Terimakasih atas reviewnya! Kalian bikin aku semangat buat update fic. Kalau gitu, aku akan coba lebih baik lagi! Maaf karena aku sangat telat update nya, penghalangnya banyak buat aku update fict ini. Dari mulai puasa yang bikin aku males ngapa-ngapain, lebaran yang sibuk ngitung THR (hehe) sama tugas sekolah yang udah nunggu. Kalo gitu lanjutin deh bacanya
CHAPTER III
Aku tidak tahan !
Prang !
Gaara yang tadi menunduk kesal, melempar cangkir berisi teh yang kubawa, kemudian memelukku erat, sangat erat sampai bisa *jika Gaara ingin meruntukkan tulangku.
"Kau dengar semua itu 'kan Naru?" Tanyanya terisak. Gaara…. Menangis? Akupun hanya bisa diam. Tak percaya apakah begini sesungguhnya orang yang menemani hari-hariku? Akhirnya, kau bisa jujur didepanku, Gaara-kun. "Dia akan merebutmu dariku." Tangisnya belum berhenti juga. Aku menghargainya, sangat menghargai tangisan ini. "Aku tak mau kau pergi, Naru-chan."
"Memangnya siapa yang mau pergi?" Tanyaku, cukup membuatnya tergelak. "Memangnya siapa yang mau pergi bersama Sasuke? Aku tidak." Senyumnya mengembang, kemudian Gaara memelukku lagi lebih erat. Tapi tidak dengan rasa memaksanya, aku pun membalas. Memangnya siapa yang mau pergi denganmu, teme? Gaara lebih membutuhkanku, aku mencintainya. Dan setidaknya aku tak perlu ragu lag dengan perasaanku.
"Eh, tunggu sebentar. Sepertinya ada yang masih berhutang padaku." Pelukannya terlepas, tangisnya pun sudah reda. Dan sekarang matanya menatap nakal padaku.
"Oh ya? Kira-kira siapa ya?" Kataku sok inosen, padahal aku tau dia sedang membicarakan janji tadi pagi.
"Huh, padahal aku sudah bela-bela pulang lebih awal." Sekarang mimiknya dibuat semelas mungkin.
"Iya ya, kalau begitu kenapa masih tanya aku lagi? Ambil apa yang menjadi hak mu." Kataku nakal. Matanya berkilat-kilat menatapku, kemudian senyumnya mengembang jauh lebih lebar dari sebelumnya. Sedetik kemudian aku sudah berada dalam gendongannya.
"Ugh."
"N-naru chan." Gaara mengusap wajah kekasihnya yang penuh peluh.
"Mmh, akh lanj-juth-kanh s-saj-jah Gaara-kunh." Naru meraih tangan Gaara dan menggenggamnya erat. "Gaara, k-khau b-bhisa leb-bhih cep-phat?"
Gaara memundurkan badannya perlahan, kemudian menghentakkannya keras kedepan, membuat Naru melenguh panjang.
"Uuuungh!" Lenguhan panjang Naru disusul oleh Gaara yang ambruk setelahnya. Cairan putih kental mengalir begitu saja dari sela-sela paha Naru. "Akuh m-menchintaimuh." Kata Gaara tersengal-sengal. Kemudian dia tertidur pulas setelah sebelumnya menjatuhkan diri disamping Naru.
06.00 AM
Aku tidak tahu sudah berapa jam aku memandanginya. Wajahnya yang tertidur pulas membuatku gemas, kontras dengan wajahnya kemarin sore. Wajahnya yang berlinangan air mata, dan memintaku agar tidak pergi. Aku selalu ingin tertawa jika mengingatnya.
"Tampan." Godaku sambil meniup telinganya, dia bergidik geli tanpa membuka matanya. "Kau tidak mau mandi? Tubuhmu bau." Kataku mengejek, membuatnya membuka mata perlahan.
"Tidak aah~ aku maunya bersama-sama." Cetusnya manja sambil meringkuk di dalam selimut dan mendekapkan wajahnya didadaku. "Nah disini hangat, lebih enak dari pada mandi." Gumamnya. Aku tersenyum kecil dan membalas pelukannya.
SASUKE POV
Sebuah sentuhan yang lembut membangunkanku. Bayangan oranye memaksaku untuk membuka mata lebih lebar lagi. Tanpa aku sadari setitik harapan kembali muncul, Naru-chan.
Meow
Ah? Naru-chan? Dia tak berubah menjadi seekor kucing, kan?
Meow
Kubuka mataku lebih lebar lagi, tak kutemukan Naru-chan disana. Menyedihkan, sebegitu berharapnya kah aku atas kehadiranmu? Lima tahun disini, dipadang rumput ini aku berjanji akan menghilangkan semua rasa sakitmu pada banci berambut merah itu kan? Tapi mengapa justru dia yang kau pilih sekarang? Sekali lagi, aku hanya bisa meratapi kekalahanku. Sekarang, dan bukan untuk keesokan harinya. Karena aku masih yakin kau akan kembali dan meminta aku untuk menyembuhkan lukamu, lagi.
"Jadilah seorang saksi atas kemenanganku." Kataku ada kucing itu.
NARUTO POV
Sepertinya Gaara sudah bisa sedikit melupakan kejadian kemarin. Dia sedang menonton TV di ruang keluarga. Hari ini dia Nampak ceria, sampai-sampai dia memaksa untuk membolos kerja. Meskiun awalnya aku tak setuju, tapi dia merayuku dengan membuatkan mocca hangat dan roti bakar untuk sarapanku. Sungguh rayuan yang biasa, tapi toh bisa membuatku luluh juga.
"Hey!" Gaara menubruk tubuhku dari belakang dan meraih pinggangku kedalam pelukannya. Hampir membuat piring-piring ditanganku jatuh dan pecah. "Aku baru mendapatkan permainan yang asyik."
"Aku sedang mencuci piring, Gaara. Setelah aku selesai, beru kita akan bermain permainanmu itu." Jawabku mengelak.
"Aah pokoknya kita main sekarang!" Paksanya manja. "Kalau tidak aku akan bermain dengan perempuan lain saja, nama permainanya memelukmu seharian!" serunya girang.
"Awas kalau kau berani macam-macam!" Geramku.
"Maka dari itu, ayo kita main!" Kepalanya diletakkan disela pundak dan leherku. Membuatku geli.
"Nanti aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak mau ah."
"Kalau kau tidak bisa apa-apa memangnya kenapa? Atau kau maunya apa-apa ya?" Ujarnya meledek. Membuat semburat merah dipipiku muncul begitu saja.
"Gaara sudahlah, lepaskan dulu ya." Aku menaruh piring di bak cucian dan hendak melepas tangan Gaara dari pinggangku. Tapi dia justru mengeratkan pelukannya.
"Tidak aah~"
"Kalau kukasih hadiah?" Tawarku.
"Apa itu?" Tanya-nya mulai penasaran.
"Satu permintaan, apa saja." Jawabku, sekarang aku malah bersandar di dadanya dan menggenggam erat kedua tangannya yang memeluk pinggangku.
"Kalau aku minta kau menciumku? Dari dulu selalu aku yang menciummu." Gaara memanyunkan bibirnya.
"Baik."
Aku mengeratkan tangan Gaara yang memeluk pinggangku, menuntunnya agar sedikit melemah. Setelah itupun aku berbalik, berhadapan dengannya. Dia menangkap pinggangku dan menaruh tubuhku diatas meja makan. Kakiku kukalungkan dipinggangnya. Sejurus kemudian kuletakkan tanganku dipundaknya begitu pula tangannya dipinggangku. Dan tanpa diperintah bibirku mengecup mengulum bibirnya yang hangat itu, tanganku refleks menjanggut rambutnya, meminta lebih.
"Huh." Aku melepaskan kulumanku, mengambil nafasku yang tinggal sepertiga.
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu kalau kau hebat?" Tanyanya nakal.
"Gaara!" Kalimatnya sukses membuat semburat merah itu muncul lagi dari pipiku yang berwarna caramel ini.
"Aku akan meminta ini kalau kau memohon sesuatu padaku, seperti tadi."
"Silahkan, toh kau sudah melakukan yang lebiiih parah." Aku turun dari atas meja dan memeluknya erat. "Aku mencintaimu tau."
"Aku juga, sangat sangat mencintaimu." Tangannya yang besar mengusap rambutku lembut.
"Kalau begitu hari ini kita kerumah ibumu ya? Kita bicarakan soal pernikahan kita." Ujarnya terus terang. Membuatku melepas pelukannya, mencari gurauan di tatapannya namun malah keseriusan yang aku dapat.
"Kau serius?"
"Sangat serius. Kau tidak senang?"
"Jangan becanda, aku malah menunggu ini sejak setahun lalu. Apa alasannya sampai bisa aku tidak senang?" Gaara memeluk pinggangku, merapatkan tubuhku ke tubuhnya.
"Aku kira, saat kemarin kau mendengar semuanya kau akan meninggalkanku dan pergi bersama.." Bibirnya beku, seperti ragu mengucapkan sesuatu. "Sasuke."
"Apa maksudmu? Aku sudah bilang kan-"
"Tapi aku kurang percaya padamu." Hening, matanya nanar menatap sekelilingku, tidak pada mataku.
"Gaara.." Tanganku mengelus pipinya lembut. "Jangan katakan itu." Mataku terasa panas, tanpa sadar embun hangat membasahi pipiku. "Jangan katakan itu, Gaara."
"Maaf."
NORMAL POV
Seperti pernyataan Gaara tadi pagi. Dia dan Naru sekarang sedang berada di kediaman Kushina, ibu Naru. Ayah Naru seorang komandan militer, dia tidak diketemukan hidup pada saat terjadi peperangan. Sedangkan ibunya sekarang telah menjadi orang yang dingin, tertutup.
"Apa kau yakin Gaara?" Tanya Kushina sambil menyeruput tehnya.
"Saya yakin, bu. Saya dan Naru sudah bertunangan selama satu setengah tahun. Jadi saya kira sudah waktunya untuk membuka jalan yang lebih panjang lagi." Jawab Gaara penuh kesungguhan. Gaara melirik sebentar kearah Naru yang masih tertunduk pasrah.
"Bagaimana denganmu, Naru?" Tanya Kushina pada anaknya. Yang ditanya masih terbengong-bengong, masih ragu untuk menjawab apa.
"A-aku yakin, bu." Jawab Naru agak terbata.
"Baiklah kalau begitu, kalian persiapkan saja semua keperluannya." Kata Kushina singkat, kemudian pergi.
Gaara tertunduk, begitupun Naru. Mereka seperti berkecimpung dalam pikirannya masing-masing.
"Kau tidak yakin, kan?" Tanya Gaara tiba-tiba. Naru terdiam sebentar.
"Aku yakin, Gaara."
"Lalu kenapa perkataanmu tadi terasa beda dengan apa yang ada dihatimu?! Bahkan sepertinya ibumu sendiri sudah tau!" Amarah Gaara sudah memuncak.
"Aku yakin, aku yakin!"
"Tidak! Kau bohong! Sekarang bilang pada ibumu kalau kau tidak yakin! Cepat!" Bentak Gaara.
"Aku yakin!" Jawab Naru terisak airmatanya jatuh sedari tadi. "Aku mohon, aku yakin Gaara."
"Percuma kalau kau terus bohong seperti itu, bukan hanya rencana pernikahan kita saja yang batal tetapi juga pertunangan kita!" Bentak Gaara ikut terisak.
"Tidak!" Naru bangkit dan memeluk kekasihnya. "Aku yakin Gaara, percaya padaku. Aku mohon."
