- "KAGAMI!" Aomine yang mengejar Kagami dengan cepat sambil mengulurkan tangannya itu panik sekali. "BAKAGAMI! KAU MAU LARI-LARI PAKE KOLOR KODOK ITU HAH?!"
Kagami tergelak, lalu ia berhenti sejenak melihat tubuhnya sendiri yang setengah telanjang itu. Ia melihat sekitar, dan ternyata benar dugaannya, orang-orang di sekitarnya melihat Kagami dengan pandangan 'ih, dia orang gila ya?'
Aomine yang akhirnya berhasil mengejar Kagami, berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "Hos, hos. BODOH!" Teriak Aomine tepat di telinga Kagami. Lalu, Kagami mengusap-usap telinganya yang kepanasan itu karena teriakan Aomine.
Mereka berdiam sejenak, Aomine melepaskan jaketnya lalu melemparkan jaket tersebut kepada Kagami. "Pakai ini" Kata Aomine dengan wajah khawatir. Aomine menggenggam tangan Kagami, lalu memaksanya untuk kembali ke rumah. Kagami yang sudah setengah telanjang itu, mau tidak mau mengikuti kemauan Aomine kali ini.
Mereka bergandengan tangan sampai di rumah Kagami tanpa memperdulikan sekitar, apakah mereka dianggap homo ataupun dianggap sebagai orang gila ataupun orang mabuk.
Sesampainya di rumah Kagami, mereka hanya berdiam saja tanpa berbicara sepatah kata apa pun. Aomine dan Kagami sejujurnya bingung untuk memulai sebuah pembicaraan.
"Ao-" "Kaga-" Panggil salah satu dari mereka secara bersamaan sambil menoleh satu sama lain. Keadaan mereka sekarang adalah mereka berdua duduk di sofa dengan meja kecil didepan, tetapi mereka berdua duduk di saling dua pojokan. Jarak sekitar 39,7 centimeter.
"Kau mulai duluan" Kata Kagami memulai.
"Kau saja" Kata Aomine menimpali.
"Kau saja-"
"Aku bilang kau saja!"
"kau!"
"KAU!"
- 20 menit kemudian -
Mereka berdiam sejenak untuk mengambil nafas sehabis bertengkar hebat untuk menentukan siapa yang berbicara dahulu.
"Aomine" Kata Kagami memulai.
"Hn?" Tanya Aomine singkat.
"Ernn-" Kagami diam sebentar, bingung bagaimana untuk memulai pembicaraan sulit ini.
"Apa?" Tanya Aomine sambil melirik Kagami yang kebingungan.
"Kau-" Kagami berhenti berkata lagi. "Kau- cemburu jika aku dekat-dekat dengan Kuroko kan?"
Aomine tergelak, wajahnya memerah sekilas. Tapi dengan sikap yang sok jagonya itu, ia menjawab dengan sok angkuh "Iya"
"Kalau begitu maaf-" Kata Kagami dengan wajah yang terlihat sangat menyesal samnbil menunduk. Ia ingin menangis, ternyata Aomine benar-benar menyukai Kuroko sampai begitu dalamnya.
Aomine menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, mengeluarkan nafas dengan berat. "Kau benar-benar salah paham"
"Hah? Salah paham?"
"Iya"
"Apanya yang salah paham, kemarin aku hanya mengelus rambut Kuroko sedikit, dan kau langsung menggebrak meja kayak gitu. Padahal-padahal, aku hanya ingin memujinya sedikit. Dan kau langsung seperti itu, aku otomatis langsung pergi. Padahal- aku sangat senang bisa ngomong bersama denganmu, aku senang setiap hari bisa ketemu. Padahal, kau tiap hari bertemu dengan ku bukan dengan Kuroko, tapi kau tetap menyukainya, padahal akulah yang lebih menyukaimu- EH MAKSUDKU BUKAN, ITU-" Celoteh Kagami dengan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas.
Aomine langsung menoleh kearah Kagami dengan kaget "kAGA-"
"BUKAN, SERIUS. MAKSUDKU KUROKO JUGA MENYUKAIMU, IYA ITU MAKSUDKU!" Kata Kagami gagap untuk mencari alasan yang tepat.
Kagami yang sudah tak tahu apalagi yang terjadi, ia berusaha untuk lari lagi. Tapi setidaknya kali ini ia memakai baju.
"Tunggu, Kagami!" Aomine langsung menggenggam tangan Kagami yang akan kabur seperti tikus itu.
Kagami berhenti, memang. Tapi ia tak melihat ataupun menengok kepada Aomine sama sekali. "Aku.. aku sama sekali tidak beranggapan seperti itu padamu, ini salah paham. Kau seharusnya kembali ke Kuroko atau dia akan kesepian.." Katanya merintih.
"Kagami, dengarkan aku" Kata Aomine sambil menggenggam tangan Kagami agar tidak kabur. "Kau benar ini salah paham"
"Nah, kan? Kau, kau seharusnya kembali.." Kata Kagami menimpali.
"Bukan begitu, bodoh!" Sentak Aomine kepada Kagami, sampai-sampai Kagami tergelak sekilas dengan sedikit air mata yang tersisa di matanya.
"Kau yang bodoh, Ahomine! Triple super duper bodoh, bodoh, bodoh!" Teriak Kagami sambil berusaha menarik tangannya kembali.
"Aku bilang dengarkan aku dulu, bodoh!" Sentak Aomine sekali lagi, menarik tangan Kagami kembali. "Kau memang bodoh, untuk diajak berbicara"
"Kau lebih bodoh.." Rintih Kagami, tak berteriak kali ini.
"Oke, sekarang diam dan dengarkan aku berbicara" Kata Aomine mulai tenang.
Kagami diam saja, menandakan ia kali ini memberikan kesempatan kepada Aomine untuk berbicara.
"Jadi sekarang aku tanya. Kau tak ada perasaan apa-apa kepada Tetsu?" Tanya Aomine untuk memulai.
"Tidak, aku tidak akan menyentuh Kuroko -mu itu" Jawab Kagami kesal.
"Hahhh" Aomine menghembuskan nafas dengan berat. "Yang kusukai bukanlah Tetsu tapi seseorang yang tiap hari menungguku dan menemaniku makan selesai aku makan, kau tahu itu siapa?"
Kagami tergelak, ia masih tidak percaya apa yang dikatakan Aomine barusan. "O-oh, teman SMP-mu kan? Kuroko memang anak yang baik ya, haha-"
"Jangan mengganti pembicaraan" Kata Aomine serius. Kagami pun diam, tak berbicara lagi. "Aku waktu itu marah memang karena melihatmu berbicara dengan Tetsu lebih lembut daripada denganku, dan terlebih lagi kau mengelus kepalanya seakan dia penting bagimu"
Kagami masih tetap diam, tak berbicara apa-apa.
"Aku marah, karena merasa Tetsu lebih penting bagimu daripada diriku. Terlebih lagi kau menganggapku sikapku waktu itu karena aku menyukai Tetsu, aku benar-benar marah, dan capek menghadapi sifat egoismu yang gak nanggung-nanggung itu. Jadi, intinya kupikir kau menyukai Tetsu.." Kata Aomine menjelaskan.
Kagami diam, tapi setetes demi setetes air matanya mulai bercucuran, ia sendiri tak dapat menyangka ia dapat menangis seperti ini. Padahal biasanya ia menangis karena film-film yang mengharukan.
Tapi kali ini, kejadian ini, lebih mengharukan daripada film-film tersebut.
"Kau-kau tidak bohong, kan?" Tanyanya merintih sekali "Kau tak ada perasaan apapun kepada Kuroko?"
"Buat apa aku bohong, bodoh. Dan dengan singkat jelas, jawabannya TIDAK. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih" Kata Aomine dengan senyuman yang lembut, bukan senyuman neraka pocong seperti biasanya jika ia di pertandingan. "Hei, Kagami. Kau masih tidak mau menoleh?"
Kagami masih diam saja, menjawab dengan gelengan kepala.
Aomine mendekatkan wajahnya ke telinga Kagami, berbisik "Apa aku harus memaksamu, Taiga~?"
Kagami tergelak, wajahnya langsung memerah sampai telinganya. Badan Kagami bergetar sedikit, perlahan-lahan ia menoleh ke Aomine dengan wajah yang menggoda (?) [ Maaf astaga asdfghjkl ]
"Sial!" Aomine langsung mendorong tubuh Kagami di tembok, lalu dengan paksa bibir Aomine menyentuh bibir Kagami. "Kenapa kau begitu- rhh!"
Aomine dan Kagami melanjutkan sampai tahap selanjutnya.
- pippppppp - (sensor)
Esoknya
"Jadi, kalian berdua sudah jadi?" Tanya Kuroko kepada Kagami dan Aomine. "Kalian berdua memang pasangan bodoh" Kata Kuroko dengan wajah datarnya seperti biasa sambil menghembuskan nafas dengan berat.
"Be- begitulah" Kata Aomine dan Kagami secara bersamaan dengan menggaruk kepalanya.
"Ku-rokocchi-!" Teriak Kise dari jauh. "Ahhh, Aominecchi, Kagamicchi, kalian sudah jadi ?"
"Kenapa kau tahu?!" Tanya Aomine kaget.
"Tentu saja! Karena kami berdua-!" Sebelum Kise melanjutkan kata-katanya, Kuroko memghantam wajah Kise.
"Kise-kun, kau terlalu banyak bicara" Kata Kuroko.
Kise menyeringai dengan wajah nakalnya yang jarang ia tunjukkan kepada orang-orang. Perlahan, Kise mendekatkan wajahnya ke telinga Kuroko "Apa kau serius, Tetsu-ya-cchi~?"
Kuroko tergelak sekilas, wajahnya memerah, tapi dengan refleks ia menggerakkan sikutnya ke perut Kise. "Aaauh- Kurokocchi, kau jahat!"
"Kise-kun, ayo kita pergi" Kata Kuroko sambil menarik tanga Kise dengan wajah yang kesal.
"Eehh-! Kurokocchi, kau ingin mengajakku ke hotel?" Tanya Kise dengan semangat setelah mereka sudah jauh dari Aomine dan Kagami.
Aomine dan Kagami yang tak mengerti keadaan mereka, dan apa yang terjadi hanya melongo dari jauh. Mereka menatap satu sama lain.
"Apa kita harus pergi juga?" Tanya Aomine kepada Kagami.
"Tentu saja, Ahomine. Bodoh" Jawab Kagami dengan nada kesal.
"Apa kau bilang?! KAU YANG BODOH!"
"KAU YANG BODOH!"
Mereka berteriak di jalan sambil memaki satu sama lain sekitar 10 menit 54 detik, tetapi keadaan ini berbeda dari biasanya. Mereka akan memulai segalanya dari sini.
- End -
AKHIRNYAA SELESAI BANSAI!
Aaaaahh, aku lega akhirnya selesai astaga. Tapi aku lega juga certanya bisa berakhir dengan baik juga sih.
Tapi maaf ya kalau ceritanya agak kecepetan atau ada salah kata. Soalnya, biasanya aku kalau ngebuat cerita mesti kecepetan- hhe
Teruss, aku mau melanjutkan ini. Jadi aku mau ngebuat Sequel nya buat cerita ini
Jadi, aku mohon check fileku ya buat yang membaca ini. Tapi aku masih gatau kapan akan merilisnya, jadi kalau ada yang mau, nanti reviewnya ditulis biar suatu saat kalau sudah rilis aku bisa ngasih tahu kalian.
Intinya? Tentu saja tentang salah paham antara Aomine dan Kagami lagi /ketawa nista/
Judulnya: Misunderstanding Love 2
Namanya aja sequel. Udah ya, sampai disini dulu. Jangan lupa reviewnya, dan jangan lupa yang mau suatu saat diinformasiin sekalian review juga, makasihh!
