Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : OOC. Slight humor-romance scene. Hints for TobiramaIzuna.


Chapter Four

Behind The Moonlight


Izuna melompat dari satu dahan pohon ke pohon lain dengan cepat. Tujuannya adalah Gunung Jofuku yang terpisah cukup jauh dari kediaman Uchiha tinggal. Dia mendengar rumor ada bunga yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja tumbuh di kaki gunung tersebut. Tidak ada kepastian rumor yang didengarnya terbukti jelas. Namun, Izuna tidak bisa mengabaikan rumor seperti ini. Situasi perang tak juga menunjukkan tanda-tanda situasi klan membaik dengan absennya sang pemimpin, Madara. Izuna tak bisa membiarkan penglihatan kakak kandungnya terkurung dalam kegelapan lebih lama lagi. Mereka Uchiha adalah klan yang mengandalkan kekuatan sharingan. Bunga obat di Gunung Jofuku itu harus dicarinya. Entah benar atau tidak, Izuna harus mendapatkannya demi klan dan kakaknya.

Selagi pikiran masih berada dalam batas harapan dan kebimbangan, tiba-tiba sebuah suara berteriak ke arahnya, "AWAS!"

Telat.

Saat Izuna menoleh ke arah kanan asal teriakan, dia langsung menutup mata secara reflek karena ledakan tak jauh mengenainya. Meski melindungi kepala dengan kedua tangan, Izuna bisa merasakan panas dari ledakan yang perlahan menjauh membuatnya sadar seseorang membawa tubuhnya sehingga Izuna terlindungi dari ledakan bom kertas barusan. Mereka berdua terguling akibat ledakan dan menabrak rawa-rawa dengan posisi Izuna terlindungi.

"Ugh," suara dari si pelindung Izuna itu keluar ketika keduanya terhenti menabrak pohon dan mulai duduk. "Kau tidak apa-apa?" Tanya si pelindung itu. Izuna mengambil kunai lalu mengarahkan ke si pelindung yang kini posisinya ia dorong sehingga berada di bawah tubuhnya. "Hei, hei, aku menyelamatkanmu, tena—"

DHUAR!

Terdengar ledakan lagi di dekat mereka membuat Izuna merendahkan badan menghindari efek ledakan memposisikan telinga kirinya dekat dengan si pelindung yang berkata, "Cih, belum bisa tenang rupanya."

Izuna merasa kedua tangan si pelindung melingkari punggungnya lalu detik berikutnya tubuh Izunalah yang berada dibawah si pelindung. "Kita bicara nanti, Nona," Izuna melihat mata berwarna ruby itu memandang ke arah ledakan dan suara-suara manusia perlahan mendekat. "Akan kuselesaikan dengan cepat."

Tanpa memberi waktu Izuna untuk merespon kalau ia bukan perempuan, si pelindung telah pergi ke arah suara-suara orang yang menyerang bersamaan. Izuna hanya bisa melihat punggung si pelindung yang menggunakan jurus elemen air menghadapi keroyokan penyerangan itu. Si pelindung itu memiliki rambut perak. Dari cara bertarungnya, Izuna tahu pelindung berambut perak itu lebih kuat dari orang yang menyerangnya sekarang. Adik pemimpin klan pengguna jurus api ini menyimpan lagi kunai, membalikkan badan untuk segera pergi tapi nyeri di lengan kiri menghentikannya. Ketika ia melihat, ada memar biru membengkak di sana. Izuna menghela nafas lalu menjauh ke tempat aman dibalik satu pohon. Ia duduk memeriksa lengan kirinya. Beberapa waktu berlalu sampai Izuna selesai melakukan pengobatan pertama untuk lengan kiri itu.

"Ternyata kau disini, Nona."

Izuna menoleh ke sebelah dimana pria dengan rambut putih lancip serta bermata ruby memandangnya, "Tadi kan sudah kubilang kita bicara nanti, kasar sekali langsung pergi begitu saja, Nona."

Set!

Kunai diarahkan secara melintang ke pria yang dengan mudah menghindar. Izuna tahu pria ini bukan orang biasa karena bisa mendekati dirinya dengan menghilangkan keberadaan. "Oi, oi, tenang dulu," ujar pria berambut perak itu terpaksa mundur beberapa langkah. "Tidak ada yang perlu dibicarakan," tanggap Izuna tanpa menurunkan kunai yang telah terkunci dalam posisi siap menyerang, "tapi pastikan dulu sebelum kau memanggil orang dengan Nona."

"Hm?" Wajah pria itu terkejut, "Kau laki-laki?"

Izuna hanya diam tidak menjawab membiarkan si rambut perak terdengar bercanda namun mengejek baginya, "Dengan wajah seperti itu, kau pasti lebih populer dibanding kunoichi."

"Aku tidak punya waktu menanggapimu," Izuna menurunkan kunai lalu berbalik hendak pergi. Si rambut perak menghentikannya, "Tunggu, tunggu, aku belum minta maaf."

Pimpinan sementara Uchiha ini membalikkan badan, "Minta maaf?"

"Ya," pria rambut perak itu mendekati Izuna, "aku yang tadi diincar mereka, jadi selagi melempar senjata tadi kau ikut terkena. Aku minta maaf."

"Tidak masalah."

Lagipula tadi sedikit salah Izuna sendiri yang tidak menyadari sekitarnya. Padahal kalau biasanya ia bisa dengan mudah menghindar jika tak banyak pikiran seperti tadi. Begitu sudah saling berdiri berhadapan, mata ruby si rambut perak tak meninggalkan wajah Izuna. Memperhatikan dengan seksama. Membuat Izuna bertanya, "Apa?"

"Rasanya aku pernah melihat wajahmu itu, tapi dimana ya?"

Izuna menatapnya datar tak berminat. "Nona" dan kalimat barusan menjadi acuan Izuna menyimpulkan dengan tenang, "Tidak ada gunanya merayuku."

"Hah?" Si rambut perak baru mengerti jawaban Izuna setelah mengingat bahwa tadi dia memanggil "nona" dan sekarang mengatakan pernah melihat wajah lawan bicaranya ini. "Bu-bukan! Aku ini sungguh merasa pernah melihatmu."

Mau tak mau ia tersenyum tipis, "Kita sedang dalam perang, mungkin saja klan kita pernah bertemu di medan perang."

Mendapat jawaban postif kalau mereka musuh, si rambut perak tak lagi terlihat santai dan kembali memperhatikan Izuna dengan seksama dari atas sampai bawah. Jika merasa pernah melihat atau sering bertemu di medan perang, si rambut perak memastikan bahwa Izuna kuat karena bertahan. Dan dari musuh-musuh klan si rambut perak, ada yang diperkirakannya sebagai jati diri Izuna. "Pakaian itu," ada satu klan yang memakai pakaian Izuna sekarang, "wajah itu," juga telah diketahui semua bahwa klan Izuna memiliki paras rupawan, "kau…" Ia mulai menebak, "… Uchiha… Madara?"

Izuna pun memperhatikan si rambut perak itu dan menemukan simbol klan sebagai identitas dari mana si pemilik jurus air ini berasal. Tebakan yang tidak terlalu meleset. "Sampai bertemu di perang," tentu saja berbagi darah dengan sang kakak membuat Izuna mewarisi wajah mirip, tapi ini kedua kalinya ia dikira sang kakak oleh, "Senju."

Adik Madara ini menghilang pergi. Selain karena ia hanya bertujuan mencari bunga penyembuh itu, ia tak ada waktu untuk pertarungan satu lawan satu. Terlebih kondisi tangan kirinya tak memungkin bergerak leluasa. Izuna kembali ke perjalanannya menuju Gunung Jofuku. Tapi, belum separuh jalan, pandangan Izuna menggelap dan tubuhnya terasa berat lalu ia hilang kesadaran.

.

Kemampuan indra perasa kembali dirasakannya. Telinga bisa mendengar tetesan air yang menandakan hujan juga percikan api. Terasa kehangatan dari dalam tubuh. Kepala masih terasa berat dan terasa nyeri dari lengan kiri. Nafas yang keluar dari hidung terasa panas. Angin dingin menyambut kesadarannya. Perlahan ia membuka mata. Didapatinya bebatuan di atas memberitahu bahwa ia berada dalam gua. "Kau sadar?" Sebuah suara mendekati dan cahaya dari api unggun menunjukkan sosok yang duduk sementara ia terbaring. Orang yang sama dengan memanggilnya "nona" tadi.

"Kau!" Izuna hendak bangun tapi tubuh tak mengizinkan sehingga ia hanya merintih saat nyeri lengan kirinya terasa kuat. "Tangan kirimu patah, sebaiknya kau jangan bergerak dulu."

Izuna kembali teringat bahwa tadi memar di lengan kirinya seiring dia bergerak semakin nyeri hingga tadi ia hilang kesadaran. Saat hendak bertanya lagi, tangan dingin menyentuh dahi menyingkirkan poni lalu Izuna bisa melihat jelas mata ruby di atasnya karena si rambut perak Senju ini menempelkan dahi padanya dan berkata, "Demammu belum turun." Mengakibatkan wajah Izuna memerah saat bertanya sambil berusaha tenang, "K-Kenapa kau menolongku? Aku musuhmu."

Senju perak itu menjauhkan wajah dan menatap Izuna serius. "Kita tidak sedang dalam medan perang dan kau tadi terluka karena aku. Sewajarnya aku bertanggungjawab 'kan?"

Uchiha satu ini berusaha menutupi kagetnya dengan berkata, "Kalau begitu, aku tidak berhutang apapun padamu."

"Itu memang tujuanku," Senju satu ini setengah tertawa mengerti bahwa mereka impas. "Tapi tidak kusangka aku akan bertemu Uchiha Madara. Kau terlihat lebih muda."

"Karena aku memang lebih muda dari ani-ue," koreksi Izuna dengan tenang. Lagi-lagi Senju itu menunjukkan kekagetannya lalu tertawa geli sendiri karena tebakannya tentang Izuna tidak ada yang benar. Pertama ia mengira Izuna perempuan, kedua ia mengira Izuna itu Madara. Merasa pertemuannya dengan Izuna —secara normal tanpa perang— cukup menghibur akibat salah pahamnya sendiri. "Kalau begitu, namamu?" Tanyanya sambil tersenyum.

"Izuna."

"Aku Tobirama," tangannya mengacak-acak poni Izuna. "Kau… adik Hashirama Senju?"

"Oh? Kau tahu aku?"

Untuk beberapa saat Izuna bertukar pandang dengan Tobirama sebelum berkomentar, "Aku selalu mengira dari nama yang mirip maka wajah adik Hashirama-san akan mirip juga."

"Y-Yah… kami memang hanya mirip nama, tidak seperti kalian bersaudara," Tobirama tersenyum dengan kesal terlihat akan sindiran Izuna barusan. Ingin ia memukul, tapi tidak mungkin dengan kondisi Izuna yang lemah sekarang. Akhirnya Tobirama hanya menghela nafas dan menganjurkan, "Pokoknya kita gencatan senjata dulu. Aku tidak akan menyerangmu sampai kau pulih."

Tahu tak ada jalan lain, Izuna hanya memejamkan mata sebagai tanda setuju. Entah bagaimana ia percaya saja pada ucapan Tobirama yang tidak akan menyerangnya. Tubuhnya sungguh terasa berat ditambah terasa panas dari dalam. Demamnya pastilah sangat tinggi. Izuna tak melihat cahaya matahari dari mulut gua tak jauh dari posisinya. Melainkan cahaya temaram dari bulan. Diperhitungkannya sudah cukup lama ia tak sadarkan diri. Izuna jadi bertanya-tanya sendiri, apakah selama itu Tobirama sudah bersama dan merawatnya?

Terasa lagi sentuhan dingin dari tangan Tobirama yang sekarang meletakkan kain basah dikening Izuna. Lagi-lagi Tobirama tampak melihat Izuna dengan tatapan tertarik seperti saat ia merasa pernah bertemu Izuna. Sama seperti sebelumnya, meski dengan nada lebih lemah dan pelan, Izuna bertanya, "Apa lagi?"

"Hmmmmm…." Tobirama masih mengamati, "Aku tidak pernah bertemu seorang Uchiha selain dalam perang jadi tidak menyadari kalau desas-desus para kunoichi benar."

"Apanya?"

"Kalian berwajah tampan," Tobirama mendekatkan wajahnya dan berkata jujur. Bersyukurlah Izuna karena sedang demam, rona panas di wajahnya bisa tersamarkan. Selama ini hidup, baru kali ini Izuna bertemu dengan seseorang yang bisa seterbuka adik pemimpin Klan Senju ini. Mungkin juga karena zaman peperangan begini, orang sudah melupakan apa yang dinamakan dengan "ekspresi". Bahkan Izuna tidak menahan senyum kecilnya yang membalas bercanda, "Bukankah sudah kukatakan tidak ada gunanya kau merayuku?"

Tobirama tertawa mendengar tanggapan canda dari Izuna. "Hahahahahaha, sayang sekali aku tidak setuju dengan pendapatmu," balas Tobirama.

"Menurutmu, siapa yang tadi mengatakan 'aku tidak akan "menyerang"mu', Tobirama-san?" Suara Izuna mendeklarasikan kemenangannya saat Tobirama tertawa, "Iya, iya. Aku kalah."

Keduanya bertukar kata lagi sampai Izuna tertidur dan Tobirama terjaga dengan secara berkala mengompres Izuna agar demamnya cepat turun.

to be continued...


Makasih sudah mau baca :)

Memang di aslinya sifat Tobirama, Izuna, dan Hashirama masih tidak diketahui jadi aku hanya mengandalkan pengkarakterisasian yang kubaca di sha no sho sama naruto wiki tentang mereka. Diketahui kalau Tobirama memiliki sense humor dan Izuna memiliki sifat pencinta damai serta Hashirama memiliki sifat pemikir dan gentle (karena sandaime dan yondaime juga gentle jadi kubuat Hashirama sedikit perpaduan dari mereka), jadi yang kubayangkan sih yang seperti ini. Tapi kalau ada saran, kasih tahu ya :)

Ditunggu reviewnya ya~ ^^