Dan chapter ini kita buka dengan pemandangan yang tidak mengenakkan dari seonggok manusia yang sedang nungging di sofa ruang tengah dengan tidak seksinya. Mukanya memerah, kontras dengan rambut peraknya, keringat mengalir hampir dari seluruh badannya, dan nafasnya terengah-engah.

"Ukkh," ia mengerang, lalu berputar, yang membuatnya terguling jatuh dengan nistanya ke karpet.

"Gak… kuat.. lagi…" terpatah-patah ia mengangkat tangannya.

"Francis…" ia merangkak dengan sisa tenaga, menggapai seolah orang yang ia tuju ada di depannya.

"Antonio…" tenaganya hampir habis, ia terjatuh.

Dengan sisa kekuatan ia menarik nafas, dan mengeluarkannya dengan raungan,

"GEEEBBEEELEEEEEEEEEK" dan terjatuh tertelungkup kehabisan tenaga.


"Gil… Gilbert…" Gilbert membuka mata, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menyambutnya.

"Gilbert," suara lembut itu terdengar lagi.

"Ma… Mama?" Gilbert memanggil sosok yang ia harapkan sekarang.

"Hahahaha," kali ini sosok itu tertawa renyah.

"Elz?" sosok buram itu kini berubah menjadi wajah gadis tetangganya, gadis yang menjadi satu-satunya tujuan Gilbert yang buta cinta dan tak paham wanita, gadis yang sudah ia lukai.

"Ya, Gilbert?" Eliza menunduk. Gilbert baru sadar ia tertidur di pangkuan Eliza. Buru-buru ia bangkit, lalu duduk berhadapan dengan Eliza.

Gilbert melihat sekeliling. Ruang tengah. Hari sudah gelap dan ada yang menyalakan lampu. Mungkin Eliza. Cukup lama juga ia tidur.

"Eli...",

"Gilbert..." Eliza memotong.

"Ya?"

"Aku… Mau ngomong…" Eliza berbisik, duduk mendekat pada Gilbert, memandangnya lurus.

"… Ya?" Gilbert menelan ludah.

"Aku…" Eliza mulai membuka kancing kemejanya.

"Ayayayayayaya. Apa ini saatnya? Apa ini momen hubungan Cuma-teman-masa-kecil kami selesai? Apa…" Gilbert membatin dan dirasakan mukanya semakin panas.

"E… Eliza… I… ini apa tidak terlalu cepat?" Gilbert membalikkan tubuhnya.

"Tapi aku pikir, kamu sudah siap, Gill," Gilbert merasakan tangan Eliza menyentuh punggungnya.

"Ta… Tapi… Masa mau disini?" Gilbert menelan ludahnya dengan susah payah. Bulir peluh mulai membawahi pelipisnya.

"Aku pikir asal sudah berdua saja denganmu tidak masalah dimana saja,"

Gilbert menegakkan punggungnya. I… Ini… Mungkin orang lain menganggap tidak masalah, tapi…

"Gilbert, lihat aku," Eliza memegang pundak Gilbert.

"Gak bisa, Elz… Aku memang suka kamu, tapi bukan…."

"Gilbert!" Eliza setengah berteriak, suaranya tegas, mau tidak mau Gilbert menoleh.

"Gimana? Keren gak?" Eliza, dengan kemeja sudah terbuka semua menunjukkan perutnya yang sixpack, memukul dadanya yang bidang. Ia tersenyum bangga.

"… Hah?" bahu Gilbert turun, drop.

"Selama beberapa tahun ini, perkembangan tubuh gua naik drastic. Dan kayak kata gua, 'itu' tuh bakal tumbuh semakin lo tua. Punya gua sih udah mulai tumbuh semenjak lo masuk asrama,"

"Haaaa?" Gilbert semakin bingung.

Eliza berdiri, lalu memegang kancing celananya,

"Mau liat?" ia tersenyum penuh kemenangan.

"Enggak. Enggak! Amit-amit!" Gilbert menolak keras.

"Waaah. Sayang… Padahal gua bangga loh sama punya gua. Oh!" Eliza maju, memegang celana Gilbert.

"Atau kita mulai liat yang elu aja?"

"Hiaaaa!" Gibert loncat ke belakang.

"Oooh, gua tau! Ini pasti mimpi!" Gilbert mencubit pipinya keras-keras.

"Aw!" Gilbert mengelus pipinya, menyesal.

"Mimpi? Kalau mimpi pasti gak akan sakit," Eliza nyengir, lalu tanpa babibu mendaratkan tinjuan di perut Gilbert.

"Ukh," KO. Gilbert tergeletak menyedihkan di lantai.

Bye bye, Eliza macho, bye bye Eliza cewek, bye bye mama, papa, Antonio, Francis, tukang sayur, tukang bensin, tukang pln, guru TK, guru SD, guru SMP, guru SMA, umh… kayaknya udah semua deh….

"Sem? Aseeem?" ada yang menggoyang-goyangkan lengannya.

"Oh iya, adik gue Ludwig. Maaf ya Lud. Gua akan berusaha menjaga lu dari alam sana sebagaimana kakak baik seperti di cerita…"

"Seeem?" kali ini pipinya di tepuk-tepuk.

"Berisik, Lud! Lu gak liat kakak lu…" Gilbert bangkit.

Langit-langit ruang tengahnya, suasana hampir gelap dan lampu belum dinyalakan. Tidak ada Eliza. Tidak ada dada bidang dan perut sixpack, tidak ada Eliza. Tidak ada pengakuan aneh. Tidak ada Eliza. Hanya ada Ludwig.

Gilbert menghelai napas lega, menepuk kepala Ludwig, lalu berdiri menyalakan lampu. Kepalanya masih berat, apalagi kalau memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mimpi buruk. Itu mimpi paling buruk. Amit-amit. Gilbert mengelus tengkuknya yang merinding.

"Sem?"Ludwig memanggil lagi.

"Apaan? Makan? Bentar," Gilbert menyeret kakinya yang berat menuju dapur, membuka kulkas, mengambil sebuah tempat makan kecil berisi makanan untuk Ludwig, lalu memanaskannya dengan microwave.

Gilbert memegang kepalanya, makin panas.

.piip.

Gilbert membuka microwave, membawa tempat makan berisi makanan hangat itu lalu kembali ke ruang tengah.

"Nih," Gilbert memasangkan celemek kecil di leher Ludwig, menggendongnya dan membawanya duduk di sebelah Gilbert di sofa.

"Remote mana?" Gilbert melihat ke sekeliling. Ludwig ikut mencari, lalu merangkak ke ujung sofa, mengambil remote dan menyerahkannya pada Gilbert.

"Danke," Gilbert menyalakan tv, memindahkannya ke saluran anak-anak dan mulai menyuapi Ludwig yang asik menonton.

"Seem? Gak makan?" Ludwig berbicara dengan mulut setengah penuh.

"Ntar. Lud habis ini langsung tidur ya," Gibert menyuapkan suapan terakhir lalu melap sekitar mulut Ludwig.

"Nih minumnya. Sekarang tunggu kakak di depan kamar mandi, gih," Gilbert berdiri, berjalan sempoyongan menuju dapur, menaruh piring kotor di bak cuci, merendamnya dengan air, mengambil popok di kamar dan menyusul Ludwig ke toilet.

Selesai mengganti popok, mereka keluar kamar mandi. Ludwig berlari lebih dulu ke kamar. Gilbert berhenti, menahan tubuhnya dengan dinding. Kepalanya sudah sangat berat sekarang. Harusnya semua pintu sudah di kunci, tadi. Semoga saja sudah. Kepalanya tidak bisa di ajak berkerja lagi.

Dengan keyakinan rumahnya sudah aman sekarang, ia masuk ke kamar, menutup pintu dan merebahkan diri di sebelah Ludwig yang sedang kesusahan membuka selimut.

Gilbert menarik selimut hingga terbuka, lalu membentangkannya hingga menutupi mereka berdua. Gilbert sudah akan tertidur saat di rasakannya tangan kecil Ludwig ada di pipinya.

"Panas…." Ludwig menekan pipi Gilbert. Dalam gelap bisa dilihatnya kening adiknya berkerut.

"Karena gua cowok hot, Lud. Dah, sana tidur,"

"Hot?" Ludwig mengulang, tapi tidak ada pertanyaan lanjutan karena kakaknya sudah mendengkur.


Gilbert terbangun. Rasanya dingin sekali… Ia meringkuk, berusaha mengusir dingin. Tapi rasa itu semakin nyata, giginya kini gemeletuk. Sepertinya apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Mana sekarang sekujur tubuhnya terasa gatal...

Gilbert memandang adiknya yang masih tertidur. Gawat, bisa-bisa si Lud ketularan. Bukan gimana-gimana. Kalau ni bocah sebiji sakit, bisa-bisa dia yang diciduk gak becus jaga adik.

Gilbert duduk, meraba meja di sampingnya mencari ponsel.
"Telpon ambulance… kayaknya berlebihan deh… Mana nomornya gak inget lagi… Udahlah, telpon Antonio aja," Gilbert menaruh lengan kirinya menutupi mata, berusaha mengurangi rasa panas di matanya sedangkan tangan kanannya memencet tombol hijau dua kali.

"Selamat datang di mailbox nomor xxoxxxooox. Silahkan tinggalkan pesan setalah nada. Beep",

"Halo, Nton, gua kayaknya ketularan sepupu lu deh. Badan gua meriang. Tolong secepat mungkin ke sini ya, jemput adik gua. Kalau udah nyampe miscall. Sorry malem-malem," dan Gilbert membiarkan tangan itu terkulai lemas.


Gilbert membuka mata. Ada rasa dingin di keningnya.

"Sorry. Ke dinginan, ya?" suara itu. Suara itu lagi.

"Eliza?" Gilbert masih setengah sadar.

"Ya? Gimana?" ada tangan yang membetulkan letak kompres di dahinya.

"Eliza… cewek kan?" Gilbert masih mengigau.

"Iya lah.". Gilbert membuka matanya, dan benar saja ada Eliza di depannya. Rambutnya berantakan, diikat sekenannya, menggunakan piyama yang di lapis dengan jaket, kacau sekali. Sial. Gilbert kembali menutup matanya. Tertawa kecil.

"Ahahaha, ampun, Elz… Kayaknya gua emang gak bisa berantem ama lu lama-lama,"

"Hm?"

"Gua dari tadi mimpiin elu. Sekarang juga gua mikirin lu lagi ngerawat gua. Sial. Si Antonio kayaknya udah dateng dan gua malah mimpiin Eliza yang ngerawat gua,"

"Lu sakit-sakit masih ngajak berantem, ya?" kini kompres di turunkan hingga menutupi matanya. Rasanya nyaman sekali.

"Enggak kok Elz. Serius. Gua Cuma mau minta maaf. Lu gak tau segimana senengnya gua keluar dari asrama karena artinya gua bisa ketemu sama elu. Banyak banget yang pingin gua certain dan banyak hal lain yang pingin gua omongin,"

"Contohnya?" si Eliza jadi-jadian menyahut.

"Hum… Gua berhasil ranking 1 kemarin lulusan. Berarti gua gak malu-maluin amat kan jadi temen?"

"Hahaha," sosok itu tertawa, tertawa seperti bagaimana Eliza yang Gilbert ingat.

"Gua juga kangen tawa itu, Elz. Selain karena isi asrama gua cowok amit-amit semua.

Lu tau gak? Pinginnya gua pas kemarin gua balik, kita bisa main keluar gitu. Terus gua tanya, 'gimana kabar lu, Elz? Lu makin cantik aja deh' terus mungkin lu bakal nonjok gue terus kita ketawa bareng-bareng. Tapi lu malah datang sambil bilang mau nge date sama Roderich. Lu bukannya nanya tentang gua… Tentu aja gua kecewa, bahkan buntutnya malah marah. Dan sayangnya gua ama lu jadi berantem, bahkan berhari-hari…",

"Gua… gak maksud… Maaf," sosok itu menjawab dengan suara Eliza.

"Hahaha. Coba aja kalau lo nyata, Elz. Bukannya sosok mimpi gua. Tapi gak mungkin juga, ya… Gua Cuma cowok clumsy yang bahkan setiap ketemu lu malah menyulut pertengkaran baru,"

"Enggak kok. Lu… Gua bangga kok sama lu.. Udah ah. Sekarang tidur,"

"Lucu juga. Gua kan lagi tidur. Tapi ok, mungkin kalau gua tidur di sini, gua di dunia nyata bakal bangun,"

"… Ide bagus,".

Dan tidak ada suara-suara lagi. Gila. Kalau di mimpi begini bacot gua banyak juga, Gilbert merenung. Mungkin kalau ketemu beneran dia seharusnya bisa seberani ini...

"Eeeh, Ludwig jangan ke sini,",

"Asem?",

"Iya, kakak lu yang asem itu lagi sakit. Ntar ke tularan loh,",

Dan kening Gilbert mengerut.

"Ketularan?"

"Iya. Ntar kayak asem. Ada bentol-bentolnya. Ayo ayo sini main sama kak Francis aja,",

Makin berkerut.

"Hush! Udah cukup sepupu gua jadi korban. Udah sini aja yuk, Lud, sama kak Antonio,",

"Apaan maksud lu korban,",

"Yaaa. Pokoknya gua gak mau masa depan Ludwig tercemar.",

"Eeeh!",

Cukup.

Cukup.

"BERESEEEK!" Gilbert bangkit. Dengan beringas ia melihat sekeliling dan menemukan Francis dan Antonio sudah siap saling memusnahkan, adiknya Ludwig hampir nangis, dan kompres jatuh dari keningnya.

"Eeeh, Gilbert," Francis berjalan dengan centilnya menuju ranjang Gilbert.

"Lu kenapa gak cerita belum pernah kena cacar?" Antonio berbicara dari tepi pintu sambil menggendong Ludwig.

"Gak kepikiran juga," Gilbert mengambil kembali kompresnya, menghempaskan dirinya kembali rebah dan menaruh kompresnya kembali di dahi.

"Tuh, kak Gilbert gak papa, kan? Yuk, nonton tv," Antonio membawa Ludwig menjauh dari kamar.

"Tadi ayah gua udah meriksain lu. Kemungkinan besar ini emang cacar. Tapi biar pasti darah lu lagi di periksa. Mau makan sekarang gak? Ada obat nih. Sambil nunggu ganti baju dulu deh," Francis menaruh satu set baju di pangkuan Gilbert .

"Ayah lu? Meriksa? Ambil darah? Seriusan gua gak nyadar ada siapa aja yang dateng,".

"Makanya makan sekarang, terus minum obat. Gua udah masak buat lu,",

"Ok. Si Lud?",

"Udah. Dia udah makan. Pinter banget deh," Francis bangkit lalu meninggalkan Gilbert.

Gilbert mulai mengganti baju saat ada yang memanggil.

"Sem?" wajah mungil Ludwig terlihat di dekat pintu, mengintip takut.

"Jangan ke sini dulu, Lud",

"Asem… Marah? Lud gak nangis…"

"Mana mungkin gua marah sama anak awesome, Lud," Gilbert mengacungkan jempolnya.

"Gih, sana, temenin kak Antonio nonton tv. Dia suka acara Barne* juga loh,"

"Eh.. Iya, Lud. Kakak suka tuh acara Barne*. Coba-coba, tunjukkin kakak dong," Antonio datang, lalu menggandeng Ludwig.

"Nton, tolong tutupin pintu. Gua mau ganti baju,"

"Ngapain di tutup. Kayak ada aja yang mau liat badan tipis begitu,"

"Lebih baik mencegah dari pada mengobati, bro. Buru tutup,",

"Ok, ok," pintu di tutup.

Gilbert melanjutkan mengganti baju.

"Gua masuk," Francis mengetuk pintu lalu masuk bersama nampan.

"Aw," Gilbert mengangkat tangannya. Benar saja, sudah ada bentol-bentol menghiasinya. Gatal? Jangan di tanya.

"Jangan digaruk. Nta gua bantuin ngolesin salepnya,"

"Iya tau," Gilbert duduk bersandar di kepala tempat tidur.

"Mau makan sendiri atau di suapain?" Francis mengedip.

"Suap sendiri," Gilbert merebut mangkuk itu dari Francis, lalu mulai menyuap.

"Mirip ya…" Francis menarik kursi belajar Gilbert, lalu duduk di samping tempat tidur.

"Hmm?"

"Hahaha. Enggak. Gua ke inget seseorang, tapi cewek."

"Kapan sih pikiran lu bukan tentang cewek… Ngomong-ngomong cewek, gua kemimpi Eliza mulu dari kemarin,"

"Achieee" Francis mencolek dagu Gilbert.

"Jijai! Dengerin orang cerita kenapa?",

"Oh iya maaf,"

"Mimpi pertama… Amit-amit. Gua aja ampe merinding kalau ingat. Mimpi ke dua… Rada mending sih. Gua mimpi kalau Eliza ngerawat gua, terus gua minta maaf, gua keluarin semua unek-unek gua…".

"Hum… Termasuk soal lu suka dia?"

"Ya… Enggak juga sih… Tapi seenggaknya gua minta maaf. Gua pengecut, kan? Cuma berani dalam mimpi…" Gilbert menyodorkan mangkuk kosongnya.

"Thanks,"

Francis tersenyum, "Lu mau nambah?".

"Enggak. Mana obatnya?"

"Nih," Francis membuka beberapa obat, menaruhnya di telapak tangan Gilbert.

"Banyak amat," Gilbert memandangnya dengan dahi berkerut, sebelum meminumnya.

"Udah gak usah protes. Oh iya, kemungkinan Gilbert bakal di taruh di rumah Eliza dulu. Gua sama Antonio bakal gantian jaga di sini. Gimana?",

"Nice,".

"Ini salepnya. Ntar bagian yang susah gua bantu masangnya," Francis memberikan kotak berisi salep berwarna biru.

"Selama gua mampu, dan selama pilihannya cuma elu atau Antonio doang, gua bakal berusaha sendiri,"

Francis keluar kamar sambil tertawa.

"Francis!" Gilbert berteriak saat teringat sesuatu.

"Apaan?" Francis mundur, memandang Gilbert heran.

"Si Eliza tau gua sakit?"

Dan mendadak Francis tertawa, tertawa puas.

"Justru... dia... yang pertama tau. Lu bego sih. Yang kemarin malam lu telpon si Eliza. Terus dia nelpon gua, nanyain ayah gua bisa meriksain elu apa enggak dan pas gua ke sini dia lagi ngejagain Ludwig,"

"Wot?" Gilbert buru-buru mengecek hpnya. Bingo. Nomor yang kemarin dia hubungi nomor Eliza.

"Selamat ya, Mr. Clumsy," Francis kembali keluar.

"Eh? Eh? Berarti yang kemarin beneran, dong? Francis! Francis! Oi! Jangan-jangan lu ada lagi pas gua ngigo... Eh! si Antoni juga? Francis! Oi!" Gilbert berteriak panik pada punggung Francis yang keluar kamar sambil tertawa.


*nangis*

susahnyaaa

akhirnya update juga

maaf lama *excuse basi*

ngemeng-ngemeng tanggal 25 bentar lagi ya?

yeaaah! season limaaa, segeralah dataaang

suki suki oye oye *weeboo kumat*plak**

makasih yang udah baca, nunggu, review, fav, alert,

uhum.

oh iya, ini rada buru-buru... tolong periksain kali ada yang salah ya *nyusahin*

makasih :D

Balas review!

Kitsune Syhufellrs

Lanjuuut :D

N and S and F

iya.. masih... tapi.. gitu...

maaf...

ok... faster as.. as..

...

maaf... T-T

Sindy Beilschmidt

lempar aja

silahkan. sepatu gratis sebelah sana *tunjuk stand*

dance in storm

nuuuiinuuiinuii
alertnya bunyi tuh :D

ini ada update :D

spa bel? fufufu. wani piro? *taboked*

Guest

adik? adik saya... jadi cowok ganteng, jadi cewek cantik juga... lebih pinter dari saya lagi...

T-T

aku mau luddy jugaaa

Strawberry'Lawllipop

sir yes sir -w-\

Violetta Ametist

hetaday sering-sering aja cari informasinya mulai bulan juli-an

acaranya biasanya oktober *kalau liat tahun-tahun sebelumnya*

updaaate! d

aster-bunny-bee

makasih review dan kunjungannya juga mu,um

nana.0.o

iya... saya akui fanfic ini gak rapih... kadang geleuh sendiri liatnya -_-

hehe. makasih masukannya :D

Kagamine Yukimura

di sini. formulirnya di sini, biaya pendaftarannya di sini *nunjuk*

hueee. *kedip balik*

ma..makasih d