Disclaimer : Naruto bukan punya saya
Rate :T (untuk saat ini)
Pairing : SASUHINA
Warning : Author masih newbie. Fic ini terinspirasi dari sebuah buku, dengan character, dan plot yang sedikit di ubah. .MISTYPO. Dan kesalahan lain yang bisa ditemukan dalam fic ini.
Don't like, don't read.
Enjoy…^.^
If you can just stop loving her then you never really loved her at all. Love doesn't work that way. If you ever truly love someone, then it never goes away. It can become something else. There are all sorts of love. It can even become hate-a thin line and all that-and really, hate is just another kind of caring.
-Blakney Francis, Someone I Used to Know.
SWEET TEMPTATION
Chapter Four
Inilah yang paling Hinata takutkan sejak kedatangan Sasuke. Dan ia berkata tiba-tiba dengan nada marah.
"Tidak! Aku tidak peduli dengan apa yang ibuku katakan padamu, dia sama sekali tidak berbicara untukku. Aku mungkin saja memiliki masalah saat ini, tapi ini adalah urusanku, bukan orang lain, dan aku akan mengatasinya sendiri. Bayi ini milikku, dan aku menginginkannya. Aku akan merawatnya-aku bisa mengurus diriku sendri tanpa bantuan dari ibuku, kau, ataupun dari orang lain. Dan aku jelas-jelas tidak akan menyerahkannya!"
Mata Sasuke memicing, dan sorot matanya mengeras, dan Hinata bereaksi secara insting akibat perubahan sikapnya yang penuh ancaman, sikap pria itu membuatnya takut, dan ia nyaris terjatuh, ketika ia melangkah mundur, badannya terasa jauh lebih berat daripada yang ia ingat ketika ia mencoba bergerak terlalu cepat.
"Hati-hati!" seru Sasuke kasar, dan tiba-tiba pria itu telah berada di dekatnya, lengannya melingkari tubuhnya, menyokongnya.
"Kau seharusnya jangan bangun secara mendadak! Kau harus lebih berhati-hati menjaga dirimu, demi anakmu!"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih." Gumam Hinata, mendadak kaku saat ia menyadari kehangatan yang berasal dari kulit pria itu, ketegasan akan tulang dan otot yang berada di bawah kulit itu. Tangannya menekan bagian belakangnya, jemarinya terentang, satu persatu menekan langsung ke tubuhnya.
Rasanya sudah sedemikian lama ia berada dalam rangkulan seseorang, direngkuh erat, sentuhan manusia memang terasa sangat menggoda, rasa aman dan nyaman yang sering ia rindukan pada malam hari ketika ia sendirian, dan kesepian. Ia mencoba untuk menjadi lebih kuat dan berani, tapi kemudian ia menyerah. Keinginan untuk direngkuh erat, lebih dekat dengan makhluk hidup lainnya terasa sangat manusiawi baginya, tapi ia sama sekali tak boleh menyerah pada kebutuhan itu, dan membiarkan pria itu terus merengkuhnya, dan menggosok punggungnya perlahan.
Ini akan jadi kebiasaan, dan ia akan membutuhkannya, membutuhkan sentuhan ini. Biar bagaimanapun, ini bukan pertama kalinya ia menyerah pada keadaan dan Sasuke pun juga berada di sana untuk menolongnya. Hal ini terasa sangat mengganggu, ia teringat sewaktu mereka berada di Ravenna, dan dirinya menangis di dada pria itu, dan sekarang, ia mungkin saja melakukan hal yang sama lagi, air matanya hanya tertahan saja. Ini bukan merupakan tindakan yang bijaksana, Sasuke saat ini mungkin terlihat lebih lembut, dan baik, tapi, ia jangan sampai lupa akan sikap dingin penuh permusuhan yang terus ia tunjukkan sebelum kematian saudaranya.
Sasuke menjadi lebih ramah padanya hanya karena ia bukan lagi ancaman terhadap dirinya ataupun keluarganya. Uchiha Sasuke merupakan seorang pria yang menggunakan kepalanya dalam hidupnya. Ia, dengan tenang, memutuskan bagaimana berurusan dengan orang-orang di sekelilingnya. Jika pria itu memiliki emosi sekalipun, ia tak akan memperlihatkannya ataupun membiarkan emosi itu mempengaruhi sikapnya. Akan terasa bodoh jika Hinata sampai melupakan hal itu, hanya karena keadaan sudah berubah sekarang.
"Kau tak terlihat BAIK bagiku," kata Sasuke datar, mulutnya bergerak mendekat ke rambutnya, mengacaukan setiap helaian rambut indigo itu dengan desah nafasnya.
"Kau mungkin tidak menginginkan bantuan kami, Hinata. tapi, sudah sangat jelas kau memerlukannya."
Dia memiliki sesuatu yang pria itu inginkan, dia sedang mengandung anak kakaknya, seorang bayi yang menurutnya mungkin saja membuat ibunya bahagia kembali, dan Sasuke menginginkannya. Itachi sering mengatakan dengan nada antara campuran penuh kekaguman dan kesinisan, bahwa Sasuke adalah tipe orang yang tak pernah setengah hati dalam melakukan sesuatu. Ia tak akan berhenti sebelum mendapatkan yang ia inginkan. Hal itulah yang membuatnya berhasil dalam menjalankan bisnis keluarga.
Jika Itachi adalah seseorang yang hangat, penuh cinta kasih, dan punya keinginan kuat, ia bukanlah seseorang yang seakan terbuat dari besi dan tak memiliki hati.
Tapi, lain halnya dengan Sasuke. Pria itu merupakan musuh yang berbahaya. Ia seakan tak memiliki kelemahan. Kau tak akan bisa menembus pertahanannya. Dia tipe pria yang harus mendapatkan apa yang dia inginkan, sesuai dengan caranya. Hinata tahu, jika ia menolak melakukan apa yang Sasuke inginkan, pria itu akan berhenti tersenyum padanya, bersikap hangat, dan begitu melindungi. Dan Hinata yakin, ia pasti akan berhadapan dengan sifat dingin penuh permusuhan sekali lagi.
Tapi, dia sama sekali tak takut pada Sasuke - dia akan kehilangan banyak hal jika ia bersikap lemah - jadi Hinata melepaskan diri dari rangkulan Sasuke dan menatapnya, dagunya terangkat naik.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri-dan juga bayi ini. Aku sudah terbiasa mengurus diriku sendiri semenjak aku sekolah, dan aku pasti berhasil, biar bagaimanapun caranya. Lagipula ibuku berhasil membesarkanku."
Pandangan matanya menjauh dari wajah Sasuke, dan Hinata merengut, mengingat masa kecilnya yang penuh dengan kesendirian. Yang jelas ia tak akan meninggalkan bayinya sendirian, ataupun menjauhkannya apapun yang terjadi, sesulit apapun situasinya. Apapun yang terjadi, ia tak akan mengulangi kesalahan ibunya. Entah bagaimana caranya, bayi ini akan tetap bersamanya.
Sorot mata Sasuke seakan penuh ironi, suaranya terdengar kasar, dan mengejek.
"Apa kau benar-benar menginginkan bayimu mengalami kehidupan yang sama sepertimu di waktu kecil?"
Hinata menarik nafas dalam, tersentak kaget, dan menatap langsung ke matanya. Dia sama sekali tak pernah menceritakan hal itu padanya. Sama sekali tak pernah. Lalu bagaimana Sasuke mengetahui tentang hal itu? Itachi? Ataukah ia telah membayar detektif untuk mengecek latar belakangnya segera setelah ia tahu bahwa saudaranya berniat menikahinya?
"Aku dapat pastikan ia bahagia." kata Hinata tegas, mengangkat dagunya kembali, seakan menantangnya.
"Kau harus pergi bekerja, dan kau jelas sadar, waktumu bersama bayi itu tak akan banyak." kata Sasuke, kedua alisnya saling bertautan.
"Aku sudah memikirkan hal itu." tegas Hinata. "Banyak wanita lain di luar sana yang merupakan single parent dan mereka berhasil membesarkan bayi mereka. Akupun demikian. Selama bayiku tahu bahwa aku mencintainya, dan menginginkannya, semuanya akan baik-baik saja."
Sasuke sudah bersiap akan menyampaikan sanggahan lain, namun Hinata lebih cepat kali ini.
"Dengar, bayi ini adalah masalahku sendiri, dan aku akan bisa mengatasinya entah bagaimana caranya. Aku yakin, kau hanya bersikap baik padaku, tapi aku lebih memilih kau tidak melakukannya."
Dan sebelum Sasuke bisa menyelanya, Hinata buru-buru melanjutkan.
"Aku minta maaf tentang ibumu. Aku akan langsung menemuinya jika ia memang ingin bertemu denganku-akan sangat membantu sebetulnya, jika aku dapat berbicara dengannya. Biar bagaimanapun kami berdua sama-sama berduka karena kehilangan Itachi, dan kami sangat merindukannya. Namun, aku juga sadar, bertemu denganku mungkin hanya akan mengingatkannya akan pertengkaran antara ia dan Itachi selama beberapa minggu sebelum ia meninggal. Pasti sangat sulit baginya untuk mengingat hal itu, namun aku yakin Itachi pasti tak menginginkan ibumu menyalahkan dirinya sendiri, dan aku yakin Itachi pasti telah memaafkan Mikoto-san. Dan..., dan jika ia memang ingin melihat bayi ini ketika ia lahir, beliau bisa mengunjunginya kapanpun atau aku yang akan mengunjunginya dan membawa bayi ini. Tapi, hanya jika kalian mengerti bahwa bayi ini tetap bersamaku."
Sasuke telah memutuskan untuk mengubah taktiknya. Daripada bersikap mendominasi dan memaksanya bertindak sesuai dengan keinginannya, ia mengatur suaranya agar terdengar lebih lembut dan menenangkan, dengan senyum yang terlihat seperti milik Itachi.
"Tentu saja." katanya meyakinkan Hinata, berpura-pura terkejut.
"Kau tak berpikir bahwa aku akan mengambilnya darimu kan? Tentu saja tidak. Aku bahkan tak pernah sekalipun bermimpi untuk melakukannya."
Hinata masih merasa ragu. Bagaimana mungkin ia mempercayai pria ini, terutama setelah ia tahu bahwa keluarga pria ini berusaha menghentikan pernikahannya dengan Itachi?
"Yah, aku lega mendengarnya." kata Hinata pelan. "Selama kau paham dan mengerti bagaimana perasaanku."
Hinata tak ingin lagi mendengar argumen dari Sasuke, karena itu ia berpura-pura mengantuk.
"Aku tak bermaksud untuk bersikap kasar, tapi tadi , sebelum kau datang, aku bermaksud untuk tidur siang...jadi, jika kau tak keberatan...,"
Sasuke mengamatinya dalam diam, lalu mengangguk.
"Yah, kau terlihat capek. Kecemasan sangat tak bagus untuk wanita dengan kondisi sepertimu, Hinata..."
"Demi Tuhan,Sasuke. Aku ini sedang mengandung, bukannya sakit! Apa yang kualami sekarang merupakan hal yang normal, dan aku tak ingin menjadi seseorang yang tak bisa apa-apa!" Hinata berkata dengan nada frustasi, berjalan ke arah pintu, dan membukanya.
Sasuke mengerti dan ia hanya mengangkat bahu, tetapi berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi meninggalkan apartemen mungil itu. Ia mengamati wajah merona Hinata.
"Itachi pasti ingin kami melakukan apa yang kami bisa untuk menjaga dan merawatmu." katanya dan bagi Hinata kata-katanya sudah kelewatan. Ia memandang pria itudengan tatapan sengit.
"Aku tak ingat bahwa kau begitu peduli dengan perasaan Itachi ketika ia masih hidup!"
Rahang Sasuke mengeras, dan ia menatap Hinata dengan pandangan tak terbaca. Sorot matanya terlihat dingin.
"Mungkin aku belajar banyak setelah kematiannya," katanya pelan, dan hati-hati. "Dan mungkin saja kau itu sebenarnya tak tahu apapun. Kau baru saja mengenal Itachi berapa lama Hinata? Hanya karena kau merupakan kekasihnya, dan kami tak menyukaimu, lalu kau beranggapan bahwa aku dan keluargaku sama sekali tak memikirkan perasaannya, tak peduli padanya? Berhenti bersikap kekanakan dan egois, seolah-olah kau yang paling kehilangan! Kau pikir bagaimana perasaan ibuku, yang sudah melahirkan dan membesarkannya? Merawatnya dan memanjakannya?! Setidaknya, kau memiliki sesuatu yang dapat menghubungkanmu dengan Itachi, lalu bagaimana dengan kami?!"
Sasuke menghembuskan nafas. "Terkutuklah aku, tapi aku tak akan melepaskan kesempatan itu."
Dan ia pun melangkah pergi, meninggalkan Hinata yang hanya menggigit bibirnya, memandang kepergiannya dengan perasaan malu dan bersalah.
Ketika Hinata menceritakan kejadian itu pada Ino, ia sama sekali tak kaget dengan reaksi yang di tunjukkan oleh sahabatnya itu. Ino menunjukkan dengan terang-terangan bahwa ia mengira Hinata sudah gila dan memaksanya untuk menerima apapun yang ditawarkan oleh keluarga Uchiha.
"Biar bagaimanapun, bayi itu akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Walaupun kau dan Itachi tak memiliki kesempatan untuk menikah. Kau tahu dengan jelas, bahwa hidupmu tak akan mudah setelah bayi itu lahir, terlebih lagi jika kau tak menginginkan bantuan siapapun. Kau belum menemukan tempat baru untuk tinggal, kau bahkan belum mendapatkan pekerjaan pengganti..Apa yang akan kau lakukan jika kau menolak apa yang sudah Uchiha Sasuke tawarkan padamu?"
"Aku tak tahu..."kata Hinata pelan. "Jangan menekanku, Ino. Cukup hanya Uchiha Sasuke saja yang melakukannya."
"Kau tahu dengan jelas, aku hanya mencoba membuka pikiranmu, dan membuatmu sadar jika kekeraskepalaanmu bukan hanya membuatmu tapi juga bayimu,sengsara!" kata Ino dengan datar, tapi dia tak mencoba meyakinkan Hinata lebih jauh; ia hanya mengangkat bahu dan mulai bercerita tentang kekasih barunya,Naruto.
Kekasih terakhirnya, baru saja dipindahkan ke negara lain. Pria itu menginginkan agar mereka terus berhubungan, tapi Ino hanya menggelengkan kepalanya. Ino terlalu realistis, dan ia bukan tipe gadis yang percaya akan hubungan jarak jauh.
"Hubungan ini tak akan pernah berhasil. Aku tak akan pernah bisa hidup di negara lain selain di Jepang, dan aku sama sekali tak mampu membiayai tiket untuk pulang pergi antara Inggris dan Jepang setiap waktu. Dan cepat atau lambat kita berdua bisa gila karena hal itu. Lebih baik berpisah sekarang, dan tetap berteman. Jika kau berada di London, kau bisa memberiku cincin, tapi jika kau bertemu dengan gadis lain, berkencanlah dengannya, karena sejujurnya aku pun akan melakukan hal yang sama."
Ino benar-benar mandiri; dia mampu mengatur hidupnya dengan baik, dia mampu mengurus dirinya sendiri, dan sangat ambisius akan masa depannya. Walaupun dia senang akan kehadiran sesosok pria di sampingnya, ia sama sekali tak pernah merasa ia tak akan bisa hidup tanpanya, tapi, ada sesuatu yang berbeda ketika ia sedang membicarakan kekasih terbarunya, seorang dokter di rumah sakit ternama di Tokyo.
"Lalu, kapan aku akan bertemu dengan Naruto?" Hinata bertanya dengan nada penasaran, dan Ino berjanji bahwa ia akan mengadakan pesta kecil-kecilan di apartemennya secepatnya.
"Kau akan menyukai Naruto," Ino meyakinkannya. "Dan kita hanya akan mengundang beberapa orang saja. Apartemenku tak akan muat kalau banyak. Tentang makanannya, bagaimana kalau sesuatu yang simple saja..seperti pasta...dan mereka mungkin bisa mengambilnya sendiri di dapur, lalu duduk di lantai...hmm...lalu garlic bread, salad, buah, dan wine...Perfect!"
"Uhm..Bolehkah aku duduk di tempat lain selain di lantai?" tanya Hinata "Aku bisa saja duduk di bawah, tapi aku tak yakin apa aku bisa berdiri kembali atau tidak!"
Ino memandang tubuh Hinata dan tertawa. "Maafkan aku, dan tentu saja kau bisa duduk di kursi..."
Dan Ino kembali membicarakan rencananya. "Aku akan meminta mereka membawa sesuatu juga. Entah minuman ataupun makanan."
"Aku akan membawa makanan." kata Hinata menawarkan, lega karena ia bisa melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari masalah yang sedang dihadapinya.
Ia masih memiliki sembilan minggu lagi sebelum bayinya lahir, dan ia yakin dia akan menemukan tempat lain untuk tinggal sebelum itu, dan klinik kesehatan lokal yang biasa ia kunjungi telah memberikan beberapa nama pengasuh yang mungkin setuju untuk menjaga bayinya selama ia bekerja. Hinata telah bertemu dengan dua orang dari mereka, dan menyukainya, tapi ia merasa belum bisa membuat perjanjian apapun selama bayi ini masih berada dalam kandungannya. Ia akan mendapatkan cuti selama enam minggu setelah melahirkan, yang berarti ia belum perlu mengambil keputusan final sebelum tiga bulan.
Pada satu sisi, Hinata merasa lega. Namun, pada sisi lain ketidakpastian itu membuatnya merasa khawatir. Ia sama sekali bagaimana masa depannya nanti, dan ia sama sekali tak tahu bagaimana ia akan bertahan. Hidupnya kacau.
Pesta yang sedang direncanakan oleh Ino merupakan sesuatu yang pantas dinantikan, dan ia menikmati setiap waktu yang digunakan untuk membantu sahabatnya mempersiapkan pesta itu. Mereka berdua memasak banyak makanan. Lalu menyiapkan semangkuk besar salad, sementara Hinata membuat cinnamon rolls dan chocolate mousse. Ino membeli beberapa botol anggur merah dan putih untuk memulai pesta, dan berharap sebagian tamunya juga membawa minuman untuk memastikan pesta ini berjalan lancar dan tak kekurangan minum.
Naruto adalah tamu yang pertama kali tiba sore itu, dan Ino menyambutnya dengan raut wajah merona namun penuh semangat, terutama ketika ia melihat apa yang pria itu bawa di bawah kedua lengannya-sebotol wine dan sebuket bunga.
"Kau begitu murah hati dan romantis! You're such a darling!" kata Ino, mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu dan menciumnya.
Hinata menyukai pria itu, Naruto termasuk pria tinggi, dengan rambut pirang dan mata biru, walaupun ia tak terlalu tampan, namun senyumnya hangat sehingga siapapun yang melihat secara otomatis akan tersenyum balik padanya.
"Kenalkan, ini Hinata." Kata Ino dengan santai. "Aku pernah bercerita padamu tentangnya. Kau ingat?"
Hinata merona. Apa yang telah Ino ceritakan pada pria itu? Ia sama sekali tak suka dengan bayangan, bahwa Ino telah bergosip tentang dirinya pada seseorang yang sama sekali belum pernah bertemu dengannya.
Hinata menatap pria itu dengan ragu, dan Naruto hanya memberinya cengiran lebar, lalu mengulurkan tangannya.
"Hai, Uzumaki Naruto, dan menilai dari tatapanmu yang penuh dengan kekhawatiran, kau pasti bertanya-tanya apa yang sudah dikatakan gadis ini padaku. Jangan khawatir, aku juga sebenarnya bingung dengan apa yang ia ceritakan."
Hinata tertawa, dan merasa rileks. "Yah, seperti itulah."
"Oh, jangan konyol kalian berdua," kata Ino. Dan bel pintu kembali bordering. "Aku akan membuka pintu sementara kalian menyiapkan minuman. Naruto, kau buka botol itu, dan Hinata, tolong sediakan gelas."
"Dia benar-benar senang memberi perintah, ya?" goda Naruto, tapi Ino mengacuhkannya dan membuka pintu menyambut tamu yang baru datang,
Apartemen Ino yang tadinya kosong secara perlahan mulai dipenuhi oleh tamu-tamu yang datang satu persatu, dan beberapa jam kemudian Hinata baru berpapasan dengan Naruto lagi. Ia sedang membawa nampan dengan gelas bersih di atasnya yang baru saja diambilnya dari dapur. Naruto menatapnya dengan tajam, mengambil nampan itu dari tangannya dan menyerahkannya pada gadis yang berada tak jauh dari mereka, meminta tolong kepada gadis itu untuk mengantarkan gelas-gelas itu pada pria yang bertanggungjawab dengan minuman malam ini.
"Dan untukmu, kau harus duduk mantap di situ!" kata Naruto pada Hinata dengan tegas. Ia memandang ke belakang Hinata dan melihat beberapa orang sedang duduk di sofa.
"Apakah kalian keberatan untuk berdiri? Hinata perlu mengistirahatkan kakinya."
Mereka semua langsung berdiri secara tiba-tiba. "Tentu saja, Dok."
"Eh..tak perlu, aku…"Hinata mulai protes, namun Naruto mulai mendorongnya ke belakang, hingga ia terduduk di sofa.
"Kaki naik!" perintah Naruto, dan Hinata dengan wajah merah menuruti ucapannya, merenggut sedikit karena ia sana sekali tak suka jadi pusat perhatian, dan semua orang memandangi mereka.
"Kau tak akan melahirkan sekarang kan?" Tanya seseorang.
"Tentu saja tidak." Sahut Naruto. "Tapi, ia sudah berdiri terlalu lama, dan melakukan banyak hal sore ini. Sekarang giliran orang lain yang melakukan tugasnya."
Kerumunan orang yang memperhatikan mereka mulai bubar, mungkin takut untuk dimintai tolong melakukan sesuatu, dan Naruto duduk di ujung sofa, mengangkat kaki Hinata ke pangkuannya, dan melepas sepatunya, meskipun wajah Hinata sudah sangat malu.
"Ino bilang kau sedang mencari tempat tinggal yang murah setelah bayi ini lahir?" kata Naruto pelan, ketika ia tanpa sadar mulai memijat salah satu kakinya. Ujung jemarinya yang panjang terasa hangat dan menenangkan.
Hinata menganggukan kepalanya. "Yang kalau bisa diumpamakan, bagaikan mencari butiran emas di jalan."
Naruto tertawa. "Ya, aku mengerti dengan jelas. Ketika kami masih kuliah, kami nyaris kehilangan harapan mencari tempat yang murah untuk tinggal jika kami sama sekali tak bisa tinggal di tempat dokter di rumah sakit. Dengar, apa kau benar-benar ingin tinggal di sekitar sini? Maksudku, apa kau sudah mempertimbangkan pindah keluar Tokyo?"
Hinata langsung menatap pria itu dengan cepat, hatinya seakan meloncat. "Ke…kenapa? Maksudku, ya…Eh, aku mempertimbangkan segala opsi..Kau tidak bermaksud..Eh…Suatu tempat..Umm..Suatu tempat yang sesuai dengan kondisi keuanganku?"
Naruto terlihat enggan, wajahnya tampak datar. "Ya, kau jangan berharap terlalu banyak. Ini baru sebuah ide, belum tentu terjadi…Hanya saja…Umm..Ibuku biasanya tak menyewakan tempat, tapi ayahku baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu, dan ia hanya hidup sendirian di rumah itu, jadi mungkin saja ia akan mempertimbangkan kau tinggal di sana."
Hinata menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya, dan Naruto menggelengkan kepala padanya.
"Aku bilang, jangan terlalu berharap. Aku bahkan belum berbicara dengannya. Hal itu baru terpikirkan padaku sore harus pergi dan menemui ibuku terlebih dahulu besok. Dia hanya sendirian di sana, dan dia selalu menelpon serta memohon padaku untuk datang berkunjung dan menjen guknya. Dan aku memikirkan masa depan, karena aku jelas tak mungkin mengemudi kesana kemari, tapi beliau sudah terlalu tua untuk bekerja kembali ataupun pindah.."
"Berapa usianya?" Tanya Hinata lembut.
"Enam puluh tahun." Jawab Naruto. "Aku bingung dengan apa yang harus kulakukan, karena aku nyaris tak memiliki waktu senggang sama sekali akhir-akhir ini. Jika aku tak bekerja, aku pergi mengunjungi ibuku, dan Ino mulai mempersalahkan hal itu. Aku harus akui, bahwa sebenarnya akupun demikian. Aku berharap aku memiliki beberapa jam saja untuk mengurus kehidupan pribadiku setiap minggunya. Tapi, di sisi lain, aku juga berkewajiban melakukan sesuatu untuk ibuku, sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari masalah yang dihadapinya."
"Dimana ia tinggal?"
"Di Konoha. Sebuah desa yang hanya beberapa jam dari Tokyo." Jawab Naruto. "Dan itu masalahnya. Jika kau tetap mempertahankan pekerjaanmu di sini, itu berarti kau harus bolak-balik beberapa jam sehari, tapi aku yakin kau bisa mendapatkan pekerjaan di sana. Tapi, tentu saja aku tak bisa berbicara atas nama ibuku sekarang ini. Aku belum mendapatkan ijinnya. Tapi, aku yakin dia sedang mempertimbangkan untuk menyewakannya. Dan tentu saja, uang yang didapat dari sewa itu juga cukup membantu. Tapi, pertama-tama, beliau harus bertemu denganmu terlebih dahulu sebelum ia dapat mengambil keputusan."
"Tentu saja." Sahut Hinata dengan semangat.
"Apa kau mau aku berbicara dengannya lebih dahulu, memastikan apa beliau mau mememuimu atau tidak?"
"Iya!"
Naruto tersenyum padanya, sementara jari jemarinya tetap sibuk memijat kakinya. Rasanya luar biasa menenangkan, dan ia sangat menyukainya.
"Oke."A kata Naruto. "Aku akan berbicara padanya. Kapan kau bisa kesana? Apa kau bisa meluangkan waktumu hari Sabtu pagi dan pergi bersamaku ke sana?"
"Ya, tentu." Kata Hinata gemas. Ia tentu saja tak memiliki masalah dan dapat meluangkan waktunya untuk masalah itu kapanpun, namun hari Sabtu tentu saja, tanpa ragu, adalah hari paling memungkinkan untuk pergi, karena hari itu ia sama sekali tak perlu melibatkan bossnya untuk meminta ijin, ataupun harus bekerja ekstra untuk menggantikan waktu yang terbuang karena ia tak masuk.
Ino tiba-tiba berada di samping sofa, memandang mereka dengan dingin.
"Apa yang sedang kalian rencanakan? Kalian berdua dari tadi berbisik-bisik di sudut ini selama berjam-jam. Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Dan sebelum mereka berdua dapat menjawab, Ino bertanya lebih jauh lagi.
"Dan apa kau memiliki ketertarikan yang aneh terhadap kaki –foot fetish- Naruto? Kenapa kaki Hinata berada di pangkuanmu? Kenapa kau duduk di sini dan terus mengelus dan memijatnya? Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang yang melihat kalian."
"Siapa yang peduli dengan pikiran orang lain?" jawab Naruto enteng, dengan jelas menganggap remeh kecurigaan Ino, dan Hinata memandang mereka berdua, sedih karena ia mengira telah menimbulkan masalah di antara mereka berdua.
"Ino, jangan konyol! Naruto hanya bersikap baik padaku…," kata Hinata cepat, menjauhkan kakinya dari tangan Naruto, dan menurunkannya ke lantai.
"Huh, baik? Oh, benarkah?" Ino berkata dengan nada sinis.
"Tentu saja! Dan..yang benar saja Ino, kau tak lihat aku? Aku seukuran bayi gajah sekarang, dan kau sama sekali tak bisa mencurigai Naruto jika kau sadar situasiku saat ini."
Ino sama sekali tak yakin tentang hal itu.
"Dan ngomong-ngomong," kata Hinata lagi. "Kemungkinan besar Naruto menemukan tempat yang dapat kusewa nanti. Bukankah itu berita yang bagus? Dan ia memijat kakiku karena….,"
Ucapan Hinata terhenti. Ia sama sekali tak tahu kenapa Naruto memijat kakinya, dan Naruto lah yang akhirnya menjelaskan.
"Pergelangan kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri dan membawa nampan dan minuman ke sana kemari, Ino-chan. Seharusnya ia tak boleh berdiri terlalu lama. Dia perlu mengurus dirinya dengan baik, dan istirahat cukup hingga bayinya lahir."
"Hmmm…." Kata Ino, belum seratus persen percaya, namun memutuskan untuk tak lagi memperpanjang masalah itu.
"Dan tempat tinggal? Tempat tinggal apa? Dimana?"
Ketika Naruto memberitahunya, Ino terlihat ingin protes. "Tapi, itu berarti meninggalkan Tokyo..menjauh dari teman-temannya…aku.. Hinata sama sekali tak cocok tinggal di pedesaan, dan aku? Aku akan merindukannya."
Hinata tersenyum penuh pengertian padanya. "Aku juga akan merindukanmu, Ino dan seluruh teman-temanku. Tapi, kupikir aku harus meninggalkan Tokyo. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa membuat apa yang sudah kurencanakan untuk diriku dan bayi ini ke depan, berhasil."
"Bukan jalan satu-satunya." Komentar Ino datar. "Kau melupakan Uchiha Sasuke."
"Aku tak akan mempertimbangkan pilihan untuk menerima bantuan darinya!" kata Hinata dengan wajah marah., dan dua orang itu hanya memandangnya dalam diam.
Naruto menelponnya pada sore berikutnya untuk mengatakan bahwa ibunya telah setuju untuk bertemu dan membicarakan kemungkinan Hinata pindah bersamanya.
"Tapi, semuanya belum diputuskan, ingat?" Naruto menekankan. "Jika ibuku merasa kalian berdua bisa cocok, maka kemungkinan besar, ia akan setuju, tapi di sisi lain, dia mungkin akan merasa aneh tinggal serumah dengan orang asing. Aku akan menjemputmu hari Sabtu pagi, jam sepuluh, dan mengantarmu menemuinya. Dia menyarankan kita makan siang bersama. Kita akan tiba di sana tengah hari, makan siang bersama, dan kalian berdua bisa berbicara secara langsung sementara aku berjalan-jalan menikmati udara segar di sana. Aka nada kereta siang yang bisa membawamu pulang ke Tokyo. Aku akan mengantarmu ke sana nanti."
Hinata merasa sangat gugup tentang pertemuannya dengan ibu Naruto, tapi ia segera menemukan kenyataan bahwa kecemasannya sama sekali tak beralasan. Mrs. Uzumaki sangatlah hangat dan ramah terhadap putranya. Wanita yang penuh dengan semangat hidup, dan sangat mudah untuk diajak bicara satu sama lain.
"Akan sangat menyenangkan memiliki teman," kata wanita itu dengan ramah. "Pada suatu ketika, aku bahkan tak pernah bertemu dengan makhluk hidup lain, kecuali aku berjalan ke toko yang ada di desa ini dan berbicara dengan pemilik toko ataupun pada para tetangga. Dan sekarang mari kita lihat tempat tinggalmu."
Tempat itu memang tak terlalu besar, namun sangat nyaman. Hinata akan memiliki dapurnya sendiri, ruang tamu,yang meskipun tak terlalu luas namun terlihat cozy, ruang makan, kamar tidur dan kamar mandi.
"Ini luar biasa!" kata Hinata dan dalam waktu setengah jam, semuanya beres. Hinata akan pindah ke tempat itu dalam waktu tiga minggu. Cuti melahirkannya akan dimulai pada saat itu, jadi ia sama sekali tak perlu untuk mencari kerja dalam beberapa bulan, dan bisa menggunakan waktunya untuk mengatur segala yang ia perlukan di tempat tinggal barunya. Dia pelu berganti dokter dan mengatur beberapa hal di rumah sakit lokal di sana. Naruto menunjukkan tempatnya ketika ia mengantar Hinata ke stasiun hari itu.
"Sangatlah penting untuk melakukan hal itu sesegera mungkin, karena jadwal mereka mungkin sudah penuh."
Hinata mengangguk."Aku janji akan menyelesaikan semuanya langsung kalau begitu."
Ketika sudah sampai di beranda stasiun, Hinata berbalik ke arahnya dan berkata dengan rasa penuh terima kasih.
"Aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih, Naruto. Kau tak tahu bagaimana khawatirnya aku selama ini. aku tak tahu bagaimana caranya bertahan, dan sekarang semuanya tiba-tiba berubah, semuanya karena kau."
Terdapat rona merah di wajah pria itu, dan ia hanya menjawab dengan nada berat. "Tak perlu kau pikirkan. Itu semua hanya ide yang muncul secara tiba-tiba. Dan aku lega, semuanya berjalan lancar."
Hinata berjinjit dan menciumnya cepat, di pipi, ketika suara kereta mulai terdengar. "Terima kasih." Bisiknya, dan berbalik, masuk ke dalam kereta dan duduk di dekat jendela, melambai kepada Naruto ketika kereta tersebut mulai berjalan kembali.
Pada hari Minggu pagi, Hinata bangun kesiangan, dan sarapan sedikit, lalu mulai duduk dan menulis daftar segala sesuatu yang harus ia lakukan sebelum ia pindah. Ia punya kebiasaan jelek bahwa ia selalu punya waktu untuk mengatur segalanya, namun tiba-tiba ia hanya memiliki tiga minggu tersisa sebelum ia meninggalkan Tokyo dan pekerjaannya, dan seluruh tempat yang sudah ia kenal. Hidupnya akan segera berubah secara drastis selamanya. Ia memandang kertas di tangannya dimana ia sudah menuliskan daftarnya.
Ia tiba-tiba merasa gemetar hingga ke tulang sumsumnya. Ia merasa takut, menatap masa depan yang masih belum jelas. Lalu, ia mengangkat dagunya, dan duduk tegak. Dia akan bertahan. Dia telah mengatakan hal itu berulang-ulang pada drinya sendiri. Dia akan bertahan, dengan situasi apapun. Dan ia pasti bisa.
Bel pintu berbunyi dan ia tersentak kaget. Siapakah itu?
Ino, pikirnya, dan merasa santai kembali, dan tersenyum ketika ia kesusahan untuk berdiri, dan berjalan menuju pintu, dengan satu tangan menyokong belakangnya. Ia mencoba menelpon Ino semalam, dan mengatakan padanya hal-hal yang telah ia putuskan, namun Ino sedang berada di teater dan belum pulang hingga tengah malam, dimana Hinata sudah jelas tertidur lelap ketika sahabatnya itu berada di rumah. Ia tidur dengan cepat akhir-akhir ini, walaupun tidurnya terkadang tidak nyenyak, karena ia sering terbangun dan tidur kembali.
Membu ka pintu dengan penuh keceriaan, ia berkata. "Naruto benar-benar mengagumkan. Dan semuanya sudah diatur...," dan mendadak ucapan Hinata terhenti di tengah-tengah saat matanya bertemu dengan mata onyx yang memandangnya tajam. Mata milik Uchiha Sasuke.
"Apa?" katanya, mengernyit, dan Hinata menggigit bibirnya, sangat terkejut hingga ia nyaris tak dapat berkata apa-apa.
"A...Aku pikir kau Ino."
"Dan seperti kau lihat, aku bukan dia." kata Sasuke datar. "Dan apa yang sudah diatur?Apa kau akan pergi keluar hari ini?"
"Ti...Tidak, tapi...," suara Hinata terhenti, ia merasa tak nyaman, dan kedua alis Sasuke terangkat tajam.
"Tapi apa? Kau membuatku sangat penasaran."
Pria itu melangkah maju, dan Hinata dengan enggan bergeser, membiarkan pria itu melangkah masuk ke dalam apartemennya, meskipun ia merasa tak cukup kuat untuk menghadapi Uchiha Sasuke pagi ini.
Pria itu berjalan masuk, dan Hinata menutup pintu depan, berpikir cepat. A!pakah ia harus memberitahu pria itu bahwa ia beremcana meninggalkan Tokyo dan pindah ke daerah pedesaan? Ia tak yakin ia ingin pria itu tahu mengenai seluruh detail hidupnya. Ia ingin awal yang baru, sebuah kehidupan baru dimana ia bisa menjauh dari pria itu dan melupakan segala kenangan menyakitkan yang hadir bersamanya.
Ketika Hinata mengikuti pria itu ke ruang tamu, ia sadar ia tak perlu membuat keputusan itu. Sasuke telah mengangkat daftar - nya dan sedang mempelajarinya. Kedua alisnya menyatu.
Tiba-tiba ia berbalik menghadap Hinata, dan membentaknya. "Apa maksudnya ini?" serunya sambil melambaikan daftar yang telah ia bikin dengan susah payah.
"Aku menemukan tempat tinggal baru." bisik Hinata ragu. "Aku akan pindah kesana tiga minggu dari sekarang, tepat ketika cuti hamilku dimulai, dan aku sedang membuat daftar hal-hal yang harus kulakukan nanti."
"Dimana tempat tinggalmu yang baru itu?" tanya Sasuke, dengan nada tegas yang menginginkan jawaban. Dan sebelum Hinata dapat menjawab, Sasuke kembali berkata dengan dingin, "Dan jelaskan padaku, who the hell is Naruto?!"
HELLO! Balik lagi nih..Maaf klo updatenya lebih lambat daripada biasanya. Dan Ai juga mo bilang terima kasih buat teman-teman sekalian yang udah baca ama ninggalin review buat fic ini.
Sekali lagi makasih buat dukungannya ya..
Ja nee^-^
