.

.

Barista

presented by RFionn

BTOB belongs to God, their parents, and Cube Ent.

Main Pairing : ChangJae (Changsub-Sungjae)

Warning : typo(s), OOC, bahasa kasar, alur cepat, agak panjang, AU, Yaoi

.

Don't Like, Don't Read!

.

.

Happy Reading~


Akhir-akhir ini Sungjae memiliki kebiasaan lain, menunggui Changsub hingga akhir jam shiftnya di cafe. Bisa sambil menggodanya di meja bar, atau hanya duduk memerhatikan si pucat bekerja dalam diam di bangku pojok favoritnya. Jika Changsub tidak shift malam, pemuda pucat itu tetap berada di luar apartemennya –bersama Sungjae yang memaksanya untuk menemani menghabiskan hari.

Namja yang –baru diketahui Sungjae– bernama lengkap Lee Changsub itu terkadang heran bukan main, pemuda bertubuh tinggi yang menurutnya tidak memiliki kerjaan lain selain menggodanya itu seperti seorang pengangguran, meski ia mengaku bahwa ia adalah mahasiswa –tingkat akhir! –.

Ia tidak pernah menemukan Sungjae berlaku selayaknya mahasiswa biasa. Changsub seringkali mengantarkan pesanan pada segerombolan mahasiswa yang sibuk dengan setumpuk paper disana-sini, buku-buku, dan laptop menyala di hadapan mereka.

Tapi bocah ini? Changsub berani melabelinya seorang idiot. Terutama pada saat ini.

"Kau– bisakah kau berhenti memandangiku seperti itu?"

Dan kebiasaan lainnya, namja Yook tersebut memandanginya dengan sorot yang bahkan menurut Changsub tidak masuk akal.

–campuran antara sorot kagum, terpana, dan nafsu?

"Wae (mengapa)?"

"Kemana attitudemu, bocah? Kau tidak pernah diajari untuk menghargai orang?"

"Menghargai macam apa?"

Changsub beralih dari pantry, memilih untuk meladeni bocah besar di hadapannya. Ia menyisir rambutnya ke belakang sembari menatapnya malas, "Aku tidak pernah suka tatapanmu yang seperti itu."

"Kau lagi-lagi memerhatikanku?" Sungjae mengangkat sebelah alisnya, setengah gede-rasa.

Inilah yang membuat Changsub suka naik darah ketika berhadapan dengan namja berambut brunette tersebut –yang tanpa Changsub sadari jika ia menikmatinya, "Kau pernah dengar atau membaca statement ini; manusia memiliki Gaze Detection System? Itu yang membuat manusia sadar jika ia sedang ditatap, berikut jenis tatapannya." Changsub kembali ke pantry untuk menata gelas.

"Dan aku tidak memerhatikanmu."

Pemuda yang memiliki manik obsidian sehitam langit malam itu berpikir sejenak, sebelum menjawab dengan mantap. "Tidak masalah, aku tidak akan menatapmu seperti itu lagi. Dengan syarat," Sungjae bangkit, ia meluruskan coatnya sebelum beranjak dari bar dan menuju pintu. "Kau jadi kekasihku."

"Sudah kubilang berapa kali, brengsek," si pucat membanting agak keras gelas yang sedang dipegangnya, suara tenornya mendadak menjadi dalam. "Aku tidak gay." tegasnya sambil memandang dingin eksistensi Sungjae di depan pintu cafe.

Sungjae, meskipun fakta ini sudah terlontar padanya sebanyak malam yang mereka habiskan berdua, masih tetap tidak terbiasa akan jawaban Changsub. Biasanya, pemuda yang ternyata lebih tua empat tahun darinya tersebut menyiratkannya secara halus dan terselubung –tanpa maksud menghina yang lebih muda, tentunya. Tapi kali ini Sungjae mendapati si pemuda pemilik manik cokelat mengucapkannya secara kasar sekaligus tegas, membuatnya berpikir apakah usahanya selama ini sia-sia mengambil hati sang pemuda pucat tersebut.

"Akan kubuat kau jatuh cinta padaku. Aku bukan orang yang pantang menyerah." tangan besar milik si brunette memegang gagang pintu, sebelum keluar dengan bergumam kecil.

"Persiapkan dirimu."

Donggeun, yang hari itu menjadi partner shift malam Changsub, untuk pertama kalinya heran akan kepergian pemuda jangkung tersebut. Pasalnya, ia beberapa kali bertugas sendirian karena di menit terakhir shift mereka, Changsub selalu diseret keluar lebih awal oleh Sungjae. Jadi Donggeun pikir, masalah mereka kali ini pasti lebih kompleks sebab Sungjae tidak pernah angkat kaki sebelum berhasil menculik Changsub.

Melihat partner bertugasnya kacau, membuat pemuda plontos itu mendekat dengan perlahan ke arah Changsub, "You okay, hyung?"

Changsub yang sedang menetralkan degup jantungnya beralih pada Donggeun, "Ya, aku baik, Peuni. Jangan khawatir."

Manik cokelat milik Changsub mengedar, cafe telah sepi namun waktu masih menunjukkan pukul 22.35, masih ada 25 menit lagi sebelum jam tutup. Kaki jenjang si pemuda bertato melangkah menuju pintu dan membalik papan tanda menjadi "TUTUP", membuat Donggeun membelalakkan matanya di meja bar sana.

"Tidak salah, hyung? Masih ada waktu sebelum tutup sungguhan."

Namja pucat tersebut menuju salah satu bangku yang masih bersih, dan langsung mendudukkan dirinya, sebelum melambai pada Donggeun untuk ikut duduk bersamanya.

"Aku perlu teman untuk mengobrol."

.

.

.

Terhitung satu minggu sejak terakhir kali Sungjae melihat wajah chubby barista pucat nan seksi yang bekerja di cafe milik sunbae dari sunbaenya itu. Ia masih mengingat kala bibir lancang miliknya berkata bahwa ia tidak akan menyerah pada si namja bersurai karamel tua. Tapi apa usahanya?

Chamna, menampakkan wajahnya ke cafe saja ia tak berani.

Dan ia masih kepikiran dengan perkataan Changsub yang menyatakan bahwa ia bukan gay. Jadi, selama ini Sungjae 'bertepuk sebelah tangan'? Apalah arti 'kencan' mereka selama ini?

–tunggu, atau jangan-jangan yang menganggap ini 'kencan' hanya Sungjae seorang?

'Sudah pasti seperti itu, bodoh!'

Kim Taehyung, teman Sungjae yang lain, hanya menatap malas kawannya yang sedang kacau sendiri. Tanpa niatan bertanya apa yang terjadi, pemuda asal Daegu itu bisa menebak sedikit banyak masalah yang sedang mendera Sungjae. Karena pada waktu hubungannya kandas dengan Park Sooyoung, si brunette juga kurang lebih seperti ini.

–diam merenung memainkan ramyeon cupnya yang telah mendingin dan membiarkan temannya yang berkulit tan tersebut bengong sendiri.

Masalah kali ini pasti tidak jauh-jauh dari kata percintaan, pikir Taehyung.

"Sialan Sungjae -ya, kalau aku hanya kau jadikan patung pajangan disini biarkan aku pulang dan bercumbu dengan Jungkookie."

"Aku sedang berpikir, Tae,"sepasang obsidian Sungjae menatap penuh minat pada manik cokelat –yang berhasil mengingatkannya pada Changsub– milik pemuda yang terkenal dengan cengiran kotaknya tersebut. "Bagaimana kau mengajak Jungkook berkencan?"

Taehyung mengangkat sebelah alisnya, ia benar-benar tidak ingin caranya menembak Jungkook ditiru si jalddo satu ini. "Aku hanya mengajaknya ke taman." jawabnya singkat sambil mengendikkan bahu.

"Lalu Jungkook menerimamu?"

"Akan kuteror ia setiap hari jika berani menolakku."

"Kau pemaksa rupanya."

"Kau tidak berbicara tentang dirimu sendiri?"

"Apa maksudmu?"

"Jinjja,"

Taehyung dongkol, temannya yang satu ini memang memiliki bakat menguras emosi orang yang berbicara dengannya. Pemuda tan tersebut melempar kaleng sodanya ke tempat sampah, dan masuk dalam sekali lempar.

"Kau juga pemaksa, buktinya kau memaksaku kemari dengan dalih emergency. Apanya yang gawat darurat kalau kau segar bugar begini." Tangan –kiri– yang tidak kalah jumbo dengan milik Sungjae itu mencengkeram kerah pakaian si brunette. Membuat Sungjae menyadari satu hal.

"Kau juga kidal!?"

Taehyung mendecih pelan, "Hebat sekali, kau sebut dirimu temanku –ani, sahabat? Pfft."

"Bahkan tangan juga." gumam Sungjae sambil berusaha melepas cengkeraman Taehyung. Pemuda blonde itu seketika mencibir, "Calonmu juga orang yang istimewa?"

"Dia selalu istimewa." Sungjae kembali memainkan cup ramyeonnya, sambil tertawa sendu, "Tapi mungkin aku tidak seistimewa itu baginya."

"Bukan bukan," Taehyung menggelengkan kepalanya cepat, "Maksudku, calonmu juga– kidal? Tentu saja orang yang kita anggap spesial selalu istimewa, aku juga tau itu."

"Ah," Sungjae menyadari salah pahamnya, dan berniat mengakhiri percakapan. Mengabaikan Taehyung yang menghembuskan nafasnya kasar lewat mulut, kesal.

Ponsel milik Taehyung di atas meja bergetar, menandakan panggilan masuk dari kontak bernama 'Kookie'. Sungjae sekejap mengusir –main-main– Taehyung yang tanpa ragu-ragu mengangkat teleponnya. Cengiran khas Taehyung terlontar pada Sungjae, dan dibalasnya hanya dengan anggukan.

Setelah itu Sungjae kembali seorang diri.

Pemuda jangkung itu memilih beranjak untuk memanaskan kembali ramyeonnya, sebelum manik sehitam jelaganya mendapati kepala dengan surai karamel tua yang tidak asing baginya nampak dibalik rak pajangan minimarket yang sedang mereka pijaki saat ini. Melupakan ramyeon, ia berjalan pelan ke arah Changsub yang serius memilih variant ramyeon-cup yang terpampang dalam rak di hadapannya.

"Hai."

Changsub menoleh, dan manik cokelatnya mendapati eksistensi seseorang yang membuatnya merasa bersalah seminggu terakhir ini.

"Hai, juga." balas si pucat ragu-ragu, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa menyakiti pemuda ini lagi.

"Ternyata hyung bisa berkeliaran waktu matahari sedang tinggi ya? Kukira hyung makhluk nokturnal."

Tarik semua pemikiran Changsub yang tadi, pemuda ini sama sekali tidak menandakan sakit hati sama sekali!

Jika di dunia animasi, mungkin perempatan urat sudah nampak di pelipis Changsub. Tapi sebut saja ia sedang baik hati hari ini, ia mengabaikan segala kicauan tidak penting Sungjae seolah telinganya dapat memfilter dengan sendirinya. Tangan dengan jemari panjang pucat tersebut meraih dua cup ramyeon dan langsung melangkahkan kaki menuju pojokkan minimarket untuk menyeduh ramyeonnya diikuti Sungjae yang seperti anak bebek mengikuti ibunya.

.

.

.

"Permintaan maaf?"

Changsub mengangguk kecil, sembari meniup ramyeon yang telah ia jepit menggunakan sumpit dengan tangan kirinya. Sungjae memerhatikan setiap gerik si pemuda pucat tersebut, terlebih ketika Changsub mengoperasikan sesuatu dengan tangan kirinya. Maklum, selama masa hidupnya, ia hampir tidak pernah menemukan orang di sekitarnya dominan menggunakan tangan kiri alias kidal –Changsub dan Taehyung adalah pengecualian.

"Untuk apa?" tanyanya lagi, gagal paham. Changsub tadi membawa dua cup ramyeon, menyeduhnya, dan memberikan yang satu untuk yang lebih muda –meski Changsub melihat ada sisa cup ramyeon lain–. Ajakan untuk makan bersama dan mengobrol, seperti pada malam-malam yang telah mereka habiskan berdua.

Pemuda berambut sewarna karamel tua mengambil jeda sejenak, menelan makanannya. Sebelum menjawab dengan intonasi agak kesal. "Aku minta maaf atas perkataanku tempo hari, dasar pelupa. Kepalamu kau isi apa hingga alasanku yang tidak sampai tiga menit lalu tidak masuk ke otakmu?"

Sungjae terkekeh, ia menyukai ekspresi Changsub ketika pemuda pucat itu merasa annoyed olehnya. Omelan yang diiringi high pitch adalah bonus.

"Ani, untuk apa meminta maaf kalau aku sudah melupakannya, hyung?"

Heol dasar pembual satu ini–

Changsub menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya akan statement 'melupakan' tersebut. Setaunya, bagi orang-orang semacam Minhyuk dan Sungjae, itu sudah termasuk dalam ranah 'menghina', tidak mungkin secepat itu melupakannya kala luka hati telah tertoreh.

–kesimpulan Changsub setelah beberapa kali berpikir dengan memosisikan dirinya sebagaimana Sungjae.

"Tidak perlu berbohong, aku tau aku tidak seharusnya berkata seperti itu. Maafkan aku, sekali lagi." Changsub sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Sungjae, membuat si pemuda bermarga Yook sedikit tersedak melihatnya.

"Hyung tidak perlu se-ekstrim itu, aku sudah tidak lagi memikirkannya." balasnya terbata-bata diselingi batuk kecil, "Yang penting aku sudah bertemu denganmu."

Si pucat mendongakkan kepalanya, dan mendapati pipi Sungjae dihiasi sedikit rona kemerahan serta menutup mulutnya dengan sebelah tangan sehingga ia hanya mendengar akhir dari kata-kata Sungjae berikutnya.

"...ndukanmu."

"Mworago-yo?"

"Aniya, lupakan saja."

Sungjae mengalihkan pandangannya, berusaha sekeras mungkin untuk tidak melihat ke arah sang barista, bisa-bisa ia nanti ia memilih untuk pergi karena terganggu dengan tatapan yang dilayangkan padanya.

"Nado," jeda sejenak, manik cokelat milik pemuda Lee bergerak kesana kemari menghindari entitas di hadapannya –juga.

"–neo geuriwo."

Gumaman yang meluncur mulus dari bibir Lee Changsub membuat tubuh Sungjae mendadak terasa lebih ringan. Setelahnya, tanpa mengucap sepatah katapun, mereka hanya saling bertukar pandangan penuh arti dengan senyum yang mengembang di bibir masing-masing.

.

.

.

"Jadi? Siapa seme-nya?"

"Hyung tebak saja sendiri."

"Kau masih bisa berkata kalau kau normal, Sungjae -ya?"

"Aku masih menyukai yang seksi, hyung."

"Bukannya kau sempat ditolak?"

"Changsubie hanya dalam masa-masa denial. Makanya ia tidak terima kalau dirinya sendiri juga belok."

"Changsubie!?"

Bersamaan dengan teriakan berjamaah tersebut, sebuah lap menyabet belakang kepala namja yang paling muda diantara sekumpulan pria tukang rumpi di bangku yang sama pada saat Sungjae bertemu Changsub di cafe Melody. Donggeun menyusul di belakang Changsub dan langsung mengambil posisi disamping Minhyuk. Di sisi Minhyuk yang lain ada Eunkwang; yang sepertinya langsung meluncur kemari selepas pulang bekerja, dan di sebelahnya terdapat pasangan kopi-susu; Ilhoon dan Hyunsik, lalu duduklah Sungjae. Posisi tempat duduk yang melingkar membuat mereka tidak jauh berbeda layaknya gadis-gadis yang sedang bergosip, dengan memanfaatkan keadaan yang sepi pasca tutupnya cafe tersebut.

"Bagaimana kau bisa dengan enteng menyebutku tanpa embel-embel hyung, bocah?"

"Eiy," rengeknya manja, sembari menarik pinggang Changsub yang masih dililit apron untuk mendekat padanya, lalu memeluk pinggang yang cukup ramping tersebut, "Biasanya juga panggil chagi."

"Mwo?"

"Bertengkar sesekali memang baik," suara tenor lain mengudara; suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik Eunkwang, yang berhasil mengalihkan perhatian pasangan baru itu, "Tapi jangan seperti anak kecil yang berebut permen lalu berujung pada putus hubungan." Eunkwang memberi senyum tulus kebapakan pada dua insan yang baru menjalin hubungan seumur akar biji jagung (?)

Pemilik suara cempreng yang lain (r: Changsub) mengeluarkan cengiran softnya –cengiran faavorit Sungjae dimana pipi kekasihnya makin terlihat chubby dan matanya yang seketika berbentuk bulan sabit– sembari berusaha melepas pelukan Sungjae pada pinggangnya.

"Bisa saja, hyung, jika bocah ini melakukan sesuatu yang membuatku naik darah."

Sorakan meremehkan keluar dari masing-masing mulut keempat namja tersebut –kecuali Donggeun, yang terkendala pada perbedaan bahasa–.

"Tidak perlu seperti itu, Changsubie. Aku tau kalian masih dalam masa penjajakan, tidak ada salahnya naik darah demi mengerti pasangan masing-masing," Minhyuk mengikik kecil.

"Lagipula kalian baru sama-sama punya hubungan seperti ini bukan?" lanjut pemuda yang sering dipanggil tupai tersebut.

"Yeah, aku juga penasaran siapa yang dominan diantara kalian." Ilhoon yang masih kepikiran taruhannya dengan Hyunsik, berusaha mengorek 'informasi' sebanyak-banyaknya.

Manik sehitam jelaga Sungjae bertemu dengan manik cokelat Changsub, seolah mengirim sinyal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, kemudian dengan bersamaan menjawab,

"Bukankah sudah jelas?"

.

.

.

FIN


Sengaja update kilat sebelum dilanda UAS ㅋㅋㅋ

Really, lega bisa menyelesaikan satu cerita meski ramai pengunjung dan sepi apresiasi. Terima kasih sudah menyempatkan untuk singgah dan membaca hingga akhir! Beneran deh, kritik dan saran diperbolehkan kok. Jadi kutunggu RnR nyaa~

04-01-2018, 02.50