setelah penderitaan berupa ujian-ujian yang tak kunjung habis akhirnya gue kembali mwahahahahh

Sesuai request mei-san, kali ini abang dekil yang bakal muncul~

Maap kalau ceritanya gaje, aneh, garing, alay. Dan map apdet lambat, maklum author juga lambat(?)

Maap, author tak pandai menyusun kata-kata.

Happy reading!

Disclaimer: Kuroko no Basket punya si Fujoshi-sensei (Fujimaki Tadatoshi) /digampar. Fanfic nista ini punya author-sannn

-Aomine ver. tsundere reader-


"aomine!"

"(name)? ada apa?"

"aku ingin bertanya sesuatu, boleh tidak?"

"tentu!"

"aomine kalau sudah besar mau jadi apa?"

"mau jadi suami (name), dong!"

"tapi aku tidak mau suami yang tidak bekerja!"

"hmm.. kalau begitu aku akan jadi polisi!"

"kenapa polisi?"

"aku ingin melindungi (name)!"

"ah, aomine ada-ada saja!"


Saat ini kamu duduk di kelas 3 SMA Teikou. Setahun lagi, kamu akan lulus SMA. Kamu awalnya berteman baik, bahkan bersahabat dengan aomine daiki, si pemain basket berkulit dim. Namun, Sejak Aomine masuk ke dalam tim basket di saat SMP, ia sangat jarang bahkan hampir tidak pernah berkomunikasi denganmu.

Suatu siang, kamu dan kawan (kewan) baikmu, Kise Ryouta sedang berjalan ke tempat pemotretan dimana Kise bekerja. Jalanan sangat ramai, kamu hampir terpisah dengan Kise.

"aduh!" seseorang menabrakmu sampai kamu terjatuh.

"maaf, nona. Sini aku bantu." Ia menyodorkan tangannya. Seorang lelaki berambut kelabu, memakai jaket hitam dan berkaos putih.

"tidak usah." Kamu berdiri sendiri kemudian mencari Kise.

"(name) –cchi?! Kamu kemana saja tadi? Eh? Bajumu kotor –ssu!"

"tak apa, aku hanya terjatuh."

"eh? Baiklah –ssu ayo kita percepat langkah kita, nanti aku dimarahi!"

Sesampainya di sana, kamu terkagum-kagum akan tempat yang sangat besar itu. Ruangannya sangat nyaman. Kamu duduk di sebuah sofa berwarna coklat yang begitu empuk. Kamu melihat ke arah kanan dan kiri, semuanya tertata dengan rapi.

"(name) –cchi, ayo kemari!"

Kise membawamu ke suatu ruangan. Di sana sudah ada beberapa fotografer dan penata rias. Mereka semua tampak ramah.

"uwah, Kise-kun sudah punya pacar ya?" tanya salah seorang penata rias.

"pacarnya Kise-kun sangat manis ya, hehe."

"dia bukan pacarku –ssu! Dia teman dekatku, namanya (name)."

"kurasa dia boleh ikut jadi model, dia manis sekali!"

"nee, ayo ikutlah jadi model!"

Semuanya malah menawarimu menjadi model, awalnya kamu menolak. Namun lama kelamaan akhirnya kamu menyetujuinya. Mereka merias wajahmu, memakaikanmu baju yang biasa dipakai para model dan memotretmu dengan Kise.

"(name)-chan benar-benar manis, ya! Aku yakin foto ini akan laris!"

"(name) –cchi kan memang manis –ssu!"

"wah, sudah sore. Ayo semuanya kita pulang!"

Kamu berjalan ke apartemenmu yang letaknya cukup jauh dari tempat itu. Berhubung apartemenmu dan Kise sama, kalian berjalan bersama.

"(name) –cchi akan semakin populer di kalangan remaja –ssu!"

"sebenarnya aku tidak mau, tapi.. terserah kamu lah."

Kamu masuk ke dalam kamar apartemenmu. Berbaring di atas kasurmu dan menoleh ke arah meja di sebelah kasurmu. Ada sebuah foto yang membuatmu ingat akan masa lalumu. Yap, fotomu dan Aomine yang tengah menangkap lobster di tepi sungai. Kamu rindu dengan masa-masa itu, dimana Aomine sangat peduli padamu.


Keesokan paginya, seperti biasa kamu berangkat ke sekolah bersama Kise. Setiba kalian di sekolah, banyak anak yang tampak sibuk dengan sebuah majalah trend remaja.

"(name)-chan! Sejak kapan kamu jadi model?" tanya seorang dari kerumunan itu.

Pada akhirnya kamu dan Kise dikerumuni oleh lautan manusia yang berusaha menanyakan tentang profesi barumu itu. Beberapa dari fans Kise juga ada di situ. Mereka memandangimu dengan sinis dan mendorongmu sampai kamu terjatuh di tengah kerumunan yang banyak itu. Kamu berkali-kali terinjak oleh orang-orang.

"Hei kalian semua, minggir!"

Ada suara yang cukup familiar di telingamu. Suara itu membuat kerumunan orang itu menjadi tak bersuara. Tak lain lagi, itu suara Aomine Daiki.

"jangan ganggu (name)!" Aomine menarik tanganmu dan membawamu pergi dari sana.

"A.. Aomine?!"

"baka! Kenapa kamu bisa terjebak dalam situasi seperti itu?!"

"aku.. aku kan tidak tahu! Huh!"

"terserah apa katamu. Lihat kan, bajumu malah jadi kotor!" Aomine melepas blazernya dan memakaikannya padamu. Memang longgar sih, tapi kamu merasa nyaman.

"lain kali, jaga dirimu baik-baik!" kemudian Aomine langsung berlari ke dalam sekolah.

Kamu blushing di sana. Rasanya tubuhmu susah digerakkan. Aomine yang biasanya tidak pedulian denganmu tiba-tiba saja memperlakukanmu seperti seorang putri.

"(name) –cchi! Aku mencarimu kemana-mana, maaf ya kamu sampai jadi begini!"

Kamu terdiam, tidak bisa menjawab ucapan Kise.

"ano.. ayo kita ke kelas –ssu!"

Kise menarik tanganmu dan membawamu ke kelas.


Jam istirahat pun tiba, kamu berusaha bersembunyi dari orang-orang yang tadi pagi mengejarmu. Inginnya sih kamu ke taman, tempatmu yang biasanya. Namun, berhubung sudah banyak yang tahu kalau kamu akan ke taman, jadi kamu menghindar dan bersembunyi di atap sekolah.

"(name)?"

"Aomine?"

Kamu bertemu dengan Aomine yang sedang tiduran di sana. Badanmu terasa sangat berat untuk digerakkan.

"kemarilah, (name). Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Kamu mendekati Aomine. Sebenarnya kamu merasa cemas dengan apa yang akan dikatakan oleh Aomine, tapi kamu berusaha untuk tampak kalem.

"(name).. aku hanya ingin bilang kalau sebenarnya…"

BLAM!

"(name)-cchi! Lihat apa yang aku temukan! Majalah trend remaja edisi terbaru bercoverkan foto kita berdua –ssu!"

"Kise?"

Aomine langsung mengambil majalah itu dan membuangnya ke tong sampah terdekat.

"Aku tidak suka dengan gayamu, (name)."

Entah mengapa rasanya dadamu sakit sekali dan air matamu serasa ingin keluar. Namun kamu menahannya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Lalu kamu berjalan menuruni tangga. Kamu bisa mendengar suara Aomine dan Kise yang sedang bertengkar di atas sana. Sebenarnya kamu ingin menenangkan mereka berdua, tapi kamu berusaha cuek dan meninggalkan mereka.

TENG! TENG! TENG!

Bel pulang sekolah berbunyi dengan kencang, semua murid langsung berhamburan keluar dari sekolah. Kamu berjalan keluar dengan lemas. Selain karena perilaku Aomine tadi, kamu sangat kelaparan. Ibumu lupa membuatkanmu bento tadi pagi.

"(name)."

Ada seseorang yang memanggilmu dari belakang. Kamu menoleh ke arahnya, dan menemukan Aomine yang sedang membawa tas hitamnya yang besar. Kamu memalingkan mukamu.

"Ikutlah aku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Aomine menarik tanganmu dan membawamu ke sebuah restoran cepat saji, Maji Restaurant. Aomine memesan yakiniku dalam porsi yang sangat banyak dan lima gelas c0ca c0la, kamu hanya memesan sepiring spaghetti dan segelas chocolate milkshake.

"NYEM NYEM NYEM NYEM NYEM NYEM NYEM, GRAUK GRAUK GRAUK GRAUK GRAUK."

"A… Aomine.."

"Cara makanku memang begini, jangan protes."

"bukan begitu.. tapi…"

"apa?"

"Piringnya juga jangan dimakan, baka."

FACEPALM.

Oke lupakan itu.

"apa yang ingin kau bicarakan?"

"Ah, begini.. sebenarnya aku.. tidak…"

"Mine-chin jahat, tidak mengundangku makan."

"Atsushi, jangan ganggu mereka. Mereka sedang pacaran."

"Akashi?! Murasakibara?!" Aomine terkejut dan nyaris menyemburkan c0ca c0la yang sedang diminumnya ke arah wajahmu yang mulus.

"(name)-chin kok mau diajak kencan dengan orang negro ini, nanti diperkaos loh." /dilempar.

"Ah, kalian semua payah!" Aomine pergi meninggalkan kamu, Murasakibara dan Akashi dengan muka datar.

Setelah menghabiskan makanan yang kamu pesan tadi, kamu langsung berjalan ke tempat pemotretan Kise. Kenapa kamu ke sana? Jelaslah, kamu kan sudah menjadi salah satu anggota mereka.

"(name)-chan sudah datang! Ayo, cepat ganti bajumu."

Setelah mengganti bajumu, kamu langsung difoto oleh para fotografer di sana. Entah kenapa rasanya kamu hampir tidak bisa tersenyum karena keresahanmu pada Aomine. Kise yang sedari tadi memperhatikan ekspresimu langsung mendatangimu dan menanyakan keadaanmu.

"(name)-cchi, kau tidak apa-apa –ssu?" tanyanya padamu.

"lupakan aku. Aku ingin menyendiri sebentar."

Kamu meninggalkan tempat pemotretan itu. Kamu merasa sangat hambar. Entah mengapa, memang hanya karena Aomine yang tadi berperilaku seperti itu tapi kamu merasa sangat aneh. Kamu merasa bahwa persahabatanmu dengan Aomine sudah benar-benar rapuh. Kadang, kamu teringat akan janji-janjimu dan Aomine pada masa kanak-kanak dulu. Rasanya sangat pedih, kenapa persahabatan seindah itu hancur ditelan waktu?

Karena terlalu larut ke dalam pemikiranmu, kamu tidak menyadari kalau ada yang mengikutimu dari tadi. Orang itu menyekapmu, kamu tidak bisa bernapas. Yang bisa kamu lihat saat itu hanyalah seseorang yang memakai jaket tebal dan hoodie yang menutupi wajahnya. Tiba-tiba kepalamu terasa pusing dan pada akhirnya kamu tidak sadarkan diri.


Saat kamu sadar, kamu sudah berada di sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Tanganmu diikat oleh tali, begitu pula dengan kakimu. Kamu berusaha melepaskan diri, namun tali itu diikat dengan sangat kuat sehingga kamu tidak bisa lepas.

"si.. sialan.." katamu dalam hati.

"wah, kau sudah bangun rupanya."

Tampak seseorang muncul dari balik pintu kamar mandi. Seseorang berambut kelabu dan bertelanjang dada. Wajahnya cukup tampan, tubuhnya pun atletis. Kamu teringat, dialah yang waktu itu menabrakmu di jalanan.

"Kisama.. siapa kau? apa maumu?"

"panggil saja aku Haizaki, dan tentu saja aku menculikmu, bodoh." Ujarnya dengan senyum kejam di wajahnya.

"tapi.. kalau hanya kuculik rasanya tidak cukup menyenangkan." Ia mulai memegang dagumu.

"aku akan memilikimu juga." Ia mengelus pipimu. Ingin sekali kamu menepis tangannya, namun berhubung tanganmu terikat kamu tidak bisa melakukannya.

Ia membuka kancing kemejamu, menjilat lehermu. Kamu berteriak, air mata mengalir ke pipimu. Kamu pasrah, tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan. Tapi…

BRAK!

"Haizaki-cchi! Jangan berani-beraninya kamu melukai (name)!" Kise tiba-tiba mendobrak pintu dan berteriak.

"Ki… Kise?" ujarmu lirih.

"ah, rupanya pengganggu ini datang juga." Haizaki menyeringai.

"Haizaki-cchi! Aku tidak akan memaafkanmu!" Kise langsung memukul Haizaki.

Yang dipukul juga tak terima. Mereka saling pukul di sana. Kamu hanya bisa melihat dengan ketakutan. Tubuh Kise yang berdarah-darah membuatmu semakin panik. Kamu tidak pernah melihat Kise menjadi seorang yandere seperti itu.

"kh.. aku meremehkanmu, Kise. Tapi kenapa kamu membela gadis milik si Aomine tolol itu? Lagi pula gadis itu tidak lebih dari mainan. Ia hanya boneka!"

Kise langsung memukul wajah Haizaki.

"lelaki mungkin bisa memainkan wanita seperti boneka, tapi ingatlah.. Laki-laki tidak main boneka!" Kise menarik tubuh Haizaki dan mendorongnya ke arah sehingga ia tak sadarkan diri lagi.

Kise menghampirimu dan memotong tali itu dengan sebuah pisau dapur. Lalu ia menutup kancing kemejamu.

"(name)-cchi? Kau tidak apa-apa kan?" tanyanya dengan lembut.

Mulutmu terasa seperti dikunci. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa, kamu hanya menangis. Kise memelukmu dengan lembut. Sontak kamu terkejut, namun pelukan itu terasa sangat hangat dan kamu tidak mau melepaskannya.

"Kise.. (name)..?"

"A.. Aomine-cchi?"

Tampak Aomine yang berdiri di depan pintu kamar hotel itu. Tiba-tiba wajahnya menjadi sangat kecewa, ia langsung pergi dari situ tanpa berkata apapun. Kamu hanya keheranan dengan tingkah lakunya itu. Setelah itu, Kise mengantarkanmu pulang. Sebenarnya kamu bisa pulang sendiri, namun Kise takut ada hal yang akan terjadi padamu lagi. Sesampaimu di rumah, kamu beristirahat. Kise duduk di sebelahmu.

"hm, Kise. Darimana kamu tahu kalau aku diculik?"

"bukankah kamu sendiri yang mengirimkan SMS itu?"

Kamu keheranan, seingatmu kamu tidak memegang HP sama sekali. Kamu mengecek HP mu. Ada 2 pesan aneh yang tiba-tiba muncul di sent items mu. "Aomine, tolong aku. Aku diculik dan dibawa lari ke sebuah hotel." Dan "Kise, tolong kemarilah. Aku diculik oleh seseorang yang aneh dan dibawa ke hotel XX"

"ap.. aku tidak pernah menulis pesan-pesan ini."

"eh?! Lalu? Haizaki-cchi?"

Kamu semakin bingung. Apa mungkin Haizaki yang menulis kedua pesan itu? Tapi kenapa? Bukankah dia ingin menculik orang, lalu kenapa dia menulis SMS seperti itu?

"Kise, kamu kenal dengan Haizaki?"

"iya –ssu! Dia dulunya juga bersekolah di sekolah yang sama dengan kita, lalu dia dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan mengonsumsi narkoba –ssu."

Kemudian suasana menjadi sangat hening.

KRUUUKK.

"eh? Ahaha maafkan aku, (name)-cchi. Aku lapar –ssu. Aku akan pesan makanan sebentar~"

Sementara Kise sedang keluar, kamu di dalam kamar memikirkan tentang Aomine. Kamu tahu kalau sebenarnya tadi Aomine datang untuk membantumu, namun Kise datang lebih dahulu. Atau mungkinkah Haizaki ingin mengadu dombakan mereka berdua.

"(name)-cchi, aku kembali –ssu! Eh? Yah dia tertidur."

Kise tersenyum melihatmu tertidur dengan pulas. Ia memegangi rambutmu yang halus dan menempelkan pipinya pada pipimu. Meski kamu sudah tertidur, kamu bisa merasakan kehangatannya.


Keesokan paginya, kamu terbangun. Kise sudah tidak ada di sana, mungkin dia sudah pulang kemarin. Kamu berjalan ke dapur dan menemukan sebuah bungkusan. Terdapat tulisan di bungkusan itu, yang bertuliskan:

"(name)-cchi, ini takoyaki kesukaanmu –ssu!"

Setelah memakan takoyaki dari Kise, kamu langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kamu mengunci pintu rumah dan berangkat ke sekolah dengan wajah mengantuk. Di tengah jalan, kamu tidak sengaja berpapasan dengan Aomine. Namun, wajahnya berubah menjadi sedih. Padahal biasanya Aomine selalu tertawa dan rusuh sendiri. Aomine juga tidak menoleh, ataupun menyapamu.

"A.. Aomine.." kamu memanggilnya. Entah kenapa kamu tidak bisa menahan tsunderemu lagi.

"jangan ganggu aku, (name). Bukankah kamu sudah punya Kise mu tersayang?"

Kamu jadi semakin merasa bersalah. Aomine tidak pernah berbicara dengan nada sedingin itu. Bahkan perkataannya lebih dingin daripada Akashi. Apakah Aomine cemburu? Kalau begini terus, semua janji, harapan, dan persahabatanmu akan hancur lebur.

"A.. Aomine.."


Sudah berminggu-minggu kejadian itu telah lewat. Namun kamu masih mengingatnya dengan jelas dan juga kamu tidak bisa melupakannya. Selama berminggu-minggu itu kamu bekerja sebagai model bersama Kise. Lama kelamaan kamu merasa bosan dan ingin keluar dari sana, namun kamu sungkan dengan Kise sehingga kamu mengurungkan niatmu itu. Suatu sore…

"nee, (name)-cchi. Yuk kita makan bersama! Kali ini akan kutraktir."

"terserah apa katamu, baka."

Kise tersenyum kecil, ia menggandeng tanganmu dan menarik (baca: menyeret)mu ke sebuah kedai okonomiyaki yang tak jauh dari sana. Kalian berdua masuk ke kedai itu. Keadaannya sangat ramai, kamu dan Kise sampai harus berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain. Yah, tak heran karena okonomiyaki di sana memang terkenal paling lezat. Kamu dan Kise langsung mengejar tempat duduk yang kosong dan kalian langsung tersenyum lega. Tapi…

"doumo, Kise-kun, (name)-san."

1 detik

1 menit

3 menit

"HUWEEEE!" kamu dan Kise langsung berteriak dengan gaya orang aneh. Sontak pengunjung kedai langsung melihat ke arah kalian berdua. Kamu yang jaim langsung duduk dan pura-pura membaca menu.

"apa yang kalian berdua lakukan disini?"

Kamu menoleh ke asal suara itu, ah.. itu Aomine.

"Aomine-cchi sejak kapan kamu disini –ssu!"

"Aomine-kun dan aku sudah duduk di sini sejak tadi."

Yak, kalau Kuroko yang tidak terlihat itu sih sudah biasa, namun kalau Aomine? Tentu saja itu mengagetkanmu. Anehnya, Aomine tidak merangkul Kuroko seperti biasanya, raut wajah Aomine juga berubah. Kamu menjadi semakin khawatir, namun kamu tidak berani mengungkapkannya pada Aomine.

Hening. Itulah suasana di mejamu.

"Hei, kalian berdua sudah jadian ya." Ucap Aomine yang langsung memecah keheningan.

Wajah Kise memerah, kamu hanya memalingkan muka dari Aomine. Bukan karena kamu malu, tapi karena kamu takut menatap wajah Aomine.

"ah, begitu rupanya. Selamat ya, Kise, (name)."

Kamu membelalakkan matamu. Ucapan Aomine barusan benar-benar dingin, tubuhmu serasa bergetar. Kamu menggigit bibirmu saking jengkelnya.

"Aomine-cchi, kau iri ya?"

Aomine langsung memukul Kise dengan kencang. Kamu dan Kuroko hanya memasang wajah terkejut. Kise mulai marah, Aomine pun juga begitu. Rasanya kamu ingin menangis saja dengan kelakuan mereka.

"Kalau kau tidak suka bilang saja!" Kise langsung menyentak Aomine.

"Aku sudah tak tahan lagi denganmu, Kise!" aomine juga tidak mau kalah.

"Diam!" tak sengaja kamu pun juga ikut berteriak. Karena malu, kamu langsung meninggalkan kedai itu dan berlari keluar. Kuroko yang dari tadi hanya diam akhirnya mengikutimu dari belakang.

Kamu duduk di bangku taman yang biasa kamu kunjungi, kamu menatap kosong ke arah langit malam. Antara kesal dan sedih bercampur menjadi satu.

"(name)-san." Sapa Kuroko padamu. Ia langsung duduk di sebelahmu, masih dengan wajah datarnya itu.

"Kuroko, aku lelah dengan mereka berdua." Katamu dengan lirih.

"(name)-san, bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"

kemudian kamu menceritakan semuanya pada Kuroko, mulai dari masa kecilmu dengan Aomine, Aomine yang menjauhimu karena sibuk bermain basket, Kise mengajakmu menjadi model, sampai kejadian Haizaki yang membuat kamu dan Aomine semakin menjauh. Kuroko mengangguk, matamu mulai banjir dengan air mata sehingga penduduk sekitar harus diungsikan ke –slap. Salah naskah.

"(name)-san terlalu banyak memikirkan hal-hal seperti itu. Seharusnya (name)-san langsung bilang pada Aomine-kun tentang apa yang terjadi." Kamu hanya mengangguk dan secara tak sadar air matamu menetes begitu saja.

"ah, (name)-san kau tidak apa-apa?" Kuroko yang terkejut karena kamu tiba-tiba menangis berlagak kebingungan. Ia takut kalau-kalau orang lain mengira dirinya yang membuatmu menangis.

"Ku.. Kuroko, apa yang harus aku lakukan…" tangisanmu semakin keras, untunglah taman itu sepi, dan sebenarnya hanya ada kamu dan Kuroko di sana.

"(name)-san.." Kuroko memelukmu dan menepuk-nepuk kepalamu dengan pelan. Kamu merasa sedikit tenang.

"Ayo, kuantar kamu pulang." Kamu hanya mengangguk. Sepanjang jalan Kuroko merangkul pundakmu dan menasehatimu. Yah, setidaknya kamu merasa sedikit lebih tenang.


Tibalah hari kelulusan para murid kelas 3 SMA Teikou. Semuanya tampak bergembira, ada yang berpeluk-pelukan, ada yang menangis, ada yang diam, ada yang makan keripik, ada yang disiram, ada yang ngupil, dan ada yang melakukan ritual membuang hajat di kamar mandi /dilempar.

Mungkin hari ini adalah hari yang paling berkesan bagi para murid itu. Namun, hari ini justru merupakan hari yang menyedihkan. Sudah lama kamu tidak bertemu dengan Aomine maupun Kise. Keduanya sudah tidak pernah Nampak batang hidungnya setelah kejadian di kedai okonomiyaki itu. Kamu juga sudah sangat jarang mendatangi tempat pemotretan. Yang terlintas di pikiranmu adalah "apa yang akan dilakukan mereka nanti ya?" ah, kalau Kise pasti melanjutkan karirnya sebagai model. Tapi Aomine? Apa dia akan jadi pemain basket?

Kamu melihat layar handphonemu yang tiba-tiba berbunyi. Terdapat sebuah pesan yang berisi 'selamat atas kelulusanmu, (name)-san. Kuroko Tetsuya.' Kamu membalas pesan itu dengan wajah datar.

Sesaat kemudian handphonemu berbunyi lagi. Ah, ini dari ibumu.

'bersiaplah untuk pergi ke Perguruan Tinggi Seirin, ibu mencintaimu nak muah muah 3. Peluk cium, okaa-san yang tercinta.'

Kamu menatap layar handphonemu dengan wajah yang sedikity (baca: sangat) risih. Memang sih ibumu alay, tapi kenapa ngirimnya harus disaat kayak gini coba.

Kamu berpikir lagi, Perguruan Tinggi Seirin. Kuroko juga akan melanjutkan di sana. Kamu sedikit kesal, namun akhirnya kamu menjalaninya dengan biasa saja.


2 tahun berlalu, kamu sedang berjalan pulang dari Perguruan Tinggi Seirin. Seperti biasa, wajahmu tetap datar. Sebenarnya kamu sudah tidak mementingkan Aomine maupun Kise sih, kamu sedang sibuk menjalani hari-harimu di perguruan tinggi. Kamu mampir ke sebuah café untuk makan sebentar. Baru saja menjejakkan kaki di depan pintu café, tiba-tiba ada yang menyekap mulutmu. Kamu terkejut dan berusaha menendang orang yang menyekapmu itu. Namun orang itu lebih kuat darimu sehingga yang kamu lakukan tidak berhasil sama sekali.

Ia membawamu ke sebuah tempat yang sepi, hanya ada tumpukan batu bata di sana. Kamu berusaha berteriak mencari pertolongan, namun apa daya mulutmu ditutup dengan rapat. Orang itu menatapmu dengan tajam, tampaknya ia adalah seorang pemerkosa yang sedang dibicarakan di media televisi itu. Kamu bingung, satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan yaitu menangis. Orang itu mengancammu dengan pisau. Kamu menutup matamu.

DUAR.

Terdengar suara ledakan, ketika kamu membuka matamu, orang yang menyekapmu sudah tumbang dengan kedua kakinya yang mengeluarkan darah. Kamu terbelalak. Karena yang kamu lihat saat ini adalah…

"syukurlah kamu tidak apa-apa." ia tersenyum dan berjalan mendekatimu.

Ia membuka penutup mulutmu, melepas ikatan di tangan dan kakimu. Lalu ia memelukmu dengan erat.

"A.. Aomine?"

"(name)… aku sudah menepati janji kita, kan?"

Kamu hanya bisa diam dengan air mata membanjir.

"meski aku bodoh, meski aku tidak bisa memberimu banyak uang seperti Kise, aku akan melindungimu meski harus mengorbankan nyawaku sendiri."

Yah, air matamu pun menetes.

"(name), maukah kau.."

Wajahnya memerah saudara-saudara!

"maukah kau.. menjadi…"

DOKI DOKI DOKI.

"Suamiku?"

1 menit

2 menit

3 menit

Kamu memukul Aomine dengan pentungan maling.

"ah, iya iya maafkan aku! Ampun! Demi Mai-chan yang bohay tolong stop mukulin gue!"

Kemudian ia menjadi serius lagi.

"(name), kali ini aku serius. Aku akan membawamu ke dunia yang kita impikan dulu. Dan.. Apa kau mau menjadi kekasihku untuk selamanya?"

.

.

.

YEEEYYY SELESAI SSU! LALALALALAAA~~~ /dilempar.

Okeh maaf kalau alurnya terlalu cepat (lagi). Dan tolong maafkan kalau kalimatnya ga jelas. Itu karena author kuberga, tau kuberga? Kurang bergaul. /dibanting

Sekian, makasih. Bocoran: coming soon! Murasakibara Atsushi, author's beloved fiancée /sandalmanasandal