It's Never Too Late - Untuk Berbaik Hati


.

.

Meanie Fanfiction

.

.

Kebaikan itu tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat – Tere Liye

.

.

"Kau baik-baik saja?" Soonyoung menepuk pelan bahu Wonwoo.

Mereka tengah berdiri di samping meja administrasi sekarang, mengisi beberapa laporan pasien –tadinya– sebelum Soonyoung menyadari jika Wonwoo terlihat lebih banyak melamun daripada menulis di kertasnya.

"Masih memikirkan Seokmin?"

Terdengar helaan napas panjang dari Wonwoo, "Sepertinya aku terlalu berlebihan pada seseorang."

Soonyoung mengernyit heran mendengar jawaban ngelantur dari Wonwoo, otak detektifnya langsung mendapat sinyal kuat. "Seseorang?"

"Ah bukan apa-apa, lupakan!"

"Heii, come on man! Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Soonyoung langsung mengalihkan semua perhatiannya pada sosok Wonwoo yang terlihat masih belum fokus. Lelaki itu hanya menatap kosong pada kertas yang ada didepannya.

"Dengar! Apapun yang terjadi padamu, jangan disimpan sendiri! Ada kalanya kau membutuhkan bantuan orang lain, kau tidak harus menanggung semuanya sendiri Wonwoo!"

Wonwoo terhenyak dengan perkataan Soonyoung barusan, ia tak akan menyangkal jika yang dikatakan sahabatnya itu benar. Benar dan tidak salah sama sekali. Wonwoo yang sebenarnya sangat keterlaluan disini, ia sudah merenungkannya selama beberapa hari. Tindakannya pada Mingyu tempo hari memang sangat-sangat berlebihan dan Wonwoo menyadarinya. Ia tak seharusnya marah-marah pada Mingyu terlebih mengetahui jika Mingyu hanya ingin membantu permasalahannya. Ia harusnya berterimakasih pada Mingyu bukan malah mengedepankan emosi dan bertingkah bar-bar seperti itu. Tapi satu hal yang harus Wonwoo tekankan, ia benar-benar tidak menyukai metode yang Mingyu gunakan untuk menyelamatkannya, atau menyelamatkan Seokmin lebih tepatnya.

Wonwoo mengusap rambutnya kasar dan membuang napas lelah, "Kau benar, tak seharusnya––"

"Sssttt," Soonyoung memotong kalimat Wonwoo dengan cepat lalu memberi gesture agar Wonwoo mengikuti arah pandangnya.

Wonwoo terdiam dan mengikuti apa yang Soonyoung suruh. Dapat dilihat suster yang berada di balik meja administrasi sedang menerima telepon. Mereka ikut mendengarkan percakapan itu dengan seksama.

"Apa yang terjadi?" itu suara Soonyoung bersemangat.

Suster itu meletakkan gagang telepon pada tempatnya dan memandang dokter Kwon di depannya, "Pasien VIP kamar 414 mengamuk, aku barusan memanggil security untuk menuju kesana."

Soonyoung menggebrak meja mengagetkan banyak orang disekitar mereka. "Demi Jihoon yang berbadan mungil, aku mencintaimu Suster Im!" dan dengan penuh semangat meraih lengan Wonwoo dan menyeretnya menjauh dari tempat itu.

"Kau berhutang penjelasan padaku nanti! Tapi sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan!" Soonyoung berujar dengan masih menyeret Wonwoo disampingnya.

"Namanya Kang Seulgi dan dia seorang penyanyi. Aku heran apa yang membuatnya mengamuk di rumah sakit ini!" Soonyoung mempercepat langkahnya tanpa melepas lengan Wonwoo yang ia tarik paksa.

Pasien VIP yang mengamuk adalah hal yang buruk. Soonyoung dan otak serba ingin tahunya juga hal yang buruk. Jika mereka digabungkan maka Wonwoo yakin ia sedang diseret menuju neraka sekarang.

.

.

Ruangan sudah ramai saat Soonyoung dan Wonwoo diam-diam menyelinap ke dalam ruangan nomor 414. Dapat dilihat di atas ranjang ada seorang wanita sedang berteriak marah dengan memegang pisau di tangannya, disamping pasien itu ada beberapa dokter yang berusaha menenangkan. Beberapa dokter yang Wonwoo kenal dan..

Itu Kim Mingyu.

Wonwoo menelan ludahnya gusar melihat sosok tinggi yang berdiri membelakanginya itu, sedang berusaha menggapai pisau yang dibawa oleh pasien. Wonwoo mengamati dari tempatnya berdiri bagaimana sosok berpunggung tegap itu tampak tenang walaupun pisau buah yang dibawa oleh pasien bisa saja melayang ke tubuhnya kapan saja..

"Kalian harus bertanggung jawab!" pasien wanita itu menjerit marah entah pada siapa, ia menatap nyalang semua orang yang ada di ruangan miliknya, termasuk Wonwoo yang berada cukup jauh dari ranjang.

"Tim kami sedang mencarinya Seulgi-ssi, anda tak harus melakukan operasi jika sampel lab itu ditemukan!" seorang Dokter senior berujar pelan, menenangkan dan berusaha menggapai dengan hati-hati pundak pasien bernama Seulgi.

"Kalian bahkan memanggil security sekarang?!"

Wonwoo menoleh dan mendapati beberapa orang berseragam masuk ke dalam ruang VIP itu. Orang-orang itu tampak garang dengan setelan lengkap dan peralatan keamanan yang menempel di tubuh mereka. Pantas pasien itu tambah marah.

"Kami akan menemukan sampel lab milikmu Seulgi-ssi!" itu suara Mingyu membuat Wonwoo kembali fokus pada pasien wanita yang ada didepannya.

Tadi Wonwoo sempat mendengar cerita dari suster-suster yang bergerombol di depan pintu –tidak berani masuk– jika salah seorang staff rumah sakit tanpa sengaja menghilangkan sampel lab milik Kang Seulgi, sampel yang digunakan untuk mendeteksi jenis kanker yang diderita oleh pasien. Tanpa sampel lab tersebut, Seulgi harus menjalani operasi untuk mendeteksi kanker secara manual dengan risiko kehilangan pita suara atau tidak melakukan operasi dengan risiko kanker tersebut tetap hidup dan bisa membahayakan nyawanya kapan saja.

"KAU!" Seulgi menatap marah pada Mingyu dan mengayunkan pisau yang ia bawa tepat dihadapan dokter muda satu itu. Mingyu merespon cepat dengan melangkah mundur menjauhi jangkauan pasien dengan pisaunya.

"KALIAN PARA DOKTER TAK AKAN MENGERTI !" Semua yang mendengar langsung mematung ditempatnya.

"AKU INI PENYANYI ! BAGAIMANA AKU BISA HIDUP JIKA KALIAN MENGANGKAT PITA SUARAKU. INI KESALAHAN KALIAN ! LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA MENANGGUNG SEMUA INI!"

"JANGAN MENDEKAT!" Seulgi berteriak marah saat menyadari Mingyu diam-diam melangkah mendekat ke arahnya. "JANGAN MENDEKAT ATAU––"

Kejadian berlangsung cepat –sangat-sangat cepat– bahkan Soonyoung belum sempat menyelesaikan kedipan matanya. Wonwoo bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana tubuhnya merespon begitu cepat atas apa yang terjadi didepan matanya. Entah bagaimana tubuh Wonwoo tiba-tiba saja sudah bergerak sendiri, bergerak mendorong seseorang yang berdiri tepat didepannya. Sembari mendorong tubuh orang itu menjauh, tangan kanannya secara reflek melindungi wajahnya sendiri dari ayunan pisau yang dibawa Seulgi. Bahkan Wonwoo tidak sadar telah mendorong Mingyu terlalu kuat hingga membuat pemuda itu jatuh dengan tidak elit dibelakang Wonwoo.

Tubuh Wonwoo bahkan masih memproses ketika pisau itu terjatuh dan Seulgi sudah di dekap oleh dokter dan beberapa security. Otak Wonwoo pun masih memproses ketika untaian merah cair perlahan mengotori telapak tangan kanannya dan bagaimana warna merah itu mengalir dengan cepat melewati jari-jari tangan Wonwoo dan terjun bebas ke lantai. Wonwoo bahkan belum sadar pada Soonyoung yang berteriak panik dan tubuh Mingyu yang tiba-tiba sudah melingkupi tubuhnya, menariknya menjauh disertai dengan nada perintah tegas yang keluar dari sosok dokter satu itu.

Tubuh Wonwoo baru benar-benar sadar ketika melihat tangan Mingyu sudah menangkup tangan kanannya yang berdarah –menghadang agar cairan merah itu tidak mengucur dan mengotori lantai rumah sakit– sedangkan tangan Mingyu yang lain merangkul bahu Wonwoo membawanya keluar dari ruangan Seulgi. Wonwoo sempat mendengar suara gertakan Mingyu pada beberapa suster yang menghalangi jalan mereka berdua.

"Hei! Tunggu! Apa yang––"

"Aku tau kau membenciku! Tapi jangan biarkan aku membenci diriku sendiri dengan membiarkan kau terluka seperti ini!"

Itu adalah kalimat terakhir yang Wonwoo dengar dari Mingyu sebelum memasrahkan diri pada lelaki satu itu. Ia hanya diam ketika Mingyu menariknya terburu menyusuri lorong rumah sakit, mengabaikan beberapa tatapan heran dan pekikan kaget dari orang yang melihat tangan berdarah milik Wonwoo.

.

.

Mingyu melangkah cepat menuju ruangannya dengan menenteng baskom kecil dan peralatan standar P3K yang ia dapat dari salah seorang suster di lorong depan. Mingyu khawatir orang yang ia tinggal di dalam ruangannya sudah kabur atau pergi mengobati lukanya sendiri. Dia Jeon Wonwoo, terluka karena menyelamatkan Mingyu dan Mingyu merasa bertanggung jawab untuk mengurus lelaki satu itu. Tadi ia sempat menolak saat ada suster yang menawarkan diri untuk memberikan bantuan, tentu saja karena Jeon Wonwoo itu urusan Mingyu seorang.

Dibukanya pintu ruangan dan melihat sosok Wonwoo masih duduk di atas sofa miliknya membuat hati Mingyu sangat lega. Setidaknya ia tak akan merasa terlalu bersalah pada pemuda itu.

"Jeon Wonwoo! Kau ini benar-benar penuh kejutan!"

Wonwoo hanya mendecih malas tanpa berniat menjawab kalimat Mingyu.

Mingyu melangkah mendekat dengan perlahan, memerangkap Wonwoo pada tatapannya yang sulit diartikan. Bahkan dalam kondisi seperti ini raut wajah Wonwoo sama sekali tidak berubah. Tetap dingin seperti biasanya. Mingyu duduk bersimpuh tepat di depan Wonwoo dan meraih tangan yang sudah berlumuran darah banyak sekali. Lantai di bawah Mingyu pun turut menjadi korban tetesan darah milik Wonwoo. Mingyu sempat bertanya-tanya apakah Wonwoo tidak merasakan sakit sama sekali –padahal tangannya penuh darah– mengingat pemuda itu tidak berekspresi apa-apa.

Mingyu menempatkan baskom tepat di bawah tangan Wonwoo yang ia genggam, dengan hati-hati iapun mensterilkan telapak tangan yang sudah berubah warna itu. Wonwoo mendesis merasakan bagaimana cairan dingin itu melewati telapak tangannya yang terluka, tak dapat dipungkiri ia juga merasakan sakit.

"Kau baik-baik saja?" Mingyu bertanya khawatir. Sebenarnya pertanyaan yang cukup bodoh mengingat luka milik Wonwoo yang lumayan dalam. Dan suara desisan barusan menjawab pertanyaan yang tadi sempat terngiang di kepala Mingyu. Jeon Wonwoo bisa merasakan sakit

Wonwoo tak memberikan jawaban hanya memberi isyarat pada Mingyu untuk melanjutkan kegiatannya.

Mingyu pun dengan lebih hati-hati mulai membersihkan darah yang melingkupi telapak tangan milik Wonwoo. Tangan itu terlihat cukup kecil dalam genggaman Mingyu. Mingyu tak bisa menampik jika yang Wonwoo lakukan tadi di ruangan Seulgi benar-benar diluar dugaannya. Padahal masih tercetak dengan jelas dalam ingatan Mingyu bagaimana sosok Wonwoo secara terang-terangan membenci dirinya saat ia membantu Seokmin. Tapi kejadian barusan membuat Mingyu berpikir ulang. Mungkin Wonwoo tidak sedingin yang orang bicarakan.

Ucapan Seokmin kala itu tiba-tiba saja terngiang di kepala Mingyu, pemuda ini walaupun sering bertindak bodoh tapi sebenarnya dia peduli pada orang lain. Memikirkan hal itu membuat seutas senyum tanpa sadar terpatri di wajah Mingyu.

Wonwoo berdeham tidak nyaman. "Kau aneh! Melihat senyummu sekarang ini malah membuatku bergidik, sepertinya otakmu harus segera diperiksakan!"

Mingyu yang terkaget buru-buru mengatur mimik wajah menjadi seperti biasa. Jeon Wonwoo sudah kembali dengan kalimat sarkasnya membuat Mingyu sedikit yakin jika pemuda itu baik-baik saja. Mingyu pun berdeham pelan. "Kenapa kau membenciku?"

"Karena kau kaya," jawaban cepat dari Wonwoo.

Mingyu mengernyit heran, "Kaya? Kau membenciku hanya karena aku kaya?"

"Kau punya segalanya."

Mingyu mendengus mendengar jawaban barusan, apa Wonwoo tidak memikirkan baik-baik sebelum menjawab pertanyaan Mingyu. "Itu bukan alasan Jeon!"

Terdapat jeda yang cukup lama, "Karena kau datang ke desa ini."

Mingyu terdiam, bahkan tangannya ikut berhenti bekerja dan hanya menggenggam telapak Wonwoo. Ditatapnya manik cokelat milik lelaki yang didepannya ini dan berharap menemukan ketidakseriusan dari kedua mata yang juga ikut menatapnya. Tapi nihil, Mingyu tak menemukan ekspresi itu. Iapun membuang napas lelah dan melepas pandangannya dari Wonwoo untuk kembali fokus mengurus luka lelaki tersebut.

"Bukan keinginanku sendiri untuk berada di desa ini asal kau tau saja. Bahkan aku tak mengerti apa yang membuatku diusir dan apa yang membuatku bisa kembali ke tempat asalku. Benar-benar gila memikirkan apa yang harus kucari di tempat ini disaat aku tak memiliki siapapun, jadi maaf jika kehadiranku membuatmu terganggu!"

Sepi.

Tidak ada jawaban ataupun sanggahan yang Mingyu terima dari manusia di depannya. Mingyu melirik sekilas pada Wonwoo dan sadar pemuda itu juga sedang menatapnya tanpa arti. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Mingyu pun kembali menatap tangan yang ada didalam genggamannya. Yang terdengar sekarang hanya suara samar dari luar pintu ruangan milik Mingyu, suara khas kesibukan dari sebuah rumah sakit.

"Lukamu cukup dalam, kau tak keberatan dengan jarum?" Mingyu bertanya setelah mengamati luka milik Wonwoo yang ternyata lebih parah dari yang ia bayangkan.

"Lakukan apa yang harus kau lakukan! Aku pernah melihat hal yang lebih parah dari jarum."

"Baiklah, kau diperbolehkan menangis atau berteriak setelah ini!" Mingyu menjawab santai dan dihadiahi dengan pelototan mata dari Wonwoo, ia yang melihat ekspresi lucu barusan hanya bisa tertawa pelan dan mulai memakai sarung tangan karetnya. Mingyu berpindah duduk disamping Wonwoo, menempatkan tangan Wonwoo diatas pangkuannya agar lebih mudah dalam menjahit luka yang cukup panjang itu.

"Kenapa kau peduli?" Suara Wonwoo memecah keheningan yang terjadi karena Mingyu terlalu fokus menjahit luka di telapak tangannya. Mingyu sedikit kaget dengan suara milik Wonwoo yang terasa sangat dekat dengannya.

Terdapat jeda cukup lama, Mingyu sedang memikirkan jawabannya. "Mungkin karena aku tertarik padamu."

Wonwoo terpaku mendengar jawaban Mingyu, ditatapnya Mingyu yang masih sibuk dengan tangannya. Bagaimana bisa manusia satu itu memberikan jawaban yang malah menimbulkan ribuan pertanyaan di dalam otak Wonwoo. Dasar!

"Sejak aku datang ketempat ini, kau sudah menarik perhatianku. Walaupun dalam artian negatif karena kita lebih sering bertengkar daripada bercengkrama. Tapi kurasa itu cukup mengasyikkan." Mingyu meneruskan jawabannya masih dalam keadaan mengurus luka Wonwoo.

"Nahh selesai!" Mingyu berujar bahagia melihat hasil karyanya di tangan Wonwoo yang sekarang sudah dibalut dengan perban. "Karena kau adalah pasienku, aku akan mengawasimu mulai sekarang. Luka ini tidak boleh kena air, tidak boleh––"

"Aku tau! Kau tak lihat kita memakai jas yang sama Dokter Kim?" potong Wonwoo.

Mingyu tersenyum mendengarnya, "Baguslah. Ngomong-ngomong melihat wajahmu sedekat ini membuatku tersadar akan sesuatu."

Wonwoo menunggu penuh tanda tanya.

Mingyu menatap lekat wajah Wonwoo yang berada tepat di dihadapannya, "Jika diperhatikan lebih jelas, wajahmu cukup mirip dengan pasien yang mengamuk tadi."

Salah. Itu kalimat jujur yang membawa kesialan pada Mingyu sendiri. Ia meringis pelan meratapi tulang keringnya yang mendapat hadiah tendangan dari Wonwoo. Wah tenaga lelaki itu luar biasa.

"Cih tidak penting sekali pengamatanmu itu Kim!" Wonwoo beranjak dari posisinya tanpa mempedulikan ekspresi Mingyu yang kesakitan, lalu ia bangkit dan bergerak menuju pintu keluar.

"Kau hanya akan pergi begitu saja?" itu suara Mingyu membuat Wonwoo berhenti dan berbalik arah pada Mingyu. Lelaki itu seperti berharap akan sesuatu atau menunggu Wonwoo untuk menjawabnya. Mengetahui hal itu Wonwoo buru-buru merogoh saku jas miliknya dan mengulurkan sesuatu pada Mingyu.

Mingyu menerima uluran itu dan menatap heran pada permen lollipop berwarna pelangi yang Wonwoo berikan kepadanya. Permen itu sering Mingyu lihat jika ia pergi ke kantin yang ada di lantai bawah.

"Untukmu karena telah merawat lukaku dan karena menyelamatkan Seokmin," Wonwoo berucap dengan tenang, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.

"Yang lain?"

"Hah?" Suara Mingyu lagi-lagi harus membuat Wonwoo berhenti.

"Kau memberiku tiga permen hanya untuk dua hal yang kau sebutkan barusan. Apa alasan untuk permen yang terakhir ini?"

Wonwoo terlihat gugup di seberang sana membuat Mingyu semakin bertanya-tanya, "Permintaan maaf karena membentakmu tempo hari."

Senyum merekah langsung menghiasi wajah Mingyu setelah mendengar jawaban dari Wonwoo barusan, "Apakah dengan ini kita berdamai?"

Terlambat, Wonwoo sudah pergi sebelum sempat menjawab pertanyaan terakhir dari Mingyu. Mingyu masih terdiam ditempat, mengamati ketiga permen lollipop yang ada digenggamannya. Senyum bahagia tak pernah terlepas dari wajah Mingyu.

Apakah Mingyu boleh egois untuk mengartikan jawaban 'ya' dari Wonwoo lewat permen-permen ini?

.

.

"Kau baik-baik saja?"

"Aku baik. Berhenti bertanya pertanyaan yang sama berkali-kali!"

Soonyoung meringis pelan, "Apa salahnya bertanya? Asal kau tau aku sangat khawatir tadi, tapi melihatmu berada di tangan yang tepat membuatku sedikit tenang."

Tangan yang tepat? Mingyu?

Wonwoo yang mendengarnya hanya acuh, ia tak ingin memberikan tanggapan karena sebenarnya ia juga terkesan dengan yang Mingyu lakukan tadi. Lelaki itu sangat berhati-hati dalam mengurus luka yang ada di telapak tangannya, bahkan Wonwoo ingat Mingyu sesekali memberikan tiupan pada lukanya seolah-olah dengan tiupan itu bisa mengurangi sakit yang Wonwoo rasakan. Cukup berhasil karena Wonwoo jadi berfokus pada wajah Mingyu bukan pada luka yang ada ditangannya.

"Kau butuh bantuan?"

Wonwoo menatap heran pada Soonyoung.

"Kau terlihat kesulitan dengan makanan itu," Soonyoung menatap bergantian pada Wonwoo dan makan siang milik Wonwoo yang baru berkurang sedikit. Fakta bahwa tangan dominan milik Wonwoo yang terluka membuat sahabatnya itu harus melakukan segala sesuatu menggunakan tangan kiri.

"Ingin menyuapiku?"

"Tidak," Soonyoung menjawab cepat. "Tidak sama sekali. Aku bisa memanggil Dokter Kim dan kuyakin dia akan dengan senang hati menyuapimu sekarang juga!"

"Lakukan itu dan sendok ini akan mendarat tepat di wajahmu. Aku yakin tangan kiriku masih cukup kuat untuk membuatmu terluka Kwon!"

Soonyoung bergidik mendengar ancaman barusan. Demi keselamatan hidupnya esok hari, iapun meneruskan acara makan siangnya tanpa mempedulikan Wonwoo yang makan dengan sangat lamban.

"Kau tak berniat mengajukan tuntutan?" Soonyoung memecah keheningan.

"Tuntutan untuk?"

Soonyoung berdeham pelan, "Melihat lukamu yang bahkan harus mendapat jahitan, aku yakin kau bisa mendapat uang ganti rugi yang cukup banyak dari kejadian ini."

"Tidak," Wonwoo menjawab cepat dan menatap ke arah Soonyoung. "Dia tak sepenuhnya bersalah. Kita juga bersalah karena menghilangkan sampel labnya."

Soonyoung tersenyum penuh arti mendengarnya, "Kau memang yang terbaik sobat."

.

.

Langit sudah berubah warna menjadi jingga saat keempat orang itu berjalan pelan di sekitar pelabuhan. Mereka saling beriringan, dua anak kecil dengan dua orang dewasa mengikuti dibelakangnya. Bagaimana itu bisa terjadi? Biarkan Wonwoo mengingatnya sebentar. Tadi setelah ia selesei berkemas, Wonwoo diikagetkan dengan kehadiran Mingyu di ruangannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Mingyu hingga ia memaksa untuk mengantar Wonwoo pulang.

"Kau pasienku, sudah kewajibanku sebagai dokter untuk mengawasi dan memastikan luka itu baik-baik saja."

Itu alasan dari Mingyu yang membuatnya terus memaksa padahal sudah Wonwoo tolak mati-matian. Sebenarnya alasan yang cukup bodoh mengingat Wonwoo juga seorang dokter dan ia sudah pasti tahu cara merawat lukanya sendiri. Mingyu tetap bersikeras membuat Wonwoo frustasi dan berakhir menerima ajakan dari orang itu. Ditengah perjalanan pulang mereka bertemu dengan Bohyuk dan Samuel –teman Bohyuk dari zigot– yang akan pergi ke dinding untuk melihat matahari terbenam. Tentu saja hal itu membuat Wonwoo memutar jalan pulang dan memilih mengikuti adiknya menuju dinding di pelabuhan.

"Mingyu hyung!"

"Ya?" Mingyu sedikit kaget dengan panggilan yang ia dengar barusan. Ia tadi sedang melamun saat melihat saluran air yang ada di pinggir jalan yang mereka lewati. Melihat air membuatnya teringat dengan masa kecilnya yang sedikit berbeda dengan anak-anak yang lain. Menjadi anak dari keluarga kaya membuat Mingyu mendapatkan perlakuan yang cukup berbeda. Tentu saja masa kecilnya diisi dengan begitu banyak larangan yang membuat aktivitasnya sangat terbatas. Jujur saja ia sempat iri dengan Bohyuk dan Samuel yang bisa menikmati masa kecilnya dengan sangat bahagia.

"Hyung kau kenal dengan Woobin?" terdengar suara Bohyuk dari depan, "Hyung keren yang sering muncul di tv itu lho? Aku dan Sam sering melihatnya, bahkan eomma di rumah juga sering melihat hyung keren itu di tv."

Woobin? Aktor Kim Woobin?

"Tentu saja," Ini Mingyu tidak berbohong, tentu saja ia mengenal lelaki bernama Kim Woobin yang Bohyuk sebut barusan. Aktor satu itu sering datang ke rumah sakit miliknya yang berada di Seoul untuk mengobati kanker yang ia derita. Mungkin beberapa kali mereka sempat bertegur sapa, tapi Mingyu tidak mengenal dekat karena ia bukan dokter yang bertanggung jawab untuk aktor tersebut.

"Tuh kaan, apa kubilang!" Samuel berujar semangat. Dapat dilihat binar bahagia terpampang jelas di kedua anak kecil itu. "Orang-orang keren pasti saling mengenal satu sama lain."

"Kau benar Sam," ujar Bohyuk ikut bangga. "Mingyu hyung kenalkan kami dengan Woobin hyung yang keren itu yaa!"

Melihat raut memohon dari Bohyuk dan Samuel membuat Mingyu pura-pura berpikir. Untuk apa mereka ingin mengenal Woobin? Tapi sepertinya obsesi kedua anak kecil di depannya itu pada orang keren membuat Mingyu tak bisa berkata-kata. "Baiklah asal kalian tidak––"

"HOREEY!" mereka menjerit senang bersamaan. Terlampau senang seolah-olah mengenal Woobin adalah cita-cita yang harus mereka capai dengan cara apapun. Mingyu hanya menatap aneh pada keduanya yang sedang menari dan melompat-lompat tidak jelas disana. Mereka terus melakukan selebrasi tanpa menyadari tatapan tajam dari Wonwoo yang berada dekat dengan mereka.

"JEON BOHYUK! Berhenti melompat atau kau––"

Ucapan Wonwoo terputus oleh suara ceburan air yang terdengar sangat jelas. Badannya terbanting ke pinggir jalan.

Ada yang jatuh ke dalam saluran air.

"Ouch sial," Wonwoo meringis pelan, menatap nanar pada perban di tangannya yang kotor terkena debu. Tangannya sedikit nyeri karena barusan menghantam aspal cukup keras. Ia terpental jatuh karena tadi ada seseorang yang menarik pinggangnya dengan kuat.

Wonwoo mencoba mengingat apa yang barusan terjadi, tadi Bohyuk dan Samuel terlalu bahagia hingga tak menyadari jika mereka sedang berada di pinggir saluran air. Posisi Bohyuk yang terlalu dekat dengan Wonwoo membuat satu senggolan saja bisa menyebabkan Wonwoo jatuh ke dalam air.

Wonwoo semakin berpikir, tadi Bohyuk memang tak sengaja menyenggol tubuhnya, harusnya Wonwoo sudah terjatuh ke dalam saluran air tapi sekarang ia masih aman di atas jalan. Lalu siapa tadi yang jatuh?

"Mingyu Hyuuungg!"

Suara teriakan barusan membuat Wonwoo kaget dan buru-buru mendekat ke tepian jalan. Melongok ke bawah dan langsung menemukan sosok Mingyu berada di permukaan air dibawahnya.

"Bodoh! Apa yang kau––"

"Kau baik-baik saja?" Mingyu memotong cepat kalimat Wonwoo dan merasa lega setelah mendapat anggukan dari Wonwoo sendiri. Tadi Mingyu secara reflek menarik pinggang Wonwoo yang nyaris jatuh tanpa memperhitungkan posisinya sendiri yang ada di pinggir. Saluran air ini cukup dalam tapi beruntung Mingyu sudah bisa berenang sejak ia masih kecil.

"Kim Mingyu dan tindakan bodohnya. Setidaknya air itu bisa menjernihkan pikiranmu Kim!"

Mingyu mendongak dan menatap Wonwoo, "Aku tidak akan bodoh untuk membiarkan lukamu basah terkena air. Kau bisa menyusul kemari untuk alasan yang sama Jeon!"

Wonwoo tertawa pelan mendengar jawaban dari Mingyu, ia lega mendapati kondisi Mingyu yang baik-baik saja dibawah sana. Entah sudah berapa kali lelaki itu berbuat baik kepadanya membuat Wonwoo perlahan mulai berempati.

"Hyung kami akan menyelamatkanmu!" itu suara Bohyuk yang lantang membuat kaget Wonwoo. Dapat dilihat kedua anak kecil itu sudah berjalan mundur dari tepian dan mengambil ancang-ancang.

"JANGAN!" Mingyu kaget dan berteriak panik dari dalam saluran air. "Air disini cukup dalam. Kalian bisa––"

Terlambat.

Kalimat Mingyu hanya menjadi angin lalu bagi kedua bocah yang sebenarnya malah semangat jika disuruh bermain air. Dua anak kecil tadi sudah menyusul Mingyu ke dalam saluran air tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Wonwoo. Mereka melompat dengan bahagia dari tempat Wonwoo berdiri. Wonwoo yakin Bohyuk hanya memanfaatkan kesempatan karena selama ini ia sering melarangnya bermain air di tempat ini.

Tak berselang lama Samuel sudah muncul di permukaan, mengambil napas dalam dan merapikan rambutnya yang basah terkena air.

"Dimana Bohyuk?" Sekarang Mingyu panik. Sudah cukup lama sejak mereka melompat bersama tapi Mingyu tak mendapati Bohyuk muncul ke permukaan. Samuel sendiri hanya menggeleng membuat Mingyu semakin panik. Ia memutar tubuhnya dan menatap sekeliling, hanya menemukan air yang tak berujung tanpa ada sosok kecil Bohyuk dimanapun.

Mingyu pindah menatap Wonwoo di atas, tapi pemuda yang ditatap itu juga tak memberikan jawaban. Malah berekspresi lain yang sulit Mingyu artikan.

"Jeon Bohyuk kau dimana?!" Mingyu berteriak panik memanggil nama bocah satu itu. Pikiran-pikiran buruk langsung datang ke dalam pikiran Mingyu. Bisa tamat riwayat Mingyu jika terjadi sesuatu yang buruk pada Bohyuk. Mulai dari kemarahaan Wonwoo hingga nasib di mata kakeknya.

Mingyu bergidik merasakan sesuatu menyentuh perutnya yang terbuka karena baju yang tersingkap di dalam air. Sebenarnya ia memiliki ketakutan tersendiri jika berenang di tempat yang tidak ia kenal, mulai dari bayangan ular hingga buaya yang sebenarnya sangat tidak mungkin. Sentuhan-sentuhan di perut Mingyu terus berlanjut, membuat wajah Mingyu pucat pasi. Mingyu terlalu takut untuk melihat ke bawah dan hanya bisa bergumam semoga saja bukan binatang seperti ular yang menyentuhnya.

"BOO!"

Mingyu terlonjak kaget mendapati kepala Bohyuk muncul dengan tiba-tiba di depannya.

"Dasar anak nakal! Kemari kau!" Mingyu berusaha menggapai kepala Bohyuk yang berhasil membuatnya jantungan, tapi ternyata Bohyuk lebih gesit dari yang ia kira. Bocah itu kabur dengan sangat cepat, membuat Mingyu hanya menggapai udara kosong. Mereka tertawa bahagia karena berhasil mengerjai Mingyu membuat lelaki itu berkedut. Mingyu yakin rasa takutnya yang berlebihan pasti membuat bocah-bocah itu tambah bahagia. Ia pun menatap ke atas dan mendapati Wonwoo melakukan hal yang sama seperti kedua bocah di sekitar Mingyu.

Wonwoo tertawa.

Mungkin keputusan untuk menatap Wonwoo adalah keputusan paling buruk yang pernah Mingyu lakukan, karena sekarang ia jadi tidak bisa berpaling. Di atas sana tersaji pemandangan Wonwoo yang sedang tertawa bahagia dengan langit jingga sebagai latarnya. Mungkin Mingyu lupa sejak kapan ia menyadari jika Wonwoo memiliki wajah yang rupawan walaupun sering menampilkan ekspresinya yang dingin. Dan sekarang Mingyu dapat melihat ekspresi lain dari pemuda itu dan sialnya malah membuatnya terpana.

Bagaimana sosok itu bisa begitu indah hanya dengan mengeluarkan tawanya?

"Hei Jeon Wonwoo! Ulurkan tanganmu dan bantu aku naik!" Mingyu berujar setelah Wonwoo menghentikan tawanya. Wonwoo menurut dan mengulurkan tangan kirinya yang langsung disambut oleh Mingyu.

Mingyu dengan penuh tenaga mulai memanjat naik.

"KIM MINGYU! APA YANG––"

Mingyu bergerak cepat mengikuti instingnya sendiri. Menarik cepat tangan Wonwoo yang tadi ia genggam dan membawa pemuda itu untuk masuk dalam pelukannya.

"Sebentar!" ucapnya lembut saat Wonwoo mendorong dadanya menjauh. Pemuda itu memberontak membuat Mingyu memeluk lebih erat tubuh kurus milik Wonwoo. "Biarkan seperti ini sebentar saja!"

"Menjauh Kim!" Wonwoo memukul dada Mingyu berharap laki-laki itu melepasnya. Ia tak mengerti apa yang ada di dalam otak Mingyu hingga lelaki itu memeluknya dengan tiba-tiba. Baju bagian depan Wonwoo jadi basah karena tertempel oleh badan Mingyu yang sudah basah duluan.

"Kau sakit dan aku yang mengobatinya. Sekarang giliran kau yang mengobati karena aku sedang sakit!" Mingyu berucap pelan tepat disamping telinga Wonwoo, menghirup sebanyak-banyak wangi khas rumah sakit yang menguar dari tubuh yang berada dalam pelukannya ini.

Terdengar geraman pelan dari Wonwoo. "Kau tidak sakit! Jangan mengada-ada! Sekarang menjauh atau––"

"Aku sakit!" Mingyu memotong ucapan Wonwoo cepat. "Sepertinya aku menderita Supraventrikular Takikardia. Kau bisa merasakan jantungku berdegup sangat kencang sekarang!" Mingyu menutup matanya, menikmati setiap debaran yang entah bagaimana jadi terasa menyenangkan sekarang.

Wonwoo mengernyit mendengar nama penyakit barusan. Dengan tubuh yang tanpa jarak seperti ini tentu saja ia bisa merasakan detak jantung Mingyu yang memang tidak normal. Wonwoo juga tak menampik jika ia ikut berdebar –karena kaget– sekarang. Dengan cepat didorongnya tubuh Mingyu sebelum lelaki itu sadar dengan debaran milik Wonwoo.

"Lepaskan Kim!" Wonwoo mengeram pelan setelah mendapati dirinya yang gagal mendorong tubuh Mingyu menjauh. Entah gagal karena Wonwoo hanya menggunakan tangan kiri atau Mingyu yang memang terlalu erat memeluknya.

"Tertawalah!"

"Hah?" Wonwoo menghentikan gerakannya. Terheran dengan ucapan Mingyu yang terdengar jelas disamping telinganya.

"Tertawalah terus seperti tadi!" Mingyu menenggelamkan diri ke dalam ceruk leher Wonwoo. Entah sejak kapan ia jadi menyukai wangi antiseptic yang menguar dari leher jenjang milik Wonwoo. "Tertawalah terus jika bersamaku! Berhenti melakukan sesuatu yang bisa membuatmu terluka!" dan membuatku khawatir.

Wonwoo hanya mendecih mendengar ucapan Mingyu barusan tapi tak menyangkal ia juga tersenyum setelahnya. "Bodoh! Kau tak ingat yang kau lakukan barusan?!"

"Kau benar dan selalu benar!" Mingyu tertawa pelan. "Dan kuakui aku memang bodoh karena bersedia jatuh lagi ke dalam air hanya untuk melihatmu tertawa seperti tadi."

Tawa Jeon Wonwoo dan langit jingga adalah perpaduan yang buruk. Sangat buruk karena mampu menjadi candu bagi Mingyu.

.

.

Suasana makan malam di salah satu rumah itu berlangsung seperti biasanya walaupun tanpa kehadiran sang kepala keluarga. Sosok ayah di keluarga itu yang juga menjabat sebagai kepala desa sedang pergi ke kota untuk menyelesaikan urusannya. Kini meja makan berbentuk bulat itu hanya diisikan oleh dua orang manusia. Ada Bohyuk yang sedang duduk manis dan Wonwoo yang juga duduk tenang menikmati hidangan yang tersaji. Satu-satunya sosok wanita di dalam keluarga itu sedang sibuk mempersiapkan hidangan penutup di dapur. Hanya terdengar suara alat makan yang beradu dan sesekali nyanyian Bohyuk yang tidak bernada sama sekali.

"Hyung!" Bohyuk memanggil tiba-tiba dan dibalas geraman ringan dari kakaknya. "Kau harus menikah dengan Mingyu hyung agar aku punya hyung keren seperti yang ada di tv!"

WHAT?

Wonwoo tersedak mendengar ucapan barusan, dengan sigap tangan Bohyuk datang membawa segelas air yang langsung dihabiskan oleh Wonwoo.

"Woobin hyung itu sangat keren, dia tinggi dan tampan seperti Mingyu hyung. Tapi Woobin hyung bisa berkelahi dan menembak dengan pistol seperti ahjussi yang ada di kantor polisi" Bohyuk memperagakan tangannya seolah-olah dia sedang memegang senjata api.

"Kau sudah memiliki hyung yang keren!" Wonwoo menunjuk dirinya sendiri.

Bohyuk menghentikan gerakannya, "Tapi aku bosan denganmu hyung!"

Wonwoo cengo.

"Aku ingin memiliki hyung yang benar-benar keren seperti Woobin hyung! Jadi kau harus menikah dengan Mingyu hyung atau aku dan Sam akan memakan semua makanan yang hyung sembunyikan di dalam kamar!" Bohyuk mengancam dengan polosnya.

"Kenapa jadi aku yang harus menikah dengan Mingyu?" Wonwoo menetralkan napasnya mendengar penuturan bocah korban drama tv yang sekarang sudah kembali ke tempat duduknya.

"Saem pernah bilang saat di kelas jika orang yang menikah namanya akan berubah, jika namanya sama maka mereka akan menjadi saudara. Hyung harus menikah agar namaku juga berubah dan menjadi sama dengan Woobin hyung yang sangat keren itu!"

Kim Woobin? Kim Mingyu?

Wonwoo menatap heran pada adiknya sendiri. Demi apa ya tuhan adiknya punya pemikiran seperti itu? Dan kenapa juga harus dengan Mingyu?

"Menikahlah dengan Samuel dan namamu akan berubah seperti yang kau inginkan!"

Bohyuk mengerucutkan bibirnya lucu, "Tidak! Aku masih sekolah hyung. Kau yang harus menikah dengan Mingyu hyung!"

Cukup sudah. Wonwoo hilang kesabaran sekarang, ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Bohyuk, "Kemari kau bocah! Sepertinya kau harus kujitak supaya bisa berpikir lebih normal!"

Bohyuk yang kaget mendengarnya buru-buru bangkit dan berlari menjauh dari Wonwoo yang beraura hitam. Berlari mencari perlindungan dari sang ibu yang ada di dapur. "Eommaa!"

"Ada apa hm?" wanita cantik itu bertanya setelah mendapat terjangan pelukan yang tiba-tiba dari Jeon bungsu. Diusapnya lembut rambut si kecil.

"Eomma!" Panggil Wonwoo. "Berhenti menonton drama lagi dengan Bohyuk! Pikirannya jadi tercemar sekarang!" Wonwoo berucap dari pinggiran meja makan membuat dua orang yang ada di dapur itu menoleh.

"Aku hanya ingin hyung menikah!" Bohyuk berteriak kencang pada Wonwoo membuat wanita itu sedikit terkejut, akan tetapi tak lama kemudian sebuah senyuman bertengger manis di wajah cantiknya.

"Wonwoo hyung yang menikah?" sosok ibu bagi keluarga Jeon itu bertanya dengan tenang dan dibalas anggukan semangat dari Bohyuk.

Whaat?

"Oh astaga. Eomma dia baru berumur 7 tahun. Darimana bocah seumuran itu bisa tahu soal––"

"Aku benar kan eomma?" Bohyuk memotong ucapan Wonwoo dan dibalas anggukan dari sang eomma yang membuat Wonwoo jadi geram sendiri. Bohyuk tersenyum manis dan beralih pada Wonwoo, "Lagian Mingyu hyung sendiri yang bilang ingin menikahimu hyung!"

"APA?!"

Terkutuklah kau Kim Mingyu dan racun yang kau berikan pada Bohyuk!

.

.

TBC

.

.

*Supraventrikular Takikardia : Kelainan jantung yang ditandai dengan detak yang diatas batas normal.

.

Chap 4 done :)

Terimakasih buat yang sudah membaca dan menunggu cerita ini. Semoga tidak mengecewakan. Thankyuu so much buat yang udah meninggalkan review. :'))

Ide scene sampel lab yang hilang itu didapat dari drama Good Doctor (tapi yang US vers) trus dikembangin sesuai kebutuhan cerita. Maafkan karena penulis buta soal dunia medis wkwk

Semoga feelnya g kecampur sama ff yang satunya. Ternyata susah buat ngejaga satu karakter dengan karakter yang lainnya biar tetep pisah. Hemmm akan diusahakan yang terbaik buat next chap sambil belajar hehee

Yasudah sampai jumpa kapan2 lagi XD

.

Bye. See ya.