Firefly for Sasuke
Disclaimer : Masashi K.
Cast : Itachi Uchiha, Naruto Namikaze, Sasuke Uchiha
Story by : LukazLuke
Warn : AU, GS, GaJe, FemNaru, receh, garing, typos anywhere
..
Chapter 4
" Bagaimana kakimu?" Itachi bertanya. Menghampiri sang adik yang tiduran malas di atas kasur. Hari ini bocah itu tidak masuk sekolah karena kaki kanannya yang bengkak.
" Sakit."
" Nah. Sudah kapok belum main jauh- jauh dari rumah? Kau juga tidak pamit pada mama, padaku juga," Itachi berujar.
Sasuke cemberut. Tak berniat membalas ucapan sang kakak meski dalam hati menggerutu panjang.
" Untung saja Naruto menemukan kalian. Memang sebegitu inginnya, ya, menangkap kunang- kunang?" tanya Itachi seraya menarik selimut tebal dari sudut ranjang yang kusut mengenaskan.
" Hn."
" Chk, kau ini," dengus Itachi kemudian melebarkan kain selimut untuk menutup setengah tubuh adiknya agar tak lagi merasakan udara malam yang semakin dingin.
" Jangan ulangi lagi. Kau tidak tahu seberapa cemasnya kami memikirkan kalian, bahkan Naruto sudah nyaris menangis karena tahu kau menghilang padahal sudah hampir malam."
Itachi menatap adiknya yang terdiam. Bibir Sasuke terkatup rapat tapi dia tahu jika sang adik memikirkan ucapannya.
" Jangan ulangi lagi. Bilang padaku kalau mau main jauh dari rumah, kau juga boleh mengajak Naruto. Dia pasti akan mengantarmu kemana pun kau pergi dengan senang hati. Kau tahu bukan, Naruto tidak bisa menolak apapun permintaanmu," lanjutnya.
" Sekarang tidur dan jangan lupa berdoa," sulung Uchiha itu mengusap lembut kepala adiknya kemudian beranjak.
Diam- diam bungsu Uchiha kembali mengingat wajah cemas Naruto dan entah kenapa itu membuatnya menyesal.
..
..
Sasuke pernah mengatakan jika ia ingin menangkap kunang- kunang dan memasukkannya ke dalam toples kaca pemberian Naruto, lalu menyimpannya di meja belajar.
Bocah itu mengutarakan keinginannya sehari setelah semua kunang- kunang di dalam toples yang Naruto berikan saat Sasuke sakit tahun lalu dibiarkan terbang bebas ke angkasa.
Naruto senang bukan main saat Sasuke bersedia mengungkapkan keinginannya itu padanya dan bukannya pada Itachi, karena jarang sekali adik laki- laki sahabatnya itu mau berbagi cerita tentang apa yang tengah ia pikirkan dengannya. Sasuke bukan pribadi yang terbuka, oleh sebab itu Naruto harus berusaha keras untuk meruntuhkan benteng yang Sasuke bangun untuk menjauhkan diri dari orang lain.
Naruto kadang merasa heran dengan Sasuke. Saat ia merasa telah berhasil menggempur tembok pertahanan bocah itu dan mencoba lebih dekat lagi, maka Sasuke seolah akan membangun tembok baru dan membuat hubungan mereka kembali kaku. Terus begitu hingga ia curiga jika dulunya Sasuke pastilah tukang kuli bangunan karena suka sekali membangun tembok di antara mereka. Abaikan.
" Sasuke, kau mau kemana rapi begitu?" tanyanya saat mendapati si bocah tengah menyisir rambut mencuatnya dengan rapi begitu ia memasuki kamar Itachi. Kaki Sasuke telah sembuh ngomong- ngomong, dan Naruto sangat bersyukur untuk itu. Sasuke juga sudah mengucapkan terima kasih padanya meski dengan nada tidak niat dan tanpa ekspresi.
" Main."
Sudah. Begitu saja jawabnya. Menoleh pun tidak.
Tuh kan benar. Sasuke itu suka sekali membangun tembok penghalang. Naruto jadi kesusahan kalau mau dekat- dekat dengannya.
" Main ke mana?"
Sasuke melirik, " Terserah aku donk."
" Ke rumah Sakura ya?" tebak Naruto.
" Hn."
Cukup. Naruto tak berniat tanya lain- lain lagi. Gadis itu mendengus kasar saat melihat Sasuke meletakkan sisir sang kakak di atas meja belajar. Kemudian berbalik berjalan ke arahnya, oh, ke arah pintu ternyata karena memang Naruto berdiri di sisi pintu kamar Itachi.
" Mainnya jangan lama- lama, ya?" pesan Naruto dengan hati gundah gulana.
" Memang kenapa?" si bocah bertanya dengan wajah sedatar aspal di jalanan kota.
" Tidak boleh main ke rumah cewek lama- lama. Jadi harus cepat pulang begitu matahari mau tenggelam."
Sasuke terdiam. Jeda sesaat sebelum akhirnya sang bocah membalas dengan tampang polos dibuat- buat, " Kau juga main di rumah cowok lama- lama, Naruto- nee," kemudian berlalu. Menyisakan Naruto yang membeo kala mendapati si jenius tukang bangunan membalik ucapannya.
" Tapi …." bisiknya. ' Benar juga sih.'
" Hei, ngapain berdiri di depan pintu?" Itachi datang dengan raut heran. Menatap aneh sahabatnya yang mematung di dekat pintu kamarnya yang terbuka.
" Sudah ambil bukunya belum? Kita harus cepat ke rumah Sai sebelum-"
" Chi," sela Naruto. " Menurutmu Sasuke masih ingin menangkap kunang- kunang nya atau-"
" Kurasa tidak," potong Itachi cepat.
" AKU MASIH MAU!" teriakan Sasuke dari ruang keluarga terdengar lantang membuat keduanya terlonjak kaget bukan main.
" Sasuke, katanya mau pergi ke rumah Sakura dan pinjam film Uttaran buat mama-"
" Sandal jepitku hilang. Aniki sembunyikan di mana?" Sasuke mondar- mandir dengan wajah serius yang terlihat lucu.
' Oh, cuma mau pinjam kaset film.'
Naruto mengulas senyum kecil. " Sasuke, bagaimana kalau besok sore menangkap kunang- kunang bersamaku? Aku sudah janji akan tunjukkan tempatnya bukan?"
Si pemilik nama menoleh. Berpikir sejenak lalu menggeleng, " Kapan- kapan saja ya. Besok aku mengantar mama belanja ke pasar."
Naruto cemberut. Itachi memutar bola mata bosan. ' Mengantar pantatmu. Palingan mau minta jajan banyak pas di pasar,' batinnya.
..
..
Dan kapan- kapan saja yang dibilang Sasuke tak terjadi dalam waktu dekat. Bahkan hingga usianya bertambah tujuh tahun.
Naruto selalu mengingat janjinya untuk menemani bocah 12 tahun itu menangkap serangga dengan ekor menyala, tapi sepertinya Sasuke justru melupakannya. Bahkan mungkin ia tak berniat lagi untuk melakukannya.
Bocah itu masih sedingin dulu dan selalu membuat Naruto ketar ketir karena hubungan dekatnya dengan si rambut merah jambu meski terkadang ada di saat- saat tertentu ketika si Sasuke yang bosan di rumah akan terdampar di ruang santainya dengan setumpuk komik dan cemilan buatan Naruto di sebelahnya.
Naruto iri dan ia hanya bisa menyaksikan kedekatan mereka dengan wajah merana karena Sasuke- nya seolah semakin tak teraih.
Menggeleng pelan, kembali menarik kesadaran setelah beberapa saat tenggelam dalam lamunan. Naruto membuang nafas kasar, manik birunya menatap keluar jendela ruang tamu Uchiha.
Di teras rumah Sakura, Sasuke terlihat menunggu gadis cantik itu untuk berangkat sekolah bersama dengan seragam SMP nya. Dan Naruto berandai jika saja mereka seumuran dan bisa duduk sebangku seperti saat ia bersama Itachi dulu. Oh, kenapa tidak berandai jadi pacarnya sekalian?
" Berhenti menatap adikku dengan wajah menjijikkan," sungut Itachi sembari menyentil gemas kening sahabat pirangnya yang semakin manis.
" Tujuh belas tahun, Chi," lirih Naruto menuai kernyitan bingung dari si rambut kelam. " Tujuh belas tahun cintaku bertepuk sebelah tangan. Harusnya kau bersyukur aku tidak minum obat nyamuk karenanya."
Chk, sinetron sekali.
" Benarkah? Aku malah mau memberimu daftar cara melakukan bunuh diri dengan cantik. Sebentar, ku carikan di google-"
" Ah, sialan."
Itachi terbahak.
" Jadi, berangkat sekarang?"
Naruto mengangguk. Meraih ransel hitamnya dan beranjak dari kursi.
" Sebentar," Itachi meraih bahunya. Jemari kokoh pemuda ganteng itu merapikan kerah seragamnya yang terlipat asal.
" Kau ada ekstra basket kan sore ini, Kapten?" tanya si sulung Uchiha.
Naruto mendengus.
" Kau mau bilang kalau kau ada praktek kimia dengan Orochi- sensei mu sampai sore 'kan?" balasnya balik bertanya.
" Nah. Kau tahu."
" Aku akan menunggumu di kantin kalau aku selesai lebih dulu, tapi jangan lama- lama. Aku tidak mau ditanyai macam- macam lagi sama penggemarmu yang bejibun tentang warna dan ukuran celana dalammu. Menjijikkan sekali. Memangnya aku ini apa? Babumu? Cih!" gerutu Naruto seraya menghampiri Mikoto di pintu dapur. Itachi terpingkal dan memegangi perutnya yang nyaris kram.
" Bibi, kami berangkat."
" Hati- hati di jalan. Itachi, jaga Naruto-"
" Mama, sudah ku bilang tidak ada yang berani dekat- dekat dengan cewek mengerikan ini-"
" Itachi/ Chi!"
. . . .
Chap 4 _tbc
Makasih sudah berkenan mampir..
No kata2 lah.. yg penting mkasih banyak untuk semua dukungan teman2..
Salam kangen,
Lukas
: )
Yang nungguin Mom For My Little Menma sabar ya..
Yang nunggu Gamabunta juga Sabarrrrr kuadrat.. hehee
