.

.

The Shadow of The Demon | Chapter 3

.

.

.

Author : Alyna Beryl

CAST : Park Chanyeol | Byun Baekhyun as Baekhee

Support Cast : Wu Yi Fan (Kris Wu) | Xi Luhan | Kim Jongin

Genre : Romance | Sad | Yaoi

Rating : M

Cast lainnya menyusul disetiap cerita~

Sorry for typo. Hope you like it!

Happy Reading *bow*

.

.

.

"Apa kau tau dimana ibu?" Chanyeol bertanya kepada seorang maid yang kebetulan lewat didepan kamarnya.

"Nyonya Byun pergi ke Jepang bersama Tuan Byun sejak pagi tadi" Chanyeol mengangguk lalu maid itu melenggang pergi. Ia sampai lupa jadwal ibunya pergi ke Jepang hari ini.

Chanyeol melangkahkan kakinya kearah tangga sembari memasang jam dipergelangan tangannya. Dia akan berkunjung ketempat prostitusinya sebentar hanya untuk melihat perkembangannya. Sebelum kakinya benar-benar turun dari lantai tiga, Baekhyun memanggilnya dari sudut ruangan.

"Ada apa?" Chanyeol menoleh dengan wajah tanpa ekspresi.

"Ibu menitipkan bisnisnya padamu Hyung" Chanyeol memincingkan alisnya.

"Untuk apa ibu harus menitipkan bisnisnya padaku?" Baekhyun mengeratkan buku dipelukannya lalu mengedikkan bahunya pertanda ia tidak tau.

"Berapa lama ibu di Jepang?"

"Mereka di Jepang hanya dua hari tapi setelah dari Jepang, ibu akan menemani ayah terbang ke China untuk melakukan pertemuan dengan koleganya. Mungkin satu minggu lagi mereka akn pulang" Jelas Baekhyun dari arah kamarnya.

"Ada apa dengan buku itu? Apa kau ada kelas hari ini?" Baekhyun mengangguk menanggapi pertanyaan Chanyeol.

"Setiap hari aku selalu ada kelas, Hyung saja yang tidak pernah bangun pagi" Mendengar itu Chanyeol menampakkan smirknya. Baru saja ia akan melanjukan menuruni tangga namun Chanyeol teringat akan sesuatu.

"Eum, nanti malam kau dirumah bukan?" Baekhyun yang menampakkan wajah bingung hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Bagus" Setelah mengatakan itu Chanyeol pun membalikkan badannya dan pergi dari pandangan Baekhyun.

"Apa-apa'an itu?" Ucap Baekhyun akhirnya tanpa tau niat jahat kakaknya.

.

.

THE SHADOW OF A DEMON

.

.

"Ya ayah aku tau" Baekhyun sedang sibuk berbicara dengan ayahnya lewat telefon. Jam dengan gandul logam yang terpasang didinding berwarna baby blue itu menunjukkan pukul sebelas malam. Malam semakin larut Tuan Byun tiba-tiba menelfon Baekhyun yang baru saja tertidur setengah jam. Entah kenapa nada sang ayah mendadak khawatir tentang keadaan putra kandungnya dirumah.

"Apapun yang terjadi jangan keluar rumah Baekhyun! Walaupun Chanyeol yang menyuruhmu sekalipun" Sang ayah memperingati dengan intonasi tegas.

"Ayah sudah mengatakannya berulang kali, tentu saja aku tau. Aku tidak akan keluar rumah jika itu bukan karena perintah ayah" Sang ayah menghembuskan nafasnya lega dan Baekhyun hanya bisa membatin apa yang sedang mengganggu pikiran sang ayah hingga ayahnya bisa menelfon selarut ini.

"Ayah, bolehkan aku bertanya sesuatu?" Tanya Baekhyun mulai memberanikan diri. Ia dibuat penasaran dengan ayahnya yang mendadak khawatir malam-malam begini padahal sebelumnya ayahnya tidak pernah sekhawatir ini. Dan setelah mendengar sahutan kecil dari ayahnya, Baekhyun pun mulai bertanya.

"Apa yang terjadi? Kenapa ayah bisa sekhawatir ini?"

"Eum Baekhyun….. bisakah kau jauhi kakak tirimu?" Tuan Byun merendahkan volume suaranya diakhir kalimat.

"Apa? Kenapa?" Tanya Baekhyun heran.

"Ayah tidak terlalu mengenal bagaimana karakater Park Chanyeol. Ketika sebelum menikah Chanyeol sangat tertutup dengan ayah bahkan sampai sekarang. Ayah pikir Chanyeol punya perilaku buruk, hanya saja dia tidak pernah memperlihatkannya" Walaupun Tuan Byun terlalu ragu dengan penilaiannya terhadap Chanyeol namun sebagai orang tua pasti akan merasakan hal buruk yang bisa terjadi kepada anaknya. Ia hanya mengikuti kata hatinya meskipun ia berharap apa yang ia takutkan akhir-akhir ini jangan sampai terjadi.

"Ayah tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku bersama Chanyeol Hyung setiap hari dan aku tidak melihat hal buruk apapun padanya" Minus kejadian saat Chanyeol ingin menciumnya. Mungkin waktu itu kakaknya dalam pengaruh alcohol sehingga berani melakukan tindakan tidak pantas seperti itu. Jadi Baekhyun tidak menghitung hal itu sebagai tindakan buruk Chanyeol.

"Memnag tidak seharusnya ayah menilai Chanyeol dari luarnya. Dia tampan, berwibawa, patuh terhadap ibunya tapi siapapun tidak tau apa yang tengah ia rencanakan. Kita bukan keluarganya nak, jadi hal jahat apa yang direncanakan pasti akan dilakukannya. Ayah selalu melihatnya memandangimu setiap waktu, tatapan Chanyeol seperti memiliki ketertarikan terhadapmu walaupun ayah sedikit ragu tentang itu"

"Tapi mendengarmu mengatakan bahwa Chanyeol tidak memiliki hal buruk dalam dirinya, ayah cukup lega namun tetaplah hati-hati padanya Baekhyun. Apa kau mengerti?!" Baekhyun mengangguk walau ayahnya tidak mengetahuinya.

"Aku mengerti"

"Kalau begitu ayah akan menutup telfonnya. Pergilah tidur! Selamat malam nak"

"Selamat malam ayah" Setelah menutup sambungan telefonnya. Baekhyun menarik selimut tebalnya sampai sebatas dada. Ia memandangi langit-langit kamarnya yang terhias sticker glow in the dark dengan tatapan kosong. Entah kenapa ia menjadi terbayang ucapan ayahnya. Dirinya memang menyangkal prasangka ayahnya tapi sebenarnya prasangka buruk itu sempat menghinggapi kepalanya.

Tok… tok… tok..

Baekhyun menoleh kearah pintu kamarnya dan menangkap sosok tinggi yang tidak lain adalah Chanyeol. Sungguh menyeramkan, ia dan ayahnya baru saja menyinggung soal Chanyeol dan kini laki-laki itu sudah berdiri dengan nampan yang ada dikedua tangannya.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini Hyung?" Iris Baekhyun tertarik dengan segelas susu yang diletakkan Chanyeol diatas nakas disamping ranjangnya.

"Kupikir kau sudah tertidur Baekhyun" Baekhyun beranjak duduk. Memperhatikan setiap gerak-gerik kakak tirinya yang kini duduk ditepi ranjangnya.

"Aku membuatkanmu susu hangat" Baekhyun menyipitkan matanya, perilaku Chanyeol sungguh mencurigakan.

"Tidak biasanya Hyung"

"Diluar sedang hujan jadi aku membuat susu coklat untuk menghangatkan tubuhku karena aku bukan tipe laki-laki yang pelit jadi aku membuatkanmu juga" Ucap Chanyeol disertai senyuman tipisnya.

"Ahh benarkah? Kenapa aku tidak menyadari jika diluar hujan" Baekhyun sedikit melirik kaos Chanyeol dibagian bahu dan anak rambut milik laki-laki itu yang sedikit basah. Mungkin karena perbincangannya dengan sang ayah terlalu serius hingga ia tidak menyadari awan sedang menumpahkan tangisnya.

"Minumlah susu coklatnya selagi hangat" Baekhyun beralih menatap Chanyeol lalu menggeleng.

"Aku sudah kenyang Hyung" Chanyeol tersenyum.

"Apa kau tidak mau menghargaiku?" Baekhyun tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya.

"Maaf tapi aku memang sudah kenyang" Sungguh Baekhyun menginginkan susu itu. Ia akan menjadi seorang maniak susu jika sedang turun hujan tapi tidak denagn susu yang dibuat Chanyeol. Itu terlalu mencurigakan.

"Kau tidak sedang memikirkan bahwa aku memasukkan sesuatu kedalamnya bukan?" Chanyeol tau. Ia tau Baekhyun memikirkan hal itu. Meskipun telinganya tidak mendengarkan apa yang diucapkan Tuan Byun namun Chanyeol mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Baekhyun. Percakapan Tuan Byun dan Baekhyun ia mendengar semuanya.

Semua ruangan dirumah ini memang kedap suara tapi pintu dirumah ini semua terbuat dari kayu. Dinding memang kedap suara tapi pintu kayu memiliki celah dan Chanyeol sangat beruntung tentang itu.

"Tidak Hyung, sama sekali tidak!" Chanyeol menyunggingkan semyumannya. Sesungguhnya Chanyeol memang sudah memasukkan sesuatu kedalam susu yang akan diberikannya kepada Baekhyun namun Tuhan memang menyayanginya karena ia dibiarkan mendengar percakapan Tuan Byun dengan Baekhyun sehingga ia pun menukar susunya.

"Baiklah kalau kau tetap tidak mau meminumnya" Chanyeol mengambil susu coklat yang sebelumnya ia letakkan diatas nakas lalu meminumnya didepan mata Baekhyun.

"Apa kau masih tidak percaya padaku? Aku memang selalu berkata jahat padamu tapi aku tetaplah kakak tirimu Baekhyun jadi tidak mungkin aku melakukan hal murahan seperti meracunimu" Walapun Baekhyun merasa bersalah tapi ia tidak sebodoh itu untuk percaya.

"Maafkan aku jika apa yang kulakukan membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya mencoba melakukan tugasku sebagai seorang kakak" Uhh baiklah, untuk ucapan Chanyeol barusan membuatnya hanya merasa bersalah. Tak ada tatapan curiga atau prasangka buruk lagi terhadap Chanyeol.

"Kalau begitu tidurlah! Selamat malam Baek" Setelah punggung lebar Chanyeol menghilang dibalik pintu, Baekhyun mengusap wajahnya jenuh. Apa prasangkanya terlalu jauh kali ini? Kenapa ia tidak berfikir bahwa Chanyeol adalah laki-laki dingin yang mencoba berlaku baik padanya, pada adik tirinya? Ia tau bahwa Chanyeol tidak menganggap ayah dan dirinya sebagai keluarga namun bagaimana mungkin ia menaruh curiga padahal mungkin saja Chanyeol sedang membuka dirinya untuk menerimanya dan sang ayah sebagai keluarganya.

"Kenapa kau sejahat ini Byun Baekhyun" Baekhyun bergumam dalam gelap kamarnya.

.

.

THE SHADOW OF A DEMON

.

.

Chanyeol menatap wajah dengan paras sempurna itu lagi. Hanya tersinari cahaya bulan lewat celah tirai saja Baekhyun terlihat begitu cantik. Jujur saja ia sebenarnya menyukai karakter Baekhyun. Dengan raga lemah seperti ini, Baekhyun cukup kuat didalamnya. Meskipun Baekhyun tidak menunjukkannya tapi hal itu cukup membuat Chanyeol merasa terkagum. Jika saja dirinya tidak terlalu dibutakan oleh kekayaan mungkin Chanyeol sudah jatuh hati dengan sosok yang kini tengah meringkuk dalam selimut putihnya. Selang beberapa detik Chanyeol menertawakan dirinya sendiri didalam hatinya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dipikirkannya.

"Byun Baekhyun" Chanyeol bergumam dengan tangan yang mengelus lembut pipi gembul milik Baekhyun. Ia beruntung karena Baekhyun bukan tipe laki-laki yang akan mengunci pintunya saat ia tengah tertidur jadi Chanyeol sangat bersyukur akan hal itu sehingga membuatnya leluasa menyelinap kedalam kamar sang adik tiri.

"Katakan pada ayahmu bahwa aku memang laki-laki yang penuh dengan sifat buruk! Kau tidak harus menutupinya, itu hanya akan membuatku semakin terpesona denganmu" Baekhyun bergerak dalam tidurnya. Ia memposisikan dirinya berbaring menyamping menghadap Chanyeol.

"Uhh lihatlah wajahmu! Hidung, bibir dan matamu yang terhias lensa abu-abu sudah berhasil membuatku beberapa kali terpesona" Tangan besar milik Chanyeol merogoh saku hoodie yang dikenakannya. Mengeluarkan sebuah sapu tangan putih yang digenggamnya dengan erat sambil menunggu sang adik bangun dari tidur lelapnya yang kini sudah mulai membuka sedikit kelopak mata kecilnya.

"H..hyung, apa yang kau lakukan dikamarku?" Suara Baekhyun serak. Ia mengucek kedua matanya seakan memastikan apa yang dilihatnya memang Chanyeol.

"Tidurlah lebih lama Baek!" Saat itu juga nafas Baekhyun seakan tercekak. Ia belum siap akan apapun dan Chanyeol sudah membekap hidung dan mulutnya dengan sebuah kain yang seketika membuat tubuhnya melemas. Ia bahkan tak kuasa menahan kelopaknya terus terbuka. Sebelum ia bisa berteriak memanggil seluruh maid dirumahnya pun semua sudah menjadi gelap. Hanya sebuah tawa yang masih bisa tertangkap pendengarannya dan setelah itu ia pun tak sadarkan diri.

.

Sebuah kain hitam yang sebelumnya menutupi pandangan mata Baekhyun kini menghilang. Seorang pria dengan figure tinggi dengan rambut blonde aneh yang membukanya dari kepalanya. Dengan tangan dan kaki terborgol layaknya seorang criminal, Chanyeol berjalan mendekatinya yang tengah duduk diam diatas sofa.

"Bagaimana kau bisa sangat diam padahal aku tengah menculikmu?" Chanyeol berjongkok menghadap Baekhyun yang sedang menampakkan senyuman miringnya.

"Apa yang kau inginkan dariku?" Ucap Baekhyun tenang. Sungguh ia tak setenang itu, ia bahkan sangat panic sebelum sampai ketempat yang entah dimana Chanyeol membawanya.

"Kau tau aku sekarang membawamu kesebuah tempat kotor? Sebuah tempat prostitusi milikku!" Baekhyun melebarkan kelopak matanya. Merasa terkejut dengan ucapan Chanyeol.

"Milikmu? Kau memiliki tempat seperti ini?" Chanyeol mengangguk kecil lalu beranjak bangun dari posisi berjongkonya. Ia mempersilahkan Kris untuk menjelaskan kepada Baekhyun sedangkan ia akan menjadi penonton dengan mendudukkan dirinya disofa tak jauh dari tempat Baekhyun.

"Chanyeol memang tidak pernah salah terhadapmu. Kau memang memiliki paras yang sempurna" Baekhyun tak menanggapi. Mengacuhkannya dan tetap mempertahankan pandangannya kedepan.

"Aku Kris, pengelola tempat ini ekhem~ itu jika kau ingin tau. Maksud Chanyeol membawamu kemari adalah untuk menyewakanmu" Seketika Baekhyun tersentak lantas mengepalkan tangannya.

"Apa maksudmu? Kau ingin membuatku menjadi seorang PSK begitu?" Baekhyun menatap pria berambut blonde aneh itu nyalang.

"Tidak, tidak seperti itu. Kami hanya akan menyewakanmu semalam untuk melakukan pole dance" Semakin mendengar penjelasan Kris, semakin kepalanya ingin pecah saking marahnya.

"Kuharap tak hanya pole dance tapi juga striptease yang menggairahkan" Sahut Chanyeol memanas-manasi.

"Mati saja kau!" Chanyeol tertawa menanggapi remeh ucapan Baekhyun lalu mengisyaratkan Kris untuk mengurus Baekhyun sedangkan dirinya akan pergi kebawah untuk mendapatkan segelas wine.

"Kami sepakat untuk menyembunyikan identitasmu jadi Chanyeol sudah menyiapkan ini" Baekhyun menoleh kesamping dimana tergeletak sebuah kemeja tipis dan wig disana.

"Aku akan keluar untuk menunggumu berganti pakaian. Kuharap kau cepat karena Chanyeol akan marah jika kau tidak menurutinya!" Setelah melepas borgol yang terpasang dipergelangan tangan dan kaki Baekhyun, Kris kemudian beranjak keluar dari ruangan Chanyeol. Meninggalkan Baekhyun seorang diri dengan sebuah kemeja dan wig yang tergeletak lemah diatas sofa. Kepalanya menunduk dalam. Tangan lentiknya meremas kuat baju yang ia kenakan dibagian dada.

"Ayah apa yang harus kulakukan?" Tanpa seorangpun tau Baekhyun menangis dalam diam ditempatnya.

.

.

THE SHADOW OF A DEMON

.

.

Sekarang bagian yang sangat ditakuti Baekhyun akhirnya terjadi. Dimana ia ditatap penuh nafsu oleh empat pasang mata dengan sebuah pole disampingnya. Bahkan kemeja putih dengan hotpans dan wig tergerai panjang berwarna cokelat sama sekali tak membantunya. Ia malah semakin merasa malu bukan kepalang dengan penampilannya. Apa yang dikenakannya tidak mencerminkan dirinya, dia seperti sosok lain yang terlihat asing bahkan untuk dirinya sendiri.

"Apa satu milyar hanya untuk melihatmu berdiri diam disitu?!" Baekhyun tersentak dengan ucapan salah satu pria yang duduk dihadapannya. Jadi ia bernilai satu milyar? Entah ia harus melakukan apa untuk membuat mereka puas dengan uang yang sudah mereka bayar tapi yang jelas hatinya sakit sekarang. Rasa malunya kini sudah berada paling puncak semasa hidupnya. Susah payah ia menyembunyikan tangisnya namun tetap saja sia-sia. Gumpalan bening itu memupuk disudut matanya dan akhirnya terjatuh membentuk aliran sungai kecil dipipi putihnya. Sungguh dia bukan laki-laki yang cengeng tapi keadaan mendesaknya sehingga mau tak mau ia pun menunjukkan sisi rapuh diantara sisi kerasnya.

Dengan tangan gemetar, Baekhyun mulai meraih pole disampingnya. Menari disana dengan gerakan kaku namun bisa membuat empat pasang mata itu terpana melihat lekuk tubuh sempurna Baekhyun yang bergesekan dengan pole. Uhh percayalah bahwa semua akan berpendapat sama bahwa Baekhyun sudah diciptakan sempurna. Singkirkan soal pole dance, cukup melihat Baekhyun yang kini berubah menjadi Baekhee dengan hotpants tanpa safetypans dan kemeja tipis yang sesekali meloroh mempertontonkan sepanjang leher sampai bahu saja sudah membuat orang tegang. Belum lagi bra hitam yang terlihat jelas dibalik kemeja tipisnya, itu seperti point tambahan penampilannya.

Setelah melakukan pole dance dadakannya selama satu jam dan dua pria itu keluar dari ruangan, Baekhyun jatuh terduduk dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Ia menangis lagi, Baekhyun yang selama ini dikenal sangat pendiam dan kuat sekarang menangis bahkan sampai terisak. Ia menangisi dirinya sendiri yang sudah melakukan hal paling memalukan yang tidak pernah ia bayangkan. Begitu sialnya ia bertemu dengan laki-laki brengsek dan harus berakhir ditempat kotor seperti ini. Ia memikirkan bagaimana perasaan sang ayah jika mengetahui bahwa anaknya telah melakukan perbuatan hina. Memuaskan nafsu orang lain dengan melakukan pole dance yang menjijikkan.

"Kau menjijikkan Baekhyun!" Masih terisak dalam lindungan tangannya, Baekhyun bergumam menghina dirinya sendiri. Kenapa ia harus jijik dengan pole dancenya sedangkan dirinya tak lebih menjijikkannya karena mau melakukannya.

Ketahuilah bahwa Baekhyun sangat buruk dalam mengekspresikan perasaannya. Menjadi putra seorang yang dipandang, pribadi Baekhyun seolah terbentuk secara alami. Ia menjadi pendiam, kaku dan kuat karena telah melalui banyak hal yang tak semua orang mengalaminya. Ia ingin menumpahkan emosi meledak-ledak tapi ia tak bisa.

Perlahan tangannya tebuka, menampilkan betapa kacaunya wajah Baekhyun. Mengusap kasar sungai kecil yang begitu deras dipipinya lalu menghela nafas. Menangis pun percuma, takkan ada yang peduli padanya walau kau anak presiden sekalipun. Ini bukan hal sulit dibanding saat tau dirinya kehilangan sang ibu. Ia harus bisa menguatkan hatinya untuk tetap menjadi Baekhyun yang tak pernah menunjukkan kelemahannya. Hanya laki-laki seperti Park Chanyeol dan tempat gila ini takkan bisa membuatnya menyerah.

"Aku akan membalasmu Park Chanyeol!" Ucap Baekhyun geram dengan wajah yang mengeras marah.

.

.

.

TBC

.

Apa ini lambat banget ya? Kayak siput? Sebenarnya bagian yang 'tidak penting itu' saya cuma berusaha memainkan setiap peran karakter disetiap cerita. Saya gamau terburu-buru karena ini juga masih chapter tiga tapi saya berterimakasih karena masukannya bisa buat koreksi *deepbow*.

Mulai chapter ini bakal banyak Chanbaek nya dan yang lain cuma nyempil bentaran karena disini ChanBaek mulai anget dan mungkin jadi panas seiring berjalannya cerita :D waktu ngetik chapter ini sebenernya saya ga terlalu focus karena masih kobam abs Baekhyun jadi susah warasnya, gagal mupon saking ga relanya Baekhyun punya abs huks~ waiting for nutella T_T Jujur aja ide Bakehyun jadi Baekhee itu karena terinspirasi sama vcr barunya EXO'rDIUM yang disitu Baekhyun nyabe/eh? Maksudnya crossdressing. Gara gara itu saya jadi langsung dapat pencerahan buat ngelanjutin chapter ini :D Yaudah deh gitu aja curhatan hati seorang author kkkk~

Oke Selanjutnya silahkan REVIEW~