Da-Tadaaaaaaaaahhhh!

Waktunya Update Chapter Ceritaaaaa!

Jreng-jreng-jreng-jreeeeeeeennngggg /Dilempar

Eh, kalian tau dari mana kalau dicerita ini Gempa itu Suami-nya Yaya? Siapa yang kasih Spoiler?!

Oh, oke Aku sendiri. /OonLu

Nah, ini adalah lanjutan Chap sebelumnya. Api dan Air sudah mulai dideket-deketin nih. Harus lebih Deket—Dekeet—Dekeeeettt—Dekeeeettt— dan lebiiiiiihhh Deket Lagi biar mereka bisa... Bisa... Bi... sa... Bi... *Nosebleed*

Happy RnR! ;)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Air, kau boleh cerita padaku." Api tersenyum, menghibur Adiknya yang sedang Kacau itu.

Air kembali terdiam. Dinginnya salju semakin terasa saat keheningan menghampiri pembicaraan mereka. Terlihat kepulan asap putih tipis muncul setiap mereka menghembuskan nafasnya. Suasana kota juga begitu hening.

Air menghela. "... Ini hanya tentang masa lalu..."

Api yang penasaran pun siap mendengarkan setiap kata-kata yang dituturkan padanya.

Ini kesempatannya.

Untuk lebih tau sikap Air.

Untuk lebih dekat dengan Air.

Dan Juga..

Untuk menyampaikan perasaan Api pada Air.

Bahwa dirinya ingin menjadi sosok yang lebih menyayangi Air, melebihi kasih sayang yang diberikan seorang kakak.

Bahwa dirinya ingin menjadi lebih dari sekedar kakak untuk Air.

"Jadi.. Apa yang terjadi?.."

Angin dingin berhembus. Menerpa surai hitam kedua anak itu.

"...Hari ini tepat sudah setahun Ayahku meninggal." Air memeluk tubuhnya sendiri karena mulai kedinginan.

"Kalau aku boleh tau, apa yang terjadi pada Ayahmu? Yang membuat dirinya meningal?"

Air mengeratkan pelukan dirinya, kembali menghela dan seketika kepulan asap putih pun terlihat. Wajahnya terlihat semakin sedih. "... Kecelakaan... Yang disebabkan olehku..."

Mendengar kalimat barusan, sepertinya nasib Air sama dengan Api. Yang mana Dirinya telah mencelakakan Ayahnya sendiri.

"... Aku dan Ayah... Sudah seperti Sahabat... Dia selalu ada disampingku... Apapun yang kuminta... Ia selalu penuhi... Saat aku kesepian... Dia rela bermain menemaniku seharian..." Air memandang langit malam yang dihiasi butiran-butiran salju putih yang turun.

Api tersenyum kecil. "Setidaknya kau beruntung.. Punya Ayah yang baik..."

"... Sayangnya Aku membuang keberuntungan itu..."

"..Hah? Maksudmu?"

Air terdiam sejenak. Ia menatap langit malam yang dipenuhi oleh salju yang turun.

"... Kecelakaan apa yang terjadi pada Ayahmu?" Api bertanya lagi.

"... Waktu itu... Aku dan Ayah pergi ke bukit. Untuk bermain bersama... Aku sangat ingin memainkan layang-layang baru milikku, karena itu aku pergi kesana untuk menerbangkannya.. Dan aku berhasil. Layanganku terbang. Berkat bantuan Ayah juga."

Api mendengarkan Air dengan penuh seksama tanpa mempedulikan angin dingin yang membuat tubuhnya sedikit menggigil.

"Hari-hari itu benar-benar menyenangkan. Sungguh. Cukup menyenangkan untuk menjadikannya sebagai hari terakhirmu untuk menghabiskan waktu hidupmu..."

Air menggenggam tangannya kuat-kuat. Terlihat tangannya bergetar karena kedinginan dan menahan air matanya.

"...Apa yang terjadi?.."

"... Saat akan kembali ke rumah... Kami dihadang perampok... Salah satu mereka hampir menyembelih leherku karena kami tak memberi mereka semua barang-barang berharga yang kami punya... Aku beruntung... Ayahku cukup berani untuk melawan mereka... Tapi... Tak cukup kuat untuk menaklukan mereka..."

"...Jangan bilang..."

Air mengangguk. "Mereka bersenjata!.. Tentu saja mereka bisa membunuh Ayahku dengan mudah!..."

Api tertunduk. Rasanya Ia sangat menyesal sudah menanyakan hal ini pada Air. Api mulai bisa mendengar isakkan Air yang terdengar lirih.

"... Terlalu menyakitkan..." Air kembali meneteskan Air matanya. "... Aku ingat itu... Sangat jelas!.. Tubuhnya terluka berlumuran darah!.. Aku Ingat itu!... Saat Pisau milik penjahat itu menikam Dia berkali-kali!... Terlalu menyakitkan!... Suaranya yang parau menyuruhku untuk lari!.. Ayah... Kalau saja aku tak memintamu untuk pergi ke bukit waktu itu... Kau pasti masih ada disini!... Ini semua salahku!.."

Tangisan Air terdengar sedikit keras.

Kini Api-lah yang benar-benar merasa bersalah.

Karena Dirinya sudah menanyakan hal ini.

Kini Api-lah yang benar-benar merasa bersalah.

Karena Dirinya sudah membuat Orang yang Ia sayangi Menangis.

Tangan Api kembali mengusap pipi Air yang terasa dingin, menghapus air matanya. Tiba-tiba, Air langsung menyingkirkan tangan Api dari wajahnya, dan menggunakan lengan bajunya untuk mengeringkan pipinya.

Anak itu berbalik membelakangi Api, dan wajahnya kembali terlihat dingin.

"...T-Terima kasih.. Kau sudah mau mendengarkan Aku, Kak Api. Sekarang kau boleh panggil aku Air, si anak Lelaki yang senang bermain boneka."

Api menghela, dan senyum tipis terlihat diwajahnya.

"Jangan lupakan soal cerita Bocah Penjual Korek Api yang sebatang kara dan selalu bersedih." Api berusaha menghibur Air.

"Aku tau bagaimana rasanya jika Keluarga kita sendiri harus tewas karena ulah kita sendiri. Kau tau?.. Ini Rahasia terbesarku... Tak sembarang orang yang boleh tau... Soal rumahku yang terbakar? Akulah penyebab kebakaran itu. Akulah yang membakar Ayahku sendiri. Aku memang tidak sadar, namun karena kebencianku yang sangat besar padanya, membuatku tak sadar sudah membunuhnya."

Air menoleh. Wajahnya menunjukkan bahwa Ia turut bersedih mendengar cerita singkat Api yang lebih menyakitkan dari Ceritanya.

"...Yaah.. Kau pasti bisa bayangkan apa yang dikatakan Ibuku di Alam sana.. melihatku membunuh Ayahku sendiri.. Dia membenciku lho.."

"..."

"... Aku mengerti Air.. Semua yang kau rasakan... Aku mengerti... Aku tau... Karena Aku merasakannya Juga..." Api tersenyum.

Air kembali membuang muka. "Benarkah?"

Api mengangguk.

"... Kau benar-benar tau... SEMUA yang Aku rasakan saat ini?..."

"Tentu saja! Aku tau kau merasa sangat terpukul karena kematian Ayahmu disebabkan olehmu sendiri. Hanya karena kau ingin merasa senang, merasa bahagia, kau harus kehilangan orang yang sangat penting dalam hidupmu.. Dan Aku sangat tau seberapa sakit rasanya."

"... Kau Pembohong..." ketus Air dingin.

"...Hah?"

"... Kau tak tau semua perasaanku sekarang." Air melangkah pergi meninggalkan Api, namun si Mantan penjual korek api memegang tangannya.

"Tunggu! Maksudmu masih ada yang belum aku tau? Apa itu?"

"... Lepaskan Aku."

".. Hah? Perasaan yang Aneh.."

"Tidak! Maksudku lepaskan tanganku!"

Api semakin erat memegang tangan Air. "Kau menyembunyikan sesuatu!"

"Tidak!"

"Heei! Tidak Adil! Aku sudah mengatakan Rahasia terbesarku padamu! Tapi kau masih menyembunyikan sesuatu!"

"Aku bilang Aku tidak menyembunyikan sesuatu!"

"... Kau pembohong." Api mengembalikan perkataan Air.

"..." Air membuang muka.

Api yang mulai kesal pun menggenggam kedua bahu Air dan seketika membuat anak itu terbelalak. "Kau jelas mengatakan ada yang tidak aku ketahui soal perasaanmu! Sekarang katakan, Apa itu?"

Air tak menjawab. Ia bahkan sama sekali tak menatap Api.

"Air. Aku bicara denganmu jadi Tatap Aku!"

Air masih terlihat tak sudi memandang tatapan Api yang mulai terlihat tajam.

Kehabisan kesabaran, Api menempelkan dahinya di dahi Air. Otomatis jarak mereka sudah sangat dekat sekarang.

"Ka—Apa yang kau lakukan?!" wajah Air mulai memerah karena jarak wajahnya dengan wajah Api sangat dekat. Ia bisa merasakan nafasnya Api yang terasa hangat menerpa wajahnya.

"Apa susahnya sih kalau hanya harus menatap mata orang?!"

Air berusaha menjauh dari Api, namun gagal. Tenaga Api lebih besar dari Air. Tak ada gunanya memberontak. Terpaksa kedua tatapan mereka harus kembali bertemu. Kedua Flame Hazel itu menatap tajam. Namun tak ingin membuat tatapan dingin Air terlepas darinya.

"... Aku menunggumu, Air.."

"Kak Api! Lepaskan Aku!"

"Tidak! Sampai kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku!"

Air menarik nafas sejenak. Wajahnya semakin memerah. "... Aku..."

Api sudah siap mendengarkan apapun yang akan dikatakan Air.

"... Aku... Tidak mau menjadi adikmu!.."

Api tersentak begitu Air mengatakan itu.

".. Maksudku... Aku tak bisa.. menjadi Adikmu... Aku ingun menjadi lebih dari sekedar adik!.. karena... Sebenarnya... Aku... Mencintaimu!"

Api lebih tersentak lagi begitu Air mengatakan itu. Matanya terbelalak seakan sedang dihujani anak panah Cinta. Oh..

"... Kau puas kan? Sekarang kau boleh panggil aku orang gila karena menyukai sesama jenis! Apalagi dengan kakakku sendiri!" Air kembali membuang mukanya yang merona hebat itu.

Senyuman mengembang di wajah Api. Padahal tadinya dia yang akan menyatakan perasaannya.

Perlahan, tangan Api yang menggenggam bahu Air berpindah ke belakang punggungnya yang tertutup jaket biru muda. Air merinding ketika tangan Api perlahan menuruni punggungnya, lalu berhenti, melingkari pinggangnya. Air mulai bisa merasakan hangatnya pelukan Api, namun entah kenapa, tangannya berontak terus mendorong bahu Api.

Api semakin mengeratkan pelukannya.

Dahi mereka sudah menempel.

Kini hidung mereka yang saling menempel.

Pada akhirnya, Api menempelkan bibirnya di bibir Air. Mencuri Ciuman pertama milik Air. Merasakan rasa dingin dan kelembutan dari bibir milik Air. Keduanya kini memejamkan mata.

Anak berjaket biru muda itu langsung menutup matanya rapat-rapat. Wajahnya terasa panas dan semakin memerah.

Karena berusaha berontak, Air harus merasa merinding karena Api semakin menekan bibirnya.

Api menghisap bibir atas Air, menunggu balasan dari anak itu.

Tanpa berpikir panjang, Air menghisap bibir bawah Api, membalas ciumannya.

Cukup lama bibir mereka bersentuhan. Butiran-butiran salju yang turun dari langit seakan menjadi saksi lahirnya Cinta mereka.

"..Ka—Apph—i lep—paas!—Ummpphh—!" Lama-kelamaan, Air mulai kehabisan Nafas. Berusaha melepaskan ciuman mereka yang semakin panas.

Api menjilat dan menghisap bibir Air sebelum Ia melepaskan ciumannya.

Sang Penjual Korek api mendapati Wajah anak yang ada dihadapannya itu memerah sempurna sampai ke kedua telinganya. Air masih belum berani membuka matanya yang tertutup rapat, sebelum Api menempelkan ibu jarinya di bibir Air.

"Lihat? Aku tau apa yang sedang kau rasakan saat ini.. Karena itulah aku melakukan ini.." Api tersenyum manis.

"... Kak Api... Tapi..."

"Aku tidak peduli jika Aku harus melawan takdir yang mengharuskanku untuk mencintai lawan jenis. Aku mencintaimu Air.." Api langsung memeluk Air.

Pelukannya hangat..

"...Aku juga mencintaimu, kak.." Air kembali memejamkan matanya, dan membalas pelukan Api.

.

.

.

.

.

.

.

Api terbangun tengah malam karena ingin pergi ke kamar mandi. Tanpa berlama-lama, Ia langsung kembali ke Kamarnya untuk tidur. Saat melewati lorong di lantai atas, Api mendengar seseorang mendengkur. Sangat keras. Ia mencari dari mana asal dengkuran itu.

Dari kamar Yaya? Ah! Mana mungkin dia mendengkur sekeras itu.

Oh! Suaranya datang dari kamar Air.

Tunggu...

Api tidak ingat kalau Air pernah mendengkur saat tidur.

Untuk memastikannya, Api masuk ke dalam kamar Air. Dan Ia mendapati Taufan sedang tertidur di lantai beralaskan kasur lipat. Dia menginap disini rupanya. Dan ternyata memang Taufan-lah yang mendengkur.

Ya Ampun, Paman. Kalau kau mendengkur sekeras ini, Aku yakin tak akan ada yang tahan satu kamar denganmu!

Dan di atas ranjang terlihat seseorang berbaring terbalutkan selimut biru muda. Tentu saja itu Air.

Apa Air sudah tidur?

Untuk memastikannya, Api mendekat, dan membuka selimut yang membalut tubuh Air.

"...?!"

"Hooh.. Rupanya kamu belum tidur.." Api tersenyum pada Adiknya. Umm... lebih tepatnya Kekasihnya.

"Kau bercanda?! Hanya makhluk yang tuli saja yang bisa tidur dengan dengkuran ini!" Air menyingkirkan bantal yang menutupi kedua telinganya.

"Hahaha.. Jangan bilang begitu! Dia itu pamanmu Tau!"

"..Huh.." Air terduduk diranjangnya. Terlihat rambut hitamnya kusut. Penampilannya terlihat lucu sekali.

"... Hei, mau tidur dikamarku tidak?"

"...H-Hah?.." terlihat wajah Air kembali memerah. Wajahnya gampang sekali merona ya?

"Aku bersumpah. Aku tidak mendengkur kalau sedang tidur."

"..Tapi.. Tidak ada kasur lipat lagi kak.. Hanya ada satu.. Sudah dipakai Paman Taufan.."

"Hei! Siapa yang menyuruhmu tidur di lantai? Ranjang di kamarku tak sekecil itu tau! Lagipula aku tak makan banyak tempat kok!"

"Apa?!.."

"Masih tidak mengerti juga? Oke, mungkin ini sudah tengah malam. Kau sudah tak bisa berpikir lagi. Aku bilang... Kau—dan Aku—tidur—satu ranjang— Mengerti?"

"... J-Jangan bercanda!" wajah Air semakin memerah, dan Api semakin gemas melihatnya.

Tanpa berkata apapun lagi, Api menarik tangan Air, dan membawanya masuk ke kamarnya.

"Nah, kalau disini, suara dengkuran Paman Taufan tidak terlalu terdengar kelas kan?"

Api langsung membaringkan dirinya di tempat tidur. Sedangkan Air masih mematung di dekat pintu kamar.

"Hei! Mau sampai kapan kau berdiri disana?"

"...Aku akan kembali ke kamarku!.."

Air hampir keluar dari kamar Api, namun si empunya kamar langsung menarik tangan Air, dan langsung mendorong tubuhnya hingga terjatuh tepat di atas kasur.

"Kau ini! Keras kepala sekali, sih!" Api memukul pelan kepala Air, lalu membaringkan tubuhnya di samping Air.

"..T-Terima kasih...!"

"Hm.." Api menarik selimut, dan menyelimuti tubuhnya dan tubuh Air.

Wajah Air semakin memerah karena kini dirinya sedang berbaring dihadapan kekasihnya! Api meletakan tangannya di punggung Air, lalu mengelus punggungnya perlahan. Lama-kelamaan, Air memejamkan matanya, dan mulai terlelap di pelukan hangat Api.

"Selamat malam.. Air..."

Api mengecup kening Air. Memberikan kecupan selamat malam pada kekasihnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Matahari mulai terbit, dan lama-kelamaan semakin naik dan bersinar terang menyinari dunia ini. Cahayanya masuk ke celah yang sedikit lebar pada jendela kaca yang tertutup Gorden merah, membuat Api perlahan membuka matanya.

Dan saat semua kesadarannya terkumpul, Api mendapati Air sedang tertidur dalam pelukannya. Si mantan Penjual korek api tersenyum melihat wajah tidurnya yang sangat polos.

"Hei.. Air.. Ayo bangun.." Api berbisik di telinga Air.

"Nnn.." Air menolak untuk bangun, membenamkan wajahnya ke bantal.

"Heeh.. Dasar tukang tidur! Ayo cepat bangun!" Api menempelkan hidungnya ke hidung Air.

"...Uhhnn..." Perlahan, Air membuka matanya. Sinar matahari pagi membuat Iris biru mudanya berbinar-binar. Anak itu terlihat sangat manis! Sungguh!

"...Selamat Pagi... Kak Api..." untuk pertama kalinya, Api melihat senyuman manis Air, menyapanya di pagi hari.

Api tersenyum. Untuk kedua kalinya, Ia mengecup bibir Air sesaat. Terdengar, Air mengerang pelan begitu bibir kakaknya menyentuh bibirnya.

"..Tidurmu nyenyak hmm?" Api turun mengecup leher Air.

"..Uhh.. Hentikan..!" Air kembali melengguh saat nafas hangat kakaknya menerpa lehernya.

"Air—! Air! Kau disitu?"

Mata Air langsung membulat, dan tangannya langsung mendorong Api hingga terjatuh ke lantai, begitu Ia mendengar Yaya membuka pintu kamarnya.

"..Oh, kau tidur disini rupanya.." kata Yaya. Sepertinya Ia tidak melihat yang barusan. "Hei! Api! Kau baik-baik saja?" Yaya melihat Api terlentang di lantai.

"...Uukkhh... Tidak apa, Nona.. Aku hanya mengigau saat tidur.. Hehehe.."

"Oh, baiklah. Sarapan sudah siap. Cepatlah turun ke bawah." Yaya meninggalkan kedua anak itu.

"Aduuh—! Apa-apaan kau ini?" Api terlihat kesal mengusap-ngusap punggungnya.

"Maaf! Aku tak ingin Ibuku tau soal kita! Salahmu sendiri pagi-pagi sudah macam-macam!" Air malah ikut cemberut.

"Fuuh.. Ya sudah. Ayo kita turun." Api bangkit, lalu pergi melangkah ke ruang makan dengan Air yang mengikutinya dari belakang.

.

.

.

.

.

.

.

.

-To Be Continue- (?)

Kyaaaaaahhh! XD /Nosebleed

Cukup Api! Cukup! Author ga kuat liat reaksi Air pas kamu mainin (?) Dia! Kyaaaahhh! /FujoModeOn

Oke! Chapter ini Full of Sweet Scene of Api x Air! Dan Author sudah tidak kuat menahan mode Fujoshi Author! /lambai-lambaitangankekamera

Kalian mau gak kalau nanti Author masukan lagi Sweet Scene-nya di Chap berikutnya? Kalau emang mau, Author buatkan.

Terima kasih sudah membaca.. ;) Jangan bosan-bosan membaca Story ini. Sampai jumpa di Chap berikutnya, dan—

Review Please~ ;3