Disclaimer: I don't own Naruto.
Warning: AU.
-x-
-x-
-x-x-x-
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Bulan Di Negeri Pasir
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
-x-x-x-
-x-
-x-
"Pasukan Shikamaru makin menyudutkan kita. Kami terpaksa mengumpulkan semua orang di bekas mimbar agung yang terletak persis di tengah Gedung 41."
Kurang lebih seperti itulah bunyi laporan yang diberikan Sakura pada Temari sesaat sebelum kereta yang ditumpangi calon mempelai wanita Pangeran Konoha itu mengakhiri perjalanan mereka. Setibanya ia bersama Shikamaru dan Sasuke di daratan Konoha, puluhan prajurit pengawal mengiring ketiganya dengan begitu ketat hingga memasuki kompleks istana yang luasnya mencapai ribuan hektar. Benteng lapis tiga setinggi ratusan kaki dengan menara pengawas di tiap seratus meter menyambut rombongan Temari pagi itu.
Konoha jelas lebih hijau. Jauh lebih hijau daripada Suna yang dasarnya memang berada di gurun pasir. Jadi sekalipun keramaian ibukota telah memaksa bangunan-bangunan tinggi dan pagar-pagar besi dibangun disana-sini, Temari tetap bisa melihat deretan pohon berbagai jenis tumbuh menjulang dengan subur. Terutama ketika gadis itu mulai memasuki perimeter kawasan Istana Kekaisaran Konoha yang posisinya diapit dua buah air terjun dengan latar belakang gunung Hokage di seberang sana.
Sasuke dan Shikamaru menjejeri langkah Temari sewaktu ketiganya melewati barisan pasukan yang menyambut kedatangan mereka di depan gerbang masuk utama. Bangunan depan istana yang dari dekat terlihat jajaran pilar-pilar patung raksasa tampak berdiri megah dengan dua air mancur yang menandakan bahwa istana ini dibangun dengan konsep simetris, senada dengan sepasang air terjun yang mengawal tempat itu.
"Selamat datang kembali di istana, Pangeran Sasuke, Pangeran Shikamaru," sapa seorang pria berusia lanjut yang merupakan anggota tertua dewan penasehat istana. Namanya Homura. "Selamat datang juga untuk Anda, Nona Temari."
Tugas Homura untuk menyambut mereka hanya sampai disini saja. Selanjutnya muncullah kepala pelayan istana, Ibiki, yang menuntun arah ketiganya menuju balairung tahta tempat Kaisar Itachi telah menunggu kedatangan mereka bersama sang permaisuri, Hinata. Ibikilah yang mengumumkan kehadiran Shikamaru, Sasuke, dan Temari di depan double grand door berlapis emas sebelum meninggalkan balairung itu dalam keadaan tertutup.
"Yang Mulia Kaisar," sebut Ibiki, "Pangeran Sasuke, Pangeran Shikamaru dan Nona Temari telah tiba."
Balairung tahta merupakan sebuah ruangan besar dengan langit-langit teramat tinggi yang disangga puluhan pilar berdiameter tiga kaki. Kesan remang-remang sukses dihasilkan oleh perpaduan warna merah hati, biru tua dan kuning emas yang mendominasi ruangan tersebut. Kedua pangeran berjalan membelah balairung untuk menghadap sang kaisar bersama Temari yang mengekor di belakang mereka.
"Kami telah kembali, Yang Mulia," suara Shikamaru terdengar mewakili tiga kepala yang menunduk dalam penghormatan.
Sang kaisar diam tak bergeming. Uchiha Itachi tetap duduk dengan angkuhnya diatas singgasana bersama permaisuri cantik yang juga tidak mengatakan apa-apa. Namun meski kepalanya menunduk, Temari masih cukup jeli untuk merasakan bahwa selang beberapa detik kemudian Itachi memutuskan untuk bangkit, lalu turun ke lantai balairung dengan diikuti oleh langkah anggun Hinata dibelakangnya.
Dan Temari tidak bisa menahan jantungnya untuk tidak berdetak lebih cepat. Tidak bisa menahan tengkuknya untuk tidak meremang. Juga tidak bisa menahan nalurinya untuk tidak menyadari langkah Itachi yang perlahan namun pasti telah melewati Shikamaru dan Sasuke.
Sang Kaisar Konoha kini berdiri persis di depan Temari. Auda dingin beserta wibawa dan kebesarannya akan terus menguar seandainya saja tidak ada suara Sasuke yang terdengar menyela tiba-tiba.
"Hentikan itu, Itachi," ujar si adik dalam kadar kelempengan yang biar bagaimana tak mungkin bisa ia kurangi.
Lalu seolah dengan sengaja membanting gelas yang sudah retak Shikamaru menyambung, "Kau menakuti calon istriku."
Wajarlah jika kemudian Temari memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya pelan-pelan. Tanpa terduga didapatinya ekspresi jahil di wajah datar nan angkuh Itachi yang ketika itu bertanya, "Apa aku berhasil membuatmu takut?" dengan latar belakang Hinata yang tersenyum geli di balik punggung sang suami.
Itulah juga pertama kalinya Temari melihat Shikamaru dalam ekspresi yang tak patut dikagumi. Seenaknya saja pangeran ketiga itu memasukkan tangan ke dalam saku sembari menekuk bahunya hingga terkesan membungkuk. Bukan main kerasnya suara 'HOOAAAAMM' khas beruang pasifik menguap di masa hibernasi yang ia hasilkan sesaat kemudian.
Kalau kata orang, Temari speechless.
"Jangan menguap selebar itu, Shikamaru," tegur Itachi, "dan kau, Sasuke," ia beralih pada adiknya yang lain, "mana pelukan istimewa untuk kakakmu tersayang ini?"
"Aku tidak mau," Sasuke menjawab tanpa membatas tatapan kakaknya, "Minta saja Shikamaru memelukmu."
Itachi menolak, "Aku tidak mau dipeluk oleh orang yang belum mandi sejak kemarin sore!"
Wow.
Bukannya menyahut komentar sang kaisar, Sasuke justru menoleh pada Temari. Kata pangeran itu, "Kau harus siap menghabiskan sisa hidupmu bersama orang yang setiap pagi baunya seperti kambing."
Ajaibnya, sama sekali tak terdengar ucapan bernada protes dari Shikamaru atas pernyataan duo Uchiha. Bahkan demi melengkapi penderitaan sang gelas retak yang dibanting ke lantai ia malah melindas pecahan gelas tersebut dengan menguap lebar sekali lagi sambil bertanya, "Aku ngantuk. Boleh tidur sekarang?"
Temari diam. Melongo sebentar. Lalu berkedip.
"Enak saja," tukas Itachi sebelum bertolak pada istrinya, "Hinata, tolong antarkan Temari. Ada yang harus kubicarakan bersama kedua adikku."
Hinata mengiyakan, "Mari, Temari."
Yang diajak hanya sempat memberi penghormatan sekedarnya, "Saya mohon diri, Yang Mulia."
Entah bagaimana caranya naluri Temari saat itu berhasil menangkap jejak di sudut mata Sasuke yang mengekorinya—oh, bukan. Bukan dia. Sasuke mengekori sosok anggun Hinata dengan sudut matanya hingga punggung sang permaisuri tak terlihat lagi.
"Dia memang seperti itu," tutur Hinata yang seakan berhasil membaca rasa keheranan Temari ketika keduanya berjalan menuju paviliun timur. "Shikamaru sangat mahir menjaga wibawanya di depan umum. Maklum, ayahnya seorang jenderal besar dan diapun demikian. Tapi kalau sedang bersama keluarganya tanpa orang lain seperti tadi, kelakuan aslinya langsung terlihat. Jadi kau jangan heran kalau kelak sering melihatnya menguap tiap dua menit sekali atau bahkan sengaja tidur di meja makan. Soalnya dia itu memang pemalas ulung."
Temari hanya bisa menyahut, "Iya, Yang Mulia."
Jujur gadis pirang itu mengakui dalam hati bahwa ternyata sosok Permaisuri Hinata jauh lebih cantik yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Kalau dibandingkan dengan Temari, ukuran tubuhnya sedikit lebih mungil. Dengan kulit putih mulus, wajah jelita, rambut gelap yang sebagian ujungnya digulung ikal, serta seanggunan dan kelembutan yang biar bagaimanapun akan sulit Temari imbangi. Terlepas dari ketahanan fisiknya yang terlihat agak rapuh, Hinata adalah permaisuri yang sempurna.
Dan Hinata bukannya menjadi seorang permaisuri tanpa alasan.
Selama bertahun-tahun lamanya Uchiha Fugaku berusaha meruntuhkan kekuasaan Dinasti Hyuuga di tanah berbatu Iwa. Perang yang berkecamuk tanpa henti menyisakan korban yang tak sedikit di kedua belah pihak. Konoha kehilangan Nara Shikaku sementara Iwa bukan cuma kehilangan Raja Hizashi, tapi juga saudara kembar beserta istri tercinta dan putri bungsunya, Hanabi. Maka tibalah saatnya bagi Hinata untuk tampil sebagai satu-satunya pewaris tahta. Hati emasnya yang tidak sanggup menyaksikan penderitaan rakyat Iwa akibat perang berlarut-larut segera dimanfaatkan oleh Kaisar Fugaku. Diberikanlah pada sang ratu muda sebuah tawaran untuk mengakhiri perang dengan satu syarat, yaitu menikahkan Hinata dengan putra mahkota Konoha saat itu, Uchiha Itachi.
Demi rakyatnya Hinata menyanggupi. Ia hanya meminta agar Iwa tetap diberi tiang independensi dengan membentuk sebuah dewan jenderal yang dipimpin sepupunya, Hyuuga Neji. Padahal ada kabar burung yang berhembus pada saat itu bahwa Hinata telah dipinang oleh orang lain. Entah siapa.
Temari tak sampai hati membayangkan seorang gadis ringkih yang telah kehilangan hampir seluruh keluarganya rela diboyong ke sarang musuh sebagai tawanan. Permaisuri, memang. Bermahkota, iya. Tapi tak lebih berharga daripada tawanan perang yang dipajang dalam kurungan sangkar emas.
Dan Hinata terlihat bisa menerima semua itu.
"Shikamaru paling tidak suka direpotkan dengan urusan protokoler, makanya pernikahan kalian disusun semendadak ini," terang Hinata lagi, "Ayo, kutunjukkan gaun pengantin yang akan kau pakai. Aku dengar kau bisa memainkan lima alat musik berbeda. Para bangsawan telah secara resmi meminta agar kau memainkan beberapa lagu saat jamuan khusus nanti."
-x-
-x-x-x-
-x-
"Ayah, Ibu, hari ini aku akan menikah," ujar Temari ketika tiba fajar menyingsing di hari pernikahannya. Gadis itu memejamkan mata, menunduk, dan menangkupkan jemari di depan dada begitu ia terjaga diatas tempat tidur. "Aku mohon restui aku. Berikan aku kesabaranmu, Ibu. Ringankan beban berat di pundakku ini. Berikan aku kekuatanmu, Ayah. Biarkan aku meneruskan perjuangan yang dulu kau mulai," lanjutnya lagi, "Kankuro, Gaara, hari ini kakak akan menikah. Doakan kakak selamat, ya. Tunggulah kakak disana. Aku takkan lama."
Kalau saja Chiyo diijinkan ikut ke Konoha, perempuan tua itu pasti sudah menangis histeris saat ini.
"Mereka akan selalu menuntunmu dari atas sana, Temari. Jangan khawatir," kata Sakura sewaktu Temari turun dari ranjangnya.
"Aku gugup, Sakura," Temari mengaku, "Seluruh badanku gemetar semua."
"Sabarlah. Duduk dulu, biar kubuatkan teh. Sebentar lagi dua belas pelayan akan dikirim kemari untuk membantu bersiap," Sakura memberitahu, "Diseantero Konoha dan daerah jajahannya, hari ini dijadikan hari libur. Begitu matahari terbit lagu kebangsaan akan terus dikumandangkan berulang-ulang. Kau sedang membuat sejarah."
"Terserah apa katamu."
Butuh lebih dari enam jam bagi Temari untuk menyiapkan diri sebelum prosesi pernikahannya dimulai. Betapa tersiksanya gadis itu ketika Sakura menarik sentak tali spageti pada korset yang mau tak mau harus ia kenakan. Belum lagi gaun pengantin putih seberat lebih kurang lima belas kilogram berbahan sutra yang menghabiskan kain hingga hampir dua ratus meter persegi melilit tubuhnya tanpa ampun. Rumbai-rumbai, renda, pita, permata, kristal bertaburan disana-sini. Lututnya serasa mau patah menanggung bobot gaun sementara bahunya malah kedinginan karena model kemben yang menggaris potongan sutra tersebut. Sarung tangan putih sepanjang siku menutupi tangannya yang gemetar sejak subuh. Rambut pirangnya disanggul dengan polesan glitter yang senada dengan gemerlap penutup kepala satin berbordir teratai. Temari meringis memandang wajahnya sendiri di depan cermin. Make-up komplit itu mungkin takkan luntur sampai bulan depan.
Kesampingkan saja giwang atau kalung berbandul mutiara. Seluruh penderitaan Temari makin lengkap dengan kawat rangka rok beserta sepatu lapis emas putih dan hak tinggi yang serasa memenjarakan kedua kakinya. Sudah begitu Temari masih harus memegang sebuket bunga yang terdiri dari sebelas jenis puspa berbeda dan suluran hijau yang nyaris mencapai lutut.
'Dengan gaun seberat ini aku akan pingsan sebelum sampai di gereja,' pikir Temari.
Untungnya pemikiran itu tidak terwujud. Sang mempelai wanita tampak baik-baik saja ketika beranjak meninggalkan kamar persiapan, menyusuri paviliun timur untuk menuju Konoha Imperial Church dengan iring-iringan pengawal yang jumlahnya tidak main-main. Jauh sebelum sampai disana sekalipun Temari sebenarnya telah mendengar suara lonceng yang berdentang konstan. Dan karena Shikamaru adalah seorang petinggi militer, ia harus dicegat dulu oleh barisan prajurit berpedang untuk sebuah prosesi awal yang entah apa namanya sebelum memasuki gereja.
Barulah kemudian ia bisa melihat sosok Sasuke yang berdiri menunggunya di ujung barisan. Pangeran kedua itu bertugas menggandengnya hingga ke depan altar.
Sekujur tubuh Temari panas dingin sejak pintu gereja dibuka. Deretan hadirin yang kesemuanya merupakan bangsawan, petinggi, dan pembesar serta alunan musik khas upacara pernikahan makin membuatnya merinding. Telinganya serasa tuli dan badannya bisa dibilang mati rasa karena gugup. Tahu-tahu saja Sasuke sudah melepaskan gandengan mereka dan Shikamaru ganti menyambut tangannya untuk menghadap sang pendeta.
Doa dan pranata lain-lain tak sampai tercerna oleh otak Temari. Ia baru sadar bahwa seluruh prosesi hampir beres ketika sang pendeta mengajukan pertanyaan paling fenomenal sepanjang hidup gadis itu.
"Bersediakah Anda, Pangeran Shikamaru, menerima Kanaya Temari dalam keadaan susah maupun senang sampai maut memisahkan kalian?"
"Ya, saya bersedia."
Sekarang giliran Temari. Tanya sang pendeta, "Bersediakah Anda, Kanaya Temari—"
Yang kurang lebih diterjemahkan Temari sebagai kalimat berikut ini, "Bersediakah Anda, Sabaku Temari—"
Si pendeta melanjutkan, "—menerima Pangeran Nara Shikamaru—"
Temari menerjemahkan, "—membantai Pengerat Nara Shikamaru—"
"—dalam keadaan susah maupun senang—"
"—dengan sebilah pedang maupun senapan—"
"—sampai maut memisahkan kalian?"
"—sampai maut meregang nyawanya?"
Sudah barang tentu Temari menjawab, "Ya, saya bersedia."
Sehingga kesimpulan pendeta adalah, "Dengan ini saya sahkan kalian berdua sebagai suami istri." Dan tolong jangan lupakan bagian ini, "You may kiss the bride."
Ketika itu Temari betul-betul berharap akan ada lubang neraka yang mendadak terbentuk di bawah kakinya sehingga gadis itu tak perlu merelakan ciuman pertamanya dengan cara seperti ini.
Sayang, harapannya tak terwujud. Shikamaru sudah merengkuh kedua tangannya, menunduk, dan sesaat sebelum bibir mereka bertemu, Temari sempat mengendus aroma tembakau yang menguar tipis.
"Aku hanya merokok kalau sedang gugup."
Entah apa yang membuat Shikamaru merasa harus memberi alasan atas aroma nikotin dimulutnya. Toh Temari takkan protes. Tak sempat protes. Tak punya waktu untuk protes.
Ciuman singkat tanpa rasa itu betul terjadi.
Di tengah tepukan tangan yang begitu meriah.
Shikamaru mengakhiri ciumannya, mundur satu langkah demi memberi akses bagi Itachi untuk menyematkan mahkota di kepala Temari. Sampai ketika kedua mempelai keluar dari gereja dengan diikuti oleh Itachi yang menggandeng Hinata dan Sasuke di belakang mereka, suara tepukan tangan itu masih terdengar.
Selanjutnya pasangan pengantin baru itupun diarak dari Konoha Imperial Church hingga ke alun-alun Konoha dengan sebuah kereta kencana berlapis emas yang ditarik sembilan ekor kuda putih.
Sepanjang perjalanan Temari hanya diijinkan menurunkan tangan sebanyak beberapa kali. Ia harus terus tersenyum dan melambai pada seluruh rakyat Konoha yang memadati kanan-kiri jalanan ibukota pagi itu. Sungguh, jika terus begini Temari yakin rahangnya bisa bergeser.
Parade marching band didaulat membuka festival akbar yang digelar selama tujuh hari berturut-turut untuk merayakan pernikahan Temari dan Shikamaru. Dan jika ada yang berpikir penderitaan Temari sudah usai, maka mereka salah besar. Masih ada jamuan khusus para bangsawan yang sedianya diadakan di istana. Pada acara jamuan itu Temari harus memainkan lima lagu dengan lima alat musik berbeda yang dikuasainya—harpa, cello, biola, piano dan kecapi. Lalu sebagaimana tradisi istana yang dulu membuat Hinata berdansa dengan Fugaku, maka malam itu Temari juga harus berdansa dengan Itachi.
Ah, setidaknya Temari sudah terbebas dari gaun yang sangat menyiksanya tadi pagi.
Shikamaru duduk semeja panjang bersama Sasuke dan Hinata sementara Temari dan Itachi harus menunggu sampai lagu selesai untuk bergabung dengan mereka. Sasuke masih menusuk-nusuk saladnya dengan garpu disaat Hinata tampak membalas senyum dan salam hormat beberapa orang. Bagaimana dengan Shikamaru? Tanpa orang tahu jenderal muda itu sedang sibuk berpikir tentang 233 kemungkinan berbeda mengenai rentetan situasi yang harus dialaminya bersama Temari setelah mereka sampai di kamar nanti.
'Huh,' dengusnya tanpa terdengar, 'Merepotkan.'
Mendadak saja Ibiki muncul memotong imajinasi sang mempelai pria. Ia membungkuk seraya menyampaikan, "Maaf, Yang Mulia. Ada telepon untuk Yang Mulia."
"Dari mana?"
"Dari Suna, Yang Mulia."
"Asuma?"
"Benar, Yang Mulia."
Shikamaru setengah memaksakan kakinya untuk bangkit. Batinnya menggerutu, bertanya-tanya kenapa Itachi tidak memaksa salah satu kelompok ilmuwan terbaiknya untuk menciptakan telepon yang bisa dibawa kemana-mana. Agar dia tidak perlu berdiri disaat dia tidak mau. Kalau perlu, ciptakan saja telepon yang ukurannya cukup kecil untuk dimasukkan ke dalam saku celana sekalian.
Lagu yang mewajibkan dansa antara mempelai wanita dan kaisar telah habis dimainkan. Itachi menuntun Temari kembali ke meja panjang mereka untuk bergabung bersama Sasuke dan Hinata.
"Mana Shikamaru?" tanya Itachi.
"Tidak tahu," jawab Sasuke asal. "Diculik Ibiki, kurasa."
Baru saja jawaban itu dilontarkan Sasuke, Shikamaru datang dengan raut wajah yang berubah drastis. Sedikit tergesa, sedikit memanas, entahlah. Sulit untuk dijelaskan. Itachi yang berniat menegur didahului oleh ucapan Shikamaru pada pangeran kedua Konoha.
"Kau keterlaluan, Sasuke."
Sasuke menoleh. "Apa?"
"Aku bilang kau keterlaluan," Shikamaru beralih pada sang kaisar, "Aku harus pergi sekarang, Itachi."
"Sekarang? Kemana?" Itachi tak mengerti, "Apa yang terjadi?"
"Suna. Dan suruh saja Sasuke untuk menjelaskannya," timpal Sasuke yang tanpa berpikir apa-apa lagi langsung menarik tangan Temari, membawanya keluar dari ruang perjamuan itu.
-x-
-x-x-x-
-x-
Suna, hari berikutnya
Gedung 41 merupakan bangunan tinggi yang tadinya menjadi kediaman bagi 41 anggota parlemen senior ketika Suna masih merdeka. Seusai invasi Konoha, Gedung 41 menjelma sebagai tempat penampungan orang-orang lanjut usia, perempuan dan anak-anak yang terlantar akibat peperangan. Saat ini Gedung 41 adalah satu-satunya gedung tinggi yang masih bisa dihuni warga pribumi negeri pasir.
Singkat cerita, Sasuke menemukan sebuah arsip lama yang menyebutkan rencana perobohan Gedung 41 beberapa tahun sebelumnya. Sejumlah peledak telah ditanam di seantero titik vital gedung dengan frekuensi radio tertentu sebagai pemicumnya. Begitu mendengar kabar kalau Shikamaru berusaha mengambil alih Gedung 41 dan pasukan Pasir Bulan bersiaga dua puluh empat jam penuh disana, Sasuke mengusulkan agar peledak tersebut diaktifkan dari jarak jauh dengan tujuan mengubur hidup-hidup seluruh kekuatan Pasir Bulan. Sayangnya itu juga berarti bahwa ratusan rakyat pribumi Suna akan ikut menjadi korban. Bagian inilah dari rencana Sasuke yang tidak bisa diterima oleh Shikamaru.
Namun ternyata secara diam-diam dibelakang punggung sang pangeran ketiga, Sasuke telah memerintahkan secara langsung pelacakan frekuensi serta pengaktifan peledak saat itu juga. Asuma yang merasakan adanya ketimpangan wewenang lantas mengabarkan hal ini kepada Shikamaru.
Gubernur Suna itu tak habis pikir.
"Aktivasi tidak bisa dibatalkan, Pangeran Shikamaru. Seluruh peledak saat ini sudah aktif dan tinggal menunggu hitungan mundur," tutur Asuma ketika berada diatas balkon stadium pacuan kuda yang sejak beberapa hari lalu disulap menjadi basis pertahanan pasukan mereka.
"Berapa lama waktu yang tersisa?" tanya Shikamaru.
"Kurang lebih tiga puluh menit dari sekarang."
Shikamaru mengumpat. "Kau sakit jiwa, Sasuke!" semburnya pada sang kakak yang juga berada di balkon dengan jarak kurang lebih 350 meter dari Gedung 41 tersebut.
"Ini kesempatan besar untuk menggerus perlawanan Pasir Bulan, Shikamaru," kata Sasuke beralasan.
"Tapi ratusan orang tak berdosa ada disana! Kalau gedung itu runtuh, bukan cuma Pasir Bulan yang akan terbunuh!"
Temari yang saat itu menguping dari balik pintu karena tidak diijinkan masuk langsung melotot kelabakan. Terlalu cepat seratus ribu tahun rasanya jika ada seseorang yang ingin Temari membiarkan sekian banyak nyawa melayang di pihak Suna. Gadis itu segera pontang-panting mencari akal. Seisi Gedung 41 harus segera dievakuasi. Pasir Bulan harus diberitahu. Tapi bagaimana caranya? Sakura masih tertinggal di Konoha. Temari digelandang balik ke Suna oleh Shikamaru dengan menaiki purwa rupa pesawat terbang berukuran kecil yang tak memiliki ruang untuk seorang pelayan. Tak ada cara lain. Temari harus kesana. Sekarang!
Masalahnya, tak seorangpun prajurit Konoha berani membiarkan salah seorang anggota keluarga kaisar menuju daerah dudukan lawan. Mereka bisa dipenggal. Karenanyalah Temari tak bisa berharap akan ada supir yang bersedia mengantarkannya atau sekedar membiarkan gadis itu membawa salah satu mobil yang ada. Tanpa memikirkan apa-apa lagi Temari berlari menuju istal kuda yang sedang tak dijaga, merobek gaun panjangnya dan melompat naik ke punggung kuda balap itu tanpa mau buang waktu sama sekali. Apalagi mendengarkan ocehan pasukan yang berusaha menghentikan niatan sang tuan putri.
Sementara disaat yang sama Asuma tengah mengamati keadaan Gedung 41 dengan sebuah teropong di tangannya. Kedua mata lelaki itu membulat ketika dlihatnya sosok Temari yang berkuda dengan kecepatan tinggi ke arah gedung tersebut. Bermaksud menyela pertikaian mulut antara dua pangeran ia berkata, "Maaf, Pangeran. Ada yang harus—"
Ucapan Asuma tak didengar Shikamaru yang masih ribut, "Aku akan disalahkan atas semua ini!"
Sasuke tak mau kalah, "Memangnya kenapa? Salahkan saja aku kalau kau tak mau disalahkan. Orang-orang itu bahkan bukan rakyat Konoha, Shikamaru. Lantas dimana salahnya?"
Asuma masih berusaha, "Maaf, Pangera—"
"Aku benci melihat mayat anak-anak bergelimpangan!"
Sasuke ngotot, "Tapi hasilnya sepadan!"
Asuma tak tahan lagi, "Pangeran Shikamaru, Putri Temari sedang menuju kesana."
"Kau tak waras, Sas—" jeda, "—apa? Apa kau bilang, Asuma?"
"Putri Temari sedang menuju ke Gedung 41."
Sontak saja kedua mata Shikamaru membelalak. Disambarnya teropong di tangan Asuma dan dilihatnya sendiri Temari tengah melaju dengan kecepatan dua kali lipat kecepatan rata-rata prajurit berkuda pada umumnya. Sedetik kemudian sang pangeran ketiga sudah kalang kabut, berbalik cepat meninggalkan balkon bersama Asuma yang terburu.
Teropong yang dilemparkan Shikamaru ke sembarang arah sukses ditangkap oleh tangan Sasuke. Pangeran tampan itu hanya berkomentar ringan tanpa rasa bersalah, "Ya Tuhan, Shikamaru. Ternyata istrimu bisa berkuda seperti setan."
-x-
-x-
-x-x-x-x-x-x-
TBC
-x-x-x-x-x-x-
-x-
-x-
-x-
a/n: chapter ini panjang sekali. Meski bukan chapter paling panjang yang pernah saya tulis. Mulai chapter depan, akan ada setidaknya satu chara death di tiap chapter. Semata-mata untuk menjaga agar fic ini tetap berada di genre tragedy. Sekaligus untuk memuaskan hasrat saya yang selalu keranjingan membunuh chara seenak perut sendiri*dirajam MasKis*
review?
