Title: Dark Red
Author: kyoonel1220
Main Casts: Sehun dan Luhan
Other Casts: Baekhyun, Kyungsoo, Suho, Kai
Length: Chapter
Disclaimer: Sehun milik Luhan, Luhan milik Sehun. Titik.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keadaan kantin sudah agak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa saja, bahkan banyak kios makanan ataupun minuman yang sudah tutup. Terang saja, sekarang ini waktu menunjukkan pukul lima sore. Dan Luhan masih saja sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Nak Luhan, apa kau tidak ingin pulang?" Luhan agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Song Ahjumma—sang pemilik kios bubble tea. Luhan membuang nafas sekali lalu menoleh dan menjawab, "Mengejutkanku saja. Aku akan pulang setelah tugasku selesai, bi."
Song ahjumma mengangguk paham dan langsung berpamitan pada Luhan, "Kalau begitu saya pamit dulu ya, nak Luhan. Semangat mengerjakan tugasnya." Setelah itu Song ahjumma langsung melesat pergi meninggalkan Luhan bersama beberapa gelas minuman dan sedikit cemilan.
.
.
Luhan terengah-engah ketika ia kembali ke kantin. Kemudian ia menyadari hanya ada dirinya dan seorang paman penjual kimchi yang sedang beres-beres kiosnya. Luhan pun segera mendudukan dirinya pada meja yang tadi ditempatinya. Ia segera mematikan laptop dan memasukkannya kedalam tas. Lalu ia melirik arloji kesayangannya itu, "Sial." Umpat Luhan karena jam menunjukan waktu enam petang! Perasaan aku sebentar deh mencetaknya, semoga Sehun masih ada diruangannya, pikir Luhan.
"Paman, aku pergi!" Pamit Luhan sedikit berteriak pada sang penjual kimchi yang dibalas senyuman ramah olehnya.
Luhan berjalan dengan langkah lebar-lebar dan jelas sekali terburu-buru. Ia terus saja menyusuri lorong-lorong yang sebagian lampunya sudah dimatikan. Sambil mendekap erat hasil klipingannya, Luhan terus saja bergumam 'Semoga Sehun masih ada, semoga Sehun masih ada.'
Mata Luhan menyipit melihat seseorang yang berdiri tepat di ruangan para dosen. Kemudian Luhan menyadari bahwa itu adalah penjaga kampus setelah ia berlari untuk mendekatinya.
PUK!
"UWAAAAAAAA." Karena sang penjaga berteriak, Luhan pun juga ikut berteriak karena terkejut dengan teriakannya.
"Hei! Mengejutkan saja, hah anak muda ini!" Omel sang penjaga sambil mengusap-usap dada untuk menetralkan degup jantungnya. Luhan tertawa hambar dan menggaruk tengkuknya kikuk,
"Maafkan aku, paman Lee. Aku hanya ingin bertanya, apa semua dosen sudah pulang?" Ucap Luhan yang mendapat anggukan dari paman Lee.
"Iya, nak Luhan. Paman baru saja mengunci pintunya." Jawabnya. Luhan mendesah kecewa lalu menunduk sedih, "Memangnya kau mencari siapa, nak?" Tanya paman Lee penasaran karena mahasiswa seperti Luhan masih ada di kampus di waktu petang.
Luhan mendongakan kepalanya lalu menjawab, "Aku mencari Sehun, paman." Jawab Luhan lesu, kemudian paman Lee baru menyadari didekapan Luhan terdapat sebuah klipingan yang lumayan tebal.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya, paman." Pamit Luhan masih lesu, kemudian paman Lee menahan lengannya. Luhan pun refleks berbalik dan mengernyit, "Ada apa, paman?" Tanyanya.
"Biar aku antarkan kau sampai ke depan gerbang, nak." Usulnya. Luhan tersenyum kecil, "Tak perlu, paman. Kau harus mematikan lampu-lampu lorong kan? Aku bisa keluar sendiri, tenang saja." Jawabnya. Paman Lee tersenyum dan Luhan pun segera berbalik lagi dan berlalu meninggalkan paman Lee. Kembali menyusuri lorong-lorong gelap itu.
.
.
Luhan menggunakan cahaya ponselnya selama perjalanan di lorong. Luhan juga sesekali menengok ke belakang dan kanan-kiri, ia berusaha sewaspada mungkin. Karena ya, bisa dibilang dirinya memang agak takut dengan kegelapan. Ketika akan sampai didepan pintu gerbang, ia mendengar sebuah suara.
DAK
DAK
SREETT
SREETT
DAK
DAK
SREETT
Sontak Luhan terkejut dan refleks menghentikan langkahnya. Selain dirinya dan paman Lee, ia jamin bahwa tidak ada lagi orang di kampus saat ini. Lantas bunyi apa itu? Tak mungkin kan kalau itu adalah paman Lee? Untuk apa juga paman Lee membuat suara-suara gaduh seperti itu?
Luhan yang memang sudah mulai ketakutan pun perlahan menoleh ke kanan dan ke kiri serta ke belakang masih menggunakan cahaya ponselnya. Matanya memincing ketika ia melihat seseorang—Luhan sangat yakin itu orang— di gedung sebelah didepan…gudang?
Luhan yakin asal suara tersebut dari arah sana. Tapi siapakah orang itu? Untuk apa dia— oh Luhan tak tahu pasti, tapi yang jelas seseorang itu seperti tengah menghantam-hantamkan semacam alat kearah pintu gudang. Luhan pun meneguk ludahnya gugup. Instingnya mengatakan bahwa ia harus menghampiri orang tersebut, dan setelah memantapkan hatinya, ia pun mulai berjalan menyebrangi lapangan untuk menghampirinya.
Luhan menghentikan langkahnya ditengah-tengah lapangan. Suara yang ditimbulkan oleh seseorang itu semakin menjadi. Luhan menarik nafas sebentar lalu membuangnya, kemudian ia melangkahkan kakinya lagi dengan perlahan.
'A-aku… seperti… dia tidak asing?' Pikir Luhan menerka-nerka. Saat ini jarak diantara keduanya hanya terpaut tiga meter.
"Per-permisi..?" Entah kenapa suara Luhan seperti tertelan. Sontak aktifitas gaduh yang sedang dilakukan oleh seseorang itupun terhenti. Dan itu membuat degup jantung Luhan derdetak lebih cepat karena takut orang dihadapannya adalah orang tak waras yang menyelinap masuk dan berbuat gila di kampusnya.
"Akhirnya…" Bulu kuduk Luhan meremang mendengar suara rendah yang terkesan mengerikan itu. Dan—hei! Lagi-lagi Luhan merasa tidak asing dengan suara ini.
"Akhirnya…akhirnya…akhirnya…kau datang." Luhan menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya sudah agak gemetar sekarang ketika mendengar suara rendah yang mengerikan itu lagi.
"Si-siapa kau?! Berbaliklah!" Seru Luhan panik karena seseorang itu masih tak bergeming ditempatnya. Tak mendapat jawaban, perlahan Luhan memundurkan langkahnya. Baru ingin langkah ketiga tiba-tiba ia berhenti.
"JANGAN BERGERAK SEDIKITPUN DARI SANA, SIALAN!" Teriaknya. Luhan diam. Tak lama kemudian seseorang itu berbalik.
PANTAS SEPERTI TAK ASING.
MEMANG DIA.
Sudah berbalik sepenuhnya. Memerlihatkan sosok Sehun yang tengah memandangnya tajam. Dengan wajah yang berpeluh dan kusut, serta kemeja putih yang sedikit basah oleh keringat. Tak lama kemudian ia menyeringai kearah Luhan. Luhan masih diam tak bergeming karena masih terlalu syok.
"Kau datang, sayang. Kau datang." Entah kenapa ucapan Sehun yang tak fokus itu membuat Luhan semakin ketakutan. Terlebih nada bicara serta tatapan Sehun yang seolah menjerat dirinya. Ia juga baru menyadari bahwa terdapat sebilah pisau lumayan besar, yang tertancap pada pintu gudang.
"Se-Sehun… i-iya, aku datang. Maafkan aku, karena aku terlambat mengumpulkan tugasku. Maaf, Sehun." Luhan terbata. Sehun menyeringai dengan wajah linglung dan tatapan tajamnya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Karena saat ini Sehun tengah menghimpit tubuh mungil Luhan pada dinding sebelah gudang dengan tangan yang mencengkram keras bahunya.
"COBA U-LANG-I." Geram Sehun dengan mata yang berkilat-kilat marah. Luhan yang masih syok pun bertambah takut dengan sikap tak terduga Sehun. Ia tak berani menatap manik Sehun, karena itu ia menggerak-gerakan matanya tak fokus.
"TATAP AKU, BRENGSEK!" Maki Sehun murka. Ia tak tahan lagi, dan dengan cepat ia pun mencekik leher Luhan. Cekikan Sehun tergolong kuat, dan itu membuat Luhan sesak bukan main.
"Akh! Se-Sehun..lepaskan!" Ucap Luhan susah payah. Sehun malah semakin memperkuat cekikannya tak peduli dengan ucapan Luhan dan wajahnya yang kini merah.
"SUDAH KUBILANG, AKU MENUNGGUMU SEBELUM PETANG, BRENGSEK! DAN SEKARANG, KAU MUNCUL, LALU DENGAN SEENAK JIDATNYA KAU MENGATAKAN 'MAAF' PADAKU ATAS KETERLAMBATANMU! MENJIJIKAN SEKALI, LUHAN!" Teriak Sehun meledak-ledak seiring dengan cekikannya yang semakin kuat. Luhan meronta sekuat tenaga namun usahanya sia-sia saja. Sehun jauh lebih kuat dibanding dirinya.
Air mata sudah membanjiri wajah cantik Luhan saat ini. Ia sangat sangat sesak sekarang. Dan yang pasti wajahnya sudah memerah bahkan melebihi kepiting rebus. Jangankan untuk menjawab makian Sehun, untuk bernafas saja ia sudah sangat kesulitan.
"Kau diam. Tambah membuatku marah. Bagus sekali." Geram Sehun tertahan. Tiba-tiba saja Sehun melepaskan cekikannya pada leher Luhan, baru beberapa detik Luhan bisa bernafas dengan benar, namun tak lama kemudian tangan Sehun mengambil alih kepalanya dan dengan cepat, ia membenturkan kepala belakang Luhan dengan keras.
TAK
TAK
TAK
Luhan merasakan pusing yang teramat sekarang. Wajahnya sudah pucat pasi. Dan keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuhnya. Luhan juga merasa kalau bagian belakang kepalanya basah. Ia sangat yakin kalau ia berdarah.
"SAKIT KAN?! HA?! RASAKAN INI! HAHAHA." Dan Sehun menjambaki rambut Luhan dengan ganas. Kepala Luhan terombang-ambing. Ia ingin sekali menangis dan berteriak meminta pertolongan, namun apa daya tubuhnya sudah terlalu lemas. Tiba-tiba saja Sehun menghentikan kegiatannya.
Ditariknya tangannya dari kepala Luhan dan dirinya melihat sendiri terdapat lumuran darah dan beberapa helaian rambut yang rontok akibat ulahnya. Luhan dapat melihat perubahan air wajah Sehun. Karena tak kuasa menahan beban tubuhnya sendiri lagi, Luhan pun jatuh terduduk. Dan ia memegangi kepalanya yang terasa hancur itu dengan mata yang berkunang-kunang.
Sehun menatap sendu tangannya sendiri. Hatinya bergetar melihat tangan yang kini sudah kotor dengan darah dan itu karena ulahnya sendiri. Tak lama matanya teralih pada Luhan yang tengah terduduk lemas. Dengan cepat Sehun pun ikut terduduk dihadapan Luhan.
"Lu-Luhan?! Kau tidak boleh mati, sayang!" Seru Sehun panik sembari menangkup kedua pipi pucat Luhan. Luhan menatap Sehun susah payah, kemudian seulas senyum kecil ia paksakan untuk Sehun, "Ma-maafkan..a-ku- Se-hun."
Sehun kalap. Ia pun segera mendekap erat tubuh lemas Luhan. "AKU MAAFKAN, SAYANG! MAAFKAN AKU! MAAFKAN AKU! AKU MELUKAIMU! OH TIDAK…" Teriakan Sehun terdengar begitu menyedihkan.
Merasa tak ada respon, Sehun pun segera melepas dekapannya dan melihat Luhan yang kini sudah memejamkan mata seutuhnya. Tatapan Sehun yang semula sendu kini kembali menjadi tak fokus. Ia pun memerhatikan wajah Luhan yang kini berada dipangkuannya dengan senyum yang sulit diartikan. Tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi pucat itu yang kini sudah berubah warna menjadi agak merah karena darah.
"Luhanku cantik sekali, sekalipun dengan keadaan hihi memalukan seperti ini." Sehun bermonolog seperti orang gila. Ia terkikik senang namun tak lama kemudian ia menatap Luhan tajam, "Salah sendiri, kau membuat aku marah. Kau, hihihi lucu jika seperti ini, berkali-kali lipat lebih menggemaskan dari biasanya. Aku semakin menyukaimu." Sehun terus saja bermonolog dengan nada bicara yang kadang senang namun kadang sedih serta marah.
Ia membaringkan tubuh Luhan dilantai. Ia pun beranjak untuk mengambil pisau yang tengah tertancap sepenuhnya di pintu gudang. Dengan cepat ia pun mencabutnya dan meletakkannya kembali kedalam tasnya. Ia memerhatikan tulisan yang dibuatnya tadi selama ia menanti Luhan.
Setelah itu ia segera menghampiri Luhan lalu menggendongnya ala bridal. Rumah sakit tak menantimu, karena rumahku lah yang selalu menanti kehadiranmu, sa-yang-ku, pikir Sehun tersenyum puas.
'AKU TAHU KAU PASTI DATANG.'
—Merupakan tulisan yang tadi dibuatnya. —
.
.
.
"Angkat, sayang. Angkat." Kai bergumam panik. Terang saja, pasalnya sedari tadi ia menghubungi ponsel Luhan, namun tak ada satupun panggilan yang terjawab oleh kekasihnya itu. Dan sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, tentu saja Kai khawatir. Kenapa Luhan tak menjawab panggilannya? Dan kenapa juga dirinya begitu bodoh membiarkan Luhan untuk pulang sendiri? Hah, Kai sangat pusing saat ini.
"Halo, Baek? Apa kau sedang bersama Luhan sekarang?" Tanya Kai ketika memutuskan untuk menghubungi Baekhyun. Nada kekhawatiran jelas kentara ketika ia bicara.
"Kai? Tidak, Kai. Saat ini aku sedang tidak bersama Luhan. Memangnya ada apa, Kai?"
"Benarkah? Ah, itu Baek, aku khawatir dengannya karena sedari tadi aku menelponnya namun tidak ada satupun panggilan yang dijawab." Jawab Kai lesu.
"Anak ini. Oke, Kai. Mungkin batrai ponselnya sedang habis. Atau, coba kau hubungi Kyungsoo. Siapa tahu dia sedang bersamanya."
"Hmm, oke, Baek. Terima kasih atas solusimu. Aku tutup." Sambungan mereka pun terputus. Dan Kai dengan cepat menghubungi Kyungsoo. Namun Kai harus kembali mendesah kecewa, karena Kyungsoo pun juga tak bersama Luhan. Kekhawatiran Kai pun semakin meningkat. Dengan cepat ia menyambar jaketnya dan ia memutuskan akan pergi mengunjungi tempat-tempat favorit Luhan.
'Semoga saja kau baik-baik saja dan aku akan segera menemukanmu, Luhan.'
.
.
Apartemen 357
07.00 PM
Sehun menatap marah pada ponsel yang kini telah hancur berkeping-keping itu akibat ulahnya. Jelas Sehun marah, pasalnya sedari tadi dirinya mendapati nama 'Kai' yang tertera pada layar ponsel milik Luhan. Kegiatan Sehun yang tengah 'memandangi-tubuh-terkulai-lemas-Luhan-diatas-ranjangnya' itupun jadi terganggu.
"Kurang ajar si Kai itu. Aku akan memberi pelajaran padamu nanti." Gumam Sehun seraya tersenyum licik. Sehun yang semula duduk di sebuah kursi kini telah berpindah duduk ditepi ranjang miliknya. Ia menatap Luhan tajam seolah menjerat. Tak ada yang namanya rasa bersalah dihatinya. Ia tahu ia yang membuat Luhan jadi terluka seperti ini, tapi Luhan sendiri yang malah memancingnya agar berbuat seperti ini. Padahal Sehun telah berusaha keras untuk mengontrol sisi kelamnya pada Luhan agar Luhan tak begitu segan ataupun takut padanya.
Sehun meraba perban yang terbalut di kepala Luhan. Ia tersenyum aneh. Bukan tersenyum yang memesona, namun lebih ke senyum yang menakutkan. Tangannya pun terulur untuk menggenggam tangan lemas Luhan yang tengah terantai itu. Ya, Sehun memang sengaja merantai kedua tangan Luhan pada masing-masing sisi ranjangnya, dan ia memborgol kedua kakinya pula. Sehun hanya ingin lebih lama dengan Luhan, dan ia akan bertambah senang jika Luhan ingin bermain dengannya.
"Luhan. Luhan. Luhan. Cepatlah sadar, sayangku. Aku ingin kita bermain." Gumam Sehun seraya mengecupi punggung tangan Luhan. Tak ada respon berarti, membuat Sehun sedikit kesal. Ia berpikir sejenak cara apa yang bisa membuat Luhan terbangun. Dan ia menemukannya.
Sehun mengambil pisau yang tadi dipakainya untuk membuat karya seni di pintu gudang. Sehun tersenyum puas. Lalu dengan cepat ia mengitari seluruh bagian wajah Luhan dengan pisau itu. Mulai dari dahi, lalu turun ke hidung dan pipi, hingga pada saat ujung pisaunya menyentuh bibir Luhan, ia sedikit menekan pisaunya. Pisau tersebut sangat tajam. Sehun pun membuat gerakan seolah membelah bibir Luhan dari atas ke bawah. Sehun melihat ada setitik darah yang tampak dari sana. Dengan asal ia membanting pisaunya, kemudian dengan cepat ia mendaratkan bibir tipisnya pada bibir mungil Luhan.
Sehun melumat bibir atas dan bawah Luhan lamat-lamat. Ia sangat menikmati bibir Luhan dan ia juga merasakan gejolak gairah didalam dirinya tengah membuncah. Sehun terus saja menikmati bibir Luhan sampai akhirnya ia berhenti karena sadar bahwa Luhan sudah terbangun. Sehun pun menarik wajahnya dan menatap Luhan yang kini tengah menatapnya lemah.
"Kau sudah bangun." Luhan ingin membalas ucapan Sehun namun ia merasa kalau bibirnya terasa kaku dan perih, terlebih kepalanya yang masih terasa nyeri. Ia juga baru menyadari bahwa dirinya tengah dirantai dan diborgol. Luhan menatap Sehun penuh tanya.
"Ah, itu. Tentang yang mana dulu? Bibirmu? Kalau bibirmu, aku hanya ingin menyicipinya lagi. Dan kalau keadaanmu sekarang… aku hanya ingin bermain saja denganmu." Sehun memang cerdas. Lihat saja, ia bahkan bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dipikiran Luhan tanpa Luhan bertanya. Ia menjawab dengan tajam dan penuh penekanan.
"Kau pasti haus." Dengan cepat Sehun meneguk air putih yang ada di nakasnya lalu dengan segera ia membaginya pada Luhan lewat bibirnya. Luhan yang mengerti maksud Sehun pun sontak membuka mulutnya dan Sehun menyalurkan air tersebut dengan cepat. Luhan merasa bibirnya berkali-kali lipat lebih perih dari sebelumnya. Setelah minum dengan cara aneh seperti itu, Sehun pun menjauhkan wajahnya.
"Tak tahukah kau seberapa memesonanya dirimu? Kau milikku, Luhan. Hanya milikku." Ucap Sehun tegas sambil mengecupi leher jenjang Luhan. Luhan menarik nafas perlahan lalu dengan cepat membuangnya.
"Se-Sehun…aahhh.." Desahan Luhan lolos begitu saja ketika Sehun menggigit mesra lehernya lalu menyesapnya kuat-kuat.
"Lepas…Sehun.." Sehun pun menghentikan kegiatannya. Ia kembali menatap Luhan tajam.
"Apa maksud semua ini, Sehun? Sebenarnya kau mau apa dariku? Kenapa kau melakukan ini padaku, huh?" Luhan bertanya dalam satu tarikan nafas. Ia kini tengah menangis. Ia tak kuasa. Ia terlalu bingung dengan Sehun. Ia juga tak peduli bahwa bibirnya semakin terasa perih karena air mata yang mengenai bibirnya. Bibir Luhan kembali merah karena darah.
Sehun tersenyum remeh mendengar pertanyaan Luhan. Ia pun menatap Luhan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lalu, siapa Kai itu? Kekasihmu? Menjijikan." Bukannya menjawab, Sehun malah balik bertanya. Luhan yang mendengar pun membulatkan matanya kaget. Darimana Sehun tahu Kai? Apa ia mencari tahu tentang aku dan Kai? Pikirnya was-was.
Mata Sehun berkilat marah tak mendapat respon dari Luhan. Dengan cepat Sehun langsung menindih tubuh Luhan dan mencengkram kedua tangan yang tengah terantai itu.
"Jawab aku, maka aku tak akan kasar." Ucapnya penuh penekanan. Tatapan Luhan terkunci pada tatapan Sehun.
"Ya, dia kekasihku." Sehun menggeram tertahan mendengar jawaban Luhan. Ia tentu sudah tahu bahwa orang yang bernama Kai itu adalah kekasih Luhan, namun jawaban tegas dari Luhan itupun semakin membuatnya marah. Sehun tersenyum miring dan tak lama kemudian ia kembali meraup bibir berdarah Luhan. Ia terus saja melumatnya dengan penuh gairah. Luhan berusaha melawan namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya sedang dikerjai.
"Aku lebih suka kau membalas ciumanku saat seperti di perpustakaan waktu itu." Gumam Sehun kesal. Lalu ia membuka gembok yang terkait di rantai tersebut. Dan kedua tangan Luhan lolos begitu saja.
Sehun pun menyematkan jari-jarinya diantara jari-jari Luhan, ia menggenggam tangan Luhan erat. Lalu kembali melumat bibir Luhan mesra. Luhan sangat pusing dengan situasi saat ini. Kepalanya sedang sakit, dan sekujur tubuhnya sedang lemas, ia juga sangat tak nyaman dengan ciuman bercampur darah dengan Sehun ini. Namun lagi-lagi akal sehat Luhan tak memedulikannya, katakan ia gila, karena hatinya kembali jatuh dalam pesona Sehun saat Sehun kembali membagi ciuman memabukkan untuknya. Dosen yang diam-diam ia sukai ini. Entah ini perasaan nyata atau semu, Luhan tak tahu pasti. Yang jelas, kini ia tengah membalas ciuman Sehun yang semakin lama semakin dalam dan memabukkan.
.
.
.
Luhan tak mempercayai ini. Saat ini dirinya sudah dalam keadaan full naked dengan Sehun berada diatasnya tengah membuka satu persatu helai kain yang membalut tubuh seksinya. Telanjang sempurna. Ia pun kembali mendekatkan wajahnya pada Luhan. Dan kemudian ia mengecupi seluruh bagian wajah Luhan dengan mesra. Luhan hanya diam tak merespon. Pikirannya kalut saat ini. Saat akan mendorong dada bidang Sehun, Sehun dengan sigap langsung mencengkram kuat tangan Luhan.
"Jika kau melawan, aku pastikan kau akan menyesalinya, Lu-han. Ikuti saja alur permainanku." Bisik Sehun tajam. Luhan pun menciut mendengar ucapan Sehun. Sehun pun dengan cepat menukar tempat borgol yang semula berada dikaki Luhan kini berpindah ke tangan Luhan, lalu ia kaitkan seutas tali diantara lubang borgol lalu ia ikatkan kuat-kuat pada sisi belakang ranjangnya. Luhan hanya diam tak bergeming.
Sehun pun tersenyum puas atas hasilnya. Kemudian ia beranjak untuk mengambil beberapa keperluan. Setelah mengambilnya dari laci nakas, ia pun segera meletakkan beberapa alat itu diatas dada serta perut polos Luhan.
Ada cutter, pisau, gunting, silet, dan dua buah paku berukuran sedang yang berkarat.
"Nah, Luhan. Kau pilih yang mana? Atau kau ingin aku yang memilihkannya? Ah, tapi kau yang harus memilih. Jangan aku. Jadi, cepat katakan." Luhan menatap pada dadanya dan Sehun tak percaya. Ia terlalu terkejut dengan kelakuan yang –bisa dibilang- abnormal Sehun. Hey! Coba kau bayangkan berada diposisi Luhan saat ini. Kau ditelanjangi begitu saja oleh dosenmu sendiri, tanganmu dijerat, dan diatas dadamu terdapat benda-benda tajam, parahnya lagi kau disuruh memilih salah satu dari benda tajam itu oleh dosenmu sendiri! Sehun gila, pikir Luhan.
"Sehun… untuk apa benda-benda ini?" Tanya Luhan memberanikan diri. Sehun tersenyum miring, lalu berkata "Jadi memilih pisau ya? Hmm, baiklah. Pilihan yang tepat." Luhan menatap Sehun tak percaya. Apa-apaan dia?! Luhan bahkan tidak sudi memilih satu diantara benda tajam itu!
"Sehun, jangan main-main. Singkirkan benda-benda ini, dan lepaskan borgol tanganku!" Jerit Luhan frustasi. Sehun menatap Luhan marah, kemudian ia tipiskan jarak mereka lalu mencengkram kuat pipi Luhan dengan satu tangannya.
"Siapa bilang aku main-main, huh? Siapa kau berani-beraninya memerintahku?" Geram Sehun. Luhan terdiam kaku. Cengkraman pada pipinya terasa sangat kuat. Ia pun memilih diam tak menjawab. "Kau jadi anak penurut, aku akan berusaha keras mengontrol sikapku nanti." Sehun tersenyum menang.
Sehun pun menyingkirkan benda lainnya selain pisau. Ia pun menindih tubuh Luhan dan merapatkan tubuh polos mereka. Kemudian ia kembali menyesap bibir Luhan, menggigitnya dan melumatnya lamat-lamat. Dada Sehun berdesir ketika kembali merasakan darah saat ia menggigit keras bibir atas Luhan. Gairahnya memuncak, ingin segera mengerjai Luhan. Luhan hanya bisa pasrah sambil menahan tangisan yang sewaktu-waktu akan pecah.
Maafkan aku, Kai. Aku tak mengerti dengan Sehun, aku menyukai Sehun, namun tidak dengan sikapnya yang seringkali berubah-ubah seperti ini, membuatku bingung dan takut disaat bersamaan. Jika memang Sehun ingin memilikiku seutuhnya, aku akan sangat senang. Sehun membalas perasaanku, namun disatu sisi aku merasa, setelah kami melakukannya nanti, hubunganku dan Kai tak lagi sama. Maafkan aku yang terjerat oleh pesona Sehun, meskipun akhirnya Sehun akan menyakitiku…
"Aahh..Sehun…periihh.." Rintih Luhan ketika merasakan ujung pisau yang dingin menekan-nekan putingnya. Sehun tersenyum, lalu ia menyesap kuat leher Luhan, lalu memindahkan pisaunya dan membuat gerakan seolah-olah ia sedang mengiris tipis leher Luhan. Luhan mendesah antara nikmat dan perih.
Sehun mengangkat wajahnya dan melihat hasil karyanya. Mengagumkan, pikirnya. Leher Luhan kini telah terhiasi oleh beberapa tanda darinya dan terdapat pula goresan-goresan tipis yang jika Sehun gigit pelan pasti akan mengeluarkan darah.
Sehun melihat wajah pasrah dan memerah Luhan, membuat dirinya semakin gelap tak terkendali. Ia membisikan, "Kau menyukai orang yang salah, Lu-han." Luhan agak bergetar mendengar suara rendah Sehun. Dengan cepat Sehun memposisikan pisaunya dari bawah dagu Luhan, ia menggerakkan pisaunya zig-zag sambil sedikit menekan agar sensasinya lebih terasa. Berhentilah pisau itu hingga atas pusar Luhan. Sehun tersenyum puas.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Muncullah titik-titik merah pada goresan yang telah dibuatnya tadi. Dengan cepat Sehun merendahkan tubuhnya dan mulai menjilati garis zig-zag tadi dari atas hingga bawah dengan gerakan sensual.
"Oh..ohh.." Desah Sehun nikmat sambil sesekali menyesapi garis tersebut. Luhan memejamkan matanya kuat-kuat. Ia sangat tahu ia dilukai lagi oleh Sehun, ia hanya bisa memejamkan mata dan menggigiti bibir bawahnya menahan sakit serta perih.
Sehun selesai. Dilihatnya satu goresan memanjang zig-zag yang kini telah merah. Ia pun melirik Luhan yang tengah menahan sakit. Hatinya berdenyut tak suka melihat raut kesakitan itu. Ia pun menggigit pipi Luhan lalu berkata, "Aku rasa cukup. Hanya untuk pemanasan dan melatih dirimu. Cukup tangguh, kau menangis karenaku. Tidak asik. Aku selesai." Refleks Luhan membuka matanya dan mendapati Sehun yang tengah menatapnya lekat.
"K-kau serius?" Tanyanya. Sehun membelai pipi Luhan, "Jangan senang. Kau sudah mengambil sisi kelamku dan kau tak akan bisa lari." Kemudian ia memagut mesra bibir Luhan, Luhan membalasnya canggung. Kemudian Sehun merendahkan dirinya menuju lubang Luhan, "Kau akan merasakan aku, nanti. Bersiaplah." Kemudian ia mengecup singkat mulut lubang Luhan dan penisnya. Sehun pun bangkit, lalu dengan cepat ia memakai kembali pakaiannya.
"Aku ingin pergi sebentar. Ada urusan. Kau baik-baiklah disini. Aku akan sangat marah bila aku kembali nanti, namun kau tidak ada disini." Ucapnya dingin seraya melepaskan tali dan borgol yang terjerat pada tangannya. Kemudian ia memakaikan dengan cepat piyama miliknya pada tubuh Luhan.
"Apa tubuhmu terasa perih?" Tanya Sehun. Luhan menatap Sehun agak berkilat. Untuk apa Sehun bertanya? Jelas tubuhnya terasa perih akibat goresan pisau itu! Bodoh, bahkan bibirnya masih terasa perih serta kaku. Luhan membuang nafas kasar, "Jelas, Sehun." Sehun tersenyum kecil mendengar jawaban sarkastis Luhan.
Kemudian ia melesat keluar kamarnya. Luhan melihat sekeliling kamar Sehun. Bergaya eropa klasik, namun memikat. Kamar Sehun juga tergolong rapi untuk ukuran pria. Ia memeluk dirinya sendiri erat, kemudian membenamkan wajahnya diantara lutut.
"Sehun seperti itu. Apa Sehun sa…kit? Sehun sangat suka darah. Namun sisi Sehun yang seperti itu, a-aku…masih suka? Ada apa denganku?" Luhan terus bermonolog pilu sampai ia tersadar bahwa pintu kamar telah terbuka…atau tertutup?
"Sehun!" Seru Luhan terkejut ketika mendapati Sehun yang tengah berdiri angkuh disampingnya.
"Aku hanya ingin mengingatkan. Bahwa jika kau sampai berani memberitahukan tentang kejadian di kampus tadi dan kejadian barusan pada orang lain, maka kau tak aman ditanganku." Ucapnya tajam. "Dan, ini. Aku membawakan makanan serta yoghurt untukmu. Untuk luka pada tubuhmu tadi, apa masih sakit?" Tanyanya.
"Tentu, Sehun. Tubuhku terasa kaku. Bibirku juga." Jawab Luhan pelan. Sehun tersenyum tipis, bodohnya Luhan malah terpesona oleh senyuman Sehun.
"Diamkan dulu saja. Sepulang dari urusanku, aku akan membereskannya. Jadi, tunggu aku, Lu-han." Kemudian Sehun mengecup dahi Luhan agak lama dan membelai pipi merah itu.
"Aku pergi." Pamitnya dan langsung keluar begitu saja. Luhan berusaha menetralkan degup jantungnya yang bisa terbilang campur aduk. Satu, karena tanpa disangka, ia telah berbuat sedikit jauh dengan Sehun. Dua, karena dirinya telah kembali terjerat oleh ketampanan Sehun, sekalipun Sehun menyakitinya. Terakhir, karena dirinya takut dengan sisi kelam yang Sehun miliki. Luhan sangat pusing dengan dirinya sendiri. Dan ia kembali tersadar bahwa dirinya tak memberi kabar pada Kai. Pasti Kai sedang mengkhawatirkan dirinya sekarang.
"Dimana ponselku…" Gumam Luhan sambil terus mencari-cari keberadaan ponselnya. Kemudian matanya membulat setelah menangkap kepingan ponsel yang ia yakini miliknya. Luhan ingin bangkit dari ranjang, namun tubuhnya terasa semakin sakit.
Luhan menangis menjerit. Ia tak kuasa dengan situasi ini. Ia ingin marah dan menumpahkan segala kekesalannya pada Sehun, namun ia tak bisa. Ia tak bisa melakukannya, karena ia terlalu suka pada Sehun, sekalipun Sehun telah berbuat gila padanya.
"Hiks..hiks..Kai… Maafkan aku, Kai.. hiks.." Tangis Luhan pilu. Ia merasakan perih serta sakit secara fisik dan juga mental. "Aku dan Sehun saling terjerat. Jika benar Sehun itu sakit, kenapa harus aku, Kai? Kenapa…tapi aku masih menyukai Sehun, Kai. Kai, maafkan aku. Aku akan berusaha membuat Sehun sembuh meskipun aku yang akan tersakiti." Gumamnya pilu. Luhan yakin ada yang tak beres dengan Sehun, dan Luhan bertekad untuk menyelidikinya.
.
.
.
.
.
08.00 PM
"Aisshh..tak diangkat juga!" Geram Kai kesal setengah mati. Ia sudah mengunjungi tempat-tempat kesukaan Luhan, namun ia tak juga menemukan kekasihnya itu, terlebih lagi sekarang nomor ponsel Luhan tidak aktif. Saat ini ia sedang berada di depan sebuah gedung tua. Jalanan cukup sepi, dan Kai menghubungi Baekhyun lagi.
"Hei, Baek, apa Luhan denganmu?"
"Luhan belum pulang juga?! Huh! Kemana dirinya, Kaaaiii?! Bagaimana ini! Aku juga tak bersamanya, ah aku akan mencari Luhan juga kalau begitu."
"Pelankan suaramu, hish. Ide bagus, kau suruh Kyungsoo sekalian agar mencari Luhan. Aku juga sudah mengunjungi tempat-tempat kesukaan Luhan, namun aku tetap tak menemukannya. Terlebih lagi ponselnya sekarang malah tidak aktif." Jawab Kai lesu.
"Tenang, Kai. Aku yakin Luhan baik-baik saja. Oke, aku akan segera menghubungi Kyungsoo. Aku tutup."
TIIIITTT
"Hah, ada apa denganmu, Luhan. Awas saja, kalau sampai aku menemukanmu, aku akan memberimu hukuman agar kau jera." Monolog Kai gusar sambil mengusap kasar wajahnya. Ketika akan memakai kembali helmnya, Kai merasa indera penciuman serta mulutnya menempel secara paksa pada sesuatu seperti kain. Dan tak lama ia ambruk ditempat.
"Obat biusnya padahal biasa saja. Lemah." Gumam seseorang. Lalu dengan cepat ia menyeret asal tubuh tak berdaya Kai dan masuk kedalam gedung tua tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
BACA DONK
Untuk chapter ini, gimana? Maafin diriku kalo ini gak banget:') dan kemaren pas gue baca reviews dari kalian, rata2 pada lebih suka kailu… tapi ini ff hunhan gimana dong:'( wkwkwk. Ya, Sehun emang sedeng (dibaca sedeng bukan seudeung) disini, jadi harap maklumi saja u,u hunhan tetep mesra disini tapi dengan cara yang beda huaihuaiahihia/?
Btw, Sehun psikonya kerasa ga disini? Kalo iya, Alhamdulillah, kalo engga, ya syukurilah/? HADOE, yang jelas komen aja deh ya pas abis baca, kasih komen2 kalian (kalian bisa bebas berkeluh kesah lho), nanya2 gitu boleh kan misalnya ada yang kurang ngerti atau nanya2 diluar cerita (misalnya ngepoin gue gt), kritik juga boleh (asal jangan bash) dan saran/masukan boleh banget, ya ya ya?!
Eh kalian tuh suka ga sih sama ff genre2 horor misteri? Bagi yang suka, baca dong ff gue yang judulnya 'rubik's curse' /promo/ /emang/ keknya kalo genre horor misteri gitu kurang diminati apa gimana? Padahal kan asik woey/? Alangkah senengnya lagi kalo misalkan di review+foll+fav ugha wkwk.g
BTW MAKASIH BANYAK LOH YA YANG UDAH REVIEWS, FOLLOW, DAN FAV CERITA INI! ^^
