A-Anoo ini last chapternya Summer Festival hehehe... tolong baca yah ^^ *mohon ampe sujud2*
Chapter ini banyak NaruHina tapi GaaSaku nya ada juga sih... dikit...
Yo wes lah... bingung mau nulis pa lagi, bales ripyu ajah hehehe...
Nakamura Kumiko-chan: Okeh dah Update ^^ GaaSakunya kurang di sini hehehe...
Haruchi Nigiyama: Hehe.. iya udah apdet ^^ ini last chapter lohh ^^
Sessio Momo : Iya emang si Ino ganggu hehe... tapi di Chap ini ga ada gangguan ^^... Apdetan terakhir nih baca ya ^^
Re-L'Fujiki-chan : Iya nih ketik sampe tamat, soalnya gw suka bingung ngelanjutin kalo bikin cerita bersambung, makanya daripada bingung bikin aja sampe selesai wkwkwkw...
Dari pada lama2 mending langsung ajah dah...
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summer Festival ^-^ Cerita Ane hehehe *narsis di lempar galon*
Baca yahh ^^ n ripyuu *ngarep mode:ON*
Beberapa saat sebelum kembang api diluncurkan
"Naruto? Ada apa?" Tanya Hinata yang memperhatikan wajah Naruto yang kelihatan sedang melamun.
"Ah tidak kok… aku hanya sedang berpikir…" kata Naruto kemudian dia diam.
Suasana yang aneh menjalar disekitar Naruto dan Hinata. Pertama-tama mereka merasa senang sebelum Ino memberitahu kalau Sakura sedang sedih, dan kemudian Naruto pun jadi pendiam begini. Hinata memandang ikan masnya yang berwarna oranye dengan tatapan kosong, matanya yang berwarna lavender menatap Naruto yang masih melamun, lalu dia menatap ikan mas nya lagi. Suasana yang sama selkali tidak menyenangkan.
"Naruto lihat ini… ini… nih disini!" kata Hinata yang kemudian mengajaknya kembali ke stand topeng yang mereka kunjungi pertama kali tadi. Hinata mengambil satu topeng dan satu topeng lagi yang berukuran agak besar, lalu membayar uangnya dan kembali ke Naruto.
"Lihat! Topeng ini lucu banget yah… hehehe… nih buat kamu Naruto" kata Hinata,"Oh iya cepat pakai dong" kata Hinata sambil tersenyum. Melihat hal itu Naruto tersenyum juga dan memasangkan topengnya ke wajahnya.
"Aduh Hinata… aku salah memasangnya tolong benarkan dong" kata Naruto yang kini terjebak dalam topeng.
"Hahaha… Naruto ada-ada saja masak sama topeng begini bisa nyangkut sih hehehe…" Hinata tertawa sambil membenatkan topeng yang dipakai Naruto tadi.
"Huh Hinata jangan tertawa terus dong" kata Naruto yang malu.
"Hahaha… biarin" kata Hinata yang kini terus tersenyum senang, dan memasang topengnya tapi tidak menutupi wajahnya, hanya ¾ bagian wajah sebelah kiri yang tidak sampai menutup matanya. "Hm… begini lebih baik" kata Hinata.
"Ada apa nih Hinata?" tanya Naruto yang mengikuti langkah Hinata dari belakang. "Kok jadi sedikit banyak bicara biasanya kamu diam-diam aja" kata Naruto yang membuat Hinata berhenti berjalan.
"Habisnya… Naruto kelihatan sedih… aku benar-benar tidak mau melihat Naruto sedih… hanya itu kok…"kemudian Hinata berbalik memandang Naruto."Apa itu tidak boleh?" tanyanya.
"Ti…tidak… sungguh…" kata Naruto yang kemudian menghampiri Hinata,"Apa aku membuatmu khawatir?" tanya Naruto.
Hinata menggelengkan kealanya,"Tidak… hanya saja aku tidak mau Naruto selalu berwajah sedih… hanya itu kok," kata Hinata mengulang kata-katanya tadi.
"Itu sama saja aku telah membuatmu khawatir… hah… ya sudah lah aku minta maaf kalau kamu tidak suka" kata Naruto yang kini merasa menyesal.
"Bukan begitu maksudku" kata Hinata "ah sudahlah…" kemudian Hinata pergi duluan ke kerumunan yang sedang menunggu peluncuran kempang api.
"Hinata! Hinata! Yah dia sudah jauh" kata Nartuo yang kini makin serba salah,"Kenapa sih dia? Cewek kok susah dipahami" katanya kesal sambil ngeloyor pergi kebelakang berlawanan arah dengan Hinata."Aku pergi sebentar ah mau beli minuman" gumamnya.
Setelah sampa di kedai minuman, dia membeli teh hangat dua botol, kemudian melihat stand gulai, Naruto mampir disana membeli dua batang gula kapas lalu pergi dengan tangan penuh makanan. Naruto sulit sekali saat berjalan, apalagi banyak orang-orang menuju tempat peluncuran kembang api.
"Mau kubantu?" tanya perempuan yang ada didepannya.
"Loh Ino? Kok kita ketemu lagi" kata Naruto sambil melihat Ino dengan tatapan bertanya.
"Hohohoho…Ino!… hebat kan bisa membuntuti kalian sampai sini…" kata Ino penuh bangga.
"Idih.. kayak nggak ada kerjaan yang lebih baik aja… atau kamu lagi senggang gara-gara nggak ada cowok yang ngajak kamu jalan iya kan hehehe…" kata Naruto dengan nada jahil.
"Ih… apa-apaan sih kamu, mau dibantu nggak?" kata Ino setengah marah.
"Iya….iya nih bantu dong aku nggak bisa jalan dengan baik kalau bawa barang begini banyak" kata Naruto sambil mengacung-acungkan dua batang gula kapas.
"Huh iya sini gula kapasnya" kata Ino sambil mengambil gula kapas yang masih terpegang dengan erat di lengan Naruto.
"Makasih… aduh pegal" kata Naruto.
"Payah… masak begitu aja udah capek… cowok lemah" kata Ino dengan mata sinis.
"Wee… biar aja cowok lemah banyak yang suka, daripada cewek kuat dan jutek gak ada yang suka weee…" kata Naruto yang mulai menggoda Ino, dan sukses membuat Ino melotot.
"Huh! Cowok macam kamu tuh yang nggak bisa diharapkan!" kata Ino sambil terus berjalankan sambil mengacung-acungkan batang gula kapas seperti pemain anggar.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Naruto yang jelas-jelas tidak mengerti apa yang dikatakan Ino.
"Makanya aku bilang bodoh… ini nih cowok yang gak bisa paham perasaan cewek" kata Ino yang kini melambai pada anak kecil yang tersenyum padanya.
"Hah?" Naruto benar-benar nggak ngerti arah pembicaraan Ino.
"Dasar lamban! Kau pikir kenapa Hinata tiba-tiba menjadi banyak bicara?" Tanya Ino.
"Itu karena aku yang lagi ngelamun" kata Naruto."Loh kok dia tahu Hinata jadi banyak bicara?" batin Naruto.
"Ahh jadi cowok kok bego-bego amat sih! Yang kamu lamunkan siapa?" tanya Ino lagi.
"Siapa? tentu saja Sakura… kau pasti tahu kan dan Hinata juga pasti…tahu…" kata Naruto yang kini sadar.
"Payah baru sadar sekarang…" Ino mendengus kesal, kemudian dia memberi Naruto kedua batang gula kapas yang tadi dan menendang pantatnya. "Sana pergi minta maaf sama Hinata, kalo perlu sujud-sujud deh yang penting minta maaf" kata Ino.
"Iya..iya bawel ah…" kata Naruto yang kemudian pergi dengan langkah cepat,"Oh iya Ino… maksih…" kemudian Naruto berlari dengan bawaan yang banyak.
"Iya sama-sama…" kata Ino kemudian dia menatap Naruto yang lama-lama menghilang di kerumunan orang-orang," Tapi kalau dipikir-pikir semuanya gara-gara aku juga sih… biarlah yang penting semua bakal beres hehehe…" Ino kini pergi ke tempat panjualan gulali lalu membeli gulali paling manis, kemudian ngeloyior pergi gak tentu arah, malam yang panjang untuk jomlowati macam Ino.
Sementara itu, Naruto berlari dengan bawaannya yang banyak, mencari-cari Hinata, beberapa detik kemudian menemukan sosok berkimono warna kekuningan dan rambut hitam yang panjang dan diikat dengan pita merah kecil-kecil itu, duduk membelakangi Naruto dan kelihatan kesepian. Naruto menghela napas kemudian duduk disebelah Hinata.
"Nih… teh hangat mau minum?" tanya Naruto tiba-tiba.
"E..eh Naruto bikin kaget aja… minum? Boleh.." kata Hinata yang mengambil botol berisi teh hangat.
"Umm… Hinata…"
"Ya"
"Begini… maaf yah…"
"Maaf kenapa Naruto"
"Soal tadi, aku tadi ngelamun kepikiran Sakura dan harusnya aku nggak boleh memikirkan Sakura pada saat seperti ini…" kata Naruto yang mencoba menatap Hinata, mencoba menatap mata lavender itu sekali lagi agar dia bisa tahu bagaimana perasaannya sekarang ini.
"Oh… itu… bukan kok… tidak apa-apa… tadi aku juga sudah berpikir… sikapku emang sedikit egois, yah memenang sikap yang jelek ya kan?" kata Hinata sambil tersenyum ke Naruto, senyum yang bukan dibuat-buat.
"Begitu yah… ya sudahlah lebih baik kita nikmati acaranya saja yuk" kata Naruto.
"Jangan lebih baik kita sekarang ke tempat Sakura saja… dari sana juga bisa lihat kembang api… ya kan, lagian kasihan Sakura lihat kembang api sendirian" kata Hinata tanpa nada terpaksa.
"Tapi… benar tidak apa-apa?" tanya Naruto.'
"Yup! Kenapa juga harus kenapa-napa?" Hinata balik bertanya.
"Kamu… nggak akan… cem…cemburu sama Sakura kan?" tanya Naruto secara spontan dengan suara pelan hampir tidak terdengar,"Ah bukan…bukan maksudku, kan nggak enak sama kamu-nya, masak harus pergi jauh-jauh ke jembatan itu" kata Naruto salah tingkah.
"Nggak kok… nggak jauh juga kan… " kata Hinata, kemudian berdiri,"Yuk pergi" kata Hinata.
"Hinata tunggu…" kata Naruto.
"Ya?"
"Ini aku lupa kalau tadi beli gula kapas" kata Naruto dengan polosnya.
Hinata terdiam, lalu,"Hahaha… ternyata gula kapas, kirain sesuatu yang penting hahaha… sini aku minta satu" kata Hinata dengan sedikit tertawa.
Naruto lega melihatnya senang lagi, "Yah nggak apalah menghabiskan malam bertiga sambil melihat kembang api di jembatan" batin Naruto.
Kemudian mereka berjalan menyusuri jalan yang berlawanan dengan tempat peluncuran kembang api, semakin jauh mereka menyusuri jalan semakin sedikit orang yang terlihat. Kemudian mereka menyusuri jalan yang benar-benar sepi, lalu mereka sudah dapat melihat jembatan yang dituju, mereka akan berlari namun berhenti ketika melihat Sakura tidak sendirian, melainkan ditemani seseorang.
"Siapa itu?" tanya Hinata pada Naruto.
"Entahlah, lebih baik kita mendekat diam-diam" kata Naruto.
Kemudian mereka melompat ke atap rumah, lalu melepas geta yang dipakai, dengan kemahiran mereka sebagai ninja mereka berlari disepanjang atap rumah, lalu dengan teknik penyembunyian aura chakra, mereka dapat dengan mudah tidak terdeteksi Sakura, lalu setelah menemukan sebuah gang sempit dekat dengan jembatan mereka turun dan bersembunyi disana.
Setelah beberapa saat memperhatikan wajah si laki-laki, Naruto terkejut yang dilihatnya itu ternyata Gaara. Kemudian dari kesenyapan yang dalam, terdengar suara percakapan mereka.
"Sakura…"
"Ya…"
"Ah tidak…"
"Oh…"
"Mereka lagi bicara tenatang apa sih?" tanya Hinata yang sudah mengenali Kazegage dari Suna itu.
"Nggak tahu tuh, tapi mereka diam lagi, dan apa tuh yang dipakai Sakura? Yukata siapa tuh?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri.
"Sepertinya itu yukata Kazekage, lihat Kazegake hanya memakai kaos" kata Hinata.
"Ah iya sepertinya kamu benar"
Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara
"Bersiaplah! Pertunjukkan kembang api akan segera dimulai! Perhatikan kaki anda saat melihat kembang api, jangan sampai anak anda kehilahangan anda, disarankan agar menonton kembang api sambil duduk. Kembang api akan di luncurkan dengan hitung mundur 10…9…8…7…6…5…4…3…2…1… dan…."
Lalu kembang api meletus dengan sayup-sayup, kemudian terdengar suara Gaara.
"Sakura… kau menangis?"
"Sakura kenapa? Kok nangis? Kan tadi nggak apa-apa?" tanya Naruto.
"Sepertinya Sakura sedang galau… mungkin sedang memikirkan Sasuke"kata Hinata yakin.
"Kenapa cewek sangat perasa yah bisa tahu dari melihat saja" batin Naruto.
Kemudian mereka tidak bicara lagi.
"Sa…saya tidak apa-apa… maaf saya besikap ane…h" suara Sakura terdengar sayup dan bergetar. Lalu hal itu terjadi, Gaara memeluk Sakura.
"Ehhhh!! Kenapa tuh si Gaara main peluk aja" kata Naruto yang kaget melihat adegan itu.
"Maaf G..Gaara-sama… bisakah anda lepaskan saya" suara Sakura terdengar sayup
"Tidak kalau kamu menangis gara-gara Uciha itu" suara Gaara lebih besar dan lebih terdengar.
"Apa-apaan si Gaara, bisa gawat tuh" gumam Naruto.
Lalu Gaara didorong sampai membentur tiang pembatas jembatan
"Tuh kan apa kubilang" gumam Naruto lagi.
"Saya peringatkan ini bukan urusan anda! Dan saya tidak mau anda menyebut-nyebut Sasuke seperti itu" kata Sakura.
"Kau masih mau mengelak, kamu pasti sedang memikirakan dia sampai menangis seperti itu…"
"Sudah saya katakan itu bukan urusan anda! Jangan campuri urusan orang lain seenaknya! Urusi saja urusan anda sendiri!" suara Sakura makin meninggi
"Kazekage bisa bicara seperti itu… tandanya dia…" gumam Hinata.
"Dia pasti orang yang sangat brengsek ya kan… hah? Pasti dia orang yang sangat menyebalkan ya kan?" Gaara mengatakan sesuatu yang berlebihan.
"DIAMMMM!!!!"
Diam sejenak, hanya terdengar sorak sorai yang sayup dan suara kembang api yang masih beterbangan. Tangan Sakura masih menempel di wajah Gaara, Sakura masih memejamkan matanya dan saat matanya dibuka, Gaara diam saja dengan tangan Sakura masih menempel di wajahnya dan dari mulutnya mengalir darah segar.
"Apakah dia orang yang begitu penting?" kata Gaara.
"Kumohon hentikan" kata Sakura yang kini terduduk sambil menangis.
"Apakah dia orang yang sangat berarti?"
"Kumohon….jangan teruskan…"
"Apakah dia orang yang sangat kau sayangi?"
Sakura terdiam dalam kesunyian, kembang api telah berhenti, kesenyapan menjalar membuat perasaan tambah galau. Merambat sampai ke tempat persembunyian Naruto dan Hinata.
"Apakah kau sangat mencintainya?" kata Gaara kemudian Sakura menatapnya.
"IYA!!! MEMANGNYA KALAU IYA KENAPA?!!" Sakura berdiri kemudian mereka berhadapan dengan sangat dekat."AKU MEMANG BODOH! AKU TAHU ITU! MENUNGGU ORANG YANG TIDAK KUNJUNG DATANG! MENGHARAP SESUATU YANG PERCUMA! MENGHAYAL TERUS! YA AKU MEMANG BODOH! PUAS!" kini suara Sakura terdengar sangat jelas dengan penuh amarah.
"Kazekage cemburu?" batin Hinata.
"Keluarkanlah semuanya… jangan pendam sendirian… kau tak akan kuat".
"Kau tidak akan kuat sendirian…" kata Gaara dengan sedih. Naruto paham arti kata-kata Gaara karena dia juga pernah sendirian.
"Huhuhu… HUAAAA!" Sakura kemudian melompat memeluk Gaara yang berdiri dihadapannya. "Sasuke Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Huhuhu….Dia tidak punya perasaan! Tega! Dingin! Otak Udang! Lebih bodoh dari Naruto! Lebih …lebih… huhuhu…. Dasar manusia dingin… dasar tidak punya perasaan… dasar Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Dasar Sasuke bodoh!"
"Ya… dia memang sangat hebat… aku yakin kau paling tahu tentang dirinya"
Lalu Naruto dan Hinata pergi dari tempat persembunyian mereka. Meninggalkan sisa-sisa luapan kekesalan Sakura yang terpendam begitu lama.
***
"Aku tidak tahu Sakura bisa menangis dan membuka semua kekesalannya pada Gaara" kata Naruto tidak mengerti walaupun dia sedikit senang tadi Sakura bilang kalu Sausuke lebih bodoh dari dia. Kini dia dan Hinata duduk di atas penampungan air dekat rumah guru Kakashi, ikan mas dan topeng diletakkan di samping mereka duduk.
"Mungkin karena sikap Kazekage juga yang lain daripada yang lain, mungkin karena ucapan Kazekage yang kasar itulah yang meruntuhkan ketebalan dinding kekesalannya yang ditumpuknya selama ini" kata Hinata sambil memandang bulan purnama yang bersinar penuh yang sebelumnya tertutup awan mendung.
"Yah mungkin kau benar… biasanya firasat cewek selalu benar" kata Naruto
"Hahaha… masa iya sih" Hinata tertawa dengan renyah. "Tapi sayang kita nggak bisa lihat kembang apinya" kata Hinata sambil meregangkan badannya.
"Kata siapa kita nggak bisa lihat, nih lihat" Naruto menunjukkan sekotak kembang api mini, yang dibelinya di stand kembang api saat dia membeli gula kapas.
"Wah hebat! Ayo nyalakan…nyalakan" kata Hinata bersemangat.
"Wah antusias banget sih hehe" kata Naruto.
"Ya kan mau liat yang lebih dekat makanya antusias" kata Hinata.
"Biklah! Here we GO!" Naruto menyalakan beberapa kembang api lalu meletuslah dengan indah satu persatu, lalu setelah kemabang api luncur habis, mereka membakar kembang api lidi yang menyala perlahan.
"Hey Hinata…"
"Ya"
"Mmm…"
"Ada apa Naruto"
"Nggak Cuma kepikiran festival"
"Oh begitu" Hinata yang lelah jongkok ingin meluruskan kakinya, tapi getanya membuat dia terpeleset dan kehilangan keseimbangan lalu dia tergelincir jatuh dari penampungan air.
"HINATA!" dengan cepat Naruto menarik tangan Hinata dan menariknya keatas sampai Naruto jatuh terbaring di penampungan air sedangkan Hinata terduduk di sebelahnya."Aduh Hinata… hati-hati dong".
"Maaf Naruto tadi kepeleset" kata Hinata.
Lalu Naruto mencoba duduk, dan setelah berhasil duduk, ternyata wajahnya dekat sekali dengan Hinata. Hening lama, kembang api mereka sudah mulai sedikit apinya kemudian padam dengan sendirinya.
"Hinata…"
"Ya Naruto"
"Boleh kita lanjutkan yang difestival tadi?"
"Yang mana?"
"Yang seperti ini…"
Kemudian, Naruto mendekat dengan perlahan… aroma parfum Hinata yang wangi, lalu debaran napasnya yang bergemuruh…jantungnya yang berdebar begitu cepat… bibirnya bergetar… matanya dan Hinata mulai menutup… kepalanya kemudian dimiringkan secara naluriah. Kemudian rasa yang hangat ini, baru pertama kali dirasakan keduanya, bibir mereka bertemu, sepat teh yang mereka minum terasa mencair dan di atas penampungan air dengan latar bulan purnama yang bersinar terang mereka berciuman.
Pintu kamar Guru Kakashi terbuka, ternyata dia masih baca novel yang aneh itu, lalu dia berkata,"Akan ku ambil oksigen dari rongga lehermu sampai kau benar-benar merasakan nikmatnya dunia ini" Kakashi berhenti lalu berkata,"Wah vulgar sekali novel ini… hmm" lalu dia melihat sesosok yang dikenalnya di atas penempungan air. Kemudian dia langsung masuk lagi ke kamar.
"Wah…wah… ternyata anak muda zaman sekarang cepat yah ck…ck…ck" dipandangnya lewat jendela, dua orang itu masih berciuman.
***
Pagi itu terasa sangat sejuk, burung-burung berkicau dengan riang. Pohon-pohon mengeluarkan gutasi yang berupa bintik-bintik air yang mengalir jatuh dari daunnya. Bunga-bunga terlihat segar. Udara pagi yang menyejukkan memaksa Sakura untuk bangun. Perlahan dia menggeliat lalu diperhatikannya sekelilingnya. Tempat yang ditempaitnya sekarang adalah tempat duduk dekat jembatan itu. Lalu dia merasa ada yang tertidur di bahu kirinya. Saat dia menoleh, terlihat Gaara sedang tidur, terlihat pulas. Lalu entah mengapa Sakura merasa dirinya menjadi lebih baik. Terasa sangat segar, apa mungkin karena tadi malam dia telah menumpahkan kekesalalnnya. Lalu diperhatikannya wajah pemimpin Suna, dan tersenyum geli,"Haduh remaja begini sudah memimpin negara yah, hebat hehehe" batinnya.
"Ya sudahlah ini terima kasih buat semalam" batin Sakura, lalu mengecup pipi Gaara dengan lembut.
"Menyerang orang yang sedang tidur bukanlah perilaku yang baik" kata Gaara yang masih memejamkan matanya, kemudian membuka matanya perlahan, lalu menatap Sakura sambil tersenyum.
"Hahaha… tapi menyerang musuh saat tidur adalah keahlian ninja, lagipula pura-pura tidur juga bukan perbuatan yang baik kan?" kata Sakura sambil cengengesan.
"Loh memangnya aku musuhmu?" tanya Gaara sambil tersenyum dan berusaha untuk duduk tegap.
"Hmm bukan sih… Cuma melampiaskan rasa terima kasih hehehe…" Sakura kini tempak cerah yang membuat Gaara tersipu. Lalu keduanya terdiam.
Gaara melirik Sakura, menatap perempuan yang semalam dipeluknya dengan hangat, yang menagis di dadanya. Entah mengapa Gaara bicara tanpa kehendak otaknya. Kemudian tangannya bergerak dengan refleks, lalu menepuk punggung Sakura.
"Tak bisakah…" kata Gaara yang kemudian menggenggam tangan Sakura.
"Tak bisa" kata Sakura yang kemudian menatap Gaara dengan penuh arti. Kemudian melepaskan tangannya dengan perlahan dan lembut.
"Hah… baiklah baiklah… aku mengerti…" kata Gaara sambil menggeleng dan mendengus sebal.
"Kalau begitu aku pergi dulu yah Kazegake hehe… bye Gaara" Sakura beranjak dari duduknya, kemudian berbalik sambil melepaskan yukata merah yang dipakainya,"Terima kasih untuk segalanya" kata Sakura lagi.
"Ya sama-sama" Gaara menatap mata hijau itu, lalu menunduk kemudian tesenyum sedikit,"Ya sama-sama" katanya lagi.
Sakura meninggalkan Gaara dengan yukata di tangan Gaara, masih hangat dengan sisa aroma Sakura. Gaara menghela napas dengan berat.
"Hei Sakura…" kata Gaara kemudaian Sakura menoleh kebelakang.
"Ya Gaara?"
"Boleh aku menunggumu?" Gaara berkata sambil melipat yukatanya.
Keduanya terdiam agak lama, kemudian Sakura membuka mulutnya yang sebelumnya tersenyum manis.
"Sebaiknya… jangan… karena aku tidak akan menyerah" Sakura kini berkata berhadap-hadapan dengan Gaara sejauh beberapa meter. Gaara memandang Sakura dengan lekat, begitupun Sakura, selama beberapa saat mereka membisu.
"Hah… ditolak lagi" Gaara menunduk lesu."Ya sudahlah…"
Sakura tersenyum, "Baiklah Gaara aku pergi dulu yah" kemudian Sakura perlahan pergi dan menghilang dibalik rimbunnya pohon.
"Yah… sedikit egois juga boleh kan, aku juga tidak akan menyerah Sakura" kata Gaara dengan wajah memerah dan tersenyum senang.
"Wah wah ternyata Kazekage ada disini huh?" suara wanita terdengar dari sebuah pohon, kemudian pohon itu seperti terkelupas dan keluarlah sesosok wanita cantik berambut oranye dengan tanda spade berwarna biru di keningnya.
"Oh Hokage sudah lama mengintip privasi orang hehe…" Gaara tersenyum sambil memperhatikan Tsunade.
"Yah kalau dibilang cukup lama sih nggak, tapi nggak sebentar juga sih" kata Tsunade."Lucu juga yah melihatmu bisa begini Kazekage-sama".
"Manusia bisa berubah setiap saat bukan begitu Hokage-sama?" jawab Gaara dengan santai.
"Kau melakukakan hal yang baik kepada Sakura" Tsunade kini duduk disamping Gaara,"Tapi perlu kau ingat, tekadnya tidak akan begitu mudah hilang"
"Yah tapi kan manusia bisa berubah kapan saja" Gaara kini menatap Tsunade,"Dan saat Sakura merasa sudah cukup dengan semua ini, maka aku tidak akan menyerahkannya pada Uchiha itu" kata Gaara dengan senyumannya. Lalu dia beranjak sambil memegang yukatanya."Oh iya yukata ini biar kusimpan boleh kan?" Tanya Gaara.
"Ya boleh" kata Tsunade. Saat Gaara telah menjauh,"Mungkin kau takkan pernah bisa melihat dia menyerah Gaara" Tsunade tersenyum lalu dia menggeliat kemudian menguap lebar.
"Hah! Gelora masa mudaaaa"
"KYAAAA SELESAI SUDAH! FIC NARUTO SAYA YANG PERTAMA YANG BEGITU PENDEK INII!!! *digaplok gara2 berisik*
Maksih buat yang udah baca
Makasih juga yang udah ripyu ~~, membuat saya semangat dan dapat ide buat bikin cerita yang lain ^^
Kyaaa kyaaa sedangnyaaaa *ga jelas*
Semoga ketemu lagi di cerita yang lain ^^
