.

.

.

.

Aku sudah kenyang dan semua software yang aku inginkan telah terinstal di mini laptopku. Aku memasukkan laptopku ke dalam tas laptop dan beranjak dari kursiku untuk pulang ke rumah. Di perjalanan aku bertemu Kaito yang sedang berlari rusuh ke sebuah gang kecil yang sepi.

"Kaito!" panggilku dan Kaito sama sekali tak menyahut. Aku berlari menyusulnya dan saat aku masuk dalam gang tersebut, Kaito telah menghilang. Aku merasakan aura teleportasi yang sangat kuat. Aku ingin tahu kemana Kaito pergi...

.

.

.

Aku menyerah. Aku tak bisa menerobos masuk ke dalam bekas portal teleportasi Kaito. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Ada sebuah telepon dari Kaa-san.

"Kaa-san?" ucapku saat sambungan terhubung.

"Miku, cari Rin dan bawa dia ke tempatmu berdiri sekarang! Kau sedang di gang kecil dekat Toki Pet Shop dan Ninomiya's Salon'kan?"

"Bagaimana Kaa-san bisa tahu?"

"Kau tak perlu tahu soal hal itu. Kutunggu kau 10 menit lagi, jika lewat dari sepuluh menit laptopmu akan kusita lagi."

TUT..TUTT...TUTT... Sambungan diputus sepihak.

'Mattaku...' gumamku sambil menelepon Rin. Tak sampai semenit panggilan diangkat.

"Moshimoshi, Rin-chan... Kau ada acara... Nggak? Yokatta!... Aku butuh bantuanmu, kutunggu kau di Ninomiya's Salon. Jaa nee!" cerocosku di telepon.

Entah karena Rin sudah mulai bisa berteleportasi atau karena jalanan tidak macet dalam waktu 5 menit dia sudah sampai di tempat yang sudah kutentukan. Aku masuk ke dalam salon dan menitipkan laptopku kepada pemilik salon yang untuknya baik.

"Ada apa sih, Miku?" tanya Rin begitu melihatku keluar dari salon.

"Ada hal penting yang harus kita lakukan sebagai manusia yang memiliki kemampuan tambahan."

"Apa itu?"

"Entahlah. Dan kita sekarang akan mencari hal itu." aku menyentuhkan jari ku pada portal teleportasi transparan yang ada di dalam gang.

.

.

Pemandangan langsung berubah. Disekelilingku cuma ada pepohonan, semak-semak dan sulur-sulur pohon.

"Kita ada dimana, Miku?!" tanya Rin takut.

"Nggak tahu!" jawabku sama takutnya.

BLETAK! Seseorang menjitak kepala kami.

"Jangan berisik! Kalian akan menarik perhatian musuh!"

Itu suara Kaito. Aku dan Rin membalikkan badan bersamaan dan melihat Kaito berseragam ala militer dengan microphone yang tertempel di sebelah telinga kirinya.

"Miku, ikut aku dan kau Rin cari saudara kembarmu didekat pohon ek di ujung sana!" perintah Kaito.

"Bukankah Len sudah mati?!"

"Mana mungkin Len ada disana!"

Aku dan Rin berteriak bersamaan. Kaito menutup kuping sebelah kanannya.

"Sudah kubilang jangan teriak-teriak! Kita sedang perang! Ini wilayah tersembunyi yang berada di batas antara markas dan medan perang. Jika sampai ada musuh masuk wilayah ini maka kita semua akan tamat!" Kaito melepas microphonenya lalu mengeluarkan sepasang microphone dari saku jaketnya dan memberikannya masing-masing satu padaku dan Rin. "Pakai itu dan buktikanlah sendiri bahwa si maniak pisang itu masih hidup!"

Kaito menarik tanganku dan pergi ke arah yang berlawanan dengan Rin.

Suasana di hutan ini benar-benar mencekam. Aku yang sedari tadi cuma berjalan mengekor di belakang Kaito tak berani berbicara apapun. Kaito sedang dalam mode galak. Buktinya tadi dia sama sekali tak menyambut kami dengan nada ramahnya justru langsung mendaratkan kepalan tangannya ke kepala kami.

"Kau benar-benar bisa teleportasi'kan? Soalnya Hatsune-san masih meragukan kemampuanmu." akhirnya Kaito angkat bicara dan nada bicaranya normal lagi.

"Kau meragukan kemampuanku, hah?!"

"Bukan aku tapi Hatsune-san,"

"Ibuku cuma jarang melihatku menggunakan kemampuan kok!" jawabku kesal. "Suara apa itu?"

BUMMM! Sebuah bom meledak tepat sesaat setelah Kaito membuat medan gaya untuk menangkis bom itu. Sejurus kemudian, Kaito benar-benar mengajakku berlari sprint menuju sebuah tenda besar.

"Lapor, T-bluer 1702 masuk!" ucap Kaito pada microphonenya.

"Diterima, T-bluer 1702. Ada informasi?"

"Aku berhasil membawa T-bluer 3108 dan Tl-citruser 2712A pada komandan timnya. Ganti!

"Informasi diterima!"

Kaito melepas microphone-nya dan berlari lebih cepat lagi.

BUMM! BUMMM! BUMMM!

Ledakan beruntun terjadi di belakang kami. Apapun artinya yang jelas aku mulai capek dan gerah.

"Sebenarnya dimana tenda kita? Sudah belasan tenda kita lewati!" tanyaku sambil berusaha melepas jaketku.

"Kita harus mencari tenda ketua dan laporan untuk pengesahanmu sebagai prajurit baru.," jawab Kaito yang akhirnya berhenti berlari, "aku akan menjelaskanmu situasi disini setelah kau mendapat izin jadi nanti dengarkan penjelasanku baik-baik. Mengerti?"

"Baiklah, aku akan mendengarkannya nanti." aku masuk ke dalam tenda yang ditunjuk Kaito.

Di dalam tenda itu beberapa orang sibuk berlalu lalang sambil membawa gulungan kertas sehingga mereka tak menyadari kedatanganku. Seseorang menepuk bahuku.

"Calon prajurit baru?" tanya pria itu. "Ini seragammu. Cepat ganti di tenda sebelah sana lalu cepat kembali lagi kemari."

"Ha'i!" aku mengambil seragam yang disodorkan pria itu lalu keluar dari tenda. Aku buru-buru masuk ke dalam sebuah tenda kecil yang cukup ramai yang diisi oleh wanita-wanita yang sibuk mengganti baju. Aku mengganti bajuku secepat mungkin begitu mendengar sebuah bunyi peluit ditiup sangat keras. Setelah mengganti baju dan keluar dari tenda pengap tersebut, aku langsung diminta menggulung rambutku oleh seorang wanita berambut pirang.

Aku tak berani membantah saat gunting besar itu mulai mengancam rambutku. Aku buru-buru melepas kedua kunciran rambutku dan menggulung rambutku dengan cepat lalu menjepitnya dengan sangat kuat dengan sebuah jepitan rambut besar.

"Nah, sekarang ikut baris disana. Kau masuk pasukan elite satu." wanita itu menunjuk sebuah barisan yang baru diisi oleh sekitar sembilan orang. Diantara kesembilan orang tersebut, Kaito berdiri paling depan.

Baru saja aku berusaha menyesuaikan diriku untuk sejajar dengan barisan di depan dan samping kananku, bunyi peluit ditiup dua kali membuat barisan yang awalnya berdiri tegak berubah menjadi posisi istirahat. Untung masih bisa mengikuti.

"Ini adalah perang kesepuluh dalam tahun ini. Kita harus bisa mempertahankan kemenangan kita. Kita sudah berturut-turut menang dalam tiga dekade terakhir. Apapun yang terjadi kita harus bisa menang meskipun 65% dari pasukan kita adalah teleporter pemula..." teriak seorang pria berambut merah muda lewat megaphone. Semakin lama ucapan pria yang baru diketahui bernama Yuuma ini semakin gila.

"... Kita kerahkan seluruh tenaga kita supaya bisa menang. Rincian strategi penyerang akan telah saya sampaikan tadi. Mulai bertarung!"

Riuh para prajurit menjawab teriakan Kapten Yuuma. Pasukan lain berlarian sementara pasukan dalam barisanku masih diam berdiri tegak.

"Kapten!" panggil gadis berambut magenta, Kaito berbalik menaikkan sebelah alisnya. "Kita kenapa belum maju?!"

"Kita pasukan elit. Tunggu saja aba-aba dari Komandan. Mereka sedang berpencar membuat barikade khusus untuk pasukan kita," jelas Kaito. "Untuk sementara aku akan menjelaskan rute wilayah kita."

Barisan terpecah ke dalam lingkaran. Kaito berad di tengah-tengah dan membentang sebuah peta.

"Ini rute yang akan kita lewati. Aku akan memimpin disini, aku yang mencabut aliran daya para Porthunts. Miku kau berjaga di sekitar sini. Di sini adalah rute yang paling banyak di lewati oleh para Porthunts. Pokoknya jangan sampai ada Porthunt yang melewati batas ini. Jika satu saja lewat maka aku akan tamat. Mengerti?"

"Kenapa tugas seberat ini harus ditujukan padaku yang maasih pemula ini?" tanyaku dengan nada protes.

"Hatsune-san mempercayakanmu. Kau atlet karate dan kendo'kan? Pasti mudah menghabisi cecunguk kayak begini."

"Kau mau memujiku atau menghina'ku, sih?"

"Terserahlah yang penting kau mengerti atas pekerjaan ini."

"Baiklah, baiklah, aku mengerti."

"Nice!" Kaito menepuk-nepuk kepalaku. "Selanjutnya, Miki akan ditempatkan pintu A, Piko di sumber sekitar sumber daya C,..."

"...Kalian mengerti. Ini semua tergantung pada kita sekarang. Kita pasukan elite satu harus bisa mengalahkan cecunguk-cecunguk ini. Apapun yang terjadi. Kita. Harus. Menang!" Kaito mengakhiri penjelasannya dengan menekankan tiga kata yang paling terakhir diucapkan.

"Ha'i!" jawab kami kompak.

"Menurut kabar burung yang beredar, para Porthunts meningkatkan kemampuan mereka. Katanya, mereka tak terkalahkan. Jadi, siapkanlah mental kalian. Kita mengalami pertempuran tangan kosong melawan mereka."

'Lawan!'

"Sinyal sudah dikirim! Ayo kita jalankan misi!"

Kaito dengan cepat membuat Teleport Gate. Kami berlarian masuk ke dalam portal dan saling bertabrakan satu sama lain saat di dalam.

"Apa yang terjadi?" wajah Kaito telah dibanjiri keringat. Mata kanannya telah berubah merah dan ujung-ujung rambut berubah hitam.

"Jalan buntu, Kapten!" jawab Miki.

"Kalian semua mundur!" perintah Kaito. "Kalian lompati pintu itu dengan teleportasi kalian!"

"Bukankah itu cuma boleh digunakan saat melawan musuh? Melawan di jalan seperti ini hanya akan memancing musuh."

"Minggir!" Kaito menarik penghambat pemicu granat lalu melemparnya.

BUMMM! Dindingnya hancur. "Cepat masuk!" teriak Kaito. Dia melempar kita satu per satu dengan sebelah tangannya.

Ruangan ini gelap sekali. Kami bahkan tak bisa melihat satu sama lain. Kaito telah masuk dan menutup Teleportation Gatenya.

"Kalian menunggu apa lagi?! Ayo mulai bergerak! Kita tak bisa santai-santai disini!" Kaito berbicara dengan nada amarah lagi.

"Tapi kita tak bisa melihat apapun, Kapten!" Miki menjawab sambil meraba-raba daerah sekelilingnya (aku bisa tahu karena tadi aku berada tepat disamping Miki saat Teleportation Gate mau ditutup dan dia meraba wajahku).

"Melihatlah seperti kalian melihat Tirai Teleportasi," ucap Kaito sambil membuka Teleportation Gate untuk pergi ke sumber daya. "Ayo, yang kebagian daerah sumber daya ikut aku!"

Aku mengekor di belakang Kaito. Aku, Miki, Piko, dan Kaito tak bisa memecahkan suasana awkward ini. Semuanya saling mengunci mulut. Tak ada yang berani bicara. Salahku juga sih karena terlalu hobi mengobrol (kan orang lain) sampai mulut berbusa. Mungkin aku mengidap ADHD tanpa kusadari.

"Kau diam disini!" Kaito menyuruhku berjaga di depan sebuah pintu. Aku terlonjak sedikit. Kaget sumpah sama suara baritone Kaito.

"Mana Piko dan Miki?"

"Kau itu kemana saja, huh?" dia menjitakku.

Sepertinya aku kebanyakan bengong.

"Pokoknya berjaga disini! Awas kalau ada musuh lewat!" Kaito sepertinya mengancamku. "Jangan bengong!"

"Iya, iya, cerewet," jawabku malas-malasan. Kaito mengerang sebal sedikit lalu membuat Teleportation Gate dan pergi entah kemana.

.

.

.

Sepertinya Kaito tak bercanda. Begitu dia keluar, satu per satu Porthunt bermunculan. Mereka layaknya zombie. Aku meyerang mereka. Aku tak bawa senjata apapun. Tak ada pistol atau revolver. Tak ada pisau. Aku mencoba mengandalkan kemampuan bela diriku.

"Ciat!" teriakku sambil menendang Porthunt. "Huh, kapan beresnya?"

Aku memukul, meninju, menendang, menyikut, dan mengandalkan gerakan-gerakan Krav Maga mematikan. Aku rasa aku mulai kelelahan. Penglihatanku pun cuma disokong bantuan Mata Teleportasi.

Aku menyusut peluh yang membanjiri keningku dan berlari ala orang kesetan untuk menghindari Porthunts yang mirip seperti fans mengejar idolanya. Sayangnya, aku tak mau menjadi entertainer.

Seandainya aku punya senjata...

SWUUUSHHH! DOR!

Benda apapun itu tapi itu berhasil mengalahkan setidaknya 10 Porthunt.

Aku mencoba melihat siapa yang menembak torpedo mistis itu dan ternyata itu adalah si kembar Kagamine!

"Yo, Micchan!" sapa Len. "Sudah pandai pakai kekuatannya ya?"

"Len? Kau masih hidup?" aku langsung berlari menghambur kearahnya. Aku langsung memeluknya.

"Ugh! Le-lepaskan! Aku nggak napas!" ucapnya megap-megap. Aku melepas pelukanku dan langsung memasang wajah serius.

"Nanti saja nostalgiannya! Ayo bereskan cecunguk ini!" ucapku. "Kalian pasti bawa senjata,"

Rin mengeluarkan sebuah pisau. "Ah, aku cuma punya ini. Atlet krav maga pasti bisa menggunakannya dengan baik dan benar!"

Aku mengambil pisau tersebut dan langsung berteleportasi dengan cepat untuk membunuh para Porthunt itu.

.

.

.

Aku bersembunyi di balik punggung Rin dan Len mencoba menstabilkan napas. Wajahku sudah dibanjiri keringat dan rambutku mulai berlepasan dari gulungan. Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga. Rambut itu sudah terpotong beberapa centi. Aku melihat dari celah yang dibuat kaki Len dan Rin, para Porthunts mulai menyerang dan si kembar Kagamine mulai kewalahan. Aku berteleportasi kembali ke tengah-tengah Porthunts.

Aku mengeluarkan tendanganku yang langsung menyapu sepuluh Porthunt. Pada saat yang bersamaan mata kakiku digigit salah satu Porthunts. Aku mengerang kesakitan dan sempat jatuh. Aku bangkit kembali, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di sekujur kaki kananku dan berteleportasi. Belum sampai aku pada tujuan teleportasiku, aku menikam leher salah satu Porthunt. Tanganku sampai masuk ke dalam leher Porthunt itu.

Porthunt di sebelahku menarik kakiku dan nyaris menggigitnya kalau saja aku tak cepat untuk menendang dagunya sampai kepalanya menyentuh punggung. Aku menarik tanganku keluar dari leher Porthunts yang langsung memancarkan darah bak air terjun.

Semakin lama aku menghabisi Porthunt semakin lama otakku menetralisir keadaan. Aku mulai kehilangan arah bertarung. Belum lagi ada tetes keringat yang masuk ke mataku.

Bagaimana jika aku mencoba membuat Teleportation Gate?

Bukan ide buruk tapi hal buruk jika aku melakukannya.

Jika teleporter pemula seperti Kaito saja bisa melakukannya, kenapa kau tak bisa padahal kau adalah putri Ketua Teleporter.

Aku memang seorang Hatsune. Aku memang putri dari Ketua Teleporter..

Tapi aku bukanlah telepoter dengan kekuatan murni..

Kekuatanku adalah kekuatan bangkitan.

Aku akan mencobanya. Aku akan membuata Teleportation Gate.

Aku berteleportasi menuju ujung kerumunan Porthunts. Aku mengkonsentrasikan pikiranku. Aku membentuk bayangan portal itu. Aku membayangkan tujuan portal tersebut. Tanganku terangkat. Napasku bertambah cepat dan debar jantungku terus meningkat sampai-sampai dadaku terasa sakit. Listrik statis menguasai tubuhku. Listrik statis itu berkumpul menjadi lingkaran-lingkaran hitam yang terus membesar seiring aku mengeluarkan kekuatanku. Muncul sebuah kilatan dari tengah-tengah portal setengah jadi tersebut yang langsung menembus tanganku.

Penolakan?

Portal setengah jadi tersebut menghilang..

Aku mengatur napasku yang tak teratur.

Cuma buang-buang waktu, pikirku.

Kerumunan Porthunts itu melengang tapi masih terlalu banyak untuk dihitung menggunakan sekotak batang korek api.

Aku melempar pisauku ke tengah-tengah kerumunan. Aku memaksimalkan kekuatanku dan berteleportasi 0,0001 detik lebih cepat sebelum pisau tersebut berada di tengah kerumunan. Masih dalam posisi melayang, pisau tersebut kuambil dan aku tusukkan ke leher para Porthunts saat aku memutar badanku.

Aku menjatuhkan diriku begitu aku sadar aku tak sanggup lagi berputar.

Tenagaku nyaris terkuras habis. Badanku sudah lepek dengan keringat dan cairan hitam pekat yang merupakan darah para Porthunts. Kakiku bergetar hebat dan tanganku sulit digerakkan.

Tapi aku tahu hal yang masih dalam kondisi baik-baik saja..

Semangatku belum padam.

.

.

.

(Kaito POV)

.

.

.

Aku mencoba mencari kabel transparan yang mengikat sumber kekuatan Porthunts. Aku kesulitan mencarinya karena kabel itu melilit didalam kabel lainnya. Aliran daya kabel itupun seakan menyatu dengan aliran lainnya.

"Tak ada gunanya mencari kabel daya itu, idiot." ucap sebuah suara. Aku mulai menggunakan Mata Teleportasiku lagi.

"Tou-san? Mau apa kau kesini?!"

"Mau apa aku kesini?" Tou-san lalu tertawa lalu menyeringai. "Tentunya untuk membunuh anak pungut menyusahkan yang sudah membunuh istri dan anak perempuanku!"

Anak pungut katanya?

"Oh, jadi aku anak pungut kalian? Pantas saja," ucapku sambil memotong satu per satu kabel di belakangku dengan pisau bertarung.

"Pantas apa? Pantas saja kau tak ada mirip-miripnya dengan kami?"

CTEK! Aku memotong kabel terakhir.

"Pantas saja, kalau kekuatanku lebih kuat dari kalian," aku meneruskan kalimatku.

Tabung raksasa dengan cairan berwarna biru tua itu bergejolak. Seperti tabung pertama, tiga tabung di belakangnya pun ikut-ikutan bergejolak.

"Apa yang kau lakukan, sampah?!"

Kabut tebal yang selama ini membuat seluruh daerah perlahan-lahan menipis dan cahaya mulai kembali menerangi ruangan ini.

Sepertinya aku terlalu cepat berbicara.

Aura gelap dari tubuh Tou-san menggelapkan kembali ruangan ini.

"Jawab aku!" Tou-san berteriak sambil berjalan ke arahku. Dia lalu mencekik leherku dan menodongkan pisaunya ke leherku.

Aku menggerak tanganku perlahan ke saku celana di belakangku untuk meraih pisau belatiku. Aku berhasil mendapatkannya dan perlahan-lahan menggerakkan tanganku menuju perut Tou-san.

Tou-san belum menyadari aksiku. Aku menyiapkan tanganku untuk menusuknya sebelum aku mati dicekiknya.

Tou-san mencubit sedikit leherku lalu melepaskan tangannya.

"Matilah kau!" serunya lalu tertawa keras.

Sejurus kemudian, sesaat setelah Tou-san berseru mengharapkan kematianku, aku kesulitan bernapas. Aku jatuh berlutut sambil terus berusaha untuk bernapas.

Tidak. Aku tidak boleh mati disini.

"Tou-san..." ucapku lemah. Aku menarik pisauku lagi dan mencoba untuk berdiri.

"Ha, masih bisa berdiri rupanya!" ejeknya. "Tapi tak akan lama. Paling semenitan lagi. Hahaha..."

Aku mencengkram pisau dengan kedua tanganku dan berlari ke arah Tou-san. Aku mengarahkan pisauku ke perutnya dan...

JLEB! Aku berhasil menusuk perut Tou-san. Darah memancar dari perutnya dan membasahi tanganku. Aku melepas tusukan pisauku dari perut Tou-san. Tou-san memuntahkan darah dari mulutnya. Darah muntahan Tou-san mengenai seragamku.

Aku mulai kehilangan kendali atas tubuhku. Mata Teleportasi sudah tak bisa kuaktifkan lagi. Aku juga semakin sulit menyedot udara masuk ke hidungku untuk menggantikan udara paru-paruku. Aku takut otakku mengalami kerusakan karena kekurangan oksigen. Aku tidak mau mati disini.

"Ha.. ha... ha.. Hahahahahahahahaha!" tawa Tou-san terdengar kembali. "Kau pikir aku akan mati begitu saja? Disini pula? Hahahaha! Pikirkan lagi, sampah!"

PYARRRR! Tabung-tabung itu pecah dan memuntahkan cairannya. Cairan itu membasahi tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaku.

"AAARRRGGHHH!" teriakku kesakitan. Cairan itu serasa membakarku. Aku jatuh dengan posisi muka mencium lantai.

Cairan itu membanjiri lantai. Hanya itu yang bisa kurasakan. Aku tak bisa menggunakan mataku. Tak ada cahaya setitik pun, hanya ada kegelapan yang menutupi. Tanpa sengaja, aku menghirup cairan tersebut saat aku mencoba untuk menyedot napas. Cairan itu membuat kepalaku semakin sakit. Aku berusaha membalikkan badanku dan untungnya berhasil.

'Apa aku akan mati disini? Dalam keadaan mengenaskan seperti ini?' pikiran itu merasukiku dari tadi.

Tou-san menginjak leherku lumayan keras. Kuharap tak ada tulang yang patah.

"HUEK! UHUK! UHUK!" aku terbatuk sambil memegangi leherku yang sakit karena diinjak. Secara ajaib, aku mulai bisa bernapas lebih normal walaupun aku masih merasakan sakit ketika paru-paru berkontraksi nyaris normal.

"Uhuk.. Aku tak pernah mendidikmu sejak kau lahir, aku cukup kagum atas kepandaianmu mengolah kemampuan yang ditanam ibumu dan adikmu dan mengubur jiwa Porthunt-mu. Maka dari itu..." Tou-san menjeda kalimatnya. "Ayo bertarung! Kita lihat siapa yang paling kuat di antara kita!"

Akhirnya aku bisa mengaktifkan Mata Teleportasiku dan disaat yang bersamaan aku melihat Tou-san melemparkan pisau dan pisau tersebut menancap di lantai di sebelah telingaku kananku.

'Dia serius mau bertarung denganku?! Apa-apaan sih?!' jeritku dalam hati.

Aku mencabut pisau yang lantai dan melompat berdiri.

"Tou-san! Ini bukan bagian dari rencanamu, 'kan?!" tanyaku sambil membidik tangan Tou-san.

SYUUT! Aku melempar pisau tersebut dengan bantuan kekuatan teleportasiku namun sayangnya pisau tersebut melenceng dari arah tujuan. Sial. Sekarang aku tak punya senjata.

Tou-san mengarahkan pisaunya dan melemparnya tepat ke arah jantungku. Untung aku bisa langsung membaca situasi. Saat pisau itu tinggal beberapa senti lagi menuju dadaku, aku berteleportasi sambil menarik pisau tersebut.

"Haah.. haaah.. Posisi berbalik sekarang..." ucapku terengah-engah sambil mengunci leher Tou-san dari belakang dan menodongkan pisau tepat di atas nadi lehernya. Dia memotong kabel headset-ku. Terdengar suara noise yang membuat kepalaku semakin pusing.

"Tapi tak secepat itu, anak muda." jawabnya yang terkesan meledek padaku.

Rupanya Tou-san menyiapkan pisau lain dan nyaris menusuk perut sampingku. Aku langsung menghindar dan perutku tertusuk sedikit. Aku merasakan cairan merah kental berbau amis itu mulai mengalir dan menyentuh kulitku.

"Lumayan," aku berkata sambil memegang bekas luka tusuk. "Ayo kita lihat, siapa yang akan tertawa di akhir."

Aku melempar pisauku melewati telinga kiri Tou-san dan berteleportasi sebelum pisau tersebut jatuh ke tanah. Aku mengambil pisau yang masih dalam keadaan terbang karena kecepatanku saat melemparnya. Masih dalam keadaan teleportasi, aku menebas pisau ke arah leher Tou-san namun berhasil ditahan olehnya.

"Caramu busuk!" serunya sambil berbalik dan menyerangku. Aku menahan serangan pisaunya dan melucutinya. Pisaunya telah terlempar entah kemana.

"Rasanya aku yang akan menang," ucapku sambil terus menyudutkan Tou-san. "Sebelum aku membunuhmu, bagaimana kalau kau beritahu aku dimana sumbu utamanya?"

"Ha, pertanyaan bodoh. Bukankah kau mengetahuinya!"

"Aku tak tahu apapun tentang sumbu utama atau hal lainnya! Yang kutahu hanyalah, Kaa-san membenciku dan saat dia mati, dia memberikan kekuatan sialan ini padaku. Juga, kematian Kaiko karena depresi! Itu saja!"

Raut wajah Tou-san menunjukkan kekecewaan. "Haaah.. Kalau bergitu, hanya ibumu yang tahu. Aku tak tahu apa pun. Lagipula, kalau kau mencabut sumbu utama tersebut, kau akan menghancurkan seluruh Teleporter dan Porthunts," jelasnya. "Yang bisa kau lakukan saat ini adalah menghancurkan ujung-ujung kabel yang ada di dalam pecahan tabung itu."

"Baiklah," aku menyimpan pisau tersebut dalam saku belakang seragamku. "Aku akan cari bantuan."

Dia menarik tanganku. "Kau tidak akan membunuhku?"

Dia serius pengen mati apa? ucapku dalam hati.

"Huh, untuk apa? Buang-buang tenaga." jawabku singkat. "Lepaskan tanganku."

Tou-san melepas tanganku dan mengusap rambutku. "Selama ini aku telah... Ah, pokoknya aku minta maaf. Aku tak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Aku akan pergi."

Dalam sekejap, Tou-san pergi. Aku mengusap rambutku dan mengambil sesuatu yang ditaruh Tou-san di kepalaku. Sebuah gelang. Gelang ini, 'kan...

Aku berhenti mencoba mengingat sesuatu tentang gelang itu dan membuat Teleportation Gate. Aku kembali ke tempat terakhir aku meninggalkan Miku. Di sepanjang permukaan tanah terdapat selongsong peluru dengan ukuran besar.

"Hahahahahaha! Matilah kalian!" terdengar suara tawa keras dari sudut lain ruangan ini.

Aku berlari menuju datangnya sumber suara dan melihat Miku sedang bertarung ala laki-laki dengan bantuan kekutan Teleportasinya. Belum lagi si kembar Kagamine yang tertawa keras saat peluru-peluru senapan runduknya mengenai kepala para Porthunt.

Aku mengambil pisauku dan membantu Miku mengalahkan Porthunt.

"Baru pertama kali bertarung sendirian, 'ya?" ucapku dan Miku langsung menengok ke arahku.

"Kaito-kun!" serunya.

"Pinjam headset mu," pintaku.

Belum Miku menjawab aku menarik headsetnya dan memasangkan ke telingaku.

"Hei!" protes Miku. Dia berniat menjitakku tapi seekor-bukan-sebuah-seorang- Ah, persetan dengan sebutannya! Seorang Porthunt menyerangnya. Miku memberikan tendangan dengan tumitnya yang langsung mengenai leher Porthunt telak.

"Check, check, apa suaraku bisa kalian dengar?" tanyaku.

"Ha'i!" sahut semuanya.

"Kapten, kami mengalami kesulitan!" lapor Miki. "Semua Porthunt yang kutangani tak ada yang mati! Bagaimana ini?!"

"Kapten, izinkan saya untuk melapor!" suara Piko si shota pun ikut terdengar. "Setelah terjadi ledakan muncul cairan berwarna aneh yang membuat Porthunts mati di tempat. Mereka bagaikan cacing ditaburi detergen."

"Dimana posisimu?" jawabku.

"Sebelah utara ruangan sumber daya."

Aku membuat Teleportation Gate yang lumayan besar. Aku mengarahkan Teleportation Gate ke saluran pembuangan.

"Miku tarik perhatian! Masukkan semua Porthunts ke sini!" perintahku.

"Apa kau serius? Kau mau menghancurkan dirimu?" balas Miku.

"Kau mau melawan?!" bentakku.

Miku terperanjat kaget. Dia nampak ketakutan. Dia menatapku sebentar lalu berteleportasi menuju ujung kerumunan Porthunts.

'Cepatlah, Miku!' gumamku.

Tak lama kemudian, Porthuts berlarian masuk ke dalam Teleportation Gate. Di belakangnya si kembar Kagamine menunjukkan wajah horrornya. Di paling belakang, Miku si gadis berambut tosca, berjalan dengan aura hitam di belakangnya. Sorot matanya gelap. Rambutnya pun menjadi aneh. Ada aksen-aksen berwarna hitam di ujung-ujung kuncirannya.

Tak peduli pada tanganku yang mulai terasa sakit karena menahan arus Teleportation Gate, aku menahan tangan Rin yang begonya mau masuk ke dalam Teleportation Gate. Mentang-mentang ikut digiring Miku.

"Apa yang terjadi pada Miku?" tanyaku.

"Yang jelas kau membuatnya marah." jawab Rin.

"Ya, adikku benar." timpal Len sambil menyandangkan senjatanya.

Miku berhenti di depanku dan menatap mataku tajam. Kulihat Rin dan Len mengalihkan perhatiannya.

"Piko! Kau dengar aku! Cepatlah!" aku memanggil Piko dan dalam sedetik dia muncul. Ahoge di kepalanya hilang.

"Arigatou, Capten!" ucapnya sambil mengatur napasnya.

Aku menutup Teleportation Gate.

"Ano, Utatane-san?" Rin menepuk bahu Piko.

"Ne, Kagamine-san," Piko menengok ke arah Rin dan mata emeraldnya membulat sempurna saat melihat Len. "Kagamine-kun!"

"That's me!" jawab Len riang. "Stop, jangan pikir kalau aku ini zombie, roh, hantu, atau semacamnya. Aku. Masih. Hidup."

"Oh ya, Utatane-san. Ahoge-mu hilang." lanjut Rin.

"Nani?!" Piko terdengar shock.

Miku masih menatapku tajam. Aku tak tahan ditatap seperti itu oleh Miku. Aku memegang kedua bahu Miku.

"Maafkan aku karena telah membentakmu," ucapku salah tingkah. "Maafkan aku, oke? Jangan tatap aku seperti itu.. Mi-Miku-chan."

Sorot matanya kembali terang. Ada air mata di sudut-sudut matanya. Dia langsung memelukku. Aura hitam di belakang tubuhnya hilang.

"A-ano, Mi-Miku?" aku tambah salah tingkah. Rin dan Len cengengesan sementara Piko mengelus-elus kepala atasnya.

"Miku?" panggilku. "Kenapa tak kita bereskan dulu misi kita lalu bicara soal ini-itu nanti?"

Miku melepas pelukannya dan mengusap air matanya. "Oke!"

"Siapa diantara kalian berempat yang bisa telepati?" tanyaku mengatur rencana baru.

"Kurasa aku masih bisa melakukannya." jawab Len.

"Kalau begitu, tolong kau bantu aku untuk memanggil 8 teleporter lain untuk masuk ke sini."

"Tapi tak ada pintu disini!" seru Piko.

"Oh ya, suruh mereka untuk mengalirkan kekuatan teleportasi mereka agar aku bisa membukakan Teleportation Gate untuk mereka." tambahku.

"Dimengerti, Kapten!"

Len memejamkan kedua matanya. Dia berkonsentrasi penuh.

"Nah, sekarang ayo pikirkan bagaimana cara mengalirkan cairan aneh yang dilihat Piko ke Porthunt yang lain,"

"Aku ada rencana," Miku angkat bicara

"..." Miku menyampaikan rencananya.

"Baiklah, aku setuju. Kalian berdua, bagaimana?" aku menyetujui rencana Miku.

"Aku sih setuju. Kagamine-san?" Piko menyetujui rencana Miku lalu balik bertanya pada Rin.

"Aku setuju."

"Tapi ini membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Belum lagi, kita membutuhkan benda dari dunia nyata." lanjut Miku.

"Kau bisa serahkan itu padaku," aku membuka sebuah Teleportation Gate menuju dunia nyata. Teleportation Gate-ku masuk ke dalam sebuah supermarket.

"Rin-san, bisa kau bantu aku?" panggilku.

"Tentu. Apa yang bisa kubantu?"

"Kau dari kelompok T-citruser adalah orang dengan kekuatan Telekinesis. Bisakah kau-"

"Stop. Tak perlu dilanjutkan lagi. Aku sudah tahu maksudmu," Rin memotong ucapanku. Kedua alisnya terangkat dan dia menyeringai.

Dia berdiri di depan Teleportation Gate.

Muncul kilatan-kilatan yang langsung menyambar kedua tanganku. Nyaris saja, aku kehilangan konsentrasiku karena rasa nyeri luar biasa di sekujur tangan kananku.

"Rin-san.. cepatlah sedi..kit.." ucapku sambil meringis.

"Aku sudah mendapatkan selangnya!" seru Rin lalu menjauh dari Teleportation Gate.

Kilatan-kilatan itu berhenti melukai tanganku. Aku menutup Teleportation Gate dan aku merasa telah kehilangan tangan kananku.

Tangan kananku mati rasa dan tak dapat digerakkan. Mungkin kilatan-kilatan Teleportation Gate itu telah memotong syaraf-syaraf pada tangan kananku. Kilatan-kilatan itu akan muncul sebagai tanda kalau dia menolak apa yang akan diteleportasikannya.

"Kapten, mereka semua sudah mengirim sinyal!" lapor Piko. "Kapten, kau baik-baik saja?"

Dia menatap ngeri tangan kananku yang dibanjiri darah.

"Minggir," ucapku pada Piko. Piko menepi. Aku menelan ludahku. Aku mengonsentrasikan pikiranku. Aku mengangkat tangan kananku. Aku menon-aktifkan Mata Teleportasiku.

Aliran tenaga kedelapan teleporter itu kuubah menjadi semacam kabel transparan yang melilit tanganku. Aku mengalirkan energi teleportasiku untuk menarik teleporter tanpa bantuan portal.

Efek-efek cahaya berwarna biru kehitaman itu menyelimuti kabel transparan. Perlahan-lahan mereka kutarik.

Aku mengerang kesakitan. Rasa sakit luar biasa ini membuat kepalaku nyeri luar biasa. Jantungku berdegup kencang. Rasa takut dan sakit bergabung menjadi satu.

"Kaito! Hentikan!" teriak Miku tapi tak berani menyentuhku. Miku mengalihkan pandangannya pada Piko. "Utatane-san, apa kita tak bisa menghentikan Kaito?!"

Piko menggeleng. "Sulit."

Aku menarik seluruh aliran tenaga para teleporter. Teleporter itu keluar dan akhirnya berkumpul bersama kami.

Aku terbatuk sampai-sampai muntah darah. Tangan kananku mengeluarkan darah dari ujung-ujung jarinya.

Aku terjatuh dan kepalaku menghantam tembok. Napasku menderu cepat dan jantungku berdetak kencang sekali sampai-sampai dadaku terasa sakit. Aku mencoba mengaktifkan Mata Teleportasiku tapi tak bisa. Aku tak bisa mendengar apapun.

Apa mungkin aku mati?

.

.

.

Kabut-kabut itu meghilang. Perlahan aku bisa melihat kembali, meskipun samar-samar.

Sepertinya Miku berhasil menjalankan rencananya. Rencana untuk menyedot semua cairan tabung dari ruang kendali Porthunts dan mengumpulkan semua Porthunts di ruang sumber daya lalu menyemprot mereka dengan cairan itu.

Selang yang tadi 'dipinjam' dari supermarket sudah tak berbentuk dan sisa cairan kental berwarna ungu yang membasahi lantai dan baju mereka. Tumpukan Porthunts diujung tembok merupakan bukti bahwa mereka berhasil memusnahkan Porthunts.

Miku, Rin, Len, Piko, Miki dan delapan teleporter sisanya tergolek di lantai. Wajah mereka pucat semua. Aku menyeret diriku untuk memeriksa keadaan mereka.

'Syukurlah, mereka cuma pingsan.' ucapku dalam hati. Aku harus menuntaskan misiku.

Aku memaksakan diriku untuk membuat Teleportation Gate untuk terakhir kalinya. Aku kembali ke tempat aku dan Tou-san bertarung. Aku terbatuk lagi dan muntah darah lagi.

Kekuatanku dan tubuhku mulai melakukan penolakan.

Aku merasakan gejolak menyakitkan pada mata kiriku. Kuharap efek menakutkan dari seringnya membuat Teleportation Gate tak terjadi pada mataku.

Aku mengambil sebuah granat di saku senjata Piko. Aku melepas pemicunya dan melemparnya ke sisa tabung itu. Buru-buru aku menutup Teleportation Gate lalu tak lama kemudian terdengar suara ledakan.

Mata semakin terasa sakit. Aku merasakan mata kiriku semakin membengkak terus membengkak layaknya balon ditiup.

Aku memegang bola mataku yangs sudah keluar dari kelopaknya saking besarnya. Titik air mata dari sudut mata kananku terus berjatuhan saking kuatnya nyeri yang kurasakan. Darah terus keluar dari mataku sampai menutupi setengah wajahku.

"AAAARRRRGGHHHH!" erangku tak kuat menahan sakit sampai aku kehilangan keseimbanganku dan terjatuh.

Layaknya balon yang terlalu ditiup pula, bola mataku pun pecah. Ledakan kecil itu begitu menyakitkan. Cipratan darah dari mataku menciprati teman-temanku. Aku sudah tak kuat menahan sakitku.

Tamat sudah perjuanganku bersamaan dengan habisnya kesadaranku.

'Hatsune-san? Bisa dengar aku? Hatsune-san?' terdengar suara Kapten Yuuma.

Aku tak bisa menjawab apapun. Rasanya otakku tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Pandangan semakin berputar dan aku pun terhanyut dalam gelapnya alam bawah sadarku..

.

.

.

.

.

[SKIP TIME...

3 WEEKS LATER]

(Miku POV)

.

.

.

Aku meniup napasku sampai membuat poniku melayang ke atas lalu jatuh kembali. Langit gelap di atasku bertabur bintang dan sang dewi malam pun bersinar. Malam yang terang di musim dingin. Aku menghembuskan napasku lewat mulut, menciptakan kabut putih tipis yang langsung menyatu dengan udara. Aku berdecih lagi.

'Bocah itu cuma bawa sial,' ucapan Gakupo-senpai saat aku menunggui Kaito di UKS beberapa hari lalu kembali teringat dan terus berputar-putar di kepalaku bagaikan kaset rusak.

Seseorang menyentuh bahuku. Secara reflek aku mencengkram tangan tersebut, mengumpulkan kekuatan pada tangan kanan dan menarik orang tersebut sampai melewati bahuku (dengan kata lain dibanting tapi tidak ke lantai tapi keluar dari teralis besi di tempatku berdiri (aku berada di balkon)).

"HUWAAA... MIKU NAIKIN AKU! NAIKIN! KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?!"

Itu 'kan suara Len!

Aku melihat ke arah orang yang tangannya belum kulepaskan itu. Ternyata dia beneran Len.

Aku menariknya sekuat tenaga sampai kakiku menginjak besi-besi teralis yang satu sama lain dipisahkan oleh jarak dua centimeter tersebut.

BRUK! Aku dan Len mencium keramik lantai. Kepalaku terbentur lantai dan Len terlempar hampir melewati tirai besar yang memisahkan balkon dan dance hall.

Aku bangkit dan menepuk-nepuk bahuku dari debu dan membantu Len.

"Hehehe, sorry 'ya, Len." ucapku sambil cengengesan.

"Malah cengengesan lagi, sakit tahu!" keluhnya.

"Ye, aku sudah minta maaf!"

Rin pun datang dari balik tirai. Dia membawa tiga gelas minuman. Dia memberi kami masing-masing segelas minuman berwarna kuning terang itu.

"Aku tak bisa menemukan minuman berwarna hijau apalagi jus negi," kata Rin saat menyodorkanku gelas tersebut. Aku mengambil gelas tersebut dan menyesapnya pelan-pelan. Sudah kuduga ini pasti minuman ini level keasamannya tinggi. Aku menyipitkan mataku saking asamnya.

"Adawww!" Len mengaduh kesakitan. Aku melihat kearah si kembar Kagamine. Ternyata menepuk-nepuk (kasar dan beringas) pantat Len yang banyak debu.

"Kamu ini kayak anak kecil aja, baru ditinggal semenit buat cari minuman kamu udah seloyoran di lantai! Malu-maluin tahu!" ucap Rin ala ibu-ibu. Aku sweatdrop.

"Ampun, Hime-sama! Ampuunnn!" kata Len sambil melindungi pantatnya. Aku menarik Rin untuk berhenti menghajar pantat Len.

"Jangan gitu sama kembaran sendiri." ucapku.

"Habis..."

"Sudah.. dia memang kayak anak kecil kok..."

"Aku udah 15 tahun!" jerit Len biasa-biasa.

Rin mengelus kunciran rambutku yang kini tinggal sepundak.

"Selalu ada kekuatan dibalik kelembutan," kata Len layaknya seorang narator salah satu iklan shampoo yang lagi happening itu.

"Err, kita nggak lagi promosi lho.." Rin tersadar.

"Kalian sih make akting-aktingan kayak gitu!"

"Kamu juga ngapain seloyoran di lantai waktu aku nggak ada?"

"Berarti kalau ada kamu, aku boleh seloyoran? Fine,"

Len baru saja bersiap untuk seloyoran tapi niatnya batal ketika kabel di otaknya mulai terpasang lagi.

"Eeehhh? Aku ngapain? Rin, sejak kapan kau jadi Mind Controller?!"

Rin menyikut perutku. "Mind Controller itu apaan?"

"Pengendali pikiran." jawabku.

"Mind Controller? Pengendali pikiran? Len, jangan asal tuduh kamu! Mau kugebuk lagi?!"

Len menutupi pantatnya dan menggeleng cepat ketakutan.

"Udah ah, main dramanya," aku menengahi mereka lagi. "Aku tadi tak sengaja melempar Len keluar teralis terus aku tarik dia balik dan akhirnya dia terlempar untuk menyapu lantai."

"Ngomong dari tadi kek," keluh Len sambil melonggarkan dasinya dan menyandarkan badannya pada teralis.

Angin berhembus, memainkan rambut-rambut kami dan menggelitik pori-pori kulit kami. Rin mengigil sebentar dan Len menyampirkan jasnya untuk sang adik kembar.

"Arigatou," kata Rin sambil tersenyum.

"Itulah gunanya kakak," jawab Len sambil balas tersenyum.

"Buh, bete deh!" keluhku.

"Kenapa?" tanya Len dan Rin bersamaan.

"Kalian adik-kakak kembar itu akur banget, saling mengerti. Bukannya kayak abangku," aku mengintip Mikuo-nii yang asik berdansa dengan Neru dari celah tirai pemisah. "Kerjaannya pacaran mulu!"

Len dan Rin terkikik sementara aku terus mengerucutkan bibirku.

"Oh ya, aku mau tanya. Kenapa kau ada disini, Miku? Kenapa nggak ikut dansa? Padahal banyak cowok nganggur disana." tanya Len.

"Siapa sih yang mau dansa dengan cewek semacam aku?"

Siapa sih yang mau dansa dengan cewek yang pergi ke pesta kemenangan perang dengan dress selutut berwarna tosca dan flat shoes berwarna putih. Rambutku pun sudah dipotong. Dulu jika rambutku diikat twintail ujung kunciranku bisa mencapai lutut, sekarang ujung kunciranku hanya mencapai bahu.

"Kaito-kun mungkin mau," celetuk Rin yang langsung membuat wajahku memanas.

"Hehehe, Miku panas tuh!"

"U-urusai!" aku mengalihkan pandanganku pada jalanan di bawah.

"Mengenai Kaito," Len melirikku sebentar, "Bagaimana keadaannya?"

Ah, pikiranku terusik lagi. Padahal kupikir dengan datangnya si kembar Kagamine akan mengusir pikiran tentang pemuda berambut biru itu. Hal itulah yang sebenarnya membuatku daritadi berdiri berpikir di balkon ini.

"Keadaannya parah." jawabku singkat sambil mencengkram gelas di tanganku.

CRAK! Gelas itu retak karena tekanan yang diberikan jari-jariku. Rin hendak mengambil gelas itu tapi terlambat, aku keburu memecahkannya dengan kelima jari tangan kananku. Air mataku menetes, titik demi titik sampai akhirnya berubah deras. Pecahan-pecahan kaca bening gelas sudah berjatuhan ke tanah.

Rin membopongku menuju bangku dan mengusap bahuku, mencoba untuk menenangkanku.

"Aku sudah dengar tentang hal itu," bisik Rin. "Itu bukan kesalahan Kaito."

"Tapi.. dia telah membunuh ayahku. Dia membunuhnya!"

"Kaito juga bermaksud baik. Dua tahun lalu, setelah kepergian ibunya, Kaito ditanamkan kekuatan spiritual dari ibunya. Belum juga Kaito mengerti akan kekuatannya dia sudah dilibatkan dalam perang hebat seperti tiga minggu lalu. Di tengah-tengah perang kau diculik dan sebagai gantinya ayahmu harus memberikan jantungnya pada Porthunts. Saat itu prajurit yang tersisa hanyalah Kaito. Ayahmu menginginkan Kaito membunuhnya. Dia bukan membunuh ayahmu tapi ayahmu ingin mengakhiri hidupnya karena dia harus melindungimu," Rin mencoba menjelaskan apa yang telah dijelas oleh Kaa-san tiga perempat jam yang lalu. "Lihat apa yang telah dilakukan oleh ayahmu. Dia membuatkan semacam anti-virus untuk menangkal Porthunts, 'kan? Dia membuatkanmu Power Seeds untuk membangkitkan kekuatanmu, 'kan? Ayahmu mengakhiri hidupnya untuk melindungimu, untuk membuatmu bahagia."

"Meskipun Kaito menjadi korban salah paham." tambah Len yang kini duduk di sebelah kiriku.

Mendengar penjelasan Rin dan Len membuatku tangisku semakin menjadi-jadi.

Tou-san mengakhiri hidupnya dua tahun lalu untuk melindungiku sementara yang aku dengar dua tahun lalu adalah Kaito yang membunuh Tou-san. Untuk beberapa saat, aku benar-benar melupakan Tou-san. Tetapi saat Kaa-san sedang melihat foto keluarga kami, aku ingat soal Kaito. Aku ingat soal Kaito yang katanya membunuh ayahku. Kaa-san menceritakan kejadian yang sebenarnya tapi aku seakan menolak cerita tersebut. Aku sudah terlalu termakan oleh cerita bohong Kaa-san.

'Kaa-san menceritakan cerita yang sebenarnya. Maaf karena telah membohongimu. Mungkin sudah saat kau menghapus tirai kebencianmu pada Kaito-kun. Dia anak yang baik. Dia tidak membencimu justru melindungimu dari serangan-serangan Porthunts. Miku mau memaafkan Kaa-san karena telah membohongi Miku, 'kan?'

Aku mengingat kalimat yang diucapkan Kaa-san lusa kemarin.

Aku terus menangis. Aku memeluk Rin dan menumpahkan air mataku di bahunya yang kecil.

"Tenangkan dirimu, Miku." bujuk Rin sambil mengusap-usap punggungku.

"A-aku selama.. ini terma..kan o-omongan orang.. lain. Aku telah membiar-kan.. diriku me.. me... m.. mupuk rasa kebencian pada Kaito. Aku selama ini.. me-mencoba mengikutinya.. aku ingin tahu apa ke-kelemahannya.. agar a..ku bisa.. me... m.. bunuhnya. A-agar aku bi-sa me.. mbalas kematian Tou-san. Selama ini aku terus berpura-pura. Ber-tingkah.. seakan-akan.. aku tak benci pada Kaito.. Ta-tanpa sadar a-aku pikir aku menyukainya.." aku mengeluarkan semua isi hatiku. Isi hati yang membuatku nangis bombay seperti ini.

"Jadi, kau ingin mengetahui bocah teleport yang satu itu untuk balas dendam?"

Aku mengangguk lemah.

"Tanpa tahu cerita yang sesungguhnya?"

Kalimat itu bagaikan anak panah yang berhasil mengenai sasaran.

Aku membalas pertanyaan itu dengan sebuah anggukan kecil.

"Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan?" tanyaku sambil menatap Rin dan Len bergantian.

"Cobalah untuk menghapus kebencianmu pada Kaito," kata Rin. Aku berganti menatap Len.

"Dan buat kau menjadi teman terbaiknya." lanjut Len.

"Kalau dipikir-pikir, kasus kematian ayahmu ini bisa disamakan dengan kasus kematian pura-pura Len." sambung Rin.

"Ng?"

"Ingat kalau beberapa bulan terakhir Len dikabarkan mati karena dibunuh Kaito?"

Rin bertanya padaku.

Dia langsung menyambung kalimatnya. "Len hanya tidak ingin membuatku membencimu karena Len telah membagikan kekuatannya untuk menyelamatkan nyawamu. Meskipun pada akhirnya Len mengarang cerita. Cerita yang menceritakan seakan-akan Len benar-benar terbunuh oleh Kaito.

Rin mengharapkan respon dariku.

"Len tidak mati melainkan sedang menjalani pemulihan di dunia Psychic dan ibuku bilang bahwa Len mati dibunuh oleh Kaito padahal kenyataannya abang shota kesayanganku ini masih ada!" nada bicara Rin mengejek Len.

Len mencubit Rin pelan karena menyebutnya 'shota'. Aku tersenyum sedikit.

Aku mengusap air mataku dan mencoba kembali tersenyum untuk membangun kembali moodku yang sempat runtuh.

Kaito cuma korban salah paham.

Cuma itu. Tidak lebih, tidak kurang. Dia hanya melindungi sesuatu yang membuat dirinya semakin dikucilkan.

Dia selalu melindungiku...

.

Aku ingin mengetahuinya...

Aku ingin mengetahui orang dengan kekuatan yang sama denganku itu..

Akhirnya aku mengetahui satu hal...

Aku merasa kalau aku menyukainya, menyukai pria dengan kemampuan yang sama denganku itu...

.

.

.

.

.

.

The End.

Author Note :

Gyaaaaa, gyaaa, gyaaa... (teriak-teriak sambil meluk Valen)

Aku menyelesaikan chapter ini saat H-6 UN! Uh, doki-doki rasanya menghadapi Ujian Hidup -eh salah!- Ujian Nasional. Doa'in author supaya bisa lulus dan dapet nilai terbaik.

Author lagi punya project untuk membuat sequel fic ini.

Apa readers sekalian mau? Jawab di kolom review ya!

A/N : Walaupun chapter terakhir, nggak ada salahnya Review 'kan? Walaupun fic ini sempat ngaret selama setengah tahun-an.

Review, please?

.

.

.

.

.

.

.

With tears and proud,

Shintaro Arisa-chan, out.