Disclaimer: Baik Naruto maupun cerita ini, bukan milikku T-T

Trims buat yang udah review.. Salam kenal juga buat semuanya :) maaf chapternya pendek2. Karena waktu tuk bisa ngerjainnya juga pendek. Cuma bisa di malam hari soalnya siang kerja. Dan mumpung lagi libur 2 hari jd bisa update kilat. Untuk selanjutnya mungkin cuma bisa seminggu sekali..

Aih curhat deh! okeh! Langsung saja ke main story!

Oh iya, karena Temari dan Gaara bukan saudara disini, Temari tdk ada nama keluarga, dan umurnya juga lebih muda dari Gaara. Temari seumuran Sakura, lebih tua 1 tahun dari Hinata.

.

.

.

Chapter 4: Obsesi

"Apa semua sudah siap?" tanya Ino dengan suara keras. "Kita akan berangkat ke airport sepuluh menit lagi!"

"Aku siap." sahut Hinata, membawa dompet hitam kecil. "Aku suka Paris, tapi aku juga tidak sabar kembali ke Konoha. Aku merasa tidak aman disini semenjak hari itu..."

Ino memegang pundak Hinata agar ia nyaman. "Semua akan baik-baik saja. Kata mereka Tuan Sabaku sangat ahli dalam profesinya. Aku juga sudah mengecek referensinya. Dia benar-benar sangat direkomendasikan."

Hinata mengangguk. "Aku tau, tapi...well, it just scary..."

"Ga usah takut!" suara Naruto terdengar dibelakangnya. "Sudah kubilang aku akan melindungimu."

Hinata tersenyum padanya. "Iya..."

Temari keluar dari kamarnya, menghela nafas berat. "Konoha SAAAANGAT membosankan... Aku tidak sabar sampai kita pergi lagi untuk pengambilan gambar di Hawai..."

"Oh, iya ya," gumam Hinata.

"Pengambilan gambar?" sebuah suara dingin terdengar dari arah pintu.

Hinata menengok dan melihat bodyguard-nya, yang memakai kemeja berwarna biru gelap, dan celana berwarna hitam. Anehnya meski rambutnya acak-acakan, tapi pas banget dengan wajahnya. Meski Hinata ga habis pikir kenapa dia memilih dahinya untuk ditato. Kan bisa-bisa wajahnya yang bagus itu bisa jadi jelek. Dan lagi-lagi anehnya tato di dahinya itu justru menyempurnakan raut wajahnya. Mata hijaunya yang teduh menatap Hinata tajam, menunggu jawaban gadis itu.

"Kita ada pengambilan gambar untuk sebuah majalah yang akan terbit minggu depan," jawab Hinata. "Kita akan berada di Hawai selama seminggu."

Gaara mengangguk singkat, beralih ke Ino. "Kapan kau berencana akan memberitahukan aku hal ini?"

Ino terlihat sedikit malu. "Dengan semua kejadian ini, kurasa aku lupa soal perjalanan tersebut sampai Temari menyebutkannya tadi..."

"Begitu," sahut Gaara datar. "Berapa lama kita tinggal di Konoha?"

"Tiga hari," jawab Ino. "Kemudian kita berangkat ke Hawai, kemudian USA."

Gaara mengangguk sekali lagi. "Sebaiknya kita segera ke airport."

"Tentu!" kata Ino. "Aku akan menelpon mereka agar datang untuk mengangkat koper-koper."

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukkan pelan.

"Pasti itu bellhop-nya!" sahut Ino, segera membukakan pintu. Matanya melebar kaget saat dilihatnya tidak ada siapa-siapa dan koridornya sepi. "Ap-"

Gadis pirang itu mulai melangkah keluar menuju koridor, namun terhenti saat sepatunya menyandung sesuatu. Menengok kebawah, dia melihat sebuah kotak kecil tergeletak di lantai di depannya.

"Apa ini?" katanya nyaring, berjongkok untuk memungutnya.

"Jangan sentuh!" Sebuah suara bernada memerintah terdengar dari belakangnya.

Ino membeku di tempat, tangannya hanya tinggal beberapa inchi dari kotak tersebut.

"Biarkan aku memeriksanya dulu." ucap Gaara, jongkok disampingnya.

Ino mengangguk, wajahnya pucat begitu ia mundur perlahan menjauhi kotak tersebut, sadar kalau benda itu bisa saja sesuatu yang berbahaya.

Hinata datang menghampiri dan berdiri disamping Ino, tangannya memegangi dadanya dengan gugup. Semua orang di ruangan itu terdiam saat Gaara dengan hati-hati memungut kotak tersebut. Dia menatapnya waspada, membungkuk dan menempelkan telinganya pada benda itu untuk beberapa saat.

Beberapa detik kemudian, dia bangun dari jongkok dan mengeluarkan pocketknife dari sakunya. Dipotongnya isolasi yang merekat pada kotak dengan cepat dan membuka tutupnya perlahan.

Hinata menahan nafas saat si bodyguard mengintip kedalam kotak, ekspresi wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Saat Hinata mulai tidak tahan dengan ketegangan tersebut, ia menghampiri pria itu. "Ap-apa isinya?"

Gaara menatap Hinata sekilas. "Gambar-gambar... Dan sebuah amplop."

"Gambar?" kata Hinata bingung, kemudian berdiri disampingnya dan mengintip ke bawah. "Ya Tuhan..."

Kotak itu berisi gambar-gambar dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang hitam putih dan juga berwarna.

Hinata jongkok disamping Gaara, memungut sebuah foto. "Ini aku saat berumur lima belas tahun...di sebuah konser...dan yang ini saat berumur tujuh belas..."

Hinata merasa tubuhnya keram seketika saat dia membolak balik gambar foto-foto tersebut. Kebanyakan adalah gambarnya, tapi ada juga gambar yang lainnya. Ada gambar Ino dan Temari, Hanabi, Sakura, Naruto... Bahkan ada foto Gaara dan dirinya, yang pastinya baru diambil beberapa hari yang lalu.

"Apa ini?" tanyanya, menjatuhkan foto-foto tersebut kembali ke dalam kotak. "Apa INI?"

Gaara membuka amplop tersebut dengan pisaunya. Ia menarik keluar secarik kertas yg terlipat di dalamnya.

Matanya menyusuri tulisan di kertas tersebut dengan cepat, ekspresinya tidak berubah. Tiba-tiba dia berdiri, "Ayo kita pergi sekarang."

"Apa isinya?" tanya Hinata masih dengan posisi jongkok. "Katakan padaku..."

Gaara menatapnya untuk beberapa saat sebelum menyodorkan surat itu.

Hyuuga Hinata,

Foto-foto ini adalah hadiah dariku untukmu. Aku punya banyak copy-nya. Aku sangat menikmatinya ketika aku memeluk dan menciummu. Segera kau akan mati dan aku akan memelukmu selamanya. Tak seorangpun yang bisa melindungimu dariku. Bahkan si Sabaku itu... Tak seorangpun... Aku akan membawamu dan memilikimu... Akan kuisi semua hasratmu... Cuma soal waktu... Segera aku akan mendapatkanmu, my love... Jangan takut, aku segera datang...

Hinata terbelalak membaca kata-kata dalam surat itu, dibacanya ulang, lagi dan lagi.

"Kita harus pergi sekarang," kata Gaara tegas. "Kita bisa ketinggalan pesawat. Aku ingin kita segera keluar dari Paris sesegera mungkin."

Ino mengangguk, membantu Hinata untuk menariknya berdiri. "Come on, dear. Berikan kertas itu padaku."

Dia menarik surat tersebut dari jari-jari Hinata yang lemas.

"Dia sudah mengawasiku selama bertahun-tahun..." bisik Hinata saat para bellhop akhirnya memasuki ruangan dan mulai mengangkut koper-koper mereka. "Sejak aku masih lima belas tahun... Atau mungkin sebelumnya lagi..."

"Shh..semuanya akan baik-baik saja," Ino berusaha menenangkannya, tangan Ino memapah bahu Hinata dan mereka berjalan mengikuti Gaara dan Naruto yang berjalan di depan.

Gaara memegangi kotak berisikan foto dan gambar-gambar tersebut dengan casual selagi mereka menunggu di depan pintu lift. "Ini mungkin berisi bukti," katanya pada Ino saat pintu lift terbuka tanpa suara. "Aku akan menyuruh mereka menelitinya saat kita tiba di Konoha."

Ino mengangguk.

Saat pintu terbuka di lantai satu, mata Temari terbelalak kaget karena dia melihat pria berambut hitam dikuncir ke atas yang datang bersama Gaara itu hari sedang berdiri bersandar di pilar terdekat.

"Langsung menuju pintu keluar," instruksi Gaara pelan. "Aku harus bicara dengan rekanku."

"Sedang apa dia di sini?" tanya Ino. "Kirain dia sudah pergi."

Gaara menggelengkan kepala. "Dia akan terbang bersama kita ke Konoha. Sebelumnya dia punya urusan di Paris, jadi dia tinggal selama beberapa hari."

"Akan kusiapkan mobilnya," sahut Naruto sambil berlalu.

Hinata berdiri di dekat pintu yang bisa berputar sambil memperhatikan Gaara dan Shikamaru, sementara Temari menggosok-gosok lengannya untuk membuatnya merasa nyaman.

"Kita akan segera pulang," ucap Temari lembut.

Gaara terlihat menggelengkan kepala pada sesuatu yang disampaikan Shikamaru. Dia menunjuk kotak yang dipegangnya kemudian menunjuk lift. Expresi Shikamaru tidak pernah berubah selagi mereka berbicara. Shikamaru cuma mengangguk sesekali, dan berbicara sedikit.

Akhirnya Gaara berpaling dan berjalan menghampiri grup kecil mereka, Shikamaru mengikutinya dari belakang.

"Miss Temari," kata Gaara saat dia sampai. "Apa kau tidak keberatan naik mobil dibelakang kita yang dikendarai Shikamaru? Karena mobilnya terlalu penuh jika semuanya naik mobil itu, dan kurasa Miss Hyuuga perlu berbaring.

Dengan semangat Temari menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum, uh..., senang. "Sama sekali tak masalah buatku."

.

.

.

"So," kata Temari begitu dia duduk dikursi penumpang disamping mobil. "Bagaimana kabarmu hari ini?"

Gadis itu melirik pria disampingnya. Baginya profil pria tersebut merupakan pahatan yang sempurna. Ia mengambil kesempatan untuk mengaguminya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya ke depan.

"Baik," jawab Shikamaru setelah beberapa saat. "Dan kau sendiri?"

"Mengkhawatirkan temanku," balas Temari. Agak terkejut pria itu mau merespon. "Seluruh peristiwa ini cukup menakutkan..."

"Kau tidak khawatir pada dirimu sendiri?" tanya Shikamaru dengan suara datar.

Temari menggelengkan kepalanya, tersenyum. "Aku tidak seterkenal atau secantik Hinata... Tak seorangpun yang mungkin akan pernah terobsesi padaku..."

Pria itu tidak berkomentar, mengikuti mobil didepannya yang dikemudikan oleh Naruto dan lainnya.

"Apa...kau sudah menikah?"

Pertanyaan Temari itu membuat Shikamaru menoleh kearahnya seketika, ekspresinya agak terkejut.

"Belum."

"Pacar?"

Shikamaru menggelengkan kepala, pandangannya lurus ke depan.

"Berapa umurmu?" tanya Temari saat pria itu tetap diam.

"Dua puluh dua."

Temari hampir memutar bola matanya. Caranya menjawab terlalu cepat, membuatnya merasa tidak didukung untuk terus melanjutkan obrolan mereka. Bukannya apa. Mestinya kan pria itu balas menanyakan hal yang sama tentang kehidupan pribadi Temari.

"Umurku dua puluh," Temari menginformasikannya. "Dua puluh satu bulan depan."

Gadis itu lalu tersenyum sendiri. **I'm legal...**

"Apa kau tinggal di Konoha?" tanyanya lagi ketika pria itu tidak berkomentar.

Shikamaru mengangguk.

"Sudah berapa lama kenal tuan Sabaku?"

"Lima tahun." jawabnya datar.

"Apa kalian berteman?"

"Kadang-kadang."

Temari menghela nafas. **Bagaimana caranya aku bisa mengenal dia kalau dia tidak mau bicara kecuali aku yang bertanya?**

"Kau mau aku tutup mulut?" Temari bertanya, sedikit merasa takut akan respon pria itu. "Apa aku mengganggumu?"

"Tidak," balas Shikamaru sambil menoleh cepat ke arah Temari. "Kau tidak menganggu."

Temari mengangkat bahu. "Tapi sepertinya aku memang menganggumu..."

"Kau tidak mengganggu."

"Baiklah!," kata Temari, tersenyum. "Kalau begitu aku akan terus bertanya sampai aku tahu semua tentangmu..."

Sekali lagi pria itu menoleh ke arahnya. "Kenapa kau ingin tahu semua tentangku, miss Temari?"

Temari menyengir lebar sementara pipinya merona, tapi dengan jujur ia menjawab, "Karena aku tertarik padamu Tuan Nara... Dan aku berharap kita berdua bisa saling mengenal lebih baik..."

.

.

.

To be continue...

Mohon maaf chap selanjutnya agak lama ntar updatenya, soalnya suamiku besok pulang dari lokasi. Tapi Insya Allah paling lama 2 minggu chapter 5 keluar. Abis itu selanjutnya ku update seminggu sekali.

Terima kasih buat yang suka dan udh mau review. Baca review bikin semangat update! ^^ pdhl pas kemarin2 masih jd reader aku juga males review fic2 yang udh kubaca :/