SUMMER BREEZE
[REMAKE; Novel by Orizuka]
CHAPTER 3
KAI – SEHUN
Kai; Sehun; Chanyeol; Luhan; Kris
GS/Gender Switch
Malam ini, semuanya sudah berkumpul di ruang makan. Makanan yang disuguhkan benar-benar spesial. Jongin sampai bingung sendiri karna meja makan mereka tiba-tiba penuh sesak dengan gurami goreng tepung, capcay, dan sapo tahu.
"Jadi, kamu mau sampe kapan di sini?" tanya Chanyeol kepada Sehun.
"Oh, kamu nyuruh aku pulang ya?" Sehun pura-pura merajuk. Chanyeol, Ayah, dan Ibu tertawa.
"Nggak, aku sih pengennya kamu di sini terus, nggak pulang ke Amerika lagi," kata Chanyeol jujur.
"Aduh, kalau gitu nggak bisa," kata Sehun. "Aku harus balik lagi ke Amerika sekitar tiga mingguan lagi."
"Tiga minggu aja nggak cukup," Chanyeol berkata dengan wajah serius. "Harusnya kamu tinggal di sini."
Sehun tertawa renyah. "Yah, pengennya juga gitu," katanya sambil melirik Jongin yang tampaknya sama sekali tidak tertarik akan pembicaraan mereka.
"Jong, kamu kok diem aja. Nggak kangen sama Sehun?" tanya Ibu, membuat Jongin hampir saja tersedak tahu Jepang.
"Biasa aja," jawab Jongin sambil meraih gelasnya dan minum banyak-banyak. Sejak itu, Sehun tidak lagi tersenyum selama makan malam. Chanyeol berhenti makan, lalu menatap Jongin lekat-lekat, bertanya-tanya apa yang membuatnya tampak sinis seperti biasa di saat ada Sehun di sini, bersama mereka. Tidak mungkin Jongin sudah begitu saja melupakan Sehun. Setelah selesai makan, Sehun dan Chanyeol mengobrol di gazebo. Jongin memilih untuk menonton TV, tidak ingin melihat Sehun dan Chanyeol berdua.
Jongin menyandarkan kepalanya di bantalan sofa. Terlalu banyak yang terjadi hari ini dan entah kenapa Jongin tidak mampu menghadapinya. Ini bukan Chanyeol. Ini bukan Ayah. Ini bukan Kris atau siapa pun itu. Ini Sehun. Gadis yang selalu ada dalam mimpinya.
Sehun menatap ke sekeliling ruangan kamar Jongin. Entah mengapa, semua ini, poster-posternya, suasananya yang gelap, udaranya yang dingin, membuat Sehun tenang. Sehun merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Ini tempat tidur Jongin. Setiap hari Jongin tidur di sini. Mungkin hal ini yang membuatnya merasa nyaman.
Sehun mencoba memejamkan mata, tapi yang terbayang olehnya adalah saat makan malam tadi. Jongin sama sekali tidak memandangnya, tidak juga mencuri pandang. Sepertinya, Jongin sudah sama sekali melupakannya. Saat Sehun baru datang tadi, Jongin bahkan tidak mau menjabat tangannya. Sehun membalikkan badannya, lalu sebutir air mata jatuh dari matanya. Sebenarnya, Jongin lah satu-satunya alasan Sehun datang kembali ke Indonesia. Tapi bahkan alasan itu tidak mengharapkan kedatangannya.
.
.
.
Pagi ini, Jongin terbangun dengan perasaan hampa. Dia berharap kedatangan Sehun hanya mimpi, tapi wangi tubuh gadis itu ada di mana-mana di rumahnya. Jongin bangkit, mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi. Dia membasuh kepalanya dengan air, berharap air itu bisa menghapus bayangan Sehun di otaknya. Jongin menengadahkan kepalanya, membiarkan air yang dingin dari shower jatuh tepat ke wajahnya. 'Tanggal 14 Februari 2015, kita ke sini lagi, terus kita baca deh surat-surat kita!' Jongin menghajar tembok di depannya keras-keras sampai buku-buku jarinya terasa nyeri.
Setelah selesai mandi, Jongin segera melangkah menuju kamarnya, sejenak lupa bahwa ada sesosok gadis yang tidur di sana. Dia baru teringat setelah membuka pintunya dengan berisik dan mendapati Sehun sedang berbaring di tempat tidurnya. Jongin menghela napas. Dia sudah terlanjur masuk, lagi pula semua baju-bajunya ada di kamarnya. Tak lama lagi Jongin harus berangkat kuliah. Jongin melangkah hati-hati ke dalam kamar menuju lemari pakaiannya yang terletak tepat di samping ranjang. Jongin tak bisa menahan godaan untuk tidak menoleh. Sehun terlihat sangat manis saat tertidur. Rambutnya yang lembut menutupi sebagian wajahnya. Ingin rasanya Jongin membelai kepala gadis itu, menyibak rambutnya supaya wajahnya yang cantik itu tidak tertutupi...
Detik berikutnya, Jongin tersentak. Dia tidak boleh membiarkan fantasinya terus berkeliaran. Jongin segera membuka lemari dan mengambil acak sebuah t-shirt hitam.
"Jong?" kata Sehun, ternyata terbangun oleh suara deritan lemari. Jongin menoleh kaget, tapi segera menenangkan perasaannya dengan memalingkan muka dan membuka kausnya. Sehun menatapnya takjub.
"Baju aku semua di sini," Jongin menjelaskan sambil melempar kaus kotornya ke seberang ruangan, yang masuk tepat ke dalam keranjang baju kotor.
"Oh," gumam Sehun sambil duduk bersandar lalu mengawasi Jongin yang mengenakan kaus baru. Jongin merasakan tatapan itu, tapi sebisa mungkin mengacuhkannya.
Sehun tiba-tiba terkikik. "Jong, kamu tau nggak, kalau ada orang yang masuk sekarang, dia bisa aja salah paham."
Jongin menoleh, mencari tahu maksud kata-kata Sehun, lalu detik berikutnya paham. Keadaan di mana Jongin sedang berganti baju dan Sehun sedang duduk di ranjang dengan selimut menutupinya, benar-benar seperti adegan kalau mereka baru menghabiskan malam bersama atau apa. Jongin membuang muka, lalu membanting pintu lemari pakaiannya.
"Nggak ada yang akan salah paham," kata Jongin sambil menyambar ranselnya, menyurukkan buku-buku yang dipilihnya secara acak, lalu berderap ke luar kamar. Sehun menatap sedih punggung Jongin yang menghilang di balik pintu.
"Aduh, buku apa sih yang kebawa?" gumam Jongin kesal setelah sampai di kampus.
Ternyata, tadi dia membawa novel Dave Pelzer hadiah dari Luhan setahun yang lalu. Hadiah yang ironis, menurut Jongin. Dia benar-benar kesusahan membacanya, bahkan hanya prolognya.
"Berat-beratin aja," gumam Jongin lagi sambil menyurukkannya kembali ke dalam ransel. Jongin menundukkan kepala, lalu memegangnya dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut sangat hebat saat memikirkan kejadian tadi pagi. Wajah Sehun begitu cantik, bahkan saat dia baru bangun tidur. Jongin tak mengira Sehun akan menjadi gadis secantik itu dalam tempo sepuluh tahun. Dulu, Sehun sangat culun dengan dua gigi depan besarnya dan kepang dua. Jongin hampir saja tertawa kalau tidak ingat gadis itu sekarang ada di rumahnya. Semua ini terasa seperti keajaiban. Jongin tak pernah mengharapkan kedatangannya lagi, semenjak dia menyerah setelah menunggu selama sepuluh tahun.
.
.
.
"Jong? Kamu kenapa? Sakit?" seru Luhan yang datang tiba-tiba. Jongin mendongakkan kepalanya. Jongin menggeleng tanpa menatap Luhan. Sudah cukup parah sakit kepalanya, tak perlu ditambah dengan kehadiran Luhan segala. Luhan menatap Jongin yang bergeming, menghela napas, lalu duduk di sebelahnya.
"Kamu masih marah, Jong?" tanya Luhan sambil menatap Jongin lekat-lekat. Jongin tak membalasnya.
"Udah deh, kamu nggak usak deket-deket aku lagi. Terakhir kali kamu ada di deket aku, aku udah mukul banyak orang," kata Jongin ketus, tanpa memedulikan mata Luhan yang membelalak.
"Apa? Kamu diserang orang, Jong? Di mana? Kapan? Sama siapa?" tanyanya histeris.
Jongin menatapnya sebal. "Kamu nggak usah pura-pura nggak tau, deh. Kamu tau kan, fans kamu yang cinta mati sama kamu itu paling nggak bisa kalah?" Luhan terpekur.
Kris. Pasti anak itu. Dia terus mengejar-ngejar Luhan semenjak mereka putus dan tahu bahwa Luhan memiliki hubungan dengan Chanyeol. Kris menolak menyerah saat tahu Luhan sudah putus dengan Chanyeol dan malah menyukai Jongin.
"Jong, apa salah aku kalau dia suka sama aku? Emangnya aku mau? Aku juga nggak mau, Jong!" sahut Luhan. Jongin terdiam. Memang bukan kesalahan Luhan, tapi Jongin sudah terlanjur menganggapnya demikian. Kalau saja dulu Luhan tidak memilih Chanyeol sehingga membuat Kris merasa tersaingi, tidak akan begini jadinya. Jongin meyakini ini sebagai sebuah karma.
"Kamu tau? Ada satu hal yang bisa bikin kejadian itu nggak terulang lagi. Kamu jauh-jauh dari aku," kata Jongin dingin, lalu bangkit dan meninggalkan Luhan.
.
.
.
Chanyeol memasukkan bola basketnya ke loker sambil bersiul. Hari ini dia tidak akan latihan. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membolos latihan sesering mungkin selama Sehun di Indonesia. Chanyeol tak ingin membuang waktu sedetik pun. Sudah cukup lama waktu terbuang, dan sekarang, Chanyeol ingin menebusnya.
"Yeol, ntar jam tiga, ya!" seru Lay, teman setimnya.
"Wah, sori, aku nggak bisa," kata Chanyeol, gagal menyembunyikan senyum lebar-nya.
"Ntar-ntar aku juga bakalan jarang latihan. Ada hal yang lebih penting." Lay mengernyitkan dahi.
"Kamu becanda, kan? Bentar lagi ada turnamen, Yeol! Kamu mau tempat kamu digantiin sama Kris?"
"Masa bodo," tukas Chanyeol sambil menutup lokernya. "Masih banyak turnamen lain. Yang ini, aku udah nunggu selama sepuluh tahun. Aku nggak akan ninggalin dia cuma gara-gara turnamen."
"Apaan sih? Sampe kamu bisa-bisanya nyerahin posisi kamu buat Kris?"
"Seseorang," Chanyeol kembali tersenyum membayangkan Sehun. "Seseorang yang lebih berharga dari apa pun juga di dunia ini. Bahkan medali MVP." Lay hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Chanyeol yang sekarang telah menerawang jauh dengan ekspresi bahagia.
.
.
.
"Sini Sehun bantu, Tante." Sehun mengambil bawang lalu mulai mengupasnya. Di sampingnya, Tante Yonna sedang memasak makanan untuk makan malam.
"Wah, bisa ngupas bawang, Hun?" tanya Tante Yonna, Ibu dari Chanyeol dan Jongin.
"Ya bisa lah, Tante. Dalemnya kan masih orang Indonesia," jawab Sehun, membuat Tante Yonna tertawa.
"Bahasa Indonesia kamu juga bagus banget. Padahal waktu kamu pindah ke Amerika kan masih kecil," kata Tante Yonna.
"Aku selama di rumah selalu pake bahasa Indonesia, Tante," jelas Sehun. "Lagian, temenku yang juga orang Indonesia di sana banyak, tapi kebanyakan udah pada kuliah." Tante Yonna mengangguk-angguk mengerti. Selama beberapa menit kemudian, mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Namun akhirnya, Sehun tidak tahan untuk tidak bertanya tentang Jongin. "Tante, Jongin kuliahnya di jurusan apa?" tanya Sehun, merasa Jongin tidak akan menjawab jika dia menanyakannya langsung.
"Eh?" Yonna Tante menghentikan kegiatan mengaduk sayur, berusaha mengingat-ingat.
"Ng... di mana ya? Tante kok lupa? Kalau nggak salah sih di Teknik Industri... ato apa yah? Itu sih si Chanyeol..." Sehun bengong mendengar jawaban polos Yonna Tante.
"Jadi?" tanya Sehun lagi setelah beberapa lama menunggu.
"Ng... Tante lupa, Hun. Dulu pas mau masuk kuliah, dia sendiri bingung milih apa sampai kita jadi nggak tau lagi. Ntar tanyain aja sama anaknya langsung, yah?" katanya, lalu kembali mengaduk sayur.
Sehun semakin bingung. Kenapa Yonna Tante sampai tidak tahu anaknya kuliah di mana? Tapi Sehun tidak ambil pusing. Mungkin saja Yonna Tante memang lupa.
"Terus, anaknya emang nggak suka ngomong, ya?" tanya Sehun lagi. "Perasaan dulu nggak segitunya."
"Emang, dari kecil tabiatnya emang kayak begitu. Tepatnya sih, setelah kamu pindah," kata Yonna Tante lagi. "Kamu dijudesin ya? Maklumin aja ya, dia emang bandel." Sehun terdiam sesaat. Ternyata Jongin sudah berubah menjadi orang yang dingin. Dulu, Jongin memang tidak banyak bicara, tapi itu kepada semua orang kecuali Sehun. Dulu Sehun adalah orang yang paling sering diajak bicara oleh Jongin. Entah kenapa, sekarang Jongin terkesan menjauhi Sehun, padahal Sehun sangat merindukan Jongin. "Dia itu nakal banget, doyan berkelahi," kata Tante Yonna lagi, wajahnya mengeruh. "Waktu SMP sama SMA, dia nggak satu sekolah sama Chanyeol." Sehun berhenti mengupas bawang lalu menatap Tante Yonna.
"Nggak pernah satu sekolah? Kenapa?"
"Sebenernya Tante masukin dia di sekolah yang sama dengan Chanyeol, tapi dia selalu dikeluarin," Tante Yonna tersenyum getir. "Kerjaannya berantem melulu. Semua anak pernah ngerasain bogem mentahnya. Masuk BP sampe berpuluh-puluh kali. Sempet mau nggak naik kelas karna keseringan bolos, tapi setelah Tante ngelobi pihak sekolah, dia akhirnya bisa naik kelas. Tante sampe terharu waktu sekolah nyatain Jongin lulus SMA. Habis, rapotnya banyakan merahnya." Sehun ikut tersenyum mendengar Tante Yonna bercerita. Sehun tahu Jongin memang lemah dalam pelajaran, tapi tak menyangka akan pindah sekolah sebanyak itu.
"Jongin telat setahun masuk kuliah, soalnya Chanyeol ikut kelas akselerasi," kata Tante Yonna lagi, membuat Sehun tertegun. "Atau lebih tepatnya, Chanyeol lebih cepat setahun." Jongin masuk kuliah setahun setelah Chanyeol. Sehun tak pernah tahu. Kenyataannya, Sehun tak tahu apa pun tentang Jongin lagi.
.
.
.
"Hun." Chanyeol menepuk bahu Sehun, lalu duduk di sebelahnya. Tadi sepulang kuliah, Chanyeol melihat gadis itu sedang duduk sendirian di gazebo.
"Hei," balas Sehun sambil tersenyum. "Aku kirain Jongin." Senyumnya segera menghilang dari wajah Chanyeol, tapi detik berikutnya muncul lagi.
"Emang segitu miripnya ya?" Sehun hanya menghela napas. Betapa dia sangat mengharapkan yang tadi datang dan menyapanya adalah Jongin.
"Jongin belum pulang kuliah ya?" tanya Sehun lagi. Chanyeol menatap Sehun lekat-lekat, bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan Jongin sehingga membuat Sehun sedih seperti ini.
"Udah biasa dia hari gini belum pulang. Ntar pulang-pulang kalau nggak mabok, pasti bonyok," kata Chanyeol, membuat raut wajah Sehun seketika menjadi khawatir.
"Becanda kok," ralat Chanyeol. "Paling lagi latihan nge-band." Mata Sehun membulat.
"Nge-band?"
"Iya, dia punya band. Ancur sih, cuma dia nggak mau ngakuin. Udah deh, dari tadi nanyain Jongin mulu. Yang laen!" Chanyeol menyenggol bahu Sehun dengan bahunya.
Sehun tersenyum lemah. "Abis, dia kayak yang udah ngelupain aku, yeol. Aku kan jadi sedih." Chanyeol menatap Sehun lagi. Gadis ini dari dulu memang lebih memerhatikan Jongin daripada Chanyeol, dan Chanyeol tak pernah mau hal itu terjadi lagi. Jongin tak layak untuk mendapatkan perhatian Sehun. Jongin sudah memutuskan untuk melupakan Sehun, sedangkan Chanyeol tak pernah berhenti memikirkannya.
"Dulu pas kita ketemu di internet, aku udah bilang sama dia, tapi dia cuek aja," kata Chanyeol. "Dan dia juga nggak pernah nyebut-nyebut nama kamu lagi selama sepuluh taun ini." Chanyeol sebenarnya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Jongin, tapi Jongin memang melakukan semua itu. Chanyeol juga tidak mengerti kenapa Jongin melakukannya.
Bagi Chanyeol, Sehun adalah seseorang yang sangat penting, tapi ternyata tidak begitu menurut Jongin. Sehun menggigit bibirnya, menahan tangis.
"Oh, gitu," katanya pelan.
"Sori," Chanyeol merengkuh tubuh Sehun yang mungil. "Aku nggak bermaksud ngomong kayak gitu. Tapi nggak ada yang bisa ngerti Jongin. Nggak ada seorang pun yang tau apa alasannya ngelupain kamu."
Setelah mendengar kata-kata Chanyeol, Sehun merasakan air mata jatuh di pipinya. Jongin ternyata telah benar-benar melupakannya. Sehun mendengus miris. Kenapa juga Jongin harus mengingatnya. Sehun waktu itu hanyalah gadis jelek berkepang dua. Dia dan Chanyeol tidak tahu bahwa sudah beberapa saat, Jongin mengawasi mereka berdua dari dalam rumah. Kaleng Pepsi remuk di tangannya, menumpahkan isinya ke segala arah.
.
.
.
JONGIN mengisap rokoknya dalam-dalam sampai dadanya terasa sesak, lalu mengembuskannya keras-keras. Dibenturkannya bagian belakang kepalanya ke pohon sehingga terasa sakit, lalu dia menengadah ke langit. Tadi, setelah melihat Sehun dan Chanyeol bersama di gazebo, Jongin segera berjalan kalap keluar rumah tanpa memedulikan teriakan Ayah, lalu akhirnya sampai di tempat ini, taman tempat Jongin, Sehun, dan Chanyeol berjanji sepuluh tahun lalu.
Jongin juga tidak tahu mengapa kakinya membawanya ke tempat ini. Jongin berjongkok, bersandar pada pohon yang bertuliskan 'Jongin-Sehun-Chanyeol', lalu mengisap rokok lagi. Chanyeol. Dia selalu saja mengambil apa pun milik Jongin. Ayah dan Ibu. Semua pemberian Ayah dan Ibu. Luhan. Juga Sehun. Jongin mendengus keras. Sehun. Gadis itu bukan milik Jongin. Gadis itu mungkin saja sudah menjadi milik Chanyeol. Seperti semuanya, Chanyeol tidak akan melepaskan begitu saja Sehun yang pernah menjadi bagian dari hidup Jongin. Masih menjadi bagian dari hidup Jongin. Jongin membenturkan kepalanya lagi dengan lebih keras ke pohon untuk menyingkirkan pikirannya barusan. Sehun sudah keluar dari hidupnya sejak sepuluh tahun yang lalu, sejak Sehun memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Sehun sudah tak ada baginya. Saat ini, yang ada di rumahnya hanyalah gadis biasa yang akan menjadi kekasih Chanyeol.
"Jongin?" Jongin menundukkan kepala, melihat siapa yang memanggilnya. Sebenarnya, Jongin tak perlu melakukannya, karna dia sudah tahu dari suaranya. Sehun. Berdiri tepat di depan Jongin dengan kedua tangan di depan dada. Jongin mendengus melihat gadis itu, yang lebih terlihat defensif daripada kedinginan.
"Ngapain kamu di sini? Kenapa nggak pulang?" tanya Sehun cemas.
"Kamu bukan istri aku," jawab Jongin spontan, lalu detik berikutnya menyesal telah berkata sesuatu yang akan menjadi fantasinya seumur hidup. Sehun menatap Jongin sedih. Jongin sekarang sudah tak bisa dikenalinya lagi. Sehun mengawasi Jongin yang kembali mengisap rokoknya.
"Rokok nggak bagus lho, buat kesehatan," kata Sehun.
"Nggak ada yang peduli sama kesehatan aku," tukas Jongin. Bahkan Jongin sendiri tak peduli pada kesehatannya.
"Aku peduli," kata Sehun tiba-tiba, membuat Jongin selama beberapa saat merasakan perhatian yang tak pernah didapatkannya. Namun detik berikutnya, Jongin mendengus.
"Kayak aku percaya," kata Jongin datar.
"Kenapa kamu nggak percaya?" tanya Sehun. Jongin memandang Sehun tak percaya.
"Kenapa aku nggak percaya? Pertanyaan bagus. Akting yang bagus," Jongin bangkit dan menghampiri Sehun, lalu melewatinya.
"Jong," Sehun memegang tangan Jongin. Darah Jongin berdesir, dan detak jantungnya mengalami percepatan gila-gilaan. "Aku peduli sama kamu."
"Simpen perhatian kamu buat Chanyeol," sergah Jongin. "Aku udah terbiasa nggak dikasih perhatian." Saat Jongin melangkah menjauh, Sehun merasa sesak napas. Sehun tidak mau Jongin pergi. Sehun sudah menunggu saat yang tepat untuk berdua saja dengan Jongin.
"Apa kamu udah ngelupain aku?" sahut Sehun membuat langkah Jongin terhenti. "Aku harus denger dari mulut kamu sendiri. Aku nggak percaya sama orang lain! Aku percaya sama kamu!" Pasti Chanyeol yang sudah memberitahu Sehun bahwa Jongin sudah melupakan Sehun.
"Chanyeol bener. Aku udah ngelupain kamu. Kamu pikir, aku bakal inget kamu terus selama sepuluh tahun? Kayak kamu pantes diinget aja," Jongin mengirup rokoknya dengan emosi. Sehun hampir menangis.
"Kenapa, Jong? Kenapa kamu berhenti inget sama aku? Kenapa? Aku selalu inget sama kamu! Aku nggak pernah berhenti mengharapkan hari itu tiba!" sahutnya parau.
"Hari itu tiba? Hari itu udah lewat, Hun, hampir setengah tahun! Kamu pikir, aku mau nungguin kamu sampe tua? Yang bener aja! Dan kamu selama sepuluh tahun inget sama aku? Kamu pikir aku bego?" sahut Jongin tak sabar. Kepalanya terasa sangat sakit.
"Jong, aku nggak bohong!" sahut Sehun, sekarang air matanya sudah mengalir. Jongin membuang rokoknya.
"Oh, jadi aku yang bohong? Jadi, kamu selama sepuluh taun ini ngirim surat? Nelepon? Ngasih alamat kamu di sana? Ngasih kabar kalau kamu masih idup, hah, iya?" Sehun menangis tersedu-sedu. Jongin menatapnya sebal, lalu menginjak puntung rokok hingga nyalanya padam. "Kamu tau, kamu seharusnya nggak usah dateng lagi ke sini," kata Jongin sebelum berbalik dan meninggalkan Sehun yang masih terisak. Sehun merasa lututnya bergetar dan tak kuat lagi menyangganya. Dia terduduk di lapangan basket yang dingin sambil terus terisak. Mungkin memang sebaiknya dia tak datang lagi ke sini.
.
.
.
"Mau ke mana kamu?" jerit Ayah begitu Jongin memasuki rumah. Jarum jam baru saja bergerak ke pukul sembilan malam.
"Ke kamar," jawab Jongin ketus sambil bergerak cepat menuju kamarnya.
"Seharusnya kamu nggak usah pulang!" sahut Ayahnya lagi. "Sana tidur di luar!"
"OKE!" Jongin balas menyahut dari dalam kamar. Dia memasukkan beberapa pakaian dan buku ke ranselnya, lalu keluar kamar dan berderap menuju pintu.
"HEH? Anak nakal! Mau ke mana lagi kamu?" Ayah terdengar semakin berang karna Jongin malah menurutinya.
"Katanya tidur di luar! Aku jabanin!" Jongin membanting pintu, lalu menghilang di kegelapan malam.
"Anak kurang ajar!" sahut Ayah yang langsung ditenangkan oleh Ibu. Ibu melirik cemas ke arah Chanyeol. "Yeol, Sehun mana?"
"Tadi sih katanya mau ke kamar," kata Chanyeol lalu memeriksa kamar Jongin. Tak ada siapa pun. Chanyeol bergerak ke arah kamar mandi, tetapi juga kosong.
Menyadari ada hal yang tidak beres, Chanyeol segera menyambar jaketnya dan berlari ke luar rumah, menyusuri jalan kompleksnya. Langkah Chanyeol terhenti di depan taman. Sehun tampak sedang terduduk di lapangan basket sambil terisak. Dada Chanyeol mendadak terasa sakit. Dengan langkah cepat Chanyeol mendekati Sehun, melepas jaketnya, lalu meletakkannya di atas tubuh Sehun yang berguncang. Mendadak, Sehun bergeming. Dia tahu itu Chanyeol, wakaupun dia belum melihatnya. Jongin tidak akan melakukan hal seperti ini. Chanyeol sendiri duduk di depan Sehun, lalu mengusap-usap pelan kepalanya. Chanyeol tahu ini perbuatan Jongin. Pasti Jongin telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Sehun. Sesuatu tentang melupakannya.
Jongin belum pulang semenjak kejadian semalam. Sehun menatap ke luar jendela depan, berharap sosok Jongin akan muncul dari balik pagar. Tapi Jongin tak kunjung datang.
"Jangan khawatir, Hun," hibur Tante Yonna. "Jongin pasti pulang. Dia sering kabur kalau lagi banyak masalah."
Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum miris, tapi tidak beranjak dari tempatnya semula. Matanya masih menatap ke luar jendela. Sementara itu, Chanyeol mengawasinya dari meja makan, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jongin. Jongin bahkan kabur dari rumah saat Sehun sudah susah-susah datang dari Amerika. Chanyeol mendesah, lalu melangkah menuju Sehun. Chanyeol menepuk pundak Sehun pelan.
"Hun, ngelamun mulu." Sehun memaksakan senyum, dan itu membuat Chanyeol sedikit sakit hati. "Kita jalan yuk? Biar nggak bosen. Masa dari Amerika ke sini kerjaannya di rumah mulu," kata Chanyeol. Sehun tampak menimbang-nimbang sebentar, lalu akhirnya menoleh ke arah Chanyeol.
"Boleh."
"Ini tempat nongkrong anak-anak gaul Jakarta," kata Chanyeol begitu mereka masuk ke salah satu mal terkenal di Jakarta. Sehun memandang mal itu tanpa minat. Sebenarnya, Sehun lebih mengharapkan tempat-tempat yang lebih nyaman seperti cafe.
"Yeol," Sehun mencegah Chanyeol memasuki mal itu. "Kita ke kampus kamu aja, yuk?"
"Kampusku? Ngapain?" tanya Chanyeol bingung.
"Ya, aku pengen liat aja kayak apa tempat kamu sama Jongin kuliah," kata Sehun dengan wajah memohon. "Ya?"
"Ya deh," Chanyeol akhirnya mengalah. "Apa sih yang nggak buat sang ratu?" godanya sambil mengetok kepala Sehun.
"Asyik!" seru Sehun senang. Dengan demikian dia bisa mengetahui tempat Jongin kuliah, dan dia berharap Jongin ada di sana.
TBC
aaaaa pas update udah puasa aja ya ;;;-;;; mian guys. lama banget updatenya. tbh, ini semua gegara kendala laptop nih. aku cuman bisa update kalo ada laptop kaka aku, seharusnya kalo gini aku ga usah ngepost ff lagi ya. tapi ntah kenapa ada motivasi buat ngepost ff ini, aku pikir bakalan banyak yang suka sama ff ini. makasih sekali lagi buat yang udah review/follow/favorite. tanpa kalian ya mungkin ff ini bakalan terbengkalai hihi. oke sampai jumpa dichapter 4!
THANKS TO:
aliyya | Guest | sehunyuk | YunYuliHun | Kimoh1412 | rytyatriaa | | Jongin6799 | daddykaimommysehun | chrysanthehun | auliavp
