Diary From the Start

'Hanya meminjam chara milik Masashi Kishimoto, ide milik saya sendiri'

Rate : T+ (Kata-kata kasar)

Pair : MinaKushi

Warn : OOC, Alay, Gajelas, dll

"Sudah sepuluh tahun sejak kematian Kushina, juga lima tahun setelah pernikahaan Naruto, Minato yang menua sendirian menemukan beberapa buku diary lama Kushina di loteng, perlahan luka lamanya terbuka / B*tch itu!/ Aku tak mengerti mengapa kita harus bersama,"

Diary Pertama :

Chapter 3 : 23 Januari

"Ah itu kan Minako, waktu itu dia datang untuk menjengukku… ah tak kusangka dia menguping," ujar Minato sambil cekikikan sendiri, pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu membuka halaman berikutnya, namun ia malah melihat gambar wajahnya ditambah kata-kata kasar disekelilingnya, membentuk sebuah lingkaran yang aneh, seperti segel-segel yang ia baca dibuku sejarah ninja minggu lalu. Tak mau ambil pusing, Minato membuka halaman berikutnya,

'Aneh, itu kata yang tepat mendiskripsikan bitchy Minato, ia berkeliling rumah sepanjang hari, membawa masker dan obat serangga, entah apa yang akan dilakukan si bodoh itu. "Waaaa!" siang ini aku terus mendengar jeritan juga pekikannya dari berbagai penjuru rumah, memang benar mirip perempuan!

Aku hanya terus menggeram dan menggeram-seperti saling sahut-sahutan dengan pekikan dan jeritannya, "Apa yang kau lakukan baka?!" tanyaku setengah berteriak ketika jeritannya menggema karena sedang mandi, dia tak menyahut dan dari kamar mandi dan malah mengeluarkan suara aneh, entah apa itu.

Aku beranjak dari tempat dudukku, hendak mandi, namun aku lihat dia keluar dari kamarnya, masih berbalut handuk sebatas pinggang, terbirit-birit menuju lantai bawah dan mengambil masker dan obat serangga yang diletakannya di meja dekat sofa, dia benar-benar bodoh! Apa yang akan terjadi jika tetangga lewat dan melihatnya? Mungkin wajah mereka akan memerah, apalagi mimisan! Karena tubuh sixs pack si bodoh itu tak tertutupi apapun.

JUJUR saja! Aku sempat terpana melihat otot-ototnya yang terbentuk sempurna, taka da bekas luka apapun, sangat bersih. Aku belum pernah melihat tubuh seperti itu secara langsung, terkadang aku melihatnya ketika menonton acara olahraga atau dimajalah yang biasa Mikoto beli, tapi aku tak begitu tertarik.

Penasaran, aku intip kedalam kamarnya, seekor kecoa besar sedang dalam mode 'terbang' aku hanya diam dan segera meraih sapu di dekat dapur, kulihat lagi kedalam kamarnya, sudah pergi? Sepertinya belum karena baru kulihat kecoak itu ada di dekat cermin besar disana.

"Bunuh dia!" terang saja aku kaget dan menoleh saat suara baritone Minabaka terdengar disebelahku,"Ho~ pria bodoh ini takut pada seekor kecoa kecil?Lalu kau tak takut kakimu aku patahkan karena kau menjerit seperti perempuan sepanjang hari?" kataku sambil melirik kedua tangan Minato yang masih senantiasa di gips, kata dokter setelah dua bulan gips yang pertama dibuka, lalu yang sebelahnya lagi, yang aku pukul setelah dua bulan dua minggu baru bisa dibuka.

"Haiaatt!" dengan cepat aku memukul kecoa itu, kena! Ah tapi~ aku bisa merasakan ada aura aneh dibelakangku, aku menoleh dan kulihat Minabaka dengan aura pasrah disekelilingnya, matanya melotot kearah sebuah benda didekatku, mengikuti pandangannya, aku juga terkejut melihat cermin besarnya pecah dan kaca-kacanya mulai rontok.

Aku hanya tertawa tak berdosa, mulai menyapu pecahan kaca itu dengan sapu ditanganku, alih-alih kabur dari amukannya, karena seingatku itu adalah cermin kesayangannya,"Kushina Uzumaki! Kemari kauu!" aku mulai berlari mendengar jeritannya, aku tak mau kena amuk! Alasannya sederhana, aku sudah bosan dengan amukan seseorang kepadaku, maka aku berlari dengan cepat menuruni tangga dan menyusuri lorong menuju halaman belakang, aku menoleh dan Minabaka taka da dibelakangku.

Kuhembuskan napas lega, ia tak mengejarku sampai sini, mungkin tak sengaja menginjak pecahan kaca yang belum tuntas aku sapu, masa bodo, aku tak peduli! Yang penting dia takkan merepotkanku lagi, tentu saja sejak tangannya tergips dua-duanya, aku yang memasak dan itu hanya nasi goring sayur dengan telur mata sapi yang gosong. Tujuannya tentu saja membuatnya tak suka makananku dan memasak sendiri.

"Hei! Kau masih berhutang cermin padaku!" jertannya menggema dilorong, aku terkejut, secepat kilat aku memanjat pohon yang ada dipojok halaman, pohonnya cukup tinggi dan rimbun, sehingga rambut merahku takkan terlihat, ah tapi mengapa daunnya tak rontok? Ah sudahlah,"Ck! Kemana Habanero itu?" gumamnya kasar, sepertinya cermin itu berharga, mungkin pemberian kekasihnya? Entahlah.

Eits! Si baka itu belum memakai pakaian? Disini dingin sekali! Apa dia kuat? Atau jangan-jangan dia lebih mementingkan kemarahannya daripada dingin? Dasar gila! Ingin sekali aku menjerit seperti itu sekencang yang aku bisa.

Ctak!

Akh! Mengapa ranting itu patah? Kalau begini aku bisa ketahuan! Ku bekap mulutku yang hamper saja memekik, kalau ketahuan aku bisa mati! Mungkin ia akan mengiris leherku dengan pecahan kaca itu atau menancapkan pecahan kaca itu ke tengkorakku,hii~~ aku tak bisa membayangkan bahwa aku akan mati konyol karena telah memecahkan sebuah cermin, masih setia kuamati Minabaka yang mengelilingi halaman untuk mencariku, tertangkap lalu dibunuh! Apa dia itu pskikopat? Atau pembunuh yang sengaja dinikahkan denganku untuk dibunuhnya? Mengerikan !

"Ah sudahlah… kaca Minako masih bisa diperbaiki," ujarnya dengan nada pasrah lalu masuk ke dalam, aku tertegun sesaat, Minako? Adik kelasku saat SMA yang jenius itu?yang rambutnya pirang panjang diikat dua? Dia adik Minabaka? Oh god! Ini gila,

dulu aku sempat berpikir untuk menjadi saudara ipar Minako karena kejeniusannya, mungkin itu menyenangkan, dan tanpa sadar aku sudah jadi kakak iparnya!

Ini benar-benar gila! Itu hanya harapan yang aneh bagiku, dan ternyata dari semua harapanku, hanya itu yang terkabul, terjebak bersama Minabaka tanpa pernah mengobrol santai bersama Minako, sepertinya perempuan itu Minako karena suaranya agak mirip.

Kususuri halaman, dia benar-benar sudah kembali, aku melompat menuruni pohon, tidak begitu tinggi. Aku tersenyum penuh kemenangan, rasanya seperti bermain sebuah game dimana seorang pskikopat mencari lima orang yang terjebak disuatu tempat untuk dibunuh, entah kapan terakhir kali aku bermain game itu, seru sekali!

"Are you wanna play D**d by D*yl*ght with me?" suaranya terdengar menyeramkan dari belakang, kuteguk ludahku perlahan, ini benar-benar menegangkan! Kulihat kebelakang, ada Minabaka yang sedang bersender dibatang pohon dengan gaya so(k) coolnya itu.

"Kau killer* dan aku survivor*? Hell no!" aku segera berlari memasuki rumah dan ia mengejarku, saat aku melewati dapur, tak sengaja kuinjak sesuatu yang licin dan aku terpeleset. Tak kusangka Minabaka menangkapku, seperti adegan romansa di anime-anime, wajahku memerah sesaat, namun…

BLETAK!

"Aku tak perlu ditangkap seperti itu-ttebane! Minabaka!"


A/N :

Yuki : Fyuh! Ini udah panjang banget, emang maksimal segini deh per chapter

Kushina : Oh iya kenapa nama gamenya disensor?

Yuki : Gamenya emang beneran ada, trus killer itu pembunuh di game itu, survivor yang mau dibunuh, gamenya seru tapi belom pernah main #dihajar

Kushina : Darimana lo tau?

Yuki : Nonton gameplay nya M**wA*G (tebak-tebak aja)

Kushina : Yaelah, sensor lagi…

Yuki : Biarin! Yang penting tinggalkan review ya!

Special Thanks :

Asuura-chan, silent reader, dan yang udah mau nge fav/follow cerita gaje ini