Akhirnya update last chapter juga! \(n_n)/
spesial thanks:
Fujita Hoshiko
ichsana-hyuuga
and silent readers yang lainnya...
makasih ya udah baca fict ini yang keren *baca Gaje*, bagus *baca Abal* dan lainnya...
Ok deh... gak banya cingcong (?)
Happy Reading...
review ya...
Our Fate
.
Disclaimer
Naruto © M. Kishimoto
Our fate © Fuyu-yuki-shiro
.
Warning :
OOC, lebih banyak description, abal, gaje, garing, AU, Yuri or percintaan sesama perempuan, typo(s), pengulangan kata-kata, Lemon dikit, penuh dengan flashback
.
Rating : T semi M
.
Genre : Angst, romance, hurt/comfort
.
Pairing : My lovely SakuHina, NaruSaku
.
Hinata terbangun dari lamunannya ketika sebuah tangan mungil mengusap bawah matanya yang berair. Tangan mungil milik seorang bocah berambut pirang yang tadi memberinya permen lollipop, bocah bermata emerald, sewarna dengan mata orang terkasihnya.
"Kakak kenapa?" Tanya gadis itu, ingin tahu. Hinata menggeleng kemudian tersenyum.
"Kakak hanya mengingat cinta pertama kakak, sayang," ucap Hinata lembut membuat kerutan bingung di keningnya terurai, senyum polos terhias di wajahnya yang manis.
Wajah yang membuatnya rindu, entah kenapa.
"Benarkah?" Tanya bocah itu, dengan semangat empat lima. Matanya berbinar ingin tahu membuat Hinata terkekeh geli. "Apa kakak bertemu dengan kekasih kakak di sini?" tanyanya ingin tahu. Hinata mengangguk.
"Bahkan tempat ini adalah tempat favorite kakak dengannya," ucap Hinata menjelaskan.
"Benarkah?"
"Hn…."
"Wah… ibuku juga bertemu dengan cinta pertamanya di tempat ini," cerita sang bocah. Matanya makin bersinar ketika mengucapkan cerita itu. membuat Hinata langsung memasang telinganya baik-baik.
Jadi selain dirinya dan Sakura, ada juga pasangan lain yang dipertemukan di sini.
"Benarkah?" kali ini Hinata yang bertanya. Bocah perempuan itu mengangguk semangat.
"Ibu bilang cinta pertamanya itu cengeng, tapi kuat. Ibu juga bilang cinta pertama ibu terlihat manis kalau mukanya memerah…,"
"Lalu? Apa cinta pertama ibumu adalah ayahmu?" Tanya Hinata ingin tahu. senyum terkembang di bibirnya. Mendengarkan kisah cinta orang lain memang menyenangkan.
"Sayangnya bukan," ucap sang bocah mendadak sedih. Hinata ikutan sedih mendengarnya.
"Ibu bilang cinta pertamanya tidak datang saat mereka berjanji akan bertemu di sini," ucap sang bocah membuat Hinata mendadak beku. Entah kenapa perasaannya tak enak ketika mendengar hal itu, entah kenapa. "Ibu bilang, ibu menunggu selama lima jam, tapi cinta pertamanya tak datang. Ibu malah bertemu dengan ayah di sini dan akhirnya ibu menikah dengan ayah," ucap bocah itu lagi. Hinata menelan ludah.
Apa?
Apa kata anak ini tadi? Ibunya bertemu dengan cinta pertamanya di sini? Dan ketika janjian dengan cnta pertamanya, cinta pertamanya tidak datang?
"Tapi karena ibu tak bisa melupakan cinta pertama ibu saat ini, maka ibu menamaiku dengan nama cinta pertamanya," ucap sang gadis kembali bersemangat. "Ayah juga entah kenapa setuju-setuju saja aku diberi nama itu," ucap sang bocah dengan kening berkerut.
"Me-memangnya, namamu siapa?" Tanya Hinata memotong. Membuat mata emerald bocah itu menatap mata lavender Hinata, kemudian dengan senyum dan sebuah rasa bangga atas namanya, gadis itu mengucapkan namanya.
"Hinata, Namaku Namikaze Hinata," ucap bocah itu dengan senyum secerah matahari, senyum khas seseorang yang amat di kenal Hinata.
Senyuman khas seorang Namikaze Naruto….
"Hinata?"
"Hinata-chan?"
Belum sempat gadis berusia 25-an itu pulih dari terkejutnya, Hinata harus menerima kejutan lainnya. Dua suara amat familiar di telinganya meski tujuh tahun telah berlalu, tak akan pernah dilupakannya.
Dia kenal suara itu, dia kenal suara-suara itu….
"Ah itu ayah dan ibu!" ucap sang bocah berambut pirang itu dengan riang kemudian meninggalkan Hinata yang masih tak percaya dengan sebuah kenyataan yang baru saja diketahuinya. Sebelah tangannya menutup mulutnya, matanya membelalak tak percaya
Dan buliran air mata kembali hendak meluncur dari kedua bola mata lavendernya yang indah…
Perasaan rindu menyeruak di hatinya…
Itu suara Sakura! Itu suara Naruto dan Saku-channya!
.
.
"Ayah! Ibu!" teriak bocah berambut pirang itu sembari berlari ke arah sepasang suami istri yang disinyalir sebagai kedua orang tuanya. Sepasang manusia yang dipanggil ayah dan ibu itu kemudian tersenyum lebar, apalagi pria berambut pirang itu. pemuda itu langsung merentangkan kedua tangannya bersiap menggendong buah hatinya bersama orang yang dicintainya.
"Kau ini! Kau itu sedang apa di pohon sana?" Tanya sang ibu. Rambut soft pinknya diikat ponytail, mata emeraldnya menatap khawatir kepada buah hatinya. Hinata, sang buah hati hanya menggembungkan pipinya.
"Hari ini aku tidak sedang bermain sendiri, ibu! Aku di sana bersama kakak yang cantik sekali!" cerita Hinata riang. "Meski sepertinya usianya sama dengan ibu, tapi kakak itu sangat cantik dan lembut, tidak seperti ibu yang…."
BLETAK!
"ADUH!" Hinata kecil mengaduh sembari memegang kepalanya yang dipukul oleh sang ibu. "Kok aku dipukul sih?"
"Untuk menghentikan ucapanmu yang kurang ajar itu!" ucap sang ibu sembari mendengus.
"Sudahlah Sakura-chan, kau tidak usah seperti itu pada Hinata-chan!" ucap sang ayah membela. Pria bermata sapphire itu mengusap-ngusap kepala putri kesayangannya.
"Huh! Kau selalu saja membela Hinata,Naruto! pantas saja anak ini berani mengatai aku!" omel ibu bernama Sakura itu. mata emeraldnya menatap penuh amarah.
"Aku tidak mengatai kok! Aku kan jujur ibu~" rengek Hinata tak terima. Baginya mengatai sama dengan bohong, dan dia tidak suka dikatai pembohong.
"Sudah… sudah…," lerai Naruto, sang kepala keluarga ketika mendapati aura membunuh dari istrinya. "Lalu, kakak yang cantik itu masih ada di sana?" Tanya Naruto, mengalihkan perhatian.
"Oh iya, aku lupa!" ucap Hinata dengan polosnya, kemudian gadis itu melompat dari pangkuan ayahnya dan berlari menuju pohon tempat dia meninggalkan kakak cantiknya itu. meninggalkan Naruto yang tengah merangkul pundak istrinya.
"Kau baik-baik saja Sakura-chan?" tanyanya pelan, namun cukup didengar oleh Sakura. Sakura mengangguk meski tak pasti. Matanya lurus menatap pohon yang ada beberapa meter dari tempatnya berada.
Tujuh tahun telah berlalu sejak itu, namun gadis itu tak sedetikpun melupakan kenangannya bersama Hinatanya, bersama gadis yang tengah merebut hatinya sejak pertemuan pertama mereka.
Kenangan manis yang sebenarnya terlarang untuk diingat….
Sakura memejamkan kedua matanya, menahan bulir air mata turun dari mata emeraldnya. Cukup saat itu, cukup saat itu saja gadis itu menangis. Cukup saat itu saja wanita itu menangisi cinta pertamanya yang indah juga menyakitkan.
"Ibu? Ayah?"
Suara itu membuat Sakura membuka matanya. menatap ke bawah, ke arah suara. Ke arah putri semata wayangnya yang menatapnya heran dengan sebuah buku bersampul merah muda di tangan kanannya…
Buku?
Mata Sakura terbelalak ketika melihat buku yang ada di tangan putrinya. secepat yang dia bisa wanita itu merebut buku bersampul senada dengan rambutnya. Dan di sampul itu tertulis,
Buku catatanku dan Hinata-chan
Sakura merasa jantungnya berhenti berdetak….
.
.
Dia tahu kebenarannya….
Suasana di antara sepasang suami-istri itu mencekam. Sakura mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. Wanita itu menunduk di hadapan suaminya, Naruto. air matanya sedikit keluar.
"Aku tak percaya kau melakukan hal ini, Naruto," ucap Sakura penuh penekanan membuat Naruto menatapnya dengan tatapan penuh luka.
"Sakura-chan aku…."
"KAU MEMBOHONGIKU!" teriak Sakura. Dia tak memperdulikan suaranya yang menggelegar itu akan membangunkan putri semata wayangnya yang nyatanya tengah meringkuk ketakutan di balik selimut dengan air mata berlinang.
"Waktu itu kau bilang kau tidak melihat Hinata! Dulu kau bilang tidak melihat Hinata…" ucap Sakura, nada suaranya bergetar. Wanita berambut soft pink itu kemudian menatap penuh kebencian kepada suaminya yang juga sahabatnya. "Tapi ternyata Hinata datang saat itu dan kau melihatnya kan? kau langsung menelepon si sialan Neji itu dan membawaku ke rumahmu, memberitahuku sebuah kebohongan! Kau jahat Naruto, aku benci padamu!" ucap Sakura lagi kemudian melangkah pergi namun dia tak jadi pergi ketika sebuah tangan mencengkram lengan kirinya.
"Sakura-chan… maafkan aku… aku…."
"Lepas!" potong Sakura dingin, namun cengkraman itu semakin erat, Sakura yang kesal kemudian berusaha menepis tangan itu namun Naruto tidak membiarkan itu terjadi.
"Dengarkan aku Sakura!"ucap Naruto lagi, kali ini tanpa embel-embel -chan lagi. "Setelah mengetahui kebenaran ini, kau mau apa sekarang? Apa kau akan kembali kepada Hinata-chan?" Tanya Naruto. mata birunya menatap istrinya dengan tatapan memohon. "Apa kau tega meninggalkan aku dan Hinata-chan kita hanya demi Hinata-chanmu?" Tanya Naruto lagi, emosi. Mendengar kata 'hanya' keluar dari mulut Naruto membuat Sakura semakin emosi. Wanita itu kemudian dengan sekuat tenaganya menepis tangan sang suami dan menatapnya dengan penuh kebencian.
"Hanya? Hanya kau bilang?" tanyanya. Mata emeraldnya berkilat marah. "Namikaze Naruto… aku membencimu!" ucapnya dengan penuh penekanan kemudian berlari keluar dari rumahnya, berlari, dengan buku harian ditangannya, berlari ke tempat itu… ke pohon kenangan….
.
Flash Back tujuh tahun yang lalu…
Sakura mencengkram bagian depan baju Naruto. kepalanya tertunduk setelah mengatakan kalimat itu. Naruto memeluk tubuh kecil Sakura.
"Kau yakin Sakura-chan?" Tanya Naruto, memecah keheningan. Pelan-pelan gadis itu mengangguk.
"Ya… bantu aku melupakan Hinata, Naruto. sentuh aku! Nikahi… aku…." Ucap Sakura lagi sembari mendongakkan kepalanya, menatap wajah pemuda yang mencintainya setengah mati.
Mata emeraldnya menatap jauh ke dalam mata blue sapphire milik pemuda itu. tangan putih yang mencengkram depan baju Naruto terangkat untuk membingkai wajah pemuda berkulit tan itu, membawa wajah itu untuk semakin mendekat ke wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir merah milik Sakura.
Bibir mereka bertemu untuk waktu yang lama, sampai akhirnya Naruto mengambil tindakan lainnya. Sesuatu mengambil akal sehatnya, membuat pemuda itu melumat bibir Sakura dan memaksa lidahnya memasuki rongga mulut Sakura, Sakura hanya bisa pasrah dan mencoba ikut andil dalam ciuman itu.
Ciuman panas tanpa ada rasa cinta.
Sakura menutup mata emeraldnya, membuat memorinya mengingat sesosok wajah manis bermata lavender dan berambut lavender panjang yang tengah merona merah dengan gugupnya.
Hinata….
"Sakura-chan, kau siap?" Tanya Naruto, membuat gadis berambut soft pink itu kembali ke tempat di mana dia berada sekarang, di bawah tubuh Naruto tanpa sehelai pun pakaian yang menutupi tubuhnya. nafasnya terengah-engah akibat ciuman tadi, saliva-saliva miliknya dan Naruto tersisa di mulutnya, lehernya kini penuh dengan tanda kepemilikan Naruto.
Naruto memandang Sakura dengan pandangan yang tak bisa di definisikan. Dan ketika Sakura menganggukkan kepalanya, mata biru itu kehilangan cahayanya. Pemuda berambut pirang itu mendekatkan wajahnya ke kuping orang yang sangat dicintainya itu.
"Aku mencintaimu, Sakura-chan," ucapnya sungguh-sungguh, membuat gadis itu semakin terisak, karena gadis itu tahu, dia telah memanfaatkan perasaan Naruto kepadanya….
Flash back : off
Nafas Sakura terengah-engah. Dihadapannya adalah pohon kenangannya dan dihadapannya ada seorang wanita yang amat dirindukannya tengah mencari-cari sesuatu di rerumputan, di bawah pohon itu. Wanita itu mencari dengan kekalutannya yang amat jelas terlihat di wajah pucatnya.
Hinata…
Batin Sakura ketika mengenali wanita itu. meski saat itu gelap, meski hanya cahaya bulan yang menerangi taman yang sepi itu, Sakura tahu siapa wanita yang kalang kabut mencari sesuatu di sana. Dia tak akan melupakan wajah itu, rambut itu, poni rata itu, gelagat itu…
Meski tujuh tahun sudah berlalu, namun gadis itu tak berubah…
Hinata… Hinata-nya….
Dan ketika Sakura memanggil namanya, mata wanita itu terbelalak….
"Saku…-chan?" tanyanya tak percaya. Akh… betapa Sakura rindu panggilan itu. Sakura mengangguk kemudian melangkah mendekati Hinata yang tampak membeku di tempatnya. Mata mereka bertemu, jarak mereka semakin mendekat.
Waktu serasa berhenti ketika Sakura – dengan tangan yang gemetar – menyentuh wajah Hinata-nya. Wajah gadis yang dicintainya, wajah cinta pertamanya. Sakura menjelajahi wajah Hinata sampai akhirnya dia merengkuh Hinatanya ke dalam pelukannya….
Dan isakan itu terdengar dari mereka berdua….
.
.
Tangan mereka saling bertaut, namun wajah mereka mendongak ke atas. Menatap pemandangan langit hitam dengan berjuta sinar kecil berkerlap-kerlip menerangi langit malam itu. cahaya bulan membantu memeriahkan suasana di atas langit sana.
"Tujuh tahun, sudah berlalu, sejak kita dipisahkan oleh takdir itu," ucap Sakura memecahkan keheningan. Hinata terdiam, entah perasaan apa yang harus dirasakannya saat ini. Dia senang, sedih sekaligus bimbang dengan keadaan yang di alaminya hari ini.
"Dan kita banyak berubah," lanjut Hinata. "Sekarang kau adalah Nyonya Namikaze, bukan lagi nona Haruno yang ku kenal," ucap Hinata dengan ekspresi pedih. Sakura menunduk, mempererat pegangan tangannya kepada tangan itu.
"Maafkan aku," ucap Sakura lagi. "Seharusnya aku percaya padamu," ucap Sakura lagi. Hinata menggeleng.
"Bukankah ini takdir yang harus kita jalani?" Tanya Hinata. Pertanyaan itu lebih dari sekedar pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Ya… inilah takdir yang harus mereka jalani. Berpisah. karena takdir tak ingin mereka menjadi seorang pendosa yang mengkhianati takdir yang telah digariskan oleh Tuhan, bukan?
"Jujur saja aku masih memikirkan dirimu, bahkan sampai saat ini," ungkap Sakura. Pandangannya mengawang. "Bahkan saat aku berhubungan dengan Naruto, yang aku ingat adalah wajahmu," lanjut Sakura lagi, membuat Hinata terdiam.
"Maka dari itu kau menamakan anakmu Hinata? Kejam sekali," komentar Hinata bergurau, membuat Sakura tertawa.
Tawa penuh kepedihan.
"Aku ingin memulai kembali hubungan kita, Hinata," ucap Sakura membuat Hinata memandang Sakura. Wanita itu kemudian tersenyum dan melepaskan genggaman Sakura kemudian menggenggam punggung tangan Sakura.
"Tapi itu tidak mungkin, bukan? Kau sudah punya Naruto-kun, kau juga sudah punya Hinata-chan kecil, bukan?" pertanyaan yang terlontar itu membuat Sakura menundukkan kepalanya, menangis karena penyesalan.
Tujuh tahun yang lalu, dia terlalu ceroboh, terlalu gegabah.
"Saku-chan," panggil Hinata. Entah sejak kapan wanita itu ada di hadapan Sakura, mengusap lembut rambut pink Sakura. "Maa… mana Saku-chan yang ku kenal tegar itu? kemana perginya Saku-chan yang tegar dan kuat itu? setelah mempunyai anak, kau jadi cengeng Saku-chan."
"Dan semenjak berpisah denganku, kau jadi tegar, nona Hyuuga," balas Sakura. Keduanya kemudian tertawa. Mungkin tertawa penuh kelegaan.
"Terima kasih Saku-chan…," ucap Hinata setelah mereka selesai tertawa. Kedua wanita itu kemudian berdiri, saling menatap.
"Aku bersyukur bertemu dengan Saku-chan hari ini, aku bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati menguraikan kesalahpahaman diantara kita. Aku bersyukur karena sekarang aku bebas. Sekarang aku bebas dari masa lalu dan dapat melanjutkan hidupku dengan perasaan ringan," ucap Hinata. Air matanya sedikit keluar.
"Aku juga bersyukur karena bertemu denganmu lagi Hinata," ucap Sakura.
Hening menyelimuti mereka. Angin berhembus di antara mereka, mendukung keputusan dan ketekadan hati yang mereka buat malam ini.
"Sayonara, Saku-chan/Hinata," ucap mereka berdua kemudian tersenyum dan berbalik arah.
Selangkah…
Dua langkah…
Tiga langkah…
Langkah Hinata terhenti ketika seseorang memeluk tubuhnya. aroma tubuh yang khas, aroma Sakura.
"Aku mencintaimu, Hinata, aku masih sangat mencintaimu…,"Ucap Sakura. Air mata keluar dari matanya, Hinata hanya bisa terpaku dan menurut ketika Sakura membalikkan tubuhnya menghadap Sakura, kembali menatap mata emerald yang amat disukainya itu. Sakura menyentuh wajah Hinata. Hinata menghayati sentuhan itu, sentuhan yang sudah lama tidak dirasakannya, air matanya keluar.
"Aku juga masih sangat mencintaimu Saku-chan," ucapnya membuat Sakura mendekatkan wajahnya kepada Hinata sembari secara perlahan menutup kelopak matanya.
Dan ketika kelopak mata mereka menyembunyikan keindahan bola mata mereka masing-masing, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman suci…
Tanpa nafsu,
Tanpa ada hasrat ingin mendominasi…
Ciuman penuh dengan air mata…
Ciuman perpisahan….
"Sayonara," lagi kata itu terucap dari Sakura, kali ini sembari melangkah meninggalkan Hinata. Gadis berambut lavender itu kemudian terisak sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.
Cinta ini memang harus diakhiri
.
.
"Sasuke-kun?" wanita itu bergegas mendekati seorang pria berambut hitam yang tengah menyandarkan tubuhnya di mobil sambil melipat tangan di dada. Pemuda bernama Sasuke itu kemudian mendekati wanita yang memanggilnya itu.
"Aku menunggumu!" ucapnya dingin. Membuat Hinata melogo mendengarnya. "Padahal kau tahu aku tidak suka menunggu!" ucap pemuda itu lagi.
"Eh? Ta-tapi kan aku tidak tahu kalau kau menungguku… aku kan tidak mengajakmu kemari," ucap Hinata gugup karena mata onyx Sasuke menatap gadis itu tajam.
"Kau menangis lagi?" Tanya Sasuke, memilih tak membalas ucapan Hinata. Tangan pucatnya terarah mengusap bagian bawah mata Hinata. "Gara-gara cinta pertamamu itu?" tanyanya lagi, kali ini sarat dengan ketidaksukaan dan kemarahan. Hinata hanya terdiam.
"Aku bertemu dengannnya," ucap Hinata. Sasuke adalah pendengar setianya, pria berambut raven itu selalu mendengarkan hal yang ingin diucapkan oleh Hinata, meski pria dihadapan Hinata ini terlihat cuek dan dingin, namun Hinata tahu, pria itu selalu mendengarkan semua cerita Hinata mengenai Sakura-channya. "Dia tidak berubah, dia masih menatapku dengan penuh kehangatan, dia masih mencintaiku meski dia sudah punya keluarga baru," cerita Hinata. Sasuke hanya diam, mendengarkan cerita wanita yang paling dikasihinya setelah ibunya itu.
"Dan malam ini, akhirnya aku bisa terbebas dari masa lalu bersamanya," ucap Hinata lagi, kali ini air matanya tumpah. Melihat itu Sasuke kemudian memeluk Hinata, membiarkan Hinata menangis di dadanya.
"Kemeja yang kukenakan ini adalah kemeja kesayanganku," ucap Sasuke datar.
"Eh?"
"Selesai menangis kau harus membayar mahal kemeja kesayanganku ini," lanjut Sasuke lagi, tak peduli dengan wajah Hinata yang bingung.
"Kau harus membayarnya dengan menjadi milikku! Kau mengerti?" ucap Sasuke dengan nada memerintah, mendengar itu Hinata mengulum senyum kemudian membalas pelukan Sasuke. "Minggu depan kau akan menjadi Nyonya Uchiha, kau mau kan?" ucap Sasuke lagi. Hinata hanya mengangguk, membuat Sasuke tersenyum amat simpul.
"Bagus!"
Dan malam itu pun, Hinata memulai lembaran barunya, bersama orang lain….
.
.
Pria berambut pirang itu berlari dengan sangat cepat, ke tempat istrinya berada. Dan ketika pria bermarga Namikaze itu berada di depan istrinya, Sakura mengulum senyum.
"Sakura-chan, aku…."
"Aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya," ucap Sakura. Naruto terkejut.
"Eh?"
"Meski aku dan dirinya masih saling mencintai, tapi aku tak bisa bersamanya dan meninggalkan kau dan Hinata," ucap Sakura lagi kemudian memeluk Naruto yang masih membeku. "Ayo pulang suamiku," ucap Sakura lagi. mendengar itu senyum Naruto terkembang. Tujuh tahun berlalu sejak pernikahannya dengan Sakura, tujuh tahun pula pria itu tak mendengar Sakura memanggilnya dengan 'suamiku', mungkinkah ini artinya, Sakura mulai membuka hatinya untuk dirinya?
"Terima kasih kau sudah menungguku, Naruto...,"ucap Sakura lagi membuat Naruto membalas pelukan istri yang amat dicintainya.
"Aku mencintaimu, Sakura-chan," ucap Naruto dengan ekspresi bahagia di wajahnya, Sakura tersenyum.
"Aku sudah mendengar itu jutaan kali dari mulutmu yang bau ramen itu!" canda Sakura membuat Naruto terkekeh.
"Jadi, apakah putriku ini berkenan mencintai pangeran yang telah menunggu dan mencintainya selama lebih dari tujuh tahun ini?" Tanya Naruto lagi, meski dikatakan dengan riang, namun hatinya berdebar-debar juga.
"Akan kupikirkan," ucap Sakura bercanda. Namun kalimat itu menumbuhkan rasa senang luar biasa di hati Naruto.
"Terima kasih, Sakura-chan," ucap Naruto.
"Hn… ayo kita pulang, aku takut Hinata menangis ketakutan karena kita tidak ada di rumah," ucap Sakura melepas pelukannya. Naruto hanya mengangguk kemudian menggenggam tangan Sakura.
"Hah… Hinata-chan pasti senang kalau kukatakan padanya kalau dia akan mempunyai adik baru," ucap Naruto jahil.
"Ukh… dasar Mesum!"
"Ahahaha"
.
Tak ada cinta yang sia-sia,
Meski cinta itu tak termaafkan, meski cinta itu terlarang,
Meski cinta itu dilaknat oleh Tuhan
….
F I N
…
What the…. O_o
Kenapa endingnya jadi kayak gini yak? =_="
Ya… bagi yang menginginkan happy end, inilah Happy end menurut saya. Tentu saja ini end yang lebih menyenangkan ketimbang membuat Saku Hina nekat bersatu dan menentang takdir yang digariskan oleh Tuhan….
Pelajaran yang ingin saya berikan dalam fict ini semoga tersampaikan dengan baik, kalau tidak berkenan dengan ending ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi masih menurut versi saya, saya pikir inilah yang terbaik untuk Sakura dan Hinata. Sakura akhirnya bisa menerima Naruto dan Hinata akhirnya memulai lembaran baru bersama Sasuke. Hehe…
Mengenai bocah perempuan itu, adakah yang sudah menyadari bahwa bocah itu adalah anak NaruSaku? Kalau ada, empat jempol saya kasih… hehehe
Kemudian saya memohon maaf kepada yang gak punya akun yang ingin mereview fict ini tapi gak bisa. Saya baru tahu kalau yang gak punya akun gak bisa review fict saya… tapi sekarang yang gak punya akun pun bisa mereview fict saya ini.
Jadi karena ini yang terakhir, bisakah kalian mereview fict ini?
Kritik, saran, dan ide, atau kalau mau request fict ke saya juga boleh…. (Sok banget)
Dan saya juga gak nyangka yang baca fict ini setiap harinya ada sekitar 50-an lho… *entah beneran baca atau gak sengaja buka fict gaje ini*
Ucapan terima kasih untuk semua readers, baik silent readers dan readers yang turut aktif menyemangati saya… dan Acchan, orang yang turut menyumbangkan ide nista buat fict ini.
Akhir kata,
Review yaw… please~ *Puppy eyes*
