HAAIII… KETEMU LAGI :*
Ini ff pasti udh tenggelam yaa? Masih ada yg setia kah? Maaf yaa (T.T T.T)
Aku gak bermaksud buat kalian nunggu, tapi ini idenya beneran kosong T_T
Maaf yaa (T.T)
Makasih buat yang udah baca apalagi setia sama ini ff, doain aku byk idenya yaa :*
Udah nunggu ya ? ._.
Okee deeh..
" Karin, tunggu ! " Himeka berteriak kepada Karin dan otomatis Karin pun berhenti
" Ada apa, Himeka? "
" Karin… jika besok kita satu kelas, kita akan duduk berdekatan kan? Lalu, mulai sekarang.. kita adalah teman bukan? "
" Hahah.. aku kira kau mau bilang apa. Tentu saja, Himeka. Aku janji. Lagipula… kau ini, teman terbaikku " Karin tersenyum dan berlari meninggalkan kampus.
Himeka yang mendengarnya hanya mampu terdiam. Ia sangat bahagia dan terharu. Sambil berpikir bahwa, Karin tidak akan pernah melupakan kami.. seutuhnya!
.
.
Just A Memories For You
Kamichama Karin Chu! © Koge Donbo
Warning : AU, OC, OOC, Bad Story, Much Typo, DLL.
.
Himeka POV
" Aku tak percaya, aku sama sekali tidak mempercayai apa yang aku dengar tadi. Teman terbaik ? Aku tidak salah dengar bukan ? Bahkan aku sendiri sampai bingung ingin bersedih atau bahagia. Tapi dari pada itu semua, lebih baik aku memberitahukan hal ini kepada mereka. Semoga saja mereka cukup bahagia mendengar berita dariku ini " gumam Himeka dalam hati dan berlari menuju lantai atas untuk menghampiri sahabatnya.
Baru saja ia membukakan pintunya, ia sudah dikejutkan dengan suasana ruangan itu. Kazune, Kazusa dan Jin tampak sangat serius, namun dengan aura yang mengerikan. Saking seriusnya, mereka bisa dibilang seperti sebuah tim yang sedang menyusun strategi untuk memenangkan lomba bergengsi. Himeka bahkan tidak berani mengucapkan salam atau semacamnya.
" Himeka, dimana Karin ? " akhirnya, kali ini Kazune peduli juga dengan Karin.
" Karin sudah pulang, Karin bilang dia harus menyiapkan makan malam. Kebetulan bahan makanan dirumahnya habis, jadi dia harus berbelanja dulu " ucapku
" Begitu ya…" Jawaban Kazune yang singkat membuatku kesal saja
Dan, suasana pun kembali hening. Mereka larut dalam pikiran mereka masing – masing. Tapi, bisa dibilang hanya aku yang berbeda di sini. Hawa menyedihkan dalam ruangan ini membuatku tidak berani menceritakan apa yang baru kualami. Sejak tadi, aku menemani Karin keluar mengelilingi kampus, karena itu aku tidak tau apa yang mereka pikirkan. Jangankan bertanya, menebak pun aku terlalu takut untuk mencobanya. Mau bagaimana pun, wajah mereka seperti seseorang yang tidak menerima kenyataan.
" Himeka, sebagai teman terdekat Karin yang dulu, aku ingin menanyakan sesuatu " Kazusa yang biasanya berwajah ceria, kini sangat berbeda
" Kau ingin menanyakan hal apa, Kazusa ? " kini aku pun mulai menanggapinya dengna nada yang serius
" Diantara kita ber-empat, kamu termasuk orang yang paling dekat dengan Karin. Apa kau menyadari suatu hal yang aneh atau yang ditutup – tutupi oleh keluarga Karin ? " Kazusa menanyakan hal yang menurutku aneh.
" Hmm… entahlah, selama aku bermain dengan Karin, Karin tampak sangat ceria sehingga menurutku Karin tidak menutupi suatu hal kepadaku, kemudian kalau aku selesai bermain aku hanya ingat kalau a- "
" Ada apa, Himeka? " Jin menatapku dengan tatapan heran, karena aku tiba – tiba berhenti
" Kazusa benar, ada suatu hal yang membuatku penasaran hingga saat ini " gumamku dalam hati
" Waktu itu saat aku bermain dengan Karin, aku pernah mengajak Karin berlarian di rumahku kemudian berlari menuju jembatan dan kita meloncat dari atas jembatan menuju sungai yang ada tepat di bawah jembatan itu. Aku ingat, pada awalnya aku dan Karin hanya tertawa bahagia dan bermain air di sana. Namun saat kami sedang bermain, kami bertemu dengan orang tua Karin dan mereka tampak sangat terkejut dan khawatir, kemudian mereka pamit kepadaku dan pulang sambil membawa Karin dalam mobilnya. Awalnya aku sempat heran, kenapa orang tua Karin sebegitu khawatirnya pada Karin ? Padahal saat aku bermain dengan Karin, ia tampak baik – baik saja. Kemudian aku pun memutuskan untuk pulang. Lalu saat dijalan … "
Saat suasana ruangan mendadak menajam ( ? ) karena mendengar cerita Himeka, Himeka justru berhenti bercerita dan membuat Kazune, Jin, dan Kazusa kaget karena Himeka tiba – tiba berhenti berbicara.
" Ada apa, Himeka ? Apa saat kau dalam perjalanan pulang… kau melihat hal – hal yang aneh ? " Jin mulai mengeluarkan kata – kata yang ada dalam halusinasinya
" Atau, jangan – jangan… kau melihat sesosok hantu yang mengikuti Karin ? Bagaimana kelanjutannya Himekaa ? Kenapa kau berhenti berceritaa ? " Kazusa yang cukup penakut itu tertular penyakit Jin yaitu berhalusinasi hal yang aneh – aneh
" Etoo… sebenarnya, tadi aku sempat lupa dengan ceritanya… heheheh "
*gubrak*
Di saat ketiga sahabatnya itu sedang dalam keadaan seriusnya, Himeka malah memecahkan suasana yang awalnya mencekam menjadi suasana yang penuh dengan ke tidak pastian ( ? ).
" Heheh… maaf maaf, habisnya kalian tegang banget sih, kayak lagi dengerin cerita hantu. Aku kan lagi ceritain Karin dan aku dulu main, bukannya lagi cerita hantu " jujur saja, sebenarnya aku agak kesal dengan mereka, tatapan mereka kepadaku itu seperti pesulap yang akan memanggil makhuk halus, tajam sekali.
" Himekaaaa " teriak Kazusa dengan nada yang geli. Tentu saja, meskipun himeka terkenal karena kepolosannya, bisa bisanya dia merubah suasana sesuai keinginannya sendiri.
"Hehee.. baik baik, aku lanjutkan "
" Tidak usah, aku sudah tau jawabannya " semua pun mengarah ke Kazusa
" Kamu beneran udah tau jawabannya, Kazusa? "
" Hoho~ iya dong~ Kazusa gitu lho~ " dengan pedenya *-_-
" Pasti kau melihat hantu yang lagi ngegoda tante tante kan? "
*gubrak ke 2 kalinya*
.
*tok tok tok*
.
" Cih.. siapa lagi sih yang mengganggu? " Jin pun membuka pintu itu dengan kasar. Ada seorang gadis osis yang tampak ketakutan sambil menatap Jin
" Ehh.. anoo.. se-sebenarnya.. aku..kesini mau nga.. sih tau aja.. ka-kalau.. ruang kelas su-sudah.. dibagikan.. Jadii.. MAAF MENGGANGGU! " gadis itu tampak gugup dan berteriak kemudian berlari sekencang kencangnya. Kini Jin merasakan aura hitam di belakangnya.
" E-eh.. ayolaah.. ini bukan salahku kaan, cewe itu tiba – tiba saja berteriak dan berlari. Aku tidak melakukan apapun, sumpah " sambil mengacungkan ' peace ' andalannya
" Kalau kau gak membuka pintu secara kasar, gadis itu gak akan ketakutan! Lagipula itu kakak kelas kita! " kazusa ikut ikutan teriak ( ? )
" Lupakan yang tadi… sekarang… kalian mau apa? " Kazune angkat suara
Suasana pun hening sejenak…
" Bagaimana jika kita panggil Karinnya sekarang? "
" Karin kan sudah pulang, bagaimana sih, Jin? "
" Baiklaah.. kalau begitu, kita pulang saja sekarang. Kapan – kapan kita bicarakan lagi "
" Okeee " semua setuju dengan usulan Kazune
Dan hari itu pun berlalu
.
.
Karin POV
Sejak hari itu, hubunganku dengan Himeka, Kazune, Kazusa, dll mulai membaik. Aku sekelas dengan mereka. Sejak hari itu, mereka selalu menemaniku ke kantin, mengerjakan tugas, dan melaksanakan kerja kelompok. Kurasa atiku sudah mulai bisa menerima mereka…
Tapi… ada yang aneh… kenapa… aku merasa déjà vu ?
Sejak kecil, aku tidak begitu terbuka dengan orang lain… bahkan dengan teman seke-
Tunggu… bentar… sejak kecil ? Apa berarti dulu aku mempunyai teman seperti mereka? Dimana mereka sekarang? Apa mereka masih mengingatku? Haah.. kenapa rasanya kepalaku itu berat banget, rasanya seperti bawa bu-
*bruk*
Duuuh… apa lagi sih inii.. tiba tiba saja aku jatuh dan… menabrak seseorang?
" Maafkan aku, aku tidak karena aku tadi melamun, jadi gak liat kamu. Maaf ya "
" Tidak apa – apa… aku juga minta maaf, karena aku juga salah.. buku – buku ini sangat banyak dan tebal – tebal, sehingga aku tidak bisa melihat ke depan secara jelas " ucap laki – laki itu..
Karena merasa bersalah juga, aku membantunya membereskan buku – bukunya yang seperti " monster " itu.. sesekali aku mencuri pandangan untuk melihat dirinya.. rambutnya yang berwarna pirang, tatapannya yang dingin dan ku akui… dia cukup tampan. Sesekali dia menyadari bahwa aku memperhatikannya.. seketika wajahku mendadak merah dan pura – pura sibuk membereskan buku – bukunya.. sesekali dia tersenyum melihat tingkahku tersebut.. akh, aku merasa malu dan wajahku sangat merah, hingga akhirnya buku – buku tersebut berhasil disusun.
" Ma-maafkan aku karena menabrakmu..dan.. tingkahku tadi " aku menyadari kalau tingkahku mencuri – curi pandang itu diketahui olehnya… aku yang mulai malu – malu kucing ( ? ) ini hanya bisa memalingkan wajahku… kalau diingat – ingat berkali – kali, kejadian tadi sungguh memalukan
" Tidak apa – apa. Kali ini kita seri ( ? ), jadi tidak ada yang harus disalahkan. Dan sepertinya kau murid baru, namamu siapa ? " ucapannya yang dingin itu mampu membuat hatiku tambah meleleh ~
" E-etoo.. namaku.. Hanazono Karin " ucapku . Untuk pertama kalinya, detak jantungku terasa sangat kencang, apalagi karena seorang laki – laki.. ada apa denganku ?
" Ohh… salam kenal, Hanazono-chan… namaku Ku- "
*kriing kriiing*
" Oh tuhan ! Maafkan aku karena omongan ini harus terpotong, karena aku harus cepat cepat melaksanakan piket pagi. Aku tidak mau dimarahin , karena jadwal pertama hari ini adalah guru killer. Aku mohon, maklumi aku "
" Baiklah, tentu saja. Silahkan duluan "
" Huft… oke, terima kasih yaa " ucapku sambil berlari
Okee.. sekarang.. aku sudah cukup jauh dari dia… aku gk bisa mengontrol nafasku… wajahku memerah.. kenapa ini? Ini pertama kalinya dalam hidupku! Oh ayolaah… ada apa dengan diriku..
Kenapa… aku merasa aku pernah bertemu dengannya? Atau bahkan… mengenalinya?
Someone POV
Aku terpaku sejenak di lorong ini. Sejak kemarin, aku sudah tau itu semua benar tapi diriku sendiri masih belum bisa mempercayai hal ini…
" Karin… ternyata.. kau sudah banyak berubah yaa.."
- To Be Continue -
Ululululu lalalaalala~ Selesai juga chapter ini~ :v
Maaf ya buat kalian yang udh nunggu *kalau ada*, kalau chapter ini lama bgt updatenya T_T
Teina berharap semoga ide ide gila dan aneh Teina bisa cepat muncul untuk keberlangsungan ff ini~
Ammieenn~
Kalau begitu, Teina pamit dulu yaaa~
Jangan lupaaa, KnS nya bebeh~ * ~
