DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
bonbonpich (for the original fic)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kuroro recovered from Kurapika's judgment chain's conditions. The two met by coincidence. Due to some nen condition, Kuroro couldn't kill Kurapika right away, so he took the boy in Genei Ryodan instead.
GENRE :
Drama & Angst
WARNING :
AR. Shounen-ai. An Indonesian version for The Sun Also Shines at Night by bonbonpich, one of my favorite fic!^^
Dan khusus chapter ini...seperti yang dikatakan oleh bonbonpich di fic aslinya, cerita di fic ini sama sekali tak bermaksud untuk 'menyerang' agama tertentu, tapi hanya untuk keperluan plot semata...
"I meant no offense against Christianity or any religion, just wrote it for the sake of story plot." - bonbonpich
.
Happy reading! ^^
CHAPTER 4 : THE BLACK SHEEP
Kuroro dan Kurapika memulai perjalanan mereka ke Ryuusegai, melalui rute ke arah barat. Awalnya mereka berjalan kaki, kemudian Kuroro memilih untuk naik kereta karena Si Kuruta terlihat lelah. Walaupun pemuda itu merengut, mengatakan bahwa dia sanggup, Kuroro tahu bahwa staminanya sendiri jauh lebih kuat daripada dia. Pemuda itu mungkin kuat dalam pertarungan, tapi tidak dalam hal stamina.
Tidak seperti dirinya...
Laba-laba tumbuh dan hidup di tanah penuh sampah dan barang bekas. Hal itu memupuk mereka untuk menjadi kuat, kalau tidak mereka akan mati. Sejak remaja, mereka tak pernah sakit. Laba-laba lebih merasa familiar jika bepergian dengan berjalan kaki, lagipula mereka pun harus menyembunyikan identitas mereka dari siapapun dan di manapun.
Di sepanjang perjalanan, keduanya tetap diam. Sementara dari waktu ke waktu, Kuroro meminjami Kurapika beberapa buah buku dan memulai percakapan mengenai topik-topik biasa.
Mereka duduk di tempat yang saling berhadapan di kereta. Melihat ke luar jendela, Kurapika menyaksikan pergerakan matahari yang semakin bergerak turun mendekati horizon. Sementara itu, Kuroro memejamkan matanya, berusaha untuk beristirahat setelah membaca beberapa buku. Sejenak dia membuka matanya dan mengamati Si Kuruta dari sisi yang berlawanan.
Pemuda itu menopang dagunya dengan sebelah tangan sebagai tumpuan, siku diletakkan di pinggir jendela. Matanya menatap lahan tandus yang berada di balik jendela. Warna mentari membayang di kedua matanya, menimbulkan semburat kemerahan di sana. Kuroro melihat perubahan drastis di sepasang mata itu ketika sedikit tersentak dengan emosi. Dugaan pertama Kuroro adalah, Kurapika menyadari bahwa dia tengah diperhatikan olehnya. Namun apa yang dilakukan Kurapika selanjutnya memberitahu Kuroro hal yang sebaliknya. Kurapika berbalik, menempatkan kedua tangannya di tepi jendela dan merunduk di bawah tepian jendela, setengah menjulurkan kepalanya ke luar kereta.
"Ada sesuatu yang terjadi." Pemuda itu bergumam. Lalu Kuroro bergeser lebih dekat ke jendela supaya bisa melihat lebih jelas, membuat Kurapika menarik kepalanya kembali.
Hembusan angin bergerak sejalan dengan pasir di sepanjang rel kereta, memblokir jalan jauh ke depan. Badai itu kuat hingga menggerakkan seluruh bukit pasir, membawa banyak debu.
"Badai pasir, hah?" Kuroro menyimpulkan ketika pemandu wanita mucul dari pintu kereta, mengumumkan penundaan keberangkatan yang disebabkan oleh bencana alam yang tiba-tiba terjadi.
Para penumpang diarahkan ke kota terdekat untuk beristirahat di sana hingga area pesisir sudah terbuka lagi.
Kuroro tidak melihat sesuatu yang ganjil di wajah Kuroro. Sepertinya dia tidak terlalu mempermasalahkan penundaan perjalanan mereka. Kurapika hanya mengikutinya seperti layaknya bayangan, ketika Kuroro berjalan ke ibu kota, membaur dengan kerumunan.
Kebetulan sekali, hotel sedang penuh. Hal ini pun menunjukkan bahwa tidak ada banyak hotel di tempat itu.
"Yah, di sini banyak gedung yang terbengkalai—"
"Jangan bilang kau akan tidur di tempat seperti itu dalam cuaca seperti ini," Kurapika menyela sebelum Kuroro bisa menyampaikan maksudnya.
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan?" Pria itu bertanya, menyadari kebenaran pendapat Kurapika. Baal juga terkenal dengan iklimnya yang buruk. Anginnya kencang, berat dan berdebu. Ketika angin bertiup, hanya hembusan pasir yang bersentuhan dengan mata mereka. Dan jika ada orang yang terlalu banyak bicara, dia yakin mulut orang itu pasti akan penuh dengan pasir.
Kurapika menghela napas, "Aku hanya..." Dia menunjuk ke arah tertentu. "...melihat ada sebuah gereja di sana. Kita bisa meminta pertolongan mereka untuk menginap, hanya untuk semalam."
Sudah pasti bahwa ini pertama kalinya bagi Kurapika, melihat wajah datar Kuroro sedikit berubah. Namun pria itu mengembalikan raut wajahnya kembali seperti biasanya, dan menjawab, "Kurasa tidak."
"Kenapa?" Kurapika langsung bertanya, ingin tahu apa yang bisa menyebabkan perubahan di wajah Kuroro yang biasanya tanpa ekspresi. Dia menduga pasti ada hubungannya dengan gereja itu. Kurapika memikirkannya sejenak, lalu menyuarakan dugaannya. "Namamu dan salib terbalik di mantelmu...kukira itu hanya selera fashionmu saja."
Kuroro berkedip keheranan. "Selera...fashion?"
"Ngg...," ketika melihat raut wajah Kuroro, Kurapika sedikit terkejut begitu mengetahui bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak diketahui Pemimpin Geng Laba-laba itu. 'Yah, lagipula itu bukan suatu hal penting yang harus diketahui.' Dia sendiri tidak akan mengetahuinya jika Hanzo, salah seorang penguji Hunter tidak mengoceh mengenai generasi baru di kotanya, memiliki gaya Gothic yang tidak biasa. "Ngomong-ngomong...kita tidak bisa hanya berdiam diri di luar atau kita akan terkubur pasir. Ayo kita pergi ke gereja itu."
"Bisakah aku membujukmu untuk tidak pergi ke sana?" Kuroro mengalihkan pandangannya ke arah samping.
"Kita tak punya tempat lain; apa kau mau bangun pagi dan mendapati dirimu dalam kondisi terkubur?" ucap Kurapika geram.
Lagi, Kurapika menangkap adanya perubahan dalam postur tubuh Kuroro, terutama ketika kata 'terkubur' diucapkan. 'Oh, bukankah dia bilang dia hidup di antara kehidupan dan kematian?'
"...Baiklah." Kemudian Kuroro melepaskan mantelnya dan melipat mantel itu di lengannya. Dia mengusap helaian rambutnya hingga sedikit lebih turun lagi karena tiupan angin berdebu yang ganas sukses membuat poninya menjadi turun, menutupi keningnya.
Kurapika mengernyit heran. "Kau benar-benar punya suatu masalah yang berkaitan dengan gereja itu, 'kan?"
Pria itu memberinya senyuman kosong tanpa arti dan mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Aku hanya merasa bahwa aku harus menghindari masalah yang mungkin terjadi."
"Merasa...?"
"Ya. Bukankah kita harus segera pergi sebelum terkubur di sini?"
"Silakan masuk." Dari raut wajah pendeta itu, jelas sekali bahwa Kuroro dan Kurapika lebih dari sekedar diterima di sana. "Kita bersaudara, anggaplah rumahmu sendiri."
ketika mereka berdua melangkah masuk ke dalam gereja, Kurapika melirik ke samping dan bertemu dengan tatapan Kuroro. Pria itu memberinya sebuah senyuman yang entah apa artinya dan berbisik dengan suara pelan, "Berharap melihatku membinasakan monster atau sesuatu?" Kurapika hanya memicingkan matanya jengkel.
Gereja itu adalah gereja tua dan setengah dari bangunan tersebut sudah merupakan puing-puing. Kuroro dan Kurapika diajak ke kamar kosong yang ada di sana. Si Pendeta memohon maaf karena tidak punya kamar lain lagi dan perkataannya segera ditepiskan Kurapika, pemuda itu mengangkat kedua tangannya, dan berkata bahwa apa yang diberikannya sudah lebih dari cukup. Ketika pintu sudah tertutup, dia mendengar suara terkekeh. Kurapika berbalik, dengan alis mata yang saling bertaut.
"Kau orang yang baik. Kalau aku, aku akan mengancam pria itu demi mendapatkan apapun dari tempat ini," ucap Kuroro yang sudah duduk di atas lantai kayu kamar itu.
"Dia tidak harus meminta maaf, karena dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dan tidak...aku tak akan membiarkanmu melakukannya." Kurapika pun duduk dan menghela napas panjang.
"Kau terlihat lelah," Kuroro berkata dan menerima sorotan mata yang sudah ia perkirakan sebelumnya.
Yang mengejutkan Kuroro, sorotan mata itu bertahan lebih lama dari biasanya, seolah Kurapika tengah mengamatinya...mempelajarinya.
'Dengan rambutnya dibiarkan turun seperti itu, dia terlihat lebih muda. Itulah kenapa dia menggunakan gel, dan gaya rambutnya...lagipula penting baginya untuk terlihat lebih tua.' Kurapika memutar kedua bola matanya. 'Benar, para pengikutnya itu, semua memiliki sikap bermusuhan dan bahkan lebih dari setengahnya berumur lebih tua dari dirinya.' Kurapika bertanya-tanya kenapa pria itu mampu memiliki kuasa atas orang-orang itu. Lalu dia menepiskan pikiran tersebut saat menyadari bahwa dia sudah berpikir tentang Kuroro terlalu banyak. Maka dia pun memandangi sekitarnya dan berpendapat bahwa kamar di mana mereka berada sekarang jauh lebih kecil daripada kamar yang mereka tinggali sebelumnya. Tapi Kurapika menjauhkan kekhawatiran itu dan mulai meminta bajunya kepada Kuroro karena dia ingin mandi sekarang.
Dua buah kasur dibawa ke kamar mereka, ketika Kuroro baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya tersisir ke belakang karena basah, dan tattoo di keningnya terlihat jelas.
Melihat hal itu, Si Pendeta yang tengah membantu Kurapika dengan kasur yang ia bawakan langsung menjerit, menjatuhkan kasur itu dan menunjuk Kuroro. Kurapika pun membalikkan badannya ke arah Kuroro, bingung. Namun raut wajah Kuroro menampakkan bahwa pria itu pun benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
"...Kau...! Mungkinkah kau...Kuroro!?" Brother itu tergagap sementara Kuroro dan Kurapika menatapnya heran.
Merasa penasaran, Kuroro melangkah lebih dekat untuk melihat lebih jelas apakah dia mengenal pria itu. Brother itu terjatuh ke belakang karena melangkah mundur dan berusaha keluar dari kamar itu.
Kurapika menatap Kuroro diam-diam. "Kau mengenalnya?"
Kuroro hanya mengangkat bahunya. "Sepertinya dia mengenalku."
Kurapika tidak tahu apa yang terjadi. Dia pikir Kuroro punya beberapa dugaan, tapi pria itu mengatakan sebaliknya. Mengingat seperti apa dia, Kurapika tahu Pemimpin Geng Laba-laba itu tidak berbohong. Jika dia hanya tidak ingin memberitahunya maka dia akan memberitahu Kurapika bahwa dia tidak ingin memberitahunya.
Dan ketika Kurapika mengikuti Brother itu keluar kamar, beberapa orang brother lainnya tengah memandang ke arah kamar mereka, saling berbisik satu sama lain, yang bisa dengan mudahnya ditebak Kurapika bahwa mereka sedang membicarakan Kuroro. Pendeta datang, dan dia menatap Kuroro sekali lagi, lalu meminta mereka untuk pergi.
Dan sekali lagi mereka berada di depan pintu gerbang geeja. Cuaca menjadi lebih buruk ketika malam tiba.
"Apa yang terjadi?" Kurapika bertanya.
"Siapa yang tahu...?" Kuroro menatap pemuda itu dan mulai bercanda. "Aku tak mengira mereka akan melihat aura iblis pada diriku, mereka tidak seahli itu. Kau bisa memberitahu mereka bahwa kau tidak memiliki hubungan apa-apa denganku. Mereka akan mengijinkanmu tinggal."
"'Seperti kau akan membiarkan aku pergi sendiri saja," Kurapika melihat ke sekitarnya dan tiba-tiba bersin. "Jadi, sekarang bagaimana?"
Pintu gereja itu terbuka, brother yang tadi menjulurkan kepalanya keluar. "Hai Anak Muda..." Dia memberi isyarat pada Kurapika. "Kau tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Kau bukan temannya, keluarganya, maupun relasinya?"
Kurapika menajamkan pandangannya. 'Mereka mendengarnya?'
Refleks, Kurapika berseru, "Bukan!" pernyataan terakhir disimpan untuk dirinya sendiri, 'Dia musuh terburuk yang pernah ada!'
Seorang brother kemudian mengisyaratkan pemuda pirang itu untuk masuk. Kurapika menoleh kepada Kuroro, tidak melihat tanda keberatan apapun di wajah dinginnya, seolah pria itu akan mengijinkannya. Kurapika menghela napas dan menoleh kembali kepada brother itu. "Aku tidak begitu yakin atas apa yang tengah terjadi. Tapi kau pasti salah mengenalinya sebagai orang lain. Dia bukan Kuroro atau siapapun. Namanya...Shalanrk." Kuroro berkedip terkejut saat mendengarnya. Kurapika merasa gelisah sebenarnya, bertanya-tanya apakah dia seharusnya menggunakan nama lain selain Laba-laba.
"Benarkah? Tapi tanda lahir di keningnya..."
"Itu...semacam gaya tattoo di sebuah negara bernama Japon, tattoo itu cukup terkenal di sana." Kurapika berbohong sambil mengulangi kata yang diucapkan brother itu di dalam hati. 'Tanda lahir?'
"Bukankah kau tidak ada hubungan apa-apa dengannya?"
"Kami hanya rekan bisnis, tak ada yang lebih dari itu." Kurapika berpikir dengan cepat, bertanya-tanya apakah alasannya itu terdengar ganjil. Dia bersiap-siap jikalau brother lain memintanya pergi ketika dia berbalik untuk memandangi Kuroro lagi yang hanya berdiri di sana. "Dia terlalu...lamban dan apatis, tak menyanggah apapun ketika kau salah mengenalinya." Kurapika menambahkan lalu berhenti bicara, menyadari bahwa dia sudah bicara terlalu banyak.
Brother itu mengamati Kuroro sejenak. "Yah, kau tidak memanggilnya 'Kuroro'."
'Aku hanya tidak mau memanggil nama itu, aku membencinya.'
"Dan juga dia tidak terlihat seperti Kuroro yang aku kenal." Pria itu membuka pintu lebih lebar dan memaksa Kuroro dan Kurapika untuk melangkah masuk. "Maafkan aku." Lalu dia berkata kepada rekan-rekannya bahwa dia sudah mengingat pria yang salah.
Kuroro memicingkan matanya ketika mendengar hal itu.
Mereka kembali ke kamar yang sama. Kuroro bisa mengatakan bahwa Si Kuruta benar-benar ingin tahu apa yang diketahui para brother itu tentang pria bernama Kuroro. Ketika mata berwarna hijau yang seperti mata kucing itu tertuju padanya, Kuroro menanggapi dengan datar. Lalu Kurapika mulai menanyai brother itu beberapa pertanyaan sebelum dia pergi, setelah dia mengantar Kuroro dan Kurapika ke kamar.
"Tentang Kuroro? Yah, itu sudah dua puluh tahun yang lalu. Aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang aku tahu adalah ada seorang anak, Kuroro, dia memiliki tattoo seperti itu...tidak...sebuah tanda lahir." Brother itu menoleh ke arah Kuroro, sementara Kuroro sendiri hanya memejamkan matanya, tersenyum kecut.
"Apakah sebelumnya dia tinggal di sini?" Kurapika bertanya.
"Ya." Lalu brother itu menjawab. "Kudengar dia ditemukan di gereja lain yang berlokasi di salah satu kota di Timur. Pendeta di sana, yang menemukannya, semula mengira bahwa tanda lahir itu adalah tanda salib. Dia pun mengumumkan bahwa Kuroro mungkin saja anak Kristus. Pendeta akan melimpahkan posisi sebagai Imam Besar padanya. Tapi ketika Kuroro tumbuh sedikit lebih besar, tanda lahir itu berubah walau hanya sekilas. Itu adalah tanda salib terbalik."
Ketika brother itu menghentikan ucapannya sejenak, Kurapika mengambil kesempatan untuk bertanya. "Umat Kristiani sangat mempercayai arti dari simbol-simbol, bukan?"
"Ya, kami pun begitu. Ketika seekor merpati membawa rantai pohon zaitun di paruhnya adalah simbol perdamaian, salib terbalik menunjukkan segala sesuatu yang bertentangan dengan pengikut Kristus," brother itu menjelaskan.
"Jadi apa hubungan antara semua ini dengan 'Kuroro' yang kaubicarakan tadi? Kau percaya dia adalah Setan atau apa?" dengan tenang Kuroro ikut dalam percakapan itu.
"Aku mendengar bahwa...di hari ketika 'Kuroro' dibawa, ada perubahan suasana di negeri itu. Dari waktu ke waktu, tanaman pangan tidak tumbuh, terjadi banjir, angin kencang bahkan bertiup lebih ganas." Wajah brother menunjukkan adanya masalah. "Walaupun Kuroro yang ini tak pernah melukai siapapun secara fisik, bisa dipastikan dia adalah orang yang berbeda dengan kita. Kudengar dia memiliki segala pemikiran yang bertentangan dengan ajaran dan Injil, dan dia tak pernah ragu mengatakannya."
"Misalnya?" Kuroro membantah, ingin tahu lebih banyak sementara Kurapika bertanya-tanya apakah Kuroro yang mereka bicarakan tidak ada hubungannya dengan Kuroro yang sedang duduk di sini.
Brother itu menatap mereka berdua. "Kau tahu cerita tentang orang yang mengkhianati Yesus sebelum dia disalib?" Keduanya mengangguk. "Kuroro pernah sekali menyatakan bahwa...Judas bukanlah seorang pengkhianat, dia menjual Yesus demi tiga puluh keping uang perak. Dan itu merupakan bisnis semata, pertukaran yang adil. Pikirkan itu. Bagaimana mungkin anak berusia enam tahun punya pemikiran seperti itu? Ada beberapa hal mengejutkan lainnya yang tak bisa kuingat lagi. Tapi setiap orang di sana tidak tahan lagi, maka pendeta gereja ini mengambilnya. Dan hal yang sama terjadi di sini." Brother itu berhenti sejenak untuk bertanya. "Tahukah kau kenapa Baal menjadi seperti sekarang ini?"
Kurapika berpikir sejenak sebelum menjawab. "Bukankah Baal pernah menjadi ibu kota dengan kekayaan berlimpah? Berdasarkan pendapat dari segi sejarah yang pernah kubaca, tak ada alasan yang benar-benar masuk akal bagaimana Baal menjadi seperti ini. Tapi ada rumor bahwa seorang anak membawa serta bencana bersamanya." Mata hijau itu tersentak seketika. "Tunggu, maksudmu, anak itu..."
Brother itu mengangguk. "Hari ketika anak itu di sini, suasana kota berubah, dan berbagai bencana alam terjadi. Petir telah menghancurkan pilar gereja ini dan beberapa bagian kota. Seperti yang kaulihat, yang tersisa dari Baal hanyalah reruntuhan. Dan badai pasir lebih sering terjadi hingga Baal yang pernah menjadi ibu kota dengan kekayaan melimpah jatuh menjadi ibu kota yang terlupakan."
"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" desak Kuroro, ingin mendengar lebih banyak dan memang dia pun selalu tertarik dengan cerita-cerita semacam itu.
"Dia hidup bersama kami selama dua minggu lamanya sebelum dia pergi. Pendeta kami mengatakan bahwa dia mengirim Kuroro ke suatu tempat yang jauh sehingga anak itu tak bisa lagi membawa kesialan bagi siapapun. Namun kota di Timur itu dan kota kami tak pernah menjadi lebih baik bahkan setelah Kuroro pergi." Brother itu mengatupkan kedua tangannya dalam sikap berdoa dan berbisik. "Semoga Tuhan bersamanya."
Seseorang terkekeh.
Kurapika dan brother itu menoleh kepada Kuroro yang menundukkan kepalanya. Dan bagi brother itu, Kuroro terlihat seperti seorang maniak ketika tertawa seperti itu.
"Mungkinkah Tuhan bersamanya? Menurutku Kuroro atau siapapun dia tak membutuhkan Tuhan sama sekali." Pemimpin Geng Laba-laba berkata ketika Kurapika berusaha memberi isyarat padanya untuk diam dan tidak mengakibatkan argumen yang mungkin timbul mengenai topik keagaaman, di depan seorang pria yang beragama.
"Tak apa, Anak Muda. Biarkan dia melanjutkan sehingga aku bisa mengoreksinya berdasarkan atas keyakinan kami." Brother itu menyakinkan Kurapika sebelum menoleh kepada pria yang ada bersama mereka, kedua alis matanya bertaut. "Apa...maksudmu?"
"Sejak awal, dia bukan Tuhan. Kenapa sekarang? Kenapa nanti? Akui saja, Tuhan telah menelantarkannya, sama seperti apa yang Dia lakukan pada setiap orang yang gagal mengikuti perintah dan arahannya. Di Bab Noah Arc, kenapa Tuhan membiarkan manusia menderita karena tenggelam dan bukannya memberikan mereka kematian yang tidak menyakitkan? Karena dosa yang mereka perbuat? Bisakah manusia punya pilihan untuk membuat keputusan sendiri tanpa kata-kata Tuhan? Apakah Tuhan menyebutkan dia menciptakan Lucifer dari Timur dengan memberinya kebebasan berkehendak? Tapi Lucifer dijanjikan penghukuman untuk kehendaknya yang bebas itu, bukan?" Kuroro mengangkat kepalanya; mata gelapnya secara mantap bertemu dengan sepasang mata brother itu yang bergerak-gerak gelisah. "Tuhan, atau dengan nama apapun Dia disebut, memaksa dengan sepenuh tenaganya yang menembus dan menyeimbangkan alam semesta terlalu adil untuk peduli pada kebahagiaan atau penderitaan makhluk ciptaannya di bumi. Dia tidak menjawab semua doa, 'kan?"
Kurapika menatap Pemimpin Geng laba-laba itu dengan mata sedikit terbelalak, berpikir bahwa itu adalah pernyataan terpanjang yang pernah didengarnya dari Pemimpin Genei Ryodan. Dan dari sudut pandang Kurapika, dia punya kesan bahwa...Kuroro menekankan antagonismenya.
"Tuhan tahu apa yang benar. Ada sistem penghukuman atau manusia akan melakukan dosa lagi dan lagi. Dia tidak mungkin menjawab semua doa sekaligus—"
"Bukankah dia Yang Maha Agung?" Kuroro menyela.
"Tuhan adalah..." brother itu mengalihkan pandangannya dari tatapan Kuroro. "Kau...diperdaya oleh pemikiran yang salah. Kau meragukan Tuhan karena ada Setan yang menarikmu dari cahaya."
"Ah, mungkin aku akan mengakui dosaku besok. Jadi aku bisa memiliki hati nurani dan bebas pergi lalu melakukan dosa lagi. Bukankah dia akan selalu memaafkan?" Pemimpin Geng Laba-laba itu mengejek. "Ngomong-ngomong, bukankah Setan sudah menjadi sahabat gereja dan terus seperti itu selama ini? Tanpa adanya iblis untuk dituduh, keyakinan di jalur yang benar tak akan punya apa-apa untuk mengancam pengikut mereka. Setan mengarahkanmu menuju godaan; pasti kau akan menderita kutukan abadi dan terpanggang di Neraka. Bukankah itu—"
"Cukup, Ku...Shalnark!" suara Kurapika yang marah terdengar cukup keras, tapi hanya berpengaruh untuk membuat brother itu tersentak dari kebingungannya. Dan terima kasih atas kekhawatiran pria itu hingga dia tak menyadari ketika Kurapika hampir saja memanggil Kuroro dengan nama yang sebenarnya. Pemuda itu menoleh kepada brother itu. "Maaf, bisakah kita bicara di luar sebentar?"
Brother itu mengangguk dengan gugup pada Kurapika, masih terkejut karena apa yang dikatakan pria yang tengah duduk jauh di sudut kamar. Ketika Kurapika mengantar brother itu ke pintu, dia menoleh dan berbisik, "Pria itu punya masalah."
"Aku tahu. Biasanya, dia taks eperti ini. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan bicara padanya." Kurapika menjawab, rasa bersalah nampak di wajahnya.
Ketika pintu ditutup, pemuda itu menghela napas berat. Dan seperti yang diperkirakan Kuroro saat itu, dia memalingkan wajahnya pada Kuroro. "Kau tidak perlu bicara begitu!"
"Dia bilang tidak apa-apa jika aku mengatakan apapun, jadi dia bisa mengoreksinya."
"Dan haruskah kau sejujur itu?!"
"Dia tidak...atau tak bisa menjawab semua pertanyaanku." Kuroro memalingkan wajahnya, matanya setengah tertutup dengan sikap yang malas. "Kau marah? Apa kau tidak ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan yang kutanyakan padanya?" Ketika Kurapika diam, dia melanjutkan, "Kau meragukannya juga, 'kan? Ajaran mereka; istilahnya kau bukan tipe orang yang akan memberikan pipimu yang sebelahnya lagi ketika seseorang menampar wajahmu."
"Kau benar." Si Kuruta menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kemarahannya berubah menjadi kecurigaan. Dia bisa membuat kesimpulan bahwa ada sesuatu antara Pemimpin Geng Laba-laba dan gereja, lebih dari sekedar antagonisme semata.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tak mengingat apapun tentang tempat ini." Dia menggantungkan ucapannya atas pertanyaan yang urung diucapkan Kurapika dan bertopang dagu. "Walaupun, ide mengenai Judas itu sepertinya lebih sejalan dengan hati nuraniku. Dan seperti yang kaulihat, aku tak pernah menyukai konsep Kristus hingga sedalam itu."
"Tak ingat apapun?" Kurapika memaksakan topik tersebut. "Kau bilang sendiri, kau merasa tidak nyaman datang ke sini. Pasti ada sesuatu."
"Itu hanya karena aku tidak menyukai agama ini, itu saja. Jujur, Kurapika, aku tidak ingat apa-apa. Jika aku tak bisa mengingatnya, artinya tak ada yang penting bagiku berkaitan dengan tempat ini." Mata hitam yang gelap itu menatap langsung mata hijau yang mengamatinya. "Aku dari Ryuuseigai seperti yang kurasa pasti kau sudah tahu itu; Ryuuseigai satu-satunya tempat yang kuingat memiliki peranan dalam hidupku."
Kurapika memicingkan matanya. "Tanda salib di keningmu, apakah itu asli? Sebuah tanda lahir? Atau tattoo?"
Kuroro hanya memberi isyarat pada pemuda itu dengan tangannya. "Mendekatlah dan lihat sendiri." Dia terkekeh ketika Kurapika merengut dan bergeser lebih jauh.
"Kau punya lambang salib terbalik di mantelmu." Pemuda itu menambahkan pernyataannya. "Dan dengan pengikut yang jumlahnya tepat dua belas orang, apakah itu semacam ejekan bagi ajaran Kristus?"
"Ya, aku sudah membaca berbagai ajaran dan Injil. Tapi ada seorang pria; Anton Lavey, yang menulis buku berjudul Satanic Bible. Isinya tentang semua hal yang berlawanan dengan Injil umat Kristiani. Dan prinsipku sepertinya lebih setuju dengan pria itu. Kau harus membacanya kapan-kapan." Lalu Kuroro menyatukan kedua tangannya. "Berbicara mengenai pemutarbalikan seputar ajaran agama ini lebih menarik bagiku. Tapi kebetulan saja Laba-laba membentuk jumlah anggota dengan angka yang bagus." Lalu Kuroro meregangkan kedua kakinya dan menghela napas. "Apa menurutmu rasanya tidak masuk akal bagi mereka melimpahkan posisi sebagai Imam Besar hanya karena tanda lahir?"
'Dan ketika simbol diubah, begitu pula halnya dengan manusia.'
"Orang-orang ini mengingatkanku pada Mafia. Mereka menggunakan kata 'keluarga' namun setiap orang di dalamnya hanya ingin melangkahi yang lainnya untuk mendapat posisi tertinggi." Pria itu menutup matanya.
Kurapika teringat akan percakapan Shalnark saat itu, dia ingin tahu. "Itukah sebabnya kenapa kau memisahkan diri dari Mafia?" Kurapika sudah tahu bahwa Geng Laba-laba, walaupun mereka membunuh orang-orang tak bersalah, tapi mereka tak peduli terhadap rangking, posisi, atau ketenaran, tidak seperti Mafia.
Kuroro mengangguk tapi dia tak mau Kurapika menggali topik ini lebih dalam lagi. "Sudah larut, tidurlah. Kita akan pergi saat fajar menyingsing. Aku tak suka tinggal di sini." Pria itu tiba-tiba mengakhiri percakapan mereka, berbaring di kasurnya. Dia berhenti menggunakan En sebentar, berpendapatbahwa Kurapika tak akan menyerangnya. Si Kuruta tidak tahu dari mana keyakinan itu datang. "Dan satu hal lagi..."
Kurapika kembali menatapnya.
"Terima kasih."
"Apa!?" Pemuda itu terkejut.
"Untuk membuat mereka mengijinkanku masuk juga. Kau bisa saja masuk sendirian ke sini."
"Aku melakukannya hanya karena kita terikat satu sama lain." Dia mendelik pada pria itu, dan memalingkan wajahnya lalu mengejek, "Menyedihkan, bukan? Kita sangat saling membenci hingga ingin saling membunuh, tapi dilarang melakukannya."
Kuroro beranjak. "Biar kubetulkan. Aku tidak membencimu. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu, ketika di atap waktu itu?"
Kurapika melihat fakta bahwa pria itu pandai mengendalikan amarahnya. Itu benar; Pemimpin Geng Laba-laba tak akan membunuh atau melukai siapapun karena kebencianatau bahkan kemarahan. Tindakan itu hanya merupakan pemikiran murni bahwa dia akan membunuh, lalu dia melakukannya, dan semuanya hanya untuk itu. Itulah sesuatu yang tak akan pernah bisa dipahami Kurapika. "Benar, kau hanya...kau tak punya hati, tak punya perasaan."
Pria itu tak mengatakan apapun; lagipula yang dikatakan Kurapika memang benar.
Tak ada gunanya berbicara lebih jauh, Kurapika membaringkan tubuhnya untuk tidur. Barulah dia merasa betapa lelah dan sakit otot-otot tubuhnya. Melihat Kuroro tidur, dia pun mengijinkan dirinya sendiri untuk tidur juga.
Dia terbangun di tengah malam. Sedikit bergeser, Kurapika berusaha menemukan posisi yang lebih nyaman. Lalu dia menyamping, pandangannya yang kabur mendapati kasur yang ada di seberangnya kosong. Dia tidak menduga apapun; pria itu pasti pergi ke suatu tempat untuk suatu alasan. Entah mengapa, tiba-tiba Kurapika merasakannya; perasaan itu menjadi lebih falimiar baginya.
Kuroro sedang memandanginya.
Kurapika beranjak duduk dan menggosok kedua matanya. Dalam cahaya yang remang-remang, dia melihat Kuroro berdiri di dekat jendela, melipat kedua tangannya, menatap ke arahnya. Mata Kurapika yang mengantuk berubah menjadi melotot ketika dia membentak, "Apa? Kalau kau tak bisa tidur, aku juga tidak bisa."
"Aku ingat, Kurapika," Kuroro bicara dengan tenang, lalu dia mengalihkan pandangannya dari Kurapika dan menutupi bibirnya dengan sebelah tangan. "Tidak...aku tidak ingat...maupun mengingatnya kembali." Kuroro terdiam sejenak, tampak seolah menertawakan sesuatu yang lucu. "Aku baru saja memimpikannya."
Kurapika hanya menatapnya.
"Sebelum mereka mengirimku ke Ryuuseigai, aku di sana. Di gereja yang ada di bagian Selatan. Dan juga di sini." Kuroro mengartikan tatapan Kurapika sebagai sebuah tuntutan baginya untuk menjelaskan lebih banyak lagi. "Mereka membesarkan aku. Tapi aku punya pemikiran yang bertentangan dengan ajaran Kristen. Anak-anak di gereja itu tidak menyukaiku, berkata bahwa akulah yang membawa bencana di daerah itu." Bibir Kuroro tertarik ke atas dan membentuk sebuah senyum lembut. "Mereka memanggilku iblis. Jadi kupikir mereka ingin aku seperti itu, maka aku pun melakukannya untuk mereka. Aku menjadi iblis. Dan mereka mengirimku pergi." Dia menutup matanya. "Lagipula para pengikut Tuhan hanyalah pencari simbol semata."
Keheningan pun memenuhi ruangan itu, dan terjadi cukup lama.
"Kenapa berwajah sedih begitu?" pertanyaan singkat Kuroro membuat Si Kuruta tersentak.
Dengan segera Kurapika mengangkat kedua tangannya dan menutupi wajahnya. Kenapa wajahnya menampakkan emosi seperti itu? Tapi sesuatu di dalam diri Kurapika, merasakan sesuatu atas pengakuan Kuroro tadi. Dia mengangkat wajahnya dan melihat tatapan pria itu yang penuh tanya. Kurapika memutuskan untuk balik bertanya padanya. "Dan kenapa kau menceritakan semua itu sambil tersenyum?"
"Menurutmu apa yang kurasakan? Merasa sedih karena masa kecil yang buruk? Tidak...itu bukan perasaan yang mampu kurasakan. Aku tak merasakan apapun. Seperti yang kukatakan padamu, aku hanya bermimpi tentang itu. Bukan berasal dari sini," dia menunjuk kepalanya sendiri. "Bahkan bukan juga dari ingatan, tapi benar-benar hanya mimpi yang membuatku mengenali masa lalu yang tak kuhiraukan untuk kuingat."
Kurapika tahu, pria itu berusaha melarikan diri atau mengubur topik itu dalam-dalam. Dia tidak mengkonsolidasikan dirinya atau melengkapi masa lalunya untuk menjadi utuh. Sejujurnya dia tak merasakan apapun. Entah bagaimana, Kurapika pikir Kuroro benar-benar memimpikannya, karena adanya seseorang yang membangkitkan topik tersebut dengan bercerita mengenai hal itu. Walau tidak terkubur dalam-dalam di ingatannya, tetap saja ada di dalam dirinya, di suatu tempat.
"Melihat raut wajahmu, kau percaya padaku 'kan?" Kuroro bertanya hanya karena ingin tahu. "Mungkin saja aku membohongimu."
"Aku menilaimu sebagai seseorang yang tak akan berbohong." Kurapika bergerak gelisah dan menambahkan, "Dalam hal ini, kurasa kau tidak berbohong, tapi apa yang kaukatakan membuatku bingung."
Kuroro terkekeh pelan. "Aku tidak yakin ini nyata atau tidak, seperti yang kukatakan padamu, itu mimpi semata. Diriku di dalamnya, terasa nyata; tapi aku tidak ingat. Aku hanya memiliki kenangan tentang Ryuuseigai."
"Bagaimana jika yang kaumimpikan itu benar pernah terjadi?"
"Sudah kukatakan bahwa aku akan memberitahumu jika aku mengingatnya, 'kan? Dan kau menilaiku sebagai seseorang yang tak akan pernah berbohong. Aku akan memberitahumu." Dengan beberapa langkah pendek, dia berjongkok dan memposisikan diri hingga sama seperti pemuda yang sedang duduk itu. "Kau bersimpati padaku?"
Si Pemuda Kuruta tekejut. Dan itu membuat senyum Kuroro bertambah lebar, tapi dalam senyum yang jahil. "Ngomong-ngomong, karena tak ada lagi hal penting yang perlu kita bicarakan, ayo tidurlah lagi." Dia kembali ke kasurnya, menarik selimutnya yang kusut, lalu bergumam, "Aku tak perlu simpati, Nak."
Kurapika menyaksikan Kuroro tertidur kembali dengan begitu mudahnya. Pemuda itu membaringkan tubuhnya tapi kini dia sudah tidak mengantuk. Dia terus berpikir apakah benar bahwa pria yang dibesarkan di sini dan yang dibuang oleh beberapa pengikut Kristen yang sesat memang Kuroro. Mungkin dia tidak tahu bagaimana Kuroro ketika dia masih kanak-kanak, tapi dari cerita brother itu, Kuroro tak pernah menyakiti siapapun, dia hanya berbeda dan mereka mengasingkannya.
Kambing hitam.
Latar belakang yang berbeda-beda menciptakan bermacam-macam orang; itulah yang dipelajari Kurapika dalam hampir semua aspek. Kau tidak bisa benar-benar menuduh seseorang bersikap seperti iblis ketika orang-orang di sekitarnya membentuknya menjadi seperti itu. Lagipula, seseorang bisa melakukan kesalahan ketika semua yang dilakukan terhadap mereka pun merupakan hal yang salah.
Kurapika mencengkeram seprai semakin erat dan alis matanya mengernyit. "Tapi ini tidak berarti aku harus memaafkannya karena hal itu.'
'Kau bersimpati padaku?' Suara Kuroro bergema di benaknya.
'Apakah aku...terlihat seperti aku bersimpati padanya?' Dia berbaring di sana, tak bergerak namun terus berpikir dan merenung, 'Kau pasti salah, Bajingan. Aku tak peduli dengan masa lalumu. Aku akan membunuhmu segera setelah aku bisa, dan hanya itulah alasannya.'
Kurapika terbangun ketika sepasang tangan mengguncang tubuhnya. Begitu membuka matanya, dia melihat Kuroro membungkuk di atasnya, pemuda itu langsung beranjak bangun. Namun kali ini dia tidak menjauh. Kuroro sedikit merasa senang atas sikap Kurapika yang baru dia ketahui ini tapi dia harus mengesampingkannya lebih dulu. Kuroro meletakkan jarinya di depan bibirnya untuk memberi isyarat pada Kurapika agar diam dan berbisik, "Kau merasakannya?"
"Merasakan apa?" Si Kuruta mengernyit; hingga kemudian Kurapika tahu apa yang dimaksud Kuroro. Matanya bergerak ke arah pintu. Kurapika tidak perlu menggunakan kemampuan Nen-nya; berdasarkan dari pengalaman saja dia sudah bisa merasakan adanya niat membunuh dari balik pintu itu. Namun intensitasntya itu rendah, membuktikan bahwa orang yang berada di balik pintu itu bukanlah Pengguna Nen, hanya orang biasa. Tapi jumlahnya lebih dari satu orang.
Lalu gagang pintu pun diputar.
"Apakah seseorang merampok atau menyerang gereja?" Kurapika berkata dengan acuh tak acuh sambil mengusap bagian belakang lehernya. Dia belum cukup tidur. Kurapika melihat ke luar jendela; masih gelap, mungkin sekitar jam empat atau jam lima pagi. Lalu dia pun bangun. Siapapun juga penyusup itu, Kurapika tak bisa hanya diam dan mendapati orang-orang di gereja sudah dalam keadaan terluka.
Kuroro berdiri dengan ogah-ogahan, dan Kurapika menghentikan pria itu dengan menarik lengan bajunya. "Serahkan padaku." Alis mata Kurapika mengernyit. Dia tahu bahwa jika Kuroro yang mengambil tindakan, artinya seseorang pasti akan harus membayar dengan nyawanya.
Perkiraannya terpecah seketika saat Kuroro menepiskan tangan pemuda itu. sebelum Kurapka bisa memeganginya lagi, dia sudah ada di dekat pintu dan memutar gagang pintu itu.
Walau Kurapika seorang pemuda yang cepat berpikir, selalu siaga dan waspada terhadap situasi apapun, masih ada saat di mana dia tak bisa menebak apa yang tidak dia perkirakan sebelumnya. Seperti saat ini.
Ketika gagang pintu itu diputar, Kuroro mundur selangkah begitu beberapa orang pria, di antaranya adalah brother gereja itu, dan yang lainnya merupakan penduduk kota, berkerumun di depan pintu, dengan senjata di tangan mereka. Orang-orang itu meneriakkan kata-kata makian sementara para brother berseragam berbicara dengan suara keras mengenai sesuatu yang tedengar seperti doa yang diucapkan saat memusnahkan setan. Karena ukuran kusen pintu itu hanya bisa dimasuiki oleh dua orang pria saja, ada dua senjata yang siap menyerang Kuroro. Tapi senjata itu berbalik.
Percikan darah memandai ambruknya dua orang itu.
Kuroro memanfaatkan waktu yang sedikit yaitu ketika penyusup lainnya terdiam dan tercengang melihat jasad kedua rekannya tergeletak di lantai. Mereka berteriak dan mendorong masuk ke dalam kamar, dan mulai menyerang Kuroro dan Kurapika.
Kurapika khawatir atas kondisi tak terduga ini sambil berusaha keras menghindari serangan yang berasal dari segala arah di kamar yang kecil itu. "Sial! Apakah orang-orang ini dipengaruhi atau apa?" Dia bertanya, berharap Kuroro akan memberinya jawaban 'ya.' Kurapika tak bisa mengatakannya dengan pasti, tapi dia pikir Pemimpin Geng Laba-laba itu pasti sudah punya dugaan akan apa yang sedang terjadi. Tapi sebelum Kuroro bisa menjawabnya, para brother itu menjawab lebih dulu,
"Kau adalah pengikut iblis! Kami tidak salah! Pendeta kami tidak salah! Oh Tuhan, maafkan kami karena melakukan pembunuhan. Kami akan mengirimkan iblis-iblis ini kembali ke tempat di mana mereka seharusnya berada! Mohon bimbing mereka dengan cahaya-Mu!"
Mata Si Kuruta membelalak sementara Kuroro memicingkan matanya, dan kedua ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah seringai nakal. "Jadi itu sebabnya."
Kurapika punya beberapa rencana di kepalanya : menyeret Pemimpin Laba-laba itu keluar, dan meninggalkan orang-orang itu tak peduli apa yang akan mereka lakukan nanti.
Tapi terlalu banyak masalah di antara dirinya dan Si Pemimpin Geng Laba-laba. Dengan ragu Kurapika mengeluarkan rantainya, mencoba memblokir dan menendang orang-orang itu dari jalannya. Benaknya mengingat kembali memori tertentu ketika memikirkan wajah para brother itu. Sejak kemarin, mereka begitu baik. Tapi sekarang...
Suara orang lain yang ambruk ke lantai membuyarkan lamunan Kurapika. Dan yang dilihatnya adalah setiap orang itu ambruk, satu demi satu. Orang-orang yang berada di sekitar Kuroro segera saja jatuh tak berdaya ke lantai. Kuroro menyayat leher orang-orang di hadapannya dan memerintahkan Kurapika untuk melakukan hal yang sama. "Bunuh mereka, atau mereka akan membunuhmu."
Tapi kurapika hanya berusaha menghindar, bahkan dia hanya menggunakan Chain Jail-nya. Protesnya kepada Kuroro tertelan oleh doa orang-orang itu yang diucapkan dengan suara keras. Sampai di tingkat tertentu, Kuroro sudah selesai membunuh orang-orang yang mengincarnya, dengan kecepatan di luar kemampuan orang biasa. Dia berbalik kepada mereka yang berkerumundi sekitar Kurapika dan mulai menyayat leher mereka, satu demi satu. Dia terlalu cepat bagi Kurapika untuk menghentikannya dengan Chain Jail atau apapun. Dan lagi, dia pun ragu bisa menghentikan Kuroro.
Ketika hanya ada satu orang tersisa, kaki Kurapika bergerak begitu cepat dengan sendirinya. Dengan rantainya, dia menahan serangan Kuroro yang diarahkan kepada orang itu.
"Hentikan!" Dia berteriak tapi sebuah tangan terulur melewati pipinya dan dia merasakan cipratan darah di belakangnya. Dia berbalik untuk melihat menjadi seperti apa penyusup terakhir yang berusaha dia jaga. Orang itu sudah ambruk, tak bernyawa.
Kuroro berdiri di hadapan Si Pemuda Kuruta , tangannya bersimbah darah, menjatuhkan tetesan darah itu ke lantai, membuat lantai itu ternoda. Dia hanya menghela napas.
Kurapika tercengang karena terkejut. Semua di sekitarnya tinggallah mayat. Setiap orang mati karena luka sayatan yang parah, kebanyakan di leher mereka. Darah mengalir keluar dari leher setiap orang membentuk kolam darah berukuran kecil di sekelilingnya. Dan hampir semuanya mati dengan mata terbelalak lebar.
"Kita pergi." Kuroro berkata sambil melangkahi mayat-mayat itu, berjalan ke jendela.
Jelas sekali, tangan Kurapika gemetar, dan Kuroro menyadari mata pemuda itu telah berubah warna menjadi seperti warna kobaran api, dan mungkin saja hal itu sudah terjadi sejak penyusup pertama terbunuh. Dan dugaannya benar; Kuroro berpendapat, ketika Kurapika membuka mulutnya.
"KENAPA KAU HARUS MEMBUNUH MEREKA SEMUA!?" Pemuda itu berteriak dengan marah, menggertakkan giginya dan kedua tangannya mengepal erat.
Kuroro mengangkat bahunya. "Kau melihatnya; mereka bermaksud menyerangku, mencoba untuk membunuh. Dan pria terakhir yang coba kau lindungi juga bermaksud menyerangmu dari belakang."
Wajah Kuroro, masih tak menampakkan emosi apapun seolah tak ada hal luar biasa yang terjadi ketika dia mencipratkan darah di tangannya dan mengusap tangannya dengan baju dari salah satu brother. "Itu rencana mereka sejak kemarin ketika mereka memutuskan untuk memanggil kita masuk kembali, untuk menghabisiku atau menghabisi kita berdua. Jadi aku harus mengakhirinya. Aku punya perasaan bahwa mereka akan mengikutiku, jika aku tidak mati di sini dan di hari ini."
"Jadi kau tahu?" Kurapika menuntut penjelasan dengan nada mengancam.
Kuroro mengangguk. "Sebenarnya kemampuan mereka bagus, mampu menipu orang sepertimu."
"Kau bisa saja hanya menghindarinya! Kita pergi saja! Kau tidak perlu membunuh mereka semua!"
"Kau bicara apa? Kenapa kau pikir aku akan melakukannya?" Tatapan Kuroro yang dingin menatap langsung ke dalam mata pemuda itu. "Menurutmu aku ini siapa? Aku adalah Genei Ryodan, aku membunuh."
Kurapika kehabisan kata-kata. Memang, tepat seperti apa yang dia pikirkan, meyakinkan pria yang paling dia benci tentang tindak pembunuhan akan sia-sia saja. Dia pasti tidak waras, bagian dari diri Kurapika ingin percaya bahwa masa lalu yang buruklah yang membentuk Kuroro menjadi seperti itu, walau itu tak akan pernah mempengaruhi rencananya untuk membunuh pria itu suatu hari nanti. Kurapika tak bisa mengerti kenapa seseorang bisa membunuh dengan tanpa alasan. Bagi Kurapika, alasan Kuroro tidak cukup. Kau tidak begitu saja membunuh orang hanya karena mereka mengganggumu.
Genei Ryodan tak pernah buang waktu untuk menghitung sudah berapa banyak orang yang mereka bunuh.
Kuroro mendekat dan akhirnya memegangi lengan Kurapika. "Kita akan membahas hal ini sejauh yang kau inginkan setelah kita keluar dari sini."
Seseorang datang, mungkin dia adalah teman dari pendeta dan brother-brother itu. tapi Kurapika hanya diam; tatapannya tertuju ke bawah, ke arah mayat-mayat itu. Di samping kemarahan yang ditujukan pada Kuroro yang sudah membunuh begitu banyak, Si Pemuda Kuruta merasa menyesal karena tidak mampu mencegahnya.
"Kau tidak perlu mengasihani mereka. Mereka menyatakan diri sebagai pengikut Tuhan, tapi dengan semua senjata di tangan mereka, mencoba membunuh seseorang dalam tidurnya." Mata pemuda itu bergerak dengan letih dan Kuroro menambahkan, "Dan bukan hanya aku, mungkin mereka pun akan membunuhmu, Kurapika." Lalu dia menyeret pemuda yang kemudian melancarkan protesnya dan keluar melalui jendela dari kamar yang mereka tempati sebelumnya.
Yang bisa dilakukan Kurapika hanyalah menahan keinginannya untuk mencabik pria itu menjadi serpihan-serpihan kcil.
Mereka kembali berada di kereta. Kali ini tak begitu banyak orang yang naik kereta itu, karena sebagian besar dari penumpang tinggal di Baal untuk memastikan pesisir benar-benar bersih sebelum mereka bisa bepergian lagi.
Hanya keheningan yang ada di antara Kuroro dan Kurapika setelah meninggalkan Ibu Kota Baal. Meski begitu, Kuroro selalu menyadari bahwa pemuda itu terus-menerus memelototinya.
"Mungkin aku harus mendapatkan sepasang lensa kontak untukmu; orang akan mengenalimu sebagai seorang Kuruta." Kuroro berkata. "Kau pikir tidak beresiko berjalan-jalan tanpa penyamaran seperti itu?"
Kurapika menghela napas. "Aku...tak bermaksud untuk menyembunyikan identitasku dari dunia. Alasanku menggunakan lensa kontak waktu itu hanya karena aku harus berada di sekitar Mafia yang serakah."
"Kupikir begitu. Kau memakai pakaian khas sukumu waktu itu." Kuroro tahu, beberapa suku di sekitar Gunung Rukuso memiliki kesamaan dalam cara berpakaian. Tapi tetap saja, orang-orang yang mempelajari sejarah suku-suku itu dengan baik akan cukup mampu untuk mengatakan perbedaan di setiap suku tersebut. Menurutnya beruntung bagi Kurapika, Mafia tidak peduli dan tidak tahu bagaimana Suku Kuruta berpakaian; lagipula Mafia hanya mengnginkan mata mereka.
Berbicara tentang mata, akhirnya Kuroro menyerah untuk memberitahu pemuda itu bahwa dengan mengendalikan emosinya, bisa mengembalikan warna matanya kembali ke warna asli. Itu seperti menyulut api saja. Biarkan dia pingsan sekali lagi, dan dia pasti akan harus memulai kembali ceramahnya tentang bagaimana cara mengendalikan emosi. Lagipula menangani masalah sepele seperti itu tidak akan terlalu merepotkan. Lalu pria itu mengambil beberapa buah buku dan lebih memilih untuk berkonsentrasi pada halaman yang dibacanya.
Tak lama kemudian, ketika Kuroro mengalihkan pandangannya dari buku dan dengan cepatmengarahkannya pada pemuda yang duduk di depannya dengan arah yang berlawanan. Tatapan mereka bertemu. Satu-satunya yang dilihat Kuroro di wajah pemuda itu hanyalah pertanyaan lama.
'Kenapa kau begitu bebasnya membunuh orang yang tak melakukan apapun padamu?' Pertanyaan yang juga dilontarkan salah seorang teman Kurapika ketika berada di York Shin waktu itu.
'Karena tak ada hubungannya, bukankah itu kenapa seseorang bisa membunuh?'
'Kenapa kau harus membunuh begitu banyak orang?' Ini pertanyaan Si Kuruta.
'Mungkin saja...aku kecanduan membunuh.' Salah seorang pembunuh profesional yang dipekerjakan Mafia mengatakan hal itu untuknya. 'Atau mungkin, aku belajar membunuh sebelum aku bisa merasa aman.'
'Tapi semua ini, untuk...' Kuroro akhirnya memejamkan matanya dan berkata. "Kami bukanlah musuh bagi siapapun, jadi jangan ambil apapun dari kami."
Kurapika berkedip, dan mengernyit seperti apa yang telah diperkirakan Kuroro. Dia tahu pernyataan ini, itu adalah satu-satunya prinsip di Ryuuseigai. Dan ada satu kasus yang mengungkapkan bahwa prinsip itu merupakan keyakinan yang kuat bagi orang-orang di Ryuseigai, yang tak bisa dianggap remeh.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada seorang pria yang tertangkap dan dijatuhi dakwaansebagai tersangka pembunuhan. Dia tak punya identifikasi atau bukti apapun untuk membuktikan bahwa dia adalah warga dari suatu negara. Dari sebuah testimoni, pria itu berasal dari Ryuuseigai. Tak peduli bagaimana dia keberatan atas tuduhan tersebut, polisi dan pengadilan tetap mendakwanya bersalah. Tiga tahun kemudian, pembunuh yang sebenarnya tertangkap. Dan barulah mereka tahu bahwa pria yang mereka tangkap sebelumnya hanyalah kambing hitam.
Tak lama setelah itu, para polisi, jaksa, saksi mata, juri, dan pengacara, keseluruhan dari tiga puluh satu orang yang berkaitan dengan tuduhan terhadap pria yang dikambinghitamkan, dibantai hingga berkeping-keping oleh tiga puluh satu orang yang tidak teridentifikasi berasal dari mana. Mereka menarik sebuah tombol bom yang terhubung ke perut mereka sendiri, membawa serta segala bukti bersama kematian mereka.
Seluruh tiga puluh satu korban itu diledakkan di waktu yang sama dan di lokasi yang berbeda.
Karena salah seorang dari mereka menerima ketidakadilan pada kasus tiga tahun lalu, orang-orang dari Ryuuseigai ini mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk memberlakukan balas dendam bagi salah seorang dari mereka.
Dan sebenarnya Kurapika mendengar lebih dari itu.
'Ketika waktunya tiba, mereka tak memikirkan tentang menang atau kalah. Hubungan mereka lebih kuat daripada sekumpulan orang yang berada dalam satu keluarga yang sama.'
Lalu Kurapika tenggelam dalam pemikiran lain. Orang-orang di gereja itu benar-benar mencoba membunuh Kuroro hanya berdasarkan atas kepercayaan mereka bahwa pria itu adalah pertanda buruk yang membawa krisis bagi kota, yang sebenarnya tidak bisa mereka buktikan.
Tapi...bagaimana dengan yang lain selain itu? Laba-laba sudah membunuh banyak sekali mafia hanya untuk merampok barang-barang mereka. Mafia-mafia itu bukan orang-orang yang tak berdosa, mereka melakukan perbuatan kotor, tapi itu tidak berarti mereka cukup terkutuk untuk pantas mati.
Dan lebih penting lagi, apa yang dilakukan sukunya pada Geng Laba-laba hingga mereka harus menyapu bersih seluruh Suku Kuruta?
Kurapika sudah melacak jejak Genei Ryodan selama lima tahun. Dia mengetahuinya dengan baik, dan mendapatkan cukup informasi bahwa Geng Laba-laba bukanlah sekelompok orang yang akan terlibat dalam pembunuhan hanya demi suatu pembalasan. Pria raksasa yang dibunuhnya berkata begitu, dia bilang bahwa dia hanya menyukai ketegangan yang dirasakan ketika membunuh. Tapi kemudian, benaknya teralih kepada Pakunoda, yang berbeda dengan pria raksasa itu. walau Kurapika berusaha keras untuk tidak memikirkannya; benaknya sudah mengetahui bahwa wanita itu terlalu mencemaskan Danchou-nya dan nyawa sesama rekannya di Geng Laba-laba daripada nyawanya sendiri. Dan terakhir, seorang pria yang bernama Nobunaga, yang bahkan sangat dibenci Kurapika untuk menjadi salah seorang dari yang dia pikirkan. Meskipun begitu, dia masih percaya bahwa Gon telah memberitahunya tentang bagaimana dia menangisi kematian temannya.
Si Pirang menggelengkan kepalanya dan menatap tajamkepada pria itu. Jangan bilang, bahwa semua yang kau bunuh telah memperlakukanmu dengan buruk. Apakah memang sebanyak itu?"
"Aku, dan kedua belas Ryodan lainnya hanya melakukannya begitu saja, kami membalas dendam bagi siapapun di Ryuuseigai."
Kurapika merasa seolah sebuah anak panah baru saja menusuk jantungnya. Jika yang dikatakan Pemimpin Geng Laba-laba itu benar, seluruh dunia mungkin saja hancur seketika, yang dia yakini sebagai kebenaran yang absolut akan musnah seluruhnya. Dengan gemetar dia memaksa dirinya untuk melontarkan pertanyaan lain. "Aku tak menduga…Suku Kuruta pernah melakukan sesuatu pada kalian."
Suasana hening kembali, menelan Kurapika hidup-hidup. Ketika menanyakan hal itu, matanya yang berwarna semerah api tak pernah meninggalkan mata gelap pria itu.
"Jawab aku!" Kurapika menaikkan suaranya.
Kuroro tersenyum puas dan menjawab, "Tidak. Sukumu tak penah melakukan apapun yang berbahaya terhadap kami." Pria itu menyaksikan, ketika Si Pemuda berusha menenangkan diri.
Jawaban Kuroro di luar dugaan Kurapika, dan seperti biasa hal itu membangkitkan emosinya. Jika tatapan saja bisa membunuh, Kuroro tahu dia pasti akan berada dalam kondisi yang lebih mengerikan dari hanya sekedar mati. Kuroro terkekeh pelan.
"Ada apa dengan selera humormuhingga kau harus berulangkali tertawa dan tanpa alasan?" Kurapika mendengus kesal.
'Rasanya menyenangkan, bisa membuatmu bereaksi seperti itu.' Alasannya memang ada, tapi Kuroro memilih untuk tidak menyebutkannya. Daripada itu, dia mencondongkan badannya ke depan, mengistirahatkan kedua siku tangannya di atas lutut, menutup sedikit jarak di antara mereka berdua, dan menyeringai. "Kau…menarik." Dia menekankan, "Pria, yang punya semua bukti menunjukkan bahwa dialah satu-satunya yang membunuh sukumu, ada tepat di hadapanmu. Tapi kau tetap memberi dirimu kesempatan untuk percaya dalam kondisi ketika dia membicarakan tentang latar belakangnya."
"Aku tidak—" jawaban Kurapika terpotong ketika Kuroro melanjutkan,
"Aku tahu itu bukan suatu perasaan seperti simpati, dan kau tak bisa dibuat yakin semudah itu. Jadi apa…?" Kuroro mengangkat sebelah tangannya, menutupi bibirnya yang kini Kurapika simpulkan sikap itu merupakan sikap Kuroro ketika dia tenggelam dalam suatu pemikiran mendalam tentang hal penting. "Kau ingin memastikan bahwa yang kaulakukan itu benar, jalan terbaik bagi semuanya dan tidak hanya untuk kebutuhanmu semata."
Dan Kuroro benar, walau Kurapika tidak menanggapinya.
"Aku akan memberimu jawaban kenapa aku membunuh begitu banyak orang, lebih dari sekedar mengambil kembali apa yang telah direnggut dari orang-orang di Ryuuseigai." Kuroro menarik perhatian pemuda itu sepenuhnya. Dia bersandar di kursinya dan melihat ke luar jendela. "Pertama, kita mulai dengan membalas untuk mendapatkan hasil yang seri. Tapi sekalinya membunuh, kita tak bisa berhenti. Percayalah padaku, sekalinya kau memasuki jalan berdarah dalam mengambil nyawa seseorang, kau tak bisa keluar." Dia tahu pemuda itu benar-benar ingin protes tapi dia menjaga mulutnya tetap diam. "Kami menemukan bahwa dalam menghancurkan sesuatu, kami pun menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin kami cari, sekian lama."
"Aku tak mengerti, jadi apa yang kalian cari?" Kurapika mempertahankan suara dinginnya, menahan dirinya sendiri untuk menambahkan kata-kata kutukan tentang kenapa orang-orang yang tak bersalah harus berkorban untuk keegoisan Geng Laba-laba. Tapi dia tahu mereka tak akan peduli.
"Hmm…" ini pertama kalinya Kurapika benar-benar melihat Kuroro mengeluarkan suara ketika dia berpikir. Pria itu mengangkat sebelah tangannya lagi, menutupi bibirnya. Wajahnya yang tanpa emosi sedikit mengernyit, matanya melirik ke samping. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan para anak buahku atau apa yang mereka cari. Kami jarang membicarakan masa lalu dan apa yang kami inginkan. Laba-laba hanyalah sekelompok orang yang berada di jalan yang sama tapi memiliki tujuan yang berbeda-beda."
Alis mata Kurapika mengernyit dan dia bicara dengan penuh amarah. " Jawabanmu berbelit-belit. Jika kau tidak tahu apa yang diinginkan mereka, tinggalkan saja. Lagipula apa yang kauinginkan dalam hidup ini?"
Mata gelap Kuroro mensejajarkan pandangannya dengan mata Kurapika. "Itu…hal yang bersifat pribadi. Bahkan para anak buahku pun tak pernah mengatakan apapun tentang itu." Mendengar pernyataan Kuroro, pemuda itu terlihat ragu. Kuroro memutar kedua bola matanya. "Yah, aku tak akan kehilangan apapun jika aku memberitahumu, tapi…" Kuroro memejamkan matanya. 'Awalnya aku hanya menginginkannya…' Masa lalunya muncul beberapa saat di benaknya sebelum dia menjawab pertanyaan pemuda itu. "Aku ingin sesuatu…satu-satunya hal di dunia yang tak akan membuatku lelah atau bosan hingga aku tidak akan membuangnya tak lama setelah aku mendapatkannya." Dia menghela napas, dan tersenyum sambil memejamkan matanya kembali. "Tetap saja, aku belum menemukan apapun."
"Hanya itu?" suara Kurapika menyiratkan kemarahan. "Hanya untuk mencari sesuatu yang bahkan kau pun tak tahu apa…Berapa banyak nyawa harus dikorbankan untuk itu!?" Kurapika berdiri dan menunduk menatap pria yang sedang duduk di hadapannya; dia menaikkan volume suaranya dengan marah tapi tetap menjaganya cukup rendah untuk agar pembahasan ini tetap menjadi pembahasan di antara mereka berdua saja. "Sukuku juga tak ada bedanya, 'kan?! Hidup Suku Kuruta dikorbankan untuk keinginanmu sendiri!"
Mata gelap Kuroro tertuju pada pemuda yang sedang marah itu. Dia menahan senyumannya, dan tak memberikan respon. 'Entah kenapa, rasanya aku sekarang sudah berada lebih dekat dengan apa yang kuinginkan itu…kunci untuk membuka diri seseorang.' Dia tak ingin membuat Kurapika marah lebih lama lagi jadi dia berusaha mengakhiri percakapan mereka. "Hanya seperti itulah adanya bagi Genei Ryodan. Sekarang pertanyaanmu sudah terjawab."
Melihat kurangnya respon dari Kuroro, perlahan Kurapika kembali ke tempat duduknya.
Walaupun percakapan itu sudah berakhir, untuk pertama kalinya pemikiran Kuroro tidak berakhir sampai di situ. 'Aku mulai iri padamu…' Pria itu mengakui di dalam hati. '…karena kau memiliki tujuan yang kuat dan pasti hingga kau bertekad untuk mencapainya.'
TBC
A/N :
Just kurokura lover :
Wah, pecinta KuroPika/KuroKura sejati xD *kasih bendera KuroPika* thanks for review!
Natsu Hiru Chan :
Iya...kebaca 'kan di paragraf-paragraf terakhir chapter ini, hehe!
Regina Moccha :
Gyaaa...makasihh...salam kenal ya^^
:
Here we go, the update xD Thanks for review^^
Review please^^
