tanpa banyak basa-basi langsung saja :D
Semenjak Lucy mengundurkan diri dari perusahaan Dragnnel Corp, sikap Natsu kepada bawahannya berubah drastis. Perubahan tersebut cukup membuat semua yang bekerja padanya terheran heran. Walaupun begitu Natsu tetaplah Natsu. Perubahan itu hanya berlaku pada pagi hari saja. Selepas masuk siang hari sikapnya kembali seperti biasa, angkuh, dan sombong. Bahkan sahabatnya yang juga rival abadi tak habis pikir dengan sikap Natsu.
Dan juga akhir-akhir ini Natsu lebih banyak termenung sendirian di ruang kerjanya. Dahinya mengekerut, ia tengah berpikir keras. Ia berbaring di sofa besar.
"Apa aku harus meminta maaf padanya langsung?"
Sesekali ia menghela nafas.
"Baiklah.. aku akan meminta maaf padanya nanti.." ucapnya bersemangat.
kriiiiinngggg... telepon kantornya berdering. Dengan sigap ia menjawab telepon tersebut.
"Moshi-mos-"
"NATSU ! BEBERAPA HARI INI KAU TAK MENGIRIMKAN LAPORAN HARIAN KEPADAKU ! KEMANA SAJA KAU ?!" bentak seseorang ditelepon dan Natsu menjauhkan telepon tersebut dari telinganya.
"NATSU ! JAWAB AYAH !" dan ternyata si penelepon tersebut adalah ayahnya.
"Pelankan suaramu sedikit ayah, tak perlu berteriak begitu.. aku sudah dengar. " ucap Natsu datar.
"APA ?! DASAR ANAK KERAS KEPALA ! CEPAT KIRIMKAN ATAU JABATANMU AYAH SERAHKAN PADA STING !"
Apa? rambut landak itu?
"T-tidak ayah.. baiklah akan ku kirim secepatnya ! tapi jangan serahkan jabatanku padanya ! aku tak sudi !" nada suara Natsu meninggi.
"BAIKLAH.."
tut.!
Telepon dimatikan sepihak.
"Dasar orang tua! " umpat Natsu.
Natsu memencet angka-angka pada telepon tersebut dan hendak menelepon seseorang.
"Halo.. Hibiki ! ada pekerjaan untukmu.. kirimkan laporan dari seminggu lalu kepada Tuan Igneel secepatnya.."
Klek. Telepon dimatikan oleh Natsu tanpa mendengarkan jawaban seseorang ditelepon tadi. Kejam betul monster Dragnnel itu.
"Takkan ku biarkan rambut landak itu merebut jabatanku.." tangan Natsu mengepal dan tatapannya tajam.
XXX
"Lucy.. jadi siapa penggemar setiamu itu yang selalu mengirimimu bunga ?" tanya gadis berambut scarlet sambil menyesap hangatnya teh dalam cangkir.
"Ia sungguh tergila-gila padamu Lu-chan sampai-sampai ia rela memanjat dan meletakkan di balkon kamarmu.." ujar gadis berambut navy blue dengan bando kuning.
"Aku tak tau Levy-chan, Erza... pernah beberapa hari yang lalu aku ingin menjebak dan memergoki siapa orang yang selalu mengirimkanku bunga, tapi hasilnya nihil.. sampai aku rela begadang demi mengetahui siapa pelakunya, eh tak ada penampakan sedikitpun dari orang itu. Dan pagi harinya saat aku membuka jendela sudah tergeletak sebuket bunga mawar disana.." jelas Lucy.
"Aku semakin penasaran siapa yang mengerimiku bunga.. kalian tau? sekarang apartemenku dipenuhi bunga-bunga sampai bingung harus ku letakkan dimana lagi.." Lanjutnya.
"Kami yang hanya mendengar dari ceritamu saja sudah penasaran, apalagi kau Lu-chan.." Ujar Levy.
Erza mengangguk. "Kalau aku jadi kau, jika orang itu tertangkap akan ku ikat di pagar balkon dan menelanjanginya.." tawa mematikan menghiasi wajah Erza. Lucy dan Levy bergidik ngeri melihat tingkah sahabatnya itu. Jika Erza sedang serius, mereka harus cepat-cepat menjaga jarak agar tak terkena imbasnya.
"Mengerikan.." ucap mereka bersamaan.
"Oh Lu-chan, apa ada yang bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui siapa yang mengirimimu bunga?" tanya Levy. Gadis pirang tersebit berpikir sejenak.
"Kurasa tidak ada.. tapi.. Eh ! Tunggu sebentar !" Lucy berlari ke kamarnya. Erza dan Levy saling berpandangan.
Beberapa menit kemudian Lucy kembali ke ruang tamu dimana kedua sahabatnya itu sedang bercengkrema. Ia membawa sekeranjang kartu ucapan berbagai bentuk dan warna. Lalu ia letakkan diatas meja yang berada di hadapan mereka.
"Apa ini?" Erza memandang keranjang kecil yang penuh dengan kartu ucapan.
"Ini mungkin bisa jadi petunjuk untuk mengetahui siapa pelakunya.." Lucy mengambil satu dari kartu tersebut dan memperlihatkan tulisan didalamnya kepada Erza dan Levy.
"Disini ada tulisan ND, mungkin sebuah inisial dari pengirimnya.." Lanjutnya sambil menunjuk dua huruf besar di sudut kartu tersebut.
"Jelek sekali tulisannya.." ucap Erza.
"Bukan itu yang ku maksud Erza." Lucy menyadari Erza tak memperhatikan penjelasannya.
"Ya aku tau, kalau dilihat dari tulisannya yang sejelek ini, mungkin orangnya.." Erza membayangkan penggemar rahasia Lucy bergigi tonggos, rambut gondrong kusut, hidung besar dengan lubang hidung terlihat dari depan, kulit hitam, dan pokoknya mengerikan.
"Hei! jangan membayangkan yang tidak-tidak !" suara tinggi Lucy membuyarkan Erza.
"ND? apakah ada temanmu yang berinisial dengan huruf tersebut Lu-chan.." tanya Levy yang membawa beberapa kertas di tangannya.
"Hnnnn.. setahu ku tak ada dengan inisial itu Levy-chan.." Ucap gadis pirang itu.
"Bagaimana jika kau bertemu dengan orang itu Lucy?" Erza bertanya.
"Aku? bertemu? hnnn..." Ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. " Kalau laki-laki akan kujadikan suami, dan kalau perempuan... kujadikan sahabat.." Lucy tersenyum. Erza dan Levy menatapnya tak percaya.
Secepat itu ?
Memutuskan ?
"T-tunggu tunggu.. b-bagaimana jika dia orang dalam bayanganku tadi?!" Erza berpikir terlalu jauh dan membayangkan tentang sosok penggemar Lucy yang mengerikan.
"Erza.. kau berlebihan..." Lucy menggeleng-geleng.
"Lu-chan apa kau yakin? kau saja belum tau siapa orang itu, belum tau asal-usulnya.. bagaimana jika dia seorang preman atau pecandu Narkoba?" Levy angkat bicara.
"Anooo Levy-chan, Lalu bagaimana dengan kekasihmu itu?" goda Lucy. Seketika gadis berambut navy blus tersebut tediam menyadari bahwa kekasihnya juga seorang preman.
"Oh Lucy..."
"Ada apa Erza ?"
"Salah seorang temanku mempunyai nama yang sama dengan inisial penggemar rahasiamu itu, tapi aku tidak yakin.." ucap Erza.
"Ha? benarkah? siapa dia?" Tanya Lucy bersemangat dengan mata berbinar.
"Dia adalah..."
XXX
"Ini Dragneel-sama minuman anda.." seorang berpakaian office boy meletakkan secangkir kopi di meja kerja pemuda bersurai pinkish pemilik perusahaan tersebut.
"Hn"
Ia hanya menjawab singkat dan melirik mematikan kearah office boy tadi. Offoce boy yang mengetahui lirikan Monster Dragnel itu segera bergegas meninggalkan ruangan atasannya. Kebanyakan karyawan yang mengunjungi ruangan bos besar itu ingin segera bergegas pergi walaupun hanya sekedar memberikan laporan atau berkas yang harus Pemuda itu tandatangani. Mereka tak mau mengambil resiko 'gaji dipotong' oleh atasannya tersebut.
"Hoey Natsu ! mau sampai kapan kau bersikap seperti itu pada karyawanmu?" seorang pemuda yang juga sahabat rival hidupnya masuk tanpa permisi. Sudah menjafi kebiasaan pemuda itu jika masuk di ruangan Natsu tanpa mengetuk dulu.
"Pakai pakaianmu dulu sebelum bicara padaku !" Natsu menatap datar sahabatnya yang hanya mengenakan boxer lebah (lagi) dan singlet putih tipis serta dasi merah yang menggantung di leher.
"Ck, Lupakan saja ! oh ya aku ingin bertanya sesuatu padamu.." Natsu menaikkan satu alisnya.
"Soal Lucy.." Gray duduk di sofa besar yang tersedia dan menaikkan kakinya keatas bak putra raja.
"Memangnya ada apa?" tanya Natsu lagi tanpa mengurangi nada datarnya.
"Apa kau menyukai Lucy?"
Natsu memejamkan matanya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Woy ! " Gray melemparkan bantal sofa kecil tepat kearah wajah Natsu.
Puk.
"Entahlah es batu.. aku tak tau.." jawabnya pelan.
"Dasar kau ! kalau soal wanita kau sangat bodoh melebihiku !" Gray mengejek Natsu namun pemuda pink itu sama sekali tak bergeming.
"Bagaimana kalau untukku saja ?!" ucap Gray lagi.
Natsu bangkit, manik matanya membesar. Ia mendekati Gray dan tangannya yang mengepal ia perlihatkan tepat di depan wajah pemuda yang sekarang hanya memakai boxer saja.
"Jika kau mendekatinya dan menyentuhnya walaupun seujung rambut, tak segan-segan aku mendaratkan ini di wajah mesummu !" ucap Natsu sambil menunjukkan tangannya yang mengepal erat.
"Cih ! "
Natsu kembali duduk di kursi kerjanya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya kedalam berkas-berkas dan map yang sudah beberapa hari belum ia tandatangani.
"Natsu ! aku tak tau apa yang kau pikirkan dan aku juga tak tau apa yang kau rasakan.. aku sudah berkali-kali mengatakannya padamu. Bergegaslah atau kau akan menyesal nantinya !" Gray meninggalkan ruangan tersebut beserta penghuninya.
Terikan demi teriakan para karyawan wanita menggema. Pasalnya Gray berjalan dengan tenang tanpa menyadari bahwa tubuhnya tak lagi tertutupi pakaian. Hanya dasi saja yang menggantung, tapi itu tak cukup untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Pasangan sahabat serta rival yang aneh.
XXX
Lucy mondar-mandir di kamar apartemennya dengan frying pan ditangan kanan.
"Tali check.. karung check.. perangkap tikus check.. oli check.. semuanya sudah ada disini.." Ia menutup jendela besar kamarnya tanpa mengunci. Lampu di kamar ia matikan.
pukul 11 malam.
Lucy bersembunyi dibawah meja belajarnya yang berada disamping jendela. Sehingga ia diam-diam bisa mengintip balkon kamarnya. Tangannya menggenggam sebuah frying pan yang berguna jika ada sesuatu yang mencurigakan. Sebuah tali yang biasanya untuk membuat jemuran ia kalungkan di leher. Tak lupa ia mengelabui sang 'pengirim bunga' dengan bantak guling yang tertutup selimut seperti seseorang yang sedang tertidur.
pukul 2 dini hari.
Belum ada tanda-tanda dari orang yang mencurigakan memanjat balkonnya. Ia sesekali menguap dan mengintip jendela tersebut. Keadaannya sekarang ia lebih cocok sebagai pemburu maling atau perampok atau para tentara yang sedang bergerilya mengendap-endap mengintai mangsanya. Sebelumnya ia sudah melumuri lantai balkonnya dengan oli yang ia dapat dari bengkel dekat rumahnya.
pukul 3 dini hari.
Belum ada penampakan seseorang yang mencurigakan. Lucy semakin sering menguap. Daya matanya pun tinggal 5 watt pertanda matanya tak lagi bisa dikompromikan untuk terbuka terlalu lama.
Sebentar lagi. Sebentar lagi. batinnya.
pukul 5 dini hari.
Akibat rasa kantuknya yang tak tertahankan Lucy terlelap namun masih bisa mendengar suara-suara di luar apartemennya. Sesekali ia terbangun dan akhirnya terlelap lagi.
Sreeeekk.. kkrrreeessseekk.. suara daun dan ranting kering terinjak.
Tap..tap..tap.. suara seseorang sedang memanjat sebuah dinding membuat Lucy terbangun dari tidurnya. Ia masih bersembunyi dibawah meja belajarnya. Lalu mencoba mengintip dari jendela.
Benar saja !
Seseorang tengah memanjat apartemenmiliknya. Sebuah tangan kekar memegang pagar balkon mencoba untuk naik ke balkon kamarnya. Saat orang tersebut sukses memanjat balkon tersebut dan masih dalam posisi dipagar balkon, Lucy melihat samar-samar pengirim bunga tersebut. Jaket hoodie serta masker wajah menutupi tubuh bagian atasnya hingga kepala.
Bukankah itu pemuda yang tempohari di toko bunga milik paman? pantas saja saat itu aku menatap matanya dia terkejut.. mungkinkah.. batin Lucy.
Ia kembali memperhatikan orang itu. Lucy melihat orang itu membuka resleting jaket hoodie yang ia pakai namun tak sampai terlepas, orang itu mengambil sebuah benda yang ternyata... sebuah buket mawar merah.
Orang itu meletakkannya pada lantai balkon yang biasanya terdapat buket bunga yang tergeletak. Kemudian ia mencoba melompati pagar balkon dan saat akan mendarat pada lantai balkon...
BRRRRRRAAAAAAAKKKK.
Orang tersebut terpeleset akibat oli yang tercecer memenuhi lantai balkon dan berhasil mendarat dengan pantatnya.
'Ittai.." ucap orang itu.
Lucy mendengar jelas suara jatuh dan rintihan orang tersebut. Ia memberanikan diri untuk bangkit dan mendekati orang itu dengan mengendap-endap. Frying pan dirangannya ia genggam erat dan memasang kuda-kuda seperti orang yang akan menangkis bola tennis. Lucy berhasil membuka jendela tersebut dengan pelan. Lantas mendekati orang tersebut yang masih terduduk di lantai balkon.
Orang misterius itu menoleh kearah Lucy.
"WWWWWWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !" teriak mereka bersamaan.
Saat orang tersebut hendak kabur Lucy mengayunkan frying pan tersebut.
CLANG !
Orang itu pingsan seketika.
tunggu chapter selanjutnya...
Yyyyyoooosssshhhaaaa.. selesai sudah chapter 4 ini.. Lumayan susah nyari kata-kata yang pas T,T.. bagai mana? bagai mana? Lanjut lagi kah? :D untuk kritik dan saran sangat diperlukan sekali..
#blackschool : yyyooosh sudah selesai black-san semoga suka kelanjutannya.
#Nagi-san : wkwkw suka gemes aja baca kalo natsunya yang nyebelin. okedeh fic ini masih lanjut sampai selesai, tapi gk tau sampai chap berapa hehehe.. :P
#helloxygen : yah udah kebiasaan gray dari animenya suka lepas baju tanpa sadar wkwkw akhirnya cuman tinggal pake boxer wkw arigatooo :D
#aku : yahh yah mungkin saja :D bisa jadi hahaa..
arigatou buat para readers yang setia nungguin chap berikutnya... bagaimana chap ini? tambah gaje yak :D
Review please :D biar tambah semangat ngelanjutinnya.. see next chapy..
